Follow Me

Friday, March 15, 2024

Minat Lain / Other Passion (?)

Bismillah.

 

Sudah agak lama saat aku menyadari beberapa hal yang aku minati. Semacam beberapa fokus, yang ingin aku pelajari lebih banyak. Pertama Al Quran, kedua literasi. Dan ada satu lagi. Yang terakhir ini seringkali terlupakan, karena dua yang sebelumnya saja, aku merasa kepayahan untuk fokus. Minat lainku: tentang psikologi. Aku tertarik, mempelajari sisi emosi dan mental manusia. Tertarik bagaimana seseorang bisa menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. Penasaran, bagaimana caranya bertahan, saat tahu bahwa sisi tersebut ternyata sakit dan butuh pengobatan panjang yang tidak mudah.


Belum lama, ada beberapa hal yang membuatku memikirkan lagi minat lain ini. Dari perkenalan dengan orang baru, yang mengirim tulisan panjang, seperti format untuk meluaskan jaringan. Dari buku-buku fiksinya, ia menulis juga buku non fiksi berjudul "Memeluk Luka". Setelah beberapa kali bertukar tanya jawab, aku jadi tahu bahwa ia penyintas bipolar dan depresi. Mengingatkanku pada seorang blogger penyintas bipolar. Percakapannya sudah berakhir, tapi minatku pada hal ini membuatku masih terus menerus mengingatnya.


Belum lagi, saat salah satu member grup wa Baca Tiap Hari share kutipan dari buku Loving The Wounded Soul.

 

Depresi memberikan efek yang berbeda bagi seorang introver dan ekstrover. Bagi seorang ekstrover dengan depresi, biasanya mereka akan menyadari bahwa menjadi social butterfly seseorang yang sangat dinamis secara sosial, bisa menyapa semua orang, dan mudah berteman dengan siapa saja bukanlah standar kesuksesan. Apalagi ketika semakin dewasa, orang ekstrover akan memahami bahwa kita tidak bisa terus menerus menggenggam erat semua pertemanan. Lingkaran pertemanan semakin melebar dan tidak semua orang bisa diajak berdiskusi maupun membicarakan hal-hal personal. Ada juga yang hanya bisa kita sapa sekadarnya. Seorang ekstrover yang mengalami depresi akan mengembangkan sisi introvernya dan mulai mengenali dirinya sendiri. Ketika mengalami depresi, tidak ada pilihan lain bagi ekstrover atau introver, kecuali benar-benar menghadapi dirinya sendiri. (Hal.97)

Jika seorang introver mengalami depresi, kasusnya akan sedikit berbeda. Orang introver sudah terbiasa memikirkan sesuatu secara mendalam sehingga ketika mengalami depresi, ia akan belajar untuk lebih mencintai dirinya sendiri.

....Ketika mengalami depresi, introver akan belajar untuk menerima diri mereka sebagaimana adanya. (Hal.98)


Membaca kutipan itu membuatku bertanya-tanya. Benarkah begitu efeknya? Perbedaan antara ekstrover dan introver saat mengalami depresi? Ada begitu banyak pertanyaan, rasanya ingin mengobrol panjang lebar pada yang memiliki minat yang sama.


Belum lagi, aku teringat orang-orang disekitarku yang pernah dan mungkin masih mengalami depresi. Bagaimana caranya agar bisa menjadi support system yang baik untuk mereka? Bagaimana harus bersikap, bagaimana harus tetap dekat dan peduli tanpa menyakiti atau terkesan mengkasihani mereka. Aku teringat seorang teman yang berubah 180 derajat setelah mengalami depresi. Aku tidak pernah melihat langsung saat ia sedang kewalahan dengan rasa sakitnya, sampai ia berteriak begitu keras, di kamar, atau bahkan di tempat publik. Aku teringat juga saudara jauh, yang depresinya membuat ia membuat skenario sendiri dalam kepalanya, dan ia mempercayainya sebagai realita. Aku tidak pernah mendengar langsung ceritanya, tapi ibuku yang menceritakan padaku, bahwa cerita yang bukan realita itu, begitu tersusun rapi, sehingga ia bahkan tidak kesulitan saat ditanya detail tentangnya.

 

*** 


Jujur untuk minat yang satu ini, aku tidak punya banyak pengetahuan maupun minat. Komunitas? Dulu pernah gabung komunitas Love Yourself Community. Pernah juga aktif ngikutin ig healyourself juga, tapi udah gak. Sekarang paling yang masih agak sering dicek itu grup komunitasnya Qalboo. Tapi itupun lebih ke pasif. Pengen ada yang bisa diajak diskusi terkait ini (menulis ini membuat otakku melintaskan dua nama Teh Tristi dan Teh Ai, I haven't really discuss anything to them, but I love to read their thought and I think they both love to talk about psychology too..)


Tapi jika komunitas, atau temen ngobrol belum ada. Mungkin aku cuma perlu lebih banyak baca buku dan mencernanya dengan menulis. Itu lebih baik, ketimbang tenggelam dalam distraksi kan? Hmm.


Oh ya, aku tertarik dengan hal ini, juga karena aku penasaran dengan diriku sendiri. Apa kabar diri? Aku mungkin pernah bisa dimasukkan ke kategori depresi ringan, karena nggak sampai butuh penanganan obat. Cuma perlu konsultasi singkat, dan diarahkan untuk mencari akar masalah yang membuatku memilih "lari" dan "bersembunyi". Setelah itu, dengan banyak naik turun jatuh bangun, alhamdulillah aku merasa sudah lebih baik. Tapi perasaan untuk lebih mengetahui ilmu tentang ini jadi tertanam sejak itu. Aku penasaran, bagaimana pengalaman masa kecil seseorang bisa menguatkan seseorang, tapi bisa jadi menjadi luka bagi orang lain. Aku penasaran, hal-hal yang entah sejak kapan menjadi pemicu sensitif yang membuatku cepat menjadi emosional. Ada apa dibalik itu? Aku juga penasaran bagaimana islam menyikapi sakit yang bukan berada di fisik tersebut.


Oh ya, aku jadi teringat sebuah video dari channel Eternal Passenger:




Aku juga jadi teringat rapat dan "kelas pembinaan" panitia LMD dengan Bang Aad. Dari beliau aku mengenal dunia psikologi. Inspiratif! Melahirkan lagi dan lagi "aha time". ^^ Padahal aku hanya menjadi panitia aktif di LMD 167, lalu 168-169 lebih pasif, cuma bantu buat konsep acara, gak terjun langsung pas hari H. Tapi tetap saja, pengalaman jadi peserta setelah "drama dipaksa" sebagai perwakilan asrama di LMD 166, lalu menjadi panitia di 167, memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran. Salah satunya memercikan api penasaran dan minatku pada bidang psikologi.


***


Aku bertanya-tanya, mengapa Allah hadirkan tentang minat lain ini, saat aku masih kesulitan berusaha fokus ke dua minat pertamaku (Al Quran dan Literasi). Mungkin Allah ingin mengingatkanku, bahwa ada banyak waktuku yang terbuang sia-sia, padahal bisa digunakan untuk hal yang baik, minat lain, yang seringkali aku lupakan, hanya karena aku merasa kepayahan untuk bisa fokus di dua minat yang pertama. 


Aku bertanya-tanya... dan aku menuangkannya dalam tulisan ini. Berharap, tulisan ini menjadi jejak pengingat. Berharap, aku tidak lagi tenggelam dan meminum asinnya air laut. Mari memilih untuk menyelam ketimbang tenggelam. Dan jika terasa sesak, segeralah berenang ke permukaan, mengambil udara lagi, untuk menyelam kembali, berharap bisa mengambil butiran mutiara hikmah yang Allah simpan di dasar laut.

 

Wallahua'lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya