Follow Me

Friday, March 21, 2025

Rasa Aman untuk Membuka Diri

Bismillah.


Rasanya selalu takjub, amaze, saat aku bertanya-tanya tentang satu hal pada diri sendiri di blog, lalu somehow, in someway, Allah tunjukkan jawabannya.

 

Aku mungkin sekarang jarang banget ngobrol panjang dengan orang lain, kalaupun ada percakapan, lebih banyak mendengar, dan jarang benar-benar mengeluarkan keresahan yang di hati dan di otak. Jadi kalau ada hal yang harus dikeluarkan dan udah gak bisa disimpan, biasanya aku tulis.

 

Termasuk kemarin, pas agak sensi, dan nulis pakai bahasa inggris tentang membuka diri. Satu hal yang aku rasa sulit dilakukan.

 

Jujur aku pernah merasa menjadi seorang ekstrovert, pernah juga dicap cerewet, banyak bicara terutama dengan temen yang sudah dekat. Jadi saat ada perubahan, dan mengenali sisi lain diri yang ternyata dari kecil juga introvert, dan itu juga yang membuatku istiqomah menulis hehe, karena ada banyak hal yang ingin kutulis untuk dibaca sendiri, ketimbang diumbar dan diceritakan pada banyak orang, meski link-nya bisa diakses siapa aja sih. Ada rasa asing, saat aku melihat diriku yang lama-lama struggle untuk open-up. Apalagi saat tahu, kalau ternyata fase-fase aku memilih lari dari masalah, salah satunya karena aku sulit membuka diri dan meminta pertolongan. Saat tahu, pernah ada luka lama, yang membuatku punya trust issue, masalah tentang membuka diri jadi lebih terlihat dalam hidupku. ibaratnya, kalau dulu masalah itu ada di dalam laci yang terkunci, gak kelihatan mata. Kini masalah itu udah aku keluarin dari laci, menanti untuk pelan-pelan aku pelajari dan cari solusi, atau sekedar berdamai dan beradaptasi dengan sisi diriku yang baru, yang lebih sering diam dan selalu membelokkan topik saat momen harus membuka diri. Ataupun jika harus menjawab, selalu hanya keluar kata-kata irit, dan kalimat pendek yang menampilkan dinding tinggi di mata orang lain. Which I find it rare too, Cause I'm still not used with this version of me.

 

Balik lagi ke paragraf awal. Jadi kemarin aku bertanya-tanya tentang topik membuka diri. Lalu uniknya aku menemukan kisi-kisi jawabannya dari tulisan lama, nukil buku 7 Habit tentang sinergi. Sebuah quote sederhana yang bisa sedikit mengusir kabut di kepalaku, yang pusing mikir, gimana caranya biar aku lebih mudah melangkah ke depan dan lebih sering "membuka pintu dan jendela".

 

"Kunci dari sinergi antarpribadi adalah sinergi intrapersonal yaitu sinergi dalam diri kita sendiri. Jantung sinergi intrapersonal diwujudkan dalam prinsip-prinsip tiga kebiasaan yang pertama, yang memberikan rasa aman internal yang cukup untuk menangani risiko dari membuka diri dan menjadi rentan." - Stephen R. Covey


Kutipan tersebut mengingatkanku kenapa membuka diri itu tidak mudah. Pertama karena memang resikonya gak kecil. Kedua, karena dengan membuka diri kita menjadi rentan, lebih mudah untuk terluka, lebih mudah untuk diserang. Itu sisi negatifnya ya. Tapi sebenarnya, membuka diri juga membuka peluang untuk bersinergi dengan orang lain. Saat tahu kelemahan dan kelebihan orang lain, kita jadi lebih paham, bagaimana kita bisa bekerja sama dengan baik dan berkomunikasi dengan baik. Misal, kalau kita tahu sisi insecure seseorang, kita jadi lebih berhati-hati untuk tidak bercanda di topik tersebut. Atau misal kita tahu kelemahan seseorang, misal dia tipe yang slow respons, otomatis kita jadi gak overthinking dan memaklumi, kalau misal dia balesnya lama. Dan perlu di missed call kalau misal kita butuh fast respond.

 

Kutipan tersebut juga memberikanku gambaran solusi, saat aku merasa kesulitan untuk membuka diri. Barangkali, sinergi intrapersonalku masih perlu ditingkatkan. Jadi, daripada sekedar kesel, sebel, marah dan sedih, ngelihat kondisi diri yang semakin mundur dan semakin sulit untuk membuka diri. Aku tahu aku harus fokus ngapain. Aku harus cek lagi 3 kebiasaan pertama di 7 habits[*], belajar lagi, latihan lagi, bertumbuh lagi. In syaa Allah, dengan doa, dan ikhtiar, nanti Allah mudahkan untuk bisa merasa aman dan siap membuka diri. Bukan sekedar membuka diri untuk berkeluh kesah, tapi membuka diri, untuk berkomunikasi dan bersilaturahim lebih baik. Membuka diri, untuk bersinergi lebih baik dengan orang lain, membuka pintu-pintu kerjasama dan kolaborasi untuk mencapai kebaikan yang lebih besar. In syaa Allah.

 

***

 

Sekian. Alhamdulillah 'ala kulli hal. Rasanya melting, kalau sadar, bahwa banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengisi hati dan kepala, lalu dengan skenario dan jalan Allah, Allah tunjukin jawabannya. Allah kasih ayat/tanda-tanda-Nya. Orang lain mungkin gak tahu, kalaupun tahu, mungkin gak bisa 100% mengerti tentang keresahan kita, pikiran-pikiran yang memenuhi otak dan menganggu tidur kita, tapi Allah tahu. Dan kita aja yang seringkali lupa untuk berdoa dan bertanya pada-Nya, meminta petunjuk-Nya. TT Padahal ini bulan-nya doa, apa yang menghalangimu untuk berdoa pada-Nya, padahal Allah tidak membatasi apapun, siapapun boleh berdoa pada-Nya, dan Allah selalu dekat.

 

Let's make a lot of dua in this special month.  Rabbana dzalamna anfusana wa inlam taghfirlana tarahmna lakunanna minal khasirin. Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fuanna. Aamiin.

 

Wallahua'lam.

 

***


[*] 3 kebiasaan pertama di 7 habit. Be proactive, start with the end, first thing first. Yang penasaran, boleh cek di https://betterwordforlife.blogspot.com/2019/04/mencapai-sinergi-dengan-menghargai.html di sana ada beberapa link nukil buku 7 habit yang udah aku tulis. Atau kalau mau baca bukunya langsung juga boleh. Oh ya, ada yang bilang sih, kalau ngerasa bahasa bukunya agak kaku, mending baca yang for teenager, ini aku dulu di rekomendasiin sama orang luar negri yang chattingan di tandem.

 

 

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya