Follow Me

Showing posts with label jawaban. Show all posts
Showing posts with label jawaban. Show all posts

Thursday, September 10, 2026

Wolf

September 10, 2026 0 Comments

Bismillah.


*Disclaimer* Mohon maaf karena blog ini akan sering diisi tulisan bahasa inggris. Dan itu pun bahasa inggris yang belum diedit, kalau bahannya dari buku/hasil googling, biasanya aman sih. Anyway, gapapa nginggris ya, yang penting blognya keisi hehe 


***


#CuriousMe


This is a curious question.


Why do you think wolf is chosen by people to represent something bad?


I mean, there are other predators too. Lion, why is chosen as the king of jungle. Just because he has crown like mane, and have many women around him? Lol


And there's tiger, but tiger usually also used to represent bravery. 


***


But then when I googled, actually wolf doesn't symbolize something bad.


Wolves symbolize loyalty, freedom, and the untamed power of nature across many global cultures and spiritual traditions.


*Core Symbolism*


1. Loyalty and Family:

Wolf packs display deep social bonds, strong family ties, and cooperative hunting, representing devotion to loved ones.


2. Freedom and Wilderness:

They embody the wild, free spirit of nature and survival in harsh environments.


3. Instinct and Intuition:

As a spirit animal, the wolf encourages trusting your gut feelings, sharpening awareness, and listening to inner wisdom.


4. Intelligence and Strategy:

Their ability to adapt and communicate makes them symbols of sharp intelligence and leadership.


***


So why people use wolf as negative character?


The answer is in the screenshot picture I attached.






***

Why suddenly wolf, some of you might ask this. My answer is, because I've seen somewhere, and I don't know is it because of the word near it, but the immediate curious question which pop up in my head is the question above.

I initially want to ask where I've seen the wolf picture. But after some moment, I feel that some question might be good if I looked fot the answer alone rather than asking others.

It's a learning process too, to have questions and look for the answer. Asking others is good, it's a way of communicating. So I guess it's better to take turn, sometimes asking others, and most of the time, looking for the answer by yourself.


Wallahu'alam.

Friday, March 21, 2025

Rasa Aman untuk Membuka Diri

March 21, 2025 0 Comments

Bismillah.


Rasanya selalu takjub, amaze, saat aku bertanya-tanya tentang satu hal pada diri sendiri di blog, lalu somehow, in someway, Allah tunjukkan jawabannya.

 

Aku mungkin sekarang jarang banget ngobrol panjang dengan orang lain, kalaupun ada percakapan, lebih banyak mendengar, dan jarang benar-benar mengeluarkan keresahan yang di hati dan di otak. Jadi kalau ada hal yang harus dikeluarkan dan udah gak bisa disimpan, biasanya aku tulis.

 

Termasuk kemarin, pas agak sensi, dan nulis pakai bahasa inggris tentang membuka diri. Satu hal yang aku rasa sulit dilakukan.

 

Jujur aku pernah merasa menjadi seorang ekstrovert, pernah juga dicap cerewet, banyak bicara terutama dengan temen yang sudah dekat. Jadi saat ada perubahan, dan mengenali sisi lain diri yang ternyata dari kecil juga introvert, dan itu juga yang membuatku istiqomah menulis hehe, karena ada banyak hal yang ingin kutulis untuk dibaca sendiri, ketimbang diumbar dan diceritakan pada banyak orang, meski link-nya bisa diakses siapa aja sih. Ada rasa asing, saat aku melihat diriku yang lama-lama struggle untuk open-up. Apalagi saat tahu, kalau ternyata fase-fase aku memilih lari dari masalah, salah satunya karena aku sulit membuka diri dan meminta pertolongan. Saat tahu, pernah ada luka lama, yang membuatku punya trust issue, masalah tentang membuka diri jadi lebih terlihat dalam hidupku. ibaratnya, kalau dulu masalah itu ada di dalam laci yang terkunci, gak kelihatan mata. Kini masalah itu udah aku keluarin dari laci, menanti untuk pelan-pelan aku pelajari dan cari solusi, atau sekedar berdamai dan beradaptasi dengan sisi diriku yang baru, yang lebih sering diam dan selalu membelokkan topik saat momen harus membuka diri. Ataupun jika harus menjawab, selalu hanya keluar kata-kata irit, dan kalimat pendek yang menampilkan dinding tinggi di mata orang lain. Which I find it rare too, Cause I'm still not used with this version of me.

 

Balik lagi ke paragraf awal. Jadi kemarin aku bertanya-tanya tentang topik membuka diri. Lalu uniknya aku menemukan kisi-kisi jawabannya dari tulisan lama, nukil buku 7 Habit tentang sinergi. Sebuah quote sederhana yang bisa sedikit mengusir kabut di kepalaku, yang pusing mikir, gimana caranya biar aku lebih mudah melangkah ke depan dan lebih sering "membuka pintu dan jendela".

 

"Kunci dari sinergi antarpribadi adalah sinergi intrapersonal yaitu sinergi dalam diri kita sendiri. Jantung sinergi intrapersonal diwujudkan dalam prinsip-prinsip tiga kebiasaan yang pertama, yang memberikan rasa aman internal yang cukup untuk menangani risiko dari membuka diri dan menjadi rentan." - Stephen R. Covey


Kutipan tersebut mengingatkanku kenapa membuka diri itu tidak mudah. Pertama karena memang resikonya gak kecil. Kedua, karena dengan membuka diri kita menjadi rentan, lebih mudah untuk terluka, lebih mudah untuk diserang. Itu sisi negatifnya ya. Tapi sebenarnya, membuka diri juga membuka peluang untuk bersinergi dengan orang lain. Saat tahu kelemahan dan kelebihan orang lain, kita jadi lebih paham, bagaimana kita bisa bekerja sama dengan baik dan berkomunikasi dengan baik. Misal, kalau kita tahu sisi insecure seseorang, kita jadi lebih berhati-hati untuk tidak bercanda di topik tersebut. Atau misal kita tahu kelemahan seseorang, misal dia tipe yang slow respons, otomatis kita jadi gak overthinking dan memaklumi, kalau misal dia balesnya lama. Dan perlu di missed call kalau misal kita butuh fast respond.

 

Kutipan tersebut juga memberikanku gambaran solusi, saat aku merasa kesulitan untuk membuka diri. Barangkali, sinergi intrapersonalku masih perlu ditingkatkan. Jadi, daripada sekedar kesel, sebel, marah dan sedih, ngelihat kondisi diri yang semakin mundur dan semakin sulit untuk membuka diri. Aku tahu aku harus fokus ngapain. Aku harus cek lagi 3 kebiasaan pertama di 7 habits[*], belajar lagi, latihan lagi, bertumbuh lagi. In syaa Allah, dengan doa, dan ikhtiar, nanti Allah mudahkan untuk bisa merasa aman dan siap membuka diri. Bukan sekedar membuka diri untuk berkeluh kesah, tapi membuka diri, untuk berkomunikasi dan bersilaturahim lebih baik. Membuka diri, untuk bersinergi lebih baik dengan orang lain, membuka pintu-pintu kerjasama dan kolaborasi untuk mencapai kebaikan yang lebih besar. In syaa Allah.

 

***

 

Sekian. Alhamdulillah 'ala kulli hal. Rasanya melting, kalau sadar, bahwa banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengisi hati dan kepala, lalu dengan skenario dan jalan Allah, Allah tunjukin jawabannya. Allah kasih ayat/tanda-tanda-Nya. Orang lain mungkin gak tahu, kalaupun tahu, mungkin gak bisa 100% mengerti tentang keresahan kita, pikiran-pikiran yang memenuhi otak dan menganggu tidur kita, tapi Allah tahu. Dan kita aja yang seringkali lupa untuk berdoa dan bertanya pada-Nya, meminta petunjuk-Nya. TT Padahal ini bulan-nya doa, apa yang menghalangimu untuk berdoa pada-Nya, padahal Allah tidak membatasi apapun, siapapun boleh berdoa pada-Nya, dan Allah selalu dekat.

 

Let's make a lot of dua in this special month.  Rabbana dzalamna anfusana wa inlam taghfirlana tarahmna lakunanna minal khasirin. Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fuanna. Aamiin.

 

Wallahua'lam.

 

***


[*] 3 kebiasaan pertama di 7 habit. Be proactive, start with the end, first thing first. Yang penasaran, boleh cek di https://betterwordforlife.blogspot.com/2019/04/mencapai-sinergi-dengan-menghargai.html di sana ada beberapa link nukil buku 7 habit yang udah aku tulis. Atau kalau mau baca bukunya langsung juga boleh. Oh ya, ada yang bilang sih, kalau ngerasa bahasa bukunya agak kaku, mending baca yang for teenager, ini aku dulu di rekomendasiin sama orang luar negri yang chattingan di tandem.

 

 

Monday, January 10, 2022

Mengapa Air Mata Mengalir?

January 10, 2022 0 Comments
Bismillah.

Tulisan pendek in syaa Allah. Entah kenapa pengen dicatet di sini.

Salah satu alasan mengapa air mata mengalir... ada begitu banyak kata yang berdesakkan ingin keluar, ada warni-warni perasaan dan emosi yang bercampur baur ingin segera diekspresikan. That's why. That's one of the reason why tears are falling.

Kata-rasa itu berdesakkan ingin diungkakan. Tapi apa daya, bahkan menuliskannya tidak mudah. Apalagi berusaha merapikannya berbaris dan menggetarkan pita suara. Maka yang terjadi, air itu mengalir saja, mewakili segala macam kata dan rasa yang meluap.

Sayangnya komunikasi dengan manusia tidak bisa lewat bahasa air mata. Manusia hanya akan salah menerka, atau bisa jadi benar, tapi sangat jarang. Sebagian justru kebingungan tanpa bisa sama sekali menerjemahkan aliran air tersebut. Jangankan yang sudah mengalir, yang baru berlapis bagai kaca saja bisa membuat pihak yang menjadi kawan komunikasi menjadi panik.

Why? Mengapa tiba-tiba matamu berkaca-kaca?

Why? Mengapa air matamu mengalir?

Ingin kujawab melalui tulisan ini, meski tidak ada yang benar-benar bertanya.

This is one of the reasons tears are falling from someone's eyes.

Wallahua'lam.

Tuesday, September 29, 2020

Jawaban Untukku

September 29, 2020 0 Comments

Bismillah.

20 Mei 2020. Seorang bertanya padaku, "Teh, gimana cara menghilangkan kebiasaan buruk?" Tertulis angka 23.26, saat ia melanjutkan tanyanya dengan kalimat penjelas lain.

Kujawab pertanyaannya keesokan harinya, lumayan panjang. Tiga layar screenshoot.

***

Tiga bulan kemudian, jawaban yang kuberikan padanya, menjadi jawaban untuk diriku sendiri. Kucatat di blog magicofrain.

Jawabannya kini untukku.

"Sibukkan diri dengan hal-hal baik"

"Cek penyebabnya, hindari situasi tersebut"

"Sering-sering diulang kenapa harus ninggalin hal itu, biar tekadnya kuat"

"Kalau misal jatuh, lagi dan lagi. Jangan putus asa. Harus yakin bahwa Allah melihat usaha kita. Allah tahu kita berusaha meninggalkan kebiasaan buruk itu."

"Jangan lupa doa."

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Fatimah (puterinya), “Apa yang menghalangimu untuk mendengar wasiatku atau yang kuingatkan padamu setiap pagi dan petang yaitu ucapkanlah:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan [artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya].” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 46, An-Nasa’i dalam Al-Kubra 381: 570, Al-Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al-Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 227). [1]

***

Sekarang, akhir bulan September. Allah masih memberikanku nikmat iman, islam, dan berbagai nikmat lain yang tidak bisa aku sebut satu per satu. Kusalin jawaban untukku di sini, karena aku ingin mencatatnya, agar aku ingat, bahwa begitulah semua tulisan di sini. Semuanya untukku, meski bisa jadi beberapa diantaranya terinspirasi dan diambil dari kisah orang lain. Tapi pelajaran di dalamnya, makna dan hikmah di dalamnya, jawaban di dalamnya, nasihat di dalamnya, untukku.

Allahua'lam.

***

Keterangan:

[1] https://rumaysho.com/11790-dzikir-dan-doa-dengan-ya-hayyu-ya-qayyum.html

Wednesday, December 25, 2019

Pertanyaan Tidak Langsung

December 25, 2019 0 Comments
Bismillah.



Pekan kemarin temanya tentang pertanyaan tidak langsung. Sehari setelah aku publish tulisan 'Kenapa Gak Tanya Langsung', seorang adik tingkat mengirim chat padaku,

"Kemaren Mbak A nanyain th bella lagi"

"Masih sering kontakan sama Bella?"

"Bella zzz zzzzzzz ya?"

"Kenapa"

"Gitu"

***

Pertanyaan tidak langsung, dua kali, beda kasus, beda penanya, tapi mungkin karena ini yang kedua, efeknya jadi lebih sensi.

Aku bertanya-tanya, mengapa orang yang 'tidak mengenalku' sampai bertanya seperti itu? Sekedar kuriositas kah?

Aku bertanya-tanya, jika jawaban pertanyaan 'kenapa' itu ia dapatkan, apa yang ia dapatkan? Ia jadi lebih mengerti? Jadi lebih kenal diriku?

Berbagai lintasan pikiran yang lalu lalang kutumpahkan di blog "sebelah". Baru kemudian aku bisa dengan tenang membalas pesan dari adik tingkat tersebut.

***

"Trus kamu jawab apa?"
"Pas ketemu kemarin? Atau via chat?"
"Kapan-kapan kayanya harus ketemu mba A deh hehe"


Tiga tanggapanku itu, cuma dua yang direspon. Yang kedua dan ketiga. Pertanyaanku tentang jawabannya tidak direspon. Dari situ aku tahu, aku harus belajar untuk berbaik sangka padanya. Ia mungkin menjawab sebisanya, dengan terbata, atau menjawab tidak tahu. Ia tidak mungkin menjawab asal-asalan, apalagi manambah-nambah atau mengurang-ngurangi. Buktinya, ia menyampaikan pertanyaan tidak langsung itu padaku. Seolah ia ingin memberitahuku, bahwa ia tadi kesulitan saat pertanyaan tentangku ditanyakan padanya.

***

Pekan kemarin, temanya pertanyaan tidak langsung. Dan aku ingin mencatatnya. Karena setiap kejadian, setiap pertanyaan, setiap hal yang mengenai kita, sebenarnya membawa banyak hikmah dan pelajaran. Tinggal pintar-pintar kita memaknainya, tinggal bagaimana kita jeli menganalisisnya.

Pekan kemarin.. aku belajar, bahwa manusia itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Bahkan pada orang yang belum ia kenal. Atau justru seringkali pada orang yang belum ia kenal. Mungkin awalnya karena kita sering mendengar sebuah nama, kemudian kita jadi bertanya, yang mana orangnya? Ada fotonya? Kemudian saat sebuah fakta tentangnya hadir, secara otomatis, refleks, meski kita tidak benar-benar kenal, kita tetap saja penasaran dan ingin bertanya. Mengapa orang itu Z, kenapa ia memilih Y, dll dst. Dan kuriositas manusia itu, wajar. Dan kuriositas tersebut seharusnya tidak melukaimu, atau membuatmu ke-GR-an. Karena memang sekedar penasaran.

Pekan kemarin... aku belajar, bahwa bisa jadi pertanyaan tidak langsung itu menjadi pintu pembuka jalan silaturahim. Jika Allah mengizinkan untuk bertemu, mari bertukar tanya dan jawab secara langsung. Karena aku juga ingin bertanya, mengapa mba A ingin tahu tentang itu. Saat itu, jika Allah mengizinkan, mungkin aku bisa bercerita dengan tenang tentang Z, dan bagaimana hal tersebut mengubah hidupku.

Pekan ini... tema apa yang akan aku pelajari?

***

Terakhir, apa "tema" pekan-mu saat ini? Hal apa yang berulang kau temui, dan seolah mengetuk otak dan hatimu untuk belajar darinya?

Allahua'lam.

Monday, August 13, 2018

Menahan Jemari

August 13, 2018 0 Comments
Bismillah.


Hari ini beberapa kali aku membaca pertanyaan atau pernyataan yang membuat otakku berpikir, dan kemudian jemariku bergerak untuk merespon. Tapi... aku kemudian menahannya. Hmm... Kalau cuma sekali, mungkin biasa saja. Yaudah. Tapi hari ini, beberapa kali. Jadi ingin menuliskannya di sini. Saat otakmu berputar, jemarimu mengetikkan kata-kata. Namun kemudian... backspace, atau block all dan cut. Hilang tulisannya, aku menahan jemariku. Saat itu, di sana, lebih baik aku diam dan tidak memberi respon? Atau? Lebih baik aku menuliskannya saja? Di tempat lain? I don't know. 

***

Dari tiga pertanyaan, yang membuat otakku berputar dan siap merespon, meski pada akhirnya aku menahan jemariku untuk mengetikkan dan mengirimkan kalimatnya... kesamaannya, adalah.. aku bertanya-tanya, apa tujuan yang bersangkutan bertanya? Apakah hanya kuriositas? Atau? 

Saat aku hendak menjawab dan merespon, hendak mengeluarkan opiniku, aku menemukan pola yang sama. Aku bukan menjawab pertanyaan, tapi justru bertanya balik, sebenarnya niat nanya buat apa? Trus aku jadi kesel sama diri sendiri, why it seems like, you think negative towards the questioner? Itu.. salah satu yang membuatku menahan jemari.

Alasan lainnya. Klise, aku merasa jawabanku tidak tepat, atau tidak penting, It's just my two cents. Atau karena sebenarnya aku tidak tahu, hanya sok tahu. 

Alasan lainnya,... mungkin aku sedang fase introvert. I'll just chew and process my answer alone, in my head. Maybe I'll write it, but not here. Entahlah. Masih ada keinginan untuk menjawab tiga pertanyaan dari tiga penanya berbeda. Tapi di sisi lain, aku ingin menahan jemariku. Di sana, dan juga di sini.

***

Jadi tujuan nulis ini apa Bell? Penyaluran perasaan anehku, saat hari ini Allah takdirkan aku menahan jemari lebih dari sekali, atas pertanyaan yang berbeda. 

Aku bertanya-tanya, apa ya... hikmah yang bisa kupetik dari hal itu? Sikapku, pilihanku untuk menahan jemari, apakah itu baik? Atau.. justru, aku baiknya tidak menahannya. Mungkin baiknya aku tetap bersuara, meskipun respon atau jawabanku salah. Karena cuma dengan menuliskannya, dan orang lain membacanya, akan ada yang mengoreksiku. Kalau aku nulisnya di sini, ditulis sendiri dan dibaca sendiri, ya.. ga ada yang memberitahuku bahwa aku salah, atau pendapatku tidak tepat.

***

Terakhir... sebenarnya, aku senang membaca tiga pertanyaan itu. Aku jadi dibuat berpikir, dan memikirkan respon yang tepat, opiniku terhadap pertanyaan itu.. meski akhirnya aku menahan jemariku, tetap saja menyenangkan. Ibarat lama ga olahraga otak, trus pertanyaan itu membuat otakku jadi olahraga hehe. Brainstorming. 

Terimakasih pada yang bertanya. Maaf karena memilih menjawab dalam hati dan otak saja hehe. 

Semoga di lain kesempatan, di lain pertanyaan, aku tidak menahan jemariku untuk merespon pertanyaan. J

Bye... 

Allahua'lam. 

Tuesday, May 1, 2018

Pertanyaannya, Jawabanku

May 01, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Seseorang, bertanya padaku. Singkat, jelas.
Aku menjawab padanya, panjang kemana-mana.



***

Satu hari setelah itu. I feel like I didn't answer her question nicely. Ia bertanya tentang x, namun kuberikan padanya persamaan x kuadrat.

Yang ditanyakan adalah tentang X. Tapi aku justru menjawab tentang diriku. Aku memang menyinggung tentang x di jawabanku, tapi lebih banyak hal tentang diriku yang kugarisbawahi.

***

Belum ada respon lagi. Dan aku bertanya-tanya sendiri. Mungkin baiknya tak perlu kujelaskan ke sana kemari. Pertanyaan seseorang itu cuma satu padahal,

'Bella masih suka kontak x?'

Selesai.

***

Kadang aku dibuat bertanya-tanya. Sebenarnya, benarkah aku sedang berusaha menjadi teman yang baik bagi x? Atau aku sedang berusaha membangun topeng, agar dikenal sebagai teman yang baik?

***

Pada akhirnya, aku cuma perlu fokus ke usaha dan doa. Mungkin saat pertanyaan itu hadir lagi, aku ga perlu jawab. Atau boleh jawab, singkat saja, ga perlu sampai menjabarkan persamaan x kuadrat.

Pada akhirnya, aku cuma perlu fokus usaha dan doa. Ini mungkin ketulusan, mungkin juga kepalsuan. Mungkin tercampur dan berganti-ganti tiap waktu. Aku tidak tahu. Seperti amal, yang terkadang niatnya bengkok. Jika bengkok, jika ini kepalsuan, bukan amal yang harus dihentikan, bukan usaha yang harus diberhentikan. Tapi niat yang harus diluruskan. Ya, niat, yang tak terlihat dan letaknya di hati.

***

Jika ini hanya kepalsuan, topengku agar tampak seperti teman yang baik, semoga Allah menggerakkan hatiku, membersihkan hatiku, agar kepalsuan itu hilang, dan tergantikan dengan ketulusan. Aamiin. 

Allahua'lam. 

Wednesday, September 6, 2017

Menjawab Tidak Tahu

September 06, 2017 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-


Sometimes, we asked a question that we can't answer, and the best way to answer that question is confessing that you don't know that kind of stuff and tell them to ask the professional.

***

Teorinya seperti itu, kalau ga tahu, ya jawab tidak tahu. Tapi terkadang prakteknya sulit, entah kebawa ego 'kayaknya tahu', atau emang bener-bener sok tahu aja hehe. Ada saat dimana kamu nyesel, ah.. harusnya aku bilang aja gatau. Tapi di saat lain, ada saat kamu bersyukur, karena kamu menjawab bahwa kamu tidak tahu.

Sebuah pertanyaan dari seseorang hari ini yang membuatku teringat satu dua kejadian terkait topik ini. Pertanyaan awalnya sederhana, aku tahu jawabannya. Tapi saat menjawab, jujur aku dagdigdug ga jelas, karena takut diminta penjelasan lebih detail-nya. Syukurlah bukan itu maksud si penanya, ternyata ia bertanya, sebagai prolog untuk kemudian curhat sebuah situasi yang ia alami.

Aku bersyukur sekali saat tahu kelanjutan pertanyaan itu, bukan pertanyaan penjelasan, tapi pernyataan deskrripsi situasi yang ia alami. Lalu permasalahannya jadi berpindah, aku jadi mikir, bagaimana tanggapan yang benar, saat kamu dicurhati seseorang yang baru sekali kamu temui, namun sudah saling kontak? Hehe. Lemon yang kemarin aku tulis di Dua Perempuan Berbeda, yang siang tadi bertanya.

***

Another case. Aku jadi teringat situasi lain yang aku alami. Saat itu seseorang bertanya padaku, dan menyatakan kebingungannya, apa bedanya riba dengan istilah dalam perekonomian islam, mudharabah, dll. Aku istilahnya juga gatau ga hafal, maaf kalau salah. Alhamdulillah saat itu, aku jawabnya ga nyolot "pokoknya beda", tapi bisa dengan tenang memberitahunya. I have no knowledge on those things, and he should ask my sister who studied a lot about islamic economy (ekonomi islam).

***

Mungkin kebiasaan menjawab tidak tahu perlu dilatih juga ya. Biar kita tidak jadi sok tahu dan seenaknya menjawab. Selain dibiasakan, perlu ada pengingat juga dari orang-orang terdekat. Tapi pengingat yang ramah, bukan yang tipe judgemental.

Karena aku pernah bertemu akhawat yang baik, yang mengingatkanku untuk tidak sok tahu, dengan cara yang baik. Saat itu, bahasannya memang tidak seberat tentang ekonomi islam, atau topik berat lainnya. Cuma tentang aku yang sok tahu, kalau ia terbiasa pakai kerudung langsungan, yang langsung ia tangkis, dengan cara mengingatkan.

"Teteh kan baru ketemu aku (setelah lama ga ketemu) dua kali ini, dan aku dua kali pakai kerudung langsungan, tapi sebelumnya pernah ga teteh liat aku pake kerudung langsungan?"

Mendengar itu, aku langsung mengingat bayangan sosok ia, dan aku menyadari kesalahanku. Saat itu aku minta maaf dengan ringan, dan menyatakan baru sadar, kalau ia selalu pakai kerudung segi empat. My bad! Hehe.

Kejadian yang satu ini, juga mengingatkanku untuk bisa se-cool ukhti yang satu ini. Pengingat, kalau misal ada yang sok tahu tentang diri kita, jangan jadi emosional dan ngecap itu orang sok tahu. Cukup beritahu saja dengan santai dan cool, kalau kita bukan seperti yang ia katakan. Walau aku ga yakin bisa mempraktikan hikmah yang satu ini hehe.

Ah.. jadi kangen kan sm ukhti yang lagi jadi pengunjung setia perpus Gasibu belakangan ini. Padahal kita janjian pengen dateng kesana barengan, tapi belum diizinkan. Belum, bukan sekarang, mungkin bukan besok pula. Tapi in syaa Allah, kalau aku di Bandung, ukhti ini juga di Bandung, nanti bareng-bareng ke perpus Gasibu. In syaa Allah.

***

Terakhir, akhir-akhir ini blogku isinya banyak dibumbui curhat ya? Maaf ya. Semoga kalaupun curhat, masih pada batas yang tidak berlebihan. Nanti pelan-pelan in syaa Allah aku kurangi curhatnya. Sekarang mau aku biarin dulu aja, sambil menumbuhkan kebiasaan menulis setiap hati.

Doakan istiqomah menulisnya. Nanti kalau udah sedikit istiqomah, semoga isinya juga lebih berkualitas dan tidak banyak curhatnya.

Ingatkan aku ya, kalau ada tulisan di sini, yang isinya sok tahu hehe. Aku masih perlu belajar untuk menulis tidak tahu, dan tidak menulis sok tahu, tentang topik yang saya banyak tidak tahu.

Monday, December 12, 2016

Teteh Mualaf?

December 12, 2016 0 Comments
#random

Bismillah.
tanya-jawab

Alkisah, suatu hari, di sebuah thread percakapan sosial media, ada sebuah obrolan tentang topik A, antara diriku dan seseorang, sebut saja X. Tiba-tiba, out of nowhere, kapjagi, ujug-ujug,
X: "Teteh mualaf?"
Aku membaca pertanyaan itu berkali-kali. Hah? Tiba-tiba? Lalu aku mencoba mengetik jawabannya. Awalnya simple, cuma jawaban. "Bukan." Udah tanpa embel-embel. Tapi karena mendadak nanya, jadi penasaran, lalu aku lanjut tanya. Trus awalnya pengen jelasin juga tentang namaku, sama nama belakangku. Isabella Kirei, isabella nama dari orang tua, kirei, nama dari diri sendiri, nama pena. Tapi aku urung. Ga penting hehe. Akhirnya aku jawab seperti ini,
IK: "Bukan mualaf. Alhamdulillah islam dari lahir. Kenapa jadi nanya ini?"
***

Monday, September 5, 2016

Jawaban dari "Tak Terungkap"

September 05, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

Membaca tulisannya, membuatku merasa ia menjawab tulisanku.

Manusia bagi saya adalah makhluk yang sangat kompleks. Pembeda yang sangat nyata dengan makhluk lain yang Allah ciptakan.
They have the depth that couldn’t understand wholly by other people, no ones. Even if you are their best friend, their parents, their siblings, or their other close relations. I bet they couldn’t. Like what Sean told to Will in Good Will Hunting “No one could understand the depth of you”.

Allah mendesain diri kita secara sempurna, bahwa sebagaimanapun diri kita bagi orang lain, mereka tidak akan mampu menjadi tempat kita untuk menceritakan seutuhnya apa yang kita rasakan.

Kita didesain sedemikian rupa untuk mengadu pada Dzat yang tidak perlu kita menceritakan seutuhnya diri kita agar ia paham, karena Ia telah paham sepenuhnya, bahkan lebih daripada diri kita sendiri.
- Zainab Nururrohmah, dalam tulisannya "Manusia"
 ***

It's About The Faith

September 05, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

faith <3 a="">

So, if I am as a person understand the limit of my self, and how I relates one ‘miracle’ to another ‘unreasonable phenomenon’ then, the answer of those big questions doesn’t matter again. Because I know I can’t answer those right now...

You can still believe in God, even if He don’t bring the answer that come into your sense.
The important matter is how you believe in every phenomenon that Allah shows you, but how come you don’t believe on ‘something behind it’?
It’s not a matter of having eyes or not, it’s about having vision.
It’s not about logic or not, it’s about the faith.
- Ukhti yang kurindukan, dalam tulisannya "Blind, Deaf, and Mute"
***

Friday, May 29, 2015

Ajakan, Sebuah Tanya, dan Tangis Sunyi

May 29, 2015 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

"Udah mau jam 2 kawan, kita masih belum shalat" ujar seorang mahasiswa pada sekelompok temannya yang sedang asik mengerjakan tubes (asumsiku). Aku yang berada di sebelah kelompok mereka ikut tersenyum.

Selalu menyenangkan mendengar ada orang yang mau mengajak yang lain. Membuat kagum melihat sosok yang peduli orang lain di era saat individualisme begitu ditinggikan.

Dan yang terakhir, membuat diri teringat.. Betapa aku belum melakukan banyak hal untuk mengajak orang lain kepada kebaikan. Lebih sering ber-egois-ria, menumpuk nasihat untuk diri. Takut, begitu takut untuk menulisnya, atau bahkan mengucapkannya.

***

sumber gambar dari sini
Aku teringat sebuah momen saat dua orang saling menangis dalam diam, tangis tanpa isak.

Monday, March 2, 2015

Katakan Tidak

March 02, 2015 0 Comments
-muhasabah diri-


Bismillah

Katakan tidak... pada NARKOBA!
Katakan tidak... pada KORUPSI!
Katakan tidak... pada....

***

Ya, katakanlah tidak pada hal-hal yang lain yang mengusik diri dari prioritas awal kita. Somehow this quote stab me to the heart *lebay.

Thursday, October 16, 2014

Windows MSTEI 2014 Day 2,5

October 16, 2014 0 Comments
Bismillah.




( 190 )   Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
( 191 )   (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

QS Ali Imran
 ***

Monday, September 1, 2014

Satu Bulan Lebih Vacum Blogging

September 01, 2014 0 Comments



 taken from here

Bismillah. Satu bulan lebih terhitung sejak tanggal 10 Juli 2014. Terhitung  lima puluh dua hari. Super sekali!


Vacum menulis adalah hal yang wajar ketika menulis sekedar mengisi waktu luang. Adalah hal yang wajar, ketika menulis belum menjadi kebutuhan kita. Namun saat hal itu sebaliknya, bagaimana rasanya vacum menulis bagi ia yang terbiasa setiap hari merangkai kata? Bagaimana rasanya, saat kebutuhan kita untuk menulis, tidak bisa kita penuhi. Haus seperti halnya kita tidak memenuhi kebutuhan air. Lemas seperti halnya kita tidak memenuhi kebutuhan makan diri kita.

Pertanyaan selanjutnya, yang manakah diri?

Tuesday, May 6, 2014

Tuesday, April 22, 2014

Kau Tahu Sendiri Jawabannya

April 22, 2014 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah..




[#TanyaHatimu]

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Dipahami, renungi, dan perbanyak ber-uzlah (menyendiri) lalu renungi tiap-tiap aktivitas kita hari ini.

Jum'at Mubarok!


***

This poster is so... 

Mari bertanya pada diri, biasanya.. jika kita terlambat bangun shubuh, bagaimana perasaan kita?

A : Nyesel banget. Nangis habis-habisan
B : Nyesel. Tapi habis itu biasa aja.
C : Biasa aja. Toh tiap hari emang telat.
D : Emang kenapa? Biasa nggak sholat shubuh

***

Dan jika pernah kita bertanya pada diri, "Mengapa sulit bangun shubuh?".

Ternyata jawabannya ada di diri, hanya saja kita tak peka.

Robbighfirli..

Tuesday, February 11, 2014

Keluar dari Grup

February 11, 2014 0 Comments
every needle has their own color, each of them has their own place
to make them looked beutiful

-random post-

Bismillah...

disebuah chat jejaring sosial

A : B, boleh minta tolong?
B : apa, A?

A : keluarin aku dari grup XXX.*ga enak euy,bukan xxx
aku kmrn udah minta C, tapi dia kayanya belum sempet
B : hadeeeh...emang kenapa? tak apeulah, kan kamu bagian dari struktural XXX juga kan? YYY butuh info kondisi dalam XXX
A : *mikir* *bener juga ya?*
A : hehe, iya ya. oke lah gapapa.
siap jadi silent reader
B : saranku: ambil yg penting2nya, biar balance sama internal YYY *emoticon senyum
sip2
A : hehe,. iya siap B.

Monday, October 21, 2013

Ijinkan Aku Mendengarkanmu

October 21, 2013 0 Comments
kita bukan satu jenis bunga, namun kita tumbuh dan mekar di lahan yang sama
ada kala-nya, akar kita saling berebut air
ada kala-nya, tangkai kita saling terkait
ada kala-nya kita sama-sama tersenyum merasakan hangat matahari
ada kala-nya kita saling memuji, tentang keindahan masing-masing

kita bukan satu jenis bunga, namun kita tumbuh dan mekar di lahan yang sama
adakah kita bertanya, mengapa Allah menakdirkan kita untuk bersama?
adakah untuk melukai sesama? atau untuk yang lain?
adakah kita bertanya, mengapa Allah menakdirkan kita untuk bersama?
mungkinkah, itu untuk kebaikan masing-masing dari kita?


-untuk Sahabat-
Bismillah...
Satu-satu.... Daun-daun...
Berguguran tinggalkan tangkainya...
Satu-satu... Burung kecil...
Beterbangan tinggalkan sarangnya...