Follow Me

Friday, May 29, 2015

Apa Kabar Adikku?

Bismillah.

sumber gambar
Perkenalkan, aku memiliki seorang adik yang biasa kusapa Aan. Nama lengkapnya Anugrah Cipta Pratama. Beda dua tahun denganku, tiga tahun dari jenjang pendidikan.

Aku dulu.. Begitu khawatir saat adikku beranjak remaja. Saat aku duduk di SMP dulu, ada yang pernah berkata, kalau sekarang susah cari cowok yang mata-nya bersih. Maksudnya? Bersih dari tontonan haram. Hm.. Itu satu ke khawatiranku.

Kekhawatiran kedua adalah tentang games online. Ini termasuk yang katanya ga bisa dihindari cowok jaman sekarang. Masalahnya games online yang aku tahu, pertama bikin kecanduan, bisa habis waktu dan uang untuk main di warnet. Kedua, isinya yang biasanya ga lepas dari pornografi. Aku ga pernah main sih, cuma baca-baca dan denger dari temen katanya gitu..

Dan kekhawatiran itu perlahan sirna.

Aku termasuk deket sama adikku. Biasanya aku seneng nemenin adikku nonton bola, atau motogp, karena papah, mamah, atau kakak ku ga ada yang suka. Kadang juga suka ngobrol tentang teman-teman cowok di sekolah waktu SD-SMA. Ya, sekedar berbagi aja, sekalian pengen tahu emang cara berpikir mereka gimana dengan nanya ke adik.

Pernah merasa lega banget, waktu adikku curhat suka diajakin temen main game online. Alhamdulillah adikku ga suka dan ga kecanduan. Malah bilang, game online itu ngabis-ngabisin uang, mending buat ditabung. Aku saat itu cuma tersenyum dan mengangguk.

Sejauh yang aku tahu dan lihat, Alhamdulillah adikku lebih banyak menghabiskan waktu dengan olahraga, atau kalau main game ya main game sepak bola, atau football manager. Setidaknya kekhawatiranku mulai menepis.

***

Tantangan perempuan dan laki-laki itu beda, emang beda.

Adikku termasuk orang-orang yang semangat ngafalnya tinggi. Hafalan kami walau sedikit, termasuk banyak yang sama. Sehingga kami sering muraja'ah bareng, biasanya adikku yang ngingetin, hehe.

Suatu hari, aku tersadar sesuatu. Saat itu aku pulang dan membawa buletin Salman yang membahas tentang menghafal Al Quran. Ada profil anak SMA atau SMP di bandung yang hafizh. Aku kasih tahu kan ke adikku, maksudnya biar dia baca dan makin semangat. Dan kamu tahu apa responnya?

"Pasti sekolahnya islami ya? Dipisah ya ikhwan sama akhawat? Soalnya ga mungkin kalau ga gitu." ucapnya dengan redaksi mirip-mirip ini.

Saat itu juga aku termenung dan dibuat berpikir. Ya, inilah perjuangan seorang ikhwan. Suka atau tidak, perempuan memang fitnah (ujian) terbesar mereka.

***

Pernah aku mendengar sebuah lecture, intinya sang penceramah mengingatkan perempuan, kalau ikhwan tuh ga sama kaya mereka. Ini bukan tentang "aku punya dua mata, kamu juga iya, trus apa susahnya menundukkan pandangan?" Karena kenyataannya memang lebih susah bagi laki-laki. Mereka orangnya visual -kalau ga salah. Dan ada something inside them yang membuat mereka harus berjuang kalau masalah perempuan.

Jadi? Jadi yuk sebagai akhawat kita bantu mereka. Seriusan kasian, hehe. Beneran loh, kita bisa aja sudah menutup aurat dengan baik, namun aksesoris atau warna yang mencolok akan membuat mereka lebih susah nundukin pandangan. Hehe.

Bahkan kata Salim A. Fillah, (kebanyakan) ikhwan tuh kalau liat cewek pakai baju ga bener, bisa cepet nundukkin pandangannya. Tapi kalau liat akhawat pakai kerudung lebar.. Nah itu tantang mereka. Kata Ustadz Salim sih lebih susah. Tapi aku ga tahu juga ya, belum pernah tanya langsung sama ikhwan soalnya. Hehe.

Bukan ngajak kegeeran, tapi beneran.. Yuk perhatikan lagi cara kita berpakaian, berjalan, berbicara, dst.. Kadang kita bisa ngerasa sellow, padahal yang di luar sana (ikhwan) perjuangannya banting tulang untuk jaga pandangan, jaga pendengaran dan jaga hati.

Terakhir.. Izinkan aku kutip tulisannya M. Irawan S. (baca selengkapnya di sini)
Kita lalu menjaga pandangan, Kita lalu menjaga pendengaran, karena apa yang masuk ke telinga seringkali membentuk bayang-bayang di celah otak. Kita lalu menjaga kulit dari persentuhan-persentuhan yang tak diperkenankan. Karena kenangannya sulit dilupakan.  Karena kepala ditusuk dengan jarum besi menyala. Jauh lebih baik daripada menyentuh kulit yang tak halal bagi kita. Kita lalu menjaga diri atas hubungan-hubungan antara manusia. Bahwa berbicaranya wanita dan laki-laki memiliki adabnya tersendiri. Ketika kata-kata bernada menjadi pembicaraan khusus, maka ia berdenting, meresonansi dawai-dawai syahwat dalam hati. Kita lalu tahu, bahwa dekatnya fisik dan panjangnya interaksi tak dianjurkan ketika kita berkomitmen menjaga kesucian diri.

dari sini
Allahua'lam bishowab.

*ditulis lebih banyak untuk diri daripada orang lain. Jadi, ini untuk diri, untuk diri, untuk diri.

**adikku lebih tinggi dari aku, beberapa kali ke Bandung dan makan berdua, jalan berdua, rawan fitnah. Biasanya aku kasih klarifikasi ke akhawat yang aku kenal, "ini adikku". Cuma kalau ke ikhwan, yaudah sih biarin. Ahahaha. Kalau emang butuh harusnya dia kroscek sendiri.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya