Follow Me

Friday, February 19, 2021

SS Week 7 - Quran Mengajak Kita untuk Berpikir

Bismillah.


SS Week 6 terpaksa aku skip, karena saat itu ga buat versi tulisannya. It's a hard topic for me too.

Intinya, berikut aku share hasil sharing session week 7, dari program guidelight project batch 3.


*** 


Afalam Takunu Ta’qilun? Afala Ya’qilun?


Allah bertanya, apakah kita tidak menggunakan akal kita, dua kali di dua ayat yang berdekatan. Pertama di QS Yasin ayat 62, tentang orang-orang yang menyembah setan, padahal setan itu adalah musuh manusia. Sebagaimana musuh pada umumnya, mereka menginginkan keburukan pada kita. Begitupun setan, tapi mengapa masih ada yang ‘menyembah setan’, yang mengikuti ajakan setan? Apakah kamu berpikir? Kemudian yang kedua, ada di QS Yasin ayat 68, tentang fase hidup manusia, dari lemah, kuat, kemudian menjadi lemah kembali. Pertanyaan itu diulang, karena dalam kita melihat fase hidup manusia tersebut di sekitar, dan di dalmnya terdapat banyak ayat-ayatNya. Pengingat tentang kekuatan itu milik Allah, dan Allah dapat dengan mudah mengambilnya. Pengingat agar tidak sombong.

Pertanyaan serupa akan kita temukan juga di ayat-ayat lain dalam Al Quran. Allah memberikan manusia keistimewaan disbanding makhluk lain, yaitu akal. Akal yang jika digunakan dengan benar, ia akan menemukan kebenaran, dan menjadi alat agar berjalan di shirath al mustaqim. Akal menjadikan manusia mulia, namun jika tidak digunakan, manusia itu layaknya binatang ternak, atau bahkan lebih buruk lagi.

Satu hal lain yang perlu kita tahu, akal itu berbeda dengan otak. Orang yang memiliki IQ tinggi bisa jadi tetap dalam kesesatan dan menyekutukan Allah, karena ia tidak menggunakan akalnya. Akal itu ada di hati, berbeda dengan kecerdasan di otak. Jika saat melihat pohon, otak hanya memikirkan tentang spesiesnya, usianya, manfaat dari pohon tersebut buat manusia. Maka akal-lah yang mengantarkannya untuk sampai pada kesimpulan, bahwa hidup dan matinya pohon adalah pengingat tentang hari kebangkitan.

Meskipun akal memiliki banyak keutamaan, tapi akal tidak dapat berdiri sendiri. Harus ada dalil dan ayat-ayat yang memandunya agar tidak keliru. Maka penting bagi kita untuk menjaga akal kita. Caranya dengan menuntut ilmu dengan urutan prioritas yang benar. Kita belajar tauhid, belajar quran, sebelum kemudian menelaah buku-buku buatan manusia yang isinya penuh pemahaman yang keliru. Penting juga untuk memilih guru yang baik dan mengelilingi diri dengan orang-orang yang berakal. Karena jika kita banyak menghabiskan waktu dengan orang yang tidak pernah menggunakan akalnya, maka kita juga –suka tidak suka- akan terpengaruh, dan mulai mengabaikan akal, serta mengutamakan mengikuti hawa nafsu.


Muda Maksiat


Masa muda adalah masa istimewa, saat itu manusia diberikan kekuatan dan juga waktu luang. Maka banyak yang akhirnya tenggelam dalam maksiat, tergerus oleh serangan fitnah zaman. Menulis ini, ketimbang melihat keluar mengingatkan untuk melihat ke dalam. Barangkali sebenarnya kita masih termasuk di dalamnya.

Bagaimana agar saat muda, tidak tenggelam dalam maksiat? Yang pertama adalah meminta perlindungan dari Allah. Sesungguhnya manusia itu lemah, tetapi Allah Maha Kuat. Anak muda diserbu dari segala arah, membuat mayoritas memilih menyerah dan mengikuti arus saja. Kita sering merasa setan itu godaannya kuat, padahal sebenarnya godaan setan itu lemah. Kita hanya perlu meminta perlindungan dari Allah. Menjaga dzikir pagi dan petang, menjaga shalat kita, sebagai benteng agar setan tidak bisa mendekat. Sekalipun bisik-bisiknya akan selalu hadir, tapi ingatan kita kepada Allah akan membantu kita memusnahkan was-was setan.

Selain berlindung kepada Allah, anak muda juga harus memperhatikan waktu luangnya. Biasanya dari celah ini setan masuk. Penting untuk menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat. Bukan cuma dengan kegiatan yang berhubungan dengan agama, tapi juga kegiatan positif lain seperti olahraga, atau mengasah skill di berbagai bidang yang diminati.

Adapun dakwah kepada para pemuda, kita harus mau untuk dekat dengan mereka, menggunakan bahasa yang asik, dan yang terpenting, menjaga agar tidak menghakimi terlebih dahulu. Kenalkan generasi muda dengan Al Quran, maka kita akan temukan kelak mereka akan menjadi duta yang membawa perubahan-perubahan baik untuk dunia. Allahua’lam bishowab.

 

Catatan Hasil Diskusi


·         Keutamaan akal:

o  Allah menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal, karena hanya orang yang berakal yang dapat memahami kalam-Nya

o  Akal manusia menjadi syarat taklif (kapan ia dibebani syariat)

o  Allah mencela orang yang tidak menggunakan akalnya, bahkan lebih buruk dari binatang ternak

o  Dalam Quran terdapat banyak ajakan/pertanyaan untuk berpikir dan menggunakan akal

o  Allah memuji Ulul Albab

·         Meskipun akal memiliki keutamaan, namun letak dalil tetap lebih tinggi dari akal. Defaultnya, sami’na wa atha’na.

·         Banyak mengingat kematian dan berkumpul dengan orang shalih, agar masa muda tidak disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi dengan hal-hal yang berdosa

·         Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu” [1]

 

Keterangan

[1] HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir

 


Purwokerto, 20 Desember 2020

Isabella Kirei


No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya