Follow Me

Wednesday, February 3, 2021

Shattered Glass

Bismillah.

#buku


Gelasnya pecah, kepingannya tajam. Dan bukannya membersihkannya dan membuangnya, seseorang justru mengumpulkan kepingannya, with a bare hand. Tidak berhenti di situ, saat luka tercipta, bukannya mengobatinya, seseorang justru membiarkannya terbuka, mengundang bakteri, menimbulkan infeksi.


***


Shattered Glass. Buku Yasmin Mogahed kedua yang kubaca setelah Reclaim Your Heart. Bukanya kecil dan tipis. Tapi aku belum juga selesai membacanya.


Mba Miranti, suatu hari share foto cover depan dan belakang buku tersebut, membuatku tertarik untuk bertanya tentang isinya. Dan bukannya diberi review atau resensi bukunya, aku dimintakan alamat, supaya aku bisa meminjam dan membacanya langsung.


Buku tersebut tentang luka di hati, luka di jiwa, luka yang tidak tampak. Bagian pertamanya tentang respon yang salah terhadap luka tersebut. Aku suka... bagaimana Ustadzah Yasmin menggambarkan perumpamaan kaki yang patah, dan bagaimana seseorang tidak bisa langsung berjalan seperti dulu ia berjalan. Butuh waktu dan juga usaha untuk mengobatinya.


If someone break their leg, no one tells them, "You know what, just get over it. Walk it off". You are not going to tell someone with a broken leg to walk it off. Because you know that a leg that is broken has to go through a process to heal before a person can walk, or walk as they walk before, or run. Unfortunately, we do not have the same type of compassion and the same type of understanding, when it comes to emotional wounds, emotional breaks, emotional trauma, and broken hearts. We expect people to just shake it off. 'Get over it. Your time limit has come'. And of course this time limit is determined by who? By the people. 
- Yasmin Mogahed, dalam buku "Shattered Glass"

 

Aku membayang seseorang dengan gips di kakinya, ia berjalan dengan tongkat pembantu di sisi tubuh yang kakinya luka. Satu, dua, atau tiga bulan, hingga gipsnya dilepas. Lalu apa ia langsung bisa berjalan seperti dulu? Tentu saja tidak, perlu waktu dan usaha lagi, untuk belajar berjalan kembali. Waktu dan usaha, agar otot dan tulangnya latihan lagi untuk menopang berat tubuhnya, bergerak maju dan mundur, berdiri, duduk dan berjongkok, juga untuk melompat dan berlari.


Bagian selanjutnya dari buku ini, bagian yang masih sedang kucerna, adalah tentang hal-hal yang bisa menghambat proses alami penyembuhan luka hati/jiwa. Seperti halnya fisik kita, Allah Arrahman mengaruniakan kemampuan fisik kita untuk melakukan proses healing yang alami. Kalau kita terjatuh, dan ada luka kecil di lutut, a little scratch, berdarah sedikit. Kita cuma perlu membersihkannya, kemudian dalam waktu tertentu kita bisa melihat sel-sel kulit kita "bekerja sendiri" menyembuhkan luka tersebut. Begitu pula luka di hati, kalau misal kecil sebenarnya ada proses penyembuhan alami, dan itu cuma bisa terjadi kalau kita tidak menghalanginya.


Membaca bagian ini nih yang sesuatu... karena seperti biasa, aku berusaha berkaca, sambil teringat berbagai kejadian dalam hidup. Luka mana yang aku dengan baik merawatnya hingga ia bisa sembuh atas izin Allah. Dan luka mana, yang masih terasa sakit, karena aku ternyata, tanpa sadar telah menghalangi proses penyembuhannya.


Beberapa penghalang proses healing, **cuma list aja, gak akan aku jelasin satu-satu tapi hehe (peace V)

- Lack of Self-Compassion

- Negative Cognition

- Excessive Self-Blame

- Lack of Closure or Acceptance

- Idealizing the Object of Loss

- Cyberstalk

- Attachment to The Memories


***


Bukunya tipis, tinggal beberapa lembar lagi. Bisa baca cepat sebenarnya, tapi aku ingin bacanya pelan-pelan. Jadi, buat Mba Genis, yang minjem buku ini setelah aku, harap bersabar ya hehe.


Terakhir, sebuah kutipan favorit yang ingin kusalin dari buku Shattered Glass. Tiga paragraf tapi hehe


"My faith is strong," or "I'm strong". No, you are not. You are human. And you need Allah. If you rely on your own strength, good luck with that. None of us are stronger than prophets. And they never relied on their own strengths. They never relied on themselves. Whenever they were in a painful situation, they always relied on Allah. So, for us to think that we can rely on ourselves is pretty scary and tragic.

The Prophet s.a.w. used to ask, "Do not leave me to myself for the blink on an eye." How long does it take to blink? That is not a very long time. And he said do not leave himself even for that amount of time. He is Muhammad s.a.w. He is the beloved of Allah, and he is not relying on himself.

Therefore, be very careful about doing that - where you think "I got this", "I'm strong", "My faith is so strong". No. Every single human being is in desperate need of Allah. If we look at the strongest human being walked on the earth, they were in desperate need of Allah and they recognize that.

- Yasmin Mogahed


Allahua'lam.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya