Follow Me

Showing posts with label tentang orang lain. Show all posts
Showing posts with label tentang orang lain. Show all posts

Friday, April 24, 2020

Apa Doanya?

April 24, 2020 0 Comments
Bismillah.

Tulisan serial #tentang orang lain. Kali ini aku ingin bercerita tentang salah satu guru yang kutemui saat tinggal di lantai empat gedung sayap selatan Salman.

***

Jadi ada beberapa dosen/alumni ITB yang sering mengisi pembinaan bagi anak-anak asrama Salman, mayoritas sudah bapak-bapak, tapi untuk mengakrabkan kami diberitahu untuk menggunakan sapaan "Mas" ketimbang "Pak". Seperti Pak Syarif yang membuat ventilator salman, kami biasa memanggil beliau Mas Syarif.

Tahun kedua aku tinggal di Asrama, ada alumni ITB baru yang sering terlibat dalam membina anak-anak asrama salman, beliau selain lulusan ITB juga lulusan gontor. Aku ingat kelas-kelas bahasa Arab yang diajarkan beliau. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pembinaan bahasa arab dengan beliau diadakan malam hari, setelah magrib kalau tidak salah ingat.

Aku tidak terlalu mengenal pribadi beliau, seperti asal daerah beliau, dulu jurusan apa, anaknya berapa dll. Tapi ada satu momen yang membuatku ingin menuliskan tentang beliau.

Sore itu, aku sedang tidak ada kegiatan di kampus. Aku mendapat kabar bahwa ada kajian sirah yang diisi oleh beliau. Sebenarnya kajian ini merupakan program pembinaannya asrama lain (NF), tapi mungkin karena letaknya di salman, atau alasan lain, intinya anak-anak asrama salman juga diundang untuk hadir. Aku sebenarnya tidak terlalu ingat detail undangannya. Siapa yang memberitahuku, dengan siapa aku hadir agenda tersebut. Aku cuma ingat, aku hadir di acara tersebut.

Acaranya diadakan di back office salman lantai dua. Gedung kayu lantai dua, tapi berbeda area dengan sekretariat unit. Seingatku peserta yang hadir kurang dari 10 orang. Karena kajiannya tentang sirah, aku tidak banyak mencatat, lebih banyak menyimak.

Kajiannya belum selesai, tapi suara adzan magrib berkumandang, membuat beliau dan para peserta diam dan menyimak adzan. Nah... di bagian setelah ini, hal yang membekas erat di ingatanku.

Adzan sudah selesai, beliau bertanya pada para peserta, "Apa doa setelah adzan?"

Aku ingat aku menjawab dengan suara lirih, lafal doa yang pernah kuhafal karena sering tayang di TV waktu masih kecil. Ya.. TV jaman dulu lebih syar'i kayanya, nayangin adzan di waktu shalat dan doa setelah adzan. ^^


Kalau doa yang kuhafal dari TV, biasanya diakhiri dengan kalimat "innaka la tuflihul mi'ad". Begitu pula aku biasanya membacanya. Tapi qadarullah belum lama sebelum sore itu, aku juga mengetahui bahwa kalimat tambahan di belakang itu tidak ada di hadits. Jadi sore itu, aku hanya membacanya sampai kata "wa 'adtah".

Aku tidak begitu mengingat siapa saja yang ikut menjawab pertanyaan beliau tentang doa setelah adzan. Apakah cuma aku, atau ada orang lain juga. Ingatanku tidak meng-cover hal itu. Tapi aku ingat beliau bertanya, seolah padaku, "Sudah?" Seolah beliau bertanya padaku, itu saja? Cuma sampai situ?

Aku mengangguk saat itu. Kemudian beliau memberikan tambahan pelajaran di luar pelajaran sirah yang menjadi agenda sore itu.

Bahwa menambahkan kalimat "innaka la tuflihul mi'ad" pada doa setelah adzan juga diperbolehkan.


***

Momen itulah yang mendorongku untuk menulis tentang beliau di sini. Dari beliau aku belajar, bahwa benar, kita harus berhati-hati dalam berbicara tentang hadits, jangan sampai ditambah/dikurangi, karena ada ancaman mengerikan terkait berbohong atas nama Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam. Tapi untuk doa, sifatnya lebih personal. Doa yang sesuai hadits kita berikan secara literal, tidak boleh dikurangi atau ditambahkan. Tapi dalam pelaksanaannya kita bisa menggunakan doa lain asalkan masih doa yang baik, karena doa adalah komunikasi kita dengan Allah.

Seperti sebelum makan, kalau di hadits, hanya Bismillah. Tapi bukan berarti kita tidak boleh berdoa, "Allahumma bariklana fi ma razaqtana wa qina 'adzabannar" setiap akan makan. Seperti itu.

Ini juga berlaku pada doa berbuka puasa. Ada yang lafalnya "dzahabat doma'u", ada juga yang "allahumma laka shumtu". Kita boleh berdoa berbuka puasa menggunakan salah satunya atau keduanya, yang penting kita tidak menyandarkan lafal doa yang bukan dari rasulullah bahwa itu dari hadits.

*btw ini pagi-pagi, ramadhan hari pertama udah tentang doa mau makan dan berbuka. Wkwk. Ada yang jam segini sudah lapar? Hehe

Allahua'lam.

***

PS: Mohon koreksi ya kalau pemahaman saya salah. Sebenarnya aku cuma ingat bahwa beliau mengatakan kalau ditambahkan kalimat "innaka la tuflihul mi'ad" juga boleh. Selebihnya pemahaman dari saya saja. Oh ya, buat yang penasaran beliau itu siapa, bisa googling "buku ibadah dengan harta", beliau penulis buku tersebut.

PPS: Ini tambahan ga penting, in syaa Allah di hide. Tentang back office salman lantai 2, memoriku di sana ada tiga. Pertama yang aku ceritakan di sini, kajian sirah yang diakhiri dengan pelajaran tambahan tentang doa setelah adzan. Kedua, rapat !nspira, bahas tema majalah kedua, yang ga pernah terbit. Ketiga, wawancara lanjut di asrama atau tidak, ditanya, apa kelebihanku dibanding temen-temen astri yang lain, juga tentang IP yang turun, disuruh nulis nominalnya. wkwkwk. nominal? Emangnya uang hehe. Di lantai dua, selain ruang rapat itu, ada juga ruangan penitipan anak, lupa tapi namanya apa. RISKA?

Thursday, April 9, 2020

The Girl Across My Room

April 09, 2020 0 Comments
Bismillah.


Aku mengenalnya, saat pindah kamar ke lantai 1. Kamarnya berada tepat di sebrang kamarku. Hanya terpisah jalan kecil selebar pintu kosan, satu meter mungkin.

Aku tidak banyak mengingat identitasnya, yang aku tahu ia mahasiswi tingkat 3, jurusan atau fakultasnya aku lupa, namanya juga lupa. Meski banyak tidak ingat, aku ingin menuliskan tentangnya.

Ia tipe yang suka belanja online. Aku saat itu lebih sering di kamar kosan, dan letak kamarku yang di lantai satu, persis dekat pintu, membuatku sering bertemu pengantar paket. Satu pekan bisa sampai dua paket untuknya. Biasanya setelah memberikan tanda terima, paket tersebut aku letakkan di atas kulkas, di sana semacam kotak surat kosan kami.

Pernah suatu hari, aku hendak mengambil minuman di kulkas dan sebuah post card dengan tulisan asing menarik mataku. Aku tidak membaca keseluruhan isinya, tapi aku sempat melihat nama penerimanya, dan diperuntukkan untuk penghuni depan kamarku. Sepertinya dari temannya yang kuliah di luar negri, jepang kalau tidak salah lihat.

Hal pertama yang kuingat tentangnya sebenarnya bukan tentang paket. Tapi suara khas alarm shubuhnya. Suaranya begitu keras dan berulang, sampai tanpa sadar aku menghafalnya. Kami pernah bertukar canda tentang ini, saat sahur bersama di bulan Ramadhan. Ibu kosan sering berbaik hati memberi kami sahur gratis. Terutama saat pertengahan dan akhir ramadhan saat penghuni kosan banyak yang sudah pulang. Anak-anak di lantai 3 juga dipanggil agar turun dan ikut sahur di lantai 1.

Berbeda dengan kamarku, yang hampir selalu tertutup. Kalau ia di kosan, ia sering membuka pintu kamarnya. Mungkin agar sirkulasi udaranya lebih baik. Atau mungkin, itu menggambarkan kondisi kepribadiannya yang terbuka. Kamarnya rapi dan bersih. Pernah aku berkunjung dan duduk di kamarnya, satu atau dua jam saat mendengarkan wejangan dari bapak kos. Aku ingat, pekan itu pekan UTS, jam sudah makin malam, bapak kos terlihat masih bersemangat bicara tentang banyak hal. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menghentikan sesi ceramah malam itu. Aku memang sudah tidak ada UTS, tapi berbeda dengannya. Aku bisa membayangkan ia mungkin seharusnya sudah membaca beberapa ppt untuk UTS esok hari.

***

Saat hendak menulis tulisan seri tentang orang lain, aku memikirkan beberapa orang. Alasanku bercerita tentangnya, adalah karena ada satu percakapan dengannya yang membuatku menyadari hal penting. Tadinya momen tersebut hendak kujadikan tulisan fiksi.

Ia bertanya padaku, "Teteh S2? Atau...?" Semacam itu. Aku lupa redaksi persisnya. Saat itu kondisiku sudah membaik, aku bisa menjawab dengan tenang pertanyaan tersebut. Aku menggeleng dan memberitahukan status studiku. Ia hanya ber-oh ria.

Percakapan singkat yang membuatku sadar. Sebelumnya, aku pernah terjebak pada ketakutanku sendiri, akan pandangan orang lain. Karena saat itu aku belum lulus, padahal teman-teman seangkatanku sudah mulai kerja. Saat itu aku takut pada prasangka orang lain tentangku. Otakku terus mengundang ribuan prasangka buruk. Tapi kalimat itu, yang mengalir dari bibirnya yang tersenyum membuatku sadar. Bahwa Allah begitu mencintai hambaNya. Bahwa Allah menghias begitu indah rupa dan image-ku di mata orang-orang. Padahal aku hanya seorang hamba yang hina dan bersalah. 

Kalimatnya, membuatku menyadari, bahwa apa yang dilihat orang lain padaku, bisa jadi selalu lebih baik daripada kenyataan diriku. Karena mereka tidak tahu apa apa tentang sisi gelap bulan yang Allah tutupi dengan indah.

***

Mahasiswi itu... aku mungkin tidak mengenal banyak tentangnya. Tapi menuliskan ini membuatku ingin berdoa untuknya. Semoga hati dan pikirannya selalu dihiasi dengan prasangka baik pada orang lain, dan juga terutama pada Allah. Semoga ia tidak pernah terjebak dalam ruwetnya overthinking. Semoga ia tahu, bahwa setiap ia memiliki kesalahan, selalu ada jalan untuk memperbaikinya. Ia cuma perlu bertaubat, kembali padaNya, dan bertanya dalam doa-doa kecil, kemana ia harus melangkah agar bisa menjadi lebih baik. Semoga harinya selalu dinaungi keberkahan dariNya. Aamiin.

Allahua'lam.



Monday, April 6, 2020

Bercerita Tentang Orang Lain

April 06, 2020 0 Comments
Bismillah.

Tiga bulan pertama tahun 2020 blog ini ramping, cuma keisi beberapa tulisan. Jadi, rencananya april ini mau banyak diisi. Diisi apa ya? Yang paling mudah sebenarnya menulis tentang diri. Tentang kisah hari. Tapi kayanya bagian itu jatahnya diary.

Lalu aku kepikiran untuk bercerita tentang orang lain, orang-orang yang pernah/masih hadir dalam hidupku. Selain keluarga. Itu masih terkait diri, tapi ga semua tentang diri. Bagaimanapun saat kita menulis tentang orang lain, kita biasanya memakai sudut pandang yang subjektif, memori yang kita ingat tentangnya, mungkin berbeda dengan memori yang ia ingat tentang kita.

***

Aku akan memulainya lewat seseorang yang kukenali lewat tulisan. Blognya akhir-akhir ini sering diisi. Dan salah satu tulisan terakhirnya membuatku ingin bersuara.

Jadi, ia menuliskan tentang keinginannya menemukan teman hidup, tempat ia bercerita tentang hal-hal yang belum pernah ia kemukakan pada orang lain. Tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, aktivitas yang ia ingin lakukan, visi hidupnya, pandangan hidupnya, dan banyak hal-hal lain. Tapi ia khawatir....

Satu hal yang saya khawatirkan adalah bahwa saya tidak menemukan teman hidup berbagi, berbagi tentang apa yang selama ini tidak pernah saya bagi pada orang lain, tentang trauma masa lalu, dan tentang masa depan dan nilai hidup yang ingin saya bangun.

Membaca tulisannya membuatku ingin bersuara dan memberi saran. Bahwa kekhawatiran itu ada karena ia menunggu orang lain, yang nama, rupa dan keberadaannya tidak ia ketahui. Yang kapan dan dimana mereka akan bertemu juga tidak diketahui. Itu yang pertama.

Kedua, apakah ia nanti bisa benar-benar berbagi semuanya, seperti yang ia inginkan? Atau akan ada proses menunggu lagi, karena tidak mudah membuka diri dan bercerita tentang semua, pasti ada step-stepnya, waktu adaptasi, dll.

Ketimbang menunggu sesuatu yang tidak pasti, dan khawatir sendiri, aku ingin memberinya saran mulai bercerita saja. Lewat tulisan. Ia bisa membuat surat dan bercerita tentang hal tersebut. Nanti, jika ia menemukan teman hidupnya, ia bisa menyerahkan surat tersebut satu per satu.

Karena bagiku, menyimpan semuanya sendiri itu tidak baik. Manusia membutuhkan ruang untuk bercerita. Kalau ia tidak bisa, atau tidak mau bercerita pada sembarang orang, ia harus bisa bercerita pada lembaran kertas, dan file-file dokumen. Dengan begitu kepalanya tidak akan cepat berat, dan dadanya akan lebih lapang. Karena hal-hal yang disimpan sendiri, akan mengendap dan bisa menjadi 'penyakit'.

***

Tapi tahukah? Sebelum sempat aku menuliskan saranku, sebelum kuberanikan diriku untuk bersuara, ia menulis sebuah postingan lagi di blognya. Sebuah tulisan yang membuatku tersenyum lega. Tenyata ia tidak semata-mata bergantung pada datangnya teman hidup seperti kondisi ideal yang ia inginkan. Ia menuliskannya... tentang trauma masa lalunya, tentang perasaannya saat itu dan perasaannya sekarang.

Pasti tidak mudah. Tapi ia menuliskannya. Dan aku bersyukur bisa membacanya dalam diam.