Follow Me

Saturday, September 19, 2020

Bunga Dandelion

Bismillah.

#fiksi

It's all in here, stacked up, layer by layer. Where should all this go now?

 

"Pertanyaan itu untuk siapa?" tanyaku, saat melihat ia mengupdate blognya dengan dua kalimat tersebut. Kulihat di layar ia sedang mengetik jawabannya. Satu, dua, tiga detik.


"Definitely not for you," jawabnya pendek.


"Yah, ga usah update blog kalau misal cuma kalimat abstrak dan ga jelas kaya gitu. Cuma bikin pembaca penasaran," kali ini kukirim pesan itu dengan voice note, agar ia tidak salah memaknai.


Sebenarnya aku tidak benar-benar ingin menyuruhnya berhenti menulis. Aku hanya ingin menunjukkan, kalau aku penasaran.


It's all in here, apa yang ada di sana?


Stacked up, layer by layer, apa yang tertumpuk? Lapis demi lapis apa yang ada di sana? Lembar demi lembar apa yang tertumpuk? Apa ia berbicara tentang kertas? Atau tentang pakaian? Atau sesuatu yang lain, yang abstrak, seperti tumpukan perasaan.


Suara notifikasi membuatku berhenti mengulang-ulang dua kalimat di blognya. Ia membalasnya lagi. Dua huruf berulang, ia menertawakanku yang kadung penasaran. Ia tahu kalau aku sudah penasaran, aku akan memikirkannya terus sampai mendapat jawaban yang minimal bisa membuatku berhenti bertanya.


"Jadi... apa yang menumpuk? Sampah yang perlu dibuang? Kertas berisi tulisan-tulisanmu?"


"Rumput liar itu termasuk sampah bukan sih?"


"Gulma bukan sih? Eh, tapi apa hubungannya sama ini", tanyaku merasa ia mengalihkan pembicaraan.


"Connected. Yang aku bicarakan di kalimat itu, ibarat rumput liar." Aku mendengus, ia mengabstrak lagi. Bukannya jadi jelas, malah makin membingungkan. Mari fokus ke kerjaan hari ini saja, daripada ngurusin tulisan abstrak di blog orang. Batinku kemudian mematikan koneksi wifi ke ponselku.


***


Satu pekan berlalu. Aku sibuk dengan urusanku, sudah lupa pada kalimat bahasa inggris itu. Setiap pagi, aku biasa memulai hari dengan membaca tulisan-tulisan dari blog yang kuikuti. Bagiku, itu lebih menyegarkan, ketimbang membaca tumpukan pesan di aplikasi hijau itu. Juga lebih menenangkan ketimbang melihat pembaruan cerita orang lain di sosial media. Sosial media baik sebenarnya, cuma algoritma bubble-nya sering membuatku kesal. Aku merasa ada banyak sekali akun "bergizi" yang aku follow. Tapi yang muncul di dashboard adalah akun-akun yang aku banyak berinteraksi. Padahal tujuanku follow kan ingin dapat pemberitahuan. Oke, abaikan urusan sosial media. Fokus pada mengapa aku memilih blog.


Karena di blog, setidaknya platform yang kupakai, tidak ada sistem algoritma bubble. Semua blog yang ku-follow, akan muncul tulisan baru-nya di daftar bacaanku. Terlepas aku sudah tidak pernah klik pembaruan di blog tersebut, atau aku selalu baca tiap ada pembaruan di blog tersebut.


Sebuah postingan dengan preview foto dandelion di daftar bacaanku menarik mataku. Judul postingan tersebut berbahasa asing, bukan menggunakan huruf latin. Aku tidak perlu mengklik tulisan itu. Karena dari previewnya saja. Aku sudah bisa membaca keseluruhan postingannya.


Setelah pekan kemarin update satu tulisan dengan kalimat bahasa inggris yang abstrak. Kali ini ia memposting foto dandelion, judul bahasa asing, kemungkinan artinya dandelion juga. Aku bisa menebak, karena ini bukan pertama kali ia memposting tulisan berfoto, dengan judul bahasa asing. Di sebelah foto dandelion itu, kubaca kalimat bahasa indonesia di dalamnya.


"Rumput liar, tapi berbunga. Atau bukan rumput liar, tapi bunga dandelion. Kujaga baik-baik meski sebagian hati ingin meniup bunga-bunga kecilnya. Lupa, bahwa fitrah bunga dandelion adalah terbang terbawa angin, mencari tanah baru untuk tumbuh dan berbunga lagi."


Berbeda dengan pekan kemarin, saat aku segera chat padanya bertanya arti kalimat abstraknya. Kali ini aku tersenyum tipis. Kali ini aku bisa menerka, bunga dandelion itu mengumpamakan apa. Dan pertanyaan pekan kemarin, kemungkinan besar masih terhubung dengan dandelion ini.


The End.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya