Follow Me

Showing posts with label memori. Show all posts
Showing posts with label memori. Show all posts

Monday, October 27, 2025

Jangan cuma Ingat Buruk/Sedihnya Saja

October 27, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

*warning* lebih baik baca tulisan lain

 

*** 

 

Beberapa waktu ini aku kembali ke setting introver lagi. Kalau kemarin menulis tentang introver yang mencari-cari komunitas, kini introver tersebut sedang kehabisan energi hanya karena bergabung satu batch di dua tiga komunitas. Rasanya ingin memutus kontak dan menyendiri, tapi karena tahu itu zalim, akhirnya hanya bisa memaksa diri tetap berjalan meski jelas-jelas notifikasi low battery, sudah berkali-kali muncul. Beberapa kali jatuh, lalu tertatih dan terseok berusaha menyamakan pace langkah dengan teman-teman lain. Sembari masih mencerna keruwetan pikiran diri yang meminta untuk diisi energinya dengan menyendiri, apa kabar dini harimu? Bukankah seharusnya itu waktu yang tepat untuk mengisi batre yang hampir mati?

 

Lalu suatu pagi aku menjadi lebih sensitif, cuma perlu satu pemicu, dan bendungan air itu pecah, membuat orang lain yang tidak tahu kondisiku yang lowbatt and sensi ini merasa bersalah. Tapi kasih sayang Allah terus mengalir, somehow, dalam rangka meredakan emosi yang meletup, dan air yang tak kunjung bisa berhenti dibendung, pencarian distraksi satu dua, membuatku mengenakan lagi jas ektrover. Allah seolah memberitahuku, kamu bukan introver tulen yang hanya bisa charge energi dengan solitude, kamu punya sisi ekstrover juga yang bisa diisi energinya dengan komunikasi pada orang-orang yang tepat.

 

#bacatulisanlama Nuju Naon Teh, aku menyambung sapa dengan Apih

 

Kalau di tulisan Nuju Naon, namanya kusamarkan, izinkan kali ini aku menuliskan namanya sebagai bentuk terima kasih, karena sudah membantu mengisi energiku hanya lewat bertukar sapa dan cerita singkat. Rapih Umbarawati, atau biasa disapa Apih adalah salah satu adik tingkat yang kukenal karena pernah tinggal di Asrama Putri Salman. Seingatku jadi dekat dengannya karena pernah jadi satu divisi saat jadi panitia LMD, atau pas peserta juga satu kelompok ya? Lupa hehe.

 

Anyway. she's such a lovely person. She's logical, whenever I talk to her, I always see the rational part of her. She's smart, and dilligent. I feel comfortable speaking and listening to her. She open up to me a little about her family, that makes me feel closer. Bagiku yang sulit untuk membuka diri, aku sangat menghargai dan tahu benar, bahwa bercerita dan terbuka tentang hal pribadi adalah sesuatu yang hebat.

 

Singkat cerita, aku menyambung sapa dengan Apih. Melanjutkan chat terputus kami bulan Mei 2025 lalu. Bertukar cerita dan tanya, tak panjang memang, tapi cukup untuk mengisi batreku. Lalu dari percakapannya, aku tergerak untuk mencari tulisan lama lain di blog ini, kuketik dua keyword "tiga buku", selain kutemukan tulisan yang kucari, kutemukan juga tulisan lain yang membuatku tergerak untuk menyambung sapa dengan sohib lama pas SMA.

 

#bacatulisanlama Tiga Lembar Memori, aku menyambung sapa dengan Salsa


Sebelumnya, sebenarnya sebelum membaca tulisan lama itu, akun instagram Salsa, somehow, with algorythm, direkomendasikan ke akun IG betterword_kirei. Tapi karena satu dua hal, aku ragu untuk mengajukan follow ke akun tersebut. Sampai Allah kembali mengingatkanku lewat tulisan lama tersebut. Segera aku kirim link rekomendasi IG Salsa dari betterword via dm ke IG pribadiku, lalu aku follow akun tersebut menggunakan akun isabellakirei_. Kukirimkan juga DM padanya. Rasanya ingin kirim foto, tapi karena akunnya private, tentu saja gak bisa kirim DM kalau belum friend. Tapi qadarullah, dia online juga, dan aku jadi bisa kirim foto. Lalu percakapan terjalin.

 

Rasanya senang sekali, karena seolah ada tali rindu yang tertaut kencang, kini sudah lepas dan membuatku lega. Apalagi terakhir kali aku menulis tentang memori masa sekolahku, aku mengingat hal buruk dan tenggelam dalam sedih sembari menyimpulkan, ternyata mungkin ini salah satu hal mengapa aku menjaga jarak dengan mereka. Padahal ada begitu banyak memori happy dan bahagia yang seharusnya lebih aku ingat dan abadikan, ketimbang membiarkan debu-debu di kacamata hingga menyamarkan dan membuat mataku perih tiap kali menengok ke belakang.

 

Beberapa waktu ini aku juga berkaca, saat melihat salah satu konten sahabat SMA, yang membahas tentang effort orang-orang yang bertahan dan menjadi circle dekatnya. Katanya karena sama-sama effort. Lalu aku berkaca, betapa tidak bersyukurnya aku. I did only give them minimal effort, I put my wall all the time, I am bad in exchanging communication while being away. I'm also don't give present back, when I get so many present from each of them. Teringat buku-buku hadiah dari mereka, dan surat, dan aku tidak membalasnya, hanya karena berdalih aku tidak merayakan hari lahir. Padahal aku bisa saja membalas dan mengirim hadiah kecil, tanpa harus di hari lahir mereka. Sementara aku cuma bisa menulis penyesalan ini. Someday, maybe, I'll put a little more effort, just to say thank you and sorry, for being a bad friend.

 

*** 

 

Oh ya, dari tulisan lama 3 lembar memori, aku jadi teringat lagi memori indahku saat masih maba dulu, what a movie kinda scene. Jujur malu, karena pada kakak-kakak tingkat di organisasi itu, memori pertama yang melekat bukan yang indah, tapi yang membuatku menangis dan memilih untuk tidak bergabung dengan halaqah manapun, sedih dan bingung melihat "perebutan" calon kader, rumor yang berseliweran, dan aku yang memilih untuk menjauh. 

 

Oh ya, mayoritas draft tulisan di atas ditulis tgl 11 Okt, it's 27 october now. Ada satu lagi memori yang somehow melintas siang hari ini dan membuatku impulsif untuk menyelesaikan tulisan ini. Ada memori bittersweet yang terjadi di Bulan Ramadhan kali itu, saat aku dan partner organisasi dituduh sama-sama cuek. Padahal awalnya semua manis, tapi berakhir pahit. Dan aku cuma bisa diam dan menerima saja menjadi sosok yang terdakwa dan salah. Padahal ada banyak hal yang ingin aku komunikasikan, tapi aku memilih diam, dan menulis semua dalam diary. Perasaan sedih, kecewa, rasa tidak terima karena disalahkan dll, kusimpan rapat-rapat, lalu aku menjalani hari seolah semua baik-baik saja. Secara otak dan akal, aku sudah berdamai dengan memori itu, aku mungkin bisa tertawa dan bercerita tentang kenangan itu. But perhaps, ada hak emosi dalam diri yang belum terpenuhi, karena yang seharusnya disalurkan malam itu aku pilih untuk disumbat dan ditaruh dipojok terdalam. Mungkin karena itu, somehow, saat momen-momen yang tidak direncana, tiba-tiba saja ada kebocoran emosi dan memori yang muncul dan menguap, meminta haknya untuk disalurkan entah dalam bulir air, atau dalam kata-kata yang tidak abstrak.

 

Jujur sebenarnya aku tidak suka menulis impulsif begini. Pun tidak suka, tulisan ini membuatku seolah aku orang yang sering mengingat buruk/sedihnya saja. Tapi jika tidak menuliskannya, aku takut aku mengulangi kesalahan yang sama. Hanya mengingat buruk dan sedihnya saja. Padahal, kalau mau diteliti dan ditelisik lagi, ada begitu banyak hal baik dan bahagia yang terjadi. Untuk hal-hal ini, mungkin aku perlu belajar dari introver lain yang sudah lebih awal aware akan ke-introver-annya. Mungkin mereka lebih tahu cara menata pemikiran/perasaan negatif yang lama ditumpuk dan disimpan, sampai membuat kita melupakan yang positif. Atau mungkin aku hanya perlu lebih banyak berdoa agar dimudahkan untuk bersyukur. Dan mungkin aku harus mulai membiasakan diri agar tidak menulis diary hanya untuk menulis hal-hal negatif dan perasaan negatif yang tidak bisa kusampaikan ke orang lain, bukankah harusnya journaling itu diisi lebih banyak dengan hal-hal yang kita syukuri? Atau journaling habit tracker, biar istiqomah melaksanakan kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin dibangun. Dan adapun untold story of my life, ya, gapapa juga ditulis untuk mengeluarkan sesak dari dalam dada, tapi jangan lupa akhiri dan tekad untuk mencari hikmah dari hal-hal tersebut. 

 

Terakhir, semoga aku bisa lebih banyak menulis lagi, ketimbang lari dan tenggelam dalam distraksi. Jangan ragu untuk sambung silaturahim, barangkali satu dua pertukaran pesan singkat bisa mengisi energi sosialmu. Juga, seperti judul tulisan ini. Jangan cuma ingat buruk atau sedihnya saja. Ingat juga baik dan bahagianya. There's no path that all black and dark. If you pay attention to every path you took before, there's a lot of light, flowers, sweet fruit along the way too. Allahumma a-inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatika. Aamiin. Wallahua'lam. 

 

 

 

Friday, August 13, 2021

12b

August 13, 2021 0 Comments

Bismillah.

#nostalgia

*warning* just memory that you might not want to read.


***


Nomer itu istimewa, lewat nomer itu aku bertemu dengan empat orang shalihah. Dua orang saat matrikulasi, cuma 1 bulan padahal, tapi rasanya menjadi begitu dekat. Hm.. jadi kangen. Dua lagi, selama setahun.


Can I mention name here? Nur Faizatus Sa'idah. Nining Rohayati. Berlian Filda Yofita Serli, Siti Rosidah.


***


Saat matrikulasi, aku sering dikira anak FMIPA, dan aku senang-senang saja dibilang begitu. Ada rahasia dan begitu banyak hikmah, mengapa Allah menempatkan aku untuk tinggal sekamar di gedung tua, lantai dua, 12b. Kamarnya persis di pojok sebelah kanan, saat selesai naik tangga. Satu bulan matrikulasi, pertama kali merantau, mengenal dua orang sunda, Meski gak sekamar, sejak matrikulasi kami (aku, Ida dan Nining) sudah sering juga main bareng sama Berlian, termasuk sama temen-temen kamar sebelah dari FITB (Uus, Farah, Tatik, dll).


Setelah matrikulasi, aku berkenalan dengan Siti, anak SBM yang kalem banget. Lalu bertiga dengan Berlian, kami menjalani kehidupan sebagai roomate. Setelah TPB kami terpisah, aku ingat pernah berkunjung ke kosan Siti. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sampai suatu hari kami dipertemukan di sebuah perjalanan, dalam sebuah bis. Aku lupa walimah siapa yang kami kunjungi, tapi kami satu rombongan bis. Kami mengambil satu dua foto bersama, kemudian membuat grup wa bertiga, 12b, foto profil grupnya bahkan tak diubah apapun.


Dari grup itu, 2021, silaturahim terjalin lagi. Sebuah kabar gembira dari tanah minangkabau. Rasanya terharu membaca undangan virtual tersebut. Teringat beberapa waktu, sebelum pulang ke Purwokerto, sempat bertukar pelukan dengan Berlian. Tersenyum membaca kalimat Siti dan membayangkan mendengar suaranya. Alhamdulillah aku masih ingat suara kedua teman istimewa tersebut. Berlian berbicara dengan ritme cepat, logatnya mirip sama orang-orang padang pada umumnya. Kontras dengan suara Siti yang ritmenye pelan dan kekhasan logat sunda.


***

Hanya ingin menyimpan ini di sini. Sebagai bentuk syukur, karena Allah menakdirkan aku bertemu kalian. Terima kasih telah menghiasi masa mudaku *emang sekarang udah tua hehe. Ada begitu banyak memori dan pelajaran. Terima kasih masih mengingatku. Maaf, jika aku banyak salah.

Terakhir, mari tetap jalin silaturahim ya. Meski cuma lewat doa. Meski tidak sering. Semoga kelak kita bertemu lagi, di sini, atau di tempat yang jauh-jauh lebih baik. Aamiin.

Tuesday, June 16, 2020

Menilik Lima Tahun yang Lalu

June 16, 2020 0 Comments
Bismillah.

*warning* cuma cerita tentang diri

Kemarin, karena sebuah ingatan dan pertanyaan yang terlintas di otak aku menilik lima tahun yang lalu. Bukan dengan melihat blog ini, tapi blog lain. Dari sana aku melihat betapa terdistorsinya memoriku. Satu tahun itu, berisi tiga ratus lebih hari, tentu tidak semuanya sama kan? Tahun itu memang tahun pertama aku jatuh, dugaku, sebelum akhirnya aku menghilang dari peredaran. Tapi tahun itu juga, aku menuliskan beberapa tulisan yang aku tidak menyangka akan kutuliskan.

Menilik lima tahun yang lalu, dengan kaca mata yang lebih jelas membuatku memetakan lagi. Bahwa tahun itu Allah ingin menguji imanku, apakah iman tersebut benar, atau hanya perkataan kosong. Dengan ujian itu Allah ingin mengajarkanku tadharu', Allah ingin menguatkan lagi imanku. Tapi tahun itu, aku gagal, aku jatuh kemudian menjauh. Kemudian mencoba untuk bangkit dan mendekat, kemudian jatuh lagi, lagi, lagi. Dan atas rahmatNya, aku bisa sampai di sini. Aku masih melihat diriku lebih buruk dari diriku di masa SMA, atau awal kuliah. Tapi di sisi lain, aku melihat diriku banyak belajar pula dari pengalaman jatuh dan gagal berkali-kali.

Aku sering menyebut masa-masa berat itu sebagai masa saat aku kehilangan diriku, I lost myself, I don't remember who I am. Masa tersebut, masa gelap, ibarat jatuh ke jurang dan tidak tahu cara mendaki tebing yang tinggi. Aku tahu penyebabnya, dari mana aku mulai salah berbelok dan tergelincir. Aku kehilangan diriku, karena aku melupakan apa yang tidak seharusnya dilupakan.

Menilik lima tahun yang lalu membuatku bersyukur akan nikmat yang aku rasakan tahun ini. Ramadhan tahun ini yang berbeda, mungkin akan lebih banyak kuceritakan di masa depan, ketimbang Ramadhan tahun 2015. Karena aku menjalani Ramadhan di rumah, bersama mamah, papah, dan adikku. Merasakan nikmatnya shalat tarawih berjamaah berempat. Pengingat untuk tilawah yang tidak diucapkan, cukup dengan mendengar suara tilawah adik, atau ayah, atau ibu. Banyak yang bilang umurku sudah seharusnya menikah, tapi aku bersyukur ramadhan kemarin aku masih belum bertemu jodohku. Ramadhan seperti kemarin mungkin tidak akan pernah terulang.

***

Terakhir, ini bukan tentangku sih. Tapi ini termasuk yang kutemukan saat menilik lima tahun yang lalu. Qadarullah, karena menilik lima tahun yang lalu, aku jadi membaca nama inisial di desain-desain quotes, periople* ya, lengkap dengan tanda bintang diakhir. Memoriku memutar ulang tentangnya, yang sudah berpulang memasuki fase kehidupan barzakh, yang juga sementara seperti kehidupan di dunia. Kami tidak dekat padahal, awal hanya bertemu secara online, lalu ia S2 di ITB, seingatku mendaftar putri gading, pernah latihan bersama kah? Aku lupa.. Tapi aku masih ingat,.. di tahun yang sama keponakan keduaku dilahirkan, di tahun itu juga ia melahirkan anak keduanya. Aku ingat ia menuliskan pengalaman vbac-nya di instagramnya, kemudian beberapa bulan atau pekan, berita lelayu itu hadir. Dan kemarin, aku melihat jejak-jejak karyanya, goresan amal shalihnya. Sederhana, tapi berkesan. Aku jadi merindukannya. Aku jadi teringat kematian karena mengingatnya. Semoga amal shalihnya diterima, semoga dua bocah yang dilahirkannya menjadi anak-anak shalih, yang doanya terus mengalir padanya. Aamiin.

Penutup. Ini beneran terakhir V*

Menulis ini mengingatkanku pentingnya menilik masa lalu, untuk belajar dan mengambil pelajaran, serta untuk mensyukuri nikmat yang takterhitung dariNya. Jika ada yang membaca sampai kalimat ini, maukah kamu menuliskan juga pelajaran dan hikmah saat kau menilik lima tahun yang lalu di hidupmu? Tidak perlu di blog, cukup di notes hp, atau di sebuah kertas HVS. Kau tidak perlu membagikannya pada siapapun. Aku hanya ingin ada orang lain yang juga merasakan manisnya menilik masa lalu, dan mengambil pelajaran serta muhasabah darinya. Aku juga ingin mengajak orang lain bersyukur, atas nikmat dariNya lima tahun yang lalu, yang barangkali baru bisa diapresiasi tahun ini. Karena sebelumnya kita tidak mengerti, tapi tahun ini Allah mengajarkan kita arti dan maknanya.

Allahua'lam.


Saturday, October 5, 2019

Menengok Diary Jaman SMA

October 05, 2019 0 Comments
Bismillah.

#nostalgia #hikmah


Beberapa hari ini saya banyak memandang ke belakang, menengok file-file lama yang tersimpan, baik foto maupun dokumen. Sampai terhenti di sebuah dokumen ber-password yang merupakan diary digital jaman SMA dulu. Penasaran aku buka, sempat kesulitan cari password, setelah belasan kali gagal, akhirnya aku menemukan kata sandinya.

Oh ya, beda dengan password sosial media, blog, yang ada sistem yang membantu kalau kita lupa, dokumen microsoft word berpassword lebih kejam. Kalau ga ingat password, otomatis kita kehilangan akses membuka dokumen tersebut. Proses inget-inget password, coba sampai puluhan kali dengan kombinasi karakter angka, case sensitive membuatku sempat kepikiran, apa perlu pakai software input password dengan sekian banyak probabilitas hehe. Lega sekali aku ingat passwordnya, setelah memastikan bahwa aku tidak pernah mengutak atik tentang huruf kapital. Hanya kombinasi huruf dan angka saja. Hikmah dari cari password di memori otak, adalah segera mencatatnya di diary digital terbaru hehe.

***

Membaca sekian lembar isinya bukan hanya bentuk nostalgia, aku bisa mencerna setiap informasi dengan perspektif baru. Aku tidak hanya melihat diriku di masa lalu, tapi juga teman-teman di masa lalu. Seperti seorang kawan yang menghabiskan harinya sampai sore/magrib di sekolah, atau mengapa kawan yang lain memilih jalan curang 'demi' nilai yang lebih baik, atau tentang siswa kelas sebelah yang hampir pindah sekolah karena tidak masuk jurusan IPA. Kalau dulu aku hanya melihat personalnya, kini saat membaca kembali curhatanku, aku bisa melihat dari sudut pandang berbeda.

Orangtua yang sibuk bekerja di luar kota, anak harus bersekolah dan tinggal di rumah nenek/saudaranya. Pasti di rumah ia bosan, ada rasa kesepian, yang bisa ia 'hancurkan' dengan lebih lama berada di sekolah. Bertemu kawan-kawan yang 'senasib', yang juga memiliki orangtua yang super sibuk.

Ketika ujian tengah/akhir semester, setting tempat ujian diubah. Satu kelas dibagi menjadi dua ruangan, bertemu dan bersebelahan dengan kakak atau adik kelas. Hp mungkin dikumpulkan di depan kelas sebelum ujian dimulai. Namun peluang untuk curang selalu ada. Ada yang memilih jalan pintas ketimbang harus bersusah payah belajar dan berlatih mengerjakan soal. Ia begitu kreatif. Sehingga ide itu muncul di kepalanya. Sistemnya setiap siswa yang selesai mengerjakan soal bisa keluar kelas terlebih dahulu. Ia hanya perlu menutup lembar jawabnya. Setelah ia pergi, dengan licik ia menyuruh adik kelas untuk membalik lembar jawab teman yang duduk di depannya, yang sudah pergi karena selesai mengerjakan soal. Kemudian dengan santai ia menyalin jawabannya. Ia merasa beruntung karena duduk di belakang siswa cerdas. Baginya, toh ia tidak merugikan temannya. Baginya, jalan pintas itu lebih menyenangkan.

Orangtua yang berprofesi seorang dokter, menginginkan anaknya melanjutkan prestasinya. Tentu mereka kaget dan marah, saat tahu anaknya, yang pintar ternyata masuk penjurusan IPS. Mereka tidak terima, karena mereka tahu anaknya mampu untuk masuk jurusan IPA. Ancaman untuk pindah sekolah siap mereka layangkan pada pihak sekolah. Tapi... bagaimana kalau itu adalah keinginan anaknya yang tersembunyi? Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana mereka akhirnya berkomunikasi dan memutuskan untuk menerima hasil penjurusan tersebut. Mungkin anaknya berhasil meyakinkan orangtuanya, atau mungkin orangtuanya punya rencana lain, karena dengar kabar anak rekannya yang SMA jurusan IPS namun tetap bisa masuk kedokteran atau jurusan kuliah IPA dengan beberapa cara dan tentunya bukan usaha yang mudah.

***

Menengok diary jaman SMA membuatku melihat setiap scene di dalamnya lewat sudut pandang lain. Semakin aku tua, semakin banyak informasi, ilmu dan pengalaman yang aku punya. Hal itu mempengaruhi cara berpikirku.

Kalau dulu deretan kata di sana hanya sekedar pelampiasan emosi, dan tempat aku menyimpan memori dan informasi yang berkelebat di otak. Kini, deretan kata itu bukan sekedar apa yang ada di atas layar. Aku bisa menemukan kesimpulan baru, insight baru. Kalau dulu aku hanya mengenali teman-teman dan menuliskan mereka beserta kegiatan mereka, apa yang mereka katakan padaku, sikap mereka. Kini aku bisa melihat dan mengenali sisi serta karakter mereka. Betapa si A terkesan cuek tapi ternyata observant, atau si Y yang dalam diamnya begitu mudah jatuh hati pada orang lain.

Terakhir, tentu saja, aku banyak melihat tumbuh kembang diriku, *emangnya tanaman hehe. Bagaimana aku banyak berubah, tapi juga masih sama.

Oh ya, ada yang hampir ketinggalan. Yang paling penting padahal. Menengok diary masa SMA juga mengingatkanku, bahwa Allah selalu, dan selalu menghujaniku dengan kasih sayang dan nikmat yang tidak pernah bisa dihitung.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Tuesday, July 2, 2019

Pengingat Sederhana dari Teteh Mata'

July 02, 2019 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking


Seperti di judul, pengingat tentang sederhana, dari blog teteh Mata', teteh MSTEI, dan teteh Muslif. *berasa dari tiga orang

Sederhana. 
Suatu kata sifat yang pengamalannya tidak mudah ya?
Ketika kita punya kelebihan harta, sederhana adalah pilihan membelanjakan harta di jalan Allah, ketimbang di jalan untuk mencapai kesenangan pribadi
Ketika kita Allah beri kelebihan, jiwa tetap tawadhu tanpa sedikit pun merasa unggul atas kelebihan itu karena semata milik Allah-lah segalanya
Ketika kenikmatan yang Allah beri tidak sedikitpun membuat kita goyah akan keteguhan dalam ibadah
- Teh Ammy, dalam blog Kisah Fajr
***

Oh ya, ini tambahan ga terkait topik sederhana.

Ramadhan kemarin, aku mengulang-ulang sebuah video penjelasan beberapa ayat quran. Dari situ, aku jadi inget perjalananku saat mulai jatuh cinta dengan quran, dan ingin menjadi salah seorang pejuang quran.


Pertama, lewat Mata', Majelis Ta'lim Salman. Kalau dari namanya, agak-agak misleading memang. Seolah isinya kajian ta'lim hehe. Memang sih salah satunya. Tapi sebenarnya, dari Mata' aku melihat fokus tarbiyah dan dakwah quran. Iya Quran.

Dari Mata' aku kenalan sama Teh Ammy. Rahmi Yuwan. Kalau dari gamais dapet kelompok mentoring, dari mata' aku dapet kelompok halaqah quran. Aku lupa-lupa inget apakah sebenarnya aku masuk kelompok halaqah-nya teh Ammy. Yang jelas, lewat halaqah quran sama teh Ammy aku jadi banyak berinteraksi sama quran. Pengalaman mabit pertama di Masjid Habib juga karena diajakin teh Ammy, dadakan hehe. Kalau ga salah sama Roro dan Anna juga.

Selain Mata' aku kenal juga TGTC, ini cuma pernah dateng sekali, habis itu ikutan Mukhayyam. Sejalan dengan itu kenal Ustadz Suherman, lalu Khizanatul Islam, di Kircon. Mulai akrab bolak-balik ke kiara condong. Lalu aku teringat Teh Indah, yang ngasih tahu angkot mana yang ga muter jauh. Waktu itu belum jamannya grab dan gojek. Teman perjalanan paling sering bareng, Asni.

Lewat Anna (Melyana) kenal Ustadz Nouman Ali Khan, gabung NAKIndonesia. Lalu ikutan Qaf Indonesia. Dari Qaf, halaqah qurannya lanjut, bareng-bareng belajar seri Quran for Young Adults, dan video-video lain.

Lalu negara api menyerang hehe. Alhamdulillah, diketemuin lagi sama teh Ammy yang balik ke Bandung lagi untuk studi S2-nya. Mulai lagi halaqah quran.

***

Sekarang.. udah banyak yang berubah. Tapi semoga masih istiqomah, meski jatuh bangun, berusaha agar hidup dalam naungan quran. Bagaimana agar interaksi dengan quran, tidak cuma horizontal, tapi juga vertikal, mendalam.

Kalau cuma membaca tulisan ini, tanpa tahu kenyataan dibalik layar, mungkin kesannya sudah banyak yang dilakukan. Tapi kalau mau jujur, dan melihat lebih jelas, aku tahu, ada lebih banyak hal yang belum dilakukan. Masih banyak bolong di sana sini. Masih babak belur di banyak sisi. Masih jauh-jauh sekali antara cita, dibandingkan usaha dan doa. Masih harus dikelilingi orang-orang baik, agar tidak lupa semangat yang dulu pernah menyala terang.

Jadi panjang ya? Karena banyak nostalgia dan curcol hehe.

Terakhir, untuk Teh Mentari Pagi, jazakillah khairan~ Sering-sering nulis ya. Aku masih suka nungguin baca tulisan barunya^^ Semoga kapan-kapan bisa bejumpa lagi.

Allahua'lam.

***

Wednesday, June 12, 2019

Keep A Distance

June 12, 2019 0 Comments
Bismillah.

#banyakcurhat #gakpenting #skipajaplis

Sebuah ajakan bertemu masuk, di grup kelas. Tempatnya tidak jauh. Waktunya memang malam sih, habis magrib. Memang ada saudara dari Jakarta yang sedang dalam perjalanan ke rumah. Tapi seharusnya, aku bisa saja hadir, sekedar menyambung silaturahim meski sebentar. Tapi aku diam saja, hanya menyimak dalam diam. Sembari bertanya-tanya pada diri, mengapa aku memilih tidak memenuhi ajakan itu.

Karena 'status'? Rasanya tidak. Karena pertanyaan 'mengapa' yang mungkin dilontarkan? Sepertinya bukan tidak. Toh sebelum-sebelumnya sudah pernah berada di situasi yang mirip. Dan, biasa-biasa saja.

Atau karena aku merasa tidak ada yang 'dekat'? Mungkin...

Lalu aku bertanya-tanya, tentang sahabat, mengapa jumlahnya cuma sedikit. Padahal di masa itu, sepertinya semua kenal dan dekat. Lalu aku membaca tentang character development. Jadi menengok ke masa lalu. Sepertinya aku tahu. Karena aku yang menjaga jarak. I keep a distance. *Bener ga sih bahasa inggrisnya? hehehe. Jaga jarak lebih tepatnya. Entah yang bener bahasa inggrisnya keep a distance atau apa. Mungkin kapan-kapan bisa dibahas di New Leaf hehe.

Momen itu jadi pengingatku, tentang pandanganku terhadap kata teman. Bagaimana orang lain mungkin tulus, namun aku memilih untuk berjarak. Hasilnya? Hanya ada beberapa teman yang masih keep contact, selebihnya, mungkin mereka menganggapku ga asik, atau terlalu berjarak, atau memang tidak bisa berbaur. Atau mereka tidak pernah berpikir begitu, mereka hanya mengira aku sibuk, jadi jarang bisa hadir.

***


Beberapa setelah itu aku merasa 'kesepian'. When I look back, rasanya aku memang seorang outlier, outsider, angka ganjil, whatever it is called. Aku ingat lagi memori, sejak kapan aku menjaga jarak. Aku ingat, saat aku 'menuliskan' di otakku, bahwa teman-teman yang main sama aku, yang ketawa dan asik ngobrol di depanku, bisa jadi sedang menyembunyikan pisau dan siap menyerangku dari belakang. Pemikiran bahwa pada akhirnya, it was all fake. Ya, mereka nggak menjauhiku layaknya drama sekolah yang membahas pengucilan salah satu siswa. Mereka bahkan yang mendekatiku, meski aku menjaga jarak. Tapi ada udang dibaliknya. 

Lalu, lewat rencana-Nya, aku menemukan buku diary lawasku. Aku kira isinya hanya diary saat SD. Tapi ternyata, sebagiannya aku isi juga saat sudah lulus SD.


Aku membacanya loncat-loncat, ga berurutan. Geli sendiri, sebel karena tulisannya alay jadi susah dibaca, juga geleng-geleng kepala karena banyak bahas tentang cinta. Wkwkwk. "Dasar anak kecil, tau apa kamu tentang cinta nak."

***

Tertulis di bagian atas, tanggal 3 September *tahunnya rahasia hehe. It's Ramadhan and I talk about my new class. Kelas baru setelah kenaikan. Ada angka-angka dan aku banyak skip, ga baca. Sampai nomer ke 5. Sebuah kalimat ditulis dengan font lebih besar. Tamen bian le. Bahasa mandarin yang diromanisasi. Dari situ aku baca sampai bagian terakhir. Baru kemudian membaca nomer 4, 3, lalu poin 2.

Lalu pertanyaanku tentang perasaan enggan memenuhi ajakan bertemu seolah menemukan jawabannya. Aku menangis, sembari membaca memori lama yang kutulis dengan bahasa hiperbol. Setelah puas berempati dan simpati pada diriku di masa lalu, aku bertanya-tanya pada diri. Apa boleh ya, diary jadi jalan kita mengingat hal buruk yang dilakuin orang lain? Apa ini artinya, aku bukan orang yang pemaaf, karena hal 'kecil' masih aku catet, dan membacanya masih membuatku menangis. Serta menjadi pembenaran, dan pengusir perasaan kesepian. Kalau sebelumnya, aku merasa bersalah, karena aku yang menjaga jarak. Tapi membaca tulisan itu, aku jadi merasa benar, mungkin memang baiknya aku tidak datang hari itu. Mungkin itu sebabnya, seolah aku selama ini sendiri, dan pertemanan yang dulu manis, kini terasa hambar. Karena memang manisnya hanya di permukaan saja.

***

Entah hikmah apa yang ingin Allah titipkan. Aku yakin Allah tidak menginginkan aku untuk mengingat-ingat hal buruk dan membuatku makin menjauh dari teman-teman yang bisa jadi lebih baik dari pada diriku di mata-Nya. Bukan itu.

Apa mungkin, Allah ingin aku mengeja ulang definisi teman, dan agar aku belajar menyusun kembali kepercayaan (trust issue) yang hancur saat itu? Seolah Allah tahu aku sudah lebih dewasa, aku bisa melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Bahwa ada misunderstanding di sana, bahwa saat itu aku buru-buru terbawa emosi, tanpa mau berusaha terlebih dahulu untuk mengerti keseluruhan situasinya. Dan bahwa hal kecil itu, seharusnya tidak membuatku keep a distance pada semua orang.

Menulis ini mengingatkanku pada sesi konseling di sebuah bangunan di selatan GKU Timur. Seorang ibu dengan rambut abu-abu yang melepas kaca matanya agar bisa menghapus air mata saat mendengarkan kisahku. Pesannya padaku, bahwa aku harus belajar mempercayai orang lain, karena itu penting untukku melanjutkan hidup. Ketulusan hatinya sampai ke hatiku. Pesan itu tidak masuk telinga kanan dan terlupakan. Kata-kata baik itu masuk ke hatiku, dan mungkin Allah ingin mengingatkanku lagi tentang ini. Bahwa aku harus memastikan, aku sudah menyelesaikan hal penting tersebut, sebelum aku memasuki fase kehidupan selanjutnya. *tiba-tiba otakku memunculkan lirik ost dragonball, kehidupan kedua wkwkwk.

***

Panjang ya? Ada yang berhasil baca sampai selesai tanpa skip? Hehe. I wish nobody did that but myself. Tapi.. just in case ada.. *please bell, jangan campur-campur bahasanya, kamu bukan orang jaksel wkwkwk.

Ini ada sedikit kutipan dari buku Madarijus Salikin, meski ga nyambung semoga ini sedikit memberi 'makna' atas terbuangnya waktumu membaca tulisan ini.

....seperti yang dikatakan Al-Hasan atau selainnya, "Zuhud di dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta, tetapi engkau lebih meyakini apa yang ada di Tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika ada musibah yang menimpamu, maka pahala atas musibah itu lebih engkau sukai daripada engkau tidak ditimpa musibah sama sekali."
Good night~

Allahua'lam. 

Thursday, December 8, 2016

Makan Bersama

December 08, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

Lagi, mendapat rasa lapar, krn belum sarapan, gara-gara baca tulisan ustadz Salim yang bahas tentang pawon anget dan keplek ilat. Senang rasanya membaca tulisan itu, diingatkan hal sehari-hari yang kita lakukan. Makan bersama selalu lebih nikmat, pengikat ukhuwah, jadi tempat mengikat keluarga juga. Seneng, lihat foto ustadz dengan pemikiran beda, tapi duduk satu meja, makan bersama, karena fokus mereka adalah kesamaan aqidah, bukan kesamaan harakah. Allahua'lam.
Para Suami dan Istri, para Ayah dan Bunda, barangkali inilah salah satu benteng keluarga menghadapi berbagai tantangan zaman; menghidupkan kehangatan suasana makan. Adalah darurat bagi kita untuk segera meneladani Rasulullah yang mengepaskan mulutnya di bekas bibir sang istri pada cawan yang dipakai minum. Adalah darurat bagi kita menikmati sebuah anggur yang digigit bersama demi meneladaninya. Adalah darurat bagi kita menunjukkan indahnya suap menyuapi antara Ayah dan Bunda kepada putra-putrinya.
Sebab di luar sana ada internet yang tanpa batas, media sosial yang bagai pisau bermata dua, godaan game online, pornografi, narkoba, seks bebas, hingga penularan LGBT yang masif; nilai kehadiran Ayah, Ibu, serta anak dalam kebersamaan yang hangat dan mesra adalah benteng darurat kita.
- Dua Mahdzab Darurat Hangat, Salim A. Fillah
***

Tuesday, November 29, 2016

Berkunjung ke Kosan Teman

November 29, 2016 0 Comments
Bismillah.

a place, a reminder, a lot memories
Tulisan ini akan lebih ke sharing, cerita, ga banyak hikmah, mungkin ada sih, satu, satu. Eh? Hehe.

Dunia itu sempit, apalagi kalau daerah kamu berjalan di situ-situ aja, ke sana-sana aja. Begitupun diriku, jujur dunia sempit adalah frase yang muncul saat berkunjung ke kosan seorang adik, teman, ukhti hehe.

***

Tempat yang sama, rumah yang sama, bahkan tidak banyak perubahan di dalamnya. Itu membuatku lumayan takjub.

"Oh, di sini? Aku pernah ke sini loh... waktu TPB, dulu ini kosannya mba N," ucapku saat kami sudah di depan kosan. Adik manis yang tinggal di sana mengambil kunci dan membuka pintu. Kami pun masuk, duduk di ruang tengah dan menikmati eskrim di tangan masing-masing.

Sembari melihat ke kanan kiri, aku dibuat takjub. Dunia memang sempit hehe. Memoriku berputar ke empat tahun yang lalu, lima tahun? Sekitar itu hehe.. Saat itu aku, sahabatku, menginap di kosan mba N, paginya jalan-jalan ke curug *namanya apa ya? Aaah dasar pelupa. Aku masih ingat, menikmati sayur bening masakan rumah, seperti terobati kangen, wajar baru pernah jauh dari orangtua dan makannya makanan warung terus.

Lalu kami mengobrol, aku dan adik tingkatku. Sembari jeda dan jeda tiap mulut ingin didinginkan dengan eskrim, eskrim stawberry dan vanila, yang satu miliknya, yang satu milikku, yang mana hayo yang punyaku?

***

Kejadian sesederhana itu, somehow membuatku teringat banyak hal. Teringat masa-masa aku TPB dulu, teringat dinginnya air curug. Kita (Mba N, aku, temanku) basah-basahan, krn berangkat pagi-pagi, masih sepi, asiik, berasa punya sendiri hehehe.

Friday, November 25, 2016

Buku Kenangan: Jangan Jadi Bebek!

November 25, 2016 0 Comments
#buku

Bismillah.

Jangan Jadi Bebek
Setelah sekian lama, terakhir bahas buku JCPP dan DDU-nya Salim A. Fillah, kali ini saya akan bahas buku Jangan Jadi Bebek. Salah satu buku kenanganku, selain majalah Bobo dan Nomik si Olin. Aku lupa tepatnya aku baca buku ini pas SMP atau SMA. Kayanya sih SMP, jadi ternyata jejeng... buku non fiksi yang doyan kubaca pertama kali adalah buku ini, bukan buku-nya Salim a. fillah. Eh, majalah bobo non fiksi juga ga sih? Kan suka ada artikel non fiksi-nya selain komik, dan cerpen, wkwkwkwk. Entahlah, jadi salah fokus.

Buku yang ditulis oleh O. Solihin ini diterbitkan oleh Gema Insani, ini salah satu penerbit favoritku^^. Karena pas SMP, kalau beli buku baik novel atau nomik pasti dari Gema Insani atau DAR!Mizan, tapi kalau buku non fiksi, aku ngelihat dari penulisnya, Alhamdulillah serial Jangan Jadi Bebek sudah selesai, sampai yang terakhir baca-nya malah pas kuliah wkwkwk.


Manfaat baca buku ini aku dapetin sampai sekarang, lewat buku ini, aku diajarkan agar jangan mau ikut-ikutan aja, kita punya otak, dan bisa caritahu suatu hal baik atau buruk, jadi jangan ikut-ikutan! Namanya juga anak SMP, wajar kalau lebih sering ikut-ikutan, bahkan aku pakai kerudung juga ikut-ikutan ibuku, dan seorang sahabat pindahan dari sekolah Islam.

Buku ini bahas banyak hal yang buruk yang sering remaja lakukan karena 'ikut-ikutan' alias bebek. Termasuk di dalamnya hari valentine, trus narkoba, dll. Trus... dari buku ini, aku dikenalkan dengan istilah khilafah. Diingatkan tentang hukum dan sistem islam-lah yang terbaik, yang bisa meminimalisir kebobrokan negri, termasuk agar anak-anak remaja tidak terbawa arus budaya pop dari barat. Kalau mau tahu daftar isinya, bisa di cek di blog-nya O. Solihin.

Saturday, October 29, 2016

Bersama Kamu

October 29, 2016 0 Comments
Bismillah.
"Momen yang indah lahir dari kebersamaan, ketika kita melihat matahari menunjukkan indahnya senja, dan terbitnya ia dari ufuk bersama-sama"
-sebuah fanpage di facebook
Sebelumnya, maaf, karena ga pengen memberikan link asal quotes di atas, karena ternyata setelah dibuka itu fanpage kampanye. Kan tahun lalu Bell? Tetep aja ga mau hehe. Wkwkwk. Kalau kamu penasaran, buka fb aja trus searching dengan keyword BersamaKamu, in syaa Allah ketemu kok hihi.

Jadi ceritanya, awal mulanya, aku buka fb, trus menemukan fanpage yang direkomendasikan. Gambar covernya bagus gitu, namanya juga bagus bersamaKamu, berasa gimana gitu. Aku kira.. aku kira itu semacam organisasi atau komunitas yang fokus di kemanusiaan. Hihi. Ternyata eh ternyata. Jejeng. Itu direkomendasikan fb karena memang banyak mutual friend ku yang juga menge-like page tersebut.

Friday, October 28, 2016

Dulu Oasis, Sekarang Simfoni

October 28, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

btw, kemana ya slayer Oasis ku?
Benar! Kalau kamu memahami kata Oasis dan Simfoni dalam frame Gamais ITB. Benar! Benar juga kalau kamu memahami kata oasis dan simfoni dalam arti literalnya. Dulu oasis, sekarang simfoni. Nama kegiatan indah dan bermakna itu dulu Oasis, kalau ga salah kepanjangan dari apa.. tapi saya lupa. Hehe. Tapi yang jelas, perannya mirip dengan oasis yang ada di padang pasir, sejuk, menyejukkan, menghilangkan dahaga. Sekarang namanya Simfoni, juga kependekan dari apa.. tapi saya lupa, dan malas mencari di google. Hehe. Tapi yang jelas, nadanya mirip dengan simfoni, tersinegi. Oh jadi ingat suku kata "si" adalah wakil dari sinergi. Hehe.

Menulis ini, karena memori yang bangkit hasil membaca dan melihat slide foto Oasis 2011. Oasis terakhir yang kemudian bermetamorfosa menjadi Simfoni. Cek slide fotonya, di sini.

***

Tuesday, September 20, 2016

Stupid Thing I Did

September 20, 2016 0 Comments
#blogwalking
-Muhasabah Diri-

Bismillah.
sumber gambar
"Dulu kakaknya juga sempat mengalami masa seperti itu, merusak barang-barang, suka banting-banting pintu, meletusin balon yoga tantenya, dan lain-lain."
- Tulisan tentang kemarahan remaja di Dakwatuna
Membaca tulisan lengkap di link di atas membuatku mengingat memori stupid things I did. Memori kemarahan jaman SD atau TK. Betapa hal sepele membuatku marah besar dan mematahkan crayon warna-warni kesayangan. L

Saturday, September 17, 2016

Monday, September 5, 2016

Media MSTEI

September 05, 2016 0 Comments
#blogwalking 

Bismillah.

Berkunjung ke blog sahabat Ansharnya teh Zae lewat link tulisan "A Letter for My Future Daughter". Satu, dua, tiga paragraf. Baru pembuka tapi entah mengapa mata udah cape, akhirnya cuma scroll sampe kolom komen. Waah.. ternyata baca tulisan berbahasa inggris full itu... hehe.

Logo MSTEI, dari fb: mstei.itb
Sembari menenangkan otakku yang ingin menutup tab tulisan itu, aku buka tab baru dan membaca judul-judul tulisan di home-nya ukhti yang suaranya imut menurutku hehe. Dan dari sanalah, aku terkaget membaca salah satu tulisan. jeng jeng..

Bismillah
Sahabat MSTEI, ilmu teknik adalah salah satu ilmu yang banyak disukai oleh pemuda – pemuda Islam.
Lalu bagaimana hukum belajar ilmu teknik ?
Apakah berpahala ?

Atau ……. ?
- Hukum Belajar Ilmu Teknik
***

Persaudaraan "Muhajirin" dan "Anshar"

September 05, 2016 0 Comments
logo mata dari web P3R 1433

Bismillah.

Adakah yang ingat kisah setelah Rasulullah (shalawat serta salam untuknya) hijrah? Apa yang beliau shalallahu 'alaihi wassallam pertama kali lakukan? Ada beberapa hal seingatku, dan salah satu diantaranya adalah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar.

Di sini, aku tidak akan membahas lebih jauh tentang persaudaraan para sahabat Muhajirin dan Anshar radhiyallahu anhum. Ini tentang persaudaraan "Muhajirin" dan "Anshar" yang lain..

Berawal dari baca komentar dua orang ukhti di tulisan ini.
Ukhti A: Bbbb, my “muhajirin” sister.. Let’s “berlari” together

Ukhti B: Aaaa, my ‘Anshar’ beloved sister. Let’s berlari together. kangen A, kangen sekali… semoga A selalu baik

Ya, berawal dari sana, aku dibuat iri. Setauku (kalau bukan soktau), ini tentang persaudaraan yang dibentuk di awal pembinaan Majelis Ta'lim Salman (selanjutnya disebut Mata'). Mohon koreksinya ya kalau salah. Dulu kakak-kakak pengurus Mata' membentuk pasangan saudara-saudara, atau saudari-saudari, 'muhajirin' dan 'anshar' untuk para AM[1]. Alhamdulillah, baca komentar dua ukhti 2010, artinya persaudaraan istimewa itu masih terjalin.

Sunday, July 31, 2016

Kata Ayah

July 31, 2016 0 Comments
Bismillah.

diambil dari erstudio.tumblr.com

Meski agak menyimpang dari projek yang diselenggarakan Erstudio, dan ga akan di submit juga, tapi karena liat postingan tersebut di dashboard tumblr membuat jemariku tergelitik untuk menulis di sini.

***

Berbeda dengan kakak atau adikku, aku bisa dengan percaya diri mengatakan aku lebih dekat dari ayah ketimbang kakak atau adikku. Sejak kecil, mungkin sejak SMP, aku yang paling nyambung kalau ngobrol dengan Ayah. Atau kalaupun dulu ada yang ga ngerti, setidaknya aku berani mengatakan dulu aku pendengar yang baik bagi ayah jika dibandingkan dengan kakak atau adikku.
"Ayah. Cintanya dalam diam. Biasanya seorang ayah minim sekali berkata-kata kepada anaknya. Namun sekalinya beliau berkata atau menasehati kita, biasanya akan teringat hingga dewasa." -bit.ly/KataAyahBookProject
Cinta Ayah bagiku tidak dalam diam, seperti di kutipan atas. Meski tidak sebanyak kata yang keluar dari bibir Ibu, aku juga merasakan banyak cinta dalam kata/ucapan Ayah. Percakapan, atau pertukaran pemikiran diantara kami banyak yang menancap dalam di memoriku, diantaranya akan kusebut dan sebagian kuuraikan di bawah ini.

***

Aku ingat, Ayah lah yang memotivasiku untuk sekolah di "luar". Saat lulus SD sempat hampir mendaftar SMP berformat sekaligus pesantren di kota X. Saat lulus SMP sempat hampir mendaftar di SMA boarding school Y. Saat SMP, aku kenal Universitas NanYang karena Ayah pernah berkata yang intinya, "kalau bisa nanti kuliah di sana di jurusan informatika".

Friday, March 13, 2015

Sunday, November 30, 2014

Stars : Think of You

November 30, 2014 0 Comments
Bismillah.

"When I look at the stars I think of you"   - tumblr
Kutipan di atas membuatku sejenak berhenti. Meski sekarang tidak mudah untuk memandang ke langit dan menemukan bintang, memandang bintang merupakan salah satu hal yang kusukai.

Aku teringat, kala Ramadhan yang lalu dengan mudah melihat bintang-bintang di langit Purwokerto. Masih ingat pula hari pertama semester ini, saat aku melihat bintang di langit dini hari Bandung.

Aku teringat tentang najm dan kawakib. Dua kata yang menggambarkan bintang di dua surat berurutan di juz 30. Apakah bedanya?