Follow Me

Showing posts with label untukmu ukhti. Show all posts
Showing posts with label untukmu ukhti. Show all posts

Monday, August 26, 2024

Kebencian, Memaafkan dan Berbaiksangka pada Takdir-Nya

August 26, 2024 0 Comments

Bismillah.

 


Seorang sahabat bercerita, tentang rasa benci yang sering menghantui malam-malamnya. Saat itu aku menjawab,

 

Mungkin ada luka di masa lalu yang belum sembuh. Makanya jadi benci banget. Biasanya kalau orang luka, karena siapapun. Kalau itu gak diungkapin, gak diekspresikan, cuma dipendam aja. Itu bisa jadi "bom waktu".

 

Ibarat sayur pare nih. Emang sih pahit. Tapi kalau saat itu langsung dimakan, ya udah selesai. Habis. Tapi kalau dibiarin aja, disimpen lama-lama, itu bisa jadi lebih buruk. Jadi jamuran/basi, bau, beracun. Nah perasaan manusia juga gitu. Entah sedih, marah, luka dll.. kalau pas kejadian bisa kita ungkapin, atau minimal kita ekspresiin lewat nangis sampai plong. Itu ya udah selesai. Tapi kalau misal dipendem. Nanti pasti 10 tahun, atau berapa tahun kemudian. Perasaan itu akan meledak. Dampak buruknya jadi lebih besar. Dan biasanya jadi bentuk kemarahan.

 

Kemudian ia menjawab, memberi tangkapan layar jawaban dari quora, yang menyebutkan bahwa membenci itu salah. Aku membacanya sekilas. Paham bahwa jawaban di quora tersebut memang benar. Tapi aku juga tahu, bagaimana rasanya merasakan sesuatu yang kita tahu itu salah. Bagaimana itu membuat seseorang bisa menjadi begitu membenci dirinya sendiri. Dan aku tahu, membenci diri itu salah, dan sakit, jauh lebih menyakitkan daripada membenci orang lain. Aku, tidak mau ia terlalu cepat membenci dirinya, hanya karena ada luka lama, yang membuat ia membenci orang lain.


Maka aku melanjutkan 'ceramah'-ku, berharap saat ia membacanya, ia merasa lebih baik.

 

Idealnya emang gitu. Jangan dibenci. Tapi kan setiap orang beda.

 

Ada keluarga yang punya harta terbatas. Tapi mungkin ortunya dua-duanya ekspresif. Tetep nunjukin kasih sayang/dukungan. Sering minta maaf ke anak karena gak bisa ngasih banyak dukungan finansial dll.



Itu efeknya beda. Sama keluarga yang finansialnya terbatas. Orangtua gak ekspresif dan lebih milih diem, karena nggak pengen kesedihannya dilihat anak. Trus sibuk cari uang, sampai lupa bahwa sibuknya itu karena bentuk sayang mereka ke anak. Itu pasti beda hasilnya.

 

Kasus yang kedua, ada kemungkinan anaknya merasa tidak dicintai oleh orangtuanya. Ada kemungkinan saat dewasa, karena kebenciannya pada kondisi finansial yang terbatas, membuat ia jadi membenci orangtuanya. Dan sebagaimana Islam mengajarkan kita untuk berlaku baik dan ihsan pada orangtua, bagaimana perasaan seorang anak, yang menyadari, bahwa ia membenci orangtuanya? Tanpa tahu bahwa perasaan benci tersebut sebenarnya bukan karena ia membenci orangtua? Tapi karena ia merasa tidak dicintai?

 

Aku melanjutkan rantai nasihatku,


Tapi saat kita dewasa, idealnya memang kita belajar untuk menerima dan melihat dari sudut pandang orangtua. Tapi balik lagi, kita gak bisa ngelakuin itu kalau kita sendiri belum bisa berdamai dengan diri sendiri.
 

Kalau kita udah tenang dan menerima kondisi diri. Baru, kemudian kita bisa empati dan menempatkan diri kita di sepatu ortu. Baru, habis itu jatuh bangun belajar ngerti dan belajar maafin ortu. Karena sama seperti kita yang nggak sempurna. Orangtua kita juga gak sempurna. Sama seperti kita fitrahnya yg sayang ke ortu, tapi kemudian yg keluar bentuknya malah jadi marah dll. Ortu juga gitu ke kita.

Kamu harus bisa maafin diri kamu dulu, baru kemudian maafin orangtuamu.
 

Kemudian, kujelaskan padanya pelajaran yang aku dapat selama dulu, bagaimana aku bisa bangkit setelah tergelincir di jurang dan menjadi begitu benci dan sulit untuk memaafkan diri sendiri.

Dan untuk maafin diri kita. Kita harus percaya lagi bahwa Allah menakdirkan yang terbaik untuk kita. Bahwa meski semua hal yang sekarang kita alami kesannya buruk.... Sebenarnya saat ini pun, Allah sedang menghalangi kejadian yang jauh lebih buruk untuk menimpa kita.

Ibaratnya, bisa jadi kita harusnya ketindihan rumah, tapi karena kasih sayang Allah kita cuma ketindihan tangga. Kalau ketindihan rumah, kita bisa mati. Sedangkan kalau tangga, paling kita sakit, berobat ke dokter bisa sembuh. Karena Allah tahu kita mampu.

Jadi, meski orang lain mungkin nggak ditakdirkan ketiban tangga, itu mungkin karena orang lain gak punya kemampuan itu. Sedangkan kita. Allah tahu, kita kalau ketimpa tangga. Berdarah luka, sakit, nangis. Allah tahu kita bisa tetep nyingkirin tangga yang menimpa kita. Allah tahu setelah kita nangis karena sakit, Allah tahu kita bisa inisiatif ke dokter buat nyembuhin luka.

 

Karena kalau kita mau nengok ulang hidup kita, dengan hati dan pikiran yang lebih jernih. Kita akan tahu bahwa kasih sayang Allah ke kita begitu besar.

 

Ada anak-anak lain yang lahir dari keluarga dengan finansial terbatas. Dan mereka gak bisa sama sekali keluar dari lingkaran itu. Putus sekolah. Tinggal di jalanan. Ketemu lingkungan yang buruk. Kemudian masuk ke dunia gelap.

 

Sedangkan kita. Allah pilih kita punya kemampuan otak bisa sekolah, pinter. Dapat kesempatan sekolah, dapat beasiswa. Dapat kesempatan merantau di Bandung. Kuliah.

Kalimat selanjutnya, aku terangkan beberapa poin-poin di kehidupannya yang aku tahu. Kusebutkan juga poin-poin di kehidupanku sebagai pembanding. Lalu kulanjutkan kalimatku,


Takdirmu, takdirku, beda. Tapi itu yang terbaik dari Allah untuk kita.

 

Nah.. masa depan gimana?

Takdir yang tadi aku omongin itu yang udah kejadian.

Masa depan juga gitu. Allah rencanakan yang terbaik buat kita. Tapi ada syaratnya. Syaratnya apa? Ya, harus beriman dan berprasangka baik pada rencana Allah.


Karena gimana bisa kita punya masa depan yang baik,

Kalau misal kita dikasih batu berlian. Iya batunya belum diasah. Masih ketutup debu. Kalau kita percaya dan asah, nanti baru keliatan cling bagusnya.

 

Tapi kalau kita berburuk sangka sama Allah. Batu itu kita apakan? Kita buang ke tempat sampah. Kita malah milih masuk ke gua, buat nambang sendiri. Susah payah sendiri. Dan nggak pasti dapat berlian juga.

 

Karena apa? Karena kita milih untuk bersandar dengan diri kita. Diri kita yang lemah. Karena kita milih mengiyakan persepsi prasangka buruk dan bayangan ketakutan yang dibisikkan setan ke kita tiap hari. Na'uzubillahi min dzalik.

 

Jadi, sebelum hal-hal buruk itu terjadi. Tugas kita cuma satu: berusaha memperbaiki diri dan keyakinan kita ke Allah tiap hari. Dengan nggak lelah minta petunjuk ke Allah. Jatuh bangun berusaha memperbaiki prasangka baik ke Allah.

 

Nanti... Nanti . Setelah semua perjuangan itu, Allah akan kasih lihat... Bahwa takdir yang terjadi di masa depan nanti jauh lebih baik dari apa yang kita bayangkan.

 

Nanti kita bakal ngerasain juga. Bagaimana yang tadinya kita insecure, nyalahin keadaan, selalu merasa menjadi victim. Bisa berubah jadi optimis lagi. Berubah jadi lebih percaya diri.

 

Yang tadinya benci diri jadi belajar mencintai diri. Yang tadinya benci sama ortu, jadi belajar memaafkan ortu.

 

Dan prosesnya memang panjang. Gak instan. Tapi kita tahu, setiap kali kita merasa pengen nyerah. Kita tahu kita cuma perlu curhat ke Allah dan minta bantuan Allah.

 

Sekian hehe, maaf panjang.


***


Sama seperti bagaimana pesan itu berakhir. Kututup juga tulisan ini dengan kata sekian, dan maaf panjang V ^^


Wallahua'lam bishowab.


***

 

PS: read V as posing two finger with right hand, and ^^ as a closed eye smile. And yes, I'd rather use letter and character as emoji/emoticon. And yes I am old. *I'll hide this as it is so not important.

 

Keterangan : Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Monday, October 2, 2023

A Polite Goodbye

October 02, 2023 0 Comments

Bismillah.

A friend from slowly, sent this to me...

 

"...Since I have more free time now I want to focus on my language studies. I hope I can read more as well. So I'll stop using slowly as it takes me a lot of time and mental power to write. Thank you for all the lovely letters you've sent me, it was great talking to you. May Allah bless you with lots of goodness. Take care~ 💐"


***


Sad but... I know every meeting has its own separation. Honestly I can't stop myself from overthinking.


Do something I said, somehow annoy her?


I tried, to connect with her with other option outside slowly, but she doesn't use social media anymore.


Perharps, it is really a goodbye. And I need to let go this overthinking which sometimes drag me into something negative.


***


She said, it takes a lot time and mental power to write in slowly. I agree about that too. That's why, I'm taking slowly as slow as I possibly could. Just hoping the one waiting there not getting tired and choose to stop answering my letter.


But her decision to stop, I think that's what make us different. Perhaps, cause I love writing, and I need it too.. That's why even if it's not easy to write a sincere and honest letter, trying to connect with someone you've never and might be will never met, I choose to still use it. Despite sometimes, getting tired of it. 


I know for sure, it's better than scrolling on social media, or youtube short. With letters from slowly, they remind me how to answer a shallow "how are you". And how honest would I be, when I have choice to pretend to be who i am not. It reminds me to act upon my writing, cause someone else really read it. It's different, in this blog, sometimes, I still think the only reader is just me, Allah, and maybe google crawler wkwkwk.


Anyway, a goodbye is a goodbye. Thank you also for all the letters. I hope you achieve what want, and maybe even better than what you imagine. Nice to meet you. Bye 5!


Wallahua'lam.

Monday, September 11, 2023

Katumbiri

September 11, 2023 0 Comments
Bismillah.

Perhaps because it is night.. I'm getting emotional after reading a glimpse of story from Katumbiri's life.

***

Mari lanjutkan dalam bahasa Indonesia hehe

Sudah sekitar 5 bulan sejak aku membaca buku Jejak Kenangan karya temen-temen ITBMotherhood.

Aku masih belum selesai bacanya, karena banyak jeda, dan disambi baca buku lain juga. I am a snail reader. ✌️

Anyway, jadi.. pas awal-awal baca, aku gak terlalu kaget saat menemukan seorang sahabat menulis salah satu tulisan untuk buku Antologi tersebut. Seorang sahabat yang blognya berjudul Katumbiri. Sebuah diksi, yang aku sendiri sampai sekarang tidak tahu apa artinya, apakah itu sebuah akronim atau apa. Maybe I'll ask her what does it means, if I really really curious. Tapi untuk saat ini, aku merasa cukup menjadikan kata tersebut sebagai memori unik tentangnya.

30 Agustus yang lalu, saat aku menginjak halaman 86, aku dibuat terkejut... karena kutemukan lagi namanya dibawah judul tulisan. She writes more than one!

Tapi meski terkejut dan penasaran, aku memilih untuk menunda membaca, sampai hari ini.

I'm glad I read it now.. though I still hope I could know her story a little bit earlier from her own.

Berikut kutipan tulisannya, yang kucatat:

"Ia masih berjuang dan akan terus berjuang, hingga takdir Allah yang menghentikan. Ia menyadari bahwa tugas manusia memang "hanya" untuk beribadah. Memastikan bahwa pada setiap episode yang sudah Allah rancangkan, kita mampu meraup sebanyak-banyak kebaikan, tentu dalam kerangka penghambaan. Hasil akhir bukanlah ranah manusia karena tidak akan ada hisab padanya." -AR

#daribuku *Jejak Kenangan* (Mamah Gajah Bercerita) - ITB Motherhood, Stiletto

***

Semoga Allah memberkahi hidupnya, melindungi keluarganya. Semoga suatu saat nanti bisa berkesempatan silaturahim dan bertukar senyum secara langsung. Aamiin.

Sunday, May 14, 2023

Want to Say Hi But....

May 14, 2023 0 Comments

Bismillah.

#untukmuukhti

#tentangseseorang


There's someone in my mind that I want to say hi to, but I just can't. And just in case someone misunderstand it, it is about a sister. Seorang akhawat yang pernah ada di satu titik hidupku. I wish I am close to her as I thought I am, but I know, if there's something that make the gap between us, it's because I am the one who make that gap. I am the one who can't be honest and open up to her.


I've been forgetting about her for a while, but for some time, I don't know why, I think about her. That makes me want to say hi. Aku biasa ber random ria, dan tiba-tiba dm/pm teman lama sekedar bertanya kabar lalu mengakhiri dengan doa. Salah satu caraku untuk menyambung silaturahim, karena aku tidak pandai dalam hubungan jarak jauh. Tapi kepadanya, aku tidak bisa tiba-tiba menyapa.


***


She's an inspiring person for me. Rasanya sulit mendeksripsikan dirinya, karena aku takut aku sok tahu. Ia sangat baik dalam bersosialisasi, tapi aku tidak tahu apakah ia ekstrover atau introver. Aku lupa tepatnya kapan aku mulai dekat dengannya, tapi dalam waktu lumayan singkat, aku banyak berinteraksi dengannya. Aku ingat bagaimana aku pertama kali mengenal yogurt cimory, lewatnya. I think it's one of her favorite drink. Saat itu kemasan cimory belum seperti sekarang, botolnya lebih gemuk dan pendek, rasanya pun jauh lebih asam daripada sekarang. Aku teringat masa-masa saat kami di selasar GKU Barat, ia meminum cimory, aku penasaran rasanya, hingga akhirnya setelah itu aku memberanikan diri untuk coba beli dan mencicipi rasa asamnya. Back then I didn't know, that it will become one of my favorite drinks too.


Aku pernah beberapa kali berkunjung ke rumahnya, aku mengingat wajah ibu, ayah dan adiknya. Aku ingat menaiki tangga ke kamarnya, membaca buku saku tafsir juz 'amma di kamarnya. Apakah aku pernah menginap di rumahnya? Entah mengapa memori yang satu ini samar, entah pernah, atau tidak. Tapi aku ingat pagi-pagi berangkat dengannya diantar ayahnya, dengan mobil berwarna merah.


Oh ya, salah satu yang membuat kami dekat. Karena ajakannya untuk melihat proses mentoring di sebuah SMP. Aku ingat menaiki angkot dengannya, kemudian memasuki kawasan sekolah. ADS, itukah sebutannya? Aku lupa-lupa ingat pada singkatan-singkatan baru, istilah-istilah baru yang diperkenalkan padaku saat itu.


Oh ya, aku juga ingat kenangan bittersweet Ramadan itu. I really thought we were just having a girl's day. Simply bukber and having fun. I didn't know it supposed to be a meeting. I have enjoy the whole night. Termasuk saat pulang naik angkot ba'da atau sebelum tarawih. It's all sweet, until someone scold me through messages. I know why exactly that person mad at me for not reporting the event. But back then it feels so unfair. Aku tidak tahu bahwa itu sebuah rapat, that I have to report about it. I remember crying that night feeling guilty. First because feeling unfair. And second because I know I am not a responsible person, I forget why the choose me. I forget that I have an amanah that I must fulfilled. I think that's why after that, I choose to let go some of my other organization. Though I love to contribute even if it's small. I know back then, and maybe now to.. bahwa aku harus lebih bijak membagi waktu dan prioritas agar tidak ada amanah yang terdzalimi.

 

Oh, why suddenly I talk about me and not her? Let's back to the topic.


***


Waktu berlalu, aku ingat saat ia berjuang dengan beberapa masalahnya. Aku sibuk dengan diriku sendiri, sampai aku menyadari keputusannya. Setelah itu, rasanya aku tidak punya momen saat aku bertemu dan mengobrol dengannya dari hati ke hati. Yang aku tahu, aku masih peduli padanya dan mengetahui kabar tentangnya dari orang lain, atau dari sosial media. Aku mencukupkan diriku sebagai seseorang yang mengamati dari jauh, tidak pernah berani untuk mendekat atau menyapa kembali.


Sampai suatu saat aku diberikan sedikit sajian yang mirip dengan apa yang pernah ia rasakan. Lalu aku teringat padanya. Dan menulis ini...

"Ingin aku bertanya padamu? Perasaan seperti apa yang kamu rasakan dulu? Seperti yang aku rasakan sekarang kah?" - kirei, draft 21 Mei 2017

Baca: What Did You Feel?


***


Salah satu hal lain yang membuatku tidak mudah melupakanmu, adalah karena kamu sering berbagi foto. Aku teringat suatu waktu membuka tumblr, dan melihat berbagai wajah dari akun tumblr-mu, wajah-wajah yang sudah lama tidak kulihat. You really enjoy photography. I remember that cleary.


Aku teringat awal-awal punya akun ig, back then idnya masih kirei999193, sekarang sudah jadi isabellakirei_


Aku teringat jadi melihat foto lama sebuah agenda di suatu pagi di masjid darul hikmah lewat akun ig-mu. *I suddenly realize, I change the reference. Awal tulisan ini aku menempatkanmu sebagai orang ketiga, kini aku seolah menulis langsung padamu.


Aku... menyesali satu hal, entah kamu menyadarinya atau tidak. Tapi aku pernah memilih untuk unfollow ig-mu. Karena alasan konyol. You upload a photo, of someone I didn't want to see. Dari foto itu aku jadi impulsif, dan aku menyalahkanmu dan memilih untuk unfollow. Padahal yang memilih sikap impulsif itu aku. Waktu berlalu, aku mencari lagi ig-mu baru-baru ini karena aku memimpikan beberapa orang, salah satunya kamu. I want to say hi, but....


Tapi saat ini aku masih ragu. Ada jarak yang kuciptakan sendiri. Padahal saat ukhuwah terasa renggang, artinya ada iman yang bermasalah. Dan aku tahu pasti, iman siapa yang perlu diperbaiki. Hmm...


Untukmu, yang saat ini belum berani kusapa. Semoga Allah memberikan keberkahan dalam hidupmu. Semoga Allah menghias harimu dengan senyum. Maaf karena lama tidak menyambung silaturahim. Maaf karena memilih nyaman mengamati dari jauh. Maaf karena memilih mengambil jarak karena alasan-alasan bodoh. I know it might sound strange, but I do miss you.


Wallahua'lam.

Friday, August 13, 2021

12b

August 13, 2021 0 Comments

Bismillah.

#nostalgia

*warning* just memory that you might not want to read.


***


Nomer itu istimewa, lewat nomer itu aku bertemu dengan empat orang shalihah. Dua orang saat matrikulasi, cuma 1 bulan padahal, tapi rasanya menjadi begitu dekat. Hm.. jadi kangen. Dua lagi, selama setahun.


Can I mention name here? Nur Faizatus Sa'idah. Nining Rohayati. Berlian Filda Yofita Serli, Siti Rosidah.


***


Saat matrikulasi, aku sering dikira anak FMIPA, dan aku senang-senang saja dibilang begitu. Ada rahasia dan begitu banyak hikmah, mengapa Allah menempatkan aku untuk tinggal sekamar di gedung tua, lantai dua, 12b. Kamarnya persis di pojok sebelah kanan, saat selesai naik tangga. Satu bulan matrikulasi, pertama kali merantau, mengenal dua orang sunda, Meski gak sekamar, sejak matrikulasi kami (aku, Ida dan Nining) sudah sering juga main bareng sama Berlian, termasuk sama temen-temen kamar sebelah dari FITB (Uus, Farah, Tatik, dll).


Setelah matrikulasi, aku berkenalan dengan Siti, anak SBM yang kalem banget. Lalu bertiga dengan Berlian, kami menjalani kehidupan sebagai roomate. Setelah TPB kami terpisah, aku ingat pernah berkunjung ke kosan Siti. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sampai suatu hari kami dipertemukan di sebuah perjalanan, dalam sebuah bis. Aku lupa walimah siapa yang kami kunjungi, tapi kami satu rombongan bis. Kami mengambil satu dua foto bersama, kemudian membuat grup wa bertiga, 12b, foto profil grupnya bahkan tak diubah apapun.


Dari grup itu, 2021, silaturahim terjalin lagi. Sebuah kabar gembira dari tanah minangkabau. Rasanya terharu membaca undangan virtual tersebut. Teringat beberapa waktu, sebelum pulang ke Purwokerto, sempat bertukar pelukan dengan Berlian. Tersenyum membaca kalimat Siti dan membayangkan mendengar suaranya. Alhamdulillah aku masih ingat suara kedua teman istimewa tersebut. Berlian berbicara dengan ritme cepat, logatnya mirip sama orang-orang padang pada umumnya. Kontras dengan suara Siti yang ritmenye pelan dan kekhasan logat sunda.


***

Hanya ingin menyimpan ini di sini. Sebagai bentuk syukur, karena Allah menakdirkan aku bertemu kalian. Terima kasih telah menghiasi masa mudaku *emang sekarang udah tua hehe. Ada begitu banyak memori dan pelajaran. Terima kasih masih mengingatku. Maaf, jika aku banyak salah.

Terakhir, mari tetap jalin silaturahim ya. Meski cuma lewat doa. Meski tidak sering. Semoga kelak kita bertemu lagi, di sini, atau di tempat yang jauh-jauh lebih baik. Aamiin.

Sunday, May 23, 2021

Enam Tahun

May 23, 2021 0 Comments

Bismillah.


Enam tahun beliau tidak memperbarui blognya. Tulisan terakhir april 2015. Sejujurnya aku juga tidak membaca tulisan itu, atau tulisan di tahun 2014. Memori terakhirku, aku membaca tulisan tahun 2013, berjudul kantor baru.

Enam tahun, dan kemarin, saat membuka daftar bacaan blog, aku melihat tiga tulisan judul baru. Tidak segera aku baca, karena malam sudah terlalu larut, aku hanya membuka tab-nya, kemudian menutup jendela browser. Rencanaku dalam hati, besok saat aku buka browser, aku akan membacanya. Biasanya memang tersimpan, jika kita close window berisi banyak tab.

Sore ini, qadarullah aku membacanya. Tiga tulisan baru, setelah judul, ada tanggal lain. Teteh menceritakan hal yang terjadi bulan Desember 2020. Berurutan.

Berawal dari sini... (2 Desember 2020) Kisah Ibu (3 Desember 2020) dan yang terakhir Akhirnya Corona Sampai di Beranda Rumah Kami (4 Desember 2020).

Berbagai perasaan berkecamuk, kejadiannya Desember tahun lalu, tapi karena tidak pandai menjalin silaturahim, kabar itu baru kubaca hari ini. Kalau lebih cepat tahu, mungkin doa lebih cepat diufukkan. Sekarang aku hanya bisa segera mengirimkan tulisan pendek di kolom komentar.

Aku... seharusnya bisa melakukan lebih dari itu kan? Mencari kontaknya di grup, menyapa langsung.

Semoga kabar teteh dan keluarga sehat semua. Terima kasih sudah menulis lagi. Kalau bukan karena tulisan itu, mungkin aku tidak pernah tahu. Maaf, karena masih perlu banyak belajar agar terus menyambung silaturahim.


***


Terakhir, untuk siapapun yang membaca ini. Semoga bisa menjadi pengingat. Belajarlah dari kesalahanku, dan sambunglah silaturahim.

Untuk siapapun yang membaca ini, ayo menulis lagi di blog. Sesederhana apapun. Tidak ada yang tahu, barangkali ada yang menunggu ingin membacanya.

Allahua'lam.



Monday, March 1, 2021

Google+ dan WhatsApp

March 01, 2021 0 Comments

Bismillah.


Gak nyambung sih, tapi bisa disatukan karena keduanya merupakan semacam sosial media. Whatsapp ga bener-bener sosmed sih, lebih ke aplikasi kirim pesan, meski di dalamnya ada fitur status wa, yang mirip-mirip fungsi sosmed juga.


Akhir-akhir ini aku merindukan google+ dan "membenci" whatsapp. Yang kedua mungkin gak pas, bukan benci sih, cuma gak suka, cuma banyak menghindar. Tapi masih tetap pake karena butuh, dan ya.. sedikit banyak terpaksa.


Aku rindu google+ karena aku rindu tulisan-tulisan dua orang ukhti yang biasanya nulis pemikiran dan perasaannya di sana. Kangen, tapi cuma bisa diem aja dari jauh. Sebenarnya bisa aja mencoba memulai percakapan, menyapa, bertanya kabar. Tapi aku gak pandai memulai dan mengalirkan percakapan. Aku takut terlalu banyak bertanya hingga terasa meninterogasi, juga takut terlalu banyak berbicara curhat gak penting, atau takut terjebak pada pertanyaan-pertanyaan klise.


Aku lebih suka membaca saja diam-diam, kemudian memetik hikmah dari buah pemikiran dan perasaan yang tertulis di sana. I want to know their story, I miss them, and I miss reading their thoughts, their feelings. Banyak nasihat dan hikmah yang kudapat dari membaca tulisan teman. Terkadang rasanya seolah mereka berbicara denganku, menasihatiku. Terkadang, membaca keresahan mereka membuatku merasa dimengerti, they feel it too, like the way I felt it too.


I feel like I'm just being emotional nowadays. Padahal kalau lagi biasa aja, aku mungkin dengan ringan akan menyapa.


Kepada dua ukhti yang mungkin sedang sibuk mengamati tumbuh-kembang anak laki-lakinya. Semoga kalian baik-baik saja, semoga Allah melindungi kalian. Barakallahu fiik. Dari seorang sahabat yang rindu.

Saturday, December 19, 2020

Science and Me - Hadiah dari Ida

December 19, 2020 0 Comments

Bismillah.

Maaf, bukan review, bukan juga nukil buku. Cuma curhat aja, tentang bagaimana buku ini sampai di tanganku.

***

Awal aku melihat cover buku ini di sosial media Facebook. Aku lupa, tapi kemungkinan dari postingannya Teh Ismi (Sarah Ismi). Waktu itu aku ingin share, tapi entah mengapa ga ada tombol share, kemungkinan karena aturan privasinya bukan publik.

Waktu berlalu, lalu aku.. yang biasanya jarang buka igs orang lain, qadarullah membuka igsnya Ida (Nur Faizatus Saidah). Dan ia ternyata memposting foto buku tersebut, dengan pertanyaan singkat, "Siapa yang mau buku ini?"

Aku refleks segera membalas story-nya dengan sebuah dm. Menjawab mau, kemudian bercerita kalau aku sudah ingin membacanya sejak pertama kali lihat covernya di facebook. Ida meminta alamat lengkapku, kemudian menyatakan bahwa buku itu dikirim sebagai hadiah. Sebagai gantinya, ia minta kripik dan sarapan, eh, kritik dan saran. *ini jadul banget jokesnya ya wkwkwk.

Dua hari kemarin bukunya sampai, dan aku... baru membaca bagian awal, kisah Teh Ismi. Baru beberapa halaman yang kubaca, dan aku sudah dibuat nostalgia saja.

Aku ingat Teh Ismi, wajahnya, senyumnya, betapa anggunnya dengan gamis, semangatnya saat bersuara di halaqah depan taman obat (selasar barat penghubung labtek VII dan VIII). Aku baru tahu, Teh Ismi yang di kepalaku selalu diasosiasikan dengan fisika, seperti halnya Teh Indah dengan fisika, ternyata tadinya ingin masuk jurusan matematika.

***

Aku tak sabar sebenarnya, ingin loncat langsung baca tulisan Ida saja, di bagian penutup buku. Mengapa matematika di taruh di belakang? Hehe. 

Ida, I'll sent you my feedback after reading this book. In syaa Allah.

Btw, lewat buku ini, aku jadi punya fotonya ida hehe. Kayanya foto-foto jaman TPB dulu sudah entah dimana. Hpku sudah tak terhitung hilang berapa kali.

Oh ya, buku ini cocok buat anak SMA yang ingin mengenal lebih jauh, gimana sih asiknya jadi anak fakultas sains. Lengkap 5 Jurusan dibahas di sini, beserta kisah penuh hikmah behind the scene-nya. Fisika, Astronomi, Kimia, Biologi dan Matematika. Penulis buku ini 4 orang dari fakultas FMIPA ITB dan 1 orang dari Jurusan Pendidikan Biologi UPI. Ada yang bisa tebak, 3 nama penulis dan jurusannya? Kan yang fisika sama matematika udah aku kasih hint ya hehe.

***

Terakhir, jazakillah khairan katsiran untuk hadiahnya^^ Ditunggu tulisan barunya di blog pembaca angin~

Thursday, June 11, 2020

Capek Banget

June 11, 2020 0 Comments
Bismillah.

Akhir Ramadhan yang lalu aku terhubung dengan teman lama. Berawal dari teringat tentangnya saat mengobrol dengan kawan yang lain, aku kemudian memberanikan diri menyapa. Biasa... pertanyaan retoris itu.

"Apa kabar? Sehat?"

Lalu lanjut dengan tanya domisili dan kesibukan. Aku bertanya dia menjawab, dia bertanya aku bercerita. Lalu percakapan terhenti. Salahku juga, cerita tentang kesibukan aja, ga balik tanya lagi.

Idul Fitri, aku mengirim ucapan padanya. Sekaligus minta maaf. Minta maaf rasanya aku menjawab terlalu serius akan pertanyaan candaannya. Ya, selain tanya tentang kesibukan dia juga tanya tentang "kapan married" disertai "wkwkwk". Aku takut aku salah merespon, dan itu yang membuatnya enggan melanjutkan percakapan.

Satu pekan berlalu, sudah bulan Juni, ia tiba-tiba chat. Bukan.. bukan jawaban ucapan idul fitri. Tapi sebuah curahan hati yang kurindukan.

"Bella"
"Lagi capek banget"
"Huhuu", lengkap dengan emoticon menangis.

Pesan itu baru kubaca 1 jam setelahnya, belasan menit sebelum pukul 10 malam.

"Pengen bisa tepuk pundak jarak jauh"
"Puk puk.."
"Kalau cape, artinya sudah waktunya istirahat. Berhenti sejenak, tarik nafas..", tanpa emoticon.

Ia membalas beberapa kata lain. Juga ungkapan ingin bercerita.

"Kangen cerita2"

But I missed the timing, I replied only 1 hour later. Jujur, aku saat ini bertanya-tanya, kalau saat itu aku langsung menjawab, mungkinkah aku sudah membaca ceritanya? Tapi karena itu sudah terlewat, "tintanya sudah kering", artinya memang begitu takdirnya. Qadarullah, memang bukan saat itu waktu yang tepat untuknya bercerita dan untukku menyimak. Bisa jadi juga aku bukan orang yang tepat yang bisa memahami dan empati pada ceritanya.

***

Hari ini, Juni sudah memasuki hari ke sebelas. Aku mencoba memaknai kembali momen tersebut. Kalimat curhatnya, bahwa ia "capek banget".


Beberapa hari ini, lewat beberapa kejadian, Allah seolah ingin mengajarkanku apa makna dibalik perkataan "capek banget" seorang perempuan yang bekerja, entah itu bekerja di rumah atau bekerja di kantor.

Dari sebuah radio misalnya, aku tidak paham siapa pembicaranya. Tapi salah satu kalimat yang diucapkan via radio adalah tentang perempuan yang fitrahnya lemah lembut. Jadi saat ada beban terlalu berat yang ia pikul, sering kali ia jadi mengeras, tiba-tiba begitu sensitif, entah itu disalurkan lewat tangis atau amarah.

Kalau rasa lelah dan cape itu cuma di fisik, mungkin solusinya lebih mudah. Tapi nyatanya, saat seseorang, baik laki-laki maupun perempuan berkata, "capek banget", frase itu juga terkadang mencakup kelelahan psikis/jiwa. Energi fisik mungkin bisa di refill dengan tidur cukup, minum suplemen, dll. Tapi psikis/jiwa kita masih lelah, ga bisa diisi ulang energinya pakai charger fisik. Seperti tubuh kita yang butuh sofa untuk bersandar, psikis/jiwa kita juga  membutuhkan itu. Seperti paru-paru kita yang butuh untuk menghirup nafas, begitu juga psikis kita.

Dan salah satu hal yang bisa membuat psikis/jiwa kita bernafas adalah dengan bercerita, mengetahui bahwa ada yang mau mendengarkan kita, mengetahui bahwa ada yang mengerti kita. Dan hal yang membuat psikis/jiwa kita bisa bersandar adalah mengetahui bahwa ada yang menolong kita, menguatkan kita, memberikan kita kemudahan.

Me time, menurutku juga bisa jadi tempat psikis kita beristirahat dari lelah dan capek. Sejenak istirahat dari beban yang menggayut dan kesibukan yang menyesakkan. Sejenak mengambil jarak dan waktu untuk melakukan hal-hal yang kita sukai, yang mengerjakannya mengeluarkan energi, tapi uniknya juga mengisi energi, Untuk yang ini tiap orang berbeda-beda. Ada yang dengan olahraga, membaca, menggambar, atau menulis sepertiku.

***

Tentang bercerita dan tempat bersandar. Idealnya memang ada support sistem, entah itu kawan, saudara, atau keluarga. Tapi kalau misal... kita merasa sulit menemukannya. Coba ingat-ingat bahwa Rasulullah menjadikan shalat sebagai istirahat, untuk jiwa dan raga. Lima kali, kenapa lima kali, karena Allah tahu kita membutuhkan untuk selalu terhubung denganNya.

Orang lain mungkin tidak tahu bahwa dalam bungkam kamu lelah dan begitu capek. Orang lain mungkin tidak pernah melihat apalagi mendengar tangisan sunyimu. Tapi Allah selalu bersamamu.. Allah mendengarmu. Allah melihatmu. Allah mengetahui isi hatimu. Allah tahu makna setiap bulir air mata yang jatuh. Bahkan makna selapis kaca di matamu yang menguap dan tidak jadi menjelma menjadi embun hangat di pipimu. Allah tahu.

Coba katakan dan nyatakan dengan jujur, "Ya Allah, aku capek banget"

Lebih bagus lagi kalau dilanjut dengan dzikir, "La haula wala quwwata illa billah"

Atau dengan doa, "Robbana la tuhammilna ma la thoqotalanabih, wa'fuanna waghfirlana warhamna anta maulana fanshurna..."

Semoga setiap capek, lelah dan letihmu dihapus olehNya, diganti dengan rasa manis bersandar dan bergantung hanya padaNya. Semoga setiap kesedihan, kekhawatiran, dan rasa sakit yang kita alami menjadi penggugur dosa kita. Aamiin.

"Tiada seorang mu'min yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah." (HR Bukhari-Muslim)

Allahua'lam.

***

PS: Teruntuk seolah ukhti yang menjadi inspirasi tulisan ini, semoga jika bukan padaku, kau bisa bercerita pada orang lain yang lebih pandai mendengarkan dan mengerti. Tapi meski begitu, aku masih menunggu 'ping' darimu, agar bisa bertukar sapa lewat suara. Aku rindu mendengar suara khasmu.

Sunday, March 1, 2020

Crossing The Line

March 01, 2020 0 Comments
Bismillah.



Sebenarnya aku sudah membaca tulisannya berkali-kali, setiap ia menulis di blog bernuansa hijau tersebut. Tentang salju pertama yang ia lihat, tentang rasa suka yang hanya satu arah. Aku membaca tulisannya, bahwa ia merindukan ibunya saat lemah berbaring di atas kasur karena sakit. Aku membaca tulisannya, tentang kesepian yang semakin terasa menusuk. Aku cuma membaca dan berharap yang terbaik untuknya dalam hati. I'm a silent reader.

Tapi.... beberapa postingan terakhirnya entah mengapa membuatku makin khawatir. Tulisannya kubaca sebagai sebuah tanda, bahwa ia butuh teman bicara. Ragu, aku bertanya-tanya, apa aku perlu keluar dari zona silent reader? Apa aku perlu meninggalkan sebuah komentar? Memberitahunya, bahwa ada yang membaca tulisannya? Tapi bagaimana jika ia malah jadi tidak nyaman, tidak suka, dan justru memilih tidak menulis sama sekali? Padahal menulis adalah hal baik untuk kondisinya saat ini.

Hari itu, aku beranikan diri untuk melangkah mendekati garis. Aku menuliskan sebuah komentar. Bertanya, apakah ada cara agar bisa terhubung dan berkomunikasi? Komentar tersebut masuk ke waiting list, menunggu moderasi, bahkan mungkin tidak akan pernah di moderasi. Sembari menunggu juga, aku beranikan diri mencari grup yang mungkin bisa memberitahuku, kemana aku harus menghubunginya.

Ternyata mudah untuk menemukan nomernya. Kode negara yang berbeda. Ada dua, yang satu foto profilnya menunjukkan pemiliknya. Satu lagi foto profilnya berisi sebuah logo perusahaan. Kukirim sebuah pesan pada nomer dengan pp logo perusahaan, bertanya, apakah benar ini nomer hpnya. Satu hari kemudian ia membalas, benar. Alhamdulillah ketakutanku salah nomer sudah terhapus. Kami bertukar sapa basa-basi. Kuberitahu aku membaca tulisan di blognya dan terlintas pikiran untuk mengirim pesan padanya. Tapi aku masih di luar garis, aku tidak membahas atau bertanya tentang isi tulisannya. Aku hanya ingin ia tahu, bahwa ada yang membaca blognya. Hanya itu.

Aku pikir, itu saja cukup. Aku pikir, aku tidak akan melewati garis. Tapi sebuah tulisan lain diunggahnya. Dan setelah membacanya aku tidak bisa berdiam diri. Mungkin... mungkin, sekedar tahu ada yang membacanya tidak cukup. Mungkin ia benar-benar butuh teman yang bisa mendengarkannya. Maka kucoba menghubungi teman yang dulu dekat dengannya. Aku tidak memberitahukan tentang isi tulisan tersebut. Aku berpura-pura bertanya nomer hpnya, padahal aku sudah memilikinya bahkan sudah pernah bertukar chat dengannya.

"Masih keep contact sama dia?", tanyaku

"Iya, masih keep contact kok", jawab teman satu kosannya dulu.

Seharusnya itu jawaban itu membuatku lega. Tapi ternyata aku... entah terlalu terbawa emosi memilih untuk melewati garis. Aku tahu, kesannya seperti ikut campur. Tapi, hanya dengan itu aku bisa menenangkan diriku.

Kukirim padanya beberapa baris pesan, tentang tulisan terakhir yang ia unggah, tentang aku yang pernah menghilang dari peredaran, dan bagaimana aku bisa membaik. Tentang pentingnya menulis dan bercerita, saat begitu banyak hal memenuhi pikiran dan dada.

I crossed the line. I'm not a silent reader anymore.

Thursday, October 10, 2019

Unnoticed

October 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

I thought it'd be unnoticed.

***

Aku kira tidak ada yang sadar. Toh hanya beberapa hari. Aku pikir tidak akan ada yang mencariku.

Tapi Allah menuliskan skenario indah, yang mengingatkanku lagi pada indahnya persahabatan karena Allah.

3 Oktober. Seorang ukhti mengirim pesan. Bertanya kabar. Satu, dua, sampai lima hari berlalu. Tapi pesannya masih centang satu. Artinya pesan itu bahkan belum masuk ke kotak pesanku.

7 Oktober. Ia bertanya di grup, barangkali ada yang memiliki nomer hpku yang lain. Barangkali aku ganti nomer hp dan ia tidak tahu. Ternyata yang lain pun hanya memiliki satu nomer hpku. Ya, nomer yang itu, yang belakangnya 193.

Atas izinnya, siang itu aku menyalakan kembali hpku, setelah beberapa hari sengaja dimatikan karena beberapa alasan.

Malamnya, kubaca pesannya, kubalas dengan perasaan senang karena terhubung kembali dengannya.

Ia menceritakan padaku kepanikannya, kekhawatirannya, karena beberapa hari berlalu dan pesan yang ia kirim untukku masih centang satu. Aku ikut terharu membacanya, karena aku kira tidak akan ada yang menyadari. But she knows. I thought nobody would notice, but she noticed it.  Somehow.

Lalu obrolan mengalir. Dan dari percakapan itu aku baru tahu, bahwa sekitar tiga bulan yang lalu ibunya berpulang ke rahmatullah. Setelah lama berjuang dalam fisik yang sakit. Seketika itu hatiku ikut sakit sekaligus malu. Seharusnya aku tahu kabar itu lebih cepat, seharusnya aku lebih inisiatif untuk menjalin silaturahim.

Ia bercerita lagi, tentang kesulitannya saat itu. Rasanya, begitu banyak kejadian dalam waktu itu. Ia yang berkali-kali izin cuti karena mengantar ibunya bolak-balik ke rumah sakit. Rekan kerja yang mengira ia mangkir, karena alasan ia pergi "itu-itu saja". Ia yang hampir resign, karena hari H saat ibunya menghadap Allah, ia begitu panik dan segera meluncur ke Cirebon tanpa banyak persiapan. Bahkan hp, hpnya tertinggal dan tidak terbawa.

Aku bertanya padanya, trus sekarang gimana? Udah clear kan di tempat kerja? Aku membayangkan ia mengangguk sembari membaca balasan pesannya. Malam itu ia baru pulang kerja, pasti ia lelah, ingin kutepuk pundaknya pelan. You've gone through it. You've done it. Kamu sudah melaluinya dengan baik. Allah akan menghadiahkan padamu ganjaran atas setiap ujian yang berhasil kau lalui. Entah berupa gugurnya dosa-dosa atau bertambahnya pahala dan juga naiknya derajatmu di mata-Nya.

Percakapan malam itu diakhiri dengan kalimat yang membuatku tersenyum tipis,
"Kalau mau main Bandung, berkabar ya ..."
Kalimatnya diakhiri dengan emoticon mata berkaca-kaca. Aku menjawab singkat, "Siap in syaa Allah".



Dalam hati aku berdoa, semoga kelak Allah mengizinkan kita bertemu lagi, di Bandung, kota tempat kita bertemu dulu. Atau di belahan bumi manapun. 

Semoga Allah melindungi, semoga Allah menaungi hidupmu dalam keberkahan. Barakallahu fik.

Allahua'lam.

Thursday, June 6, 2019

There's This Girl

June 06, 2019 0 Comments
Bismillah.

There's this girl whom I wish I know how is she, how is her day. This girl whom I miss to hear her every day story. A girl who struggle in her life. A girl who stops replying my messages since May 11th. Her last text, 10.41 pm, a comment about my fast-break menu. "Wo sama2 kuah"

***


Semoga ia baik-baik saja. Semoga aku saja yang 'berlebihan', padahal ia hanya butuh sedikit jarak untuk berteman dengan kesendirian. Sama seperti pernah aku menghilang dari peredaran.

Belum sebulan padahal, dan dulu pernah begini juga, dua bulan. Mungkin aku memang diuji agar sabar, berbaik sangka dan berdoa.

She will be okay. She will fight and win. She will find Allah, and ask for His help. She will be okay. In syaa Allah.

Allahua'lam.

Saturday, February 16, 2019

Mengirim Doa Untukmu

February 16, 2019 0 Comments
Bismillah.
#untukmuukhti

Mengirim doa untukmu, yang hari ini mengikrarkan mitsaqan ghalizan. Tulisan ini dari seorang teman, sahabat, saudari, yang tidak bisa hadir menyaksikan hari bahagiamu.

***

Satu Februari yang lalu, sebuah pesan masuk. Undangan darimu, diawali sapaan hangat.

"Assalamu'alaikum beel sehat? *emot senyum dengan mata tertutup dan pipi merona merah*"

"Domisili masih di Bandung kah sekarang?"

"<undangan>"

"Bel mohon do'anya yaa mudah-mudahan kita bisa silaturrahim lagi. *emot senyum yang sama* *emot tangan ber-highfive*"

***

Aku membaca pesannya tiga jam kemudian. Pesan itu, menerbangkan otakku ke masa lalu sejenak. Kenangan tentangmu.

Orang lain mungkin tak banyak yang tahu, tapi aku dan kamu, punya memori yang membuat sosokmu istimewa di hidupku.

Saat itu kita masih sama-masa mahasiswa baru, bukan baru juga sih, sudah memasuki semester dua. Aku pernah mengutarakan keresahanku, di bangku Taman Ganesha versi dulu.. taman ganesha sebelum renovasi. Tentang keputusanku untuk membedakan diri, keputusanku untuk berhenti melingkar. Aku ingat, aku menangis banyak. Dan kamu menghiburku.

bukan Taman Ganesha hehe J
(Taman di dalem SMKN1 Purwokerto, dokumentasi pribadi) 

Apakah kamu ingat? Atau bisa saja aku saja yang mengingatnya, karena setiap orang menyimpan memori sebuah kejadian berbeda-beda.

Sejak itu sepertinya, kamu jadi sering ngajak ngaji. Aku jadi kenal salah satu yayasan islam di bandung, *aku lupa namanya tapi. Hehe. Aku ingat kamu yang menyediakan kendaraan, dan aku yang selalu nebeng, berangkat dan pulang diantar. Meski hujan, badai hahaha. *lebay hehe.

***
Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku pernah melupakanmu. Saat itu aku sibuk jatuh bangun sendiri. Lalu aku pindah domisili, tapi lupa pamit padamu. Dan pesanmu itu... jadi kunci pembuka, aku mengingatmu lagi. Alhamdulillah.

Maaf belum bisa jadi teman yang baik. Terimakasih karena kamu sudah sangat baik menjadi teman, sahabat dan saudari. Terima kasih, karena sering ngajak ngaji, di cisitu, di asia afrika, di mana lagi ya? Seringnya di dua tempat itu. Lewatmu aku jadi mengenal teman-teman baru, orang-orang yang mungkin kalau ga lewat kamu, ga akan ku kenal. Juga guru-guru yang memberikan pandangan lebih luas, Bu Tri, Pak Sam... *semoga memoriku atas nama beliau ga salah, i'm bad at memorizing people's name.

***
Terakhir, sebelum tulisan ini jadi belok arah. Sebaiknya langsung kusampaikan yang utama.

Barakallahulaka wabaraka 'alaika wajama'a bainakuma fi khair.

Kukirimkan doa ini untukmu, akhawat shalihah bernama Yulia Mulyatini (:

dari yang rindu ingin jumpa,
^kirei~

***

PS: Semoga aku berani mengirim link tulisan ini padamu.

Wednesday, February 13, 2019

2w 1w

February 13, 2019 0 Comments
Bismillah.

#untukmuukhti #UntukSahabat

2w, dua pekan yang lalu kamu menulis kalimat itu. Entah apa yang ada di hatimu, hingga kalimat itu tertulis. Entah berapa kali kamu menahan jemarimu, menulis, menghapus, tapi nyatanya dua pekan lalu kalimat itu tertuang. Tanda bahwa nyatanya kamu berulangkali memikirkan itu. Berpikir tentang kematian yang lebih baik daripada hidup. 

1w, satu pekan yang lalu, kamu menulis lagi, pertanyaan singkat yang kau ajukan pada orang tertentu. Bukan padaku, karena bisa jadi kamu lupa, bahwa aku termasuk teman yang suka diam-diam membaca tulisanmu di sana. Kamu bertanya, apakah ia sudah jengah mendengarkanmu. 

***

Hari ini, Allah menuntunku untuk membaca dua kalimat tersebut. Kemudian hatiku tergerak untuk menulis. Meski aku mungkin hanya bisa menulis sendiri, dan tak berani mengizinkanmu membaca. Karena aku tahu, kamu mungkin tidak ingin aku membaca dua kalimat yang kau torehkan 2w dan 1w yang lalu. 

***

Tentang pemikiran "mati saja" aku tidak berani berbicara banyak. Aku tidak tahu kehidupanmu saat ini, aku tidak tahu kesedihanmu, ketakutanmu, keresahanmu, kekecewaanmu. Tapi aku yakin, meski berulangkali memikirkan hal itu... aku yakin, kamu juga berulang kali memberitahu dirimu, bahwa kesempatan hidup merupakan nikmat dariNya. Nikmat untuk bertaubat dan memohon ampun atas dosa yang menggunung. Nikmat untuk bekerja dan beramal, agar kelak bisa menjadi bekal untuk kehidupan yang kekal nanti. Dan aku yakin, kamu pasti tahu, bahwa kesempatan hidup berarti juga kesempatan untuk lebih membersamai bayimu, darah daging, yang kau harap bisa memberikan manfaat di dunia dan akhiratmu. Bayi mungil itu membutuhkanmu, dan kamu pasti bisa mengusir pemikiran itu, setiap melihat wajah imutnya. 

***

they're all just human, of course they can be bored (📷: from unsplash)

Tentang rasa jengah mendengarkan, membuatku teringat kisahku. Mau kah kau membacanya? 

Saat itu.. seseorang bertanya padaku, "Teh Bella bakalan ilfeel ga kalau aku meracau kalimat yang sama berulang-ulang?"

Aku menjawab, "Ini aku juga ga tau, hehe"

Lalu ia mempertanyakanku. Bahwa sekarang aku mungkin sudah ilfeel. Kalau mau jujur, aku memang sedikit bosan. Aku juga manusia, aku bisa bosan, jengah, mendengar ceracau orang lain. Apalagi ceracaunya dipenuhi energi negatif, membuat otakku yang masih belum terbiasa memfilter kenegatifan, kadang ikut terbawa negatif. Namun bukan berarti aku ingin ia berhenti bercerita padaku. Aku hanya butuh jarak dan waktu. I step back, to normalize myself. Saat aku sudah netral, in syaa Allah aku siap sedia mendengarkannya lagi. Kicaunya, meski sama, meski remeh, meski negatif. Karena aku memang ingin ia bercerita, ketimbang ia diam dan menyimpannya sendiri hingga sesak dadanya dan pusing kepalanya, sampai asam lambungnya naik. Ketimbang itu semua, lebih baik ia menuangkan pikirannya padaku, dalam kata tak berintonasi.

"Ga tahu? Berarti ilfeel ya", tanyanya

"Iyalah gatau, kan aku juga manusia, bisa berubah perasaannya. Sekarang sih ga.", jawabku

"Ho yaudah sebelum th Bella ilfeel," ujarnya seolah yakin aku suatu hari akan berbalik dan pergi.

"??" double ask question, kebiasaanku saat aku merasa kalimatnya mengherankan.

"Wkwkwk. Bisa jadi juga ga ilfeel. Tinggal kamu mau percaya ke kemungkinan buruk atau yang baik," jawabku. Kemudian aku bercerita, tentang diriku dan sikap yang aku ambil kepada orang lain. Bagaimana supaya ga kecewa, jika karena satu dua hal teman kita menjauh.

Nyatanya memang begitu, berprasangka baik itu wajib, namun bukan berarti kita menyadarkan harapan pada manusia. Pun teman. Mereka cuma manusia, yang bisa bosan, lelah, dan mungkin suatu saat akan menjauh. Jadi sikap kita, memang tidak boleh bergantung pada manusia bahkan sekedar untuk bercerita tentang hari, tentang pikiran dan perasaan kita.

Orang lain bisa bosan, bisa sejenak ambil jarak... tinggal bagaimana kita ambil sikap, agar tidak terpengaruh atas hal tersebut.
"...dan aku memilih untuk ga terpengaruh apapun sikap mereka. Aku mikirnya gini, kalau mereka memilih 'pergi menjauh', aku percaya ada yg mau 'datang dan mendekat'. Sesederhana itu. Tinggal kita mau milih fokus di negatif atau positif." - kirei
Tapi ceritaku, mungkin tidak semuanya pas dengan ceritamu. Karena kau tidak sedang bicara tentang teman yang bisa datang dan pergi, tapi tentang sahabat, yang akan terus ada di hidupmu. Tapi aku percaya, kau bisa memetik hikmah dari hal itu. Lewat apa yang kau alami sekarang, kau akan belajar untuk memahami bahwa manusia bisa bosan, dan kita tidak boleh berharap pada manusia. Kamu akan belajar, bahwa manusia terkadang mundur bukan untuk menjauh, hanya butuh sedikit jarak dan waktu, sebentar dan sedikit jauh saja, untuk kemudian siap lagi mendengarkanmu. In syaa Allah.

Terakhir, jika manusia tidak ada yang mau mendengarkan kita, semoga kita saling mengingatkan... bahwa ada Allah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui Isi Hati kita.

Allahua'lam.

***

PS: It's one week and two weeks ago. I know you're doing fine now. Tulisan dua pekan dan satu pekan yang lalu, hanya sedikit luapan emosi yang tereja dalam kata. Hanya satu puzzle kecil dari gambaran besar perasaan dan pikiranmu. Semoga Allah melindungimu dan selalu membimbingmu setiap kali hal-hal rumit menggelapkan harimu. Aamiin. Maaf atas tulisan sok tahu ini.

from your ex-classmate,
^kirei~


Sunday, February 10, 2019

Bukan Tepuk Tangan

February 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

Bukan tepuk tangan yang diharapkannya. Bukan juga pujian dari orang lain. Ia hanya butuh dihargai kerja kerasnya, bahwa apa yang ia lalui berarti. Lewat pelukan, atau kata-kata lembut. 

***

Seseorang pernah mengirimkan pesan padaku,.. "hi assalamualaikum," dari pesan itu ia bercerita padaku kegundahannya. Pertanyaan-pertanyaan yang sering berputar di kepalanya. Tentang jodoh yang belum juga datang. Kami membahas tentang Nabi Zakaria dan sikapnya dalam berdoa, tidak pernah kecewa. Beda dengan kita yang mudah lelah dan terburu-buru. Sampai sebuah insight kami dapatkan, di Quran, tidak pernah dibahas penantian jodoh. Yang ada tentang menanti buah hati. Hal itu membuatku sadar, bahwa penantian para single belum ada apa-apanya, ketimbang penantian yang sudah menikah namun belum dikaruniakan anak.

Kemudian setelah membahas itu, ia melanjutkan curahan hatinya. Tentang rasa kecewanya, karena merasa tidak dihargai, tidak diapresiasi. Bukan tepuk tangan yang diharapkannya. Bukan juga pujian dari orang lain. Ia hanya butuh dihargai kerja kerasnya, bahwa apa yang ia lalui berarti. Lewat pelukan, atau kata-kata lembut dari keluarga.

Saat itu, aku membayangkan berada di posisinya... aku paham perempuan membutuhkan itu, perasaan diapresiasi, disayang, dilindungi, bahwa yang ia lakukan berarti. 

Dari situ aku mulai menyimpulkan, bahwa yang membuat ia bertanya-tanya tentang hadirnya jodoh, bukan karena jodoh itu sendiri. Tapi karena kebutuhan untuk dihargai dan diapresiasi. Ia tidak belum mendapatkannya dari keluarga, dan ia berharap barangkali ia bisa mendapatkannya dari sosok yang hingga saat itu belum hadir juga dalam hidupnya. 

Honestly... saat itu ada urgensi untuk memberitahunya, bahwa tidak baik berharap pada manusia yang kehadirannya saja masih belum pasti. Tapi Allah menahan jemariku, Allah gerakkan perasaanku untuk membayangkan menjadi dirinya. Maka kutuliskan dua huruf, kemudian doa. 

"TT Semoga Allah segera kirim sosok yang bisa nemenin kamu dan ngapresiasi semua kerja kerasmuAku speechless.. ga bisa bilang apa-apa lagi, kecuali doa"

I think, Allah wants to comfort her through my fingers.

Ia perempuan, manusia, wajar jika ia sesekali merasa seperti itu. Manusia bisa lelah, bisa kesepian, juga butuh untuk diapresiasi dan dihargai. 

Ia bercerita padaku tentang tanggapan orang-orang saat ia bercerita tentang hal tersebut. Mereka terlalu cepat memberikan kalimat, seolah ia sosok yang cuma bisa mengeluh dan komplain, seolah ia tidak pernah mensyukuri nikmatNya.

"Makasih Bell... Setidaknya kamu menerima komplain aku. Kadang aku sering komplain hal-hal ini ke orang-orang, tapi mereka bilang aku ga bersyukur, aku mengeluh doang, aku komplain terus, dll. Padahal aku cuma butuh understanding dari orang, kalau yang aku rasain itu boleh, itu gapapa, dan aku ga harus benci ke diri aku. Bahwa itu wajar, dan hanya butuh bersabar sedikit lagi."

Mataku ikut panas membaca kalimat-kalimatnya. Ia benar, bahwa apa yang ia rasakan itu manusiawi. Keinginan untuk diapresiasi dan dihargai. Hanya saja aku, dan beberapa orang sering terburu-buru memberi nasihat, padahal ia ingin didengarkan, ia ingin dimengerti. 


Bukan tepuk tangan yang ia minta. Ia hanya butuh sedikit apresiasi, sedikit waktu untuk didengar. Ia sudah tahu... bahwa ia hanya perlu sedikit lagi bersabar. Kita tidak perlu menjabarkan ayat atau hadits, ia sudah tahu.. Hanya saja ia manusia biasa yang terkadang lelah, dan butuh telinga yang siap mendengarkannya. 

***

Aku bersyukur saat itu Allah menahan jemariku, karena aku tahu betul diriku. Aku masih jauh dari standar pendengar yang baik. Aku lebih sering buru-buru menasihati, tanpa memberi ruang untuk berusaha mengerti. Aku masih belajar...

Sapaan dan curahan hatinya, juga mengingatkanku untuk mengapresiasi orang-orang terdekat kita. Dengan sikap, tindakan, juga kalimat lembut. Keluarga terutama. Ibu, Ayah, kakak, adik... Kalau yang sudah menikah, kepada suami atau istri, juga anak.

Setiap dari mereka manusia, yang butuh dihargai dan diapresiasi perjuangannya, kerja kerasnya...

Allahua'lam.

***

PS: Hutang menulis tematik "Apresiasi" Sabtulis bulan Februari 2019.


Monday, January 28, 2019

Lebih Baik Begini

January 28, 2019 0 Comments
Bismillah.

Kata mereka rasanya ingin menyerah padamu, karena jelas terlihat kamu masih terpaku di sana, melihat ke belakang, meratapi kemalangan, kesalahan, di masa lalu. Marah sekaligus enggan melepas yang ditakdirkan berpisah denganmu. Setiap hari begitu, dan rasanya tidak ada perubahan meski berkali-kali di jawab.

from unsplash

Aku ingin menjawab mereka. Aku juga berulang kali berpikir untuk menyerah padamu. Aku pernah berpikir untuk pergi saja meninggalkanmu. Tapi... kali ini, ingin kusangkal mereka, meski mungkin aku tak berhak. Ingin kuberitahu, bahwa menurutku lebih baik begini. Aku senang membaca dan mendengarkanmu. Bagaimana kamu mengeja dalam kata, perasaan dna pikiran yang berdesakan di otakmu. Mungkin hampir keseluruhannya negatif, tapi itu jauh lebih baik daripada beberapa saat yang lalu. Saat itu kau bercuap seolah diri baik-baik saja, padahal di tempat lain kau meluapkan emosi dengan kata-kata yang menyakiti dirimu sendiri. Kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulutmu atau dieja dengan jemarimu. 

Bagiku... lebih baik begini. Setidaknya aku bisa bercakap denganmu. Berharap satu dua kalimat sederhanaku bisa mengingatkanmu. Tentang kasih sayangNya yang selalu deras mengalir. Tentang setiap luka dan rasa sakit, akan menjadi baik jika itu mengantarkan kita kepadaNya. 

Allahua'lam.

Friday, January 25, 2019

Bukan Hari Biasa

January 25, 2019 0 Comments
Bismillah.


Hari ini bukan hari biasa baginya, jumat ini, serta hari-hari sebelum jumat ini. Aku mungkin tidak bisa membahasakannya di sini. Tapi aku bisa membayangkan jika aku ada di sepatunya. Perasaan negatif yang bergumul, berdesakkan, mengisi dan mengelilinginya. Aku harap ia bisa keluar dan terbebas dari itu. 

Hari ini, semoga menjadi satu pelajaran baginya. Menjadi titik ia untuk belajar lagi mencintaiNya. Dan serpihan kaca yang terlanjur berserakkan itu. Semoga bukan ia injak, atau genggam, hingga melukai kaki dan tangannya. Sekarang saatnya ia berhenti melukai diri sendiri, dan mulai menerima. Biarlah yang sudah pecah dan tak bisa diperbaiki. Tapi tetap menjaga keyakinan, bahwa Allah lebih dari mampu, mengganti serpihan itu dengan hal lain yang lebih indah, yang lebih baik, yang tidak menyakitinya. 

Ada banyak tangan yang ingin membantunya. Mengambilkan sapu, membersihkan serpihan yang berserak. Ia bisa meminta bantuan orang lain. Tapi jika terasa sulit, ia bisa meminta bantuanNya saja. Biar nanti Allah kuatkan ia untuk membersihkan pecahan yang berserak.

Allahua'lam.

Monday, October 1, 2018

Telinga

October 01, 2018 0 Comments
Bismillah.

Kadang kita butuh telinga, bukan telinga sendiri tapi telinga orang lain. Kita ingin berbicara dan ada yang mendengar. Ingin menulis dan ada yang membaca.

Kebutuhan itu normal, manusiawi. Memang idealnya kita bercerita, mengadu suka dan duka pada Allah. Tapi bukan berarti tidak boleh, untuk bercerita pada manusia. Tidak apa-apa, asalkan kita tidak tergantung dan bersandar pada manusia.

Ada yang memilih telinga orang asing yang lalu lalang, ia bercerita di blog, atau sosial media. Ada yang memilih telinga orang terdekat, entah itu ibu, kakak, atau teman.


***

Tidak semua orang dengan mudah bercerita saat butuh telinga, entah karena tidak mudah percaya, atau mungkin takut merepotkan orang lain. Tidak semua topik kita bagikan ke semua telinga, ada cerita baik yang mungkin mudah kita suarakan pada telinga manapun, ada juga suara kecil hati, yang hanya dibagikan pada telinga tertentu. 

Ada saat mudah bercerita di sini, lain waktu merasa sulit dan butuh telinga yang lebih spesifik. Mungkin karena topiknya sensitif, dan bisa jadi menguak sisi lain diri yang sebaiknya tidak diketahui banyak orang. Saat itu, aku menyapanya, lalu bercerita saja. Ia merespon, dan aku sedikit lebih lega. Aku mungkin hanya bercerita sepenggal, dan ia hanya bisa menyimak tanpa memberi solusi, tapi itu cukup. Cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk didengar.

***

Terima kasih padanya, telinganya, matanya, waktunya.

Maaf karena tiba-tiba meracau tentang suasana hati dan kondisi diri yang tidak baik.

Terima kasih atas kata dan jawaban sederhananya.

Maaf karena lebih sering meminta telinga ketimbang menyediakan telinga.

Dan terakhir... Jazakillah khairan katsiraa.. 

Thursday, July 5, 2018

Dari Kacamataku

July 05, 2018 0 Comments
Bismillah.

#untuk sahabat #untukmu ukhti

Qadarullah, digerakkan hatiku, jemariku untuk mengetik alamat yang sudah kuhafal itu. Kubaca tulisannya, satu, dua, tiga. Tempat itu selalu jadi tempat ia mencurahkan sedikit perasaannya, sedikit pikirannya, ia tahu tempat itu sepi lalu lalang.

Jujur... lebih mudah rasanya melihat dan memaknai tulisannya dari kacamataku, sulit, tidak mudah membaca dan memaknai tulisannya dari kacamatanya. I don't know how it feels to be herself. Aku tak tahu rasanya menjadi ia, kesedihannya, kerisauannya. Tapi aku cuma bisa membaca saja, dan menulis ini di sini. Ingin aku memeluknya, duduk di sampingnya, jadi temannya berdiskusi. Ingin kunyatakan pada dia, ia baik, ia sungguh seorang perempuan, istri, calon ibu yang baik. Aku tidak ingin ia merasa ia tidak cukup baik, kemudian ia jadi membenci dirinya. Aku ingin mengatakan padanya, bahwa wajar ia merasakan sedih, wajar ia menginginkan sesuatu, wajar ia ingin mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Bahkan tidak ada yang salah, merasa tidak nyaman atas kondisi yang tidak sesuai suhu 'ideal' baginya.

Aku tahu... ia hanya sedang butuh waktu untuk merenung dan menguatkan diri. Aku tahu kesedihannya akan segera pergi, seiring ia mendekat lagi pada Rabbnya, seiring doa-doanya ia lantunkan lirih di siang dan malam hari. Aku tahu... ia akan belajar untuk menjadi lebih baik, meski sekarang ia sudah seorang perempuan, istri dan calon ibu yang baik. Aku tahu.. sungguh aku tahu... ujian yang ia rasakan saat ini, akan menjadikannya hamba Allah yang lebih dicintai, imannya akan naik, serta kedudukannya dihadapan Yang Maha Esa juga akan naik.

***

Aku... aku mungkin cuma bisa membaca dan memaknai dari kacamataku. Sehingga mudah bagiku menulis ini. Tapi.. sungguh, meski ia mungkin tidak membaca ini. Aku ingin ia tahu.. bahwa ia kuat dan pasti mampu melaluinya.

You're stronger.. especially cause Allah has choose you to become a muslimah.
You're precious.. you're a good person, a good wife, and will be a good mother too in syaa Allah.

Salam rindu, dari sobatmu, yang sering memmilih menulis di sini, ketimbang menjalin komunikasi dan menghibur secara langsung.

Aku akan cari ide, agar bisa mengirimkan hiburan untukmu. Mungkin bukan dengan mengirimkan link tulisan ini. Tapi minimal, dengan doa.


Semoga Allah menguatkanmu, melindungimu, menjagamu, menghapus setiap kesedihan dan menggantinya dengan ketenangan. Aamiin.

pembaca tulisan-tulisanmu,
_kirei

Saturday, March 31, 2018

Tidak Ada Salahnya Menunggu

March 31, 2018 0 Comments
Bismillah.

Pernah aku bertanya-tanya, tentang jarak yang terbentang. Komunikasi yang sunyi. Awalnya kubiarkan diriku berisik sendiri. Karena aku sebenarnya tidak mengapa, jika ia lebih suka diam. Biasanya memang begitu, aku bicara ia diam. Tapi jujur saat itu... diamnya terlalu lama, dan jarak yang terbentang seolah semakin bersekat-sekat. Pagar itu meninggi saja. Kini bukan saja tentang jarak tapi juga halangan.

Pernah aku bertanya-tanya, apakah berisikku mengganggunya? Maka kukurangi frekuensiku bersuara. Bukan aku ikut menjauh, sungguh bukan. Aku hanya takut ia terluka oleh suara parauku.

***


Tidak ada salahnya menunggu. Sepi ini, jarak ini, bahkan pagar-pagar ini, kelak akan sirna jika aku mau menunggu. Tentu bukan menunggu matahari terbit di sebelah barat. Namun menunggu, sembari terus mengisi waktu menunggu dengan mengufukkan untaian kalimat indah dalam hati. Setidaknya, parauku tidak membuatnya menutup telinga.

Tidak ada salahnya menunggu. Lihatlah, kemarin...setelah puluhan hari ia lewati dalam bungkam, ia akhirnya bersuara. Kalimatnya lirih, tak panjang, namun tidak bisa disebut singkat.

Tidak ada salahnya menunggu.

***

Menulis ini sembari tersenyum karena ia telah meluruhkan pagar penghalangnya. Jaraknya masih ada. Sunyi juga masih dominan menghias suasana. Namun ia sudah bersuara lagi, dalam barisan kata, tak singkat namun juga jauh dari panjang.

Tidak ada salahnya menunggu. Bila lewat menunggu kutemukan indahnya saat ini. Saat aku terlambat membaca pesanmu. Pesan yang kunanti satu bulan lamanya.

***

Tidak ada salahnya menunggu. Lagi.

***

PS: Tentang seorang ukhti nan jauh di mata