Follow Me

Friday, October 23, 2015

Perempuan-perempuan Tangguh

Bismillah.

komunikasi yang pas, tak lebih dan tak kurang

"Mengertilah, mereka perempuan tangguh tetap saja membutuhkan engkau, adam." -fatimahkurniawan[tumblr]

***

Ga ingin banyak basa-basi. Oh ya, ini fokusnya bukan tentang perempuan yang membutuhkan laki-laki dalam bingkai penikahan. Soalnya kalau dalam hal itu, in syaa Allah udah pada setuju kan? Memang kenyataannya Allah menciptakan kita (baca: perempuan) adalah sebagai pasangan kaum adam.

Ini tentang pembagian tugas di organisasi, unit, atau komunitas. Ingin mengingatkan saja, mari jangan melupakan fitrah.

Di satu sisi, untuk akhawat. Salut buat akhawat tangguh yang bisa melakukan banyak hal dalam kepanitiaan misalnya. Mulai dari nulis surat peminjaman, bolak-balik ke LK buat pinjem ruangan, bikin sususan acara, sampai angkat-angkat logistik yang diperluin pas acara (misal karpet, soundsystem, dsb). Ya, memang kalian perempuan tangguh, namun bukan berarti kalian bisa melakukan semua hal. Jangan melupakan fitrah, ada saatnya kalian perlu buang gengsi untuk minta bantuan ikhwan. Jangan sampai melakukan semua hal, eh dibelakang misuh-misuh karena ikhwan pada ga sensitif. Hehehe.

Di sisi lain, untuk ikhwan. Saran aja, kalau ada akhawat yang mau bantu satu hal, jangan tiba-tiba minta bantuan hampir semua hal ke akhawat. Mohon diperhatikan juga kondisi fitrah akhawat. Misal, ada akhawat yang ga masalah mau ditugasin jadi kadiv humas yang harus kontak sana-sini kontak banyak orang 'asing', tapi ada juga akhawat yang ngerasa ga nyaman harus bolak-balik kontak laki-laki 'asing' non-mahram/ajnabi. Atau contoh lain kalau misal liat akhawat ikut angkat-angkat apa gitu, jangan diem aja, tanyain atau justru ambil alih aja. Soalnya ada akhawat yang "yaudah biasa aja sih cuma angkat dua karpet dari gedung A ke gedung B," tapi ada juga akhawat yang diem tapi dalam hati misuh-misuh karena ikhwan ga ada yang sensitif. Hehe.

Semacam hal itu lah. Perempuan tangguh juga ada batasnya, seperti fitrahnya setangguh apapun ia, ia tetap seorang perempuan. Untuk organisasi, unit, dan komunitas, mau ga mau komunikasi jadi satu-satunya jalan supaya dua kaum ini bisa saling kerjasama . Ada hal-hal yang harus dikomunikasikan secara langsung maupun tidak langsung. Terkadang ada akhawat yang pengennya tanpa komunikasi, entah gimana caranya tiba-tiba ikhwan ngerti aja. Padahal ikhwan memang didesain kurang peka jika dibandingkan dengan akhawat. Mending dikomunikasikan kalau kita keberatan/ga bisa untuk melakukan salah satu tugas misalnya.

Bukan hal mudah memang menjaga komunikasi antar adam-hawa agar "sehat", tak lebih dan tak kurang. Perlu ada peraturan untuk membatasinya, namun jangan sampai peraturan membuat komunikasi terhambat. Susah-susah gampang memang, saya pribadi masih harus belajar untuk yang satu ini.

***

Terakhir, maaf jadi panjang ya? Hehe. Poinnya masih sama seperti di kutipan awal. Mari saling menyadari dan mengingat fitrah masing-masing. Baik akhwat maupun ikhwan, mari sadari.. Bahkan seorang perempuan tangguh pun pasti masih membutuhkan laki-laki.


Allahua'lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya