Follow Me

Showing posts with label ukhuwah. Show all posts
Showing posts with label ukhuwah. Show all posts

Thursday, November 28, 2019

Answered

November 28, 2019 0 Comments
Bismillah.



Masih nyambung tulisan sebelumnya, tentang judul pertama blog ini sebelum berganti menjadi better word. I said I was looking for a genuine friends, and it is answered by Allah with his best plan.

***

Sebenarnya aku berniat menulis tentang ini 21 Oktober lalu, saat mataku terbuka dan aku merasakan lagi betapa indahnya nikmat diberi sahabat baik oleh Allah. Meskipun tertunda sebulan, izinkan aku tetap menuliskannya di sini. Barangkali suatu saat aku lupa (lagi) tentang nikmat ini. 

Aku sebelumnya mencari teman sejati, begitu yang kutulis dalam bahasa inggris, genuine friends, teman yang tulus, teman yang sebenarnya. Bukan teman yang memakai topeng, terlihat 'cantik dan tersenyum' di depan kita, di belakang beda wajah. Aku mencari sahabat yang baik, yang menggandeng tanganku menyusuri jalan kebaikan. Bukan sosok yang membawa pisau, dan tanpa sadar menciptakan goresan setiap kali kami berinteraksi. Perjalanan pencarian ini tidak mudah, terutama karena sebelumnya aku pernah mengecap pahitnya bertemu teman yang meremas kertas kepercayaan. Tanpa sadar, aku sendiri yang menciptakan sekat-sekat, pagar-pagar, hingga banyak yang mungkin merasa sulit mendekat. Atau mungkin merasa dekat, tapi aku sebaliknya. Bukan salah mereka, tapi karena aku.

Aku mulai memaknai kata ukhuwah islamiyah sejak lulus SMA, pernah menuliskannya juga di sini.


Pandanganku jadi lebih luas, kalau aku kira mencari teman sejati itu hampir tidak mungkin, setelah mencicipi manisnya pertemanan yang terjalin karena iman, semuanya jadi terasa lebih mudah.

Sampai ada momen saat aku menghilang dari peredaran, masa saat aku mundur dari segi kualitas diri. Aku kemudian kembali meragu, adakah yang mau menerimaku, setelah apa yang terjadi? Karena aku bukan lagi aku yang dulu, aku... banyak mengalami degradasi, baik dari segi mindset, iman, dll. Dan Allah menjawabnya, menjawab pertanyaanku, lewat begitu banyak ayat, tanda, dan hujan nikmat yang seringkali lupa aku syukuri. Dan akhir oktober kemarin, Allah membuka lagi mataku.

See? You found that genuine friends you're always looking for. Hubungan dengan mereka mungkin sesekali renggang, karena imanku yang koyak, tapi mereka ada. Aku yang sering lupa. Aku yang sering bertanya pertanyaan yang salah.

Saat itu, aku memutuskan untuk menuliskannya. Aku takut aku lupa lagi. Dan qadarullah, baru hari ini aku mewujudkannya dalam rangkaian kata.

I look back and lost count, how many genuine friends Allah has given me. Perempuan-perempuan shalihah yang hatinya lembut, dengan berbagai perbedaan karakter, dengan ribuan detik memori bersama mereka. Alhamdulillah alhamdulillah...

Bahkan saat ini, saat banyak yang bilang, nemu temen pascakampus itu sulit, Allah bahkan menyediakannya untukku. Padahal kalau dipikir secara logis, kayanya sulit dapetnya, secara sekarang mobilitasku terbatas dan 'sambungan' komunikasiku yang lebih sering 'putus-putus'. Tapi nyatanya, nikmat itu mengalir. Dari yang jauh, juga yang dekat. Dengan sahabat-sahabat yang rindu ingin saling bertemu, juga teman-teman yang rutin duduk bersama.

Semoga nikmat ini tidak berhenti di dunia saja, tapi sampai kelak di akhirat. Semoga Allah meridhai kita masuk surga, duduk di dipan-dipan sembari bertukar kata, bercerita tentang bagaimana jalinan ukhuwah tercipta dan pasang surut seiring iman kita. Bercerita bagaimana kehadiran masing-masing menjadi pengingat akan haqq dan kesebaran. Aamiin. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Allahua'lam.


Thursday, October 10, 2019

Unnoticed

October 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

I thought it'd be unnoticed.

***

Aku kira tidak ada yang sadar. Toh hanya beberapa hari. Aku pikir tidak akan ada yang mencariku.

Tapi Allah menuliskan skenario indah, yang mengingatkanku lagi pada indahnya persahabatan karena Allah.

3 Oktober. Seorang ukhti mengirim pesan. Bertanya kabar. Satu, dua, sampai lima hari berlalu. Tapi pesannya masih centang satu. Artinya pesan itu bahkan belum masuk ke kotak pesanku.

7 Oktober. Ia bertanya di grup, barangkali ada yang memiliki nomer hpku yang lain. Barangkali aku ganti nomer hp dan ia tidak tahu. Ternyata yang lain pun hanya memiliki satu nomer hpku. Ya, nomer yang itu, yang belakangnya 193.

Atas izinnya, siang itu aku menyalakan kembali hpku, setelah beberapa hari sengaja dimatikan karena beberapa alasan.

Malamnya, kubaca pesannya, kubalas dengan perasaan senang karena terhubung kembali dengannya.

Ia menceritakan padaku kepanikannya, kekhawatirannya, karena beberapa hari berlalu dan pesan yang ia kirim untukku masih centang satu. Aku ikut terharu membacanya, karena aku kira tidak akan ada yang menyadari. But she knows. I thought nobody would notice, but she noticed it.  Somehow.

Lalu obrolan mengalir. Dan dari percakapan itu aku baru tahu, bahwa sekitar tiga bulan yang lalu ibunya berpulang ke rahmatullah. Setelah lama berjuang dalam fisik yang sakit. Seketika itu hatiku ikut sakit sekaligus malu. Seharusnya aku tahu kabar itu lebih cepat, seharusnya aku lebih inisiatif untuk menjalin silaturahim.

Ia bercerita lagi, tentang kesulitannya saat itu. Rasanya, begitu banyak kejadian dalam waktu itu. Ia yang berkali-kali izin cuti karena mengantar ibunya bolak-balik ke rumah sakit. Rekan kerja yang mengira ia mangkir, karena alasan ia pergi "itu-itu saja". Ia yang hampir resign, karena hari H saat ibunya menghadap Allah, ia begitu panik dan segera meluncur ke Cirebon tanpa banyak persiapan. Bahkan hp, hpnya tertinggal dan tidak terbawa.

Aku bertanya padanya, trus sekarang gimana? Udah clear kan di tempat kerja? Aku membayangkan ia mengangguk sembari membaca balasan pesannya. Malam itu ia baru pulang kerja, pasti ia lelah, ingin kutepuk pundaknya pelan. You've gone through it. You've done it. Kamu sudah melaluinya dengan baik. Allah akan menghadiahkan padamu ganjaran atas setiap ujian yang berhasil kau lalui. Entah berupa gugurnya dosa-dosa atau bertambahnya pahala dan juga naiknya derajatmu di mata-Nya.

Percakapan malam itu diakhiri dengan kalimat yang membuatku tersenyum tipis,
"Kalau mau main Bandung, berkabar ya ..."
Kalimatnya diakhiri dengan emoticon mata berkaca-kaca. Aku menjawab singkat, "Siap in syaa Allah".



Dalam hati aku berdoa, semoga kelak Allah mengizinkan kita bertemu lagi, di Bandung, kota tempat kita bertemu dulu. Atau di belahan bumi manapun. 

Semoga Allah melindungi, semoga Allah menaungi hidupmu dalam keberkahan. Barakallahu fik.

Allahua'lam.

Saturday, February 16, 2019

Mengirim Doa Untukmu

February 16, 2019 0 Comments
Bismillah.
#untukmuukhti

Mengirim doa untukmu, yang hari ini mengikrarkan mitsaqan ghalizan. Tulisan ini dari seorang teman, sahabat, saudari, yang tidak bisa hadir menyaksikan hari bahagiamu.

***

Satu Februari yang lalu, sebuah pesan masuk. Undangan darimu, diawali sapaan hangat.

"Assalamu'alaikum beel sehat? *emot senyum dengan mata tertutup dan pipi merona merah*"

"Domisili masih di Bandung kah sekarang?"

"<undangan>"

"Bel mohon do'anya yaa mudah-mudahan kita bisa silaturrahim lagi. *emot senyum yang sama* *emot tangan ber-highfive*"

***

Aku membaca pesannya tiga jam kemudian. Pesan itu, menerbangkan otakku ke masa lalu sejenak. Kenangan tentangmu.

Orang lain mungkin tak banyak yang tahu, tapi aku dan kamu, punya memori yang membuat sosokmu istimewa di hidupku.

Saat itu kita masih sama-masa mahasiswa baru, bukan baru juga sih, sudah memasuki semester dua. Aku pernah mengutarakan keresahanku, di bangku Taman Ganesha versi dulu.. taman ganesha sebelum renovasi. Tentang keputusanku untuk membedakan diri, keputusanku untuk berhenti melingkar. Aku ingat, aku menangis banyak. Dan kamu menghiburku.

bukan Taman Ganesha hehe J
(Taman di dalem SMKN1 Purwokerto, dokumentasi pribadi) 

Apakah kamu ingat? Atau bisa saja aku saja yang mengingatnya, karena setiap orang menyimpan memori sebuah kejadian berbeda-beda.

Sejak itu sepertinya, kamu jadi sering ngajak ngaji. Aku jadi kenal salah satu yayasan islam di bandung, *aku lupa namanya tapi. Hehe. Aku ingat kamu yang menyediakan kendaraan, dan aku yang selalu nebeng, berangkat dan pulang diantar. Meski hujan, badai hahaha. *lebay hehe.

***
Sebenarnya, kalau boleh jujur, aku pernah melupakanmu. Saat itu aku sibuk jatuh bangun sendiri. Lalu aku pindah domisili, tapi lupa pamit padamu. Dan pesanmu itu... jadi kunci pembuka, aku mengingatmu lagi. Alhamdulillah.

Maaf belum bisa jadi teman yang baik. Terimakasih karena kamu sudah sangat baik menjadi teman, sahabat dan saudari. Terima kasih, karena sering ngajak ngaji, di cisitu, di asia afrika, di mana lagi ya? Seringnya di dua tempat itu. Lewatmu aku jadi mengenal teman-teman baru, orang-orang yang mungkin kalau ga lewat kamu, ga akan ku kenal. Juga guru-guru yang memberikan pandangan lebih luas, Bu Tri, Pak Sam... *semoga memoriku atas nama beliau ga salah, i'm bad at memorizing people's name.

***
Terakhir, sebelum tulisan ini jadi belok arah. Sebaiknya langsung kusampaikan yang utama.

Barakallahulaka wabaraka 'alaika wajama'a bainakuma fi khair.

Kukirimkan doa ini untukmu, akhawat shalihah bernama Yulia Mulyatini (:

dari yang rindu ingin jumpa,
^kirei~

***

PS: Semoga aku berani mengirim link tulisan ini padamu.

Monday, December 31, 2018

Tersambung

December 31, 2018 0 Comments
Bismillah.

from unsplash

Selalu takjub, saat Allah menuliskan skenario bagaimana kita bisa tersambung dengan orang baru dan orang lama. Saat tanpa sengaja aku sudah membaca pesan di sebuah grup yang beberapa detik kemudian dihapus oleh penulisnya. Kemudian Allah menggerakkan hatiku untuk japri dan bertanya. Padahal aku tidak mengenal sosoknya, hanya sebuah nama familiar di grup besar. Kemudian saat bertukar kalimat, jadi tahu sedikit demi sedikit kesamaan antara aku dan orang baru tersebut. Seolah Allah ingin menunjukkan padaku, kamu bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran jika tersambung dengan orang ini. Atau ketika kawan lama menyapa, awalnya basa-basi, kemudian berlanjut menjadi obrolan serius dan santai. Ia yang berkata, tidak punya banyak teman ngobrol terkait topik tertentu, dan aku.. yang merasa senang, ada teman diskusi.

Selalu takjub, bagaimana Allah menyambungkan yang tadinya jauh, meramaikan komunikasi yang tadinya hening. Mungkin Allah sedang mengabulkan doa salah satunya, yang sedang membutuhkan orang lain untuk bertukar pikiran. Atau mungkin meski tidak ada yang berdoa, Allah siapkan mereka untuk bersambung di waktu tertentu, yang itu bisa menjadi jalan mendekat padaNya, bentuk untuk tidak menjadi manusia yang merugi. Saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Selalu takjub. Ma syaa Allah. Sungguh rencanaNya, takdirNya, selalu untuk kebaikan hambaNya. Hanya saja kita, seringkali justru salah mengambil kesimpulan, karena terburu-buru dan mengiyakan prasangka buruk. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu dapat mengambil hikmah dari takdirNya, serta berprasangka baik pada rencanaNya. Aamiin.

Allahua'lam.

***

PS: Aku salah. Aku kira aku hari ini tidak bisa menulis di sini. Ternyata Allah berkehendak lain. Untuk yang tanpa sengaja baca ini, have a nice day~ Semoga harimu dipenuhi keberkahan. ^^

PSS: Ini tentang dua ukhti, CAW dan ANP, Just incase someone read it the wrong way.

Thursday, November 22, 2018

Menutup Aib Saudara

November 22, 2018 0 Comments
Bismillah.
#selftalk

Dalam buku Mizanul Muslim, bab Mizanul Ukhuwah, dituliskan bahwa salah satu hak saudara seiman adalah ditutupi aibnya. Kesalahan yang ia lakukan dan kita mengetahuinya, dosa yang ia perbuat dan kita mengetahuinya... kita berkewajiban menutupnya.

Masih di bab Mizanul Ukhuwah, tentang perintah membantu saudara yang zalim dan terzalimi. Membantu saudara yang zhalim caranya dengan mencegahnya dari perbuatan zhalim.

Juga dari Forum Feminitas Bunda, tulisan Bang Adriano Rusfi (Bang Aad), bagaimana empati harus terkendali agar tidak berhenti sebagai bahan diskusi apalagi na'udzubillah sampai jatuh di ghibah.

***


Aku bertanya-tanya...... apakah aku sudah melakukan kewajiban menutup aib saudara? Apa aku bisa membantu teman yang zhalim dan terzhalimi? apa aku bisa mengendalikan empati, agar hal itu tidak menjadi sekedar diskusi, dan terjatuh di ghibah?

Aku bertanya-tanya...... apa lebih baik aku tutup mata? Dan diam saja? Sementara aku melihat bahwa seseorang di sana membutuhkan bantuan? Sedangkan aku,... rasanya tidak bisa membantu sama sekali.

Aku bertanya-tanya.... kalau ini, salah satu hal, yang bisa memperberat bekalku, aku ingin berusaha membantu meski hanya sedikit. Tapi jika ini... justru menjadi beban yang memberati langkahku, dan keberadaanku justru memperburuk situasi, apakah lebih baik aku berhenti dan berbalik? 

***

Untukku. Doa bell.. doa.. Allah mendengarkanmu. Allah selalu mendengarmu.

Allahua'lam.

Friday, August 24, 2018

Teman yang Datang Saat Butuh Saja

August 24, 2018 0 Comments
Bismillah.

Siang ini aku membutuh bantuan seseorang untuk satu kalimat bahasa arab sederhana, yang aku tidak yakin penulisannya. Aku mendengarnya dari ceramah, bagian al qalam tertangkap di telinga, kemudian diberitahukan artinya,  "the pen has been lifted." 

Karena penasaran, dan aku tidak punya kelebihan di bahasa arab, aku mulai memikirkan beberapa nama yang bisa aku ajukan pertanyaan. Apa bahasa arabnya the pen has been lifted. Terlintas beberapa nama, ada kakak tingkat, tapi rasanya sungkan, lama tidak menyapa tiba-tiba tanya. Lalu terlintas seorang ukhti, yang pernah jadi roomate waktu matrikulasi. Ukhti yang kutahu sering membaca buku full bahasa arab dan mempelajarinya.

Kubuka  whatsapp, kubaca sebagian percakapan di sana. Dan ternyata... sebelumnya aku chat ukhti tersebut untuk tanya kontak orang lain. Jadi aku mulai merasa,.. aku kok jadi kaya temen yang datang kalau butuh saja ya? 

Ragu memang untuk bertanya. Apalagi setelah pemikiran itu hinggap. Jujur merasa bersalah, apakah aku cuma teman yang datang saat butuh saja? Tapi alhamdulillah, karena hari ini hari Jumat (apa hubungannya?), aku mencoba mengingatkan diriku. Aku memang mengingatnya, saat aku membutuhkan bantuan, bertanya bahasa arabnya pena yang telah tefangkat. Terus kenapa? Tinggal diperbaiki saja niatnya, siapa tahu, lewat pertanyaan sederhana ini bisa jadi penyambung silaturahim. Ya kan?


Akhirnya aku bertanya padanya, ia menjawab, ia screen shoot salah satu buku full bahasa arabnya. Diedit agar aku melihat bagian yang tertulis bahasa arabnya "the pen has been lifted". Lalu percakapan bergulir. I made a confession. Cuma ingin jujur aja padanya. tentang perasaan bersalah, saat aku pernah mengatakan ingin memenuhi undangannya, ternyata.. qadarullah tidak jadi hadir. Ia menjawab, "santaii aja hehe". Emang nih Bella suka terlalu serius, padahal orang lain juga biasa aja. 
iih santay aja bellaaaa hihi, santai aja kok ida maaah hehehe - Nurfaizatus Saidah
***

Urusan persahabatan merupakan titik sensitifku. Kadang merasa bersalah sendiri, karena komunikasi yang sepi. Apalagi kalau mengingat masa-masa aku menghilang dari peredaran. Rasanya, banyak orang yang aku zalimi, karena saat itu aku hampir tidak bisa dikontak. Sekarang, meski sudah keluar dari "gua persembunyian", rasa bersalahnya masih ada. Alhamdulillahnya, setiap aku minta maaf atas komunikasiku yang buruk, atas pesan yang tak terbalas, undangan yang tak terpenuhi atau pertanyaan yang tak terjawab, mayoritas jawabannya. "Gapapa kok (: Santai aja." Jawaban sederhana itu, sesuatu bagiku. They might not know, but those kind of answer has lifted some of my burden. 

***

The pen has been lifted dalam bahasa arab itu.. (رفع القلم) dibacanya rufi'ul qalam

Terakhir, kejadian ini, pun tulisan ini yang nanti akan dipublish di blog betterword, juga sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Sudah di angkat penanya, dan sudah kering tintanya. (': Betapa indah rencanaNya. 

Allahua'lam. 

Tuesday, July 31, 2018

Skenario Allah

July 31, 2018 0 Comments
Bismillah.

Aku selalu merasa takjub tentang silaturahim, komunikasi yang terjalin atas takdirNya. Aku paham dan tahu betul kekurangan diriku, aku.. yang jarang buka sosmed, jadi banyak ga update kabar teman, adik atau kakak yang pernah hadir di hari-hariku. Aku.. yang jarang memulai komunikasi terlebih dahulu. Tapi Allah, seringkali membuat skenario indah bagaimana komunikasi itu terjalin, silaturahim tersambung dan kami jadi saling mengaminkan doa baik untuk masing-masing. 

Seperti saat teman SDku, yang sekarang berdomisili di Bandung bertanya padaku, tentang tempat membeli sayur organik di Bandung. Aku, jadi tanya ke banyak orang, tanpa basa-basi apa kabar, langsung aja ke pertanyaan inti. 

Seorang kakak tingkat, yang pernah menjadi pembina asrama menjawab kalimat doa, "Bella, semoga kabar baik ya dirimu beserta keluarga..." kemudian memberitahuku bahwa ia juga tidak tahu dimana tempat membeli sayur organik selain di supermarket. 

Aku membaca kalimat itu mengamini, baru kemudian bertanya kabar Mba yang tegas, dan kalau diajak salaman pasti adu kekuatan cengkraman tangan hehehe. Kalau biasanya aku benci basa-basi, kali ini pertanyaan apa kabar jadi lebih ringan, karena doa baik yang ia lantunkan membuatku ingin mengetahui kabarnya. Percakapan berlanjut ini itu.. tidak lama, tapi juga tidak bisa disebut singkat.

***

Foto yang ia kirim cukup menjadi pengobat rindu. Aku mungkin bukan orang yang biasa kepo kabar teman via sosmed, ga update apakah si A sudah menikah, punya momongan, atau tinggal dimana. Tapi Allah, lewat skenarionya seolah ingin menunjukkan padaku. Kamu bisa bertanya langsung, tanpa sungkan. Seperti orang lain yang bisa bertanya langsung padaku, tanpa sungkan. Rasanya, lebih hangat dan lebih akrab bertukar kabar langsung, dan bukan dari sosial media. *atau itu cuma perasaanku aja?

Anyway, lewat tulisan ini. aku ingin mengungkapkan perasaan takjub. Alhamdulillah, atas setiap skenario Allah. Hal-hal kecil semacam ini, cukup untuk membuatku merasakan keindahan iman dan islam, keindahan hubungan dan relasi yang disandarkan pada iman. Aku mungkin memang tidak suka dan sering kesulitan basa-basi, sering pula membuat komunikasi kering, tapi lewat skenario indah Allah, semua kelemahan itu tertutup dan teratasi.

Aku yang ambivert aja, bisa merasakan seperti ini. Apalagi yang introvert ya? Hehe. Mungkin lebih kerasa lagi, bagaimana Allah memberikan skenario, bahwa menjadi introvert tidak selalu berarti sendiri, dan berdiam diri. Justru mungkin menjadi introvert artinya diberikan kesempatan untuk banyak menjadi pendengar teman-teman yang ekstrovert.

Allahua'lam. 

Wednesday, June 27, 2018

Nothing Last Forever

June 27, 2018 0 Comments
Bismillah.

Masih terinspirasi dari serial dunia hujan di blog-nya Teh Mentari Pagi.

Membaca serial tulisan pendek itu.. membuatku ingin menulis ini. Nothing last forever. Whatever it is. Termasuk relationship. I don't mean, we must give up and end the relationship we cherish because one conflict. Aku cuma ingin menuliskan, bahwa kita tetap harus menyadari bahwa ga ada yang abadi. Bahkan ibu dan anak, saling menghindar di hari dimana semua orang sibuk memikirkan diri sendiri. 

***

Itu yang pertama, nothing last forever. Yang kedua.. saat sebuah hubungan layu, apa kita harus berhenti menyiraminya? Aku pernah blogwalking, yang aku komentari dengan kesensian diri.

Saat ada yang salah, hubungan kita dengan manusia, entah itu sahabat, orangtua atau bahkan kekasih, pertanyaan pertamanya harus sama dan ditujukan ke diri, bagaimana hubungan kita dengan Allah?

Karena saat kita melukai orang lain, kita salah mengucapkan kalimat berduri, artinya ada yang salah di diri kita. Ukhuwah itu buah iman, saat ukhuwah kering dan radang, apa kabar iman kita? Bukan berarti kita melupakan inti permasalahannya, tapi sebelum beranjak ke teknis penyebab semua itu layu, kita perlu melihat dulu ke dalam diri kita. 

Lalu sembari memperbaiki iman kita, kita jalani juga usaha untuk memekarkan lagi hubungan yang layu. Bagaimana caranya? Lewat doa. Lewat membuka pintu komunikasi. Lewat memberikan hadiah kecil. Terus saja begitu.. tekniknya ada banyak. Kita coba satu persatu. 

Seperti tanaman yang layu, kita coba sirami, kita coba cabuti gulma, kasih pupuk, berikan sinar mentari pagi. Sambil doa juga.. 

Yang menggerakkan hati itu Allah. Diam dan jarak itu mungkin akan lama kita rasakan. Sedih, iya. Tapi kalau kita berusaha memperbaiki diri, mencoba memperbaiki komunikasi, serta sering-sering melangitkan doa untuknya. Suatu saat Allah akan memekarkan lagi hubungan itu. Atau kalaupun tidak mekar di dunia, bukankah.. sama-sama reuni di Jannah itu cukup? Itu bahkan lebih penting, ketimbang mekar dan berbuah hanya di dunia. 

Allahua'lam 

***

PS:

Aku pernah tahu rasanya... saat hujan dan samudra tidak pernah bertemu. Saat itu hujan sedang sakit, samudra.. entahlah, mungkin jauh lebih sehat. 

Aku pernah jadi yang melukai, pernah juga yang terluka. Tapi lepas dari semua luka itu... aku merasa... doa dari teman-teman berhati tulus lah, yang membuatku mampu mengeratkan lagi ukhuwah yang pernah putus. 

Atau jika itu tentang justru ikatan yang tak bisa putus.. tapi karena terlalu erat justru melukai. Aku juga masih belajar, bagaimana agar tidak menjadi yang melukai, dan tidak terlalu sensitif dan selalu merasa dilukai. 

Ah.. tiga paragraf ini mungkin sebaiknya tidak perlu ditulis. Sok tahu, sok abstrak. Di hide aja ya hehe. 

Tuesday, May 1, 2018

Pertanyaannya, Jawabanku

May 01, 2018 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Seseorang, bertanya padaku. Singkat, jelas.
Aku menjawab padanya, panjang kemana-mana.



***

Satu hari setelah itu. I feel like I didn't answer her question nicely. Ia bertanya tentang x, namun kuberikan padanya persamaan x kuadrat.

Yang ditanyakan adalah tentang X. Tapi aku justru menjawab tentang diriku. Aku memang menyinggung tentang x di jawabanku, tapi lebih banyak hal tentang diriku yang kugarisbawahi.

***

Belum ada respon lagi. Dan aku bertanya-tanya sendiri. Mungkin baiknya tak perlu kujelaskan ke sana kemari. Pertanyaan seseorang itu cuma satu padahal,

'Bella masih suka kontak x?'

Selesai.

***

Kadang aku dibuat bertanya-tanya. Sebenarnya, benarkah aku sedang berusaha menjadi teman yang baik bagi x? Atau aku sedang berusaha membangun topeng, agar dikenal sebagai teman yang baik?

***

Pada akhirnya, aku cuma perlu fokus ke usaha dan doa. Mungkin saat pertanyaan itu hadir lagi, aku ga perlu jawab. Atau boleh jawab, singkat saja, ga perlu sampai menjabarkan persamaan x kuadrat.

Pada akhirnya, aku cuma perlu fokus usaha dan doa. Ini mungkin ketulusan, mungkin juga kepalsuan. Mungkin tercampur dan berganti-ganti tiap waktu. Aku tidak tahu. Seperti amal, yang terkadang niatnya bengkok. Jika bengkok, jika ini kepalsuan, bukan amal yang harus dihentikan, bukan usaha yang harus diberhentikan. Tapi niat yang harus diluruskan. Ya, niat, yang tak terlihat dan letaknya di hati.

***

Jika ini hanya kepalsuan, topengku agar tampak seperti teman yang baik, semoga Allah menggerakkan hatiku, membersihkan hatiku, agar kepalsuan itu hilang, dan tergantikan dengan ketulusan. Aamiin. 

Allahua'lam. 

Monday, April 2, 2018

Removed

April 02, 2018 0 Comments
Bismillah.
#curhatsemua
-Muhasabah Diri-

Baru pernah rasanya, se-emosional ini, atau sebenarnya sering ya? Hehe. Sering mungkin, wong dasarnya saya sensian kok. J

Pagi ini, ada lima puluh notifikasi di aplikasi messaging. Ku buka satu persatu, ada yang kuabaikan pesannya, hanya menghapus notif tanpa membaca. Ada yang kutelusuri baris perbaris scanning. Sampai aku terhenti di sebuah grup. Admin grup Z removed you. Seketika mataku panas.

Awalnya ingin reaktif, langsung tulis di sini, semua unek-unek dan perasaan yang betubi-tubi memenuhi dada, juga tentang memori yang mengalir memenuhi otak. Dan air mata yang tidak bisa terbendung. Namun ada yang menahan, tidak bijak saja rasanya terlalu reaktif. Meski jujur, aku sebenarnya mempertanyakan tulisan ini, ini reaktif atau bukan? Kan ada jeda? Hehe. Meski jedanya sekitar 30 menit saja.

***

Kukirimkan pesan pada Admin grup Z, kuungkapkan perasaan sedihku, bertanya juga, kok di removed. Kulanjut juga, dengan kalimat, memang benar aku sudah tidak aktif berkontribusi di grup tersebut. Lalu kuucapkan, kalau memang ini yang terbaik, gapapa. Toh silaturahim tetap bisa terjalin meski sudah bukan anggota grup. Mengingat pengalaman dulu.

They might not know, even if physically I contribute nothing, I still read almost every messages from that group. I still write about Z here. I still longing to contribute and active again in Z.

Dan kejadian pagi ini seolah menghantam perasaanku. Rasanya? Seperti dilupakan. Bertahun perjuangan di sana, seolah luruh saja. Tapi memang aku ga banyak kontribusi, jadi mungkin lebih baik begini. Lebih baik begini, itu yang ingin kuucapkan dan kutuliskan sekarang. Agar ga makin sensi hehe. Agar ga dilebih-lebihkan. Agar air mata segera mengering.

***

Terakhir, agar tulisan ini ga curhat semua. Aku sisipkan kutipan dari buku Revive Your Heart, Nouman Ali Khan,
"But at the end of the day, we are in this world alone. We came alone, and we are going to leave alone. And in that solitude, if you don't find a connection with Allah, then all these fake connections that you and I have, that are not really based on a relationship with Allah, they will all disappear. They will not last. The facade will dissipate eventually, if not in this life then in the next."
Semoga jalinan dan ikatan di Z bukan sekedar karena kesamaan kegiatan, atau karena naungan yang sama di organisasi, tapi juga karena landasan iman. Sungguh, ukhuwah itu bukan diukur dari intensitas interaksi, juga bukan dari apakah masuk satu grup messaging atau tidak. Sungguh, ukhuwah bukan sekedar itu. Ukhuwah yang dilandaskan iman, jauh lebih pekat dari ikatan sedarah. Pembuktiannya bukan di dunia, bukan di grup hehe, tapi nanti di akhirat.

Izinkan aku, melalui tulisan ini, merelakan kepergianku dari grup tersebut setelah di remove. Semoga silaturahim tetap terjalin, lewat doa, lewat berbaik sangka, lewat salam, dan juga lewat perbaikan iman pada diriku terutama.

Maaf, atas kekurangan diri sebagai anggota yang pasif di grup Z. Maaf... atas kesalahan yang mungkin pernah tertoreh di hati anggota yang lain. I miss you all, and will keep missing you^^


Allahua'lam.

Saturday, March 31, 2018

Tidak Ada Salahnya Menunggu

March 31, 2018 0 Comments
Bismillah.

Pernah aku bertanya-tanya, tentang jarak yang terbentang. Komunikasi yang sunyi. Awalnya kubiarkan diriku berisik sendiri. Karena aku sebenarnya tidak mengapa, jika ia lebih suka diam. Biasanya memang begitu, aku bicara ia diam. Tapi jujur saat itu... diamnya terlalu lama, dan jarak yang terbentang seolah semakin bersekat-sekat. Pagar itu meninggi saja. Kini bukan saja tentang jarak tapi juga halangan.

Pernah aku bertanya-tanya, apakah berisikku mengganggunya? Maka kukurangi frekuensiku bersuara. Bukan aku ikut menjauh, sungguh bukan. Aku hanya takut ia terluka oleh suara parauku.

***


Tidak ada salahnya menunggu. Sepi ini, jarak ini, bahkan pagar-pagar ini, kelak akan sirna jika aku mau menunggu. Tentu bukan menunggu matahari terbit di sebelah barat. Namun menunggu, sembari terus mengisi waktu menunggu dengan mengufukkan untaian kalimat indah dalam hati. Setidaknya, parauku tidak membuatnya menutup telinga.

Tidak ada salahnya menunggu. Lihatlah, kemarin...setelah puluhan hari ia lewati dalam bungkam, ia akhirnya bersuara. Kalimatnya lirih, tak panjang, namun tidak bisa disebut singkat.

Tidak ada salahnya menunggu.

***

Menulis ini sembari tersenyum karena ia telah meluruhkan pagar penghalangnya. Jaraknya masih ada. Sunyi juga masih dominan menghias suasana. Namun ia sudah bersuara lagi, dalam barisan kata, tak singkat namun juga jauh dari panjang.

Tidak ada salahnya menunggu. Bila lewat menunggu kutemukan indahnya saat ini. Saat aku terlambat membaca pesanmu. Pesan yang kunanti satu bulan lamanya.

***

Tidak ada salahnya menunggu. Lagi.

***

PS: Tentang seorang ukhti nan jauh di mata

Thursday, February 22, 2018

She was There But I wasn't

February 22, 2018 0 Comments
Bismillah.
#untuksahabat #untukmuukhti

Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, hari demi hari. Terutama di saat-saat seperti ini, derai hujan yang terdengar riuh di luar. Ia masih diam, memilih untuk diam dan menjaga jaraknya dariku. Sepertinya, kesalahanku fatal. Jujur, rasanya tidak pernah tenang, kalau kuingat kalimat yang kuketikkan ringan, ternyata justru menoreh luka di hatinya. Atau mungkin tidak melukai, tapi membantu luka lamanya terbuka lagi lebar-lebar.

***

Ia mungkin menganggap hari itu biasa saja, tapi bagiku, itu hari penting, hari terakhirku di Bandung, sebelum akhirnya pindah domisili ke Purwokerto lagi.

Qadarullah satu hari sebelumnya, hp nokia-ku tertinggal di kosannya. Pagi, ia mengantarkan hp-ku. Seolah Allah sudah merancangnya dengan baik. Saat itu, saat aku gagal untuk belajar minta tolong pada orang lain, Allah kirimkan bantuannya lewat ukhti shalihah tersebut. Aku saat itu panik, sibuk dan heboh sendiri harus packing segitu banyak barang di kamarku. Waktu terus berjalan, sudah hampir jam 11 sedangkan tiket kereta yang akan mengantarku jam 1. Belum sarapan, belum siap-siap, belum nanti kirim barangnya, dll.
Ketukan di pintuku, dari tangan mungilnya menyadarkanku, kalau aku ga sendiri, ada seorang teman yang Allah kirimkan untukku.
Ia ada di sisiku, dengan tas ransel coklatnya, saat aku panik harus packing semua barang di kosan. Ia ada di sisiku, membantuku mengangkat dus-dus berat, rela ikutan cape, meski awalnya ia hanya hendak mengembalikan hp yang tertinggal di kosannya karena kelalaianku. Ia ada di sisiku, bahkan menyatakan bersedia untuk mengurus administrasi pengiriman barang-barangku. Ia ada di sisiku, saat kami duduk di stasiun bandung gerbang selatan, saat kami duduk di kamar kosku yang sudah tinggal kasur dan lantai saja. Ia bahkan ada di sisiku, saat sebuah hal masuk ke sela-sela pikiranku.

***

She was there beside me. Bukan cuma hari itu, juga banyak hari-hari lain saat aku butuh seorang teman. And these days, I feel like I often wasn't there beside her when she need someone. 

Jarak mungkin memang selalu terbentang, beratus mil. Namun sebelumnya, tidak terasa serenggang ini. Tidak terasa sejauh ini, tidak... sampai ketika ia memilih untuk diam.

I wish she talk to me again, even after these silent days. Or maybe, I hope she talks a lot with Allah, spend more time with Allah and cure her wound with her interaction with Allah.

I wish I could be a good friend for her. But if I'm not qualified. I wish Allah will send a lot and a lot of good friends to accompany her passing through her darkest day in life. The days when she needs someone to comfort her, the days when she needs someone to wipe her tears, the days when she needs someone to make her smile, the days when she doesn't want to be alone.

***



Izinkan aku menuliskan sekali lagi kata maaf di sini. Atas setiap salahku padanya. Atas sikap yang salah kuambil, kata yang salah kuucapkan, keegoisanku, kesombonganku, sikap menyebalkanku. Maaf.

the one who wish for your best,
_kirei

Thursday, January 18, 2018

Cara Marah pada Diri Sendiri

January 18, 2018 0 Comments
Bismillah.

#untukmuukhti

"Aku pengen marah, tapi sama diri sendiri"

"Tapi gatau caranya gimana", dua kalimat tersebut aku kirim, terpisah enter. Yang membaca, seorang sahabat, yang hampir setiap hari masih bertukar sapa, meski jarak antara kami lebih dari 100 mil.

Respon pertamanya, "Baguslah, daripada marah sama orang lain". Respon keduanya, yang membuatku mengerutkan dahi, "Caranya, dengan membahagiakan diri sendiri? Beli sunskrin?".

Kubalas dengan kalimat panjang, "Aku tanya caranya marah sama diri sendiri", enter. "Pengen marah kok malah dikasih tips membahagiakan diri. Ogah wkwkwk", lanjutku.

Balasan berikutnya dari gadis manis yang lebih muda dariku, "Dengan melakukan hal yang tak disukai tapi produktif." Aku terdiam membaca kalimatnya. Ia mungkin lebih muda dariku, tapi terkadang, atau justru sering, ia lebih dewasa dariku.

***

Nama yang memberi saran, Asni Nuraeny. Sesuatu ya, tipsnya. Membuatku sadar, agar aku jangan salah milih sikap kalau lagi marah sama diri sendiri. Ya, melakukan hal yang tidak disukai, tapi produktif, itu saran yang bagus banget untukku. Hukuman yang tidak menzalimi diri sendiri.

Di sini, izinkan aku bercerita sedikit tentangnya, dan tentangku. Saran saya, ga perlu baca lanjutannya, karena curhat semua hehe. V *peace

Aku dan dia bertemu karena pernah tinggal di satu atap. Sama-sama penghuni yang sering terlihat di ruang internet. Itu saja. Tidak ada yang istimewa padahal waktu kami masih tinggal satu atap. Ia introvert, tidak ada kesamaan organisasi, tidak ada obrolan. Ah, ada yang sama. Satu kegiatan, sabtu siang, yang perjalanan menuju kegiatan tersebut memakan waktu satu jam, dua jam pulang pergi. Mungkin karena itu, kami jadi dekat, meski masih tidak saling curhat.

Kami justru makin dekat ketika aku sudah beranjak pergi dari atap itu. Ia yang memulai membuka diri dan bercerita padaku tentang ini itu. Aku, melihatnya dan mendengarnya, jadi percaya. Aku pun membuka diri, curhat ini itu.

Saat aku menghilang dari peredaran, ia salah satu yang mau mengkontakku lewat sms. Saat yang lain menyerah karena wa dan line-ku tidak bisa dihubungi, tak ada respon. Beberapa kali aku abaikan smsnya, atau aku balas dalam jangka waktu yang lama, tapi ia ... ia masih mau terus mengkontak terlebih dahulu, dan tidak kecewa kemudian menjauh.

Sejak itu, kami jadi sesekali bertemu. Saat aku sedang membaik dan bisa keluar dari gua, aku bertemu dengannya, sekedar makan bersama, dalam diam. Atau makan bersama, ia makan, aku menangis curhat ini itu. Lewatnya, aku sering diingatkan makan teratur. Lewatnya, aku jadi disadarkan lagi, bahwa makan makanan sehat itu pengaruh ke mood dan suasana hati.

Yang membedakan kami, adalah cara kami menumpahkan cerita. Entah sejak kapan, aku sendiri lupa. Tapi ia tidak pernah curhat via lisan, selalu diam dan menjadi pendengar saat kami bertemu. Kemudian tumpah ruah cerita dalam ribuan tulisan di aplikasi mesaging. Ia lebih memilih cerita lewat tulisan, lewat chat. Mungkin ia tidak mau aku melihat tangisnya. Mungkin.

Aku dan dia pernah ada di masa-masa gelap, kesulitan dengan masalah masing-masing. Ia dengan segala masalahnya. Aku dengan segala masalahku. Ia ada, di sampingku, saat aku jauh di bawah sana. Aku berharap, aku bisa jadi salah seorang yang bisa tetap di sampingnya, saat ia jauh di bawah sana. Keep reminding each other. Progres perbaikannya mungkin tidak bisa instan, tapi bukan berarti kami memilih menjauh ketika salah satu dari kami jatuh dan kehilangan diri sendiri.

Aku ingin belajar menjadi teman yang baik, kakak yang baik. Yang siap telinga dan mata untuk mendengar atau membaca ceritanya. Seremeh apapun itu. Karena aku tahu, ia selalu siap telinga dan mata untuk mendengar atau membaca ceritaku. Dan kami tidak perlu saling berpura-pura baik-baik saja, saat kami sedang tidak baik-baik saja. Serta tidak perlu saling berusaha memakai image yang sempurna di hadapan masing-masing.

***

bukan akar
(Photo by Markus Spiske on Unsplash)
Kalau jalinan ini, berakar dari kesamaan iman, dan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya. Semoga Allah takdirkan kami berdua kelak tidak terpisah, bertemu lagi di JannahNya. Dan kalaupun, aku tertinggal, semoga ia mengingatku, dan menanyakannya pada Allah.

Allahua'lam.

Wednesday, November 15, 2017

Memulai Percakapan

November 15, 2017 0 Comments
Bismillah.
#random

Tulisan ini bukan tips, bukan pula opini. Hanya curhatan random seseorang yang sering bingung untuk memulai percakapan. I used to be, and actually still a person who find it hard to start a conversation, whether it's in real life, or in chats.


Mungkin ini, salah satu yang membuatku tidak baik dalam memelihara ukhuwah jarak jauh. Meski ada waktu-waktu, momen-momen, aku ingin menyapa, aku seolah kehilangan kata dan ide, bagaimana memulai percakapan. Aku tidak terbiasa basa-basi dan males untuk basa-basi, dan sering juga terganggu jika ada yang basa-basi padaku. Rasanya.. ingin saja secara jujur langsung mengungkapkan yang ada di pikiranku, "Aku tiba-tiba teringat kamu, jadi penasaran, apa kesibukanmu sekarang, apa kamu sedang sendiri, apa yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranmu, apa ada yang bisa aku bantu".

Tapi nyatanya, untuk to the point seperti itu, juga susah. Aku akhirnya memilih untuk menelan rasa rindu dan keinginan menyapa, terkadang memilih berdoa saja, atau memilih bertanya lewat orang lain. Meski jujur, itu tidak memenuhi rasa rindu maupun rasa penasaranku. Doa itu komunikasi satu arah, terkirim saja ke atas, Allah yang menjawabnya kelak. Sedangkan bertanya lewat orang lain, seolah tidak ada hasilnya. Aku tidak bisa mendengar suaranya, tidak bisa membaca gaya bahasa khasnya, terlalu banyak prasangka, informasi yang kemungkinan salah.

***

Kata tanya, "apa kabar", terlalu klise, jawabannya akan sama, jarang ada yang mau mengaku, "sedang sedikit flu", "sehat tapi lagi banyak pikiran dll". Memulai percakapan itu tidak mudah, melanjutkannya, agar mengalir dan tidak awkward, juga tidak mudah. Aku seringnya bertanya tentang cuaca, karena mereka berada di kota berbeda, terkadang ngobrol tentang anak mereka, obrolan seru buat ibu baru. Kemudian sunyi, seolah tidak ada yang bisa diobrolkan lagi, karena sudah berbeda kesibukan.

Tapi kau tahu? Terkadang memaksakan diri untuk memulai percakapan, misal dengan komentar status whatsapp mereka, bisa juga mengalir jadi diskusi asik. Mengalir saja, dari bicara aktifitas masing-masing, kerisauan masing-masing, saling menasihati, juga nostalgia.

Satu hal yang mesti kita hindari, baik itu percakapan di dunia nyata maupun dunia maya: ghibah. Satu hal ini terkadang muncul saja, tiba-tiba teringat seseorang yang sama-sama kita kenal. Di sini, penting untuk tidak terbawa arus, kemudian pinter-pinternya aja mengubah topik. Tidak mudah memang, banyak godaan setan hehe. Semoga kita dilindungi Allah dari dosa ini. Terutama kaum hawa seperti aku, meski laki-laki ga terhindar juga sih.

Oh ya, bicara tentang memaksakan diri untuk memulai percakapan. Aku menemukan trik agar diri ini punya kepedulian lebih tinggi untuk terlebih dahulu mengkontak teman yang sudah jauh di mata, dekat di hati. Punya trik, agar diri tidak memilih diam saja dan bukan malah usaha untuk menyapa. Mau tahu caranya? Vakum menulis di blog ini wkwkwkwk. Aku tahu sih, ga bener. Tapi nyatanya itu ampuh hehe.

Menulis di diary saja, dan di blog puisi saja, tidak mengurangi jatah kataku, membuat sisi ekstrovertku tidak terpenuhi haknya. Jadilah aku terdesak untuk menulis dan berkomunikasi dengan orang lain. Harus, dan jadi cari-cari. Karena yang tadinya cuma keinginan, jadi kebutuhan. Aku butuh berkomunikasi, bertanya kabar, dan menuangkan kata-kata yang merupakan jatah yang harus dikeluarkan.

Trik ini berbahaya sebenarnya, pertama blog ini jadi terabaikan, kedua ada kemungkinan aku salah tempat hehe. Terjadi memang beberapa hari yang lalu. Saat aku menulis panjang lebar, ngelantur pada seorang akhawat yang ia tidak terlalu dekat, cuma pernah seorganisasi, tapi jarang komunikasi. Mungkin ia heran dan bingung, ada apa ini Bella. Tiba-tiba chat dan bicara panjang lebar hihihi. Aku saat itu menahan diri untuk melanjutkan tulisan panjang yang seharusnya disalurkan ke blog ini. Kemudian heboh sendiri, karena malu. Malu karena salah tempat dan salah orang. She might think I'm weird wkwkwk, it's okay, I do actually weird anyway J. *peace V

Melakukan trik ini dua bulan sekali, gapapa kali ya? Atau jangan? Ada yang lebih suka aku rutin isi blog? Hehe *PD banget haha.

***

Udah panjang, nanti deh.. kapan-kapan aku selesaikan draft tentang memulai percakapan di dunia nyata, terutama saat perjalanan, hasil blogwalking di medium, bagus idenya, menerapkan konsep give and take J. In syaa Allah.

Aku akhiri tulisan random dan banyak curhat ini dengan doa kafaratul majlis, semoga hal-hal yang buruk dimaafkan. Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla illaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

Allahua'lam.

Monday, November 6, 2017

12h 5d 3w

November 06, 2017 0 Comments
Bismillah.


Entah sudah berapa kali aku membaca kombinasi angka dan huruf mirip judul tulisan ini. Narasimu di sana, dan time stamp yang tertera di sana. Sudah beberapa kali, narasimu di sana membuatku reaktif untuk menulis juga di sini. Entah ingin menjawab narasimu, atau ingin membahas tema yang sama dengan sudut pandang berbeda, atau ingin curhat tentangku dan bahasan yang mirip, atau ingin mengutip saja narasimu di sana.

Tapi aku akhirnya memilih untuk berhenti. Tidak jadi menuliskannya di sini, karena aku tahu.. yang kau posting di sana bukan konsumsi umum. Ya, aku juga ragu untuk menghubungimu secara privat dan bertanya tentang postingan "12h 5d 3w", karena kamu seringkali lebih memilih menutup diri. Lebih baik aku mengirim doa saja dari jauh kan?

***

Aku sudah membuat draft dengan tema "I don't believe in social media". Mungkin akan aku merge di sini saja bahasannya. Hehe.
"Aku ga percaya sama sosial media. Perdebatan-perdebatan di sana. Simpang siur informasi di sana. Aku tidak percaya itu. Aku juga ga percaya cari kabar teman lewat sosial media." -draftsebelah
Aku senang menyimak kisah sederhana orang-orang, suka menyimak narasi hasil perenungan dan pergulatan pikiran mereka, suka memperhatikan bagaimana mereka berjuang dalam jatuh bangkitnya, suka mengambil hikmah dan mengasah kepekaan hatiku dengan menyimak dan membaca kisah-kisah nyata tersebut.

Namun aku bukan tipe yang suka stalking di sosmed. I don't believe in sosmed. Originalitasnya, isinya, cuma ada dipermukaan. Menurutku, apa yang orang bagikan di sosmed mereka, sekedar satu puzzle kecil dalam hidup mereka, yang sudah di-filter lagi dan lagi. Selain itu, banyak reshare-reshare saja, atau bahas topik kekinian, atau kalimat bijak pendek. Aku tidak hendak menyamakan semua orang di sosial media-nya. Ada yang sosmednya penuh tulisan narasi besar dan bermanfaat, apik dan menarik. Tapi aku sedang cerita kebanyakan sosmed yang aku temukan, yang terhubung di sosmedku.

Jadi aku lebih menikmati baca blog orang-orang, follow jika memang kisahnya menarik untukku meski ia jarang publish. Karena dari sekian banyak blog, sekian banyak tulisan, sekian banyak kisah, pasti ada satu dua yang bisa mengasah kepekaanku, memantik jemariku untuk menenun hikmah. Atau mungkin tidak sampai sedalam itu, cukup bisa untuk membuka mataku lebih lebar dan lebih luas lagi, itu cukup.

***

Terbukti, tulisan "12h 5d 3w"-mu sering mengingatkanku untuk bersyukur saat aku sedang sulit bersyukur. Sering mengingatkanku untuk bersabar saat aku sedang tertarik untuk misuh-misuh. Sering mengingatkanku untuk terus berjuang, saat aku ingin berhenti beristirahat saja. Sering mengingatkanku untuk melembutkan hatiku dan lebih peka sedikit saja, bahwa sapaan renyahmu, senyum tulusmu, doa kecilmu, sebaiknya kau bagikan. Ya, ada banyak hal-hal baik yang bisa aku lakukan, ketimbang mengeluh, menangis, merasa lemah, dan kegiatan-kegiatan yang kulakukan karena efek energi negatifku.

12h, narasi panjangmu, karya jemarimu saat malam larut namun matamu belum bisa terpejam. Terimakasih sudah menulisnya, mempublishnya di sosial media, sosmed yang tidak kau berlakukan sebagai sosmed, melainkan sebagai mikro blogmu.

Izinkan kukirimkan pelukan jauh dari sini. Jarak memang masih ada, dan tidak bisa dilenyapkan. Aku.. juga masih sama, belum bisa menjalin ukhuwah jarak jauh dengan baik. Cuma bisa menulis ini, tidak bisa kirim link, belum bisa japri. Ada banyak excuse, aku juga masih ingin introvert dulu.

Anyway, tetap semangat, berjuang, jatuh dan bangun lagi, bangun lagi, berdiri lagi, berjalan lagi, berlari lagi. Semoga setiap luka, setiap kesedihan, setiap perasaan tidak nyaman itu, menjadi penggugur dosamu. Semoga hidupmu dinaungi keberkahan dari-Nya.

Dariku, yang cuma bisa menulis ini. Kirei

Monday, July 3, 2017

Maafkan Aku yang Tidak Peka

July 03, 2017 0 Comments
Bismillah.
#untukmuukhti #maaf

Tadinya hendak aku buat fiksi, dengan perbahan situasi dan dialog. Tapi kalau dipikir-pikir lagi.. tidak ada yang berhak tahu detailnya. Aku... cuma perlu menulis bahwa aku salah, bahwa aku tidak peka, dan aku ingin meminta maaf.

***

from unsplash

Untukmu.. yang sedang berjuang, diliputi rasa khawatir dan tekanan. Untukmu.. yang perhatian orang lain, justru membebanimu. Untukmu.. ukhti shalihah, cantik serta fighter yang baik.

Maafkan aku yang tidak peka, sehingga aku salah memilih kata untuk bertanya. Maafkan aku yang tidak peka, dan sok tahu.. Sehingga salah mengekspresikan yang seharusnya tersampaikan. Sungguh tidak ada niat untuk menambah beban pikiranmu, tidak juga aku bertanya sekedar bertanya. Tapi kau benar, aku... salah mengambil kata, salah mengekspresikan rasa.

Kejadian kemarin-kemarin ini.. jujur memang membuatku ragu untuk kembali menyapamu, sekedar mengirim pesan semangat saja ragu. Karena aku takut justru melukaimu lagi. Besok, atau lusa jika kita bertemu, semoga aku tidak sekaku saat ini, semoga aku tidak tiba-tiba canggung.

Kejadian kemarin-kemarin itu.. membuatku sadar satu hikmah kecil. Bahwa benar.. hadiah terbaik dari seorang sahabat adalah doa. Doa yang dipanjatkan di saat hujan, atau setelah shalat, atau di penghujung malam. Tidak perlu kata atau sikap yang terlihat untuk menunjukkan bahwa aku peduli kamu, karena terkadang, semua itu terlihat fake di matamu yang sedang sensitif. Atau memang.. sebenarnya aku yang rasa peduliinya fake. Tapi sungguh.. membaca deretan katamu, rasanya ingin menangis, betapa aku belum bisa menjadi teman yang baik untukmu.

Sekali lagi, maafkan aku ya.. Aku minta maaf. It's my fault, I apologize..

***

Terakhir.. semoga suatu hari aku bisa menyatakan maaf secara langsung. Bukan lewat tulisan, bukan di sini, padahal kemungkinan besar kamu tidak akan membacanya.

Maaf.

Allahua'lam.

***

PS: Sudah bertemu dan lurus semua yang berliku. Alhamdulillah ia tidak merasa ada yang salah dari pertanyaanku dan caraku menunjukkan padanya bahwa aku peduli padanya. Senang melihatmu melalui masa ini dengan kuat dan berani. ^^ Proud of you~

Wednesday, June 14, 2017

Kalau Butuh Bantuan, Bilang Aja!

June 14, 2017 0 Comments
Bismillah.

#gakpenting

Better not read this. Hanya curhatan ga penting hehe J.

*** 

lagi seneng ngedesain ngedit layout dari canva

Itu yang ia ucapkan. Katanya harus to the point, dan ga boleh ngode. Aku dibuatnya tersenyum tawar. Untuk yang satu ini.. ingin rasanya aku membuat banyak excuse. Tentang diri yang sering tidak bisa to the point, sering ga bisa minta tolong in my 'dark' day, entah segan, entah somse, entahlah. Untuk yang satu ini... ingin rasanya aku mengelak. Ah.. rasanya tentang ini, bahkan ngode aja aku nggak bisa ma. J Dan beberapa excuse lain, beberapa aku tulis di kertas, beberapa yang lain masih berdesak-desakkan di otakku.

Tapi beberapa lame excuse itu sekejap terlingkupi sisi lain. Just knowing that you're still want to be my friend, you still care for me, and ready to help me whenever I ask, that fact is enough for me. That's enough. Itu saja sudah cukup membuatku terharu. Apalagi sekedar tahu.. kalau ada orang-orang yang mendoakan kebaikan untukku. That's beyond expectation.

***

Honestly, instead running to reach what everyone told me to reach, I just want to become a better muslim, a better daughter, a better siblings, a better friends. And maybe I just want to learn again, re-learning how to love myself, how to ask someone else for help, how to open myself and how to limit my worries and just walk step by step.

Honestly, instead of asking for jannah in this Ramadhan, I just want to ask Allah to forgive me, ask Him to save me from the hell fire, ask Him to end my life in the best condition, and best iman. And maybe I just want Allah to teach me, guide me.. so I can become a better slave for Allah and His Deen, become a better daughter, a better siblings, a better friends, a better muslimah. And also a better writer J.

Kok jadi curhat ya? Pakai bahasa inggris pula, apasih Bell. Hehe.

Anyway.. terimakasih, sudah mengucapkan kalimat itu. Mendengarnya saja sudah senang. I know you're always ready to help me, it's just me.. who doesn't know how to ask help.. or maybe it's just me who doesn't want to ask help of others. 

Izinkan aku menulis beberapa nama di sini. Dan mengucapkan beberapa kata. Untuk ukhtunna shalihaat.

Risma... barakallah.. I don't know how to express myself, somehow I feel proud to see you achieve accomplishment, stage by stage. I must have learned much from you. Don't be tired reminding me, don't be tired being my friends. Aku ma... doain aku ya hehe.

Asni... kangen. Kamu kenapa sih nggak mau ketemu? Hehe. Alhamdulillah tapi tadi sore udah bisa komunikasi lagi. Jaga hatimu ya sayang. Hatimu cuma begitu rapuh, tapi bukan berarti cara melampiaskannya dengan itu. Semoga Allah menjagamu, melindungimu. Someday you will meet someone who can love you without hurting you. In syaa Allah.

Apiiih.. kita jarang ketemu padahal, jarang pula komunikasi. Tapi entah kenapa kaya ada benang merah diantara kita. Apasih Bell hehe. Aku banyak belajar dari Apih.. super produktif Ramadhannya, thumbs up for you. Buruan temuin orang tua, atau telpon lah minimal kalau belum bisa mudik. They miss you, so much. They'll be so proud when they hear your news. Ah.. jadi keinget, masa-masa di asrama, kenangan sama apih, nasihat apih, dengerin tilawah apih, termasuk kenangan saat sama-sama jadi panitia LMD. Ah.. trus jadi keinget teh Uus. Hehe.

Untuk Teh Risma, Asni, Apih.. aku mungkin bukan teman yang baik, bukan kakak atau adik yang baik. Tapi fakta itu.. jangan bikin kalian jauhin aku ya. Doain aja aku hehe. I will try to fix myself, learn and learn again to become better friend for you, and for others.

***

Terakhir.. I might end up publish this post, then make it back to draft again. Or may be let it published, and sent the links to you guys. Ah.. kenapa nginggris mulu sih Bell? Karena aku bicara tentang hal yang terkesan private untukku, karena tentang pertemanan, persahabatan, ukhuwah, I'm sensitive about all of that. And maybe will always be sensitive to this topic, lihat saja beberapa jejak air di wajahku saat menulis ini. Ga bisa lihat ya? Ya iyalah, ngeri malahan kalau bisa lihat hehe.

Bye bye.. (:

Allahua'lam.

Tuesday, June 6, 2017

Yang Kita Tahu

June 06, 2017 0 Comments
Bismillah.

yang kita lihat cuma satu keping puzzle dari big picture-nya
 
Hana : Padahal kemarin ketemu ya, tapi ga cerita apa-apa. Bantu doain Salsa ya..
Isna: Iya ya Hana... yang kita tahu mah dia baik-baik aja.. status di sosmendnya juga baik-baik aja.. jadi kita ga tahu kondisi sebenernya dia gimana
Hana: Wajar Isna... Aku juga nulis blog lancar padahal kenyataannya... hehe.. Di masa-masa gini, orang memang jadi cenderung super introvert. 

***

Pada kenyataannya, pengetahuan kita sangat sedikit. Bisa jadi yang kita tahu adalah cuma sebagian kecil, dari gambaran besar kenyataannya. What we know is just a little puzzle piece of the entire picture.

Mungkin itu salah satu hikmahnya, bahwa silaturahim bentuknya tidak selalu buka bersama, bukan selalu dateng kajian bareng. Tapi juga dengan tulus bertanya kabar,  bukan basa-basi loh ya. Sincerely asking how's life.

Mungkin itu salah satu hikmahnya, bahwa silaturahim bentuknya tidak selalu saling like atau komen postingan di sosmed. Tapi juga mengajak berbincang, mungkin awalnya kita dulu.. yang membuka cerita tentang hari kita, naik turun hari kita. Mungkin dengan kita bercerita pada mereka, mereka jadi mau membuka diri pada kita, meminta saran, meminta pertolongan, bahkan sekedar meminta doa. Ya.. doa.. yang seharusnya sudah kewajiban kita kalau kita seorang teman yang baik.

***



Hana: Bismillah. Gimana Sa? Hari ini ngapain aja?
Salsa: Ketemu beberapa orang untuk ngurus pendaftarannya. Dan alhamdulillah bisa ternyata, aku tinggal ngurus pembayarannya saja.
Hana: Alhamdulillah^^
Salsa: Alhamdulillah... TT 

Hana menyalin beberapa chat di thread percakapannya dengan Salsa. Lalu memforwardnya ke Isna.
Hana: Kabar dari Salsa, Is.. Alhamdulillah ((:

*** 

Terakhir.. izinkan aku menuliskan doa. Semoga kita bisa menjadi sahabat/saudara yang baik, yang mungkin bisa memulai komunikasi, agar sang introvert mau membuka diri. Semoga kita bisa menjadi sahabat/saudara yang baik, yang meski teman kita ga bisa cerita langsung dan detail tentang masalahnya, minimal kita bisa bantu doain dia. Semoga... Allah berikan kepada kita teman-teman yang landasan ikatannya karena iman, sehingga tidak hanya berakhir di dunia, namun reuni lagi di Jannah-Nya kelak. Aamiin.

Allahua'lam.

#RamadhanInspiratif #Challange #Aksara

***

PS: italic = fiction 

PPS: Kalau ada yang mau nanya, katanya mau ada project after 1000 post? Maaaf ya... kayanya baru bisa dilaksanakan ba'da ied. Itupun kalau masih diberi Allah kesempatan. Saya masih tertatih-tatih ikutan project Inspirasi Ramadhan-nya Salman.. hiks. Doakan ya..

Friday, March 3, 2017

Stay Here Beside Me

March 03, 2017 0 Comments
Bismillah.

Kadang kita tidak perlu banyak kata, tidak perlu banyak ceramah, tidak perlu banyak tindakan dari seorang teman. Kadang kita cuma butuh mereka ada di sisi kita. Just right here beside me...

Karena terkadang, keberadaan mereka sudah berarti banyak buat kita. Keberadaan mereka berarti mereka peduli pada kita, mereka siap mendengar kita, mereka tidak akan pergi meski semua orang pergi meninggalkan kita.

***

Wednesday, December 14, 2016