Follow Me

Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Wednesday, February 8, 2017

Ekstrakulikuler Smansa

February 08, 2017 0 Comments
#nostalgia

Bismillah.

Hashtag baru, edisi nostalgia, hanya ingin bercerita tentang ekstrakulikuler yang aku ikuti, dari yang wajib sampai yang non wajib.

Pramuka

Ambalan Pandawa Srikandi
Ini wajib untuk tahun pertama. Ada banyak acaranya, yang paling inget, acara menginap yang malamnya harus kumpul di bangsal *semacam aula di SMA N 1 Purwokerto (Smansa). Yang membuat memori ini teringat jelas adalah, suasanya entah sengaja atau tidak, dibuat seolah mistis gitu. Pakai kain jarit (batik), diiketnya pakai rafia, ga pakai sepatu, jalannya harus pelan-pelan, diiringi gamelan yang misterius, sebelum masuk, cuci muka pakai air es bertabur kembang mawar.

Jangan mikir aneh-aneh dulu ya, itu bukan ritual memanggil mahluk gaib. Sebenernya acara di bangsal tersebut adalah acara penerimaan, semua yang hadir resmi jadi anggota pramuka Smansa, trus ditambah banyak wejangan juga dari kepala sekolah. Kenapa harus suasanya seperti itu? Mungkin untuk menakut-nakuti siswa baru, agar ga berisik dan khidmat. Tahulah, namanya siswa lebih dari lima ratus orang, dibarisin, dan diceramahin, kan kemungkinan pada asik ngobrol sendiri atau tidur. Dan untuk menghindari tidur, disuruhlah semua siswa cuci muka pakai air es hehe. Kreatif ya? Itu idenya gatau darimana, tapi turun temurun, sekarang masih seperti itu kah?

ROHIS Ulul Albab (ULBA)

Ini ekskul nomer satu yang selalu aku ingat. Banyak sekali pengalaman, manis asin pahit yang aku rasakan. Kenal liqqo dari sini, belajar rapat dengan hijab tinggi *hijab fisik*, kakak-kakaknya keren-keren. Dulu tuh, kaya jadi hal pasti gitu, kalau anak Rohis pasti anak Olimpiade. Hampir semua kakak-kakak yang cerdas jadi pengurus Rohis. Keren da~

Dulu anteng saja jadi anggota majelis IK, di ROHIS kata 'divisi' diganti 'majelis'. IK itu singkatan dari Ilmu dan Kreatifitas. Tugas utamanya sih, membuat majalah/buletin. Ada proker lainnya juga, tapi lupa. hehe.

Paling berkesan, waktu perjuangan buat majalah, niatnya untuk dikasih ke mahasiswa baru. Trus ada konflik tidak disetujui pembina rohis karena dianggap menghabiskan uang. Ditambah, saat itu kadiv-ku menghilang, aku ingin menyerah, lari dari amanah. Sampai akhirnya disadarkan, harus tanggung jawab. Akhirnya buat buletin aja, lumayan lah~

Sunday, April 22, 2012

Ujian; Waktu dan Materi

April 22, 2012 0 Comments
 *image taken from this


Bismillah...
"STEI memang selalu begitu kok," tanggapan seorang senior saat kuceritakan padanya jadwal UTS 2, yang mempertemukan kimia, DRE (dasar rangkaian elektrik), dan kalkulus di tanggal yang berdekatan (4, 5 dan 7 Mei 2012).

Ya.. kurang lebih fakta itulah yang aku temui. Dalam waktu yang berdekatan, kami (mahasiswa TPB STEI) diuji materi yang tak bisa dikatakan sedikit. Sebut saja kimia : kinetika kimia, kelarutan, dan kawan-kawannya. Atau kalkulus : fungsi dua peubah, integral lipat dua, diferensial orde dua. Dan DRE : induktor-kapasitor, rangkaian orde satu, bilangan kompleks, rangkaian orde dua. -.-

Apakah Anda tertekan membaca paragraf di atas? hehe :P Itu hal yang wajar. Ujian memang menjadi momok sendiri bagi manusia. Dalam hidup kita, akan ada ujian-ujian yang menanti. Bahkan, kehidupan kita di dunia ini.. bisa diibaratkan sebagai ujian.

Kehidupan di dunia = ujian
Ya, hidup adalah ibarat kita sedang mengerjakan sebuah ujian di sebuah ruangan (dunia). Kita harus mengerjakannya dengan hati-hati. Pengawas ujian ini, selalu memperhatikan dan mencatat gerak-gerik kita. Tak pernah ada satupun aktifitas kita yang lepas dari pengawasannya. Siapakah pengawas itu? Kita mengenalnya dengan sebutan Malaikat Raqib dan Malaikat Atid.

Kehidupan di dunia = ujian
Kehidupan di dunia, ibarat ujian.. yang kita tidak tahu jangka waktu kita untuk mengerjakannya. Bisa jadi, kita sudah melewati setengah dari waktu ujian. Bisa juga kita sudah hampir dipenghujung waktu ujian.

Kehidupan di dunia = ujian
Tapi Allah berbaik hati kepada kita. Di ruang ujian ini, kita tidak akan disalahkan (baca: mendapat dosa) jika kita belum tahu ilmunya. Di sini, kita diperbolehkan belajar dan memperbaiki kesalahan yang kita lakukan. Justru mereka yang tidak mau belajar yang mendapat dosa.

Kehidupan di dunia = ujian
Saat waktu ujian sudah berakhir, ada petugas yang akan menjemput kita. Bisa jadi, ia mempersilahkan kita untuk keluar ruang ujian dengan lemah lembut jika kita mematuhi peraturan yang ada (menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya). Bisa pula, dengan paksa dan kasar, jika kita melakukan kecurangan (melanggar perintahNya dan melaksanakan laranganNya).

Kehidupan di dunia ini, adalah ujian kawan! Mirip.. seperti ujian fisika, kimia, DRE, kalkulus, dkk yang akan menghadang kita beberapa minggu ke depan. Waktu yang terbatas dan materi yang banyak, membuat kita harus mulai mengencangkan sabuk, bersungguh-sungguh dalam belajar. Materi yang banyak dan waktu yang terbatas, seharusnya membuat kita tak punya waktu untuk berleha-leha (baca: bersantai ria), berhahahihi, dan membuang-buang waktu yang ada. Begitu pula kehidupan, jangan kita sia-siakan untuk hal yang semu, yang hanya menawarkan senyum sesaat, tawa sejenak.

"Dalam hidup cuma ada dua pilihan, senang dan susah. Apakah kita mau senang dulu baru susah. Atau sebaliknya susah dulu baru senang. Dan biasanya.. yang di akhir akan lebih lama kau rasakan."

Wallahu'alam..

**terinspirasi dari prolog pp mata' dan ta'lim pertama roket stei

Wednesday, January 25, 2012

Orangtua, Aku, dan Keinginan Kami

January 25, 2012 3 Comments
Bismillahirrahmanirrahim..

Ingin menjawab pertanyaan seseorang, tentang melanjutkan sekolah.. tentang restu orang tua..

Ketika kita sudah menduduki kelas 12 alias kelas 3 SMA, akan ada konflik yang muncul dalam hal pemilihan sekolah selanjutnya, baik itu jurusan maupun universitas. Dan kebetulan, aku juga mengalaminya.*.

Sebuah hal yang wajar, ketika pedapat kita berbeda dengan pendapat orang tua. Pola pikir antara kita dan orang tua itu sangat berbeda, dari segi usia, pengalaman, latar belakang orangtua, dan lain-lain. Akan ada saatnya, pendapat yang berbeda ini.. tidak lagi sekedar sesuatu yang lantas diacuhkan. Karena perbedaan ini, suka tidak suka, sadar tidak sadar menciptakan jarak antara kita (baca: anak) dengan orangtua kita.



Tapi, dari perbedaan pendapat yang ada.. ada beberapa poin yang perlu kita perhatikan sebagai anak :

Mengharap Kebaikan Kita

Percaya deh.. apapun pilihan orang tua kalian saat ini. Apapun keinginan mereka, agar kita sekolah di universitas X atau di jurusan Y.. Apapun, yakinlah itu semua karena mereka mengharapkan kebaikan untuk diri kita. Untuk anak-anaknya. Tak ada sedikitpun.. tak secuilpun perasaan ingin membuat diri mereka bahagia. Sungguh, tak ada yang lebih menggembirakan bagi mereka kecuali melihat anak-anaknya berbahagia.

Diskusi Bukan Berdebat

Agar, perbedaan pendapat dapat diminimalisir dampak negatifnya.. perlu ada komunikasi yang baik antara anak dan orang tua. Komunikasi itu penting. Tapi di sini, komunikasi bisa dilakukan dalam bentuk diskusi, atau sharing. Bukan dalam bentuk perdebatan, bukan! Sampaikan.. uneg-uneg dan informasi-informasi yang ingin kalian bagi ke orang tua agar mereka menyetujui pendapatmu. Lalu jika, orang tua kita kemudian mencoba menyanggah pendapat kita, mencoba "menghancurkan" argumen kita.. jangan lantas di debat. Cobalah dengarkan. Atau kalaupun memang tidak bisa mendengarkan, cukuplah kalian diam. Hargai orangtua yang sedang berbicara. Insya Allah, dengan begitu.. setidaknya perbedaan pendapat yang ada tidak merusak hubunganmu dengan orangtuamu.

Buktikan! Jangan Hanya Janji

Kalau tipe orang tua kita adalah tipe yang dominan, yang benar-benar seolah tidak mau mendengarkan penjelasan kita. Maka tinggalkan cara lisan. Tapi bertindaklah, buktikan. Be a good daughter/son for your parents. Bukan sekedar akting, tapi benar-benar sepenuh hati. Buktikan.. kalau kalian bisa kok, menjadi anak yang penurut. Yang tidak suka menyanggah pernyataan orang tua.

Buktikan. Kalau kamu ingin masuk universitas atau jurusan yang berbeda dengan keinginan orang tua, masuklah dulu. Daftar, tes.. dan lihat pengumuman. Ketika keinginanmu bukan lagi sekedar pendapat dari lisanmu, insya Allah hati orang tuamu akan luluh. Kemudian memperbolehkanmu untuk menempuh jalan yang kau mau.

Manusia Berencana, Allah Menentukan

Tidak ada yang tahu, apakah pendapatmu lebih baik dari pendapat orang tuamu. Tidak ada yang tahu kecuali Allah. Maka setelah rencana-rencana indah yang kita rancang, bertawakallah.. Serahkan semua pada Allah, istikharoh kalau perlu. Lalu hayati doanya. Agar jika memang hal tersebut baik maka didekatkan dan bila buruk maka dijauhkan darimu.

Terima dengan ikhlas takdir yang tertulis. Jangan mengeluh, percayalah.. apapun ketentuannya nanti. Itulah yang terbaik untukmu. Allah Maha Adil :)

Wallahu'alam. Semoga bisa membantu^^

*Orangtuaku sebelumnya tak pernah setuju kalau kulanjutkan sekolah ku di luar kota purwokerto tanpa pengawasan dari saudara. Hampir tidak mendaftar snmptn undangan - bidikmisi karena masalah perbedaan pendapat. Diterima di ITB lewat undangan. Dan akhirnya, orang tua memberi kepercayaan padaku untuk bersekolah di ITB.

Friday, January 20, 2012

Something Left II

January 20, 2012 0 Comments

Aku terisak dalam tangisku, saat tiba-tiba sebuah sentuhan lembut menyentakku. “Esta?” suara kak Tania membangunkanku. Aku terjaga dari tidurku, masih terisak, walau tanpa air mata. “Kenapa sayang? Mimpi buruk?”, Kak Tania terlihat khawatir. Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil. Aku belum bisa meredakan sesenggukan tangisku saat Ka Tania pergi mengambilkanku air putih. Mimpi tadi begitu nyata tergambar. Penyesalan ini begitu dalam merasuk, menggedor-nggedor pintu hatiku. Kenapa kau tinggalkan?
***
Mentari pagi tersenyum malu-malu, mengintip dari balik awan. Sungguh cuaca yang indah bagiku, yang memang tidak begitu suka terpapar teriknya sinar mentari. Apalagi jam 10 nanti, akan ada foto angkatan untuk buku kenangan sekolahku. Aku menggumamkan syukur di bibir, teringat karunia yang sudah Allah swt berikan padaku, dan sekolahku. Tidak cukup lulus 100 %, sekolahku juga meraih peringkat pertama di provinsi jawa tengah karena nilai rata-rata ujian nasional tertinggi pertama untuk jurusan IPS dan tertinggi kedua untuk jurusan IPA.
Kurapikan seragam putih abu-abu ku, bisa jadi hari ini hari terakhir seragam ini kukenakan ke SMA tercinta. Sedang asik mematut-matut diri di depan cermin, tanpa sengaja mataku terarah ke gaun putih tulang yang tergantung tak jauh dari tempatku berdiri. Dengan ragu, aku mendekat.. lalu meraba detail demi detailnya. Aku menggeleng pelan. Bismillah.. kuatkan aku Ya Rabb.. dalam memegang teguh keputusan ini.
***
Bukan hal yang mudah ketika aku harus meniti jalan yang sepi, yang jarang dilalui orang. Padahal aku terbiasa lewat jalan tol yang mulus-mulus saja. Sekarang aku harus mengambil jalan yang lebih terjal, yang berkerikil.. yang kebanyakan orang enggan menempuhnya. Bukan. Bukan karena mereka tidak mau, tapi lebih banyak karena mereka tidak mau tahu.
Jarum jam tanganku masih menunjukkan pukul 9 lebih 15 menit. Sekolahku masih sepi oleh siswa kelas 12 yang hendak berfoto bersama. Aku merutuki diriku yang memang seringkali datang terlalu awal. Kulangkahkan kakiku ke mushola hijau yang letaknya agak terpencil di pojok barat daya sekolahku. Aku teringat, pagi ini aku belum sholat dhuha. Aku tersenyum sendiri, mengingat dulu.. hampir semua siswa kelas 12 mendadak jadi rajin sholat dhuha. Termasuk aku, yang tadinya jarang sekali menginjakkan kaki ke dalam mushola ulul albab, karena letaknya yang jauh dari kelas. Ah. Mungkin lebih tepatnya karena aku saja yang malas, jarak ini hanya alibi.
Ditikungan menuju mushola, kurang lebih 1 meter lagi aku harus berjalan.. sesosok yang kukenal tiba-tiba muncul. Aku tersentak. Menghentikan langkahku. Debar ini tak menentu, saat yakin kalau sosok itu adalah Andi. “Tidak, tidak. Stay calm, stay calm!” bisikku dalam hati, menenangkan diriku yang hendak salah tingkah. Aku tundukkan mataku, berpura-pura tidak melihatnya.
“Esta!” sapa Andi. Mau tak mau aku tegakkan pandanganku. Lalu menyengir, balik memanggil namanya.
“Esta...” Andi seolah ingin memulai percakapan. Aku belum siap.
“Sorry Ndi, aku buru-buru.. Esta duluan ya..” potongku cepat. Kemudian berlalu meninggalkan dia yang masih terpaku, entahlah mengapa.
***
Aku sudah menyelesaikan sholat dhuhaku, namun entah mengapa aku enggan bergeming. Hanya duduk bersila dengan mukena melingkupi tubuhku. Sekelebat bayangan pertemuan tak terdugaku dengan Andi membuatku menggeleng-geleng keras.
Hm. Aku tahu ia tadi hendak menagih jawabanku. Tapi sungguh aku belum siap menjawabnya. Aku masih ingat sekali pintanya waktu itu.. ah, aku sendiri separuh tak percaya ia memintaku menjadi pasangannya di malam promnite. Beruntungnya diriku, ucap teman-temanku. Siapa yang tidak ingin menjadi pasangan prom nite seorang Andi, ketua OSIS yang prestasinya cemerlang, wajahnya pun lumayan. Ahhhh... kuusapkan wajahku dengan tanganku.
Tidak. Tidak. Tidak.
Kuberanikan diri mengetik 5 huruf itu : tidak. Cepat-cepat kukirim ke nomer handpone andi di phonebook-ku. Aku tak ingin ada hal yang menggoyahkan keputusanku. Aku tak mau meninggalkan hatiku, seperti mimpi buruk semalam. Tidak terimakasih. Aku tidak ingin terlambat dan menyesal.
Tak sampai lima menit, Andi membalas pesanku. ‘Maksudnya?’. Aku tertawa dalam hati. Jelas saja Andi tidak mengerti maksudku. Memang apa arti dari sebuah kata ‘tidak’. Lalu dengan perasaan lebih ringan, ku jelaskan maksudku. Tak lupa kuucapkan maaf dan terima kasih. Aku tersenyum. Aku tahu ini keputusan yang tepat.
***
“Eh, ini masuk ke anak-anak atau dewasa Din..” terdengar  suara seorang  siswi di sebelah mushola, tepatnya di sekretariat ROHIS sekolahku. Kulihat di bagian atas pintu sekre ROHIS yang agak terbuka. Akhwat. Sebuah papan yang menginformasikan orang luar siapa yang sedang di dalam sekre, akhwat (perempuan) atau ikhwan (laki-laki). Aku yang sedang menali sepatu, tertarik  untuk mengintip, ups.. seseorang menangkap  bayanganku.
“Esta bukan?” tanya-nya. Akhirnya kuberanikan diri menengok ke dalam. Kulihat empat siswi berkerudung sedang mensortir pakaian.
“Untuk apa nih? Bakti  sosial?” tanyaku asal. Mereka mengangguk.
“Boleh bantu nggak?” tanyaku ragu.. lalu satu demi satu menjawab dengan ramah, intinya : tentu saja boleh. Agak kagok, aku ikut dalam kesibukan mereka. Ikut tertawa, setiap kali mereka kebingungan mengklasifikasikan baju dewasa yang modelnya memang  ’kekecilan’. Aku malu sendiri, kalau ingat aku seringkali berpikiran tidak-tidak pada mereka. Aku kira, aktivis rohis hanya mau berteman dengan  aktivis rohis. Atau, minimal-minimalnya berteman dengan mereka yang sudah berjilbab. Maklum, aku hanya mengenal satu orang dari mereka : Dinda. Ternyata, mereka sangat ramah pada siapapun. Termasuk aku yang belum berjilbab.
***
“Siap! Tiga.. dua.. satu..” Klik. Klik. Beberapa sinar flash disambut meriah oleh senyum kami. ya
“lagiii.... ” seru sebagian besar siswa. Haha J aku tersenyum bahagia.  Beginilah teman-teman seangkatanku -termasuk aku- kalau sudah berhadapan dengan kamera. Foto ini, akan menjadi salah satu pengingat ketika kami sudah lulus dan terpisah satu sama lain. Meniti jalan masing-masing. Mungkin ada beberapa yang sama atau satu jalur, namun lebih banyak yang akan menempuh jalur yang berbeda. Cita-cita kami bagai pelangi, tak satu warna namun tetap satu tujuannya menghias langit biru.
Setelah asik berfoto ria, kami lalu membuat lingkaran-lingkaran yang lebih kecil berdasarkan kelas. Dito, ketua kelas kami membuka pembicaraan. Cowok bekulit hitam manis dan berkacamata itu menjelaskan beberapa pengumuman terkait beberapa acara terakhir di sekolah yang bisa kami ikuti. Ada tasyakuran yang diselenggarakan ROHIS, malam perpisahan atau biasa dikenal dengan sebutan ‘prom nite’ yang diselenggarakan OSIS dan acara wisuda yang diselenggarakan oleh sekolah secara resmi.
“Ada yang mau ditanyakan?” tanya Dito sembari membetulkan letak kacamatanya. Beberapa tangan terangkat, dan satu demi satu pertanyaan mengenai promnite dan acara wisuda mengalir. Aku hanya menyimak dengan tenang. Sesekali mengulangi jawaban Dito karena teman-teman dibelakangku tidak mendengar dengan jelas jawaban dari Dito.
“Oke, karena nggak ada pertanyaan lagi. Kita sudahi ya. Makasih atas kehadirannya dan partisipasinya. Kalau ada pertanyaan lagi tentang informasi yang tadi sms ke nomer ponselku aja ya. Sudah punya semua kan?” tutup Dito.
“Belum” koor teman sekelas kompak. Hanya ingin meledek Dito. Karena setiap dia bicara sesuatu di depan kelas, dia tidak pernah lupa promosi nomer ponselnya. Dan kami pun bubar jalan tanpa hormat.
Baru beberapa langkah aku meninggalkan kerumunan siswa siswi angkatanku, sebersit keheranan muncul. “Kenapa tadi nggak ada yang tanya tentang tasyakuran ya?”. Bukankah tadi kata Dito, tiap kelas wajib memberi sumbangan dalam bentuk buku, pakai bekas, atau uang? Kenapa tidak ada yang tanya kapan pengumpulan terakhirnya? Kenapa pula, aku tadi tidak bertanya? Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti di otakku. Membuatku memutuskan untuk mengambil ponsel dan menulis sebuah pesan singkat ke Dito.
Tak tik tak tik, suara keypad terdengar jelas. “Dimana sih?” batinku. Kupukul dahiku pelan. Ah! Aku kan tidak pernah menyimpan nomer ponsel Dito. Aku menghela nafas pelan. Kemudian merutuki kebodohanku.
***
“Hush!” Dinda menatap seorang akhwat bernama Ika. Menegurnya, agar berhenti mengeluh. Ini untuk kedua kalinya, aku membantu anak-anak ROHIS untuk mempersiapkan acara tasyakuran. Kali ini aku sudah tidak sekaku sebelumnya. Kulihat wajah Ika yang kini dilipat, berusaha untuk tidak meluapkan kemarahannya lewat kata-kata.
“Memangnya kalau untuk acara Prom Nite, Ika tahu sekolah menyediakan dana berapa?” tanyaku pada Ika. Tadi dia memang misuh-misuh mengenai dana dari sekolah yang menurutnya sangat kecil.
“Ika sih tidak tahu secara pasti, tapi kemarin Ika dengar dari panitia.. Prom Nite tahun ini rencananya akan menghabiskan paling tidak 80 juta rupiah.” Jawab Ika. Lalu menegaskan kembali kata delapan puluh juta rupiah, sampai sekali lagi.. Dinda kembali membuat Ika terdiam dengan jurus ‘hush’-nya. Dan sekre ROHIS pun kembali lengang. Kami kembali sibuk pada kegiatan masing-masing, ada yang menyortir pakaian, menyortir buku-buku sampai yang menghitung uang.
Aku terpekur. Memikirkan kembali kata-kata Ika. Miris sekali rasanya, mendengar bahwa tahun ini rencananya 80 juta rupiah akan dihambur-hamburkan secara percuma hanya dalam satu malam. Kenapa aku baru sadar sekarang, dulu.. tak pernah sama sekali terbesit di otakku, kalau acara promnite yang menjadi ‘hotnews’ kelas XII memiliki berbagai sisi negatif.
Delapan puluh juta, kalau saja uang sebanyak itu dibagikan saja kepada mereka yang lebih membutuhkan pasti jauh lebih bermanfaat. Air mataku mengambang dipelupuk mata. Ada rasa syukur yang menggunung di benak. Terimakasih ya Allah, yang menakdirkanku untuk tanpa sengaja berada dalam percakapan tadi.
***
Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” QS. Yunus [10] : 12
Sungguh aku telah meninggalkan hatiku, kalau kubiarkan setelah diberi nikmat, aku justru mengingkarinya. Hatiku pasti sudah tertinggal Ya Rabb, kalau kubiarkan aku mendekat saat sedang butuh, kemudian diberi nikmat malah melenggang pergi menjauhiMu.


*ini sekuel kedua dari cerpen Something Left yang kata beberapa orang terlalu singkat. :) Semoga bermanfaat.

Wednesday, January 11, 2012

SMA Negeri 1 Purwokerto

January 11, 2012 2 Comments


Sebuah nama sekolah menengah di kota Purwokerto – Jawa Tengah – Indonesia. Sebuah sekolah, tempatku dulu mengenal dunia putih-abuabu. Sebuah rumah kedua bagiku, 1 semester yang lalu. Sebelum aku menjadi mahasiswa ITB.

Mungkin SMA N 1 Purwokerto tidak terlalu populer di Indonesia. Tapi tetap saja, bagiku ada perasaan miris saat tak menemukan nama SMA N 1 Purwokerto, di daftar asal sekolah yang harus kuisi dalam rangka membuat akun di web masukitb.com
Just want to tell anyone, that there’s such an annoying feeling inside knowing that fact.
Aku tidak tahu pasti, faktor apa yang menyebabkan hal tersebut di atas. (afwan, don’t want to say it)
Tapi setidaknya, perkenankan saya memperkenalkan asal sekolah saya di sini.

SMA Negeri 1 Purwokerto, sebuah sekolah yang terletak di Jalan Gatot Soebroto No. 73. Salah satu sekolah menengah favorit di kota Purwokerto. Tetangga sekaligus rival tetap SMA Negeri 2 Purwokerto.
Sekolahku memang bukan sekolah yang luas, namun keterbatasan lahan.. tak kemudian menjadikan sekolah ini kecil. Fasilitas cukup memadai. Sebuah lapangan serbaguna, sebuah aula (atau biasa kami sebut bangsal), beberapa kelas (sewaktu aku kelas 12, ada 29 kelas), mushola, ruang karawitan, kantin, ruang guru, ruang BK, Laboratorium, UKS dan fasilitas-fasilitas yang umumnya ada di sebuah SMA.

Di SMA N 1 Purwokerto, aku belajar banyak hal. Mulai dari pelajaran yang kudapati tiap aku duduk di kelas, sampai pelajaran yang aku dapatkan di kegiatan ekstra kulikuler dan organisasi sekolah.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, yang akan sepi menjelang jam 3 ke atas. SMA Negeri 1 Purwokerto tidak. Baik saat hari libur maupun hari biasa, sekolahku selalu ramai oleh berbagai kegiatan siswanya. Bahkan ada yang menyeletuk, ‘kalau saja gerbang sekolah tidak di tutup saat adzan magrib dikumandangkan, mungkin sekolah kita masih ramai sampai malam’. Ya, selain urusan akademik.. aku bersyukur bisa belajar mengenai kepemimpinan, tanggung jawab dan kawan-kawannya melalui organisasi di sekolahku.

Persaingan di sekolahku bisa dibilang cukup tinggi, semua anak berlomba-lomba untuk meraih prestasi yang baik. Tapi mereka tidak lupa untuk bersosialisasi dan mengembangkan bakat mereka di bidang lain. Fotografi (photobugs), Tari, Jurnalistik (suryakanta), Musik (karawitan, paduan suara, dll), Bahasa Inggris (ESCS), keilmuan (Costova), Pramuka, PMR, Olahraga (basket, futsal, gokashi, MP, dll), Kerohanian (ROHIS, PMK, dll), dan masih banyak lagi. Ada fasilitas, dan sebagian besar siswa SMA Negeri 1 Purwokerto tak mau menyianyiakannya.

Guru-guru di SMA Negeri 1 Purwokerto beraneka ragam karakternya, mulai dari yang kocak, sampai yang terkenal sangat serius. Mulai dari yang sangat friendly, sampai yang killer. Mulai dari yang masih muda, sampai yang sudah mau pensiun.

Well, it might seems so strange for you to imagine my senior high school. Or, you might feel it is not important for you to know how my school is. Entahlah, aku hanya ingin menuliskannya. Setidaknya, dengan menulis ini.. aku menghapus perasaan tak menentu ketika aku mengalami hal tersebut di atas.

Lulusan SMA N 1 Purwokerto yang kuliah di ITB? Jumlahnya memang tak seberapa jika dibandingkan dengan keseluruhan mahasiswa ITB. But, well there are. Tahun ku, ada 9 orang (STEI [2], SAPPK, SITH, FTMD, FTTM, FTI, FITB). Atau, pernah mendengar mahasiswa ITB ngomong ngapak? Hey, mungkin mereka salah satu dari Alumni SMA Negeri 1 Purwokerto.

Want to know more about SMA N 1 Purowokerto, klik di sini