Follow Me

Sunday, January 18, 2026

Hikmah iPusnas Error di Awal Tahun 2026

January 18, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

Ada yang pengguna iPusnas? Bagaimana perasaanmu saat ini? Bagaimana kebiasaan membacamu di awal tahun? Ada yang masih tiap hari cek iPusnas, berharap aplikasi/webnya sudah gak error? Atau kamu seperti aku? Bukan cek iPusnas, tapi cek twitter, biar tahu apakah ipusnas sudah bisa dipakai.

 

***

 

31 Januari 2025 yang lalu, aku masih membuka iPusnas, entah memang masih bisa dipakai, atau karena pake mode offline dan aku membaca buku-buku yang kupinjam dan sudah aku download versi offline-nya. Yang jelas, semua aman tgl 31 Januari.

 

Tahun berganti, dan selama 6 hari, aku tidak membaca >< Jangan tanya kenapa. Sederhananya karena memang belum termotivasi untuk membaca saja. Dan jujur, begitulah kondisiku dengan membaca, naik turun motivasinya, tapi minimal sih biasanya sepekan sekali aku usahain baca dan share kutipan di grup wa yang support habit bacaku. The name of the group is "Baca Tiap Hari", it is a goal i wish to achieve.

 

Enam hari gak baca itu, aku cuma kepikiran kapan harus rekap dan apresiasi laporan baca member grup. Juga sibuk dengan pikiran sendiri, yang merasa harusnya sih nulis di blog dan melakukan proses eval tahunan pada diri. Bikin resolusi tahunan kek, dll, dst. Overthinking hehe.

 

7 Januari, aku cek ipusnas, baik aplikasi ataupun web, gak bisa dibuka. Dan yang bikin aneh, buku-buku antrianku, tiba-tiba ada available book-nya. Padahal biasanya kan selalu 0, saking banyaknya yang minat baca buku itu. Saat itulah aku sadar, ini mah errornya bukan hanya di aku. Dan voila, pas aku cek twitter, beneran dong, katanya memang ada proses perbaikan di iPusnas, awalnya katanya cuma sampai tgl 8. Aku tersenyum, lumayan cuma nunggu 1 hari, dalam hatiku, untung aku baru nyadar pas tgl 7.

 


Tapi ternyata, apa kabar iPusnas hari ini?? Jeng jeng... ya sudahlah kita terima saja fakta bahwa awal tahun ini memang belum bisa melanjutkan baca buku-buku yang ada di iPusnas, mari fokus merajut hikmahnya saja!

 

***

 

Mohon maaf atas story telling POV yang terlalu panjang. Langsung aja ya ke hikmah!

 

1. Buku-buku fisik yang kita beli jadi terbaca!

 

Aku yakin pengguna iPusnas pasti setidaknya punya satu buku fisik yang belum selesai dibaca. Entah buku beli di bazaar buku akhir tahun 2025. Atau buku yang kau sendiri lupa tahun berapa dulu belinya. Karena iPusnas lagi error, manfaatin momen ini untuk baca buku fisik. Barangkali ini bentuk latihan buat kita supaya baca buku, sekaligus puasa screen.

 

2. New Year, New Book!

 

Bukan, maksudku, bukan baru dalam artian beli baru. Tapi lebih ke bacaan baru! Sejak iPusnas error, otomatis tanpa sadar, bacaan kita jadi berbeda dari list yang ada di histori baca iPusnas. Karena buku yang aku pinjam di iPusnas seringkali adalah buku yang gak aku miliki. Pun saat aku cari alternatif lain dari iPusnas, aplikasi perpusda, entah itu skala provinsi atau kabupaten/kota. Buku yang tersedia tidak selengkap di iPusnas, dan berbeda isinya. Jadi deh, tahun baru ini, bukannya menyelesaikan buku yang kubaca tahun kemarin, aku jadi baca buku baru. Perhaps, Allah wants us to read a new topic, see a new perspective.

 


 

3. Jeda Membaca untuk Melanjutkannya dengan Menulis

 

Meski ada ribuan cara dan jalan lain agar kita tetap baca terlepas dari fakta iPusnas masih error, adakah yang sepertiku, mengira ini sebagai pertanda kita untuk sesaat jeda membaca dan melanjutkannya dengan menulis? Dari sekian buku dan bacaan tahun lalu, informasi, perspektif baru, trik dan tips, emosi dan empati dari kisah fiksi, semua itu, merajuk pada kita untuk dirajut. Untuk dicerna dan kemudian ditelurkan dalam sebuah tulisan. Membaca saja tidak cukup untuk otak kita. Kita butuh untuk menghubungkan dan mengkoneksikan apa yang sudah kita baca dan pelajari, agar informasi tersebut tidak cuma tertumpuk tapi menjadi sebuah "ramuan" dan ilmu yang berguna di kehidupan kita.

 

Jadi, apakah kamu berminat menuliskan sedikit insight dari buku-buku yang kamu baca tahun lalu?

 

***

 

Sekian. Cuma tiga. Tapi semoga ini cukup, untukku yang motivasi nulisnya lagi turun hehe.  Aku takut terlalu panjang mencari hikmah, tapi poin ketiga-nya gak dilakukan hehe. It's been so long since I write about what I read. Kecuali buku-buku lama yang kubaca, karena tuntutan serial tulisan #menjadi arketipe yang baru sampai no 36, artinya masih 30 lagi menanti ditulis dan dicari insightnya. Karena toh untuk kutipannya kan sudah ada dan tercatat di telegram sejak 2022 lalu. hiks. Jadi sedih plus malu, selama itu aku memendam bahan tulisan yang harusnya bisa satu-satu aku kerjakan dan publish di sini.

 

Anyway. it's a new year. Mari teruskan kebiasaan membaca di tahun ini. Jika pun ada penghalang, seperti iPusnas yang masih error, mari jangan terpaku di satu penghalang itu. Ada banyak jalan lain, pun ada banyak hikmah dari satu batu kerikil yang membuatmu terpaku saat berjalan berusaha membangun habit membaca.

 

Tetap semangat membaca! Tidak apa sedikit, tidak apa pelan. Read at your own pace. Mulai dari membaca buku yang kau sukai, lalu buku dengan topik yang kau butuh untuk tahu tentang itu. Jangan fomo dalam membaca ya, boleh tentunya baca buku yang viral, yang lagi best selling, tapi jangan sekedar mengikuti trend.

 

Katanya sekian Bell? Kok nambah 2 paragraf hehe. Kali ini beneran penutup. Bye~ Hope we're all have a good year to go. Tahun kita terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi, hari ke hari. Semoga Allah memudahkan rencana dan urusan kita. Semoga Allah mengabulkan harapan dan doa-doa kita. Aamiin.

 

Wallahua'lam.

Monday, January 12, 2026

Invisible Blade Inside Our Mind

January 12, 2026 0 Comments
Bismillah.

 

#fiksi 

 

"Ah, hpku tertinggal," ucap O menepuk punggung Tama yang sedang mengendarai motor. Yang ditepuk bukannya berbalik arah, ia justru menjawab rasa enggannya dan menyalahkan O. Ia sudah agak terlambat dari janji, udah syukur dia aku tebengin.

 

"Hapeku ketinggalan karena tadi nyari uang receh buat parkir, lagian ini kan belum jauh," ucap O protes, berharap Tama masih mau berbalik arah. Tapi sebagai penumpang, hanya itu yang bisa ia lakukan. Gak mungkin juga ia minta diturunkan. Lebih baik tanpa hp. O menelan rasa kesalnya, ia memilih diam dan mencoba berdamai dengan diri.


"Tapi nanti pulangnya bisa bareng kan?" tanyan O dengan suara lebih lemah.

 

"Ya. Sejalan inih. Tunggu aja di luar. Biasa kan jam 4," jawab Tama melembut, lalu kembali mempercepat laju motornya.

 

***


Sepertinya sudah pukul 4 lebih saat O keluar gerbang. Sore itu berawan tidak cerah tapi bukan mendung gelap seperti mau hujan. Q melihat ke arah parkiran motor yang hanya dua baris, tidak ada motor Tama di situ. O memilih duduk tak jauh dari gerbang, duduk di pembatas tanaman hiasan, kau tau ada sekitar 10 cm yang biasanya dicat berwarna hitam putih. O terbiasa menunggu, untuk orang tidak punya kendaraan sendiri untuk mobilisasi menunggu adalah hal biasa. Entah itu menunggu ojek, bis, KRL bahkan angkot. Tapi tentu beda rasanya menunggu teman dan menunggu angkutan umum. Terlebih ada prasangka dan emosi negatif yang berputar-putar di kepalanya. O masih kesal karena Tama memilih tidak berbalik arah saat tahu hp O tertinggal. Prasangka buruk O mengajaknya bertanya-tanya, apa Tama tadi sudah datang lebih awal, lalu memilih pergi karena O tidak muncul? Atau Tama barangkali lupa akan janjinya, lalu membiarkannya terlantar sendiri di sini, tanpa alat komunikasi apa pun?

 

Prasangka buruk itu ibarat pisau tersembunyi dalam pikiran, jika kita tidak berhati-hati kita akan terus terluka, padahal tidak ada yang melukai. Tak tampak, tapi cukup untuk mengacaukan pola pikir dan perasaan. Belum lagi jika kamu memiliki luka lama, innerchild, atau unfinished bussiness terkait satu dua kejadian yang "mirip", ibarat bomnya sudah ada di kepala, maka pikiran buruk tersebut adalah api kecilnya. Dan bom!

 

Mata O tiba-tiba memanas, kilasan emosi lama dan ingatannya saat dulu sakit dan harus menunggu jemputan, naik turun tangga sebuah bangunan, kemudian diakhiri dengan makian, hanya karena ia mengajak penjemput memenuhi panggilan solat yang berkumandang saat si penjemput baru tiba. Mata O memerah, suasana di luar gerbang memang sepi, di belakang terdengar sayup-sayup obrolan satpam dan tukang parkir, di depan, lalu lintas kendaraan berlalu, tapi yang ditunggu tak kunjung terlihat hidungnya.

 

'Gawat!' batin O, ia segera membuka tas ransel hitamnya, mencari-cari buku catatan dan kertas. Menulis selalu mampu membuatnya mengurai dan meredakan emosi yang kadang tanpa aba-aba melaju naik begitu kencang. Satu dua kalimat. Tapi bukannya meredakan, tapi justru memberi jalan agar emosi negatif dari prasangka dan perasaan yang acak adut tersalur dalam bulir air. Dan tik, satu jatuh ke kertas yang sedang ia coreti, syukurnya tidak mengalir dan meninggalkan jejak. Mungkin karena posisi kepalanya yang menunduk.

 

Segera O menutup buku, lalu kembali sibuk mencari distraksi lain dari ranselnya, kali ini camilan. Ia memang sengaja membawanya, karena setiap selesai berenang, biasanya ia lapar. Cemilan tersebut memang belum disentuh sama sekali, karena setelah bilas tadi ia buru-buru berlari ke gerbang, kaget saat melihat jarum jam panjang sudah melebihi angka 12. Rasa manis biskuit coklat dan gerakan geraham melembutkan biskuit tersebut, sedikit meredakan pikiran dan hatinya, tapi untuk lebih amannya lagi, sengaja ia melepaskan pandangannya ke langit, mencari-cari barangkali ada burung nyasar yang terbang di sore kotanya yang sudah tidak sehijau dulu. Ah, ada satu, melintas cepat, entah spesies apa. Pikirannya teringat sore di kampungnya, saat ada begitu banyak jenis burung yang sering ia lihat. Saat sibuk nostalgia itu, suara klakson motor lembut membuat ia tahu, masa menunggunya sudah selesai.

 

"Tumben lama, ngobrol dulu?" tanya O pada Tama, sembari memberi tanda lewat tangan kanannya agar Tama menunggu O berkemas, memasukkan cemilan ke tas ransel, mengambil tas kresek hitam berisi baju alat mandi dan handuk basah. Dalam hati O sudah menyiapkan jawaban, kalau saja Tama menyadari matanya lebih merah dari biasa, ah, ini tadi kena shampoo. Tapi pertanyaan itu hadir seperti yang ditakutkan O.

 

Tama menunggu O sembari bercerita bahwa tadi ia keasikan hunting dan mencari beri liar di kebun tempat pertemuan pekanannya. Saat O mendekat, ia segera menyerahkan helm, dan sebagai gantinya ia ambil kresek hitam isi pakaian basah.

 

"Kirain lupa kalau aku nebeng pulang bareng," O melepaskan kekhawatirannya lewat kalimat sederhana.

 

"Nggak mungkin lah," tanpa jeda panjang, timpalan Tama cukup membuat O tersenyum. Hilang sudah tadi prasangka buruk yang menutupi pikiran rasionalnya. Sepanjang perjalanan tidak banyak obrolan memang. Tama memilih fokus ke jalan, berkendara lebih cepat, berharap menghindari lampu merah. Dan O sibuk berbincang pada diri dan menyimpulkan ternyata ia, meski sering dan terbiasa menunggu, masih saja bisa kalah oleh pisau tersembunyi dalam kepalanya.

 

 The End.

Saturday, December 27, 2025

Off and On Slowly

December 27, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

Sudah hampir 3 bulan aku tidak membalas surat-surat di Slowly, dan jujur ada rasa bersalah. Kenapa? Karena di profil Slowly-ku, aku aktifin tanda kapan terakhir online. Dan aku sebenarnya tiap hari tetep buka Slowly. Bukan untuk membalas surat, tapi hanya untuk membaca surat-surat terbuka yang tiap hari di update, untuk pengguna non-pro, tiap hari bisa baca 3 surat terbuka. Dan jujur, rasanya menyenangkan, ibarat berkenalan dengan orang baru, melihat sudut pandang mereka, kadang ada yang menarik, ada juga yang membosankan sih. Bisa juga mirip-mirip kaya baca blog orang. Blog ya, beda sama medium, medium padahal banyak banget tulisan, tapi males bacanya, karena kaya baca artikel >< gak ada sisi personal. Ya, ada sih tulisan yang ada sisi personal, tapi gak sebanyak dulu waktu aku banyak blogwalking.

 

Anyway, di bulan November ada surat baru masuk. Kalau sebelum-sebelumnya, surat yang masuk tidak menggerakkan hatiku untuk aktif lagi di Slowly, surat yang satu ini cukup membuatku ingin membalasnya. 

 

Aku membalas suratnya tanggal 14 November. Satu surat, lalu dia balik balas. Lalu keinginanku untuk aktif di slowly hilang lagi. Sampai bulan Desember awal aku akhirnya menulis surat minta maaf karena mungkin bakal off on di slowly. Anehnya, setelah suratnya dibuat, dari sekian banyak surat yang belum dijawab, ternyata kebanyakan orang baru, dan yang udah beberapa kali kirim-kiriman surat cuma satu. Dan ini yang membuatku menulis di sini.

 

*** 

 

Jadi aku kirim surat minta maaf, dan hasilnya? Centang satu coba. Jujur bersalahnya jadi bertumpuk. Her name is Erin. She's older than me. We shared quiet a lot letter in my pov. Not that many, but each letter is a long letter.

 


 

I don't know why she haven't read my letter. Entah karena namaku sudah dihapus dari list teman slowly. Atau karena memang dia udah lama gak buka slowly. Perasaan bersalah itu yang membuatku memberanikan diri untuk mengirim satu surat lagi untuknya, walaupun mungkin surat itu gak akan dibaca olehnya.

 

Jujur, karena dia, aku jadi banyak tahu buku-buku puisi berbahasa inggris. Kenal Emily Dickinson dari dia. She loves nature, she's an introvert, she lives with her dog name Sam. Surat terakhir yang dikirimnya, dia cerita tentang eksperimennya untuk membuat apple cake.

 

Saat aku mengirim surat lagi, setelah surat permintaan maaf, ada perasaan aneh. Sedih karena mungkin ia tidak membacanya, tapi sebagian hatiku seolah merasa mungkin lebih baik memang tidak dibaca. Bagiku, mengirim surat yang tidak terbaca itu lebih mudah. Aku bisa lebih terbuka dan tanpa beban bercerita banyak hal. Berbeda saat tahu bahwa ada yang membaca di sana. Sadar tidak sadar, aku meminimalisasi bercerita tentang diri, ya walau tetap terbuka, tapi aku masih saja berada di balik pagar. Entah karena ini kebiasaan nulis di blog, yang kemungkinan gak ada yang baca, atau kalaupun ada, kita gak tahu siapa yang baca, mesin atau orang. Tapi surat kan berbeda. Mungkin karena itu juga aku sering memilih menunda membalas surat di Slowly. Padahal tanpa menunda pun, suratnya pasti hadir terlambat, kan namanya slowly. Entahlah, aku juga bingung pada diri. Di satu sisi ingin terhubung dengan orang lain, tapi di sisi lain, ingin seperti di blog saja. Baca open letter, seperti blogwalking. Lalu menulis surat tanpa benar-benar terhubung. Tapi di sisi lain, padahal asik juga kalau beneran bisa berkomunikasi dengan orang asli di bagian bumi lain, bertukar pikiran, siapa tahu bisa saling membantu, barangkali surat-suratku bisa minimal mengurangi stereotipe muslim yang ditunjukkan di media mainstream barat.

 

Oh ya, aku tiba-tiba teringat tentang bahasan interaksi sosial di era sosial media. Sebagai makhluk sosial, perubahan era ini mempengaruhi banget psikologis kita setiap berinteraksi dengan orang lain. Sedihnya, banyak yang bisa punya relasi yang bisa ngobrol panjang dan dalam. Interaksi di sosmed kan gitu ya, instan dan cepat. Setiap orang sangat sibuk dengan kehidupan masing-masing. Kenal atau tahu kabar seringkali cuma sekedar dari apa yang di upload di story, atau di post di sosial media. Padahal manusia itu butuh koneksi yang lebih dari sekedar itu. Dan pencarian koneksi yang dalam itu makin sulit di jaman sekarang.

 

***

 

Terakhir, sembari menulis ini, aku jadi menyadari bahwa surat-surat yang kukirim di Slowly mayoritas panjang-panjang. Entah karena terlalu banyak yang kusimpan sendiri, sehingga sekalinya ada kesempatan untuk menulis, jadi nulis panjang. Atau sekedar kebiasaan bernarasi panjang saja. Seperti chat di wa-ku yang seringkali tanpa sadar beberapa kalimat baru di enter, Kesadaran baru itu membuatku ingin mengingatkan diri, agar lebih banyak nulis di blog saja. Di sana, di slowly, let's write faster but shorter. Tidak semua orang betah membaca surat panjang dan membosankan. Tapi di sini, kamu bebas menulis panjang.

 

Satu lagi, alhamdulillah. I'm grateful for every friend I met in life, directly or indirectly. Seperti yang disebutkan dalam salah satu ayat Al Hujurat, ehm, inget ayatnya gak? Hehe. Semakin banyak kita mengenal orang lain, kita akan belajar kelebihannya dan kekurangan kita, begitu sebaliknya. Semoga dengan itu kita bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣ 
 
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

 

Wallahua'lam. 

Thursday, December 4, 2025

A36: Mencari Ilmu Sebatas Waktu Luang

December 04, 2025 0 Comments

Bismillah. 

 


 

☑️ #DAY36-0090

📖 At-Tibyan, Imam An-Nawawi

📑 Quote:

 

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkaya dalam Syarh Muqaddimah Al-Majmu' halaman 148,

"Benar, di antara manusia ada yang saat ia melihat kejernihan hati dan ketenangan jiwa dalam dirinya, ia menelaah dan mengkaji ilmu, mengokohkannya dan terus belajar.

Di antara manusia juga ada yang menjadikan ilmu sebatas waktu luangnya. Saat ia memiliki waktu luang maka ia mencari ilmu. Manusia jenis kedua ini adalah manusia yang ada kemalasan dalam dirinya, sampai-sampai andai dia duduk untuk menelaah ilmu atau belajar maka ia akan cepat bosan.

 

💡 Insight:

 

Nasihat tepat sasaran yang menghujam dan menohok diri. Pengingat bahwa ilmu seharusnya tidak dijadikan sebatas waktu luang apalagi waktu sisa. Terlebih lagi saat membaca bagian akhir kutipan! Benar sekali, begitu cepat aku merasa bosan, tapi bukannya memilih untuk menyediakan waktu untuk belajar, ironisnya malah membiarkan diri tenggelam dalam distraksi yang membuat otak makin sulit fokus dan cepat bosan.

 

Hei diri! Ayo latih lagi dirimu untuk bersabar dalam belajar! Hargai waktumu! Seperti yang disebutkan dalam pra-kelastentang adab belajar online,

"Menghargai waktu adalah bentuk komitmen kita untuk belajar."

 

Semoga Allah memudahkan kita untuk terus belajar dan menuntut ilmuAamiin.

 

Asy Syafi’i pernah berkata,

     مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu.

Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.”

 (Manaqib Asy Syafi’i, 2/139)

 

Wallahua'lam. 

Wednesday, December 3, 2025

Bersembunyi Lagi Entah Untuk Berapa Lama

December 03, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

-Refleksi Diri- 

 

So I set this blog to private again. I don't know, for how long, probably will set it to public again after publishing this and send it back to draft. Or never send it back to draft. Probably just set it to private cause this will just make comfortable to write and express more open.

 

Lately been feeling... I don't know how to describe it. Stuck? Jalan ditempat? Or worse, going backward. Fall into.... let me just not end the sentence. 

 

My mind been wandering too much on it's own, while the body is doing a numb auto-pilot routine. And at the middle at the night like this, the feeling of afraid come, as a reminder, not to live a life like this. I am getting older, but am I getting better?

 

***

 

Awal November kemarin ada yang memberanikan diri mengungkapkan keresahan dirinya yang merasa hidupnya seolah hanya untuk kerja. Sedihnya, dia sampai nge-state, She feels like there's something wrong but she didn't know what to do.

 

So I suggest her to write, 

"Coba nulis mba. Barangkali bisa bantu mengurai yang bekelindan di kepala hehe.
Nulis ini sambil ngingetin diri juga yang udah lama gak nulis hehe" - kirei

 

Then she said, she even don't have time to spare for herself, seolah waktunya semua terkuras untuk pekerjaan. Sadly, she even ask, "apa hidupku yg gak berkah atau gmn gt".

 

Part of me want to deny her statement, please don't say that... berkah atau tidak hidup seseorang itu tidak bisa dilihat dari satu mata subjektif, apalagi mata seseorang yang perasaannya sedang merasa kosong dan hampa. But instead expressing this thought, I chose to reply on the part when she said she don't have time for herself. I said to her,

 

"Nah, ini (baca: waktu untuk diri sendiri) harus diagendakan. Kalau gak ada waktu buat diri sendiri emang jadi bikin hati rasanya kosong/hampa." -kirei

 

Kulanjutkan,  

"Jadi inget Al Ashr. Emang manusia rugi banget ya kalau tentang waktu. Ada banyak banget yang nggak bisa kita kendalikan. Emang lemah dan butuh bantuan Allah untuk bisa nata hidup biar bisa balance."

 

Ia menjawab, "Tapi drive untuk keluar dan mulai mencari lagi itu agak susah ya kalau lagi capek."

 

Sejujurnya saat membaca lagi kalimat itu, karena menulis ini, aku masih belum paham. "Drive untuk keluar dan mulai mencari lagi" itu, apa untuk keluar dari pekerjaan. Atau untuk lebih ke drive untuk keluar dari rutinitas kesibukan dan mencari solusi. But I think when I write the reply to her answer, I chose to focus on the word "capek". That's why I wrote this as a closing chat that day.

 

"Ibarat udah masuk arus deras, susah untuk keluar. Kalau udah capek, ujung-ujungnya milih istirahat fisik aja. Padahal mind&soul kita juga butuh di-charge"

 

Actually she still reply, and I still want to continue the conversation. But part of me chose to end the conversation, cause I feel like I need to look at the mirror before giving suggestion, or advice about someone else's life.

 

Pada dasarnya ia menjelaskan ulang keresahannya yang muter-muter. She felt something is wrong, but she didn't know where and how to solve it. But then she's tired, so she's just doing her hardworking life routine. And/ it goes back, to her feeling empty.

 

Saat itu, dan sampai saat ini, aku sebenarnya masih bisa saja menjawab lagi. Mudah sekali rasanya memberi nasihat dan berkata-kata tentang kehidupan orang lain. Aku ingin menyarankannya berdoa kepada Allah, agar Allah nanti yang tunjukkan dimana letak salahnya, dan harus mulai darimana menyelesaikannya. Tapi untuk menulis jawaban itu, aku tahu diri untuk berkaca, dan saat melihat kaca, lidahku kelu, dan kututup bibirku rapat, sebulan, kutahan jemariku untuk menuliskan tentang ini, ah, jariku.. Bukan, jariku bukan kutahan, sebenarnya aku saja yang tenggelam dalam distraksi dan tidak bersegera menyulam hikmah dari percakapan 8 November lalu di sebuah grup WhatsApp. 

 

Sampai saat ini, sejujurnya aku merasa tidak pantas menuliskan ini. Part of me is cursing myself, "sok tahu! Emang hidup lu udah beres? Buktinya meski udah tahu yang salah dalam hidup lu, lu masih gini-gini aja!?"

 

No I'm not usually talk to me with "lu", but i think that sentence describe perfectly how harsh I want to critize myself. 

 

***

 

Back to the intro. Lately been feeling.stuck, jalan ditempat, or worse, going backward. And my mind knows where's the wrong side. And my brain knows what should I do, what step should I take to fix it. But days went and I see myself drowning in distraction, wandering in places and story inside my head. It's easier to daydream than to face reality. But didn't I learn before the hurt from running away from tumpukan masalah? *pardon for the switch language. It's 1.35, and i don't want to open dictionary, to search for vocabulary for "tumpukan". I might visit my old writing later. But right now, let me just write with my right brain.

 

***

 

Terakhir, untukku. Dan mungkin (semoga gak ada), untuk yang nyasar baca ini sampai bagian ini. Dapet dari Channel WhatsApp Khalid Basalamah Official.

 

"Perumpamaan perbedaan orang yang suka berdzikir dan tidak berdzikir seperti orang yang hidup dan mati."

 

Membaca kutipan itu mengingatkan aku. Mungkin, salah satu penyebab perasaan hampa dan mati rasa itu karena kita aku kurang berdzikir. Perlu banyak istighfar. Perlu banyak taubat. Barangkali yang menghalangi diriku untuk beramal adalah tumpukan karat dosa yang membuat hati makin legam. TT

 

Membaca kutipan itu juga mengingatkanku mindset lamaku, dulu, kalau aku membaca kutipan tersebut, yang muncul bukan keinginan untuk beramal, tapi justru perasaan putus asa. Perasaan sedih yang berlipat karena kepastian bahwa hatiku bukan hanya membatu, tapi barangkali sudah mati. Dulu, begitu. Sampai aku belajar tadabbur surat Al Hadid 16-17. Dua ayat yang mengubah cara pandangku. Dua ayat yang menjadikan aku mencintai hujan. Meski gak ada kata hujan di dua ayat itu.

 

اِعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ۝١٧ 
 
i‘lamû annallâha yuḫyil-ardla ba‘da mautihâ, qad bayyannâ lakumul-âyâti la‘allakum ta‘qilûn
 
Ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya (kering). Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran Kami) agar kamu mengerti.

 

Jangankan hatimu yang mati, bumi yang tadinya mati saja, bisa Allah hidupkan kembali. Kalau bumi bisa Allah hidupkan dengan hujan, kira-kira hati kita yang sekarat/mati Allah hidupkan lagi dengan apa? Dengan Al Quran. Hujan dan Al Quran, sama-sama turun dari langit, sama-sama bisa menghidupkan.

 

I know I should stop here, tapi karena kita semua sedang berkabung atas bencana dan musibah banjir dan longsor yang terjadi di aceh, sumatra utara, sumatra barat, dan juga berbagai daerah lain. Kalimat hujan yang bisa menghidupkan mungkin akan terkesan ironis. Sedangkan kita tahu berapa banyak korban dari bencana tersebut. Ada yang perlu kita sadari, bukan hujan yang mematikan, tapi kerusakan yang manusia lakukan, yang menyebabkan hujan yang seharusnya menjadi rahmat, justru menjadi bencana.

 

Terakhir, mari jangan sibuk hanya memikirkan diri sendiri. Berdoalah untuk diri, dan juga untuk saudara kita di luar sana yang sedang ditimpa musibah, yang sedang diuji, dengan ujian yang mungkin tidak bisa kita lalui. Every test is the right test for each of us. Mari saling bantu. Seperti yang disebutkan dalam al ashr, satu-satunya cara untuk selamat dari kerugian adalah memenuhi 4 syarat: menjadi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang beramal shalih dan yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan yang saling mengingatkan dalam kesabaran.

 

Wallahua'lam bishowab. 

Saturday, November 22, 2025

Percuma Kesindir Doang Kalau Geraknya Nol

November 22, 2025 0 Comments
Bismillah.



-Muhasabah Diri-



Beberapa waktu yang lalu aku nonton podcast dari channel Luminihsan. Kenal channel ini karena setelah dengerin podcast di channel lain tentang salah satu founder Luminihsan. Singkat cerita, kalau pengen dapat manfaat lebih banyak, langsung dengerin podcastnya aja ya. Di sini aku cuma ingin mengalirkan rasa sekaligus mengingatkan diri.  
 
 
 

Sesuai judul post ini, aku sejujurnya kesindir saat nonton podcast tersebut. Dari sana aku paham bahwa setiap orang punya jalannya masing2, perempuan ada yang sibuk dan fokus jadi IRT, ada yang fokus ke karir, ada yang fokus ke studi. Semuanya baik. Bagian kesindirnya sebenernya karena aku merasa selama ini begitu fokus ke diri, tenggelam dalam masalah diri, tanpa memberikan kontribusi lebih banyak ke orang lain. Gak banyak memberi manfaat, kecuali kecil. Ya masih nulis sih, masih jadi admin wa grup supporting baca buku, tapi ya cuma itu.



Mana semangatnya dulu untuk lebih dekat dengan Quran? Apa kabar interaksi dengan quran? Kapan melingkar lagi saling mengingatkan untuk bisa tadabbur, menghafal, dll.



Mana semangatnya untuk menulis buku? Apa kabar draft yang sudah berdebu itu? Ini tahun berapa dan udah akhir tahu pula ><



Mana semangatnya untuk cari temen dan bisa buat komunitas literasi di purwokerto, sebulan sekali lah, adain silent reading bareng, lalu sharing dan diskusi bacaan bulan tersebut? Katanya udah nemu temen yang bisa diajak, kenapa malah milih untuk diam dan tak berusaha menceritakan ide dan mengajaknya?



Mana semangatnya menuntut ilmu agama? Katanya mau bikin resume buku? Kok gak diterusin? Kajian tiap pekannya? Masa merasa cukup cuma ngariung tiap pekan, tapi di luar itu? Coba cek lagi FYP, cek lagi history youtube. Lebih banyak nonton konten yang sifatnya hiburan, atau konten belajar?



Mana semangatnya belajar bahasa? Katanya mau share catetan dan progres belajar bahasa? Kok ampleng? Kenapa? Kesangkut overthinking dan terhalang dinding-dinding yang dibangun sendiri?



Mana semangat rutin olahraganya? Gak perlu cari kondisi ideal. Padahal banyak juga olahraga sederhana yang bisa dilakukan di rumah, kalau pas lagi gak bisa jalan-jalan pagi. Itu aplikasi olahraga install kapan, cuma dipake sekali, habis itu dianggurin. Sampai masuk daftar aplikasi yang harus dihapus karena sudah gak dipake begitu lama.



Hei! Jangan cuma sekedar merasa kesindir, sensi, tapi geraknya nol. Kasihan hatimu! Kesindir itu bentuk sentuhan agar hati peka, kalau habis itu kamu cuma diem dan gak gerak. Hatimu bisa sakit. Bukankah harusnya hati adalah raja? Dan otak sebagai penasihat? Jangan sampai malah membiarkan si nafsu bodoh yang menyetir diri.



Halo! Tuh udah dibantu ditulis, dirinci, biar tahu dengan jelas gerak apa yang harus dilakukan. Ayo mulai, dari yang kecil, dari hari ini. Jangan menunda!!! 
 
 
 
 
 
 
Barangkali ada yang baca sampai sini, semoga sedikit kutipan buku di atas bisa memberikan lebih banyak manfaat ketimbang baca keluhanku pada diri.
 
"Sesungguhnya hal ini terjadi karena : (1) sifat menunda-nunda, (2) lemahnya keinginan, (3) ketergantungan kepada bantuan rang lain, (4) tidak adanya kesungguhan dalam diri, dan (5) tidak bersegera dalam melaksanakan perintah." 
 
Sekian. Mari memulai gerak! 

Saturday, November 15, 2025

Ujian Kejujuran

November 15, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

Baru saja import tulisan quote & insight ke Medium. Trus seperti biasa buka twitter (it's still hard for me to call that web x wkwkwk. biarin aja ya, ketahuan banget umur udah tua). Anyway, buka twitter, share beberapa link tulisan yang belum di-share, lalu menulis caption ini untuk tulisan import dari medium berjudul kejujuran:

 

Pengingat kejujuran. Hal sederhana, yang sayangnya sudah terkikis pelan-pelan sejak kecil. I see other people fell 'the test', never knowing someday I would fall the test too. Have you fall into the sins of lies? How deep?
 

Selesai tweet. Ada rasa bersalah. Rasanya caption-nya begitu click bait, tidak sesuai dengan isi linknya. Isi linknya cuma tentang pengingat kejujuran, trus insightnya juga pendek, ayo jujur dan jangan jatuh ke dalam kebohongan. Tapi caption-nya... seolah-olah aku hendak menceritakan bagaimana aku melihat orang lain jatuh di ujian kejujuran. Dan bagaimana aku pun diuji hal tersebut.

 

Karena rasa bersalah itu, aku akhirnya menulis ini. Just in case someone felt disappointed after clicking that import post on medium.

 

***

 

Pengingat kejujuran. Hal sederhana, yang sayangnya sudah terkikis pelan-pelan sejak kecil. I see other people fell 'the test', never knowing someday I would fall the test too. Have you fall into the sins of lies? How deep? - @isabellakirei

 

Tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Aku teringat seorang teman SD yang mencontek demi nilai bagus, yang dicontek adalah sahabat SDku yang sangar, digigitlah itu anak yang mencontek. Yang dihukum siapa? Yang menggigit hahaha. I'm proud of her though. She's one of my real bestie. Alhamdulillah masih terjalin silaturahim, belum lama ketemu langsung, makan bareng dan "menangkap" momen bersama dalam ruangan kotak.

 

Tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Aku juga teringat saat Ujian Nasional dan Ujian Sekolah di SMP. Bahkan guruku sendiri memberitahuku untuk tidak pelit memberikan contekan pada teman saat ujian. Guru TT >.< Pun aku ingat saat menangis kejer di kamar mandi SMP, saat merasa terkhianati, saat aku tahu teman dekatku ternyata memilih jalan beli kunci jawaban Ujian Nasional.

 

Tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Masih sama, momen Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah kelas 12 dulu. Aku teringat ada segerombolan siswa yang memberi kunci jawaban, saat sebelum ujian yang lain sibuk belajar, latihan mengerjakan soal, mereka sibuk menghafal kunci jawaban. Aku juga teringat saat malam sebelum ujian kimia (entah ujian nasional atau ujian akhir sekolah), tiba-tiba tersebar kisi-kisi soal uraian. Semua orang sibuk berusaha mengerjakan soal kisi-kisi tersebut. Ada yang bertanya padaku cara mengerjakan dan jawabannya. Saat itulah hatiku berteriak tanpa suara, aku tidak bisa tidur sampai aku membuat catatan di Facebook dan membagikannya ke teman-teman kelasku. Aku gak mau ikut-ikutan. Pun sebelum masuk kelas, ada saja yang masih menanyakan soal-soal tersebut padaku, dengan halus aku menolaknya, aku takut, bagiku ada yang salah, meski orang lain berpendapat itu sah-sah saja karena cuma kisi-kisi. Kisi-kisi apa yang bentuknya jelas-jelas soal yang bisa dikerjakan? Pun aku merasa semakin yakin dengan pilihan sikapku, saat ujian berlangsung dan benar, soalnya begitu mirip, meski mungkin angkanya berbeda. Aku tidak tahu persisnya karena setelah perasaan tidak nyaman aku memilih untuk mengabaikan soal kisi-kisi meski sudah melihatnya.

 

Tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Pun saat di kampus dulu. Mulai dari dua mahasiswa yang dihukum karena tugas matkul TTKI (Tata Tulis Karya Ilmiah) membuat kalimat sama persis, lalu disuruh maju ke kelas. Atau saat aku dibuat kaget setelah tahu ternyata banyak mahasiswa yang memilih untuk mengerjakan PR pemrograman mencontek file tugas kakak tingkat nim 001 yang memang pintar. I don't know how they get the files though, never really seen the actual file, only heard about it. Atau saat aku dulu ikut kelas sama satu tingkat di bawahku, ada kuis dadakan, aku duduk di belakang, saat sudah selesai kuis dikoreksi bersama, tukeran gitu sama temen sebelah. Dan temen sebelahku memilih untuk memberi tahu nilai yang salah, aslinya 100 (benar semua), jadi salah satu. Kenapa? Karena dia takut ketahuan saling contek karena satu baris nilainya sama semua. Sungguh mengherankan >.< Mohon yang tahu almamaterku, jangan dijadikan ini sebagai stereotipe ya. Karena ya, pasti ada oknum seperti itu. Aku yakin banyak juga yang jujur.

 

Sekian tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Kali ini setelah jari telunjuk selesai, empat jari lain mengarah padaku. Aku pun pernah jatuh di ujian kejujuran. Memang bukan seperti yang di contoh di atas. Tapi aku ingat beberapa kali berbohong pada orangtua, teman, dan dosen, perkara progres kepenulis tugas akhir. TT  Mungkin aku pernah menulis tentang itu di sini, atau di blog anonim lain. Intinya once you fall for this test, a small lies becomes bigger and bigger. It also makes you anxious all the time, afraid someone's gonna catch your lies. Pelajaran pahit banget untukku. Cukup untuk mengajarkanku lebih baik diam jika tidak bisa mengatakan kebenaran. Kuatkan dulu iman, lalu saat beranikan diri untuk jujur. Jujurlah pada diri dulu, dan tentu jujur juga pada orang lain.

 

Ujian kejujuran adalah ujian yang akan berulangkali hadir dalam hidup kita. Dan untuk bisa lulus dari ujian ini, terkadang kita harus remidial. Tak apa. Yang penting jangan memberi label pendusta pada diri. Teruslah berlatih dan belajar untuk jujur, pada diri dan pada orang lain.

 

Untukku saat ini, mungkin ujian kejujuran niat. Jangan sampai bilangnya ingin ini itu, tapi prakteknya nol. Itulah tantangannya kalau banyak nulis. Sama kaya orang yang banyak bicara. Ada ujian kejujuran juga di situ. Jangan sampai apa yang ditulis berbeda dengan kenyataan. Bukan berarti kita jadi tidak bisa menyampaikan kebenaran hanya karena kita masih berjuang meniti dan menegakkan kebenaran itu. Tapi jujurlah dalam usaha dan effort kita. Cause Allah sees our effort. Menuliskan ini jadi mengingatkanku pada manusia, bulan, fase bulan. We're all have the dark part, the back part of the moon. And We're going through phases like the moon, we're not always the beauty and full bright moon. Tapi bukan berarti itu menghalangi kita untuk menyampaikan kebenaran. Like what the old saying is, katakan kebenaran meski pahit,.

 

Sekian. Semoga Allah memudahkan kita untuk lulus ujian kejujuran. Aamiin. 

 

Terakhir, sebuah doa. Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnat-tiba'ah, wa arinal bathila bathila warzuqnaj-tinabah. Aamiin.

 


 

Wallahua'lam bishowab. 

Tuesday, November 11, 2025

SelfD #22: My Top 5 Favorites Quotes

November 11, 2025 0 Comments

Bismillah. 

#SelfDiscovery

 


As someone who really quotes, it’s really difficult to answer. Ada begitu banyak kutipan yang esensinya kuhafal meski literal kata per katanya tidak aku ingat semua.



Aku awal suka mencatat quote dari buku dimulai dari buku Jalan Cinta Para Pejuang-nya Salim A. Fillah. Baru pernah aku menemukan buku non-fiksi dengan gaya bahasa yang puitis. Setiap kalimat dalam paragrafnya rasanya ingin aku catat dan hafalkan. Aku ingat dulu menyalin kalimat-kalimat dari awal bab sampai akhir bab, hanya karena buku yang kubaca tersebut adalah buku yang kupinjam dari temanku, jadi harus dikembalikan.



Beberapa diantaranya yang aku ingat, oh ya, ini gak literal kata per kata ya, aku menulis ulang dari ingatan, kalau ada yang salah, tolong dikoreksi,


"Bersyukur adalah mengejawantahkan nikmat, yang duduk jangan puas hanya duduk tapi berdirilah. Yang berjalan jangan puas hanya dengan berjalan, tapi berlarilah"


"Hati bicara tanpa kata, tapi ia terasa"

 

Juga quote,  


"Ajari kami bunda hajar, bagaimana iman melompati rasa suka tidak suka. Ajari kami ahli badar,… dst", ini suka banget.



Intinya kaya puisi minta diajari dan dikasih tahu, bagaimana agar iman kita bisa sekuat mereka. Seperti saat bunda hajar ditinggal berdua bersama bayi ismail di padang pasir antah berantah. Pun sahabat yang perang badar, bagaimana jumlah mereka sangat jauh dibandingkan lawan. Pun para penggali parit di perang Khandaq. 
 
Tapi berhubung kutipan di atas aku cari-cari di internet gak nemu--maybe it's a sign that I should buy the book and re-read it again. Untuk SelfD kali ini, izinkan aku cantumkan saja quote dari Ustadz Salim A Fillah yang sering banget aku ulang di sini. Qadarullah quote ini termasuk salah satu yang kupegang saat dulu berjuang keluar dari overthinking dan mencoba keluar dari "gua" setelah lama menghilang dari peredaran.


"Ketika kita mengubah sikap mental kita kepada Allah, dari tidak mau tahu menjadi peduli, dari berburuk sangka menjadi ber-husnuzhzhan, dan dari ragu menjadi yakin padaNya, saat itulah Allah akan menunjukkan jalan-Nya kepada kita" - Salim A. Fillah


***


Ada sebuah quote ini terlintas saat sedang menulis draft ini. Aku lupa persisnya dimana, tapi seperti di kata pengantar bukunya Salim A Fillah. Kutipan dari Ustadz Fauzil Adhim, tentang niat. Semoga menyalin quote ini mengingatkan lagi diriku untuk semangat menulis dan terus memperbaiki niat.
 
I know for me publishing a solo book seems like dream far away, not because outer factors, but because I have my own "mountain" that I made myself. Anyway, gapapa perbaiki terus niat dan teruslah menulis. Someday, somehow, you will exit that self-sabotage phase. Ada banyak istighfar dan taubat yang harus terlebih dahulu dilakukan, sebelum memberanikan diri meninggalkan pantai dan berlayar jauh. Ini quotenya: 
 
 
"Awalnya dari niat, kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah sesuai dengan niatmu -M. Fauzil Adhim"


Untukku dan untukmu yang barangkali punya niat nerbitin buku tapi maju mundur kaya aku, Baca juga: Maukah Kamu Menjadi Penulis?



***


Sebelum ditutup, ada satu lagi quote. Pengennya sih yang bahasa inggris ya hehe. Tapi sebenarnya belum nemu, mungkin quote dari Ustadz Nouman, atau dari Yasmin Mogahed. Sudah coba cari dari highlight igs, dan blog. Tapi belum nemu yang pas. Tapi karena draft ini sudah harus rampung dan di publish. Mungkin aku hanya ingin mengutip dengan quote sederhana yang mungkin terkesan biasa saja bagi banyak orang. Tapi bagiku, quote ini berkali-kali mengingatkanku untuk lebih bersabar pada diri, yang terus menerus terpelanting dan jatuh, tergelincir karena kebodohan diri. 
 
"Don't give up on yourself"


Kenapa gak boleh menyerah pada diri? 

People will give up on you all the time. Parents will give up on you. A spouse will give up on you. Friends will give up on you. But Allah will not give up on you.

Allah never gives up on you.
- Nouman Ali Khan 
 
 
Terakhir, kututup dengan kalam-Nya,



۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[Surat Az-Zumar (39) ayat 53]



Wallahua'lam.



***


PS: Aku baru nyadar saat hendak post, ternyata judulnya my top 5. Aku cuma ngehighlight 3 quotes: dari ustadz Salim, ustadz Fauzil Adhim, sama ustadz Nouman Ali Khan. Kurang dua. Ini dua tambahan, bukan top favorite quotes, tapi recent quote that stuck in my mind:  
 
When Allah exposes you, it means Allah loves you that you will stop the sin. -Mufti Menk 

Satu lagi, 
 
Since when did "small" means useless? 

 

Baca transkripnya untuk tahu konteks lengkapnya. Singkatnya pengingat framework pemikiran kita. Jangan sampai salah dan akhirnya memilih tidak melakukan sesuatu hal kecil hanya karena impactnya gak terlihat atau hasilnya belum terlihat. Jangan lupa bahwa Allah melihat dari usaha, dan Rasulullah pun mengajarkan kita, bahkan jika esok hari kiamat, tanamlah biji/benih pohon. 

 

Oh ya, what's your top 5 favorite quotes? 

 

***

 

Baca juga:

 



 

 




SelfD #21: What are my priorities?

SelfD #22: My Top 5 Favorites Quotes 

Saturday, November 8, 2025

What Should I Do with This "Leak" Information?

November 08, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

Judul di atas kubuat sudah agak lama. Sejak akhir bulan lalu, tepatnya tanggal 24 Oktober lalu. Saat tanpa sengaja, dengan izin Allah, I got this "leak" information. Haruskah kutulis lebih gamblang, tanpa tedeng aling-aling, atau kubiarkan abstrak dalam selimut bahasa inggris dan perumpamaan "leak information"? Apakah harus kutulis dalam bentuk fiksi, atau kutuliskan lebih lugas dalam story telling kisah nyata?

 

***

 

Pagi itu, Allah tunjukkan padaku hal seharusnya tidak perlu aku tahu. Pemiliknya pun pasti sebenarnya ingin merahasiakannya. Pun aku tidak merasa ingin tahu. Tapi saat Allah memberikannya padaku, lewat satu dua detik saja. Otakku sampai sekarang masih memikirkannya. Pertanyaan yang kutulis sebagai judul tulisan ini: what should I do with this leak information?

 

Apa yang harus aku lakukan? Diam dan berpura-pura tidak melihat apa yang sudah kulihat? Atau aku harus bersuara, dan mencecar pemiliknya tentang "leak information" tersebut? Tapi... tapi... tapi apa aku berhak untuk bertanya dan memberikan padanya nasihat tentang itu? Sementara aku tahu, bahwa setiap orang punya hal-hal yang tidak ingin diketahui orang lain. 

 

Tapi diam dan pura-pura tidak tahu sungguh bukan pilihan yang tepat. Itu hanya menunjukkan betapa lemah imanku. Apalagi aku tahu persis, bahwa ada kedzaliman di sana, bukan pada orang lain, tapi pada dirinya sendiri. Bukankah sebagai seorang yang beriman, mengetahui kezaliman, kita harus membantu, baik yang jadi korban maupun yang jadi pelaku? Dan ia kini merangkap keduanya. Bukankah kita harus menolongnya di keduanya, baik dengan menghentikan kezaliman juga untuk melindunginya dari kezaliman?

 

***

 

I know deep inside he's struggling, He's in pain. But I'm afraid if I took a wrong step, I might scare him away. And he chose to be lost alone. But silent really don't solve anything. Allah might want to show it to me, cause he needs somebody else to step up and help him. And it should be from the closest one around him.

 

Remembering that leak information break my heart again and again. I see my old, or even me now. For now, I just want to remind him,

 


 

 Wallahua'lam.

Friday, October 31, 2025

Everything is Under Allah's Control

October 31, 2025 1 Comments

Bismillah.

 

#tadabbur 

 

Serahkan saja semua, semua hal yang tidak bisa kau kendalikan. Serahkan dan letakkan saja di tangan yang terpercaya. Yang di sana semua hal dalam kontrol dan kendalinya. Tidak pernah terlewat atau terbengkalai. Semua dalam kendali dan kontrolnya. Aman.

 

***


Seperti yang disebutkan dalam Al Muzzammil,

  

 

Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa maksud dari "jadikanlah Dia sebagai pelindung" adalah menyerahkan urusan-urusan kita kepada Allah.


Ustadz Nouman juga menjelaskan tentang ayat ini,

 

 

Rabb al masyriku wal magrib menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah. Al masyrik wal magrib, timur dan barat, mencakup dimensi waktu dan tempat. Sebagaimana kita tidak punya kendali terhadap waktu. Sebagaimana terbit dan tenggelamnya matahari, dan berbagai perubahan yang terjadi setiap kali malam berganti pagi dan sebaliknya pagi berganti malam. "Dunia" bergerak dan terus berubah. Ada banyak sekali perubahan dalam hidup kita, yang tanpa sadar terjadi tiap detiknya. Manusia seringkali lalai, membuat ia merasa dalam satu kedip mata, tiba-tiba hari berlalu, bulan berlalu, tahun berlalu. Ada begitu banyak hal yang diluar kendali kita, perubahan dan pergerakan yang terasa begitu cepat, dan kita tidak bisa mengelola semuanya sendiri. Al masyrik wal magrib juga menunjukkan kekuasaan Allah yang terbentang dari timur ke barat. Tidak ada satu pun inchi di alam semesta yang tidak ada dalam kekuasaan Allah. Sedangkan kita, keterbatasan kita terhadap ruang, saat kita berpindah, maka kita tidak lagi bisa melakukan banyak hal selain di tempat tersebut. Memang ada teknologi yang membantu kita melakukan banyak hal tanpa terbatas ruang offline. Tapi semuanya terbatas.

 

Dijelaskan juga divideo tersebut tentang frase fattakhidzhu wakila. Dari frase tersebut, kita diingatkan bagaimana bodoh, dan lemah kita sehingga kita membutuhkan rahmah dan bantuan Allah atas banyak hal yang berada di luar kendali kita. Bayangkan kalau kita harus mengurus tiap degub jantung kita, atau bagaimana pembagian dan penyaluran gizi dari makanan ke seluruh tubuh kita. Itu baru urusan-urusan dalam tubuh kita. Belum lagi yang di luar itu. Ada banyak aktivitas harian, cita, rencana hidup kita, yang semuanya terkait dengan banyak faktor yang di luar kendali kita. Memang manusia diberikan ruang untuk bisa berusaha dan Allah berikan hukum sebab akibat yang membantu kita untuk tahu apa yang harus kita lakukan untuk mencapai sesuatu. Tapi terlepas dari usaha kita, kita tidak punya kuasa apapun atas hasil yang nanti akan terjadi. Jadi, bukankah hal paling menenangkan yang bisa kita lakukan adalah berserah kepada Allah, rabbul masyriku wal maghrib, laa ilaha illa hu. 

 

Ada satu poin lagi, yang dijelaskan baik dari video maupun dari tafsir Ibnu Katsir. Perintah untuk menyerahkan urusan-urusan kita kepada Allah, perintah untuk tawakkal juga disebutkan di ayat lain (Hud:123, Al Fatihah:5). Artinya apa? Artinya, salah satu bentuk kita beribadah kepada Allah adalah berserah diri dan bertawakkal pada-Nya. Jangan khawatirkan begitu banyak hal yang berada di luar kendali kita. Sadari dan akui betapa lemah dan bodoh diri, lalu berserahlah kepada-Nya, mintalah pertolongan dan perlindungan dari-Nya. Pada hal yang tidak kita ketahui di masa depan sana. Ketidaktahuan kita barangkali adalah rahmat dari-Nya, agar kita cuma perlu fokus pada apa yang ada di masa kini. Agar kita fokus pada usaha yang bisa kita lakukan. Allah will take care all of it. Things that you can't control and you don't even know. Allah will take care of it all.. Cause as it is said in surah Al Muzzammil,

 

رَّبُّ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذْهُ وَكِيلًۭا
 

(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,

maka ambillah Dia sebagai pelindung. [Surat Al-Muzzammil (73) ayat 9] 

 

Wallahua'lam bishowab. 

Monday, October 27, 2025

Jangan cuma Ingat Buruk/Sedihnya Saja

October 27, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

*warning* lebih baik baca tulisan lain

 

*** 

 

Beberapa waktu ini aku kembali ke setting introver lagi. Kalau kemarin menulis tentang introver yang mencari-cari komunitas, kini introver tersebut sedang kehabisan energi hanya karena bergabung satu batch di dua tiga komunitas. Rasanya ingin memutus kontak dan menyendiri, tapi karena tahu itu zalim, akhirnya hanya bisa memaksa diri tetap berjalan meski jelas-jelas notifikasi low battery, sudah berkali-kali muncul. Beberapa kali jatuh, lalu tertatih dan terseok berusaha menyamakan pace langkah dengan teman-teman lain. Sembari masih mencerna keruwetan pikiran diri yang meminta untuk diisi energinya dengan menyendiri, apa kabar dini harimu? Bukankah seharusnya itu waktu yang tepat untuk mengisi batre yang hampir mati?

 

Lalu suatu pagi aku menjadi lebih sensitif, cuma perlu satu pemicu, dan bendungan air itu pecah, membuat orang lain yang tidak tahu kondisiku yang lowbatt and sensi ini merasa bersalah. Tapi kasih sayang Allah terus mengalir, somehow, dalam rangka meredakan emosi yang meletup, dan air yang tak kunjung bisa berhenti dibendung, pencarian distraksi satu dua, membuatku mengenakan lagi jas ektrover. Allah seolah memberitahuku, kamu bukan introver tulen yang hanya bisa charge energi dengan solitude, kamu punya sisi ekstrover juga yang bisa diisi energinya dengan komunikasi pada orang-orang yang tepat.

 

#bacatulisanlama Nuju Naon Teh, aku menyambung sapa dengan Apih

 

Kalau di tulisan Nuju Naon, namanya kusamarkan, izinkan kali ini aku menuliskan namanya sebagai bentuk terima kasih, karena sudah membantu mengisi energiku hanya lewat bertukar sapa dan cerita singkat. Rapih Umbarawati, atau biasa disapa Apih adalah salah satu adik tingkat yang kukenal karena pernah tinggal di Asrama Putri Salman. Seingatku jadi dekat dengannya karena pernah jadi satu divisi saat jadi panitia LMD, atau pas peserta juga satu kelompok ya? Lupa hehe.

 

Anyway. she's such a lovely person. She's logical, whenever I talk to her, I always see the rational part of her. She's smart, and dilligent. I feel comfortable speaking and listening to her. She open up to me a little about her family, that makes me feel closer. Bagiku yang sulit untuk membuka diri, aku sangat menghargai dan tahu benar, bahwa bercerita dan terbuka tentang hal pribadi adalah sesuatu yang hebat.

 

Singkat cerita, aku menyambung sapa dengan Apih. Melanjutkan chat terputus kami bulan Mei 2025 lalu. Bertukar cerita dan tanya, tak panjang memang, tapi cukup untuk mengisi batreku. Lalu dari percakapannya, aku tergerak untuk mencari tulisan lama lain di blog ini, kuketik dua keyword "tiga buku", selain kutemukan tulisan yang kucari, kutemukan juga tulisan lain yang membuatku tergerak untuk menyambung sapa dengan sohib lama pas SMA.

 

#bacatulisanlama Tiga Lembar Memori, aku menyambung sapa dengan Salsa


Sebelumnya, sebenarnya sebelum membaca tulisan lama itu, akun instagram Salsa, somehow, with algorythm, direkomendasikan ke akun IG betterword_kirei. Tapi karena satu dua hal, aku ragu untuk mengajukan follow ke akun tersebut. Sampai Allah kembali mengingatkanku lewat tulisan lama tersebut. Segera aku kirim link rekomendasi IG Salsa dari betterword via dm ke IG pribadiku, lalu aku follow akun tersebut menggunakan akun isabellakirei_. Kukirimkan juga DM padanya. Rasanya ingin kirim foto, tapi karena akunnya private, tentu saja gak bisa kirim DM kalau belum friend. Tapi qadarullah, dia online juga, dan aku jadi bisa kirim foto. Lalu percakapan terjalin.

 

Rasanya senang sekali, karena seolah ada tali rindu yang tertaut kencang, kini sudah lepas dan membuatku lega. Apalagi terakhir kali aku menulis tentang memori masa sekolahku, aku mengingat hal buruk dan tenggelam dalam sedih sembari menyimpulkan, ternyata mungkin ini salah satu hal mengapa aku menjaga jarak dengan mereka. Padahal ada begitu banyak memori happy dan bahagia yang seharusnya lebih aku ingat dan abadikan, ketimbang membiarkan debu-debu di kacamata hingga menyamarkan dan membuat mataku perih tiap kali menengok ke belakang.

 

Beberapa waktu ini aku juga berkaca, saat melihat salah satu konten sahabat SMA, yang membahas tentang effort orang-orang yang bertahan dan menjadi circle dekatnya. Katanya karena sama-sama effort. Lalu aku berkaca, betapa tidak bersyukurnya aku. I did only give them minimal effort, I put my wall all the time, I am bad in exchanging communication while being away. I'm also don't give present back, when I get so many present from each of them. Teringat buku-buku hadiah dari mereka, dan surat, dan aku tidak membalasnya, hanya karena berdalih aku tidak merayakan hari lahir. Padahal aku bisa saja membalas dan mengirim hadiah kecil, tanpa harus di hari lahir mereka. Sementara aku cuma bisa menulis penyesalan ini. Someday, maybe, I'll put a little more effort, just to say thank you and sorry, for being a bad friend.

 

*** 

 

Oh ya, dari tulisan lama 3 lembar memori, aku jadi teringat lagi memori indahku saat masih maba dulu, what a movie kinda scene. Jujur malu, karena pada kakak-kakak tingkat di organisasi itu, memori pertama yang melekat bukan yang indah, tapi yang membuatku menangis dan memilih untuk tidak bergabung dengan halaqah manapun, sedih dan bingung melihat "perebutan" calon kader, rumor yang berseliweran, dan aku yang memilih untuk menjauh. 

 

Oh ya, mayoritas draft tulisan di atas ditulis tgl 11 Okt, it's 27 october now. Ada satu lagi memori yang somehow melintas siang hari ini dan membuatku impulsif untuk menyelesaikan tulisan ini. Ada memori bittersweet yang terjadi di Bulan Ramadhan kali itu, saat aku dan partner organisasi dituduh sama-sama cuek. Padahal awalnya semua manis, tapi berakhir pahit. Dan aku cuma bisa diam dan menerima saja menjadi sosok yang terdakwa dan salah. Padahal ada banyak hal yang ingin aku komunikasikan, tapi aku memilih diam, dan menulis semua dalam diary. Perasaan sedih, kecewa, rasa tidak terima karena disalahkan dll, kusimpan rapat-rapat, lalu aku menjalani hari seolah semua baik-baik saja. Secara otak dan akal, aku sudah berdamai dengan memori itu, aku mungkin bisa tertawa dan bercerita tentang kenangan itu. But perhaps, ada hak emosi dalam diri yang belum terpenuhi, karena yang seharusnya disalurkan malam itu aku pilih untuk disumbat dan ditaruh dipojok terdalam. Mungkin karena itu, somehow, saat momen-momen yang tidak direncana, tiba-tiba saja ada kebocoran emosi dan memori yang muncul dan menguap, meminta haknya untuk disalurkan entah dalam bulir air, atau dalam kata-kata yang tidak abstrak.

 

Jujur sebenarnya aku tidak suka menulis impulsif begini. Pun tidak suka, tulisan ini membuatku seolah aku orang yang sering mengingat buruk/sedihnya saja. Tapi jika tidak menuliskannya, aku takut aku mengulangi kesalahan yang sama. Hanya mengingat buruk dan sedihnya saja. Padahal, kalau mau diteliti dan ditelisik lagi, ada begitu banyak hal baik dan bahagia yang terjadi. Untuk hal-hal ini, mungkin aku perlu belajar dari introver lain yang sudah lebih awal aware akan ke-introver-annya. Mungkin mereka lebih tahu cara menata pemikiran/perasaan negatif yang lama ditumpuk dan disimpan, sampai membuat kita melupakan yang positif. Atau mungkin aku hanya perlu lebih banyak berdoa agar dimudahkan untuk bersyukur. Dan mungkin aku harus mulai membiasakan diri agar tidak menulis diary hanya untuk menulis hal-hal negatif dan perasaan negatif yang tidak bisa kusampaikan ke orang lain, bukankah harusnya journaling itu diisi lebih banyak dengan hal-hal yang kita syukuri? Atau journaling habit tracker, biar istiqomah melaksanakan kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin dibangun. Dan adapun untold story of my life, ya, gapapa juga ditulis untuk mengeluarkan sesak dari dalam dada, tapi jangan lupa akhiri dan tekad untuk mencari hikmah dari hal-hal tersebut. 

 

Terakhir, semoga aku bisa lebih banyak menulis lagi, ketimbang lari dan tenggelam dalam distraksi. Jangan ragu untuk sambung silaturahim, barangkali satu dua pertukaran pesan singkat bisa mengisi energi sosialmu. Juga, seperti judul tulisan ini. Jangan cuma ingat buruk atau sedihnya saja. Ingat juga baik dan bahagianya. There's no path that all black and dark. If you pay attention to every path you took before, there's a lot of light, flowers, sweet fruit along the way too. Allahumma a-inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatika. Aamiin. Wallahua'lam.