Follow Me

Saturday, September 7, 2019

Ayah dan Anak Perempuannya

Bismillah.


Ada yang pernah baca atau dengar pepatah, bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya? Aku dulu berpikir, pepatah itu cuma pemanis buku dan film. Aku belum tahu, betapa besar peran ayah pada anak perempuannya.

***

Seorang bayi perempuan lahir, tumbuh besar, kemudian mulai belajar tentang dunia dan apa-apa yang di dalamnya, salah satunya cinta. *katanya ga mau bahas cinta bell? wkwkwk.

Bukan tentang cinta kepada Allah dan Rasulnya. Bukan cinta anak kepada orang tua. Tapi cinta perempuan kepada laki-laki, atau sebaliknya. Dan tahukah darimana sang anak belajar tentang itu? Dari ayahnya.

Dan tahukah bagaimana akibatnya, jika ia tidak belajar tentang itu?

***

Tulisan ini hadir sebenarnya karena aku melihat realita, perempuan-perempuan yang hatinya hancur karena 'cinta'. Rasa percaya dirinya hancur. Ia merasa 'rendah' hanya karena tidak ada yang melirik dan mendekatinya. Perempuan-perempuan yang kesulitan mencintai dirinya sendiri. Yang merasa tidak berharga karena merasa tidak ada yang menyayanginya, tidak ada yang mencintainya. Bukan... bukan cinta dari ibu, atau dari teman-teman. Tapi cinta dari laki-laki. Cinta dari keluarga dan teman-temannya yang berlimpah bak gajah di pelupuk mata. Ia hanya fokus, pada cinta dari laki-laki yang belum juga hadir.

Seorang anak perempuan yang merasakan kasih sayang dan cinta dari ayah, akan tahu bagaimana rasanya dicintai seorang laki-laki. Dan orang itu adalah ayahnya. Dan dari 'cinta pertama' tersebut ia belajar dan mengetahui nilai dirinya. Bahwa ia, dengan segala keunikannya, pantas dicintai dan disayangi.

***

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Allah hadirkan sosok ayah yang mengajarkan kita tentang cinta, bagaimana rasanya disayangi, dicintai, dihargai, dilindungi. Karena jika kita belajar dari laki-laki lain, mungkin yang tertinggal bukan hanya pelajarannya, tapi juga lebam dan goresan luka.

Salut juga, pada ibu-ibu yang mendidik anaknya seorang diri, single parent, namun bisa menanamkan dan mengajarkan anaknya bagaimana menjaga diri dari cinta 'semu' yang manis tapi. meracuni.

Dan juga untuk anak-anak perempuan, yang mungkin tidak tumbuh dan mendewasa dalam keluarga yang ideal. Namun tetap bisa berdiri kokoh dan menjaga hatinya, lewat keterhubungannya dengan Rabb-Nya.

Terakhir, untuk siapapun yang pernah terluka karena salah belajar tentang cinta, semoga Allah membalut lukamu dan mengobatinya. Setiap manusia pasti pernah jatuh, pernah salah. Tapi mereka yang mau bangkit dan mengambil hikmah, Allah tidak akan menyia-nyiakanmu. J

Allahumma inni as aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba kulu 'amalin yuqarribunii ilaa hubbika. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya