Follow Me

Showing posts with label cinta pertama. Show all posts
Showing posts with label cinta pertama. Show all posts

Saturday, July 25, 2020

Bolehkah Menampakkan Perasaan Suka atau Cinta?

July 25, 2020 4 Comments
Bismillah.



Ehm.. It's late at night, and here I am writing some pinky-lovey topic. **geli sendiri sebenernya hehe.

Bahasan tentang suka, cinta, tidak pernah basi kan? Izinkan aku ikutan nulis tentang ini juga. Sesekali saja, jangan sering-sering. V

Boleh gak sih menampakkan perasaan suka atau cinta kita ke orang lain, yang belum halal, dan belum tentu juga bakal jadi jodoh kita? Ya... orang itu sih, saat ini memang ditakdirkan untuk kita sukai, ditakdirkan hadir di hidup/hari-hari kita. Tapi kita masih belum tahu, kehadirannya, apakah hadir sebagai ujian hati, atau sebagai jawaban doa?

Oh ya, tulisan ini bukan fakta ya. Bisa jadi juga tidak akan memberikan jawaban yang benar atas pertanyaan di judul. Cuma bentuk opini dan berbagi cerita aja, dari topik/judul di atas. *feel free to correct me if I'm wrong. Bisa lewat kolom komentar di blog atau pm.

***

Jawaban pertanyaan di atas pertama kudengar saat masih pakai seragam putih abu-abu. Aku lupa siapa yang jawab, dan siapa yang bertanya. Tapi baik yang bertanya dan menjawab sama-sama paham tentang hukum berpacaran dalam islam. Jawaban yang saat itu aku dengar, boleh. Dan hebohlah kami saat itu wkwkwk. Dulu kayanya belum ngetrend istilah 'mencintai dalam diam'. Intinya, setelah jawaban itu, efeknya menurutku agak-agak gimana.

Pasalnya, gara-gara jawaban itu, ada satu oknum yang kirim sms ke empat orang sekaligus tentang perasaan sukanya. Kirimnya sama pula teksnya. Qadarullah salah satu yang dikirimi sms itu, sahabatku. Dan uniknya pula, cuma ke sahabatku itu, oknum tersebut cerita kalau ia juga memberitahu 3 siswi lain tentang perasaannya. 

Mungkin karena masih muda ya, perasaan suka ke lawan jenis baru pernah dirasakan, ditambah denger jawaban bahwa boleh menampakkan/menyatakan perasaan suka/tertarik, asalkan tidak berlanjut ke pacaran, jadilah aksi yang ia pilih seperti itu hehe.

Aku dulu sih denger cerita itu langsung il-feel. Tapi sekarang kalau ingat cuma senyum aja. Semakin dewasa kita jadi bisa maklum, begitulah sisi kekanakkan masa muda, masih belum banyak tahu, wajar kalau salah menyimpulkan dan salah melangkah. Dan salah itu, tidak apa-apa, asal kita belajar dari sana. Seperti dosa di masa lalu, yang bisa kita taubati. Kesalahan, juga bisa kita perbaiki.

Dari jawaban pertama itu, aku belajar, bahwa ada yang harus diperhatikan jika kita boleh menampakkan perasaan suka/cinta kita.

Dari sisi kitanya, mungkin jadi lega, udah diungkapkan, jadi lebih plong, karena tadinya tertutup rapat-rapat, berbunga dan tumbuh besar dalam ruang yang tertutup. Maka saat jendelanya di buka, rasanya seperti ada oksigen baru. Kita bisa bernafas lebih lega. Perasaan itu pun, jadi bisa mendapatkan keluasan dan tidak menjadi hal yang menyesakkan dada.

Tapi... kita juga harus melihat dari sisi orang lain kan? Ya, ga boleh egois kan? Apa efek yang diberikan dari sikap kita menampakkan atau menyatakan rasa suka dan cinta kita pada orang tersebut? Bagaimana jika ia merasa tidak nyaman? Atau jikapun ia merasa senang, apakah rasa senang itu nantinya tidak berubah menjadi duri, dan ujian dalam hidupnya? Apalagi kalau tidak ada tindak lanjut dari penampakan *eh hehe, jadi kaya makhluk halus aja pakai diksi 'penampakan. Ralat. Apalagi, kalau tidak ada tindak lanjut dari pernyataan rasa suka itu.

Bagiku, terlalu egois kalau kita menyatakan dan menampakan rasa suka dan cinta, jika hanya untuk diri kita. Agar kita lebih nyaman dan lebih lega.

Dari pemikiran itu, aku jadi menyimpulkan bahwa ada syarat dari jawaban boleh tersebut.

***

Bolehkah menampakkan/menyatakan perasaan suka atau cinta?

Boleh, dengan syarat.... hal itu tidak merugikan orang lain. tidak memberikan efek buruk bagi orang lain.

Tapi kalau dengan syarat itu, jadinya kaya ga boleh ya? Hehe. Soalnya syaratnya susah hehe.

Kalau mau jujur dan bijak, kita akan tahu. Bahwa memang, pilihan terbaik, jika jalan halal menjemput rasa suka dan cinta itu belum ada, adalah "mencintai dalam diam". Diam di sini maknanya, tidak perlu ditampakkan atau dinyatakan. Dan cinta di sini, maknanya kata kerja. Jadi meski tidak dinyatakan dan dinampakkan, kita tetap mendoakan kebaikan untuknya, karena perasaan suka kita padanya. Dan meski tidak kita nyatakan dan nampakkan perasaan tersebut padanya, kita tetap bekerja untuk menjemputnya di jalan yang halal, jalan yang diridhoi Allah.

***

Sebenarnya, ada hal lain yang ingin kubahas, tentang 'notice me'. Tapi mungkin di tulisan lain hehe.

Sampai di sini saja, tulisan opini dariku yang tidak banyak tahu tentang suka, cinta, dan kawan-kawannya. Kalau ada yang punya jawaban dari pertanyaan di judul, dan penjelasan yang lebih kece, kasih tahu ya. Boleh share judul buku, atau link tulisan atau link kajian, podcast, whatever form it might be.

Terakhir, selamat menjaga dan merawat hati agar dipenuhi cinta kepadaNya. Karena saat hati kita penuh akan cinta kepada-Nya, rasa suka/cinta kita pada makhluk yang lain akan tumbuh dan berbunga sehat. Sehat dalam artian, kadarnya tidak berlebihan, dan tepi-tepinya selalu terjaga dalam pagar-pagar syariat-Nya.

وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

(QS Al-Hujurat [49] ayat 7)

Allahummaj'alna minhum. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi minamal satu cerita dalam satu minggu.

Saturday, September 7, 2019

Ayah dan Anak Perempuannya

September 07, 2019 0 Comments
Bismillah.


Ada yang pernah baca atau dengar pepatah, bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya? Aku dulu berpikir, pepatah itu cuma pemanis buku dan film. Aku belum tahu, betapa besar peran ayah pada anak perempuannya.

***

Seorang bayi perempuan lahir, tumbuh besar, kemudian mulai belajar tentang dunia dan apa-apa yang di dalamnya, salah satunya cinta. *katanya ga mau bahas cinta bell? wkwkwk.

Bukan tentang cinta kepada Allah dan Rasulnya. Bukan cinta anak kepada orang tua. Tapi cinta perempuan kepada laki-laki, atau sebaliknya. Dan tahukah darimana sang anak belajar tentang itu? Dari ayahnya.

Dan tahukah bagaimana akibatnya, jika ia tidak belajar tentang itu?

***

Tulisan ini hadir sebenarnya karena aku melihat realita, perempuan-perempuan yang hatinya hancur karena 'cinta'. Rasa percaya dirinya hancur. Ia merasa 'rendah' hanya karena tidak ada yang melirik dan mendekatinya. Perempuan-perempuan yang kesulitan mencintai dirinya sendiri. Yang merasa tidak berharga karena merasa tidak ada yang menyayanginya, tidak ada yang mencintainya. Bukan... bukan cinta dari ibu, atau dari teman-teman. Tapi cinta dari laki-laki. Cinta dari keluarga dan teman-temannya yang berlimpah bak gajah di pelupuk mata. Ia hanya fokus, pada cinta dari laki-laki yang belum juga hadir.

Seorang anak perempuan yang merasakan kasih sayang dan cinta dari ayah, akan tahu bagaimana rasanya dicintai seorang laki-laki. Dan orang itu adalah ayahnya. Dan dari 'cinta pertama' tersebut ia belajar dan mengetahui nilai dirinya. Bahwa ia, dengan segala keunikannya, pantas dicintai dan disayangi.

***

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Allah hadirkan sosok ayah yang mengajarkan kita tentang cinta, bagaimana rasanya disayangi, dicintai, dihargai, dilindungi. Karena jika kita belajar dari laki-laki lain, mungkin yang tertinggal bukan hanya pelajarannya, tapi juga lebam dan goresan luka.

Salut juga, pada ibu-ibu yang mendidik anaknya seorang diri, single parent, namun bisa menanamkan dan mengajarkan anaknya bagaimana menjaga diri dari cinta 'semu' yang manis tapi. meracuni.

Dan juga untuk anak-anak perempuan, yang mungkin tidak tumbuh dan mendewasa dalam keluarga yang ideal. Namun tetap bisa berdiri kokoh dan menjaga hatinya, lewat keterhubungannya dengan Rabb-Nya.

Terakhir, untuk siapapun yang pernah terluka karena salah belajar tentang cinta, semoga Allah membalut lukamu dan mengobatinya. Setiap manusia pasti pernah jatuh, pernah salah. Tapi mereka yang mau bangkit dan mengambil hikmah, Allah tidak akan menyia-nyiakanmu. J

Allahumma inni as aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba kulu 'amalin yuqarribunii ilaa hubbika. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Wednesday, June 20, 2012

Melupakan

June 20, 2012 0 Comments
Bismillah..

Jika melupakan masa lalu bisa membantumu mengatasi hari ini, maka lupakanlah^^

Jangan stuck dengan hari kemarin, walaupun benar adanya.. dari hari kemarinlah kita ambil pelajaran, agar tak terulang kesalahan, agar semakin baik hari demi hari. Tapi jika dengan mengingat hari kemarin, yang ada hanya penyesalan demi penyesalan. Atau harapan semu ingin kembali ke sana (baca: ke masa lalu). Lupakanlah! Lupakanlah!

 
***

Mudah sekali kiranya, kutulis kata demi kata di atas. Melupakan. Semudah itukah melupakan?

:)) Ya, i'm going to talk about forget-ing something (*rusaklah itu grammar, hehe peace :P)

Melupakan. Kata kerja transitif, benar tidak? Ya.. tanpa objek, maka kata 'melupakan' akan terdengar samar. Melupakan apa, siapa? Melupakan terkait dengan memori, otak dan juga hati. Kok bisa hati dibawa-bawa? :)

Pernah dengar atau baca qoutes ini?
"People will forget what you say.. People will forget how you look like.. But people, will not forget how you made them feel" -someone i forget-
Quotes di atas aku dapatkan waktu matrikulasi (*juli 2011 yang lalu). Membaca quotes tersebut, membuat kita sadar.. bahwa memori, bukan sekedar yang ada di otak, tapi juga yang di hati. Contoh real dari qoute di atas adalah pepatah lain yang bunyinya "first love never die". Cinta pertama, biasanya adalah yang paling diingat, susah dilupakan, dll. Kenapa? Bukan karena si dia yang cantik/tampan. Bukan itu, yang membuat kita ingat adalah.. karena itu pertama kalinya kita 'jatuh' cinta (*people will not forget how you made them fell).

***

Melupakan. Sebuah pilihan. Sebuah takdir. Sebuah kemampuan.

(*image taken from this)


Yang pertama (baca: melupakan sebagai pilihan), adalah hak kita. Ya, untuk melupakan atau tidak melupakan adalah pilihan kita. Jika ingin melupakan, maka buang jauh hal-hal yang bisa membuat kita ingat. Jika tidak ingin melupakan, maka rekam dan abadikan hal tersebut (bisa berupa foto, tulisan, video atau apapun).

Yang kedua (baca: melupakan sebagai takdir), adalah hak Allah. Ya, kita tak pernah benar-benar bisa mengendalikan apa yang ingin kita ingat dan ingin kita lupakan. Itu hak Allah. Allah bisa saja membuatmu lupa, padahal baru sedetik yang lalu ia dihadapanmu (*baca: kunci, buku, hp). Allah bisa saja membuatmu ingat, padahal itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. IA-lah yang menguasai hati dan pikiran kita. Jika IA berkehendak, maka IA hanya perlu mengatakan 'Kun' (baca: jadi), maka jadilah.

Yang ketiga (baca: melupakan sebagai kemampuan), adalah keunikan masing-masing pribadi. Everyone was unique. Maka akan kau temukan seseorang yang bisa mengingat nama dan wajahmu hanya dalam hitungan detik. Maka akan kau temukan seseorang yang masih sering lupa nama dan wajahmu, walau setahun kau mengenalnya. Maka akan kau temukan, ia yang mengingat detail kejadian, atau ia yang melupakan dengan mudah hal-hal besar di hidupnya.

Terakhir tentang melupakan:

Bagiku, jangan paksakan diri untuk melupakan jika kau benar-benar ingin melupakan. Karena pada akhirnya, kau justru akan mengingat.

Bagiku, jalan terbaik untuk melupakan adalah dengan menyibukkan diri, melakukan banyak hal sampai tak ada waktu bagi diri untuk sekedar me-replay memori.

Bagiku, masa lalu ada bukan untuk dilupakan, atau terlalu dikenang dan disebut-sebut. Ia adalah tempat kita berkaca dan belajar. Jangan lupakan masa lalu, sekalipun itu pahit atau berdarah-darah :P.. Berdamailah saja dengannya. :) Jika memang harus lupa, tak apa. Jika memang harus ingat, tak apa. :) Akan selalu ada manis, asam, asin, pedas, pahit tentangnya.


Wallahu'alam. :))