Follow Me

Showing posts with label sabtulis. Show all posts
Showing posts with label sabtulis. Show all posts

Monday, April 6, 2020

Mendaftar 1m1c Lagi?

April 06, 2020 0 Comments
Bismillah.

Aku membacanya saat salah satu admin 1m1c mengumumkan akan meng-kick beberapa member sekaligus. Aku sempat bertanya-tanya, sudah berapa lama aku tidak submit tulisan di 1m1c? Sekilas saja, tidak benar-benar aku cek. Aku pikir, belum lama aku buka web 1minggu1cerita dan menulis tentang form setoran fiksi 1m1c x LINEToday.

Kemudian sebuah pesan masuk, dari admin 1m1c, kali ini bukan di grup. Sebuah pemberitahuan bahwa aku akan di kick. Hmm. Aku jawab, menyatakan penyesalanku karena tidak menyadari sudah 5 pekan tidak submit satu pun tulisan. Sang admin membalas, bahwa aku bisa mendaftar lagi.

***

Sekian hari berlalu, dan aku di sini, menulis tentang ini. Sebelum menulis di sini aku memikirkan banyak hal. Tentang sabtulis yang hiatus, otomatis aku bukan member sabtulis. Lalu 1m1c. Sekarang, aku tidak punya komunitas menulis yang 'mewajibkan'-ku menulis minimal 1 tulisan 1 pekan. Aku juga berpikir, apa harus kuhapus banner sabtulis dan 1m1c dari blog ini? Apa aku akan mendaftar lagi? Jika iya, apakah aku akan siap dengan konsekuensinya? Lalu aku teringat blog akardaunranting, yang sudah dipenuhi debu karena tidak pernah dibuka. Salahku sendiri, alasan buat blog itu untuk sabtulis, jadi saat alasannya hilang, semangat untuk mengisi juga hilang. Padahal beberapa tulisan dari blog itu yang aku repost di medium view-nya lumayan.

Aku mungkin akan mendaftar 1m1c lagi, dan masih berharap sabtulis bisa 'hidup' lagi. Tapi sekarang, aku ingin lebih banyak menulis dulu, di sini. Tentang apa pun. Aku harus membiasakan lagi menulis di sini. Sementara itu dulu.

Semoga Allah memudahkan. Aamiin. Allahua'lam.

Saturday, January 11, 2020

3 Cerita yang (Tidak) Sama

January 11, 2020 0 Comments
Bismillah.


Tiga cerita dari tiga orang berbeda, sekilas semuanya seolah sama, berbicara tentang kesendirian dan keinginan untuk segera 'pindah kelas'. Tapi ketiganya, bukan cerita yang sama. Cara mereka menyampaikannya, sudut pandang masing-masing, juga aura vibe yang menyertainya, berbeda. Tidak sama.

Tiga cerita hadir, dari tiga orang yang berbeda. Yang pertama berisi banyak pertanyaan, dan keluhan. Emosi negatif yang dibawa kata dan kalimat dalam cerita tersebut sering membuatku ikut pening. Sesekali, aku beri jeda agar tidak selalu segera merespon, karena menjaga agar tidak sampai terbawa emosi negatif tersebut, berusaha tetap netral namun tetap berempati.

Tiga cerita hadir, dari tiga orang yang berbeda. Yang kedua tanpa pertanyaan, dan dengan solusi. Kalau cerita lain biasanya meminta respon, kali ini bentuknya lebih mirip monolog yang membutuhkan pembaca. Muatannya menetralkan cerita pertama. Aku yang membaca jadi ikut tersenyum karena senang, ia mengizinkanku merasakan juga manisnya kesimpulan yang ia ambil dari kegundahan yang pernah dan masih sedang ia alami.

Tiga cerita hadir, dari tiga orang yang berbeda. Yang ketiga singkat padat dan tanpa basa-basi. Mungkin lebih tepat disebut sebagai pernyataan dan pertanyaan daripada cerita, saking pendeknya. Aku pun menjawab dengan singkat, sembari dalam hati berharap, semoga jawaban singkat tersebut bisa membantu. meski sedikit.

***

Aku termasuk orang yang jarang dicurhatin, tapi kadang dalam 'diam'-ku ada yang mau membuka suara dan menyapaku, kemudian bercerita. Dan uniknya, seringkali yang bercerita bukan cuma satu orang, kadang dua, atau seperti kali ini tiga orang. Topiknya pun seringkali serupa. Membuatku bertanya-tanya, apa pesan yang ingin Allah ajarkan padaku, dengan hadirnya cerita tersebut? Sikap apa yang baiknya kulakukan, agar bisa menjadi pendengar pembaca yang baik? *curhatnya via chat soalnya hehe

Aku termasuk orang yang jarang dicurhatin, maka setiap cerita yang kudengar dan kubaca menjadi istimewa di mataku. Karena aku tahu, bahwa tidak semua orang mudah bercerita. Banyak yang memendam dan mengubur ceritanya sendiri, membiarkan tumpukan emosi meninggi dan menyesaki otak dan dada.

Aku termasuk orang yang jarang dicurhatin, maka setiap cerita yang kudengar dan kubaca menjadi istimewa di mataku. Terima kasih telah bercerita, meski aku masih 'terbata' untuk mendengar/membacanya.

Terakhir, semoga setiap cerita menemukan 'akhir' yang indah, meski sebelum ke sana harus bertemu mendaki klimaks dan menuruni anti klimaks. Semoga setiap cerita, mengantarkan kita pada Rabb yang menuliskan garis hidup kita dengan skenario terbaik. Semoga setiap cerita mengajarkan kita bagaimana agar selalu berbaik sangka pada-Nya.


Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Saturday, January 4, 2020

Bye (2019) Hi (2020)

January 04, 2020 2 Comments
Bismillah.


Evaluasi 2019 dan resolusi 2020? Sounds familiar, isn't it? Topik yang memang banyak ditulis siapa saja, baik di blog maupun sosial media, bahkan juga didiskusikan tatap muka di akhir atau awal abad 2020.

2020, angka yang bagus ya? Menulis ini, mengingatkanku akan Doraemon, komik jepang yang terkenal. Sebagai penanda sebuah resolusi juga, bahwa kelak di abad ke 22 akan ada mesin waktu yang mengirim robot kucing ke masa lalu. Iya, masih 2020, masih abad 20, tapi angka dua yang berulang, dan doraemon, mengingatkanku bahwa memiliki visi, membuat resolusi, semua itu harus kita lakukan. Menulisnya tidak wajib, tapi memilikinya, dan menerapkannya itu penting agar hidup tidak merugi. Begitu pula evaluasi, sebagaimana doraemon dikirim ke masa lalu, kita, tanpa harus kembali ke masa lalu, bisa belajar dari kesalahan masa lalu. Asal kita mau mengevaluasinya, merefleksikannya, dan belajar darinya.

Selain karena hal tersebut, aku menulis ini, karena sudah lebih dua tahun saya mengenal gerakan @sabtulis, dan tulisan ini untuk sabtulis.

Sedikit Catatan 2018 + 2019

*warning* bener-bener personal, better skip this one!

Akhir tahun 2018, saya juga buat tulisan evaluasi, isinya singkat, bukan dalam bentuk narasi. Pencapaian dan yang perlu diperbaiki. Tersimpan di draft, dan memang tidak berniat dipublikasi. Tapi untuk hari ini, saya share sebagiannya.

sabtulis, salah satu cerita 2018-ku
Sekarang sedikit catatan 2019

- nelurin 2 e-book, satu kompilasi tulisan fiksi dari blog, satu lagi ikutan projeknya @sendysaga
- jadi panitia PYC, tes lagi kemampuan public speaking
- kuantitas nulis sabtulis turun, tapi kontribusi di tim superb sabtulis ok
- jadi tim MFA yang kedua kalinya, dan ini membuka pintu kontribusi lain meski kecil
- terhubung lagi dengan temen SMA
- dapet temen yang sering ngajakin olahraga
- FFB selesai, meski tidak maksimal menjadi peserta

Hal yang harus dilakukan ke depannya:

- copas tahun 2018
- menerapkan pelajaran dari FFB
- memutus rantai gajah, membuka kesempatan kolaborasi, aktif dan inisiatif di komunitas
- kirim draft ke penerbit, publish at least one small book.
- kelola blog yang sudah dibuat, rutin diisi. medium, newleaf, daribuku, betterword+ig  
- more and more istighfar
- rutinin lagi baca buku, small but consistent, tiap hari harusnya

Bye Masa Lalu, Hi Hari Ini

Menulis evaluasi dan resolusi artinya kita mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu dan menyapa hari ini.

Dengan menulis evaluasi, kita sebenarnya sedang menerima yang telah berlalu, semua, dari yang baik-baik, sampai yang sedikit menyakitkan. Dengan evaluasi kita seolah berbincang dengan diri dan masa lalu kita, tugasmu sudah selesai, aku belajar banyak darimu. Kini kamu tidak perlu menjadi pemberat langkahku. Catatanmu masih ada, dan aku juga bisa melihat ulang, dengan otoritasku. Karena bukan masa lalu yang memiliki-ku, tapi aku yang memiliki masa lalu. Tinta takdir-Nya sudah mengering, dan aku percaya, Allah menuliskan itu agar aku menjadi pribadi yang lebih baik, hamba yang semakin sadar akan peranannya. Allah menuliskan semua itu agar aku menjadi hamba yang sadar tempatnya berdiri, bahwa dunia ini tempat bekerja, dan akhirat tempat menuai. Bahwa dunia ini tempat singgah, dan akhirat tujuan pulang. Semoga Allah menjaga kita dari api neraka, dan memasukkan kita ke jannah-Nya. Aamiin.

Menulis evaluasi dan resolusi artinya kita mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu dan menyapa hari ini.

Dengan menulis resolusi, kita sebenarnya sedang bangun dan sadar, bersiap bekerja hari ini. Bukan mengalir mengikuti arus tapi berjalan dengan rencana dan tujuan yang jelas. Agar tangga-tangga yang kelak kita naiki tidak menjadi sia. Agar kita tidak terbuai distraksi, dan sekedar menjalani rutinitas. Menulis resolusi artinya kita optimis bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin. Catatan ini adalah bentuk pengingat, bahwa manusia sering lupa.

Terakhir, sudahkah menulis evaluasi 2019 dan resolusi 2020? It might be a little be late, but it's better than not doing it, right? Jika belum, sempatkan waktumu untuk menuliskannya, tidak harus di blog/sosial media, cukup di buku jurnal harianmu, atau di sebuah kertas yang kemudian ditempel di kamarmu. Semangaat ! Semoga Allah melingkupi hari-harimu dengan keberkahan. Aamiin.

***

Keterangan: Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Saturday, November 2, 2019

Karet dan Gelombang Laut

November 02, 2019 0 Comments
Bismillah.

#buku

Nukil Buku "Psikologi Suami-Istri" | DR. Thariq Kamal An-Nu`aimi

***


Laki-laki itu ibarat karet, sedangkan perempuan ibarat gelombang laut, begitu perumpamaan yang disebutkan di buku tersebut. Perumpaan itu digunakan untuk menggambarkan bergejolaknya jiwa masing-masing, dan cara masing-masing menenangkan diri.

Ada perbedaan psikologis yang besar antara laki-laki dan perempuan dalam bereaksi terhadap kelelahan dan kesulitan. Laki-laki memilih diam, menyendiri, dan berjarak, sedangkan perempuan memilih berbicara dan mengungkapkan perasaannya.

Reaksi laki-laki yang lebih banyak diam, menyendiri dan berjarak inilah yang membuatnya diibaratkan sebagai karet. Saat jiwanya sedang bergejolak, ia menjauh, seperti karet yang diulur. Tapi proses itu tidak selamanya, terkadang sebentar, terkadang lama, tapi yang pasti ia akan kembali pada keadaan awal sebelum ia 'mengasingkan diri'.

"Laki-laki itu seperti karet, ketika ingin menjauh dan menyendiri --dan ini sangat biasa terjadi pada laki-laki dalam keadaan tertentu--, ia memiliki hasrat khas untuk mencapai keinginan tersebut. Dan setelah mendapatkan ketenangan ia pun bisa kembali pada keadaan biasa." - DR. Thariq Kamal An-Nu`aimi

Seperti laki-laki yang jiwanya mengalami pergolakan, perempuan pun begitu.

"Perempuan seperti gelombang laut, di mana ketika merasa dicintai dan disenangi maka semangat mentalnya akan naik dan mukanya terlihat senang dan selalu tersenyum lebar. Keadaan jiwa perempuan seperti itu sedang berada di puncak. Setelah gelombang tersebut naik maka ia kan mengalami penurunan disertai dengan perasaan dan keadaan emosional yang dalam."
***

Mengapa laki-laki memilih diam dan menjauh ketika sedang jiwanya sedang bergejolak?

Disebutkan di buku ini bahwa saat laki-laki memiliki masalah, sebelum ia membuka mulut dan bicara satu kata pun ia akan memasukkan masalah ke dalam otaknya dan memikirkannya secara mendalam dengan cara diam.

Maksudnya, ia akan berfikir dengan cara diam dan setelah sampai pada hasil kesimpulan atau suatu pemecahan maka ia baru mulai mengatakannya.
Saat proses berpikir ini ia tidak mau diganggu karena dapat memotong fokusnya, dan jika terpotong ia harus memulai lagi dari awal. Kalau pun ada saat dimana ia ingin sejenak rehat dari proses berpikir, ia memilih melakukan hal santai di tempat yang tenang, ia tidak suka berbincang atau banyak berbicara, apalagi mengenai masalah yang sedang ia pikirkan.

Hal ini wajar, karena memecahkan dan mencari solusi sendiri atas permasalahannya adalah hal penting yang dapat memenuhi fitrahnya dan memuaskan dirinya. Berbeda dengan perempuan yang memilih berbicara dan mengungkapkan permasalahannya sebagai jalan untuk mengurai pikirannya.

***

Saat gelombang laut (kondisi jiwa perempuan) naik, dan turun

Jika gejolak jiwa laki-laki ditandai dengan diam dan menjauh saja, gejolak jiwa perempuan memiliki tanda yang jauh berbeda. Sama seperti gelombang laut, kondisinya lebih sering naik-turun ketimbang diam dan tenang. Ditambah lagi, perbedaan yang sangat drastis saat gelombangnya naik dan saat gelombangnya turun.
"Ketika gelombang naik, perempuan merasakan adanya cinta dan perasaan yang melimpah yang tersimpan pada dirinya dan ia ingin memberikannya kepada orang yang ia cintai. Tetapi ketika gelombang telah reda pada tingkat yang paling bawah maka perempuan akan merasa hatinya kosong." 
...
"Ketika gelombang sedang naik, perempuan akan merasa bahagia dan memberikan kemurahan cintanya. Beberapa saat setelah itu gelombang tersebut akan turun dan penurunan tersebut akan memunculkan perasaan pada perempuan yang menyerupai penjernihan pertimbangan perasaan. Dan dalam hati ia berusaha memeriksa adanya sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan. Dalam keadaan seperti ini perempuan merasa sangat perlu dan ingin membicarakan permasalahannya. Ia mulai mengeluh tanpa henti dan mencari orang yang mau mendengarkannya. Memahami dan menghargai yang ia katakan dan ia keluhkan."

Bahkan disebutkan pula di buku ini, bahwa proses penurunan perempuan ini sama seperti terjatuh dalam "sumur yang gelap".

"Ketika perempuan masuk ke sumur gelap tersebut ia akan tenggelam pada ketidaksadaran dan pikirannya terpecah belah. Terkadang perempuan merasakan dalam hati ada perasaan yang tertutup dan ia sendiri tidak memahaminya. Terkadang perempuan merasa putus asa, sendirian dan merasa tidak ada bantuan sama sekali. Ketika itu keadaan jiwa perempuan mengalami kegelisahan yang sangat hebat." 
"Tetapi ketika sampai pada dasar sumur dan merasa di sana ada orang yang berdiri di sampingnya dan bersedia menolongnya, maka secara otomatis dan cepat keadaan jiwanya akan kembali baik. Mulai ada perasaan senang dan kebahagiaan yang baru. Saat seperti itu akan menjadi sumber kebahagiaan bagi orang sekitarnya"
"Kesiapan perempuan untuk memberi dan menerima cinta dan kasih sayang, tergantung pada seberapa besar perasaan dalam dirinya sendiri. Dengan arti lain bergantung pada penghargaannya pada diri sendiri. Ketika penghargaan perempuan pada dirinya sendiri negatif, maka ia tidak siap memberi dan menerima cinta dan kasih sayang. Dalam keadaan seperti ini perempuan akan merasa dirinya kalah dengan keadaan jiwa yang rendah. Pada saat itu yang dibutuhkan adalah perasaan kasih dan sayang dari seorang laki-laki."
***

Sebenarnya di buku ini pembahasan kejiwaan laki-laki dan perempuan dibahas di dua bab yang berbeda. Dan perumpamaan karet dan gelombang laut ada di bagian awal setiap bab

Membaca buku ini, banyak membuka sudut pandangku tentang perbedaan laki-laki dan perempuan. Ternyata oh ternyata... apalagi kalau aku mencocokkan dengan situasi di rumah, ayah, ibu, adik, dan tentu saja diriku. Saat tahu perbedaan tersebut, semoga kita jadi semakin bijak dalam berinteraksi dan menjalin komunikasi. Selain itu, juga lebih mengenali diri sendiri.

Sebelum baca buku ini, aku pribadi suka ga paham dan bingung dengan kondisi diri. Begitu mudah naik-turun. Sebentar merasa baik-baik saja, sebentar berikutnya merasa tidak baik-baik saja. Persis seperti perumpamaan yang dipilih, ibarat gelombang laut. Apalagi saat membaca tentang kondisi turun yang mirip jatuh ke lubang sumur yang gelap. Bacanya sambil angguk-angguk setuju dan ingin berseru, "aah... iya betul-betul, bener banget." Kalimat ini terutama,
Terkadang perempuan merasakan dalam hati ada perasaan yang tertutup dan ia sendiri tidak memahaminya. Terkadang perempuan merasa putus asa, sendirian dan merasa tidak ada bantuan sama sekali. Ketika itu keadaan jiwa perempuan mengalami kegelisahan yang sangat hebat.
Trus tentang hal yang bisa membuat gejolak jiwa perempuan naik lagi, perasaan bahwa di fase jatuhnya tersebut ada orang yang berdiri di sampingnya dan bersedia menolongnya... kalau beneran ada orangnya, entah itu keluarga, teman, atau spouse, Alhamdulillah banget hehe. Tapi kalau pun ga ada, atau ada tapi kitanya ga nyadar, biasanya banyak baca alquran dan baca artinya, dengerin penjelasannya bisa juga menghadirkan perasaan itu. Perasaan bahwa ada Allah bersama kita, dan bersedia menolong kita. 


لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا
 Jangan bersedih, Allah bersama* kita
*kata ma'a bukan cuma bermakna bersama tapi juga siap sedia membantu kita.


Terakhir, untuk siapapun yang jiwanya sedang bergejolak, semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan. Aamiin.

Semangat membaca semuanya~

Allahua'lam.

***

Keterangan: 

[1] Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

[2] Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Saturday, October 5, 2019

Menengok Diary Jaman SMA

October 05, 2019 0 Comments
Bismillah.

#nostalgia #hikmah


Beberapa hari ini saya banyak memandang ke belakang, menengok file-file lama yang tersimpan, baik foto maupun dokumen. Sampai terhenti di sebuah dokumen ber-password yang merupakan diary digital jaman SMA dulu. Penasaran aku buka, sempat kesulitan cari password, setelah belasan kali gagal, akhirnya aku menemukan kata sandinya.

Oh ya, beda dengan password sosial media, blog, yang ada sistem yang membantu kalau kita lupa, dokumen microsoft word berpassword lebih kejam. Kalau ga ingat password, otomatis kita kehilangan akses membuka dokumen tersebut. Proses inget-inget password, coba sampai puluhan kali dengan kombinasi karakter angka, case sensitive membuatku sempat kepikiran, apa perlu pakai software input password dengan sekian banyak probabilitas hehe. Lega sekali aku ingat passwordnya, setelah memastikan bahwa aku tidak pernah mengutak atik tentang huruf kapital. Hanya kombinasi huruf dan angka saja. Hikmah dari cari password di memori otak, adalah segera mencatatnya di diary digital terbaru hehe.

***

Membaca sekian lembar isinya bukan hanya bentuk nostalgia, aku bisa mencerna setiap informasi dengan perspektif baru. Aku tidak hanya melihat diriku di masa lalu, tapi juga teman-teman di masa lalu. Seperti seorang kawan yang menghabiskan harinya sampai sore/magrib di sekolah, atau mengapa kawan yang lain memilih jalan curang 'demi' nilai yang lebih baik, atau tentang siswa kelas sebelah yang hampir pindah sekolah karena tidak masuk jurusan IPA. Kalau dulu aku hanya melihat personalnya, kini saat membaca kembali curhatanku, aku bisa melihat dari sudut pandang berbeda.

Orangtua yang sibuk bekerja di luar kota, anak harus bersekolah dan tinggal di rumah nenek/saudaranya. Pasti di rumah ia bosan, ada rasa kesepian, yang bisa ia 'hancurkan' dengan lebih lama berada di sekolah. Bertemu kawan-kawan yang 'senasib', yang juga memiliki orangtua yang super sibuk.

Ketika ujian tengah/akhir semester, setting tempat ujian diubah. Satu kelas dibagi menjadi dua ruangan, bertemu dan bersebelahan dengan kakak atau adik kelas. Hp mungkin dikumpulkan di depan kelas sebelum ujian dimulai. Namun peluang untuk curang selalu ada. Ada yang memilih jalan pintas ketimbang harus bersusah payah belajar dan berlatih mengerjakan soal. Ia begitu kreatif. Sehingga ide itu muncul di kepalanya. Sistemnya setiap siswa yang selesai mengerjakan soal bisa keluar kelas terlebih dahulu. Ia hanya perlu menutup lembar jawabnya. Setelah ia pergi, dengan licik ia menyuruh adik kelas untuk membalik lembar jawab teman yang duduk di depannya, yang sudah pergi karena selesai mengerjakan soal. Kemudian dengan santai ia menyalin jawabannya. Ia merasa beruntung karena duduk di belakang siswa cerdas. Baginya, toh ia tidak merugikan temannya. Baginya, jalan pintas itu lebih menyenangkan.

Orangtua yang berprofesi seorang dokter, menginginkan anaknya melanjutkan prestasinya. Tentu mereka kaget dan marah, saat tahu anaknya, yang pintar ternyata masuk penjurusan IPS. Mereka tidak terima, karena mereka tahu anaknya mampu untuk masuk jurusan IPA. Ancaman untuk pindah sekolah siap mereka layangkan pada pihak sekolah. Tapi... bagaimana kalau itu adalah keinginan anaknya yang tersembunyi? Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana mereka akhirnya berkomunikasi dan memutuskan untuk menerima hasil penjurusan tersebut. Mungkin anaknya berhasil meyakinkan orangtuanya, atau mungkin orangtuanya punya rencana lain, karena dengar kabar anak rekannya yang SMA jurusan IPS namun tetap bisa masuk kedokteran atau jurusan kuliah IPA dengan beberapa cara dan tentunya bukan usaha yang mudah.

***

Menengok diary jaman SMA membuatku melihat setiap scene di dalamnya lewat sudut pandang lain. Semakin aku tua, semakin banyak informasi, ilmu dan pengalaman yang aku punya. Hal itu mempengaruhi cara berpikirku.

Kalau dulu deretan kata di sana hanya sekedar pelampiasan emosi, dan tempat aku menyimpan memori dan informasi yang berkelebat di otak. Kini, deretan kata itu bukan sekedar apa yang ada di atas layar. Aku bisa menemukan kesimpulan baru, insight baru. Kalau dulu aku hanya mengenali teman-teman dan menuliskan mereka beserta kegiatan mereka, apa yang mereka katakan padaku, sikap mereka. Kini aku bisa melihat dan mengenali sisi serta karakter mereka. Betapa si A terkesan cuek tapi ternyata observant, atau si Y yang dalam diamnya begitu mudah jatuh hati pada orang lain.

Terakhir, tentu saja, aku banyak melihat tumbuh kembang diriku, *emangnya tanaman hehe. Bagaimana aku banyak berubah, tapi juga masih sama.

Oh ya, ada yang hampir ketinggalan. Yang paling penting padahal. Menengok diary masa SMA juga mengingatkanku, bahwa Allah selalu, dan selalu menghujaniku dengan kasih sayang dan nikmat yang tidak pernah bisa dihitung.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Saturday, September 7, 2019

Ayah dan Anak Perempuannya

September 07, 2019 0 Comments
Bismillah.


Ada yang pernah baca atau dengar pepatah, bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya? Aku dulu berpikir, pepatah itu cuma pemanis buku dan film. Aku belum tahu, betapa besar peran ayah pada anak perempuannya.

***

Seorang bayi perempuan lahir, tumbuh besar, kemudian mulai belajar tentang dunia dan apa-apa yang di dalamnya, salah satunya cinta. *katanya ga mau bahas cinta bell? wkwkwk.

Bukan tentang cinta kepada Allah dan Rasulnya. Bukan cinta anak kepada orang tua. Tapi cinta perempuan kepada laki-laki, atau sebaliknya. Dan tahukah darimana sang anak belajar tentang itu? Dari ayahnya.

Dan tahukah bagaimana akibatnya, jika ia tidak belajar tentang itu?

***

Tulisan ini hadir sebenarnya karena aku melihat realita, perempuan-perempuan yang hatinya hancur karena 'cinta'. Rasa percaya dirinya hancur. Ia merasa 'rendah' hanya karena tidak ada yang melirik dan mendekatinya. Perempuan-perempuan yang kesulitan mencintai dirinya sendiri. Yang merasa tidak berharga karena merasa tidak ada yang menyayanginya, tidak ada yang mencintainya. Bukan... bukan cinta dari ibu, atau dari teman-teman. Tapi cinta dari laki-laki. Cinta dari keluarga dan teman-temannya yang berlimpah bak gajah di pelupuk mata. Ia hanya fokus, pada cinta dari laki-laki yang belum juga hadir.

Seorang anak perempuan yang merasakan kasih sayang dan cinta dari ayah, akan tahu bagaimana rasanya dicintai seorang laki-laki. Dan orang itu adalah ayahnya. Dan dari 'cinta pertama' tersebut ia belajar dan mengetahui nilai dirinya. Bahwa ia, dengan segala keunikannya, pantas dicintai dan disayangi.

***

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Allah hadirkan sosok ayah yang mengajarkan kita tentang cinta, bagaimana rasanya disayangi, dicintai, dihargai, dilindungi. Karena jika kita belajar dari laki-laki lain, mungkin yang tertinggal bukan hanya pelajarannya, tapi juga lebam dan goresan luka.

Salut juga, pada ibu-ibu yang mendidik anaknya seorang diri, single parent, namun bisa menanamkan dan mengajarkan anaknya bagaimana menjaga diri dari cinta 'semu' yang manis tapi. meracuni.

Dan juga untuk anak-anak perempuan, yang mungkin tidak tumbuh dan mendewasa dalam keluarga yang ideal. Namun tetap bisa berdiri kokoh dan menjaga hatinya, lewat keterhubungannya dengan Rabb-Nya.

Terakhir, untuk siapapun yang pernah terluka karena salah belajar tentang cinta, semoga Allah membalut lukamu dan mengobatinya. Setiap manusia pasti pernah jatuh, pernah salah. Tapi mereka yang mau bangkit dan mengambil hikmah, Allah tidak akan menyia-nyiakanmu. J

Allahumma inni as aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba kulu 'amalin yuqarribunii ilaa hubbika. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Saturday, August 24, 2019

Dua Kali

August 24, 2019 0 Comments
Bismillah.

Dua kali, kritikan yang sama dari salah satu orang terdekat membuatku otak dan perasaanku porak poranda. Seolah selama ini aku sudah dengan halus diingatkan, tapi aku kurang peka. Hingga akhirnya cermin itu di datangkan langsung tepat di depan wajahku. Duk. Wajahku beradu dengan cermin tersebut, kemudian aku mengaduh pelan. Di hadapanku, refleksiku juga melakukan gerakan yang sama, tanpa suara. Aku mengusap hidungku dengan tangan kanan, sosok dalam cermin juga mengusap hidungnya dengan tangan kirinya.

***


Prolognya berlebihan kah? Hehe. Aku tidak benar-benar menabrak cermin. Itu hanya deskripsi perasaanku saja, karena kritik itu hadir lagi, dari orang yang sama. Seseorang yang selalu punya tempat istimewa di hati. Kalimat yang ia sampaikan mungkin tidak sama persis tapi pesannya sama. Dan aku jadi merasa bersalah.

Disebutkan olehnya, perilaku dan tingkahku, tidak mencerminkan ilmu yang aku pelajari. Seolah sia-sia buku yang kubaca, karena aku tidak mengamalkannya. Untuk apa? Kalau hanya menjadi tumpukan, dan tidak diejawentahkan?

And it hurts. Tiba-tiba aku merasa wajahku tertutup berlapis-lapis topeng. Barangkali, selama ini begini rupaku. Orang lain mungkin tidak sadar, tapi ia, salah satu orang terdekat dalam hidupku merasakannya. Ia bertanya-tanya, kemana perginya ilmu yang kubaca dan kudengarkan?

***

Aku bungkam, menatap refleksi diri di cermin yang disajikan Allah saat itu. Cermin yang hadir bukan untuk membuatku merasa putus asa. Tapi agar aku dapat melihat dengan baik dimana aku berpijak.

Lisanku memang diam, tapi perasaan dan otakku tidak. Yang satu berusaha untuk tenang agar tidak terbawa emosi. Yang lainnya berusaha mencari cara, agar kritik tersebut menjadi pembangun dan bukan perusak diri.

Sampai kalimat-kalimat yang sudah kuhafal hadir di sisiku. Kemudian berbisik lembut,

"Sayang, kau sudah membacaku belasan kali setiap hari. Bukankah ini saatnya untuk meresapi maknaku, dan bukan sekedar merapalkannya bak mantra?"

***

Ihdinashiratal mustaqim. Tunjukkan, bimbing kami ke shirat al mustaqim. Satu-satunya jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Shiratalladzina an'amta 'alaihim. Jalan orang-orang yang pernah Engkau beri nikmat. Rasul-Mu, Nabi-nabi-Mu serta orang-orang shalih terdahulu.

Ghairil maghdubi 'alaihim. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai. Orang-orang yang mengetahui kebenaran namun justru berbalik arah. Orang-orang yang cerdas dan berilmu, namun tidak diamalkan.

Wa ladhollin. Dan bukan jalan orang-orang yang tersesat. Orang-orang yang melangkah tanpa tahu arah. Orang-orang yang beramal tanpa ilmu.

Ya, kalimat-kalimat itu ada di Al Fathihah. Banyak yang hafal di luar kepala, sehingga lafalnya bisa meluncur begitu cepat di lisan kita, tanpa benar-benar masuk ke hati.

***

Dua kali. Dan semoga tidak perlu diulangi lagi kritik itu. Biar aku saja... Yang berusaha mengingatnya setiap kali aku berdiri dan membaca kalimat-kalimat yang diajarkan Arrahman pada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam. Biarkanku mengingatkan diri, bahwa saat meminta dibimbing di jalan yang lurus, ada kemungkinan kita berbelok ke jalur yang salah.

Semoga Allah memudahkanku mengeja makna kalimat-kalimat tersebut. Semoga Allah kokohkan langkahku agar bisa menjadi lebih baik hari per hari.

***

Terakhir, untuk seseorang yang lewat lisannya aku bisa bercermin, semoga Allah merahmati dan memberkahi hidupmu. Tetaplah seperti itu, aku butuh orang-orang dekat yang melihat sisi burukku, dan berani untuk menegurku. Karena banyak yang mengkritik untuk menjatuhkan, tapi denganmu, aku tahu, kau melakukannya karena menyayangiku.

Allahua'lam bishowab.

***

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Saturday, June 22, 2019

Kawan, Sahabat, Teman?

June 22, 2019 0 Comments
Bismillah.

Ada beberapa kata yang berbeda untuk mendefinisikan seseorang yang dekat dengan kita, kawan, sahabat, teman, sohib, rencang *ada yang gatau ini bahasa apa? hehe.

Begitu pun di Al Quran. Ada beberapa. Salah dua satunya disebutkan di ayat-ayat ini.

فَمَا لَنَا مِن شَـٰفِعِينَ

Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa'at seorangpun, [Surat Asy-Syu'ara (26) ayat 100]

وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍۢ

dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, [Surat Asy-Syu'ara (26) ayat 101]

Yang pertama Syafi' dan yang kedua Hamim. Sebenarnya malah tiga ya? Sama Shadiq? Untuk arti dan perbedaannya bisa baca di Jenis Teman dalam Al Quran

Nah, ada yang unik dari bentuk kata syafi' dan hamim. Yang satu bentuk plural, alias jamak. Dan satu lagi bentuk singular atau tunggal. Ada yang bisa nebak mana yang bentuk tunggal mana yang jamak? *saya juga sempat ragu, sampai keinget muslim chart

muslim chart.
Syafi'ina adalah bentuk jamak. Sedangkan hamim adalah bentuk tunggal. Apa bedanya dua kata yang sama-sama mendefinisikan "teman"?

Syafi' adalah teman biasa, yang tidak terlalu dekat dengan kita. Atau dekat mungkin, namun ia tidak tahu banyak tentang sisi buruk di diri kita. Ia belum pernah melakukan perjalanan dengan kita, belum pernah nginep/camping bareng, dan juga belum pernah berbisnis dengan kita. Syafi' adalah orang-orang yang saat ditanya, "B tuh orangnya gimana?" maka mereka bisa dengan mudah menjawab, "B? Orangnya baik."

Sedangkan hamim, adalah teman yang bukan sekedar teman. Seorang sahabat yang tahu sisi buruk kita, kekurangan kita.

And they're saying, fama lana min syafi'in wala shadiqin hamim. We don't have people that are going to make a case for us, we don't have any friend that is intimate and close. 
Now in this language, the first group that they complain they don't have in their favor, on their side is syafi'in which is plural, people who will make a case for us. And then they say, we don't have a single friend that is close to us, shadiqin hamim, an intimate close friend. So they go from people who make a case for us, which is plural, to a single friend which is really powerful. 
Because, you know when you ask somebody, "Hey, what do you think of this person?"
"You're alright, they're cool" You know? You can find a lots of people that are "okay" with you. They don't know you well enough. "And they're seems like a good person". That's a syafi' that's someone who came and said "Yeah, you know what? You're not that bad." 
But then to find someone who's closed and intimate, and knows you deeply well and then care about your well-being and stops and tries to plead on your behave that, "please don't let him go into the hell fire" "I'll vouch for him", etc. There's not gonna be a lot of people. There's not a single one. 
So the one that tend to have many of, the plural is used. And the one that just, maybe if you find one, that would mean a lot, the singular is used. And there's an immediate switch from the plural to the singular. It's very powerful and beautiful. 
- Nouman Ali Khan, Company in Paradise (Amazed by The Quran Season 2)
Immediate switch, perubahan dari bentuk jamak ke tunggal, kalau kita bisa melihatnya saat membaca quran, seharusnya itu membuat kita merenung dan berpikir. Lalu kita amazed, kagum.

Bahwa Allah tidak hanya menggambarkan kenyataan di hari akhir nanti, bahwa jumlah teman yang sekedar tahu/kenal kita lebih banyak, ketimbang sahabat yang tidak cuma tahu baik-baik kita tapi juga kekurangan dan keburukan kita itu sedikit. Allah juga menggambarkan kenyataan tersebut di dunia. Coba hitung jumlah 'friend' di FB, atau jumlah teman satu almamater, satu kelas, teman satu daerah, banyak kan? Tapi yang benar-benar mengenal kita, tahu kekurangan dan kelebihan kita, ada berapa? Sedikit.. mungkin sangat sedikit.
Fama lana min syafi'in wa la shadiqin hamim. And in doing so, Allah doesn't just describe something that happen on the judgment day. As a matter of fact He described the matter of relationship. You know, casual relationship where people will have good opinion of you, are lots of them. There's acquaintances that thinks highly of you, or think okay of you. They don't have a poor opinion of you. They're syafi'. You know. 
But then, to have people vouch for you, that are the closest most intimate friend, that's actually a testimony of character. Because people that are very very close to you, they know your flaws, they don't just know the good thing about you. Right? So when they speak highly of you, that's actually means something. That's actually genuinely means something when they speak highly of you. So that's kind of settle lesson that's taught just by the switch between the plural and the singular.
- Nouman Ali Khan, Company in Paradise (Amazed by The Quran Season 2)
***

Dua ayat ini mengingatkanku untuk belajar bahasa arab, *hmmm. Kalau kata orang, bahasa arab-lah yang bisa membuat kita betah berlama-lama dengan quran. **jadi kapan mau belajar Bell??

Dua ayat ini juga menghiburku, yang kemarin-kemarin sempat sedikit sedih karena memikirkan pertemanan, persahabatan. Seolah ayat ini, menepuk pundakku pelan, "memang begitu, hanya akan ada sedikit."

Dua ayat tersebut juga mengingatkanku pentingnya memperhatikan akar pertemanan kita. Agar tidak berhenti di dunia saja, tapi juga hingga akhirat nanti. Berteman, bersahabat karena Allah. Iman yang menguatkan jalinannya, dan setiap bertemu, atau berkomunikasi, masing-masing saling mengingatkan kepada Allah, mungkin tidak selalu lewat sharing ayat quran atau hadits, tapi bisa jadi lewat keteladanan kecil, ajakan shalat berjamaah di awal waktu, setiap bertemu memberi salam dan berjabat tangan, dengan wajah tersenyum, dll.

Kawan, sahabat, teman... bisa lebih bermakna, jika jalinannya berakar dari iman, dan dihiasi dengan tawashau bil haqq dan tawashau bis shobr. Saling mengingatkan pada kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran.

Allahua'lam.

***

Keterangan:

[1] Nouman Ali Khan, Company in Paradise (Amazed by The Quran Season 2)


[2] Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

***

PS: Baru nyadar tulisan sabtulis dua pekan sebelumnya, juga ambil dari video ini. 

Saturday, June 1, 2019

Kumpul; Tak Lagi Kesepian

June 01, 2019 0 Comments
Bismillah.

Photo by Daniel Cheung on Unsplash

Menjelang idul fitri biasanya menjadi momen untuk kumpul keluarga. Ini termasuk salah satu alasan mengapa ada budaya mudik, ya, untuk kumpul. Kumpul merupakan salah satu cara ampuh untuk mengusir kesepian. Yang merantau? Ga bisa mudik? Apa artinya ia harus rela berteman dengan sepi? Tentu saja tidak, karena sebenarnya kalau kita mau cari, pasti ada orang-orang yang bisa kita ajak untuk kumpul. Entah itu sesama perantau dari satu daerah, atau ke masjid, dan bertemu sesama muslim. Atau bisa juga hadir ke rumah yang mengadakan open house. Aku pernah membaca tulisan  dan cerita langsung dari teman-teman yang lebaran di kampus.

Kalau masih tidak bisa kumpul? Mungkin satu hal ini bisa sedikit menghiburmu, diambil dari serial Amazed by The Quran, judulnya "Company in Paradise".

Ada dua ayat dengan immediate switch, perubahan dari kata tunggal ke kata jamak, atau sebaliknya dari kata jamak ke kata tunggal.

Yang pertama, perubahan dari tunggal ke jamak, pada ayat yang menggambarkan tentang penghuni  surga.

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ يُدْخِلْهُ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا

"... Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya..." [Surat An-Nisa (4) ayat 13]

Waman yuthi'illaha wa rasulahu, barangsiapa taat kepada Allah dan rasulnya. Yudkhilhu, Allah akan memasukannya, Allah will entered him. Kata ganti tunggal semua. Jannatin tajri min tahtihal anharu. Ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Kholidina fiiha, sedang mereka kekal di dalamnya. Kata ganti jamak.

"Allah is describing the scenario of someone who didn't have much company in this life. Perhaps because of their faith they were left alone. 
Perhaps because of their faith, everybody around them abandoned them. Their family disown them, their friends left away from them.
And maybe even if they were around muslims, they were the only one who took islam seriously or something. And as a result they felt isolated. They felt pushed away from other people. 
And these are people who did not let go of their commitment to good deeds and obedience to Allah and His messenger, regardless of the pressure that came. Regardless of the isolation that they felt." -Nouman Ali Khan
Perasaan kesepian itu manusiawi, setiap orang pernah merasakannya. Dan salah satu cara mengusirnya dengan kumpul. Tapi kadang, ada kesepian yang masih terasa meski di keramaiaan.

Allah melalui ayat ini menghibur orang-orang beriman yang kesepian. Bahwa perasaan itu akan hilang, di dunia, lewat orang-orang yang dikirimkan Allah untuk menemani kita. Dan juga di akhirat kelak, saat kita masuk surga.
"The first gift when He entered him into the gardens, into the gardens of heaven, in jannah, is that they're in a company. They're never gonna be alone again. They will remain. 
So Allah actually pushed them into plurality. He gives them a new family. He gives them company, things that they lost out or missed out on as a result of their islam, as a result of their submission. Subhanallah." -Nouman Ali Khan
***

Trus, apa harus menunggu di surga dulu, baru hilang rasa sepi? Ga dong hehe. Allah mensyariatkan kita untuk menyambung silaturahim, saling bertukar salam, memberi hadiah, sebagai hal-hal yang bisa mengusir kesepian, termasuk kumpul.

Meski kita mungkin bukan social butterfly, sesekali paksakan dirimu untuk hadir dan kumpul. Kalaupun tidak bisa hadir secara fisik, pastikan komunikasi tersambung. Telponlah orang tua, teman-teman, sanak saudara. Atau kirim pesan, apapun yang bisa mengusir rasa sepi, jika kamu tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Ingatkan diri kita, bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.

Terakhir, semoga perpisahan kita dengan Ramadhan tidak memisahkan kita dengan kebiasaan baik, dan amal ibadah yang kita lakukan di dalamnya. Selamat kumpul, semoga amal ibadah kita diterima, dan dosa-dosa kita di ampuni. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan:

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.


Saturday, May 18, 2019

Ramadhan: Bulan Membangun dan Menghancurkan Habit

May 18, 2019 0 Comments
Bismillah.

Ramadhan apa kabar? Semoga semangat beribadahnya masih terjaga ya.^

Tahu ga sih? Selain bulan diturunkannya Al Qur'an dan bulan disyariatkan puasa, Ramadhan juga merupakan bulan yang tepat untuk memperbaiki habit kita. Kenapa? Karena Bulan Ramadhan, Allah desain sebagai bulan training , bulan kita melatih ketakwaan. Pintu surga dibuka, pintu neraka di tutup dan setaan-setan dibelenggu. Ga cukup cuma itu, setiap amal ibadah pahalanya dilipat gandakan, ampunan dicurahkan, dan doa-doa ijabah. Karena itulah, momen bulan Ramadhan tepat jika digunakan untuk memperbaiki habit, membangun kebiasaan baik dan menghancurkan kebiasaan buruk.


Caranya gimana? 

Ada yang masih hafal silsilah habit? Siapa ayah dan ibunya? Betul! Habit dilahirkan dari latihan dan repetisi (pengulangan). Dari rumus itu, kita bisa membangun habit baik dan menghancurkan habit buruk.

Membangun Habit Baik


Ada ga yang merhatiin kondisi kita pas bangun sahur hari pertama, sampai bangun sahur hari ini? Waktu awal-awal pasti rasanya berat, karena kita belum terbiasa bangun di waktu sahur. Tapi setelah sekian hari, terasa lebih mudah kan?

Nah, untuk membangun habit baik, kita cuma perlu melakukan dua hal, latihan dan repetisi. Awalnya berat, dan harus memaksakan diri. Tapi lama-lama akan terasa lebih mudah. Buat jadwal repetisinya, dan kaitkan dengan kebiasaan yang sudah terbentuk. Misal kita ingin membiasakan membaca buku setiap hari. Kita jadwalkan baca buku sepuluh menit sebelum buka puasa. Sambil nunggu buka puasa, kita melatih kebiasaan membaca buku sepuluh menit setiap hari.


Menghancurkan Habit Buruk


Kalau yang ini caranya dengan memecah repetisinya. Sama seperti kita puasa, mirip-mirip. Kalau kita bisa ga merokok saat puasa, ga minum gelas-gelas kopi saat puasa, berarti kita juga bisa menghancurkan habit buruk kita. Caranya, buat aktivitas pengalih setiap kali kita hendak melakukan kebiasaan buruk tersebut.

Misal kita ingin mengurangi kebiasaan buruk terlalu lama di sosial media, atau sebentar-sebentar buka sosmed. Setiap kali ingin buka sosmed, wajibkan dirimu baca selembar quran (2 halaman). Lumayan kan, sambil berusaha memecah repetisi, kita juga dapet pahala baca quran^^

Ada yang lebih ekstrim lagi, hilangkan pintu menuju kebiasaan tersebut. Karena kalau kita ga punya akses atau faslitas untuk melakukan kebiasaan buruk tersebut, otomatis tidak ada repetisi. Kalau misal kebiasaan buruk sebentar-sebentar buka sosmed, kamu bisa jauhkan hp dari jangkauan tangan. Titipin ke rumah tetangga di ujung gang misal hehe. Atau minimal kamu dan hpmu berada di ruangan yang berbeda.

***

Setiap harinya, buat checklist, dan evaluasi jika ternyata kamu gagal membangun atau menghancurkan habit sesuai rencana awal.

Semoga di Bulan Ramadhan, kita tidak hanya mencapai takwa, mendapatkan ampunan dan pahala dari Allah. Tapi juga mendapat habit baik yang baru dan menghancurkan habit buruk kita.

Karena jika kita mau jeli, Bulan Ramadhan mengajarkan kita bahwa kita tidak dikuasai oleh kebiasaan kita. Justru kita yang punya kuasa untuk membangun atau menghancurkan habit. Seperti jam 3 kita biasa masih pulas di kasur, dan di bulan ini kita bangun untuk makan sahur. Ya, seperti itu juga, kita bisa memperbaiki habit kita. Baik itu membangun kebiasaan baik, maupun menghancurkan kebiasaan buruk.

Semangat~

Allahua'lam.

***

Keterangan:

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Saturday, May 11, 2019

Bukan Cuma Khatam

May 11, 2019 2 Comments
Bismillah.

Salah satu budaya yang baik di bulan Ramadhan adalah mengkhatamkan Quran.



Ayat tentang ramadhan terletak di Al Baqarah ayat 185, syahru ramadhanalladzi unzila fihil quran. Bulan Ramadhan istimewa karena di bulan ini Al Quran diturunkan. Selanjutnya ayat tersebut menjelaskan tentang Quran sebagai huda, bayyinah minal huda, dan bayyinah minal furqan.

Pertama Al Quran sebagai petunjuk untuk semua manusia, ya semua manusia bukan cuma untuk orang islam, dan bukan hanya untuk bangsa arab.

Kemudian Al Quran sebagai bukti atas petunjuk, bukti-bukti nyata bahwa Al Quran adalah petunjuk untuk manusia. Mulai dari ayat-ayat yang sangat terhubung dengan kehidupan pribadi, ayat-ayat terkait sains, juga bukti dari segi struktur dan angka. Bukti bahwa Al Quran adalah kalam Allah, bukan karangan manusia, ada di dalam Al Quran itu sendiri. Jika kita mau memikirkan ayat-ayatnya, mentadabburi ayat-ayatnya, serta berkontemplasi dari ayat-ayat tersebut, kita akan menemukannya.

Dan yang terakhir, Al Quran sebagai bukti atas pemisah, pemisah apa? Pemisah antara kebenaran dan kebathilan, pemisah yang halal dan yang haram, pemisah antara jalan yang sesat dan jalan yang lurus, dll. [1]

Karena itu, kita dianjurkan untuk berkenalan dan melakukan "pendekatan" ulang di bu/lan Ramadhan. Bagaimana agar interaksi dengan Al Quran tidak hanya mengkhatamkan membacanya? Berikut ini pilihan aktivitas dengan Quran,

1. Membacanya dengan Tartil

Membaca Al Quran memiliki banyak keutamaan, di hari biasa membaca setiap huruf Al Quran dihitung 10 kebaikan. Di bulan Ramadhan pahalanya dilipatkan dan digandakan. Bahkan yang belum lancar membaca mendapatkan dua pahala.

Yang harus dihindari dalam membaca Al Quran adalah membaca dengan terburu-buru. Allah berfirman dalam QS Al Muzzammil, warattilil qurana tartila, dan bacalah Quran dengan tartil. Perlahan dan sesuai kaidah tajwidnya. Saat kita terburu-buru membaca Al Quran, seringkali kita salah dalam membacanya. Selain itu, dengan membaca perlahan dapat memberikan kita kesempatan untuk memahami ayat-ayatnya.

2. Menyimak bacaan Al Quran

Uniknya Al Quran, mendengarkannya juga mendatangkan pahala. Dalam perjalanan menuju tempat kerja, atau saat sedang mempersiapkan makanan berbuka, cobalah mendengarkan Al Quran. Menyimak Al Quran dapat melembutkan hati. Mata kita terhubung langsung dengan otak, sedangkan telinga terhubung dengan hati. Melatih telinga kita untuk mendengarkan Al Quran dan hal yang baik-baik akan memberi pengaruh yang baik untuk 'kehidupan' hati kita.

3. Membaca Terjemahan Al Quran

Terutama bagi kita yang belum bisa bahasa arab, terjemahan bisa memberikan sedikit gambaran tentang ayat-ayat yang kita baca. Dengan membaca terjemahan Al Quran, kita bukan hanya membaca dengan lidah. Tapi kita membaca dan mengetahui artinya.

4. Mendengarkan atau Membaca Penjelasan/Tafsir Al Quran

Terjemahan saja tidak cukup. Kita perlu juga mendengarkan dan membaca penjelasan atau tafsir Al Quran. Pemahaman kita tentang sebuah ayat akan meningkat dengan melakukan ini. Dan itu membuat kita semakin dekat dengan Al Quran. Pun saat kita membacanya dalam shalat, kita lebih mudah untuk menghayati setiap ayat yang dibaca.


5. Mendengarkan atau Membaca Tentang Mu'jizat Al Quran

Apa bedanya dengan poin sebelumnya? Jika sebelumnya adalah tentang konten dari Al Quran, yang ini lebih fokus pada apa yang membuat Al Quran amazing. Mendengarkan dan membaca tentang mu'jizat Al Quran akan membuat hati kita puas dan lebih mantap, bahwa memang Al Quran diturunkan oleh Allah.

6. Menghafal dan Mengulang Hafalan Al Quran

Ada banyak keutamaan menghafal Al Quran, salah satunya menjadi keluarga Allah di dunia, juga berkesempatan memberikan jubah kehormatan pada orangtua di akhirat nanti. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menghafal dan mengulang hafalan. Berapapun usiamu, apapun pekerjaanmu, dimanapun kamu berada, kamu mulai bisa menghafal. Kuatkan tekad, buat rencana 'kecil', luangkan waktu, lalu menghafal-lah, jangan lupa berdoa agar Allah mudahkan dan berkahi prosesnya.

7. Mempelajari dan Mengajarkan Al Quran

“Khoirukum man ta’allamal-qur`aana wa ‘allamahu.” (HR Bukhari no. 5027) “Yang terbaik di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al Quran dan kemudian mengajarkannya.”

Belajar dan mengajarkan baca 'a ba ta'. Belajar dan mengajarkan bahasa arab agar dapat memahami Al Quran. Belajar dan mengajarkan tafsir dan penjelasan ayat-ayat quran.

***

Ada ide lain? Saya ingin menambahkan membuat jurnal quran, tapi merasa ingin mencukupkan di nomor tujuh agar ganjil. Hehe.

Semoga Ramadhan ini kita memperbanyak kuantitas dan kualitas interaksi dengan quran. Semoga kita bukan cuma membudayakan khatam quran, tapi juga membudayakan interaksi lain dengan quran di Bulan Ramadhan.

Have a nice Ramadhan~ Have a barakah Ramadhan, with quran^^


Allahua'lam.

Keterangan:

[1] Resume "A Deeper Look" Al Baqarah ayat 184-186 oleh Heru Wibowo, di blog dan sosmed NAK Indonesia

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Monday, April 15, 2019

Bahasa Alam

April 15, 2019 0 Comments
Bismillah.

Awal April Sabtulis angkat tema "Alam". Meski sudah terlambat, aku masih ingin menulis dengan topik tersebut.

***


Pikiran pertama yang terlintas dan diracik otakku saat membaca kata "alam" adalah "bahasa alam", bahasa yang penuh kode dan tanda-tanda unik, mirip bahasa bersayapnya perempuan. Ini saya ketahui dari kelas perdana Forum Femininitas Bunda (FFB)

Kelas pertama baru perkenalan tentang femininitas, bedanya dengan feminisme. Bahkan bisa dikatakan justru kelas femininitas bertolak belakang dengan ide yang dibawa feminisme. Jika feminisme justru ingin menyamakan perempuan dengan laki-laki. FFB justru ingin mengasah sifat feminin perempuan. Femininitas mencakup perasaan, ketulusan, cinta, empati, intuisi, peduli dan berbasis hati.

Balik lagi ke bahasa alam. Menurut penjelasan Pak Adriano Rusfi, yang akrab disapa Bang Aad, sifat alam mirip dengan perempuan. Bahkan dalam quran, kata-kata yang mewakili alam (bumi, matahari, malam, siang, dll) sifat katanya feminin.

Bahasa alam itu tersirat, simbolik. Bahkan setiap ada bencana alam, sebenarnya sebelumnya alam sudah memberitahukan lewat 'bahasanya'. Bang Aad menyebutkan beberapa contoh, seperti bencana tsunami, yang sebelumnya ditandai dengan air laut yang surut jauh. Atau saat gunung api merapi aktif, tentang kera berekor panjang dan kera berekor pendek yang turun sebagai pertanda tingkat kewaspadaannya.

Beliau juga menjelaskan tentang sedikit sekali kita belajar dari alam. Bahkan sekolah-sekolah 'alam', pada akhirnya hanya melakukan perpindahan tempat, dari ruang tertutup ke ruang terbuka.

Memperhatikan alam, mengamatinya, dan berusaha belajar bahasa alam, akan mengasah sifat feminitas manusia. Tidak hanya untuk perempuan, namun juga laki-laki. Dari FFB, disebutkan idealnya laki-laki memeliki sifat maskulin 3:1 dibandingkan sifat femininnya. Sebaliknya perempuan sifat feminin idealnya 3:1 dibandingkan sifat maskulinnya.

***

Hal kedua yang terpikir saat membaca kata "alam" adalah beberapa ayat yang berulang artinya mirip-mirip. Tentang hujan yang menumbuhkan berbagai tanaman dan pepohonan, yang menghasilkan berbagai macam jenis buah.

Sebelumnya, aku selalu menyangkut-pautkan hujan yang bisa menghidupkan bumi yang mati, dengan al quran yang bisa menghidupkan hati yang mati. Namun beberapa hari yang lalu, aku berulang membaca, bahwa hujan yang menghidupkan bumi yang mati, adalah pengingat tentang hari kebangkitan. Bukan cuma tentang harapan, bahwa saat hati kita mengeras, Allah bisa melunakkannya kembali. Namun juga sebuah peringatan, bahwa kita tidak boleh lalai di dunia. Bahwa nanti... akan ada hari kita akan dibangkitkan kembali setelah mati kita. Pengingat kematian tidak cukup, kita harus ingat juga, kematian tidak mengakhiri hidup. Ada hari kebangkitan.

Bumi, yang di dalamnya ada tulang, atau bahkan manusia yang sudah hancur menjadi debu, kelak Allah akan bangkitkan kembali, seperti semula. Bahkan jari jemari kita, sidik jari yang setiap manusia unik dan tidak ada duanya.

Kalau kita hanya melihat saja alam, tanpa berusaha mengerti bahasanya, maka alam hanya bisa menjadi pemandangan yang menyejukkan mata. Namun jika kita melihat lebih dalam, memikirkannya dengan hati, belajar bahasanya meski terbata, in syaa Allah tidak hanya mata kita yang sejuk. Tapi hati kita juga, karena alam merupakan ayat-ayatNya.

***

Terakhir, ada sebuah kutipan dari buku yang sedang kubaca. Buku ini direkomendasikan FFB karena bisa membantu proses belajar feminitas.

"Keberuntungan atau kebahagiaan total hanya akan terwujud bila kita menjadikan pertemuan dengan Allah sebagai tujuannya, negeri akhirat sebagai tempat menetap yang kekal abadi, dunia sebagai tempat tinggal sementara, tubuh sebagai kendaraan, dan anggota-anggota tubuh sebagai pelayan-pelayannya." 
- Imam Ghazali, dalam buku Keajaiban Hati

Allahua'lam.

***

Keterangan ga penting hehe:


Qadarullah aku lihat buku "Keajaiban Hati" ada di rumah. Aku kira bukunya ibu, atau ayah, tapi ternyata... bukuku. Rasanya ingin heboh sendiri. Apalagi saat kubaca halaman setelah cover.

Tinta biru.

In case of lost, please return this book to:

Namaku, beberapa keterangan. Alamatnya Jl. Kanayakan Dalam No. 61.

Tinta hitam.

Tulisan tangan ibuku, namaku, dan alamat rumah, purwokerto.

Tinta biru lagi.

4 Sept 2011, tanda tanganku. Lalu keterangan asal buku tersebut. 

From: Yuditha Nindya Kartika Rizky & Salsabila Luthfi Sesotyosari

Saturday, March 30, 2019

Bukan Cuma Hidup

March 30, 2019 2 Comments
Bismillah.

Apa kamu tidak punya mimpi? Keinginan? Target dalam hidup?

***

Manusia hidup, jantungnya masih memompa darah, masih bernafas, masih hidup. Tapi apakah cukup cuma hidup? Menjalani hari sekedar rutinitas, kebiasaan yang sama dan berulang. Apakah hanya akan berhenti di situ? Seolah tak ada yang membuatmu antusias, tak ada yang membuatmu ingin berlari meraihnya.

Manusia hidup, dari bayi, tumbuh menjadi kanak-kanak, kemudian menjadi dewasa. Mimpi adalah hal yang biasa ditanyakan pada kanak-kanak, dan dijawab dengan aneka rupa kata. Manusia dewasa juga terkadang ditanya tentang mimpi, namun ada sebagian yang memilih berhenti bermimpi hanya karena terhantam realita. Meski mereka tahu, bahwa manusia yang memiliki visi, hidupnya bukan cuma hidup, lebih berarti, karena bukan sekedar terbawa arus ombak. Namun mendayung ke arah tujuan atau menggunakan layar, agar bisa mencapai tanah impian dengan bantuan angin.

Bukan cuma hidup, tapi ada arah, ada motivasi, ada target, ada keinginan, ada mimpi.

***

"Kamu ga punya keinginan apa gitu Bell?" Pertanyaan seseorang yang melihat keseharianku seolah cuma hidup. Aku menjawab, aku setiap hari membaca buku, menghafal meski sedikit. Ia bergumam pelan, "bukan itu."

Aku tahu ia berbicara tentang mimpi, keinginan, serta target dalam hidup. Agar tidak 'cuma' hidup. Kalau boleh jujur, aku juga punya... bedanya aku hanya menyimpannya sendiri, dan hal itu belum bisa menjadi penggerak. Nyala apinya masih terlalu redup, untuk bisa menghasilkan energi yang menggerakkan.

Karena kalau boleh jujur.... aku masih terlalu takut untuk mulai bermimpi lagi. Masih ragu untuk memulai (lagi) menanamnya, merawatnya dan berharap memetik hasilnya.

Mungkin pertanyaannya padaku sebuah pemantik. Allah ingin aku tidak sekedar menjalani rutinitas hari, Allah ingin aku bukan cuma hidup. Aku sepertinya harus belajar lagi, berani bermimpi lagi, merajutnya, berusaha berlari menuju ke sana. Meski perjalanannya mungkin tidak mudah, dan hasilnya tidak selalu sesuai ekspektasi. Tapi aku harus belajar, supaya bukan cuma hidup.

Terakhir, ada satu kutipan tentang mimpi, yang terlintas di otak saat menulis ini.
"A dream is not the same as your talents. Your dream is something you want to achieve, even if you are not good at it. You think about your dream when you're eating, and even when you're sleeping." - anonim
Allahua'lam.

***

Keterangan:

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

***

PS: Seems like I still stuck or only move so slow. I must learn so much to grow, to be a better human. Pertama 'mengubah hidup', lalu ini, 'bukan cuma hidup'. Hidup memang terbatas, karena kematian lebih pasti. Tapi justru dari keterbatasan itu, kita diminta untuk mempersiapkan sebanyak-banyaknya bekal. Karena perjalanan akan berlanjut, setelah kita mati kelak. Semangat berjuang~ semoga Allah berikan kekuatan agar tidak 'hilang fokus' meski banyak rintangan dan hambatan. Aamiin.

PPS: 1 April, pagi buka ig. Ngeliat ini.. seolah Allah ingin aku baca itu.


Saturday, March 9, 2019

Menjadi Lebih Baik

March 09, 2019 0 Comments
Bismillah.

Setiap perjalanan dimulai dengan satu langkah, begitu juga setiap perubahan, dimulai dengan satu gerakan. Perubahan adalah bentuk perjalanan juga. Perubahan menjadi diri yang lebih baik, dimulai dengan sebuah gerakan hati terlebih dahulu, yang kemudian disusul dengan gerakan pikiran dan tubuh.


Saat hati sudah bergerak, maka otak kita mulai merancang rencana, langkah apa saja yang harus kita tempuh untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kita mulai membuat list, hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kita akan membuat list tersebut berdasarkan pemahaman yang ada di diri kita, serta prinsip-prinsip yang kita yakini. Kita juga akan membuat list, hal-hal yang sebaiknya kita hindari dan tidak lakukan. Setelah membuatnya, kita mulai melangkah.

Awalnya, kita berpikir berubah itu hal yang mudah. Namun setelah menjalaninya kita tahu, bahwa ada banyak rintangan dan hambatan. Dalam hukum fisika, kita mengenal istilah lembam. Lembam adalah situasi dimana sebuah benda cenderung pada keadaan awalnya. Kita mulai merasakan bahwa kita sering lebih cenderung kembali seperti kondisi awal, ketimbang bergerak dan berubah sesuai arah yang kita inginkan. Komitmen kita diuji, apakah kita benar-benar ingin berubah menjadi lebih baik, atau kita lebih suka diam saja.

Seseorang yang gerak hatinya kuat, maka gerak pikiran dan fisiknya pun akan kuat. Pasti ada saat kita ingin berhenti dan istirahat, namun jika hati kita sudah bersikeras ingin menjadi lebih baik, maka ia akan mengingatkan otak dan tubuh kita. Hal ini berarti, penting untuk menjaga dan menguatkan gerak hati.

Dalam perjalanan untuk berubah menjadi lebih baik, kita sesekali menengok kondisi hati. Mengingatkan niat awal, tujuan awal, alasan mengapa kita harus berubah, mengapa kita harus melalui perjalanan yang terjal dan melelahkan ini.

Ada yang ingin menjadi lebih baik karena orang lain. Ingin dihormati, ingin dianggap sukses, ingin diapresiasi. Yang alasannya karena orang lain, tentu akhirnya akan dihantam dengan alasan tersebut. Perjalanan berubah menjadi lebih baik bisa semata-mata berhenti karena ternyata orang lain dengan mudah mengabaikan perubahannya, hampir tidak mungkin memenuhi ekspektasi orang lain. Kita akan kecewa dan akhirnya memilih berhenti.

Jika kita menyandarkan alasan kita untuk mendapatkan ridha Allah, kita akan belajar.. bahwa tidak ada alasan lain yang lebih menangkan selain itu. Karena saat kita menempuh perjalanan menjadi pribadi lebih baik, Allah akan memberikan balasan pada setiap langkahnya, setiap jatuh-bangun kita setiap kali terpeleset. Allah juga Maha Melihat setiap perjuangan kita. Allah juga yang menghibur kita saat kita bersedih, dengan Kalam-Nya. Kita juga bisa bebas meminta petunjuk padaNya, saat kita merasa stuck dan tersesat. Bahkan kita diajarkan untuk meminta padanya, minimal 17 kali dalam sehari. Ihdinashiratal mustaqim.

Selamat menempuh perjalanan, untuk menjadi lebih baik.


'Asaa ayyahdiyani rabbi li aqroba min hadza rosyada. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Friday, March 8, 2019

Berkomunitas Agar Tidak Berkutat dengan Rutinitas Saja

March 08, 2019 0 Comments
Bismillah.

Manusia adalah makhluk individual, tapi juga makhluk sosial. Artinya manusia membutuhkan orang lain, untuk menjalani hidupnya. Salah satu cara kita bersosialisasi, selain di sekolah, dengan keluarga besar, atau di masyarakat, adalah lewat gabung dengan komunitas.

Ada banyak alasan dan manfaat dari berkomunitas, berkenalan dengan banyak orang, membangun jejaring, meningkatkan soft skill, juga bentuk aktualisasi diri. Saat kita memilih berkomunitas, kita akan belajar mengenal diri. Kita mulai memilih komunitas yang ingin diikuti. Kita mencari tahu minat dan bakat kita.

Yang suka menulis, bisa gabung komunitas menulis, yang suka wirausaha bisa gabung komunitas enterpreneur, yang peduli pada kondisi bumi dan lingkungan bisa gabung komunitas zero waste, yang ingin belajar mencintai al quran juga bisa ikut komunitas yang fokus mengkaji al quran.

***

Saya termasuk yang suka berkomunitas, bergabung di satu dua ekskul saat sekolah, mengikuti beberapa UKM saat kuliah, bahkan sekarang banyak mencari komunitas online. Saya merasa kalau saya diam saja, dan tidak berkomunitas, bisa jadi saya tidak berkembang dan tidak tumbuh karena berkutat dengan rutinitas saja.

Karena minat saya literasi dan islam, saya banyak bergabung dengan komunitas dalam lingkup keduanya.

Komunitas Literasi

Komunitas literasi mencakup komunitas menulis dan membaca.

Komunitas menulis ada Sabtulis, dan 1m1c, saya juga mengikuti KMO dibimbing oleh Kang Tendi Murti (pelopor telegram Indonesia Menulis), serta ada grup kecil Sharpen The Saw.

Komunitas membaca ada Generasi Al Fihri (laporan membaca tiap hari), juga IMLA.

Komunitas Islam

Ada NAK Indonesia (cuma anggota, tapi dapet banyak ilmu dari grupnya), MPI Bandung (meski jauh, tapi masih aktif sebagai tim kulwap), ODOLA (laporan setiap hari juga).

Komunitas Lain

Ada satu komunitas lagi, saya baru gabung, tapi bukan termasuk dua kategori tersebut. MEC (Muslim English Club) Bandung. Meski jauh, dan tidak bisa mengikuti kegiatan offlinenya, saya berharap masih bisa mendapatkan manfaat dengan menjadi anggota grup MEC.

Akhir bulan ini in syaa Allah nambah lagi, nanti saya tuliskan kalau sudah resmi jadi anggota hehe.

***

Berkomunitas itu ibarat melakukan perjalanan bersama orang lain, ada komunikasi, berusaha saling mengerti, dan juga bekerja sama untuk menghasilkan sinergi. Mungkin perjalanannya tidak bisa secepat sendirian, namun in syaa Allah bisa menempuh jarak yang jauh.

Terakhir, mengutip Stephen R. Covey tentang interdependance (kesalingtergantungan),
Kesalingtergantungan adalah konsep yang jauh lebih matang dan maju. 
Jika saya saling tergantung secara fisik, saya percaya diri dan memiliki kemampuan, tetapi saya juga menyadari bahwa kalau bekerja bersama-sama, saya dan Anda dapat memperoleh hasil yang lebih banyak daripada yang dapat saya capai sendiri, bahkan dengan kemampuan terbaik saya. 
Jika saya saling tergantung secara emosi, saya memiliki rasa bermanfaat yang besar dalam diri saya, tetapi saya juga mengenali kebutuhan akan cinta, memberi serta menerima cinta dari orang lain. 
Jika saya saling tergantung secara intelektual, saya menyadari bahwa saya memerlukan pemikiran terbaik dari orang lain untuk digabungkan dengan pemikiran saya."
Selamat berkomunitas~

Allahua'lam.

***

PS: Tulisan ini seharusnya diikutkan pada menulis tematik di #sabtulis pekan kemarin, namun baru bisa diselesaikan hari ini.


Saturday, February 23, 2019

Bergabung Komunitas Menulis

February 23, 2019 0 Comments
Bismillah.

elevator and stairs (📷 from unsplash)

Bergabung dengan komunitas menulis bagiku... seperti naik elevator. Sebuah cara untuk naik tingkat. Bertemu dengan seorang-orang yang sama-sama ingin naik *bisa juga turun ya? Hehe.

Bergabung dengan komunitas menulis, artinya kita mencoba untuk lebih terbuka pada dunia, lebih terbuka pada orang lain, tentang hubungan kita dan menulis. Ada yang baru suka menulis, ada yang sudah bertetangga dengan menulis sejak lama, ada yang benci tapi cinta, ada juga yang berobat dengan menulis. Kalau sebelumnya kita menyendiri dalam menulis, bergabung dengan komunitas menulis, artinya kita harus mau memberikan ruang untuk orang lain. Seperti manusia yang seorang individu, namun masih membutuhkan sosialisasi dengan manusia lain.

Apa yang kita dapatkan dari bergabung komunitas menulis?


Pertama, kita dapat teman, dan kendaraan. Ibarat kita memilih naik bis, dan bukan jalan kaki. Tujuannya sama-sama ingin menerbitkan buku misalnya, atau ingin jadi blogger. Kita bisa ke sana sendirian jalan kaki, tapi capek, perlu bekal banyak, kecepatannya pun terbatas. Kalau misal dijalan jatuh, dan kita merasa gagal, kita bisa berbalik arah lebih mudah. Bda ceritanya kalau kita naik bis. Tujuan kita masih sama, tapi kita bisa berbincang dengan teman yang duduk di sebelah, sharing tentang menulis. Pun saat kita tiba-tiba ingin berhenti atau berbalik arah, tidak semudah itu. Kita perlu bilang ke supir, "kiri" hehe. Juga akan ada yang mengingatkan, kenapa berhenti di sini? Sebentar lagi akan sampai loh...


Kedua, kita bisa bertanya arah atau jalur kepada supir. Karena dalam komunitas, kita akan bertemu dengan orang-orang yang jam terbang menulisnya sudah tinggi. Maka kita bisa bertanya, jika kita mengalami kesulitan saat menulis. Kita bisa bertanya tentang teknik menulis cerpen, puisi, artikel pada ahlinya, dalam komunitas menulis tersebut. Kita juga bisa tahu, sebaiknya kita menulis dari mana. Biasanya penulis pemula diminta memilih satu genre dulu, fiksi atau non fiksi. Selanjutnya, menulis yang disukai atau yang kita ketahui. Lalu menulis buku antologi, kemudian baru buku solo. Tapi apa urutannya harus seperti itu? Bisa juga tidak. Meskipun sama-sama menulis, setiap orang punya temponya masing-masing. Ada yang bisa menulis buku solo, tanpa perlu melewati terminal buku antologi.

Ketiga, kita membeli bensin bersama-sama (saling memotivasi). Perjalanan panjang akan lebih menyenangkan jika bersama-sama. Saat semangat kita turun, dan kita tidak mampu menaikkan dengan motivasi internal dalam diri.. Teman-teman dalam komunitas menulis bisa menjadi motivasi eksternal kita. Kita mungkin akan terpacu lagi untuk berlari mengejar mimpi punya buku sendiri, saat ada teman satu komunitas yang promosi bukunya.

Keempat, kita bisa bertukar informasi sesama penumpang. Komunitas menulis adalah tempat yang pas untuk saling berbagi tentang informasi kompetisi menulis. Atau informasi tentang penerbit. Juga informasi kelas menulis yang gratis maupun yang berbayar.


Tips Memilih Komunitas Menulis


Komunitas menulis sebenarnya banyak, apalagi yang online. Yang offline juga ada kalau kita mau mencari. Karena jumlahnya yang banyak, kita jadi bingung memilihnya? Ada beberapa hal yang biasanya aku lakukan kalau milih komunitas nulis. Pertama, lihat pioneer atau mentornya. Kedua, cek programnya. Ketiga, pilih yangs sesuai dengan ritme menulis kita.

Kalau merasa belum sanggup mengikuti komunitas yang salah satu programnya menulis setiap hari selama sekian hari, kita bisa memilih komunitas lain. Misalnya dengan bergabung komunitas Sabtulis, yang programnya membangun habit menulis satu kali sepekan setiap hari sabtu. Atau bisa juga ikutan komunitas 1M1C (satu minggu satu cerita) yang membebaskan menulis hari apapun. Kalau kamu ingin fokus berburu kompetisi menulis, bergabunglah dengan komunitas yang programnya fokus ke kompetisi. Kalau kamu merasa kesulitan untuk menerima materi di HP dan lebih cocok hadir jiwa dan raga, bisa gabung di komunitas offline, seperti Aksara, FLP, atau Soto Babat.

Bergabung di Satu atau Banyak Komunitas?


Apakah cukup bergabung di satu komunitas saja? Atau justru bergabung dengan banyak komunitas akan membuat kita tidak fokus? Kalau saran saya, coba satu dulu. Kalau satu itu, komunitasnya aktif, dan kamu bisa mengikuti, baru tambah dengan komunitas yang lain. 

Eits, tapi ini beda cerita ya, kalau komunitas yang lebih banyak memberi materi tanpa menuntut program kerja tertentu. Kalau tipe komunitas yang seperti ini, kamu bisa bergabung di banyak tempat. Pastikan saja, materi tersebut benar-benar kamu baca, bukan hanya menumpuk di archive WhatsApp atau Telegram

***

Gimana? Masih ragu untuk bergabung ke komunitas menulis? Masih merasa nyaman menulis sendiri?

Pilhannya ada di kamu. Kalau kamu sekarang lebih nyaman menulis sendiri. Tidak mengapa. Tapi kalau kamu merasa membutuhkan komunitas, agar tidak kesepian hehe, jangan malu untuk bergabung.

Pastikan tetap menulis~ meski sederhana. Semangat^^

Jangan lupa sering cek niat. Jika niatnya benar, dan caranya benar, in syaa Allah berpahala. J

Allahua'lam.

***

Keterangan:

Tulisan ini diikutkan dalam gerakan #Sabtulis (Sabtu Menulis). Gerakan membangun habit menulis, minimal sepekan sekali setiap hari sabtu. Membahasakan gagasan, rinai hati, kisah, puisi, dan apapun yang bisa dieja dalam kata.

Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu. Komunitas menulis baru, yang saya ikuti.~

Special mention: Aksara Salman ITB, unit literasi yang paling melekat di hati dan otak. Grup WhatsApp Sharpen The Saw, grup kecil yang berisi 24 muslimah (yang aktif sekitar 10 tapi hehe) yang sama-sama ingin belajar menulis. Juga KMO Club Batch #15 kelompok 2, yang aku tertatih mengerjakan program Sarapan Kata, tapi projek selanjutnya membuat mataku berbinar lagi.