Follow Me

Saturday, October 26, 2019

Membuka Pintu

Bismillah.

#fiksi


Sebelumnya pintunya selalu terbuka, ia pun lebih suka duduk di depan pintu. Tapi waktu berlalu, dan perubahan adalah hal yang tidak bisa ditolak. Pintunya kini hampir selalu tertutup, hanya sesekali ia keluar dan berada di depan pintu, mayoritas waktunya habis dengan aktivitas di balik pintu. Tidak ada percakapan dengan orang lain. Hanya ia dan dirinya sendiri. Ya selalu begitu, kecuali… kecuali jika ada orang yang mau mengetuk pintu dan membuka pintu terlebih dahulu.

Pintu itu memang tertutup, tapi tidak terkunci. Siapapun yang datang, bisa dengan mudah membukanya. Tapi tidak semua orang punya inisiatif untuk membuka pintu kan? Apalagi jika tidak ada suara respon terhadap ketukan. Mayoritas orang akan pergi, kala ketukan pintu disambut dengan sunyi. Hanya ada beberapa saja yang memberanikan diri memegang handle-nya dan membuka pintunya. Orang-orang tertentu itu… mungkin begitu ingin tahu apakah dibalik pintu benar-benar tidak ada orang.

Seperti suatu pagi. Saat aku duduk di depan pintuku, yang bersebrangan dengan pintunya. Kulihat seseorang yang wajahnya seperti bunga yang baru mekar, ia mengenakan baju berwarna ungu dengan sedikit corak putih di bagian lengannya. Sebelum mengetuk pintunya, ia terlebih dahulu bertanya padaku dengan suara lembut tentang sebuah nama. Aku mengangguk, meyakinkannya bahwa ia tidak berkunjung ke pintu yang salah.

Seperti biasa, tidak ada respon atas ketukan pintu. Ia berteman sunyi beberapa menit. Ia kemudian berbalik ke arahku, seolah bertanya, 'Apa benar, ia ada di dalam? Atau ia sedang pergi entah kemana?'

"Coba buka saja pintunya, mungkin ia tidak mendengarnya."

Ia sempat ragu mendengar saranku. Tapi akhirnya ia memberanikan diri memegang gagang pintu dan membuka pintunya. Sebelum ia masuk, kudengar samar ia mengucapkan kalimat,

"Ini aku, kawan lamamu, masihkah kamu mengingatku?"

***

Pintu itu terbuka, bersamaan dengan sosok yang membuka pintu, pemilik pintu menyambutnya dengan senyum. Mungkin pemilik pintu itu meminta maaf karena tidak segera membuka pintu, atau mungkin ia akan menceritakan mengapa ia memilih tidak membuka pintu terlebih dahulu. Yang aku tahu, ada orang-orang yang seperti itu. Harus ada orang lain dahulu, baru kemudian ia menyambut pintu yang terbuka dengan hati yang terbuka juga.

The End.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya