Follow Me

Wednesday, January 13, 2021

Apresiasi Diri Sebagai Bentuk Bersyukur Pada-Nya

Bismillah.


Hari ini, seorang sahabat mengirimkan tulisan panjang. Tulisan untuk dirinya sendiri, ucapan terima kasih untuk dirinya di masa lalu. Ia mengirimnya padaku karena ia ingin ada yang mendengarkannya.


Aku membaca kalimat-kalimatnya, kisah hidupnya, pencapaian-pencapaian kecil dan besar yang ia ingin syukuri. Kemudian aku tersenyum, membalas dengan kalimat pendek, yang juga merupakan kalimat penutupnya.


"I am proud of you too."


Sebelumnya, aku cuma banyak menerka. Tapi setelah membaca tulisan itu, aku jadi semakin yakin, bahwa ia seorang akhawat yang begitu hebat. Ia bisa menyerah, tapi ia memilih untuk terus maju. Ia bisa membenci, tapi ia memilih untuk mencintai. Ia bisa egois, tapi ia memilih untuk menjadi bermanfaat.


Sejujurnya aku malu. Sejujurnya tulisannya membuatku mengerdir, tapi balasannya pada kalimat pendekku membuatku berusaha untuk berhenti mengerdil.


Ia, dan tulisannya, tujuannya untuk mengingatkan, bahwa salah satu cara bersyukur adalah dengan mengapresiasi diri sendiri, mencintai diri sendiri. Karena terkadang kita terlalu keras pada diri.


Kita --hmm. Aku mengira mengapresiasi diri seolah sama dengan merasa cukup, yang itu bisa membuat diri stuck atau justru mundur progresnya. Padahal sebenernya keduanya berbeda, batasannya tipis memang. Kita memang tidak boleh merasa cukup, kemudian hati tersisipi perasaan tinggi yang menjadi racun. Tapi kita perlu juga bersyukur, akan amal kecil kita, mengapresiasi diri kita, agar kita bisa punya energi untuk melakukan amal-amal kecil lainnya, atau bahkan amalan yang lebih besar.


***





Untukku terutama, dan untuk siapapun di luar sana... izinkan aku mengurip bagian akhir tulisan sahabatku.


I'm proud of you. Keep going (:


Terakhir, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil 'alamin.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


PS: I'm really bad at chosing a title, but it's okay. Thanks bella, for writing a post in this blog~

3 comments:

  1. suka seneng nggak sih mba bel kalau ada teman yang masih mempercayakan ceritanya kepada kita. semakin ke sini ketika cerita sudah jadi konsumsi publik bahkan malah kita kesulitan untuk mencari ruang privasi dan orang yang bisa diajak cerita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Ghina, seneng banget. Gak mudah loh untuk cerita, membuka diri, apalagi dari temen yang udah 5 tahun lebih gak ketemu. But she's so brave to tell me, and I'm grateful cause she trust me. Semacam tanda juga, sebaliknya, bahwa aku juga bisa percaya dan cerita hal-hal privasi ke dia.

      Delete

ditunggu komentarnya