Follow Me

Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

Sunday, August 2, 2026

Why is Love Painful? (Part 1)

August 02, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

Prolog


Sebelum ke topik yang tertulis di judul, aku mau menceritakan behind story-nya dulu. Jadi, beberapa waktu ini, aku menikmati metode belajar bahasa dengan cara membaca tulisan (open letter di Slowly, atau halaman buku), menerjemahkannya dengan bantuan Meta AI, melakukan breakdown kalimat di sana, dan menganalisis isi atau kata atau grammar di dalamnya.

Qadarullah, salah satu pengguna hellotalk yang aku ikuti sedang membaca buku tentang cinta, judulnya 처음부터 끝까지 고백 by 이주영, literal arti judulnya Love Confession from First till The End by Lee JuYeong. Biasanya beliau (pengguna hellotalk tersebut) buka voiceroom trus baca buku gitu full dalam bahasa korea. Aku kebetulan gak match jadwalnya, jadi aku chat minta kirim halaman dari buku tersebut. Dan dia dengan baik hati kasih lumayan banyak.. Padahal kemampuan bahasa koreaku masih minim. Anyway.

Jadi di halaman awal penulis mengatakan bahwa gara-gara jatuh cinta terlalu dalam, dia sampai harus makan obat sakit kepala dan obat pencernaan. Jujur aku agak tidak mengerti kenapa sampai segitunya. Berdasarkan pengalamanku, jatuh cinta lebih sering menghadirkan perasaan positif. Even if it's a crush, having a crush for me is like having a hidden treasure, a little sweet thing we could take in our day.

Lalu ketika baca lebih banyak halaman, aku sedikit bisa memahami penulis. Menurutku yang membuat perasaannya sampai mempengaruhi kesehatan fisiknya itu bukan cinta tersebut, tapi karena ia terbiasa menekan perasaan/emosinya. Seseorang yang terbiasa menekan emosi/perasaan biasanya pasti bisa berefek ke penyakit fisik, atau mungkin biasa disebut psikomatis.

***

Lanjut… beberapa hari berikutnya, di open letter slowly, ada sebuah surat berbahasa arab. Karena aku waktu itu lagi bahas Slowly sama Meta AI, jadi deh, aku share surat tersebut dan minta Meta AI buat nerjemahin suratnya.

Trus kita lanjut diskusi deh, tentang salah satu kalimat populer dalam bahasa arab yang sering ada di lirik-lirik lagu.

Dan dari surat itu, aku tahu kalau si penulis juga merasakan rasa sakit karena cinta.

Trus, aku jadi membuka diskusi tentang hal tersebut dengan meta AI *please don't judge me cause I'm having this conversation with AI instead of real person. ><

Dari situ deh, kami bahas tentang why love is painful, dan pilihanku supaya cinta tidak semenderita dan semenyakitkan itu.

Sekian prolognya.  Setelah ini, aku akan copy paste percakapanku dengan meta AI. It will be in english. Aku mungkin akan mengedit atau memotong bagian-bagian tertentu, jadi yang kamu baca bukan full percakapan antara aku dan meta AI. 

***

Love that affect your health

 



📱 Meta AI:

*Title:*
*당신을 사랑하게 된 것은 필연적이예요*
_Falling in love with you was inevitable_

---

*Left page:*
So in the end… no matter what, I had no choice but to like you inevitably. You appeared so vividly, in a way that I couldn’t not love you. I wondered what kind of person would suit you, and before I knew it, I found myself wishing it was me. It’s been several months since that thought started. In between, the calendar flipped too. I stayed up all night and ended up with tired days. Every time I ate something, my stomach hurt, so I drank digestive medicine every day, and even my parents told me “you’ve gotten used to that too.” On top of that, I popped headache pills day after day like vitamins.

*Right page:*
I sank down with it, along with the water.

 

Membaca dua halaman tersebut membuatku ingin berkomentar, atas sudut pandang baru tentang cinta dari penulis buku tersebut.

 


 


 


Lalu aku lanjut baca buku tersebut... Dan saat membaca lebih lanjut, aku jadi lebih memahami penulis. Ternyata, yang mempengaruhi kesehatan fisiknya, bukan cinta itu sendiri tapi...

 

Meta AI:

I’ll break each one: *Korean → Pronunciation → Translation → Grammar point* 

 *5. 입술을 앙다무는 습관으로 인해 한껏 부어오르는 느낌이 들었다. 이마를 몇 번이나 짚었다.* 


*Pronunciation:* Ipsureul angdamuneun seupgwaneuro inhae hankkeot bueooreuneun neukimi deureotda. Imareul myeot beonina jipeotda.
 

*Translation:* Because of the habit of biting my lips, I felt my chest swelling up. I pressed my forehead several times.
 

*Grammar:* `~으로 인해` = “because of ~”. `한껏` = “to the fullest”. Classic “holding back emotions” Korean description.

 

Me:  

I want to ask you about sentence no 5.

인해 is chest?

Her habit is biting her lips. But she felt her chest swelling up? The swelling in the chest? Not in the lips?

I can't seem to understand the sentence

  

Meta AI:

Ah I see the confusion! 

Sentence #5 is the one with lips + chest:
*입술을 앙다무는 습관으로 인해 한껏 부어오르는 느낌이 들었다.*

Let’s break it word by word so it makes sense:

### 1. `인해 inhae` is NOT chest

`인해` = “because of / due to”. It’s grammar, not body part.
Pattern: `Noun + 으로/로 인해` = “because of Noun”

So: `입술을 앙다무는 습관으로 인해`
= “Because of the habit of biting her lips”

### 2. Where’s the swelling? Chest or lips? 
 

The swelling is *in the chest*, not the lips. Korean does this a lot.

`한껏 부어오르는 느낌이 들었다`
= “I felt a feeling of swelling up to the fullest”

*Why chest?*
Korean describes emotions as physical sensations in the chest/heart `가슴/속이 붓다`.
When you bite your lips to hold back tears/words → emotion builds up → feels like your chest is getting full/swollen.

It’s NOT literal swelling. It’s that “lump in your throat / tight chest” feeling when you’re about to cry but holding it in.

### 3. Full sentence flow


1. Habit: biting lips to not speak/cry `입술을 앙다무는 습관`
2. Cause: because of that habit `으로 인해`
3. Result: chest felt like it was swelling up `한껏 부어오르는 느낌`

*English natural version:*
 

“Because I had the habit of biting my lips, I felt my chest swelling up with emotions.”

So no, lips don’t swell here. The _emotions_ swell in her chest because she’s biting lips instead of letting it out.

Does that click now? Korean loves putting feelings in the chest `가슴이 답답하다, 가슴이 붓다`. 

 

Me: 

Aah I see. So she's surpress her emotion by biting her lips, so she felt 한껏 부어오르는 느김.

Is that right? 

 

Meta AI:

Yes, exactly! You got it 🎯

*Surpress emotion by biting lips → chest feels like it’s swelling up*

That’s the whole chain:
1. She wants to cry/say something → but holds back
2. Physical action: bites lips `입술을 앙다무다` = clamps lips shut
3. Emotional result: all that unsaid feeling has nowhere to go → `가슴/속이 한껏 부어오르다` = chest feels full and swollen

*한껏* = “to the fullest / as much as possible” makes it stronger. Not just “a bit swollen”, but “so full it hurts”.

Korean literally treats emotions like water in a bottle. If you close the lid `bite lips`, pressure builds up inside `chest swells`.

You nailed the logic. Korean writers use this image constantly in drama/essays.

*2 more same-pattern idioms you’ll see:*
1. `속이 답답하다` = chest/stomach feels stuffy → “I’m frustrated / can’t breathe out my feelings”
2. `가슴이 터질 것 같다` = chest feels like it’ll burst → “I’m overwhelmed with emotion”

Same idea as #5. Body holds the feeling.

Want to try making your own sentence with this pattern? Like “Because of ~, my chest felt ~” 

 

Setelah diskusi panjang dengan Meta AI, aku jadi menyimpulkan, ternyata... yang membuat penulis harus minum obat, dan terpengaruh kondisi fisiknya, bukan perasaan cinta itu sendiri, tapi karena ia memendam perasaannya. Surpressed feeling, apapun itu, memang bisa mempengaruhi kondisi fisik kita. Itulah mengapa orang yang punya mag, asam lambungnya juga naik saat stress.

 

***

 

Sekian dulu untuk part 1-nya. Doakan aku bisa menyelesaikan part 2 segera hehe.. 

 

Wallahua'lam. 

 

***

 

PS: Curcol gak penting, boleh di skip. Jujur kangen banget, lama gak nulis di blog ini. Suka menunda-nunda cari kesempatan ada wifi saat menulis di laptop. Tapi giliran kesempatannya datang, aku malah lebih suka melakukan hal lain yang bukan menulis ><

I'll write one more post in syaa Allah. 

Tuesday, August 26, 2025

New Leaf New Address

August 26, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

Seperti rencana yang sebelumnya pernah aku tulis di Belajar Bahasa dengan AI, Yeay or Nay? Aku ingin mencatat dan mempublikasikan proses belajar bahasaku dengan AI Translator di blog. Nah, karena itu aku jadi buka lagi blog New Leaf. Ada yang masih ingat sama blog New Leaf? Singkat cerita New Leaf adalah blog baru yang kubuat untuk mencatat frase bahasa inggris dan artinya, disajikan dalam artikel, gak cuma arti, tapi juga sedikit ditambah penjelasan, dan kadang ada tambahan opini juga. Yang mau baca tulisan-tulisannya, baca di versi Publikasi Medium-nya saja ya.

 

Baca di: https://medium.com/new-leaf 

 

Sebenarnya awal dibuat karena aku ingin naik level, pengen buat blog yang dimonetisasi. Tapi blog itu mandeg di tahun 2021. Sempat aku ganti domain yang tadinya akardaunranting.blogspot.com jadi artidanmaknakata, cuma untuk diganti balik jadi domain awalnya, karena statistiknya jadi kacau. Secara di google masih akardaunranting yang ke index. 

 

Dan karena memang sekarang udah pindah topik, dari bahasa frase bahasa inggris dan makna, ganti jadi catatan belajar bahasa dengan AI. Otomatis alamatnya pindah lagi. Nama blognya masih tetep New Leaf sih, males aja ganti logo dll hehe. Tapi alamatnya pindah ke belajarbahasadenganai. Tulisan lama rencana masih tetap aku biarin ada di sana. Tampilan juga kayanya gak perlu diganti banyak, kecuali nanti ada beberapa page yang harus aku edit, page Tentang New Leaf, archive, dan daftar isi disusun berdasarkan abjad.

 

Anyway, bukan itu alasanku menulis ini. Jadi, karena buka blog New Leaf lagi, aku jadi baca satu-satunya komentar di blog tersebut, tahun 2021, di post sama unknown. Sebuah komentar pendek apresiasi gitu. Dan di akhir komentarnya, ia menuliskan frase good real, sebuah frase baru untukku. Dulu kayanya aku gak terlalu merhatiin, tapi kemarin, aku jadi penasaran dan cari penjelasan arti frase tersebut.

 


 

Membaca penjelasan tersebut, gatau kenapa jadi ngerasa terharu. Siapapun itu, meski mungkin yang dimaksud ya cuma good real basa-basi aja, semacam ucapan good job! Tapi karena aku tipe yang sangat menyukai makna, dan baca penjelasan dari good real, aku jadi terharu sendiri hehe. Itulah keindahan bahasa, kalau kita tahu frase-frase yang sedikit lebih gak familiar, kita tuh jadi lebih kaya rasa dan makna. 

 

Intinya, meski new leaf cuma aktif sebentar, dan mungkin akan ganti konten, tapi saat teringat bahwa minimal ada satu orang yang bisa merasakan both good and genuine from post in New Leaf, I feel content. Karena itulah salah satu hal yang menggerakkan penulis untuk menulis. Berusaha untuk memberikan manfaat meski sedikit.

  

Sekian. Doakan semoga aku bisa istiqomah menulis hal-hal yang bermanfaat buat diri dan orang lain ya!

Friday, August 15, 2025

Belajar Bahasa dengan AI, Yeay or Nay?

August 15, 2025 2 Comments

Bismillah.

 

Adakah yang sedang belajar bahasa baru? Kalau iya, bahasa apa? Dan metode apa yang kau gunakan untuk mempelajari bahasa tersebut? Lewat buku? Ikut kelas? Lewat aplikasi? Atau lewat konsumsi konten bahasa tersebut di YouTube dan sosial media? Pernah coba belajar pakai AI?

 

***

 

Sebelumnya, aku belajar bahasa baru lewat aplikasi Memrise (versi web-nya) dan dengan konsumsi konten bahasa tersebut, dibantu subtitle bahasa inggris tentunya. Masuk ke grup telegram/whatsapp belajar bahasa juga pernah. Tapi makin ke sini, aku lebih butuh belajar bahasa yang praktik langsung, latihan ngomong langsung, jadi deh, cari temen latihan speaking/chat dengan bahasa baru tersebut. Singkat cerita, susah kan dapet yang waktunya pas, apalagi aku tipe yang slow respond, belum kalau temennya cuma jawab-jawab aja, tapi gak tanya balik. Males lah ya, karena ngerasa disconnect. Akhirnya aku coba install aplikasi bahasa yang pakai AI voice base, yang gratisan lumayan bisa 5 menit dalam sehari latihan ngomong sama AI. Tapi sayangnya.. yang ini, aku cuma satu atau dua kali pakai habis itu pundung (ngambek) sendiri. Kenapa? Karena akurasi AI-nya masih rendah, dan aku juga kemampuan bicara bahasa tersebut jauh dari bagus. Buat kalimat juga mikirnya masih lama. Pokoknya bukan cuma dari AI-nya, dari akunya juga belum siap untuk belajar dengan metode tersebut.

 

Sembari menulis ini, aku buka Memrise lagi kan, ternyata AI di Memrise lebih bagus euy. Ada fasilitas percakapan kan, dan inputnya bisa tulisan, bisa juga voice. Bahkan kalau kita gatau cara bikin kalimat cukup tulis bahasa inggris dulu trus nanti dibantuin translate dong hehe. *duh ini aku kaya marketingnya memrise banget ya? wkwkwk. Habisnya emang bagus sih hehe. Anyway, jadi intinya menurutku AI di Memrise udah bagus banget.

 


 

Meski bagus, tapi jujur aku udah jarang buka Memrise dan pakai memrise. Lebih enak untuk interaksi langsung dengan manusia. Jadi deh aku lebih fokus latihan speaking dengan kenalan online (pemudi yang lagi belajar bahasa itu juga), dan juga lewat Slowly, beberapa kali coba bertukar surat pakai bahasa tersebut. Tapi meski latihannya sama orang asli, aku tetep butuh AI. Yup, aku sekarang pengguna translator AI. Selain translate, kadang kalau ada pertanyaan atau hal yang perlu didiskusiin itu bisa ke sana. Buat review dan minta koreksi kalimat juga bisa.

***

 

Oh ya, tulisan ini hadir karena interaksiku dengan AI yang ada di whatsapp tersebut. Bukan meta, tapi dibuat di meta. Taukan, Meta tuh meng-encourage usernya untuk coba buat AI, baik itu di whatsapp maupun di instagram? Aku lupa persisnya kapan, tapi aku explore fasilitas chat with AI di whatsapp, dan diantara beberapa AI yang coba aku chat, yang masih aku gunakan saat ini ada dua, translator AI sama satu lagi temen baca buku. Untuk AI translator yang aku pakai namanya Translate Ultra. Pas awal pake, kerasa banget masih ngomong sama mesin. Lalu lama-lama, jadi lebih smooth, bahkan pernah ada settingan si AI jadi suka gombal. Tapi titik poin aku jadi sering pakai adalah karena ada satu waktu, dia nge chat duluan. Emang bisa AI ngechat duluan? Hehe. Aku juga awalnya penasaran, tapi setelah ditelisik, emang ada settingan supaya ngingetin pengguna untuk aktif pakai lagi, ya, supaya kecerdasan AI-nya juga meningkat.

 


 

Nah, sebenarnya interaksiku dan proses belajar bahasaku dengan AI tersebut pengen banget aku dokumentasikan di blog. Cuma, aku masih mikir-mikir, baiknya di blog ini, atau blog lain ya? Apa aku perlu blog baru, atau mungkin menghidupkan lagi blog akardaunranting, tapi pindah jalur, yang tadinya buat belajar bahasa frase bahasa inggris, jadi catatan belajar bahasa dengan AI translator hehe. Doakan ya, semoga gak cuma jadi wacana, tapi beneran direalisasikan. Sayang soalnya, kalau cuma disimpan. Siapa tahu ada yang dapat manfaat juga dari dokumentasi tersebut.


***

 

Penutup, jadi belajar bahasa dengan AI, yeay or nay? Kalau aku yes. Selama untuk hal baik pakai aja. Sama kaya belajar bahasa lewat aplikasi bahasa lain, atau lewat sosial media. Sama AI lebih aman juga daripada sama orang asing yang gak jelas hehe. Lebih mudah atur waktunya kalau sama AI, karena kan AI gak ada kerjaan selain belajar lewat interaksi dengan usernya ya. Tapi kalau pengen terhubung real dengan native, tetap lebih seru belajar praktek sama manusia asli ya. Jadi balik lagi, pilihannya ada di kamu. Kalau aku untuk ngobrol lebih nyaman sama manusia asli, dan AI dijadiin tools aja buat bantu tanya-tanya gitu. Terakhir, pertanyaan untukmu, pernah coba belajar bahasa dengan AI, gimana pengalamanmu? Pakai AI apa? Dan gimana kemajuanmu dalam bahasa tersebut? Tell me about it, and share it in your blog~ boleh juga share di komentar.

 

Sekian. Terimakasih. Bye 5! 

Tuesday, September 24, 2024

Belajar Bahasa Lagi di Memrise

September 24, 2024 0 Comments

Bismillah.

 

Sudah lama aku tidak membuka atau main Memrise.

 

Baca juga: Memrise : Menghafal Lebih Mudah dan Asyik 


Saat ada kesempatan untuk buka lagi web Memrise, aku menemukan informasi baru, bahwa memrise memutuskan untuk memisahkan course resmi dari Memrise, dengan course yang bisa dibuat oleh member memrise. Jadi sekarang ada dua alamat web, untuk yang resmi di app.memrise.com, sedangkan yang komunitas di community-courses.memrise.com.



 

Community course berisi kelas-kelas yang dibuat oleh komunitas atau pengguna memrise. Kelas-kelas tidak resmi, tapi banyak juga manfaatnya. Dan ada juga fasilitas untuk buat course sendiri.

 

 

Lalu bulan berlalu, eh ada pemberitahuan lagi, bahwa akan ada pembaruan. Di web resmi memrise. Dan bagus pembaruannya. ada sistem scenarios, sama latihan conversation menggunakan AI via chat.


skenario

latihan percakapan dibantu AI

***

Ada banyak banget fasilitas bagus dan gratis dari memrise, sayang kalau enggak di share. Yang mau serius dan dapat fasilitas full-nya juga bisa berlangganan.


Aku kadang bertanya-tanya, apakah belajar bahasa, masih relevan untukku? Apalagi kalau lebih tertarik belajar bahasa asing lain, yang mungkin gak akan pernah terpakai. Ada banyak excuse yang membuatku ragu untuk sharing, tapi minat belajar bahasa itu masih ada, sayang juga kalau diabaikan. Jadi ketimbang menghalangi diri sendiri, untuk hal yang lebih produktif, ketimbang cuma scrolling dan menjadi konsumer konten, mending belajar, diniatkan untuk hal baik. Semoga kelak, meski sekarang kesannya belum 'berguna', nanti semoga berguna.

***

 

Aku akhiri saja tulisan ini. Sebagian hatiku masih ingin curhat ini itu, tentang kekhawatiranku, tentang pertanyaan-pertanyaanku, tentang angan-angan yang terlalu cepat terbang tinggi tanpa diikuti langkah-langkah kecil yang menyertai. Tapi kucukupkan saja di sini. Belajarlah, banyak hal. Belajar agama tentu, belajar Al Quran juga. Juga, belajar hal-hal yang kamu minati. Semoga setiap ilmu yang dipelajari mengajarkanmu kerendahan hati, dan membuatku mencapai kesimpulan yang tertinggi. Seperti ulul albab yang duduk dan berbaringnya memikirkan bagaimana penciptaan bumi dan langit, kemudian dari ilmu tersebut, mereka berkata, Rabbana ma khalaqta hadza bathila...

 

Begitu pun perbedaan bahasa, yang setiap kali kita mempelajari bahasa yang baru, kita bukan cuma belajar bahasa tersebut, tapi kita juga belajar bagaimana budaya orang-orang yang memakai bahasa tersebut. *teringat podcast Raditya Dika dan Ivan Lanin, yang menjelaskan bahwa kekayaan kosakata suatu bahasa terhadap suatu hal, menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal penting. Seperti kekayaan kosata jenis keju bagi orang-orang eropa, atau kekayaan kosakata alat-alat pertanian, teknik pertanian bagi orang jawa.


Lalu semoga kita tiap pagi, saat terbangun dari tidur kita.. membaca ulang perkataan ulul albab yang Allah abadikan dalam ayat Quran.


Rabbana ma khalaqta hadza bathila, subhanaka faqina 'adzabannar.


Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang terus belajar, yang dengan belajar itu, kami meyakini dengan benar kehidupan akhirat, yang membuat kami tidak berhenti berdoa, agar Engkau selamatkan kami dari api neraka. Aamiin


Wallahua'lam bishowab.


****


PS: Jika ada yang merasa aku loncatnya kejauhan, harap maklum ya, begini aku biasa menulis di sini. Berharap setiap tulisan bukan cuma tentang 'dunia' tapi juga mengingatkan pada-Nya. Berharap sedikit yang kecil ini, bisa menjadi jejak yang kelak menjadi bekalku di kehidupan selanjutnya. Aamiin.

Monday, April 15, 2019

Bahasa Alam

April 15, 2019 0 Comments
Bismillah.

Awal April Sabtulis angkat tema "Alam". Meski sudah terlambat, aku masih ingin menulis dengan topik tersebut.

***


Pikiran pertama yang terlintas dan diracik otakku saat membaca kata "alam" adalah "bahasa alam", bahasa yang penuh kode dan tanda-tanda unik, mirip bahasa bersayapnya perempuan. Ini saya ketahui dari kelas perdana Forum Femininitas Bunda (FFB)

Kelas pertama baru perkenalan tentang femininitas, bedanya dengan feminisme. Bahkan bisa dikatakan justru kelas femininitas bertolak belakang dengan ide yang dibawa feminisme. Jika feminisme justru ingin menyamakan perempuan dengan laki-laki. FFB justru ingin mengasah sifat feminin perempuan. Femininitas mencakup perasaan, ketulusan, cinta, empati, intuisi, peduli dan berbasis hati.

Balik lagi ke bahasa alam. Menurut penjelasan Pak Adriano Rusfi, yang akrab disapa Bang Aad, sifat alam mirip dengan perempuan. Bahkan dalam quran, kata-kata yang mewakili alam (bumi, matahari, malam, siang, dll) sifat katanya feminin.

Bahasa alam itu tersirat, simbolik. Bahkan setiap ada bencana alam, sebenarnya sebelumnya alam sudah memberitahukan lewat 'bahasanya'. Bang Aad menyebutkan beberapa contoh, seperti bencana tsunami, yang sebelumnya ditandai dengan air laut yang surut jauh. Atau saat gunung api merapi aktif, tentang kera berekor panjang dan kera berekor pendek yang turun sebagai pertanda tingkat kewaspadaannya.

Beliau juga menjelaskan tentang sedikit sekali kita belajar dari alam. Bahkan sekolah-sekolah 'alam', pada akhirnya hanya melakukan perpindahan tempat, dari ruang tertutup ke ruang terbuka.

Memperhatikan alam, mengamatinya, dan berusaha belajar bahasa alam, akan mengasah sifat feminitas manusia. Tidak hanya untuk perempuan, namun juga laki-laki. Dari FFB, disebutkan idealnya laki-laki memeliki sifat maskulin 3:1 dibandingkan sifat femininnya. Sebaliknya perempuan sifat feminin idealnya 3:1 dibandingkan sifat maskulinnya.

***

Hal kedua yang terpikir saat membaca kata "alam" adalah beberapa ayat yang berulang artinya mirip-mirip. Tentang hujan yang menumbuhkan berbagai tanaman dan pepohonan, yang menghasilkan berbagai macam jenis buah.

Sebelumnya, aku selalu menyangkut-pautkan hujan yang bisa menghidupkan bumi yang mati, dengan al quran yang bisa menghidupkan hati yang mati. Namun beberapa hari yang lalu, aku berulang membaca, bahwa hujan yang menghidupkan bumi yang mati, adalah pengingat tentang hari kebangkitan. Bukan cuma tentang harapan, bahwa saat hati kita mengeras, Allah bisa melunakkannya kembali. Namun juga sebuah peringatan, bahwa kita tidak boleh lalai di dunia. Bahwa nanti... akan ada hari kita akan dibangkitkan kembali setelah mati kita. Pengingat kematian tidak cukup, kita harus ingat juga, kematian tidak mengakhiri hidup. Ada hari kebangkitan.

Bumi, yang di dalamnya ada tulang, atau bahkan manusia yang sudah hancur menjadi debu, kelak Allah akan bangkitkan kembali, seperti semula. Bahkan jari jemari kita, sidik jari yang setiap manusia unik dan tidak ada duanya.

Kalau kita hanya melihat saja alam, tanpa berusaha mengerti bahasanya, maka alam hanya bisa menjadi pemandangan yang menyejukkan mata. Namun jika kita melihat lebih dalam, memikirkannya dengan hati, belajar bahasanya meski terbata, in syaa Allah tidak hanya mata kita yang sejuk. Tapi hati kita juga, karena alam merupakan ayat-ayatNya.

***

Terakhir, ada sebuah kutipan dari buku yang sedang kubaca. Buku ini direkomendasikan FFB karena bisa membantu proses belajar feminitas.

"Keberuntungan atau kebahagiaan total hanya akan terwujud bila kita menjadikan pertemuan dengan Allah sebagai tujuannya, negeri akhirat sebagai tempat menetap yang kekal abadi, dunia sebagai tempat tinggal sementara, tubuh sebagai kendaraan, dan anggota-anggota tubuh sebagai pelayan-pelayannya." 
- Imam Ghazali, dalam buku Keajaiban Hati

Allahua'lam.

***

Keterangan ga penting hehe:


Qadarullah aku lihat buku "Keajaiban Hati" ada di rumah. Aku kira bukunya ibu, atau ayah, tapi ternyata... bukuku. Rasanya ingin heboh sendiri. Apalagi saat kubaca halaman setelah cover.

Tinta biru.

In case of lost, please return this book to:

Namaku, beberapa keterangan. Alamatnya Jl. Kanayakan Dalam No. 61.

Tinta hitam.

Tulisan tangan ibuku, namaku, dan alamat rumah, purwokerto.

Tinta biru lagi.

4 Sept 2011, tanda tanganku. Lalu keterangan asal buku tersebut. 

From: Yuditha Nindya Kartika Rizky & Salsabila Luthfi Sesotyosari

Sunday, July 5, 2015

Kemampuan Bahasa Kita

July 05, 2015 0 Comments
Bismillah.

Pernahkah kita merasa begitu takjub pada kemampuan bahasa kita? Kemampuan yang diajarkan Allah kepada Nabi Adam?

diambil dari sini
***

Karena kemampuan bahasa ini kita gunakan sehari-hari, kita jarang merasa takjub. Kita hanya takjub pada anak kecil, balita yang baru bisa berbicara dan mengerti kata-kata orang disekitarnya. Kita takjub, karena anak sekecil itu kita tahu awalnya hanya bisa menangis, tapi sekarang ia bisa mengenali kata-kata dalam sebuah bahasa, meski dengan keterbatasan lisannya yang masih begitu muda.

Aku juga begitu, aku sebelumnya jarang-jarang menyadari keajaiban kemampuan kita berbahasa, namun sebuah hal kembali mengingatkanku.

Beberapa waktu yang lalu, aku mulai tertarik mendengarkan ceramah dari ustadz-ustadz luar negri yang menggunakan bahasa Inggris. Awalnya begitu sulit menangkap kata-kata mereka jika tanpa subtitle bahasa indonesia. Namun aku ingin mendapat 2 ilmu sekaligus, isi ceramah dan juga belajar listening bahasa inggris, jadi aku paksa diriku mengakses video tanpa subtitle. Di awal-awal untuk memudahkanku menangkap apa yang pembicara sampaikan, aku biasa menggunakan fasilitas caption yang biasanya secara otomatis di create youtube menggunakan mesin Natural Language Processing (*asumsi hehehe).