Follow Me

Showing posts with label nostalgia. Show all posts
Showing posts with label nostalgia. Show all posts

Monday, October 27, 2025

Jangan cuma Ingat Buruk/Sedihnya Saja

October 27, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

*warning* lebih baik baca tulisan lain

 

*** 

 

Beberapa waktu ini aku kembali ke setting introver lagi. Kalau kemarin menulis tentang introver yang mencari-cari komunitas, kini introver tersebut sedang kehabisan energi hanya karena bergabung satu batch di dua tiga komunitas. Rasanya ingin memutus kontak dan menyendiri, tapi karena tahu itu zalim, akhirnya hanya bisa memaksa diri tetap berjalan meski jelas-jelas notifikasi low battery, sudah berkali-kali muncul. Beberapa kali jatuh, lalu tertatih dan terseok berusaha menyamakan pace langkah dengan teman-teman lain. Sembari masih mencerna keruwetan pikiran diri yang meminta untuk diisi energinya dengan menyendiri, apa kabar dini harimu? Bukankah seharusnya itu waktu yang tepat untuk mengisi batre yang hampir mati?

 

Lalu suatu pagi aku menjadi lebih sensitif, cuma perlu satu pemicu, dan bendungan air itu pecah, membuat orang lain yang tidak tahu kondisiku yang lowbatt and sensi ini merasa bersalah. Tapi kasih sayang Allah terus mengalir, somehow, dalam rangka meredakan emosi yang meletup, dan air yang tak kunjung bisa berhenti dibendung, pencarian distraksi satu dua, membuatku mengenakan lagi jas ektrover. Allah seolah memberitahuku, kamu bukan introver tulen yang hanya bisa charge energi dengan solitude, kamu punya sisi ekstrover juga yang bisa diisi energinya dengan komunikasi pada orang-orang yang tepat.

 

#bacatulisanlama Nuju Naon Teh, aku menyambung sapa dengan Apih

 

Kalau di tulisan Nuju Naon, namanya kusamarkan, izinkan kali ini aku menuliskan namanya sebagai bentuk terima kasih, karena sudah membantu mengisi energiku hanya lewat bertukar sapa dan cerita singkat. Rapih Umbarawati, atau biasa disapa Apih adalah salah satu adik tingkat yang kukenal karena pernah tinggal di Asrama Putri Salman. Seingatku jadi dekat dengannya karena pernah jadi satu divisi saat jadi panitia LMD, atau pas peserta juga satu kelompok ya? Lupa hehe.

 

Anyway. she's such a lovely person. She's logical, whenever I talk to her, I always see the rational part of her. She's smart, and dilligent. I feel comfortable speaking and listening to her. She open up to me a little about her family, that makes me feel closer. Bagiku yang sulit untuk membuka diri, aku sangat menghargai dan tahu benar, bahwa bercerita dan terbuka tentang hal pribadi adalah sesuatu yang hebat.

 

Singkat cerita, aku menyambung sapa dengan Apih. Melanjutkan chat terputus kami bulan Mei 2025 lalu. Bertukar cerita dan tanya, tak panjang memang, tapi cukup untuk mengisi batreku. Lalu dari percakapannya, aku tergerak untuk mencari tulisan lama lain di blog ini, kuketik dua keyword "tiga buku", selain kutemukan tulisan yang kucari, kutemukan juga tulisan lain yang membuatku tergerak untuk menyambung sapa dengan sohib lama pas SMA.

 

#bacatulisanlama Tiga Lembar Memori, aku menyambung sapa dengan Salsa


Sebelumnya, sebenarnya sebelum membaca tulisan lama itu, akun instagram Salsa, somehow, with algorythm, direkomendasikan ke akun IG betterword_kirei. Tapi karena satu dua hal, aku ragu untuk mengajukan follow ke akun tersebut. Sampai Allah kembali mengingatkanku lewat tulisan lama tersebut. Segera aku kirim link rekomendasi IG Salsa dari betterword via dm ke IG pribadiku, lalu aku follow akun tersebut menggunakan akun isabellakirei_. Kukirimkan juga DM padanya. Rasanya ingin kirim foto, tapi karena akunnya private, tentu saja gak bisa kirim DM kalau belum friend. Tapi qadarullah, dia online juga, dan aku jadi bisa kirim foto. Lalu percakapan terjalin.

 

Rasanya senang sekali, karena seolah ada tali rindu yang tertaut kencang, kini sudah lepas dan membuatku lega. Apalagi terakhir kali aku menulis tentang memori masa sekolahku, aku mengingat hal buruk dan tenggelam dalam sedih sembari menyimpulkan, ternyata mungkin ini salah satu hal mengapa aku menjaga jarak dengan mereka. Padahal ada begitu banyak memori happy dan bahagia yang seharusnya lebih aku ingat dan abadikan, ketimbang membiarkan debu-debu di kacamata hingga menyamarkan dan membuat mataku perih tiap kali menengok ke belakang.

 

Beberapa waktu ini aku juga berkaca, saat melihat salah satu konten sahabat SMA, yang membahas tentang effort orang-orang yang bertahan dan menjadi circle dekatnya. Katanya karena sama-sama effort. Lalu aku berkaca, betapa tidak bersyukurnya aku. I did only give them minimal effort, I put my wall all the time, I am bad in exchanging communication while being away. I'm also don't give present back, when I get so many present from each of them. Teringat buku-buku hadiah dari mereka, dan surat, dan aku tidak membalasnya, hanya karena berdalih aku tidak merayakan hari lahir. Padahal aku bisa saja membalas dan mengirim hadiah kecil, tanpa harus di hari lahir mereka. Sementara aku cuma bisa menulis penyesalan ini. Someday, maybe, I'll put a little more effort, just to say thank you and sorry, for being a bad friend.

 

*** 

 

Oh ya, dari tulisan lama 3 lembar memori, aku jadi teringat lagi memori indahku saat masih maba dulu, what a movie kinda scene. Jujur malu, karena pada kakak-kakak tingkat di organisasi itu, memori pertama yang melekat bukan yang indah, tapi yang membuatku menangis dan memilih untuk tidak bergabung dengan halaqah manapun, sedih dan bingung melihat "perebutan" calon kader, rumor yang berseliweran, dan aku yang memilih untuk menjauh. 

 

Oh ya, mayoritas draft tulisan di atas ditulis tgl 11 Okt, it's 27 october now. Ada satu lagi memori yang somehow melintas siang hari ini dan membuatku impulsif untuk menyelesaikan tulisan ini. Ada memori bittersweet yang terjadi di Bulan Ramadhan kali itu, saat aku dan partner organisasi dituduh sama-sama cuek. Padahal awalnya semua manis, tapi berakhir pahit. Dan aku cuma bisa diam dan menerima saja menjadi sosok yang terdakwa dan salah. Padahal ada banyak hal yang ingin aku komunikasikan, tapi aku memilih diam, dan menulis semua dalam diary. Perasaan sedih, kecewa, rasa tidak terima karena disalahkan dll, kusimpan rapat-rapat, lalu aku menjalani hari seolah semua baik-baik saja. Secara otak dan akal, aku sudah berdamai dengan memori itu, aku mungkin bisa tertawa dan bercerita tentang kenangan itu. But perhaps, ada hak emosi dalam diri yang belum terpenuhi, karena yang seharusnya disalurkan malam itu aku pilih untuk disumbat dan ditaruh dipojok terdalam. Mungkin karena itu, somehow, saat momen-momen yang tidak direncana, tiba-tiba saja ada kebocoran emosi dan memori yang muncul dan menguap, meminta haknya untuk disalurkan entah dalam bulir air, atau dalam kata-kata yang tidak abstrak.

 

Jujur sebenarnya aku tidak suka menulis impulsif begini. Pun tidak suka, tulisan ini membuatku seolah aku orang yang sering mengingat buruk/sedihnya saja. Tapi jika tidak menuliskannya, aku takut aku mengulangi kesalahan yang sama. Hanya mengingat buruk dan sedihnya saja. Padahal, kalau mau diteliti dan ditelisik lagi, ada begitu banyak hal baik dan bahagia yang terjadi. Untuk hal-hal ini, mungkin aku perlu belajar dari introver lain yang sudah lebih awal aware akan ke-introver-annya. Mungkin mereka lebih tahu cara menata pemikiran/perasaan negatif yang lama ditumpuk dan disimpan, sampai membuat kita melupakan yang positif. Atau mungkin aku hanya perlu lebih banyak berdoa agar dimudahkan untuk bersyukur. Dan mungkin aku harus mulai membiasakan diri agar tidak menulis diary hanya untuk menulis hal-hal negatif dan perasaan negatif yang tidak bisa kusampaikan ke orang lain, bukankah harusnya journaling itu diisi lebih banyak dengan hal-hal yang kita syukuri? Atau journaling habit tracker, biar istiqomah melaksanakan kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin dibangun. Dan adapun untold story of my life, ya, gapapa juga ditulis untuk mengeluarkan sesak dari dalam dada, tapi jangan lupa akhiri dan tekad untuk mencari hikmah dari hal-hal tersebut. 

 

Terakhir, semoga aku bisa lebih banyak menulis lagi, ketimbang lari dan tenggelam dalam distraksi. Jangan ragu untuk sambung silaturahim, barangkali satu dua pertukaran pesan singkat bisa mengisi energi sosialmu. Juga, seperti judul tulisan ini. Jangan cuma ingat buruk atau sedihnya saja. Ingat juga baik dan bahagianya. There's no path that all black and dark. If you pay attention to every path you took before, there's a lot of light, flowers, sweet fruit along the way too. Allahumma a-inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatika. Aamiin. Wallahua'lam. 

 

 

 

Wednesday, August 27, 2025

Membaca Cerpen Orang Lain

August 27, 2025 0 Comments

Bismillah. 

 

Sudah lama rasanya tidak membaca cerpen tulisan orang lain. Entah kapan terakhir baca buku kumpulan cerpen, back then when I was in Bandung, I guess. Pernah baca sekilas juga sih di Medium, tapi kebanyakan penulisnya adalah orang-orang seumuran, jadi diksinya adalah diksi modern yang biasa aku baca di tulisan non fiksi. Lalu aku menemukan cerpen ini dari salah satu e-booknya MGN. Ini sebenarnya baru cerpen kedua dari e-book berjudul "Ilusi di Balik Ganesha 10" [1]. Jadi aku baru dikit banget bacanya, dan belum nerusin lagi, karena aku merasa perlu mengalirkan rasa setelah membaca dua cerpen dari e-book tersebut.

 

Pertama, tentang diksi-diksi baru yang aku temui di dalamnya[2]. Rasanya ingin aku catat dan cari tahu artinya. Kedua, tentang memori-memori yang muncul saat membaca 2 cerpen yang baru aku baca, nama-nama tempat di kampus itu [3] lalu aku mencoba mengingat memoriku akan tempat tersebut, plus membayangkan seperti apa tampilannya dulu, di setting waktu cerpen tersebut. Secara 2 cerpen awal di kumcer tersebut settingnya adalah masa lalu. Yang pertama bahkan saat baru hendak didesain oleh Henri Maclein Pont. Lalu yang kedua, flashback dari tahun 89-90 juga tahun 2018 untuk present-nya.

 



Oh ya, untuk cerpen yang kedua, rasa relate-nya makin tinggi mengingat Hari Kemerdekaan RI ke-80 masih hangat, ditambah begitu banyak isu politik dan sosial yang membuat rakyat melaksanakan demo ke gedung DPR RI tanggal 25 Agustus kemarin. Begitu banyak emosi bercampur, amarah, sedih, kecewa, sebel, dll, dst. Kecintaan rakyat terhadap Indonesia masih jelas tertanam, melihat keramaian perayaan kemerdekaan. Termasuk mereka yang dulu menyuarakan #kaburajadulu, aku yakin yang membuat mereka kabur bukan Indonesia, tapi tikus-tikus politik yang hari demi hari menggerogoti keadilan sosial di Indonesia.

 

Dari baca cerpen tersebut, aku baru sadar betapa aku kurang literasi, ada begitu banyak hal baru di luar hal-hal yang menjadi minat bagi kita, yang mungkin bisa kita tahu kalau kita membaca cerpen orang lain. Cerpen yang nggak melulu bahas topik-topik klise. Padahal yang baru aku baca ini, dari member MGN. Pasti akan lebih banyak hal yang bisa kupelajari kalau aku membaca dari penulis cerpen yang kiprah menulisnya lebih lama. Cerpen-cerpen lama, yang sengaja ditulis dan difiksikan, karena dulu jika ditulis dalam bentuk non-fiksi, penulisnya mungkin akan diincar dan dibungkam. 

 

Intinya, mari membaca lebih banyak buku, termasuk cerpen. Sometimes we need to read outside of our interest to open our mind to a new world we might never dive in.

 

Wallahua'lam. 

 

Keterangan:

[1] E-Book Ilusi di Balik Ganesha 10 - mamahgajahngeblog.com 

[2] Pinggala = apricot, petani gurem, nila kandi = royal blue, stepanut = nama bunga orange yang biasa mekar di sekitar labtek kembar

 


[3] Aula Barat-Timur, Plaza Widyatama, Ex-GSG, Kolam Indonesia Tenggelam, Selasar Labtek V, Boulevard, Koridor "tembok ratapan" gedung FMIPA, Taman Ganesha

 

[4] hidden notes hehe. Menulis ini sembari secara imaginasi meng-pukpuk diri. It's okay to be nostalgic, and it's okay to remember it all. Bukan berarti belum move on. Cuma bentuk tanda bahwa kamu manusia, yang suka mengenang masa lalu. Cuma bentuk tanda, bahwa dalam waktu kurang dari sewindu itu, ada begitu banyak memori baik yang membuatmu tersenyum mengingatnya. 

Tuesday, October 15, 2024

A Call that Delivers Positive Energy

October 15, 2024 0 Comments

Bismillah. 


It's already October. Alhamdulillah 'ala kulli hal.

 

Beberapa waktu yang lalu, aku paham aku memilih untuk tidak menulis, dan menghabiskan waktu untuk hal yang jauh lebih tidak penting >< Allahummaghfirli..

 

Bahkan hari ini pun, aku ragu untuk menulis. Tapi obrolan kemarin seolah mengetuk-ngetukku untuk menulis, sesederhana apapun. Mungkin inilah berkah terhubung lagi dengan orang shalih. Energi positifnya mengalir, meski bukan pertemuan fisik, hanya suara di ujung telepon.


***

 

Singkat cerita, seseorang dari komunitas yang kukenal sejak 9 tahun yang lalu menghubungiku. Dari obrolan tersebut, nyala api semangat saat dulu awal bergabung di komunitas melintas di memori. Betapa saat itu, kami terhubung karena sama-sama merasakan manfaat dari ceramah berbahasa inggris dari seorang ustadz, lalu manfaat yang kami dapatkan itu, ingin kami bagikan juga ke orang lain. Maka lahirlah akun tumblr komunitas.

 

Seingatku saat itu aku belum banyak berkontribusi. Aku cuma observer, sesekali bersuara di grup, tapi lebih banyak menyimak saja. Tumblr saat itu diisi dengan desain quote/kutipan. Aku tahu salah satu yang aktif berkontribusi. Qadarullah ketemu di bandung dengan beliau saat beliau S2 di kampus yang sama.

 

Aku ingat saat itu ada pertemuan offline juga, tapi aku yang saat itu masih bergelut dengan diriku sendiri, memilih untuk tidak hadir, hanya mendengar cerita dari teman yang hadir.

 

Aku teringat event menulis pertama bertajuk metamorfosa, tidak ikut mengirim apapun, bukan panitia juga, tapi merasakan manfaat dari membaca tulisan beberapa peserta event tersebut.

 

Aku teringat saat berkunjung ke rumah salah satu anggota komunitas, diceritakan tentang mimpi besar komunitas. Mendatangkan ustadz ke Indonesia, mendirikan yayasan dengan nama sama cabang Indonesia.

 

Aku teringat kabar saat ustadz ke Malaysia, dan ada anggota komunitas yang datang dan bertemu, membawa buku yang berisi desain-desain quote dari komunitas. Lalu beliau hendak mampir ke Indonesia 411, tanggal 5-nya. 2016. Dibatalkan karena alasan keamanan.

 

Lalu 2018. Akhirnya ustadz ke Jakarta. Meet up Community. Kajian di Masjid Istiqlal.

Baca juga: Resume Kajian Meet Up Community

 

Lalu story night pertama, ada quran weeks juga. Dan tahun ini story night kedua.

 

***


Memori dan tulisan di atas, bukan kutulis dalam rangka promosi acara atau apa. Tapi aku ingin mengenang, betapa semangat kami dulu untuk berdakwah, bukan karena ustadz tersebut, tapi karena pelajaran Al Quran yang kami dapat dari beliau. Insight-insight yang membangunkan hati kami, sehingga kecintaan terhadap hikmah tersebut membuat kami ingin lebih banyak orang mendapatkan manfaatnya juga.


Apa kabar komunitas? Komunitas kami masih hidup, tapi tidak bisa disebut sangat aktif. Beberapa program kerja masih berjalan. Story Morning setiap ahad, tim subtitle yang menyediakan video subtitle bahasa indonesia dan inggris di youtube, juga proker tiap Ramadhan, My Favorite Ayat, juga blog, masih update tulisan-tulisan resume dari kajian.


Jujur menulis ini membuatku malu, karena saat ini, aku lebih banyak menjadi observer lagi, menyimak dan memperhatikan dari jauh. Sedihnya, masih bergelut dengan diri sendiri, sehingga tidak banyak berkarya. Jangankan untuk komunitas, blog ini saja ... *let's not complain and do the work instead.


***

 

Terakhir, jangan menyerah bebenah diri. Semoga Allah mudahkan untuk istiqomah menyelami samudra ilmu-Nya, berusaha mengambil sedikit dari mutiara di kedalaman Al Quran.

 

Kuakhiri tulisan ini dengan sebuah kutipan,

 

We need guidance over and over again.

Allah mengumpamakan Alquran dengan hujan atau air. Seperti bumi yang membutuhkan hujan lebih dari sekali untuk menjaganya tetap hidup. Seperti itu pula Alquran kita butuhkan dalam hidup kita.
 
Seperti manusia, apa manusia cukup meminum air satu kali saja dalam hidupnya? Tidak. Manusia butuh minum air lebih dari sekali, we drink water over and over again. Seperti itu pula kebutuhan manusia atas petunjuk dalam Alquran. Sepanjang hidup kita, kita membutuhkan Alquran.

- Resume Kajian Ustadz Jakarta, 5 Mei 2018 (baca lengkapnya di sini)

 Wallahua'lam bishowab.


***


PS: Aku kehabisan kata untuk membuat judul! Awalnya mau dikasih judul "It's October", tapi setelah semua tulisan jadi, nggak menggambarkan isi. Trus mau ubah jadi Telepon dari Seseorang dari Komunitas, kebanyakan dari-nya. Akhirnya judulnya kuganti jadi seperti sekarang. Sekian. maaf gak penting. let's hide this.

Friday, December 1, 2023

Memories from Facebook (28 November)

December 01, 2023 0 Comments
Bismillah.

Lama gak buka Facebook, lalu menemukan beberapa memori.

Ternyata tanggal 28 Nov aku sering buka Facebook.

5x, kalau termasuk tahun ini, jadi lima kali.

2009 chat wall dari temen SMP, lama tidak jumpa dan mengobrol. Sebuah pengingat untukku jalin silaturahim padanya.

2011 tantangan buat resensi buku baru, dibeliin bukunya, mention dari senior Aksara, yang sekarang jadi "petinggi" di YPM Salman.

2012. Pengingat untukku, tentang urutan terkait ilmu. Seringkali aku lupa urutannya dan ingin segera melompat ke langkah terakhir.

2013. Tag dari teman satu fakultas. Pengingat bahwa seharusnya jarak tidak mengurangi nilai pertemanan. *Izin share dengan nama asli ya Ro hehe.

Satu lagi tahun 2016. Yang ini kemarin lupa gak aku catet tentang apa. Mungkin share publikasi acara, atau share quotes.

***

Hanya ingin mencatat ini di sini, biar tidak lupa.

Sesekali, tidak mengapa buka FB. Back then you were so active in that social media. Barangkali hikmah dan pelajarannya, masih menanti untuk dipetik lagi. (:

Wallahu a'lam bishowab.