Follow Me

Tuesday, September 18, 2018

Ia yang Datang dan Dia yang Pergi

Bismillah.

Dalam hidup kita, akan ada orang-orang baru yang datang. Begitu pula, ada juga orang-orang lama yang pergi. Semua Allah rencanakan dan pasti ada hikmah dibalik kedatangan dan kepergiannya. Dan di sini.. meski baru sekitar 8 hari, izinkan aku mencoba merangkai hikmahnya. Atau mungkin aku hanya hendak menceritakannya di sini.

Yang Pergi

Sabtu, 8 September 2018 entah mengapa aku merasa ia akan pergi saat ia menolak dan memberitahu, bahwa pekan itu, ditambah esok hari adalah ia memilih pulang tanpa membawa apa-apa. Meski perasaan bahwa ia akan pergi jauh hinggap di otak, kucoba singkirkan, takut kalau itu hanya prasangka buruk. Hari esoknya, lewat orang lain, kudengar senin (10/9) ia tidak akan datang karena satu hal. Selasa, ia masih memberi kabar, bukan padaku tentu saja, pada orang lain, bahwa ia tidak datang lagi. Kemudian saat rabu ia masih tidak datang, orang lain bertanya padanya, ia berencana pergi dua bulan. Entah atas alasan apa, aku... tidak perlu tahu. Aku cuma berdoa dalam hati, jika ia memang tidak datang dan akan pergi, semoga itu yang terbaik.

Yang Datang

Senin 10 September 2018 ia datang menaiki kereta api. Aku tak sempat menyambutnya lama-lama karena saat ia tiba, aku ada agenda lain yang harus dihadiri. Ia pendatang yang introvert. Tidak suka diperhatikan meski kehadirannya menarik perhatian banyak orang. Ia lebih memilih diam dan bersembunyi saat banyak orang, kemudian berubah menjadi cerewet, lincah dan banyak tingkah saat ia dengan orang yang sudah dikenalnya.


***

Yang Datang Maupun yang Pergi

Uniknya bersamaan, seolah memang sudah diatur begitu. Ibarat antrian panjang, saat yang satu sudah selesai, antrian berikutnya masuk. Tidak ada kekosongan, bergulir satu demi satu. Keduanya, kepergian dia, dan kedatangan ia.. dua-duanya membawa perubahan di hariku. Rutinitasku sedikit berubah, meski tidak seluruhnya. Aku hanya bisa berdoa, semoga perubahan yang baik. Karena meski ada yang datang dan ada yang pergi, selalu ada peluang, aku tetap geming dan memilih lembam.

***

Yang pergi datang kembali?

Ya... kemungkinannya ada. Karena kata orang lain, waktunya dua bulan. Allahua'lam. Jika memang yang pergi nanti, datang kembali, aku berharap aku bisa memanfaatkan kepergiannya untuk memperbaiki diri. Karena jujur, aku merasa terlalu childish pada ia yang pergi, banyak salah, perlu mendewasa dan belajar bijak menyikapi kedatangannya. Mumpung ia sedang pergi... mumpung aku tak lagi harus melukai diri dengan prasangka terhadapnya, semoga waktu ini aku gunakan untuk memperbaiki diri. Agar berhenting playing victim role. Dan belajar lagi... memperbaiki iman dan amal, agar bebuah akhlak baik.

Yang datang akan pergi?

Ya... kemungkinannya, jelas ada. Karena memang alasan ia datang bukan untuk menetap. Hanya sementara di sini menyelesaikan yang harus tuntas. Jika memang yang datang akan pergi, semoga waktu dan momen ini aku manfaatkan untuk dekat dengannya, mengambil banyak hikmah dari hal-hal kecil yang ia lakukan. Memperhatikan bagaimana ia mulai membuka hati, dan seolah sifat introvertnya memudar. Bukan hilang padahal, hanya saja, setiap hari ia merasa lebih nyaman padaku, sehingga ia mulai nyaman menjadi dirinya sendiri. Tanpa perlu banyak diam dan banyak bersembunyi. Mungkin darinya, aku perlu belajar juga, untuk lebih mengenal diri, untuk tahu kapan harus berhenti diam dan bersembunyi. Semoga kehadiran ia di sini.. meski mungkin nanti akan pergi... bisa membuatku lebih baik. Belajar untuk tidak banyak menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia. Lebih baik berdekatan dengannya, sebelum ia pergi.

***


In another case...

Kalau tulisan ini, tentang dia yang pergi, dan aku dengan ringan hati melepasnya. Juga tentang ia yang datang, dan aku dengan besar hati menerimanya. Bagaimana dengan kasus lain... yang dia pergi namun berat untukku mengakui ia sudah pergi. Bagaimana dengan kasus lain... yang ia datang, tapi sulit untukku menerima kehadirannya.
Semoga... saat itu, Allah membimbingku agar belajar, melepaskan yang pergi, dan menerima yang datang. Sembari terus berdoa, semoga ini yang terbaik untukku, dunia dan akhirat.

Satu lagi...

Ini tidak selalu tentang manusia, tapi bisa jadi hal lain yang tidak hidup. Apa? Hehe. Kesempatan yang pergi, dan situasi unik yang hadir. Selalu ada, meski bukan manusia, yang pergi dan datang. Seperti masa muda yang pergi, dan masa tua yang datang. Atau kesehatan yang pergi, dan sakit yang datang. Semacam itu, aku sendiri bingung mau memberi contoh apa lagi.

Terakhir, saat ada yang pergi dan ada yang datang, satu hal yang harus kita ingat. Bahwa kita tidak tahu, banyak tidak tahu... apakah yang pergi lebih baik dari pada yang datang atau sebaliknya. Maka saat kita tidak tahu, mendekatlah pada Yang Maha Mengetahui. Bertanya padaNya, minta bimbinganNya. Semoga Allah memberkahi hari-hari kita. Aamiin.

Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya