Follow Me

Showing posts with label kata kerja. Show all posts
Showing posts with label kata kerja. Show all posts

Monday, October 23, 2023

Crying Alone

October 23, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

10 September yang lalu, sebuah kejadian menyembunyikan hikmah yang menanti untuk dipetik. Kusimpan-simpan, karena jujur, aku masih belum yakin bisa merangkainya, takut-takut salah mengambil kesimpulan dan pelajaran. Tapi lebih baik memulai dan belajar mengeja, tidak apa salah. Nanti.. kita ulangi lagi merangkainya, jika diberikan kesempatan untuk mengambil lagi hikmah yang sebenarnya.


***


Aku bertanya-tanya, mengapa orang, saat sudah dewasa dan tumbuh dari tubuh kanak-kanaknya, cenderung malu untuk menangis di hadapan orang lain? Mengapa mereka memilih untuk menyembunyikan tangisnya, dan menangis sendiri?


Aku bertanya-tanya, mengapa tidak nyaman menangis di depan orang lain? Bahkan di depan orang yang seharusnya kita merasa aman dan nyaman. Apakah ingin terlihat tangguh? Atau memang, fitrah manusia dan hewan barangkali, bahwa ia tidak mau terlihat lemah? Tidak mau dikasihani. Ego?

 

Kenapa aku menambahkan hewan, karena aku tiba-tiba teringat, bayangan kucing kecil, yang meski tubuhnya kecil, ia melakukan hissing untuk mengintimidasi. Padahal ia tahu, bahwa ia lemah, dan reaksi itu adalah bentuk perlindungannya, saat ia bertemu dengan sosok yang bisa jadi hendak melukai dan mencelakainya. Apakah seperti itu juga, alasan, mengapa orang memilih untuk menangis sendiri? Bentuk ia melindungi dirinya sendiri?


Aku juga berpikir, tentang sisi empati. Yang ini sudah beberapa kali kutulis. Terkadang kita tidak mau berbagi sisi tidak baik-baik saja diri, bukan karena tidak percaya pada orang lain, tapi karena tidak ingin kesedihan itu menular atau merusak hari orang lain. Kita tidak ingin orang lain merasa sedih juga.


Atau bisa jadi, selain alasan-alasan di atas, barangkali rasa nyaman dan keinginan untuk menangis sendiri, ketimbang menangis di hadapan orang lain, adalah karena menangis, seharusnya menjadi waktu istimewa, agar kita kembali ingat Allah. Saat sendiri itu, kita jadi punya waktu untuk berjarak dari manusia, dan berdialog dengan diri, juga Allah. Terkadang lewat kata dan doa yang terucap lisan. Terkadang lewat gelembung pikiran yang lalu lalang, dan taut menaut di kepala. Terkadang hanya dengan bulir-bulir air yang mengalir dari mata.


***


Pernah ada masa aku mengira menangis sendiri, sembunyi itu hal yang buruk. Bertanya-tanya, apakah ini tanda aku memiliki trust issue. Bertanya-tanya, apakah tangis, juga mesti dieja dan diurai satu-satu, dibuka pada orang lain. Tapi setelah dipikir-pikir ulang, dicerna, berusaha mengambil hikmah. It's not a bad thing to cry alone. Syaratnya, asalkan kita tidak merasa sendiri saat menangis sendiri. Hati kita harus ingat, bahwa menangis sendiri kita, juga disaksikan oleh Allah. Bahwa bisa jadi, hal-hal mengecewakan, atau apapun yang membuat kita menangis, adalah bentuk kasih sayang-Nya, yang rindu ingin mendengarkan keluhan dan aduan mesra seorang hamba pada Rabb-Nya.

 

Adakah kita lupa, bagaimana Allah menjawab langsung pertanyaan seseorang kepada Rasulullah?


Fainni qarib. Bukan faqul inni qarib.


Lalu ingatkah lanjutannya? Kalau lupa, yuk tadabbur lagi ayat itu.. [1] dan rasakan kerinduan untuk menangis sendiri bersama-Nya. Ah... aku rindu Ramadan juga. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk bertemu bulan Ramadan lagi. Aamiin.

 

Wallahua'lam.


***


Keterangan:

[1] Salah satu sumber untuk tadabbur ayat ini (2:186) https://youtu.be/EFreH2aLkjU?si=O6xb-6guzTsa25TZ&t=3122 (ada subtitle indonya)

Sunday, August 9, 2020

5 Langkah Agar Tidak Hidup Terpaksa

August 09, 2020 0 Comments
Bismillah.



Siapa sih yang mau hidup dalam keterpaksaan? Tentu tidak ada. Tapi bagaimana caranya, agar kita tidak hidup dalam keterpaksaan?

***

1. Kenali diri 


Hal pertama yang harus kita lakukan agar tidak menjalani hidup dengan rasa terpaksa adalah mengenali diri. Saat kita mengenali diri, kita jadi paham apa yang kita sukai, apa yang membuat kita bersemangat. Sebaliknya, kita juga tahu apa yang tidak kita sukai, apa hal yang tidak bisa kita toleril/kompromikan. Kita paham di area mana kita akan merasa terpaksa dan hal itu akan membuat kita merasa tersiksa. Kita juga tahu, di bagian ini, meski kita tidak suka, tapi kita bisa saja tetap melakukannya. Saat kita tahu preferensi kita, kita jadi lebih bisa membuat pilihan. Kita tidak sekedar mengikuti arus, sampai terbawa ke tempat yang membuat kita merasa terpaksa.

2. Tentukan fokus atau tujuan hidupmu

Ini masih berkaitan dengan langkah pertama. Saat kita mengenali diri, kita bisa menentukan fokus atau tujuan hidup kita. Bidang apa yang ingin kita pelajari, dunia apa yang ingin kita tekuni, kontribusi apa yang akan kita berikan. Saat sudah punya fokus dan tujuan hidup yang spesifik, kita akan mudah melakukan cara nomer 3, yang akan menghindarkan kita dari rasa terpaksa.

Saat kita memiliki fokus dan tujuan hidup, kita akan mulai membuat rencana, mengisi hari kita dengan kegiatan yang akan menjadi tangga yang mengarahkan ke tujuan kita. Bukan orang lain atau tuntutan sosial yang mengarahkan kita harus jadi apa, tapi kita sendiri yang menentukan fokus dan tujuan hidup kita. Karena kita sudah berusaha mengenal diri kita. Karena kita sudah terlebih dahulu memiliki tujuan, akan dibawa kemana hidup kita.

3. Berani untuk berkata tidak

Salah satu hal yang membuat orang yang hidup dalam jerat rasa terpaksa, adalah tidak bisa/tidak berani berkata tidak. Saat kita menjadi "yes men", memilih untuk mengikuti pilihan orang lain, serta terbawa arus kebanyakan orang, kita akan sering merasa terpaksa. Sebaliknya, dengan kita berani berkata tidak, kita akan bisa menghindari situasi dan kondisi yang membuat kita merasa terpaksa.

Tapi keberanian untuk berkata tidak ini bergantung pada kekuatan kita untuk berkata ya pada tujuan/fokus hidup kita. Stephen R. Covey, dalam buku 7 Habits menuliskan,
"Anda harus bisa memutuskan prioritas utama Anda dan memiliki keberanian --dengan menyenangkan, sambil tersenyum, tanpa rasa menyesal-- untuk berkata "tidak" pada hal lain. Anda bisa melakukannya dengan memiliki kata "ya" yang lebih besar dan menggebu-gebu dalam diri Anda."


4. Ubah perspektif saat realita menghantam

Jika sudah melakukan tiga hal di atas, tapi realita menghantam? Ya, kita tidak bisa naif, bahwa hidup tidak hanya dipenuhi dengan hal-hal yang kita sukai. Kita akan, dan pasti menemui hal yang membuat kita merasa terpaksa. Dan jika itu terjadi, apa yang bisa lakukan? Yup, jawabannya adalah dengan cara mengubah perspektif kita.

- pikirkan sisi positif dari hal yang membuat kita terpaksa tersebut

- yakinkan diri, bahwa bisa jadi hal tersebut menjadi batu loncatan kita untuk menuju tujuan kita

- pahami bahwa kesulitan dan kemudahan itu hadir beriringan

- berprasangka baik bahwa ada pelajaran hidup yang cuma bisa kita dapatkan dari pengalaman dan perasaan terpaksa

Ada yang mau menambahkan perspektif lain? Boleh jawab di kolom komentar ^^

5. Pelajari cara untuk merdeka


Rasa terpaksa adalah salah satu bukti bahwa jiwa kita tidak merdeka. Tidak merdeka, sehingga tidak bisa memilih. Dan cara paling ampuh agar kita bisa berdamai dengan rasa terpaksa dalam hidup adalah dengan belajar memerdekakan jiwa.


Tahukah, bahwa manusia, dalam hidup akan selalu menjadi 'budak' sesuatu. Entah sesuatu itu orang, atau perusahaan, termasuk juga uang, popularitas, bahkan hawa nafsu diri. Dan satu-satunya cara untuk merdeka adalah dengan menghamba pada-Nya. Menjadi hamba-Nya akan membebaskan kita dari perbudakan lain.

Kita tidak lagi menghamba pada uang, karena kita tahu bahwa Allah Maha Memberi Rezeki. Kita tidak lagi bucin, karena kita tahu Allah mampu membolak-balik hati manusia. Kita tidak lagi merasa terpenjara di dunia yang penuh ketidaksempurnaan, karena kita tahu, kita di dunia untuk bekerja, dan memetik buahnya nanti di akhirat.

***

Oh ya, ini bulan Agustus, bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Jangan cuma rayakan kemerdekaan dengan memasang bendera merah putih. Maknai kemerdekaan dengan rasa syukur. Kalau bukan karena perjuangan darah dan tinta para pahlawan, berapa banyak keterpaksaan yang harus kita derita?

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi minamal satu cerita dalam satu minggu.

Monday, October 8, 2018

Mendiamkan ; Hajr

October 08, 2018 0 Comments
Bismillah.

Allah merencanakan semuanya, dengan matang, untukku. Semua 'kebetulan' yang hadir di hariku, memojokkanku dan bertanya, bisakah kamu mengambil hikmahnya? Bisakah kamu mengamalkan jika ilmunya sudah kau ketahui?

***

Setelah keluar dari persembunyian (akhir tahun 2016), kemudian perlahan berusaha memetakan masalah diri dan mengambil keputusan besar (sampai akhir tahun 2017), kembali ke Purwokerto, adaptasi dengan rutinitas baru, sampai akhirnya berinteraksi lagi dengan orang selain keluarga. 

Di lingkungan baru itu, aku mengenal beberapa sosok manusia yang membuatku belajar banyak hal. Aku sering marah sendiri, curiga sendiri, sebel sendiri, terutama saat Allah memperlihatkan sisi buruk mereka. Saat itu, rasanya ingin orang-orang itu keluar saja dari hidupku, atau aku yang keluar saja dari hidup mereka, jalan pintas memang, dan kali ini aku tidak punya kuasa. Jadi pilihan selanjutnya adalah mendiamkan, sebisa mungkin menutup diri. Bukan tidak mengobrol sama sekali, komunikasi tetap jalan, tapi hanya hal yang perlu dan memaksa. Selain itu, aku sibuk sendiri dan mereka sibuk sendiri.

Sampai qadarullah, kajian Bulughul Maram di masjid dekat rumah sampai di hadits ke 24, hadits mengenai mendiamkan saudara muslim, yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al Anshari. Sekitar tiga atau empat pertemuan baru selesai membahas satu hadits tersebut. Selama rentang waktu itu, berbagai "drama" terjadi di rutinitas yang mengharuskanku berinteraksi dengan orang yang tidak aku sukai. Ditambah, qadarullah baca buku Mizanul Muslim yang membahas tentang ukhuwah. Lengkap sudah 'kebetulan' yang Allah rancang untukku.

Pertemuan pertama, Ustadz Abdullah Zaen fokus menjelaskan kisah periwayat hadits tentang mendiamkan /hajr tersebut. Nama aslinya, bagaimana saat Rasulullah tinggal bersama beliau, sifat dan sikap baiknya, sampai akhir hayatnya, ia dikuburkan jauh dari kampung halamannya.

Pertemuan selanjutnya, dibahas tentang dua sebab mendiamkan seseorang, apakah itu karena urusan pribadi atau karena urusan agama. Mendiamkan/hajr karena urusan agama ternyata boleh lebih dari tiga hari tiga malam, seperti yang tertulis di Quran tentang Ka'ab bin Malik dan dua sahabat lain, yang didiamkan selama kurang lebih 40 hari karena tidak hadir di perang Tabuk tanpa alasan syar'i.

Tiap duduk dan mendengarkan, pikiranku pasti menyangkut pautkan dengan apanyang terjadi di keseharianku. Aku.. yang enggan ramah, berkomunikasi sekedarnya saja, karena merasa sakit melihat keburukan orang tersebut. Beberapa kali tertegur mendengar penjelasan hadits tersebut. Bahwa membenci atau memilih tidak memaafkan, bahkan sampai mendiamkan karena ego, tidak akan memberikan keuntungan apapun bagi diri kita.

Belajarlah dari Nabi Yusuf,

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang".

itu maknanya, ia sudah lupa kesalahan kakak-kakaknya.

***



Itu teorinya, prakteknya beda cerita. Saat itu, setiap aku melihat orang itu, mudah sekali rasanya menghadirkan ulang bayangan kesalahan orang lain. Lalu rasanya begitu sulit untuk memaafkan, ibarat kertas yang sudah diremas, mau dibuka lagi, dicoba dirapikan, tetap saja masih ada bekasnya. 

Lewat pengalaman dengan orang lain itu, aku jadi berkaca tentang diri. Ya, aku juga. Aku sekarang paham, mengapa beberapa orang tanpa sengaja dan tanpa niat menyakiti sering mengucapkan kesalahan yang pernah kuperbuat. Karena luka yang kutorehkan di hatinya, masih berbekas. Aku saja masih berulangkali teringat kesalahan itu, apalagi mereka, yang tersakiti karena kesalahanku.

Lalu aku jadi sedikit lebih paham lagi, bahwa memang tidak ada tempat kembali selain padaNya. Karena hanya DIA, yang bisa menutup kesalahan dan dosa kita. Terbukti, rahmatNya, nikmatNya terus mengalir, meski kita berulang jatuh dalam dosa, mencoba bertaubat, namun kembali oleng dan terjatuh lagi, kemudian mencoba bangkit lagi karena kita tahu pintuNya masih terbuka lebar-lebar, siang maupun malam.

Pun berkaca lagi, tentang ketentuannya yang adil. Bahwa kebaikan bisa menghapus keburukan. Maka setiap ada sedikit, sedikit peluang melakukan kebaikan, kita teringat, bahwa Allah tidak menutup pintu rahmatNya. Seperti wanita hina yang bertaubat, namun tidak diterima manusia manapun karena kelamnya masa lalunya. Namun seciduk air, yang ia berikan untuk anjing yang kehausan, Allah hitung balasannya dengan adil.

Kemana lagi akan berlari, jika bukan kembali padaNya?

***

Di pertemuan selanjutnya, masih bahas tentang hadits mendiamkan atau hajr. Disebutkan bahwa mendiamkan bukan satu-satunya jalan yang bisa diambil jika kita bermasalah dengan orang lain. Pun saat kita melihat kesalahan orang lain.

Cara kita bersikap terhadap orang yang memiliki kesalahan dalam agama ada dua :
_ menghajr/mendiamkan
_ mendekatinya, agar bisa mengambil hatinya dan menasihatinya
ada orang yang didiamkan semakin baik, namun ada juga yang didiamkan namun semakin buruk.
setiap orang caranya berbeda, tergantung situasi dan karakter orangnya. Ada yang karakternya keras, kalau dikerasi jadi tambah keras. 
Penjelasan itu lagi-lagi membuatku melihat ke situasi yang saat itu aku hadapi. Aku lebih memilih mendiamkan karena ego, dan lebih memilih berkeras, bukan berusaha mendekat. Salah. Aku salah.

Aku makin yakin kesalahanku, saat salah satu orang akhirnya memilih pergi dari hidupku. Sedang satu lagi, membaik karena sikap yang dipilih Ayahku pada orang tersebut benar. Mungkin ini bedanya, Ayahku sudah banyak berinteraksi dengan orang lain, lebih pandai memetakan mana yang sebaiknya didiamkan, dan mana yang perlu didekati dan diambil hatinya. Sedangkan aku lebih fokus pada luka di diriku, pada egoku, pada keengganan untuk berinteraksi.

Yang lebih telak lagi, di pertemuan tentang hadits mendiamkan, ada kalimat yang kurang lebih begini... 
Orang yang mendiamkan, apakah punya kekuatan atau tidak? Punya pengaruh atau tidak? Misal anak kecil yang mendiamkan orang dewasa, atau guru yang mendiamkan murid, bukankah berbeda efeknya?
Jadi mendiamkan atau menghajr itu ada syarat dan caranya. Tidak asal dilakukan. Harus lihat kondisi, situasi, orang yang mendiamkan dan yang didiamkan. Aku malu sendiri mengakui, bahwa benar, aku tidak memberikan efek apapun, percuma aku mendiamkan, yang rugi aku sendiri. Aku hanya anak kecil, yang sok-sokan mendiamkan, childish, ga efektif pula, jauh dari bijak. I need to learn much how to be a better muslimah. 

***

Pertemuan selanjutnya, masih membahas hadits ke 24 Kitab Bulughul Maram. Penghujung haditsnya. Bahwa yang lebih baik antara dua orang yang saling mendiamkan tersebut, adalah yang terlebih dahulu mengucapkan salam.

Ada tiga pendapat penjelasan mengenai teknis mengakhiri hajr/mendiamkan. Yang pertama cukup dengan salam, yang kedua tidak sekedar salam hubungannya harus kembali membaik seperti dulu, yang ketiga berbeda sesuai hubungan kekerabatan, jika bukan kerabat cukup dengan salam, jika kerabat, harus kembali membaik hubungannya seperti sebelum hajr.
Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani, menggabungkan ketiga pendapat tersebut. Ada beberapa level dalam menyelesaikan hajr, yang minimal itu mengucap salam, maksimalnya sampai kembali seperti hubungan sebelum peristiwa hajr. Dan level maksimal ini adalah untuk kerabat.
Disebutkan juga di penjelasan saat itu, batas tiga hari di hadits tersebut terkait dengan diangkatnya amal perbuatan manusia di hari senin dan kamis. 
Amal shalih bani Adam dilaporkan hari Senin dan Kamis. Pada hari Senin dan Kamis Allah akan mengampuni dosa orang-orang yang beriman selama ia tidak syirik, kecuali seseorang yang bermusuhan dengan saudaranya. Kemudian dikatakan pada para malaikat, undurkan ampunan buat dua orang ini, sampai kedua orang ini mau saling baik-baikan.
Catatanku mengenai penjelaskan mendiamkan / hajr diakhiri dengan kalimat miris..
Anehnya.. ada orang yang rela dosanya tidak diampuni, karena gengsi. TT
***

Allah merencanakan semuanya, dengan matang, untukku. Semua 'kebetulan' yang hadir di hariku, memojokkanku dan bertanya, bisakah kamu mengambil hikmahnya? Bisakah kamu mengamalkan jika ilmunya sudah kau ketahui?


Saat itu, aku belum bisa mengambil hikmahnya, masih tertatih mempraktekkannya dalam amal. Saat itu, situasi dan kondisinya berbeda. Aku, cuma bisa menuliskan ini. Berharap, agar hikmah ini tidak aku lupakan. Dan jika, suatu saat aku dihadapkan pada kondisi didiamkan atau mendiamkan, aku harap, aku bisa lebih baik bersikap dan bertindak. Semoga aku bisa menjadi muslimah yang lebih baik. Yang tidak terpaku pada perasaan dan ego sendiri. Yang memandang segala hal, lewat kacamata quran dan sunnah. Rabbi habli hukmaw wa alhiqni bisholihin. Aamiin. 

Allahua'lam.

Bangkit

October 08, 2018 0 Comments
Bismillah.

Aku menulis ini, sebagai pelunas hutang, karena sabtu kemarin seharusnya submit tulisan bertema "Bangkit" di blog akardaunranting.

*disarankan skip paragraf ini*

Ada banyak excuse mengapa akhirnya ga jadi submit, semacam rentetan sebab-akibat. Tidak submit karena tulisannya belum selesai, belum selesai, karena ga dimulai. Ga ada ide? Iya salah satunya, belum menemukan frase bahasa inggris atau idiom yang nyangkut sama tema "Bangkit". Sebenernya nemu satu, tapi dalam proses menggalinya, justru menemukan alasan harus cari frase lain. Tadinya mau nulis dengan judul "chin up" pernah baca dan sembarang mengartikannya dengan kata "semangat". Sebenarnya aku tahu juga kalau chin up itu istilah lain dari pull up. Bukan, bukan itu yang buat aku urung menuliskannya. Aku cek ulang, googling, arti dari chin up, trus nemu penjelasan bahwa kata itu lebih sering digunakan untuk menyindir, konotasinya negatif. Jadi malam sabtu kemarin, aku memilih melakukan hal lain, dan mengabaikan 'kewajiban' nulis sabtulis.

***


Bangkit. Bagaimana aku bisa menulis topik ini, saat aku sendiri sedang memilih duduk dan menunda untuk bangkit? Tapi izinkan aku tetap melanjutkan menulis. Bukan untuk sabtulis, bukan untuk siapapun. Tapi untuk diri ini, yang mungkin perlu menulis dulu, agar segera sadar dan segera bangkit.

Saat mulai menulis, entah mengapa sebuah quote terlintas di otakku. Salah satu quotes yang esensinya aku hafal. Dari salah satu buku karya Salim A. Fillah. Buku Jalan Cinta Para Pejuang. Tentang definisi bersyukur.

Bahwa bersyukur itu.. mendayagunakan nikmat. Tidak merasa cukup berdiam diri. Yang duduk, bangkit berdiri. Yang berjalan, mulai berlari. Seperti itu. Bukan sekedar menerima, tapi mendayagunakan nikmat. Seperti hari ini, setelah menunda menulis dua hari, tapi Allah masih memberi nikmat nafas padaku. Bentuk syukurku atas oksigen yang Allah sediakan gratis, seharusnya bukan sekedar berucap 'alhamdulillah'. Tapi mengisi tiap detik dan menit dengan produktif. It won't be easy tho... Karena manusia umumnya merugi dalam hal ini.

***

Untuk mulai bangkit, harus terlebih dahulu menguatkan hati. Karena sungguh, meski raga kuat, jika kondisi hati sedang jatuh dan lemah lunglai, kita akan kesulitan untuk bangkit. 

Maka saat bangkit terasa begitu berat dan sulit, coba tengok kondisi hati. Mungkin ia sedang sakit, kotor serta berkarat. Beri obat pada hati kita. Lewat dzikir, doa, shalat, membaca quran, mendengarkan nasihat siraman hati. 

Setelah hati terasa lebih tenang, dan tidak lagi sesak, langkah selanjutnya ajak dirimu berbincang. Bisa lewat tulisan, dimana kau jujur pada diri, tentang hal-hal yang berjatuhan, tentang luka yang bersarang, tentang tembok tinggi di hadapan. Atau jika tidak menulis, berikan waktu dan tempat agar dirimu bisa tafakkur, dalam diam, berbincang dengan diri.

Semoga setelah itu, setelah hatimu sedikit lebih kuat, kau bisa memaksa tanganmu untuk bergerak, kakimu untuk melangkah, dan bersama, hati dan ragamu bangkit. Bangkit dari jurang gelap, bangkit dari trauma masa lalu, bangkit dari kegagalan bertubi, bangkit.. bangkit.

Sertai setiap langkah dan usaha dengan doa. Karena cuma dengan doa, diri yang lemah ini bisa ditopang kekuatan dariNya. Karena lewat doa, kita tidak bersandar pada kemampuan hati dan tubuh kita yang terbatas, tapi kita bergantung dan bersandar pada Rabb Semesta. Yang Tidak Pernah Lelah dan Tidak Pernah Tidur.

Selamat memulai bangkit, meski berkali jatuh terpuruk. Semoga Allah hadirkan orang-orang yang menemani dan mengingatkan kita untuk bangkit. Aamiin. 

Allahua'lam.

Monday, August 27, 2018

Easy But Hard

August 27, 2018 0 Comments
Bismillah.

Seperti bittersweet yang merangkum dua rasa, pahit tapi manis, manis tapi pahit. Ada gak ya kata yang merangkum dua kata, mudah tapi sulit, sulit tapi mudah?


Hari ini.. qadarullah ngerasain menunggu hampir tiga jam. Easy? Ya.. dibandingkan saat-saat dulu. Menunggu waktu itu, di sana, rasanya sungguh menyiksa, apalagi saat itu aku berteman dengan prasangka buruk. Ga lama padahal nunggunya, tapi mata dibuat memanas, air berderai, meringkuk sendirian, lalu pergi, tidak jadi hadir dan bertemu. Hari ini, relatif lebih mudah. Sesekali berdiri bolak balik, kemudian duduk pegang hp, kemudian menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Terkadang mengamati anak kecil yang terus merajuk pada sang ayah untuk pulang. Kemudian menulis, dan hadirlah tulisan Odd Numbers. Hehe. Tulisan ini, juga salah satu produk menunggu. 

Menunggu... is it hard? Eh, dipikir-pikir mengapa aku memilih menerjemahkan sulit sebagai hard dan kenapa bukan difficult? Hard itu.. biasanya terkesan lebih tinggi dari difficult, iya ga? Duh.. ngarang nih. Mungkin perlu dicari kapan biasanya orang menggunakan hard dan kapan menggunakan difficult. 

Anyway.. waiting is not that easy though. It's hard, difficult. Butuh kesabaran, dan keyakinan kalau waktunya akan tiba meski bukan sekarang. Dulu, menunggu itu sulit karena aku menghabiskan waktu menunggu dengan overthinking, negative thinking. Kondisi diri juga sedang ga baik, sedang kehilangan diri jadi gitu deh. Sekarang, meski lama, menunggu tidak sesulit itu. Masih sulit, namun mudah juga. Selama kita yakin, dan mengisi waktu menunggu dengan hal positif, in syaa Allah kuat kok menunggu. Mungkin di tengah menunggu, kita lapar, atau haus, atau kepanasan atau kedinginan, membuat tiap detik terasa begitu lama. Tapi... kita tidak menyerah, kita tahu, sebenarnya menunggu tidak sesulit itu.

Menunggu.. apapun. Entah itu antrian ke dokter, atau menunggu hujan reda, atau apapun. It's easy but hard, it's hard but easy. Pastikan menunggu tidak diisi dengan bengong, atau overthinking. Kita bisa menulis, atau bercakap dengan teman menunggu, atau kalau ga ada teman bisa kenalan hehe. Atau sambil membaca, berdzikir, sesekali berdiri jika duduk terlalu lama membuatmu mengantuk. Siasati agar menunggu tidak membosankan.

Terakhir, gatau kenapa jadi inget quotes di tumblr. Bahwa kita ga bisa menghindari menunggu. Pasti akan kita alami dalam hidup. Termasuk.. hidup itu bisa jadi adalah proses menunggu kematian. Fokusnya bukan berapa lama, tapi bagaimana kita mengisi waktu menunggu tersebut. Mudah nulisnya, sulit mengamalkannya.

Semoga kita bisa memanfaatkan waktu kita dan tidak termasuk orang yang merugi. Semoga jika memang kita harus menunggu, kita isi waktu menunggu dengan hal positif. Terus yakin pada Allah, meski proses menunggu itu easy but hard, hard but easy.

Allahummaj'alna minalladzina amanu wa 'amilusholihati watawasau bil haqq watawasau bishabr. Aamiin.

Allahua'lam. 

Tuesday, October 31, 2017

Belajar Tentang Cinta, Cinta yang Bukan Kata Benda

October 31, 2017 0 Comments
Bismillah.

Mungkin kalian sudah tahu ya, salah satu buku yang sedang dalam proses aku baca adalah buku Serial Cinta-nya Anis Matta. Sebenarnya sudah sedikit tahu tentang buku ini, karena ustadz Salim A. Fillah banyak mengutipnya di buku Jalan Cinta Para Pejuang. Namun entah karena aku yang terlalu pilih-pilih buku, baru pertengahan tahun ini saya menyempatkan beli bukunya.

***

Izinkan aku mengikat ilmu, agar tidak lupa. Apalagi ilmunya tentang cinta, barangkali bisa bermanfaat meramaikan internet. Agar bahasan cinta tidak cuma yang merah jambu, tidak cuma tentang jatuh, tapi lebih banyak tentang bangkit. Agar bahasan cinta bukan cuma mengajak menyegerakan proses penyempurnaan din, meski ajakan itu baik dan memang akan selalu baik, asal yang baca gak baper aja hehe.

Ya.. izinkan aku menuliskannya di sini. Supaya diri ini lebih banyak belajar lagi tentang cinta. Cinta, ya cinta. Tapi bukan cinta sebagai kata benda, melainkan cinta sebagai kata kerja. Yuk mulai aja hehe.

love
***

Cinta sebagai kata kerja maknanya ada beberapa. Izinkan aku mengutip dan membuat ringkasannya, dari buku Serial Cinta-nya Anis Matta. Karena Serial Cinta, bukan sekedar sinetron atau drama romance. Serial cinta, maknanya juga tulisan serial tentang cinta, yang tidak dibahas terlalu mendayu-dayu dan mellow.

Cinta | Memberi

Cinta maknanya memberi, sebuah kerja yang selalu diberikan yang mencinta. Cinta adalah pekerjaan orang kuat, tidak semua orang bisa melakukannya. Ini salah satu kutipan yang mungkin sudah kau baca di salah satu tulisan nukilan buku-ku.
"Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolis saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru sedang melakukan sebuah "pekerjaan jiwa" yang besar dan agung: mencintai."
- Anis Matta
Ketika kita belajar cinta, yang bukan kata benda, artinya kita belajar untuk banyak memberi tanpa memikirkan efeknya, tanpa memikirkan 'menerima'.
 Kalau kamu mencintai seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu. - Anis Matta
Dari buku tersebut, aku juga belajar, bahwa pecinta sejati seharusnya tidak suka berjanji. Yang perlu dilakukan, saat kita memutuskan untuk mencintai, adalah membuat rencana memberi. Rencana yang kemudian direalisasikan.
Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap satu rencana memberi teralisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi di hati orang yang dicintai. Janji menerbitkan harapan. Tetapi, pemberian melahirkan kepercayaan. - Anis Matta
Cinta | Memperhatikan

Salah satu bentuk pertama pemberian yang dilakukan sebagai bentuk cinta, yang bukan kata benda adalah perhatian.
Memperhatikan adalah kondisi di mana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai.
Belajar cinta yang bukan kata benda, artinya kita belajar untuk memperhatikan. Artinya kita belajar untuk lebih banyak mendengarkan daripada didengarkan. Belajar untuk mencari tahu, belajar untuk teliti dan titen, belajar untuk bersabar, belajar untuk peka.

Cinta | Penumbuhan


Perhatian saja tidak cukup, salah satu bentuk pemberian kita yang kedua setelah perhatian adalah penumbuhan. Ini adalah kunci, bahwa cinta sebagai kata kerja, tidak sekedar diam di tempat. Ini adalah kunci, bahwa cinta, maknanya bersama-sama tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.
Cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa tentang bagaimana kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Jika perhatian memberikan pemahaman mendalam tentang sang kekasih, maka penumbuhan berarti melakukan tindakan-tindakan nyata untuk membantu sang kekasih bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. -Anis Matta
"Penumbuhanlah," menurut Anis Matta, "yang membedakan cinta yang yang matang dengan cinta yang melankolik."

Anis Matta menunjukkan salah satu contoh nyata, bahwa ditangan Rasulullah (shalawat dan salam untuk beliau), Aisyah radhiyallahu anha, bukan hanya seorang istri.
Rasulullah telah menumbuhkannya menjadi bintang di langit sejarah.
So sweet ya? Hehe.

***

Terakhir, ingin mengingatkan diri dan juga siapapun. Bahwa kata kerja di sini, tidak hanya bisa kita lakukan kepada pasangan hidup kita, bukan cuma tentang Adam-Hawa, bukan cuma tentang tulang rusuk kita.

Izinkan aku mengutip nasihat dari Kang Firman, dalam Kulwap Pranikahnya:
Sibuklah mencintai orangtua dan keluarga anda. Sebelum anda sibuk menyiapkan diri untuk menyambut seseorang yang belum ada dan belum tahu kapan datangnya, sibuklah mencintai yang telah ada dalam hidup anda.
Bye.. semoga bermanfaat.

Selamat belajar! Belajar tentang cinta, cinta yang bukan kata benda~

Allahua'lam.

***

PS: Seharusnya masuk ke nukil buku Medium, tapi aku sedang ingin introvert hehe. Aku pernah bilang padamu kan? Menulis di medium itu.. berasa nempel tulisan di mading. Jauh lebih nyaman menulis di buku yang setiap hari kamu bawa, ketimbang menempelkan tulisanmu di mading hehe~ *peace V. Is this an excuse? *tanya ke siapa Bell?

Tuesday, August 29, 2017

Pengalaman Ikut My Adventure My Tafakkur

August 29, 2017 0 Comments
Bismillah.

26-27 Agustus 2017, @Bumi Perkemahan Kiara Payung. Di sebuah grup wa, ada seorang ukhti yang bertanya, ada yang bisa jadi fasil untuk acara ini kah? Tanggal tersebut saya luang, jadi aku japri tanya "ada syarat ga?" Dijawab ga ada, trus aku tanya balik, "kamu ikut ga?" Ukhti shalihah itu ikut, aku terus bilang, mau izin ibuku dulu ya.. kalau boleh aku in syaa Allah ikut.

***

Itulah kisah singkat latar belakang kenapa aku bisa ikut acara MAMT 7. Ini poster acaranya, kalau diajak jadi peserta mungkin aku memilih tidak ikut karena biaya, tapi Allah punya rencana lain untukku, kenapa aku harus ikut acara ini, hikmah dan pelajaran apa yang bisa aku petik disana, saudari-saudari baru mana, yang harus kutemui dan kusambung silaturahim dengannya.

sumber grup wa
In syaa Allah aku akan bagi cerita berdasarkan ingatan, bukan per periodik, tapi per topik, dari yang paling berkesan untukku.

***

Langit Bertabur Bintang

Kebiasaanku melihat ke langit saat pulang ke kosan masih sering kulakukan, baik siang, sore maupun malam selepas magrib. Inget ga, tulisanku tentang Bandung yang akhir-akhir ini berhias bintang? Beberapa hari sebelum berangkat MAMT7, aku sempat terkagum melihat 6 bintang menghias langit. Enam. Bukan satu dua atau tiga. Tapi enam.

Saat pergi ke MAMT7, aku dibuat jauh-jauh lebih kagum lagi, menjadi terhibur, menjadi pengalaman baru untukku. Acaranya dua hari satu malam, malam sebelum aku tidur, aku bersih-bersih dan hendak kembali ke tenda fasilitator akhawat. Saat itu, aku menengok ke langit, waaaah mataku dibuat ga percaya, seperti kertas hitam, yang kau tabur glitter di atasnya. Seperti itu. Langit bertabur bintang.

Di Purwokerto, saat Ramadhan tahun keberapa gitu, aku pernah melihat langit seperti itu, tapi nuansanya beda, mungkin karena pandanganku terbatas beberapa rumah disekitaran. Tapi di sana, yang aku lihat bentangan langit luas, berhias bintang. Aku sampai tidak tahu harus fokus ke bintang mana, karena semua bintang bercahaya, semuanya menarik, sampai aku sadar, aku harus kembali ke tenda, ga boleh, lama-lama sendiri ditengah alam hehe. Balik deh ke Tenda. ^^

Selain tentang langit bertabur bintang, lewat MAMT7 aku diingatkan kembali cara menikmati alam, bagaimana setiap hal-hal kecil, bisa menjadi pengingat kita ke Allah. Tema MAMT7 kali ini tentang ukhuwah, dengan surat ash shaff ayat 1-4 yang dicoba ditafakkuri. Ayat pertama, tentang langit dan bumi yang bertasbih.

Kami sampai di bumi perkemahan kiarapayung sekitar jam 1, shalat, pembagian kelompok. Saat perisapan shalat saja, aku sudah banyak diingatkan kalau pohon yang bergoyang, bebatuan, gunung, semuanya sedang bertasbih kepada Allah dengan caranya masing-masing. Hingga saat aku dihukum, karena tidak bisa menghafal nama para peserta, aku memilih menyampaikan nasihat pendek itu.



Ukhuwah, saat Saudari Baru berasa saudara lama yang tak lama jumpa



Mungkin agak berlebihan kalau orang yang baru kenal (stranger) berasa saudara lama. Tapi beneran deh, itu yang aku rasain. Jadi sebelum pembagian kelompok aku tuh dicari-cari panitia. Hpku ditelpon, tapi hpku silent tanpa getar dan bunyi jadi aku gatau. Alhasil aku ga dapet kelompok. Semua kelompok udah dapet fasil, aku ga disebut namanya sebagai fasil kelompok 1-6. Aku mah senyum aja, gapapa. Mikirnya gitu. Sampai seorang ukhti, menghampiriku, dan baru tahu kalau aku Isabella, teh Bella. Wkwkwk. Saat itu aku berdiri di dekat kelompok 5. Anehnya, anggota kelompok 5 sama aku udah klop gitu. Pas disuruh buat yel-yel aku ikutan ngeramein. Padahal aku bukan fasilnya. Pas aku maudipindahin ke kelompok lain, mereka ga mau. Wkwkwk. Ah.. Kangen kaliaaan.. Jadinya fasil kelompok 5 yang dipindah. Alhamdulillah temenku yang kenal aku, jadi ga ada perasaan berat hati.



Itu saat awal, sebelum game perkenalan. Trus waktu sharing per kelompok di tenda kelompok. Kami paling lama diskusinya. Karena ga sekedar bahas materi, tapi juga taaruf, kenalan mulai dari nama, tanggal lahir, kesibukan, alasan dateng MAMT7, tentunya juga bahas hikmah dan tadabbur yang di dapat setelah baca Ash shaff ayat 1-4. Kita sampai telat isya coba aaa -.- ini ga bener. Tapi karena sekelompok, masih bisa jamaah berlima. Hari besoknya, aku ga banyak bareng kelompok 5, karena alesan childish sedang PMS, dan bayanganku peran 'fasil' dan peran asli fasil disana agak beda. Jadi kalau disana fasil itu ga sekedar mendampingi, tapi ikutan semua agenda, kayak peserta. Aaa makanya aku smpe ikutan dihukum. Rrr. Selanjutnya aku ga ikut forum, Cuma ngeliatin dari jauh, foto mereka, itu aja. Banyak menyendiri juga waktu itu, takut tiba-tiba mrebes mili wkwkwk.

***

Sementara dua itu dulu ya, nanti aku ceritain lagi hal-hal lain. Di part 2, in syaa Allah jedanya ga terlalu lama dari tulisan ini. Maaf kalau banyak curhatnya. Gatau harus ditulis lewat apa kalau bukan curhat hehe. Kan pengalaman hehe.

Semoga ada sedikit, minimal satu titik manfaat buat yang baca. Kalau misal ga ada manfaat, saranku, skimming dulu baru beneran baca. Kalau kelihatan postingan curhat di blog ini, ya jangan baca. Kalau sekilas kayanya ada manfaat/menarik, silahkan baca.

I know I can't order people how they should read my blog. While in fact, no one really read my blog but myself. KKk.. But I can't hold my finger to write about this over and over again. I's my fault I do know that hehe J dasar keras kepala! #selftalk
Anyway.. Selamat menikmati awal-awal Dzulhijjah. Semoga kita bisa memanfaatkan waktu istimewa ini. Kalau ba'da Ramadhan kita sempat kendor lagi, mungkin ini bisa jadi momen buat bangkit dan memperbaiki diri. Lebih baik lagi, kalau setiap hari begitu. Karena setiap hari istimewa. Saat kau terbangun dari tidurmu, ketahuilah, Allah masih memberikanmu kesempatan untuk hidup. Untuk mencari bekal ke Akhirat kelak, bukan untuk menghabiskan waktumu dengan ber"senang-senang" yang semu. Yang seperti bibit, terkena hujan, tumbuh, hijau, lalu dibiarkan kuning, mengering, sampai diinjak berbunyi.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaih..

Allahua'alam.

***

PS : Tambahan ga penting. Nyambung dari penutup. Kemarin aku lewat gelap nyawang, nemu pohon bagus, jadi daunnya bisa campur gitu warna hijau, oranye sama kuning. Aku foto, upload di ig. Pas mikir mau di caption apa, keinget al hadid ayat 20, aku buka quran, pngen cari kalimat bahasa arabnya, niatnya habis itu mau aku cari teks arabnya di google. Trus kan inget aku punya aplikasi Lafzi, aku search deh kata ''tsumma yahiiju fataraahu mushfarran tsumma". Dan hasilnya ada dua ayat, yaitu ayat 21 surat Az Zumar dan Al Hadid ayat 20. Akhirnya aku posting yang ayat Az Zumar. Trus jadi inget, tulisan tentang betapa kita masih sedikit sekali interaksinya sama Al Quran. Kita gatau, kata/kalimat ini muncul dimana aja di Quran, belum ditadabburi, belum dicari tafsir, atau terjemah atau melajari hikmah dibalik itu. TT Makasih Ya Allah udah diingetin (':
 

Thursday, August 17, 2017

Belajar Belajar Belajar

August 17, 2017 0 Comments
Bismillah.

#curhat #selftalk

Terimakasih tidak membaca tulisan ini ^^

***

Harus belajar, untuk bisa transparan, terus terang, jujur, tidak memendam masalah, minta bantuan kepada orang lain, tidak sombong, bersandar pada yang Maha Kuat, bertanya dan tidak diam, menjawab dan bukan mengalihkan pertanyaan.

Harus belajar, untuk bisa menjalin komunikasi lebih baik dengan orang tua. Segera kasih kabar kalau sudah di kosan, menelpon lebih dulu tanya kabar, menelpon untuk konsultasi topik X ke Ibu, menelpon konsultasi topik Y ke Ayah. Harus belajar, sering-sering pulang ke rumah, satu pekan atau bahkan satu bulan di Purwokerto. Harus belajar, telpon kakak, tanya kabar dan ngobrol sama tsabita *eh, tanya kabar kakak, cerita, minta nasihat, ngobrol layaknya dulu saat masih seatap. Sesekali beli hadiah, ke Ibu, Ayah, Mba Ita, Aan. 

Harus belajar, belajar lebih banyak hal lagi. Harus mau menerima kekurangan dan kelemahan diri. Mencoba menguranginya, Harus berusaha menjadi positif, dan menghilangkan yang negatif-negatif.

Harus belajar, berdamai dengan ketidaknyamanan, belajar sensitif di sisi yang baik, belajar tidak mudah menangis di tempat umum, belajar ... apa lagi ya? Saking banyaknya, sampai bingung ketika harus diurai menjadi kata.

***

Aku tahu kok, harusnya di tulis di diary. Tapi gatau kenapa sudah lama aku 'bertengkar' dengan diary. Bosen aja karena melihat isinya penuh hal-hal negatif. Mungkin aku perlu buat diary baru, yang isinya, salah satu peraturannya harus diakhiri dengan hal positif, meski tidak dapat dipungkiri, akan ada hari saat pikiranmu dan harimu dipenuhi hal negatif. Asalkan akhirnya positif, asalkan ga jadi excuse aja.

Ah, jadi inget. Satu lagi yang harus belajar, belajar membaca lebih banyak buku, belajar menulis lebih banyak, dan lebih berkualitas. Belajar menyusun buku, sehingga suatu saat pantas untuk diterbitkan.

Semangat belajar!

Allahua'lam

Friday, September 16, 2016

Marathon, Sprint, dan Kerja Otak yang Impulsif

September 16, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.
marathon : lari jarak jauh

Pertama, sadari bahwa hidup ini adalah marathon, bukan sprint. Saat ini mungkin kamu sedang kalah dari teman-temanmu, tapi bukan tidak mungkin ke depannya kamu bisa jadi yang mereka pandang tinggi kan? Kedua, meski kamu sudah lebih tinggi pada akhirnya, janganlah menjadi jumawa karenanya. Toh, semua itu selalu karena izin Tuhan kan? Ketiga, setiap orang itu punya fungsi masing-masing, jadi ditinggikannya kamu dibandingkan orang lain itu pasti punya maksud tersendiri. Pun demikian halnya dengan dijadikannya kamu lebih rendah dari orang lain.
- Belajar Bersyukur di JurnALIsme
 ***

Sebelum kutipan di atas, penulis meng-italic-kan sebuah kalimat. Stop comparing yourself to others.

Tentang comparing, perbandingan, yang kita lakukan diri kita pada orang lain memang selalu memiliki dua hasil yang berbeda motivasi atau demotivasi. Bagaimana memandang ke bawah bisa membuatmu bersyukur sedangkan memandang ke atas bisa jadi membuatmu kurang bersyukur. Atau di sisi lain, memandang kebelakang merasa cukup dengan kecepatan lari saat ini, sedangkan memandang ke depan membuatmu termotivasi untuk menambah kecepatan lari.

Sunday, July 31, 2016

I Just Need My "Me Time"

July 31, 2016 0 Comments
just a little

Bismillah.

29.07.16 17:20

Maaf karena pergi tanpa pamit. Aku berjalan menuju timur, mampir untuk sholat ashar di masjid kecil dekat trotoar saat iqamah terdengar. Berjalan lagi, melewati lapangan hijau luas yang dulu saat SD pernah jadi tempat berkegiatan pramuka. Berjalan lagi, mampir di pom bensin untuk beli roti pizza dan ke 'air'. Baru ingat kalau aku belum makan siang padahal sudah jam tiga sore. Kemudian berjalan lagi melewati rel kereta, berjalan lagi menyebrangi sungai. Saat menyebrangi jembatan, sempat ragu apakah harus memelankankan langkah, tapi akhirnya tetap menjaga kecepatan konstan, meski perut sebelah kiri agak sakit karena entah sudah berapa kilometer terlewati dengan kecepatan tetap. Mampir di kedai jus dan memesan jus alpukat, membuka laptop dan mulai menulis diari dengan mata yang berulangkali berpanas dingin karena efek konten tulisan dan slide memori yang berputar putar di otak.

Tuesday, March 10, 2015

Hide and Seek

March 10, 2015 0 Comments

-Muhasabah Diri, Artikel-

Bismillah.

Ini bukan tentang sebuah permainan, ini tentang beberapa kejadian, yang ingin kurangkai dan kuambil hikmahnya.

Seorang teteh di grup sosmed bertanya,
"Oya mau nanya, kmrn ketemu temen yg suka liat page X. Trus dia nebak quotenya sy yg bikin. trus komen, katanya desain2 quotenya agak terlalu feminin. iya ya? ada masukan baiknya gimana?"
***

Sunday, November 23, 2014

Fall

November 23, 2014 0 Comments

Bismillah.


taken from here

Saat kita dalam kondisi jauh dari Allah. Maka akan ada bisik yang menggetar telinga, atau pikiran yang melintas di otak.

"Kamu udah ngelakuin maksiat, ngapain shalat di awal waktu?"

"Kamu tuh dosanya udah segunung, ngapain puasa senin kamis, shalat rawatib, dll"

***

Wednesday, May 7, 2014

Jangan Takut Berubah

May 07, 2014 2 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah..

Seringkali, ketika kita memilih untuk berubah, ada hal-hal yang akan hilang. Dan perasaan kehilangan itu, membuat kita takut. Mungkin yang hilang adalah teman-teman kita, perhatian orang tua kita, pacar *eh, harta, dll.

Perubahan seringkali menuntut kita, "yakinkah kau mau berubah dengan segala konsekuensinya?"

Wednesday, February 26, 2014

Belajar Lewat Berdebat

February 26, 2014 0 Comments

-opini-

Bismillah...

( 83 )   (Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh

***

Sebutlah di sebuah grup jejaring sosial yang damai, sebuah gagasan dikemukakan.

In syaa Allah, mulai 1 Maret 2014, akan ada sesi debat suatu tema. Dua pekan sekali in syaa Allah. Sesinya terdiri dari :
1. Pembukaan dari moderator --> 5''
2. Sesi 1 Pemaparan (Pro 10'', Kontra 10'') --> 20''
3. Sesi 2 Diskusi (Pro komentari kontra dan begitupun sebaliknya) --> 25''
4. Sesi 3 Pelemparan komentar bebas dari pemirsa/penyimak --> 10''
4. Sesi Konklusi dari Dewan Pakar --> 30''
yang maju ke depan untuk melakukan diskusi hanya 8 orang (4 pro dan 4 kontra).
nanti akan dijadwalkan secara random di hari H pemiilihan siapa yang akan majunya.
Dan tema 1 maret ini adalah...

Thursday, February 20, 2014

Move On!

February 20, 2014 0 Comments
Bismillah..

What I get from that video above :

Satu-satunya hal yang bisa membuat kita move on, atas segala perasaan tidak menentu. Apapun. Kekhawatiran, takut, rasa kecewa, dll. Semua. Kita akan bisa move on dari perasaan itu.. melalui iman kepada Allah.

Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'aladinik.

Allahua'lam.

Saturday, February 1, 2014

Air : "Aku Pulang!"

February 01, 2014 0 Comments
Bismillah..

Aku memeluknya erat, takut kalau ia bermain air dan bajunya basah lagi.

"Mamaz badhe mriksani mawon", ujarnya kepadaku, enggan aku pegangi. Akhirnya aku melepaskan pelukanku, membiarkan ia dengan girang memperhatikan Mba Ati mencuci gelas-gelas.

Mamaz Tristan, usianya baru 4 tahun, dipanggil mamaz karena ia anak pertama. Di usia yang masih belia itu, manusia, anak kecil, selalu bisa tertakjub pada hal hal kecil. Mungkin karena matanya belum melihat sebanyak apa yang sudah kita lihat. Atau karena, pikirannya masih bersih, masih polos, sehingga ia masih bisa melihat hal-hal yang seharusnya bisa dinikmati. Semacam keajaiban kecil yang mungkin seringkali kita abaikan.

Siang itu sama Mamaz girang sekali melihat air sabun itu mengalir memasuki lubang pembuangan air. Ia berceloteh tidak jelas dalam bahasa jawa. Aku yang memang jarang menggunakan bahasa jawa, hanya menanggapi celotehnya dengan senyum. "Tristan lagi cerita, 'airnya pulang'." ujar Mba Ati, melihat kebingungan di wajahku. Aku tertawa dalam hati, apalagi saat Mamaz ikutan menjelaskan tentang itu, "ondung, mulih".

"Iyaa.. deneng toyane ondung kabeh ya?"
"ih.. ih.., ondung koh" 
"niku... ondung niku.."

Thursday, November 28, 2013

Tas Yang Terbuka

November 28, 2013 0 Comments


-Muhasabah Diri-
Bismillah...

Hari itu, langit mendung, satu demi satu air mulai berjatuhan membasahi bumi tempatku berpijak. Meski sempat ragu, aku akhirnya melanjutkan langkahku. 'Biarlah tak ada payung, sesekali hujan-hujanan tak mengapa.', bisiknya dalam hati.

Tap. tap. tap. Langkah kaki dengan mantap menjejaki aspal yang basah, kemudian menyelusuri jalan teduh dari depan gerbang ITB, menuju Labtek tercinta. Jalur teduh yang dipenuhi banyak orang ini, secara otomatis terbagi menjadi dua arah. Kebetulan, lebih banyak orang yang berjalanan, aku dengan bebas mempercepat langkahku.

"mas, tas-nya kebuka". Orang itu menoleh, mengucapkan terimakasih. Eh, ternyata aku kenal dia. Sedikit kikuk, aku tersenyum tipis lalu segera berjalan mendahului.