Follow Me

Monday, October 15, 2018

Contagious

Bismillah.


Salah satu alasan mengapa orang-orang sering tidak mau membagi kesedihan atau cerita tentang luka yang membekas di hatinya, selain karena enggan dilihat lemah, juga karena ini, contagious. Takut, jika kesedihannya menular pada orang-orang yang dipilih jadi pendengarnya. Takut, kalau ternyata lukanya yang tidak seberapa, membuat orang lain teringat luka yang lebih parah milik orang tersebut. 

***

Seperti sebuah senyum bisa menjadi sedekah dan berantai, menimbulkan senyum lain, begitu pula kesedihan, begitu pula luka. 

Maka tingkat tertinggi.. memang hanya menjadikan Allah sebagai tempat mengadu. Mengadu padaNya ketika kesedihan melingkupi hati, dan luka terasa begitu sakit. 

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya".

Tapi tidak semua mencapai tingkatan tersebut, banyak dari kita yang masih butuh orang lain. Bercerita dan meminta bantuan orang lain, atas masalah, kesedihan atau luka, itu tidak mengapa, asalkan kita tidak bersandar dan bergantung pada manusia. *kayanya pernah nulis ini deh hehe.

Bahkan, salah satu hal yang aku pernah dengar, penting untuk tahu kapan kita butuh bantuan orang lain. Misal saat menyimpan kesedihan justru membuat kita tenggelam di dalamnya, mungkin kita butuh mendengar pendapat orang lain, bagaimana agar kesedihan tidak menyita pikiran kita seharian. Seperti saat sakitnya sudah kompleks, batuk, demam, radang, kita harus ikhtiar ke dokter. Bukan untuk mengeluhkan rasa sakit, tapi sebagai ikhtiar menyembuhkan luka tersebut. Begitu pula kesedihan, luka di hati. Ada kalanya menceritakannya, menuliskannya menjadi jalan menyembuhkannya. Agar kesedihan bisa menjelma menjadi kata, kita titipkan sejenak, agar bisa melanjutkan hari tanpa tersita kesedihan tersebut. Pun, agar kita tahu bagaimana mengatasi luka tersebut.

Kuncinya kalau bagiku, ingatkan hati, luruskan niat. Bahwa kita bercerita, kita menulis, entah itu kesedihan atau luka, bukan untuk mencari perhatian, pun bukan karena mencari tempat bersandar. Dalam perjalanannya, niat ini harus selalu diperhatikan, jangan sampai belok. Kunci keduanya bagiku, "jangan di jalan raya". Tidak perlu ada banyak telinga dan mata yang mendengar dan membaca sedikit ekspresi sedih dan cerita luka kita. Bercerita jangan ke kelompok orang, cukup ke orang yang kita percaya, yang kita pikir bisa memberikan pengingat dan nasihat penguat. Tulis di tempat sepi pengunjung, entah itu dokumen yang terkunci password, atau blog anonim.

***

Contagious. Tentu kita tidak ingin meninggalkan efek buruk pada orang lain. Kita hanya ingin memberikan kebermanfaatan meski kecil dan sedikit. Karena yang kecil dan sedikit itu, bisa bernilai besar, jika niatnya benar dan caranya juga benar.

Yang unik itu... ada beberapa tulisan, yang sekilas, kesannya merupakan bentuk kesedihan dan luka penulisnya. Tapi mungkin karena niatnya tulus, bukan untuk cari perhatian, hanya sebagai tempat mengambil hikmah, manfaatnya dirasakan yang membaca. Dan aku sebagai pembaca jadi bisa ikut memetik manfaat juga, dari kesedihan dan lukanya. 

Juga beberapa kisah Al Qur'an, tentang kesedihan dan luka, yang bisa kita ambil pelajaran darinya. Nabi Adam 'alaihisalam yang diturunkan ke bumi terpisah dari Hawa, dalam perasaan sedih menyesali kesalahannya. Nabi Ya'qub 'alaihisalam yang terpisah puluhan tahun dengan anaknya. Maryam salamun 'alaiha yang dihina kaumnya di depan mukanya, dituduh sebagai pezina, Ibu Musa yang harus menghanyutkan bayinya, Zakariya 'alaihisalam yang hingga usia senja belum dikaruniakan keturunan. Asiyah, yang hidup serumah denngan manusia zalim Fir'aun dan pasukannya.

Terakhir, jangan keliru urutannya. Tentu berdoa dan mendekat padaNya adalah langkah pertama dan utama. Menulis dan bercerita pada selainNya itu langkah kesekian. Semoga Allah memberikan kita nikmat mengadu kesedihan dan luka hanya padaNya. Semoga setiap kesedihan, luka, pun kebahagiaan dan senyum menjadi jalan kita mendekat padaNya. Aamiin.

Allahua'lam. 

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya