Follow Me

Wednesday, March 10, 2021

Mengeja Rasa Menjadi Kata

Bismillah.



Untukmu, yang mampu mengeja rasa menjadi kata.


***


Beberapa hari yang lalu, aku berkunjung dan membaca barisan kata darimu. Ada yang berbeda di sana.


Entah apa yang terjadi di balik layar, tapi aku membaca bagaimana kau mengeja rasa menjadi kata. Ya, kau berhasil mengeja sakit, menjadi sakit. Mengeja sulit menjadi sulit. Mengeja sesal menjadi sesal.


Kalimatmu sederhana, dan narasimu pendek. Tapi aku tahu, butuh kekuatan yang besar untuk bisa melakukannya. Karena aku sedikit banyak tahu, tentang sulitnya mengkomunikasikan perasaan, terutama perasaan negatif. Lebih mudah untuk menguburnya, atau membiarkannya tertumpuk di alam bawah sadar. Tapi kamu mengejanya, rasa itu, kamu mengejanya menjadi kata. Dan aku, membaca itu, tersenyum. Bukan karena aku senang atas perasaan negatif yang kau rasakan, tapi karena aku merasa kau sudah melakukannya dengan baik. Kau mengeja rasa menjadi kata dengan sangat baik. *berbeda denganku yang sering hiperbol dan muter-muter haha 


Rasanya, aku ingin menepuk bahumu pelan dan memujimu. Tentu, aku juga bisa saja diam lebih lam, untuk menyimak dan berusaha berempati (*meski yang satu ini aku masih perlu banyak belajar).Tapi perasaan pertama yang muncul saat itu, yang pertama, bukan empati, tapi semacam perasaan bangga, seolah aku ingin berterima kasih, karena kamu sudah mengeja rasa menjadi kata.


Selamat! Untukmu yang mengeja rasa menjadi kata. Kau berhasil mengeja sakit, menjadi sakit. Mengeja sulit menjadi sulit. Mengeja sesal menjadi sesal.


Karena aku tahu, tidak mudah mengekspresikan itu, tidak mudah mengkomunikasikan hal itu dengan baik. Dan kamu melakukannya, kamu mengeja rasa menjadi kata, kata yang mungkin tidak berwarna cerah, tapi kata tersebut bebas dari racun. Ada banyak orang yang kesulitan untuk mengeja rasa menjadi kata, sehingga yang keluar adalah kata-kata umpatan dan cacian. Tapi kau mengejanya dengan sangat baik. Kalimatmu pendek dan sederhana.


Terima kasih telah mengeja rasa menjadi kata, sehingga aku dengan mudah mengerti dan mengangguk pelan. "Hm... ternyata seperti itu, ternyata kau merasakan itu."


The last but not least. I might not fully understand your feeling. But because you write it so well, I can fully understand the word you spell. You express it well, you communicate it so well. And I'm happy that you're brave enough to spell it out loud. I learn a lot from you.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya