Follow Me

Showing posts with label dunia. Show all posts
Showing posts with label dunia. Show all posts

Wednesday, July 10, 2019

Hanya Perantauan

July 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Orang-orang yang pergi jauh dari rumahnya, meninggalkan orang-orang terkasih untuk merantau akan merindukan kampung halamannya. Kota asing perantauan meski sejuk dan rindang kotanya, tetap tidak bisa mengalahkan hangatnya berkumpul bersama keluarga, di rumah sendiri.

Tapi.. mungkinkah situasinya berbeda? Bagaimana dengan orang yang terbiasa merantau, kemudian tiba-tiba menghabiskan hidupnya di kampung halaman, jika ia merindukan perantauan, apa itu aneh?

***

Sabtu kemarin awal bulan Juli, artinya pekan tematik untuk sabtulis. Tema yang disajikan, "rantau". Aku tidak bisa menulis tepat waktu memang, tapi aku ingin tetap menuliskan tentang tema itu.


***

Aku pernah merantau sekali, ke Bandung. Dari perantauan yang tidak singkat itu ada banyak warna dan rasa. Perasaan senang dan khawatir saat pertama kali menjejaki tanah rantau, lalu kenalan sama homesick, mulai menikmati pola dan ritme kehidupan di rantau, dll. Ada rasa manis, asin, pahit, asam, campur aduk.

Setelah berhenti merantau, kini aku juga merasakan merindukan perantauan. Meski memang sekarang lebih nyaman di rumah. Tetap saja, kadang ingin sesekali mengenang memori, berkunjung ke kota rantau. Terakhir ke Bandung April 2018. Tahun ini pengen ke Bandung juga... tadinya buat rencana tgl 15 Juli ini. Tapii... kayanya cuma akan jadi rencana. Ada beberapa pertimbangan. Sepertinya tanggal segitu tahun ini belum jodoh.

Bicara tentang rantau mengingatkanku pada sebuah hadits yang dijelaskan seorang ustadz di Masjid Jendral Soedirman kota Purwokerto jumat kemarin (5/7). Tentang pesan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam agar kita hidup di dunia bagai orang asing, atau orang yang numpang lewat.

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/298-menjadi-orang-asing-di-dunia.html


Sebelum membahas tentang isi hadits, ustadz menjelaskan penuturan Ibnu Umar, yang mendeskripsikan bagaimana Rasulullah menyampaikan pesan tersebut. Rasulullah memegang kedua pundak Ibnu Umar radhiyallahu anhu. Tujuannya untuk menarik perhatian, bentuk agar pesan yang disampaikan lebih mengena.

Ustadz menjelaskan, ada juga hadits lain yang menggambarkan bagaimana sahabat pernah mendeskripsikan bahwa kedua tangannya ada di antara kedua tangan rasulullah, sebelum sebuah hadits disampaikan. *kebayang ga? Jadi kaya salaman pakai dua tangan, tapi kalau salaman kan tangan cuma satu tangan, tapi ini dua-duanya.

Kebayang ga? Kedua tanganmu di antara dua tangan Rasulullah? Bagaimana tidak ingat saat istimewa itu. Perkataan yang Rasulullah sampaikan, pesannya, pasti akan lebih membekas, karena disampaikan dengan gesture tertentu.

Begitu pun pesan ini, pengingat agar kita hidup seperti orang asing, atau orang yang hanya lewat. Pengingat, bahwa kita hidup di dunia hanya sementara, tidak hendak menetap. Hanya mengisi bensin, agar dapat melanjutkan ke pemberhentian selanjutnya, hingga nanti, semoga bisa mencapai tujuan kita, jannahNya. Aamiin.

Selain itu, hidup di rantau itu tidak selalu manis, ada banyak berjuang, dan bekerja keras. Begitu pun hidup di dunia. Kesenangan di dalamnya semu. Dan kita banyak menjumpai kesulitan demi kesulitan. Semua manusia merasakan, tidak pandang bulu. Karena lewat kesulitan itu, Allah menguji kita. Lewat kesulitan itu, kita belajar. Dan jika kita bisa mengambil hikmah dari kesulitan dan memilih sikap yang benar, Allah akan menghadiahkannya dengan balasan yang lebih baik. In syaa Allah.

***

Aku kira aku sudah tidak merantau. Ya, aku kini menjalani hari-hari di kota kelahiran. Tapi setelah aku mendengarkan pesan cinta dari Rasulullah. Aku jadi teringat, bahwa aku masih merantau. Aku tidak boleh lupa. Bahwa sebentar saja, sebentar lagi, aku harus melanjutkan perjalanan. Bahwa dunia hanya "pom bensin", kita mengisi bahan bakar, untuk melanjutkan perjalanan. Bukan untuk menetap di "pom bensin".

Allahua'lam.

***

PS: Rabbi habli hukma wa alhiqni bisholihin. Allahummaj'alna minalladzina amanu wa 'amilusholihat wa tawashau bilhaqqi wa tawashau bishabri. Aamiin.

***








Sunday, October 8, 2017

Yang Lebih Sulit

October 08, 2017 0 Comments
Bismillah.


#hikmah

Which one more difficult for you? Calculus? Or Chemistry? Or Both? Or maybe English?

***

Aku bertanya pada diriku tentang yang mana yang aku rasa lebih sulit. Tapi bukan tentang mata pelajaran/mata kuliah. Tapi tentang hal lain, tentang lebih sulit mana.. memberitahukan kepada orang lain "kesalahan/kelemahan" kita, atau membiarkan orang lain mengetahui hal tersebut dari orang lain. Dua-duanya sulit sebenarnya bagiku. Ingin rasanya, mereka tidak perlu tahu apa kelemahan/kesalahanku. Tapi aku tidak bisa memungkiri.. Someday they'll know, whether it's from my own lips, or from someone else's lips, or from my own fingers, or from someone else's fingers.

Saat ini.. Aku masih belum tahu jawabannya yang mana. Dua-duanya sama-sama sulit, untukku yang masih belum bisa rendah hati mengakui kelemahan dan kesalahan diri. Rasanya, seolah aku diminta memilih membuka aib diri, atau membiarkan orang lain memberitahu mereka tentang aibku. Meski ga bisa dibilang itu aib juga sih, karena kelemahan dan kesalahan, it's always there. Bahkan mungkin perlu ada, supaya mengingatkan kita, bahwa kita cuma manusia, manusia pada umumnya. Manusia, yang punya banyak kelemahan dan kesalahan. Karena kalau aib mah, sebaiknya disembunyikan saja. Biarkan hanya Allah dan kita yang tahu. Tapi kalau ini sebuah fakta yang perlu mereka tahu, -walau aku sebenarnya ragu, emang buat apa mereka tahu ya? Hehe. Semacam fakta kalau aku seorang yang cengeng, ga perlu aku umumin juga kan, pas sesi perkenalan? hmmm...

Saat ini.. Aku masih bingung, yang mana yang lebih sulit. Bagiku sama saja hehe, dua-duanya sulit. Aku pernah memilih untuk membuka mulutku, menggerakkan jemariku yang kaku, memberanikan diri mengucapkan/menuliskan fakta tersebut, fakta bahwa betapa diri ini lemah dan banyak salah. Ku sebutkan pada mereka kelemahan diriku, dan kesalahanku. Rasanya seperti mengiris bawang satu kilo. *hiperbol hehe V. Pokoknya rasanya ga nyaman membuat mata perih. Bagiku, menceritakan kelemahan dan kesalahanku pada orang asing jauh lebih mudah, ketimbang menceritakannya pada orang terdekat.

Ya, lebih mudah bercerita tentang kelemahan dan kesalahanku pada orang asing. Karena mereka cuma orang asing, yang lalu lalang dalam hidup kita. Masalahnya, yang terkadang justru perlu tahu tentang fakta kelemahan/kesalahan kita adalah orang terdekat, karena bisa jadi, tidak mengetahuinya akan membuat mereka sedih. Seperti halnya aku yang sering sedih dan bertanya, "kenapa dia ga cerita ya?", pertanyaan semacam itu. Tapi mengungkapkan kelemahan atau kesalahanku pada mereka yang dekat itu, sejujurnya dipenuhi dengan ketakutan dan kekhawatiran. Takut kalau mereka memandangku dengan cara yang "berbeda", setelah mereka mengetahui fakta tersebut. Khawatir, mereka akan menjauh, atau menjaga jarak, atau apapun, perubahan sikap apapun.

Saat ini.. Aku masih bingung, yang mana yang lebih sulit. Bagiku sama saja hehe, dua-duanya sulit. Aku pernah juga memilih merasakan pilihan kedua. Saat orang lain sudah tahu, lewat orang lain. Rasanya pahit juga, ga kaya ngiris bawang sih, kaya apa ya? Hihi. Mungkin kaya kena duri-duri kecil yang nempel di rok ketika lewat rerumputan, yang kecil-kecil itu loh, yang perlu kamu cabut satu-satu. Ga nyaman pokoknya. Ga melukai memang, sama kaya mengiris bawang tidak melukai. Tapi cukup tidak mengenakkan, bukan hal mudah juga.

Sebenarnya yang bikin susah dari pilihan kedua adalah ketika kita dibuat mikir. Memikirkan kemungkinan, bahwa semua orang kini tahu kelemahan atau kesalahan kita. Memikirkan kemungkinan berita buruk tentang kelemahan dan kesalahan kita sudah tersebar, ke seluruh penjuru dunia. Memikirkan hal-hal buruk lain, termasuk bertanya-tanya dari siapa ia mengetahui fakta tersebut. Lalu kita jadi overthinking, jadi ke-PDan, merasa semua orang tahu, PD yang bikin minder. Rasanya setiap kita lewat tempat ramai, semua orang tahu lemahnya kita, tahu betapa banyak kesalahan kita. Kemudian kita akhirnya lebih memilih untuk memutus komunikasi, memilih menyendiri, karena tidak mau menemui orang-orang lain, yang ternyata sudah mengetahui fakta kelemahan dan kesalahan kita, padahal kita belum pernah bercerita kepada mereka.

***

Gimana menurut pembaca? Mana yang lebih sulit? Kebayang ga sih, maksud/contoh kelemahan/kesalahan yang perlu kita kasih tahu ke orang lain?  Karena sebenarnya mah, kalau kondisi normal, harusnya mereka(orang lain) ga perlu tahu. Tapi terkadang ada satu dua fakta di masa lalu, yang merupakan kesalahan/kelemahan kita, dan tidak bisa kita putuskan rantainya. Akan selalu ada di sana. Then someday, people will know it, whether it's from our lips, or someone else lips.
Atau kalian punya semacam hal tersebut. Sesuatu yang seolah perlu untuk kita kasih tahu ke orang lain, tapi entah mengapa mengucapkan fakta itu berat rasanya, tapi membiarkan mereka tahu fakta tersebut dari orang lain, juga berat.

***

Balik ke topik.

Aku bertanya pada diriku tentang yang mana yang aku rasa lebih sulit. Tapi bukan tentang mata pelajaran/mata kuliah. Tapi tentang hal lain, tentang lebih sulit mana.. memberitahukan kepada orang lain "kesalahan/kelemahan" kita, atau membiarkan orang lain mengetahui hal tersebut dari orang lain. Tapi setelah mencicipi keduanya, in positive side, sebenarnya dua-duanya tidak terlalu sulit. I mean, it's difficult, it's still difficult everytime I face both of them. But its difficulty is something I can bear. Sulit, kata sifat itu tidak menjadikan sesuatu tidak mungkin dilakukan. Begitu pula kedua opsi tersebut. Dua-duanya sulit, tapi sebenarnya kita bisa melewati keduanya. Kita bisa menjalani keduanya, mungkin akan ada drama nangis bombay di belakang layar, atau menahan perih saat harus mengeluarkan duri-duri. Tapi ya, habis itu kita bisa melanjutkan hari. Lalu kembali bertemu dengan pilihan yang sama.

Sebenarnya tidak sesulit itu, mengucapkan/menuliskan langsung tentang fakta kelemahan dan kesalahan kita. Tidak sesulit itu. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka kepada orang lain, bahwa mereka akan memahaminya, mereka tidak akan berubah dan menjauhimu, mereka tidak akan memandangmu dengan tatapan aneh. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka, bahwa.. meskipun ada yang menjauh, mungkin itu cara Allah menunjukkan pada kita, orang-orang mana yang Allah izinkan tetap di sampingmu, menerima kesalahan dan kelemahanmu, merangkul, menasihatimu saat kamu salah, menguatkanmu saat kamu lemah.

Sebenarnya tidak sesulit itu, mendapati seseorang mengetahui kelemahan dan kesalahan kita dari oranglain. Tidak sesulit itu. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka kepada orang lain, bahwa mereka peduli pada kita, sehingga mereka bertanya pada orang lain. Mungkin mereka begitu senggan bertanya pada kita, karena mereka lihat kita terus bungkam dan menghindar. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka, bahwa yang memberitahunya, bukan berniat ghibah, atau menyebar kelemahan dan kesalahanmu supaya kamu dijauhi, apalagi dikenal keburukannya. Mungkin si pemberi informasi ingin ada orang lain yang menguatkanmu saat kau lemah, karena ia sendiri tidak tahu caranya menguatkanmu, atau tidak bisa menguatkanmu secara langsung. Mungkin si pemberi informasi ingin ada orang lain yang menasihati kesalahanmu, karena ia tidak tahu caranya, tidak bisa menasihatimu secara langsung.

Sejujurnya... tidak sesulit itu. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka kepada Allah. Allah Maha Mengetahui. Setiap rencana, pasti ada hikmah. Setiap ujian, pasti ada kenaikan tingkat. Setiap kesulitan, pasti ada kemudahan.

Sejujurnya... tidak sesulit itu. Kalau kita mau sedikit berbaik sangka kepada Allah dan juga kepada orang lain.

***

I know, keep thinking positive after all the bad things that happen to you is difficult. I also know, keep thinking positive after all the bad person that you met is difficult. Tapi balik lagi, coba renungkan lagi, pikirkan lagi dengan hati yang lebih jernih. Sulit tidak menjadikan sesuatu tidak mungkin. Difficult doesn't make something impossible. Mungkin sulit, tapi bisa.. In syaa Allah bisa. Kalaupun kita tidak bisa, mintalah pada Allah Yang Maha Perkasa, agar memampukan kita.

Selamat belajar, berbaik sangka.. Selamat belajar, menjadi positif. Tetap semangat, meski semua hal terasa begitu sulit. SemangKA!
Life is not easy, and it won't be easy. Cause this worldly life is not your home. So when you feel like everything is difficult, remember, that you're not in Jannah yet. -kirei
Allahua'lam.

***

PS: Maaf ya, vakum 2 hari. Nulis padahal, tapi ga pantes di post. Ini juga sebenernya tulisan kemarin, sudah diedit jadi lebih baik. Selamat menjalani aktivitas hari ini~

Thursday, December 8, 2016

Keberkahan Waktu

December 08, 2016 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

bukan tentang kuantitas waktu, tapi tentang kualitasnya, keberkahan yang diberikan-Nya pada tiap masa hidup kita

Semoga Allah berikan kepada kita semua keberkahan waktu... Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang merugi, yang Allah sebutkan pada surat Al Ashr. Semoga.... Allah isi keseharian kita dengan kesibukan yang produktif, bermanfaat, berpahala. 

Aku tidak tahu harus menulis apa, pengen sih, menulis tips untuk mendapatkan keberkahan waktu. Tapi takutnya cuma nulis doang, prakteknya masih terserok-serok. Aku... masih berjuang, agar Allah berikan keberkahan waktu, dalam masa hidupku yang begitu pendek. Semoga bisa menjadi hamba yang wafat dalam ketaatan, hamba yang bisa menjadi anak shalih bagi orangtuanya.

***

Keberkahan waktu...

Keberkahan waktu, adalah tentang waktu yang selalu terisi dengan kebaikan, dengan kesibukan yang berpahala. Terisi dengan amal shalih, sabar dan syukur. Tidak sibuk dengan hal-hal remeh yang tidak penting, yang na'udzubillah justru menambah kuantitas dosa kita TT

Syarat tidak merugi...

Syarat tidak merugi sebenarnya sudah disebut dalam Al Ashr, surat pendek yang saya percaya sudah kita hafal. Beriman, beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Selesai, tiga itu harus serangkai, ga boleh terpisah, iman tidak bisa dipisah dengan amal shalih.

Tuesday, November 29, 2016

Berkunjung ke Kosan Teman

November 29, 2016 0 Comments
Bismillah.

a place, a reminder, a lot memories
Tulisan ini akan lebih ke sharing, cerita, ga banyak hikmah, mungkin ada sih, satu, satu. Eh? Hehe.

Dunia itu sempit, apalagi kalau daerah kamu berjalan di situ-situ aja, ke sana-sana aja. Begitupun diriku, jujur dunia sempit adalah frase yang muncul saat berkunjung ke kosan seorang adik, teman, ukhti hehe.

***

Tempat yang sama, rumah yang sama, bahkan tidak banyak perubahan di dalamnya. Itu membuatku lumayan takjub.

"Oh, di sini? Aku pernah ke sini loh... waktu TPB, dulu ini kosannya mba N," ucapku saat kami sudah di depan kosan. Adik manis yang tinggal di sana mengambil kunci dan membuka pintu. Kami pun masuk, duduk di ruang tengah dan menikmati eskrim di tangan masing-masing.

Sembari melihat ke kanan kiri, aku dibuat takjub. Dunia memang sempit hehe. Memoriku berputar ke empat tahun yang lalu, lima tahun? Sekitar itu hehe.. Saat itu aku, sahabatku, menginap di kosan mba N, paginya jalan-jalan ke curug *namanya apa ya? Aaah dasar pelupa. Aku masih ingat, menikmati sayur bening masakan rumah, seperti terobati kangen, wajar baru pernah jauh dari orangtua dan makannya makanan warung terus.

Lalu kami mengobrol, aku dan adik tingkatku. Sembari jeda dan jeda tiap mulut ingin didinginkan dengan eskrim, eskrim stawberry dan vanila, yang satu miliknya, yang satu milikku, yang mana hayo yang punyaku?

***

Kejadian sesederhana itu, somehow membuatku teringat banyak hal. Teringat masa-masa aku TPB dulu, teringat dinginnya air curug. Kita (Mba N, aku, temanku) basah-basahan, krn berangkat pagi-pagi, masih sepi, asiik, berasa punya sendiri hehehe.

Tuesday, August 16, 2016

See You in the Real Life

August 16, 2016 1 Comments


Bismillah.


"Gimana caranya teh?", ingin aku protes pada ukhti cantik nan shalihah pemilik blog Mentari Pagi. Dulu.. meski jarak jauh, tapi masih ingin dapet inspirasi dari tulisan-tulisannya. Sekarang.. jarak jauh, ga bisa baca tulisannya, cuma bisa baca kalimat singkat yang artinya "Sampai jumpa di dunia nyata!"

Aku tidak tahu alasan utama mengapa blog ukhti yang rajin diisi dan isinya pun bergizi tiba-tiba berubah jadi seperti itu. Pasti ada niat baik dari pemiliknya kan? Hehe. Semoga yang bertemu denganmu di dunia nyata lebih bisa dapet banyak manfaat, atau setidaknya sama, seperti saat blog ukhti masih penuh tulisan. Aamiin.