Follow Me

Monday, January 20, 2020

Buku: Jejak Hidup

Bismillah.


Setahun yang lalu, tepatnya bulan Februari 2019 aku menghadiri bedah buku tersebut. Sebuah novel karangan Septyani Probowati yang terinspirasi dari kisah nyata penulis dalam menghadapi kanker payudara stadium 4.

Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan novel, sudah lama tidak membaca, tapi karena yang mengadakan adalah Komunitas Buka Buku, pun moderatornya adalah Pak Nass, mentor menulisku dulu waktu ikutan program menulis Kompilasi, akhirnya aku putuskan untuk datang.

Saat acara bedah buku, aku baru mengetahui bahwa penulis novel tersebut satu almamater denganku, sama-sama pernah sekolah di SMA 1 Purwokerto. Aku ingat betul saat sesi pertanyaan aku menyerahkan kertas berisi pertanyaan. Mba Septy membaca namaku dan menyaranku untuk beli novelnya, karena tokoh utama novel tersebut ternyata bernama Bela, entah pakai double L atau bukan. Menghadiri bedah buku tersebut, banyak memberikan inspirasi untukku agar tidak berhenti bermimpi menerbitkan buku. Karena beliau bercerita tentang keinginan dan waktu terwujudnya impian memiliki buku sendiri.

***

Waktu berlalu, sampai suatu hari aku membaca di facebook-nya Pak Nass tentang berita duka dari Mba Septy. Beliau berpulang ke haribaan-Nya. Pak Nass bercerita di postingan tersebut tentang royalti novel yang 100% disumbangkan untuk Rumah Pembelajaran Qur'an Bale Cahaya, diserahkan langsung oleh Mba Septy pada Pak Nass yang mengelola Bale Cahaya.

Aku terpekur, karena sebelumnya, aku pikir novel itu adalah buah perjuangan yang sudah selesai. Aku pikir kankernya sudah sembuh. Aku sama sekali tidak sadar bahwa ia mengidap kanker saat mengisi bedah buku. Senyumnya, suaranya yang nyaring, sama sekali tidak menampakkan bahwa hidupnya adalah inspirasi utama novel tersebut. Seolah judul novel tersebut menjelma dalam dirinya, bahwa ia sudah menemukan mindfulness, ia menerima dan berdamai dengan keadaannya. Ia menyiapkan diri yang terbaik dengan meninggalkan jejak hidup berupa buku, dan amal yang bisa terus mengalir jika kelak ia harus pergi.

***

Aku harus menulis ini, begitu ucapku dalam hati. Bulan berlalu, dan akhirnya tulisan ini lahir.

Kita mungkin sudah hafal quotes-quotes motivasi menulis yang terkenal. Tentang tulisan yang memperpanjang umur, dll. Tapi tentu rasanya berbeda, kalau kita menyaksikan sendiri hal tersebut dari dekat. Seperti novel Mindfulness yang menjadi jejak hidup Septyani Probowati. Kalau aku tidak hadir di bedah bukunya, tidak mendengar langsung penjelasannya tentang novel tersebut, kalau.. aku tidak membaca berita kepulangannya, mungkin semua seolah cuma teori. Tapi novel tersebut dan penulisnya, seolah Allah hadirkan dalam hidupku agar aku kembali mengingat niat awalku menulis. Juga, agar aku tidak berhenti di zona nyaman ini.

It might be still a long way, but make sure you make a step every day. Langkah kecil tak mengapa, pelan tak mengapa. Asal jangan sering-sering lupa dan terdistraksi.

It might be still a long way, but make sure you make a step every day. Turunkan ekspektasi, tidak ada karya pertama yang baik. Tapi dari yang pertama itu, kita bisa belajar banyak.

Untukku, dan untuk siapa pun yang juga bermimpi ingin menjadikan buku sebagai jejak hidup: semangat!

S e m a n g a t ! Mari menulis~

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya