Follow Me

Saturday, September 15, 2018

Alias

September 15, 2018 0 Comments
Bismillah.

I don't know why,.. but rather than using my own name, I love to use alias instead. Nama-nama alias, yang terbaru akardaunranting. Entah karena minder dengan kualitas tulisan, atau memang ini sisi introvert. Aku lebih nyaman sembunyi di balik nama alias. Aku tahu kemampuanku, aku tahu kelemahanku. Aku... selalu lebih nyaman begini.


***

Menulis ini selalu mengingatkanku sebuah momen di masa lalu. Saat aku pertama kali diberi tugas untuk menjadi sosok dibalik layar. Reaksi orang sekitar. Yang memilih untuk tidak confirm karena sosok yang dibalik layar ga jelas. Pertanyaannya. Saat itu aku sensi dan sebel sendiri. Sekarang mengingatnya, hal itu justru jadi tempatku latihan. Karena setelahnya, jika aku menemui situasi yang mirip.. Aku jadi tidak mengedepankan emosi, berusaha biasa saja. Karena sudah pernah.

Membuat nama alias itu bagiku mirip membuat nama untuk karakter fiksi. Atau membuat domain untuk blog baru. Menyenangkan. Maknanya tidak perlu dalam, kadang.. cuma pilihan hati saja. Seperti Sweet Violetta, yang kini banyak yang tidak kenal. Tapi nama itu tercatat, sebagai salah satu sumber traffic ke blog ini. Lalu Better Word, lalu Akar Daun Ranting, Magic of Rain, dan mungkin akan ada yang lain.

Kalau kita menggunakan alias, orang akan fokus pada tulisan kita, ketimbang pada sosok kita. Selain itu, menggunakan nama asli akan membuat tulisan sebagai cermin diri. Padahal.. tidak mudah untuk menjadi sebaik yang kita tulis. Karena justru menulis, adalah cara untuk mengingatkan diri. Nasihat untuk diri. Karena aku pun, masih jatuh bangun dalam mengamalkan yang aku tulis. Baik itu tentang nasihat sabar dan syukur, maupun hal-hal lain.

***

Menulis ini aku jadi teringat.. aku baru tahu nama lengkap Ibnu Qayyim Al Jauziyah belum lama, dari catatan kaki buku Sirah 'Aisyah. Lalu mendengar juga nama asli Abu Ayyub Al Anshari, saat kajian Bulughul Maram membahas hadits tentang mendiamkan saudara tidak boleh lebih dari tiga hari.

Terlepas dari penggunaan nama alias atau tidak, satu hal yang pasti. Allah Maha Mengetahui, yang tampak maupun yang tersembunyi, bahkan yang lebih tersembunyi daripada rahasia. Allah tahu persis, siapa yang menulis. Allah juga tahu persis, apa niat dibalik sebuah tulisan. Dan Allah akan membalasnya, sesuai dengan niat dan tulisan tersebut.

***

Terakhir, semoga Allah memudahkan kita untuk menulis, menulis yang menjadi amal baik, yang pahalanya mengalir. Semoga Allah bantu kita menjaga kelurusan niat kita, baik dalam menulis, maupun amal ibadah lainnya, terutama shalat. Aamiin.

Allahua'lam. 

Wednesday, September 12, 2018

Mengapa Butuh Forum Diskusi Buku?

September 12, 2018 0 Comments
Bismillah.


Ada yang tahu forum untuk diskusi buku? Aku masih rindu sama konsep proker Majelis Buku-nya Aksara. Dimana tiap pekan ada yang sharing buku yang dibaca.

Mengapa aku butuh forum diskusi buku?

Pertama, aku masih belajar untuk suka baca buku. Butuh pengingat, selain dari komunitas gen al fihri.

Kedua, aku pembaca yang lambat. Satu buku selesainya lama, dan itupun tidak berarti setelah selesai aku benar-benar paham isinya. Jadi butuh sharing dari orang lain tentang buku yang dibacanya

Ketiga, buku yang aku baca itu homogen. Setipe, setema, jarang yang keluar dari selera bacaku. Mungkin karena bukan kutu buku, jadi begitu pemilih. Jika bahasa yang digunakan sebuah buku terlalu berat, biasanya aku menyerah dan memilih tidak membaca. Selain itu, aku menghindari buku fiksi, meski aku tahu fiksi juga baguus. Makanya, butuh forum diskusi buku. Biar aku tetap bisa mendapat insight-insight dari pembaca buku-buku fiksi.

Keempat, agar bisa tahu judul-judul buku yang recommended.

***

Silahkan komentar ya... barangkali ada yang tahu forum diskusi buku. Atau dimana gitu.. yang sering ngadain bedah buku online.

Terakhir, ingin menuliskan lagi.. kangen aksara. Ga bisa bantu banyak, bukan anggota atau alumnus yang baik juga. Tapi semoga berkah unitnya, yang daftar jadi anggota banyak yang aktif, prokernya jalan, dan menghidupkan lagi semangat literasi. Literasi yang mencakup membaca, menulis dan berdiskusi. Karena sejarah, dimulai dari aksara. J

Menulis Buku dan Keterlibatan Allah Di Dalamnya

September 12, 2018 0 Comments
Bismillah.

Setelah grup telegram 8PM super duper sepi.. *mau nulis mati suri gak tega hehe. Aku nemu channel telegram baru, judulnya Indonesia Menulis. Adminnya Tendi Murti. Channel ini diinisiasi oleh KMO. Tujuannya untuk dibalik batunya.. untuk promosi acara Jumpa Penulis Nasional hehe. Sering diiklanin gitu. Semacam promosi lembut.. Banyak materi, jadi seneng aja follow channelnya. Bisa klik di http://T.me/MenulisIndonesia

***

Jadi kemarin, atau kemarinnya lagi ada materi gitu.. trus agak jleb sama pembukaanya. Jadi ingin mencatatnya di sini. Semoga bisa jadi pengingat dan muhasabah untuk diri.


Sebenarnya yang membuat lebih malu itu.. kalau inget, bahwa bukan cuma doa, tapi ikhtiar juga belum optimal, masih di garis bawah. Trus kebanyakan mikir, apa boleh pilih alternatif lain selain buku? Hehe.

***

Anyway.. semangat menulis. Sering-sering tengok niat, seimbangkan doa dan ikhtiar. Bismillah..

Allahua'lam.

Saturday, September 8, 2018

Terapi untuk Iman yang Lemah

September 08, 2018 0 Comments
Bismillah.
#nukilbuku

Diambil dari Buku Mizanul Muslim disusun oleh Abu Ammar dan Abu Fatiah Al Adnani terbitan Cordova Mediatama. Buku ini jilid pertama, isinya terbagi 11 bab. Ada Mizanul Ilmu yang isinya pengertian, klasifikasi, keutamaan ilmu, ciri-ciri penuntut ilmu, dll. Bab selanjutnya ada Mizanul Akidah, Mizanut Tauhid, Mizanul Islam, Mizanul Iman, Mizanul Ibadah, Mizanul Akhlak wal Adab, dst.. Aku baru baca sampai akhlak dan adab.

Sedangkan judul tulisan ini merupakan salah satu bagian dari Bab Mizanul Iman. Dalam akidah islam, iman itu naik turun, bisa menguat dan melemah. Jujur.. Meski membaca buku ini, kemudian lapor ke Generasi Al Fihri jumlah lembar yang dibaca, tidak menjamin bahwa imanku baik-baik saja.

Baca juga: Agar Masuk ke Hati

Dan tulisan ini, kutujukan pada diriku. Imanmu bisa lemah, tapi bukan berarti itu garis akhir. Kita bisa berusaha agar iman kita naik lagi, meski kondisi hati sedang mengeras dan sakit. Perlu usaha, dan berikut ini beberapa terapi untuk iman yang lemah.



Membaca, mendengar, dan merenungi makna Al Qur'an


Al Quran telah Allah jadikan sebagai cahaya, petunjuk, obat dan rahmat bagi hamba-hambaNya yang beriman. Saat iman kita lemah, dan hati kita sakit, berinteraksi dengan Al Quran bisa menjadi terapi. Membacanya lafalnya, terjemahannya, penjelasan tentangnya. Mendengarkan Al Quran, penjelasannya, maknanya, tafsirnya. Juga mentadabburinya, memikirkan dan merenungi maknanya.

Tidak mudah, tapi usahakan selalu ada interaksi dengan Al Quran setiap hari, baik itu di dalam shalat, dengan pelan membaca dan memaknai Al Fathihah di setiap rakaatnya, maupun di luar shalat. Di luar shalat bisa dengan membaca quran, mendengaran quran, maupun mengulang hafalan. Ya, hafalan, bahkan suratan pendek, seperti Qulhu, surat Al Ikhlas. Atau surat al ashr. Mungkin kita belum begitu paham maknanya, belum membaca tafsirnya, tapi coba ulangi hafalan surat pendek itu pelan, kemudian berdoalah dalam hati, semoga surat pendek yang sudah kita hafal itu bisa menjadi langkah pertama untuk kembali mengeratkan interaksi kita dengan Al Quran.

Memahami dan merenungi hakikat asma' dan sifat Allah

Memahami dan merenungi hakikat asma' dan sifat Allah, memikirkan makna-maknanya dan menguatkan perasaan di dalam hati sehingga dapat mempengaruhi anggota tubuh yang lain. Pemahaman yang benar terhadap asma' dan sifat Allah akan menjadikan seorang muslim yakin dan sadar akan keagungan dan kebesaran kekuasaan Allah. Ia akan taat dan takut bermaksiat kepada-Nya, karena ia yakin akan janji dan ancamanNya.
- Abu Ammar dan Abu Fatiah Al Adnani, Mizanul Muslim
Ini penting sekali untuk dilakukan. Seringkali, saat iman kita lemah, sebenarnya kita belum tahu atau belum memikirkan lagi hakikat asma' dan sifat Allah. Pemahaman kita tentang Arrahman dan Arrahim dangkal, juga tentang Maliki yaumiddin. Kita perlu mencari ilmu dan mendengarkan penjelasan tentang asma' dan sifat Allah. Saat kita tahu, bahwa sifat Ar Rahman Allah, yang telah menyelamatkan kita dari berbagai kepelikan yang tidak terbayang. Bahkan saat kita memiliki masalah, sebenarnya Allah tetap Ar Rahman, karena Allah menghindarkan kita dari masalah yang jauh lebih besar dari yang kita hadapi saat ini. Saat kita tahu makna Malikiyaumiddin, kita jadi tidak bermudah untuk menyalahgunakan asma Ar Rahman. Allah mungkin tidak segera membuat mata kita buta.. Meski mata kita sering kita gunakan untuk maksiat. Tapi Allah Malikiyaumiddin, penguasa hari pembalasan. Setiap amal kita, yang baik maupun yang buruk tercatat, semua... yang kecil maupun yang besar. Saat hari itu datang, dan pasti akan terjadi, kita akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatan kita. [1]

Allah Al Lathif, Maha Lembut. Biasanya Al Lathif bersebelahan dengan Al Rizq. Karena cara Allah memberikan rizki kepada kita begitu lembut, sampai kita sering tidak menyadarinya. Nasi yang kita makan tadi siang, sudah Allah siapkan tiga bulan sebelumnya, lewat petani yang menanam bibitnya, kemudian panen, dijual kepasar, sampai beras tersebut dimasak dan siap di santap. Garam yang ada di sayuran yang kita makan, disiapkan jauh-jauh hari juga. Begitu lembut Allah mengantar rizki kepada kita, sehingga kita sering lupa. [2]

Mencari Ilmu Syar'i dan Mengikuti Majelis Dzikir (Pengajian dan Kajian Ilmu)

Mencari ilmu syar'i yang dapat memunculkan rasa takut kepada Allah dan menambah keimanan dalam hatinya. Allah berfirman, "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu." (QS Fathir [35] : 28)
- Abu Ammar dan Abu Fatiah Al Adnani, Mizanul Muslim
Teknologi yang bisa memudahkan kita mencari ilmu syar'i baik dari e-book buku islami, maupun audio atau video kajian. Bisa memilih yang mudah dijangkau meski tidak harus berpergian. Tapi kalau mau lebih mantep lagi, paksa diri untuk hadir di kajian offline. Datang ke masjid terdekat yang mengadakan kajian, duduk dan nikmati, rasakan suasana positif masjid. Semoga dengan hadir di majelis ilmu bisa mengatasi lemahnya iman kita.
Ini (menghadiri majelis dzikir) dapat menambah keimanan disebabkan beberapa hal yang ditimbulkan oleh majelis ini, seperti dzikrullah yang dapat menentramkan hati, datangnya rahmat, turunnya ketenangan, para malaikat datang mengelilingi orang-orang yang berdzikir dan Allah membanggakan mereka yang hadir dalam majelis tersebut di hadapan para malaikat.
- Abu Ammar dan Abu Fatiah Al Adnani, Mizanul Muslim
Memperbanyak amal shalih               
Dan ini merupakan terapi yang paling mujarab dalam menjaga kestabilan iman seseorang
Iman turun ketika kita bermaksiat, dan naik ketika kita melakukan amal shalih. Rasulullah juga menyebutkan bahwa amal baik akan menghapus amal buruk. Meski tidak mudah, paksakan diri, dari hal kecil seperti beristighfar atau amal shalih lain.

***

Selanjutnya akan ditulis poin-poinnya aja ya.. Masih dari buku Mizanul Muslim.
  • Variasi, yaitu mengerjakan berbagai macam ibadah
  • Merasa khawatir terhadap su'ul khatimah (mati dalam keadaan bermaksiat dan tidak beriman)
  • Banyak dzikrul maut (mengingat kematian)
  • Melakukan ziarah kubur dan menengok orang-orang yang sakit untuk mengingat alam akhirat
  • Senantiasa mentadabburi ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam
  • Selalu bermunajat kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya dalam segala urusan
  • Tidak banyak berangan-angan dalam urusan dunia
  • Senantiasa memikirkan kerendahan dunia dan isinya, sehingga tidak tergoda oleh rayuannya
  • Mengagungkan perkara-perkara yang terhormat di sisi Allah (hurumatillah)
  • Memiliki al-wala' (sikap mencintai, membantu, menolong dan mendukung) dan al bara' (sikap membenci, memusuhi dan memutuskan hubungan) yang benar
  • Bersikap tawadhu' (rendah hati) dan menjauhkan diri dari sikap sombong
  • Banyak melakukan amalan-amalan hati, seperti mencintai Allah, takut kepadaNya, berharap kepadaNya, berbaik sangka dengan semua keputusanNya, ridha terhadap qadha' dan qadarNya, bersyukur atas segala nikmatNya, taubat kepadaNya, dll
  • Senantiasa mengintrospeksi diri
  • Berdoa kepada Allah agar dikuatkan keimanan yang ada dalam hatinya.
Allahua'lam.

***

PS:
[1] Dari salah satu khutbah jumat Ustadz Nouman Ali Khan, link menyusul
[2] Dari audio kajian Darusy Syabab oleh Kang Rendy, ga janji bisa dapet linknya

Friday, September 7, 2018

Compliment

September 07, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi

Aku tidak nyaman mendengar pujian orang. Kau tahu kenapa? Karena yang kudengar dan kulihat di refleksi cermin, justru kebalikannya. Saat mereka berkata aku baik, otomatis sebuah cermin seolah muncul di hadapanku, yang kulihat? Aku tidak sebaik yang mereka kira. Mereka berkata aku cerdas, cermin itu hadir lagi... Aku jauh dari cerdas, bagaimana mungkin orang cerdas tersesat dua kali, menuju tempat yang sering ia kunjungi? Apa lagi ya.. intinya, hampir selalu begitu. Setiap pujian, hanya akan menghadirkan cermin yang saat kulihat refleksi diriku di sana... aku tahu bahwa aku kebalikan dari pujian tersebut. 
"Ary...", yang kupanggil menoleh. Kemudian bertanya kenapa tanpa suara, haya bibirnya yang bergerak lipsing. 

"Coba baca ini deh," aku menyodorkan selembar kertas, yang baru kutulis diatasnya satu paragraf singkat. Ia membacanya, dengan suara, membuatku kaget dan menarik kertas tdi dari tangannya. Suara kertas yang sobek membuat kami bertatapan, kemudian sama-sama melihat kertas di tangan masing-masing. 

Ary mengambil kertas dari tanganku kemudian menyatukan kembali di atas meja. Bukan menyatukan, lebih tepatnya meletakkannya bersebelahan, cukup dekat untuk melanjutkan membacanya. Ary membaca cepat tanpa ekspresi dalam hitungan detik.

"Bagus..lanjutin", ucapnya kemudian meraih hp-nya. Ujung bibirku turun. Ary selalu begitu, ia terbiasa melemparkan feedback positif. Aku dalam hati membatin, apa dia benar membacanya? Kalimatnya, "bagus.. lanjutin" kuartikan sebaliknya, "ga bagus, ga usah dilanjutin". Aku meremas kertas yang terbagi dua tadi. Kemudian beranjak menuju tempat.

"Kenapa dibuang?" tanya Ary yang ternyata sedari tadi memperhatikanku. "Salin dulu sebelum dibuang, biar ga perlu mulai dari nol lagi nulisnya," ucapnya membuatku salah tingkah. Bingung apa harus mengambil lagi kertas yang kini sudah bercampur sampah lain. Kemasan seblak kering, botol teh, dan beberapa kertas lain.

Ary mendorongku pelan, kemudian berjongkok dan mengambilkan remasan kertas berisi paragraf buruk buatanku. Aku memandang Ary penuh pertanyaan, mengapa ia rela ambil kertas sobek yang sudah terlanjur masuk tempat sampah kecil berwarna abu itu.

Aku menerima kertas itu lagi. Kemudian kembali ke mejaku. Kubuka remasannya, kujejerkan sebelah kanan dan kirinya. Kubaca lagi, kuambil selembar kertas yang masih baru. Kusalin pelan sembari memutar ulang kejadian tadi. Dari awal saat kertas ini masih utuh, berpindah ke tangan Ary, sampai kertas ini penuh keriput dan robek. 
Tidak nyaman dan jujur menyebalkan saat kudengar pujian dari orang lain. Tapi terlepas dari perasaan tersebut, sebenarnya aku bisa memilih untuk tidak mendengarkan. Ibarat tutup telinga, meski tanpa penyumbat. Abaikan saja, jangan biarkan pujian itu masuk ke otak apalagi masuk ke hati. Sebagai manusia, aku bisa seperti itu. Istilahnya, muka tebal, atau keras kepala. Muka tebal, tidak peduli omongan orang, entah itu pujian atau cacian, tak menundukkan muka karena malu, juga tidak menaikkan dagu karena congkak. Keras kepala, abai pendapat orang lain, jika memang itu yang ingin kulakukan, maka aku lakukan. Tak peduli orang lain memujiku atau mencaciku.
Masih tidak nyaman memang, seperti saat seniorku berkata, "bagus, lanjutkan". Intonasi khasnya, ekspresi datarnya, entah kalimat itu hanya formalitas, atau benar keluar dari hati. Ketimbang bertanya-tanya dan kepalang pikir tentang itu, lebih baik meneruskan apa yang perlu dilakukan. Cermin itu.. masih terus hadir setiap pujian ditujukan padaku. Dan aku... masih selalu melihat kebalikan dari pujian mereka. Aku masih tidak nyaman. Tapi aku belajar untuk mengabaikannya.
Kuletakkan bolpoinku. Kubaca lagi tulisanku sekilas. Ada beberapa coretan, kesalahan ejaan. Jauh dari tulisan rapi yang mudah dibaca. Tapi juga tidak seburuk stereotipe tulisan dokter yang katanya hanya bisa dibaca apoteker.

"Sudah selesai?" suara Ary mengagetkanku. Aku refleks meletakkan kertas di meja. Lalu kami seolah berebut kertas, dan aku kalah cepat. 

"Cuma tiga paragraf," ucapku lirih. Kulirik ekspresi Ary yang kini sedang mencerna tulisanku. Masih ekspresi datar yang sama.

"Kamu boleh ga percaya, tapi yang tadi.. bukan formalitas," ia mengembalikan kertasku. Ia menjauh tapi kemudian berbalik dan menyampaikan satu kalimat lagi. Yang intinya bertanya padaku, bukankah aku minta dia membaca karena butuh feedback? Intonasi suaranya masih khas, tapi ia bertanya lebih cepat dari biasanya. Sepertinya ia tersinggung atas tulisanku.

***

Istirahat makan siang kusempatkan ke minimarket terdekat. Membali biskuit coklat kesukaan Ary. Sebelum kutaruh di saku jaketnya, kutempelkan post it bertuliskan satu kata, "maaf".


The End.

Hold Back

September 07, 2018 0 Comments
Bismillah.


Berapa kali dalam sehari kamu menahan diri? Menahan diri untuk apa, dari apa dan kenapa? 

Seperti kalimat yang berulang kali diketik dan dihapus. Atau meski haus menghindari minum karena sedang puasa. Atau memandang langit-langit supaya air mata tak jatuh. Atau memilih duduk agar amarah tidak meledak. Semacam itu. Menahan diri. You hold yourself back. To hold back, menahan diri, bisa jadi pilihan yang baik, tapi bisa juga sebaliknya. 

***

Aku membaca kalimat singkat di sana, dari seseorang. Sejujurnya, ingin kutawarkan bantuan padanya. But I hold that word back. Kenapa? Karena aku sendiri ragu, apakah ia mau menerima bantuanku? Juga... apa aku benar bisa membantunya? Trus gitu aja.. lanjut overthinking. 

Aku menulis ini... berharap aku bisa bijak. Tahu kapan harus menahan diri, dan kapan harus tidak menahan diri. It sounds weird. Entah sejak kapan, lebih nyaman menggunakan frase bahasa inggris.

I wish I don't hold myself back from any goodness. I hope I learn, that holding back too much will make me lose many opportunity. 

Apa yang membuatmu sulit sekedar bertanya dan menawarkan bantuan? She might reject, cause she doesn't really need help. Like the way you reject someone else help. Tapi.. tidak ada salahnya bertanya kan? Bukankah.. kamu pernah sedikit sedikit terhibur saat ada orang yang menawarkan bantuan?

Don't hold back in this kind of situation. Ask her nicely, if she answers no. It means she can do it without your help. If she answers yes. Don't overthinking. Just help even if what you can do is just a small thing. Ok? 

***

Adakah yang tahu... cara supaya kita bisa bijak memilih.. kapan harus menahan diri, dan kapan tidak boleh menahan diri? Karena aku sering kesulitan memilih.. hmm.. lebih tepatnya, meski aku tahu yang mana yang benar, aku kesulitan mempraktekannya. 

To hold back.. or to not hold back.. I stil need to learn more about that. 

Allahua'lam. 

Thursday, September 6, 2018

Bukan Depresi Tapi Acedia

September 06, 2018 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking

Bukan depresi, tapi saudaranya depresi. Namanya Acedia.


Entah sejak kapan aku suka baca artikel tentang psikologi. Nah.. waktu itu, aku buka medium dan melihat tulisan ini. Inti tulisannya, menerangkan, bahwa banyak orang yang merasa depresi, padahal bisa jadi bukan itu yang ia alami.
When I started researching depression for a book I was writing, our organization surveyed five hundred men and women. When we compiled their answers, many of them explained the exact symptoms of acedia. Because depression is complex and we use one word to lump several aspects together, the healing process can become confusing. It’s like the word “love” in effect. While I love my wife, I also love breakfast tacos. But I certainly don’t “love” the two the same way. That morning over coffee, I explained to my friend that due to the way depression and acedia intertwine, he could be dealing with both at the same time.
“The good news and bad news, however,” I told him, “is acedia is a condition you can fight, but fighting it can also be mundane and feel as if you’re getting nowhere.”
- Benjamin Sledge, "You Might Not Actually Be Struggle with Depression"
***

Baca selengkapnya di link di atas ya. Aku di sini mau nambahin commentary ga penting hehe. 

Jadi.. karena baca banyak artikel tentang psikologi, trus kenalan sama beberapa penyakit mental seperti bipolar disorder, OCD, schizophrenia, dll.. rasanya kaya kenalan sama dunia baru. Kalau sebelumnya sakit itu cuma tentang yang bersarang di jasad, kini ada juga penyakit mental. 

Trus aku inget.. masa-masa aku hilang dari peredaran, pernah juga baca orang lain yang ngalamin kaya gitu. Masuk gua, sebelum akhirnya terpaksa menghadapi yang harus diselesaikan. Waktu itu.. karena banyak menghabiskan waktu sendiri, dan berteman dengan buruk sangka, swring overthinking, aku sering menjudge diriku. Am I sick? Why is it so hard to meet people? Ya.. karena saat menghilang dari peredaran, yang aku lakukan adalah sebisa mungkin tidak bertemu siapapun. Beli stok makanan dua hari sekali, dll. Sampai aku bertemu seorang teteh, Teh Icha, waktu itu sedang menyelesaikan studi S2 Psikologinya. Dari obrolan dengannya, aku dapet satu insight. Jangan sembarangan buat diagnosis, baik itu sakit fisik maupun psikis. Kita bukan dokter. 

Anak-anak muda sekarang, banyak terpapar juga informasi menarik tentang psikologi. Dan kebanyakan informasi itu meski benar, ternyata efeknya ga selalu positif. Merasa down sedikit, langsung mikir, aku depresi apa ya? Oh ya, bisa jadi aku salah ya. Aku cuma melihat fenomena di line square yang aku gabung. Mayoritas isinya anak-anak SMA, they talk in english way better than me. Topik obrolannya macem-macem, tapi salah satu yang sering berulang adalah tentang depresi dan... one of them keep talking that he/she want to end his/her life. Yang lebih menyakitkan lagi, aku cuma bisa baca, kadang menulis satu dua kalimat. Selebihnya,.. ga ada. 

Aku tahu... secara psikologi penyakit itu memang ada. Depresi itu ada, dan dialami orang-orang. Tapi jujur.. kalau aku.. aku ingin menyederhanakannya. Bukan depresi.. bukan acedia juga... cuma hal normal yang kadang dialami manusia. Down, merasa sedih, takut, cemas, dan segala perasaan negatif lainnya. Ingin rasanya menyederhanakannya.. bahwa semua itu, bisa perlahan, dengan jatuh bangun usaha, dihapus, pelan dihilangkan dan dikurangi.. caranya, mendekat ke Allah. 

Daripada ke psikiater, diberi resep depressant. Lebih mudah mendekat padaNya, minta obat kepadaNya. DIA yang berjanji, bahwa setiap penyakit pasti ad obatnya. Entah itu penyakit fisik maupun psikis. Mungkin anxiety disorders yang membuat kita sulit bertemu banyak orang dan memilih mengurung diri di kamar, berminggu-minggu, berbulan, bahkan bertahun. Tapi bagiku, lebih mudah menyederhanakannya. Bahwa saat bertemu dengan orang lain terasa menyakitkan, hubungan dengan sesama rumit, mungkin itu cermin, bahwa hubungan kita dengan Allah pun begitu. Jauh dari baik. Maka... perlu mencoba berdoa padaNya, belajar lagi curhat dan meminta bantuan padaNya. Belajar lagi membuka dan membaca kalamNya. Belajar lagi, mengunjungi rumahNya, mendengarkan adzan, shalat berjamaah, melihat orang-orang asing yang lalu lalang hadir untuk memenuhi kewajiban shalat. Lalu lewat itu.. jadi dengerin kajian di masjid. Meski ga duduk di tempat yang disediakan, masih mojok di tempat terpencil, sendiri, tapi sound system masjid cukup untuk telinga kita mendengarkan nasihat-nasihat dari majelis ilmu tadi. Belajar juga membuka buku.. buku yang isinya mengingatkan kita padaNya. 

Aku ingat perjalananku baca buku berjudul Amalan Penghilang Susah (:, isinya padahal mungkin udah pernah tahu. Tapi mungkin membacanya saat butuh, jadi lebih terasa. Diingatkan lagi tentang dzikir, tentang doa, tentang sedekah. Amalan-amalan itu... jatuh bangun berusaha mengamalkannya, jauh-jauh dari sempurna.

Aku masih suka membaca artikel psikologi, selalu menarik mengetahui keunikan dan kecanggihan manusia. Lalu jadi bertanya, siapa yang menciptakanNya? Allah.. 

Lalu saat merasa tinggi karena manusia begitu kompleks dan canggih, kita diingatkan bahwa penciptaan manusia masih tidak ada apa-apanya dibandingkan pencitaan bumi dan isinya, dibandingkan penciptaan alam semesta.


لَخَلْقُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ ٱلنَّاسِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(QS Ghafir : 57)

Allahua'lam. 

Tuesday, September 4, 2018

Your Dark Side

September 04, 2018 0 Comments
Bismillah.


Saat kau melihat sisi gelapmu, keburukanmu sendiri di depan cermin, apa yang kau lakukan? Mengakuinya terlalu menakutkan, tapi menutup mata sama saja berbohong pada diri.

Untuk membersihkan sisi gelap dan sisi buruk itu butuh usaha, dan butuh waktu. Terkadang dalam perjalanannya, kamu dihantui perasaan ingin menyerah karena tampaknya bukan justru berkurang, namun sisi gelap itu bertambah. Kemudian bertanya-tanya, apa memang tidak bisa untuk dihapus, apa akan selalu ada?

Lalu di lain waktu saat kau dikelilingi orang-orang baik, yang sisi gelapnya Allah sembunyikan dan kau lihat mereka bersinar dan menyinari sekitar... kau mengubah fokusmu. Mungkin bukan sisi gelap yang harus kulihat, tapi kau harus menambah sisi terangku. Mencari aktivitas yang bisa membuatmu bersinar. Mencari amalan kecil untuk dilakukan setiap hari. Berharap hal kecil itu bisa mengubah refleksi buruk rupa yang kau lihat di cermin. 

***

I'm not an angel.. I'm just a human. 

But... I'm afraid I don't fit to be a good person. Cause when I reflect, all I can see is the darkness side of me, that people don't know. But.. I still want to try, to be a better person. This journey.. won't be easy. I'll stumble, fall, even tumble.. then trying hard to get up again to continue the journey. It will be hard, but knowing Allah see the process put my heart in calm.

Ya Muqallibal qulub tsabbit qalbi 'ala dinik. Aamiin. 

Allahua'lam. 

Apa Kabarmu dengan Al Quran?

September 04, 2018 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Sebenarnya pertanyaan itu sudah lama ingin kutulis di sini. Tapi menulisnya di sini, tidak mudah..

Apa kabarmu dengan Al Quran? Mukjizat yang Allah turunkan untuk semua manusia. Yang mendengarnya... orang beriman bergetar hatinya. Kamu? Bergetarkah hatimu saat mendengarnya?

Apa kabarmu dengan Al Quran? Bagaimana interaksimu dengannya? Sudahkah ia menjadi prioritas harimu, dan bukan pengisi waktu luangmu?

Apa kabarmu dengan Al Quran?

Allahua'lam.

Saturday, September 1, 2018

Bahkan Mimpi Buruk...

September 01, 2018 0 Comments
Bismillah.

Curhat? Iya hehe. Tapi in syaa Allah ada hikmahnya kok.

***

Alhamdulillah. Rasanya frase itu tidak cukup untuk memujiNya dan berterima kasih padaNya. Aku selalu, takjub pada rencanaNya. Karena bahkan mimpi buruk.. barangkali adalah bantuan yang dikirim untukku, jawaban doaku. Sebenarnya bukan mimpi, hanya tidur tidak nyaman, tangan kiri yang terasa terpelintir karena salah posisi tidur, lalu terbangun karena itu. Semalem ga mikir hikmahnya, hanya bangun dan berpindah tempat tidur, ditanya Ayah yang saat itu melihatku berjalan setengah tidur. 

Bahkan mimpi buruk, bisa jadi baik untukku. Maka ketidaknyamanan yang hanya sekejap itu, tidak sebanding dengan kebaikan setelahnya. Begitupun hal lain, mungkin bukan mimpi buruk. Tapi realita buruk yang kini menerjangmu bertubi-tubi. Ketidaknyamanan, dan rasa yang jauh dari manis, yang harus setiap hari kau temui. Itu semua, hanya sekejap, jika nanti dibandingkan dengan kebaikan yang kita dapatkan setelahnya.

Allah tidak pernah menginginkan keburukan pada hambaNya. Meski kita jauh dari kriteria orang yang bertakwa. Namun Allah masih menginginkan kebaikan untuk kita. Buktinya siang hari tadi, yang sudah lewat. Allah bisa saja menutup kesempatan kita bertaubat kemarin, dan hari ini kita tidak lagi hidup. Tapi siang tadi telah berlalu, berarti pintu taubat masih terbuka. 

Tidak mudah memang melihat matahari. Seperti itu juga rasanya berusaha melihat cahaya saat kau berada di kegelapan. Berbaiksangka padaNya butuh usaha, tidak hadir otomatis, terutama karena kita banyak dosa dan hati kita tidak bebas noda. Setan seringkali melintaskan was-was, membuat kita menganakpinakkan pikiran negatif.

Kalau kata ustadz Salim A. Fillah, melihat matahari itu sulit, kita mungkin tidak mampu. Maka saat sedang sulit, barangkali kita perlu tutup mata saja, dan merasakan hangatnya mentari. Iman itu.. yang sulit justru mempercayai yang tidak teraba indra mata. Mempercayai yang ghaib itu sulit, baik itu tentang surga, neraka, hari kebangkitan, dan juga takdir. Tapi meski sulit, bukan berarti tidak bisa. Berbeda dengan hewan yang hanya bisa mempercayai yang terlihat. Kita manusia, diberikan kelebihan akal agar kita bisa mempercayai yang tidak terlihat. Ibarat siaran radio yang menyatakan di kilometer X terjadi kemacetan. Kita mungkin tidak melihat kemacetan tersebut, namun kita bisa mempercayainya.

***


Untukku, banyak belajar bell.. banyak doa juga. Agar ilmu yang dipelajari tidak hanya tersimpan di memori, tapi masuk ke dalam hati, mengakar kuat. Agar tidak jatuh lagi. Atau meski jatuh, agar bisa bangkit lagi.

Terakhir,..
Interesting isn't it? Even a nightmare could be the sign from Him, so you learn more and more to trust His Plan. 
- kirei
Allahua'lam.

Saat Hujan Menyapa Pagi

September 01, 2018 0 Comments
Bismillah.

Akhir Agustus langit Purwokerto sering kelabu, cahaya matahari yang biasanya mampu mengeringkan jemuran sebelum dzuhur, kini tidak terlihat. Beberapa hari sebelumnya, air sumur rumahku sempat kering. Perlu menunggu beberapa jam, agar kembali isi.

Jumat, 31 Agustus 2018, hujan menyapa pagi. Saat hujan menyapa pagi, rasanya lebih nyaman duduk di rumah sembari menyeruput minuman hangat, entah itu teh, kopi, susu atau coklat panas. Saat hujan menyapa pagi, anak-anak ke sekolah membawa payung, atau jas hujan. Saat hujan menyapa pagi, jalanan lebih padat dipenuhi mobil.

Hujan menyapa pagi, meski belum bulan September. Menyapa pagi, mengajak untuk berdoa pelan, Allahumma shayyiban nafi'an. Semoga tiap tetesnya membawa keberkahan, menghidupkan kembali tanah yang gersang, menghijaukan kembali pohon yang kering ditinggal gugur daun yang menguning.

Saat hujan menyapa pagi, di Purwokerto, aku masih jauh dari baik-baik saja. Padahal jumat, hujan pula, pagi yang syahdu, bukankah momen itu jarang? Tapi begitulah.. tidak berarti setiap orang bisa memaknainya dengan senyum tipis. Sebagian terdiam, terpaku, sibuk fokus pada hal yang tidak baik dalam hidup. Termasuk aku. 

***

Hari ini, hujan menyapa siang, saat aku tidak berada di rumah. Tanah yang disentuh bulir airnya menguapkan aroma khas. Aku menyengaja bolak balik di tempat yang tidak tertutup atap. Membiarkan bulir airnya mengetuk kepalaku pelan, kemudian meresap lembut ke bagian dalam kerudungku. Berikan sensasi sejuk yang cukup untuk mendinginkan kepalaku yang tadinya panas karena overthinking.

1 September, hari Sabtu, kubaca ajakan menulis tematik dari akun Sabtulis. Sebuah gerakan yang mengajak untuk produktif menulis setiap hari sabtu. Aku masih memikirkan, tulisan apa yang nantinya aku tulis di akardaunranting, ada beberapa idiom yang menggunakan kata rain, tapi belum menggelitik jemariku untuk mengurainya. 

***

Jika hujan menyapa pagimu, atau siangmu, atau soremu, atau bahkan malammu.... mau kah kamu menjawab sapaannya dengan senyum di bibir? Atau kamu lebih suka, mengabaikan sapaannya, dan sibuk mencari payung yang sudah beberapa bulan dianggurkan. 

Jika hujan menyapa hidupmu, menghalangimu untuk merasakan hangatnya sang surya.... maukah kamu menjawab sapaannya dengan menengadahkan tangan dan merasakan tiap bulirnya? Atau kamu lebih suka mengambil jaket dan segera berlari, agar tidak basah kuyup, agar tidak menggigil kedinginan. 

Hujan sudah menyapaku dua kali... kini aku ingin menyapanya, lewat tulisan sederhana di blog ini. Ia mungkin tidak bisa membaca, tapi akan kusapa ia dengan ramah tiap kali ia hadir. Lewat doa lirih atau mungkin dalam hati, doa-doa kecil yang kusimpan menunggu kedatangan hujan. Doa-doa untukku dan untuk orang-orang tercinta. Berharap Allah mendengarkan dan menjawabnya, karena saat hujan menyapa,.. adalah saat doa diijabah. 

Allahua'lam.