Follow Me

Saturday, September 1, 2018

Saat Hujan Menyapa Pagi

Bismillah.

Akhir Agustus langit Purwokerto sering kelabu, cahaya matahari yang biasanya mampu mengeringkan jemuran sebelum dzuhur, kini tidak terlihat. Beberapa hari sebelumnya, air sumur rumahku sempat kering. Perlu menunggu beberapa jam, agar kembali isi.

Jumat, 31 Agustus 2018, hujan menyapa pagi. Saat hujan menyapa pagi, rasanya lebih nyaman duduk di rumah sembari menyeruput minuman hangat, entah itu teh, kopi, susu atau coklat panas. Saat hujan menyapa pagi, anak-anak ke sekolah membawa payung, atau jas hujan. Saat hujan menyapa pagi, jalanan lebih padat dipenuhi mobil.

Hujan menyapa pagi, meski belum bulan September. Menyapa pagi, mengajak untuk berdoa pelan, Allahumma shayyiban nafi'an. Semoga tiap tetesnya membawa keberkahan, menghidupkan kembali tanah yang gersang, menghijaukan kembali pohon yang kering ditinggal gugur daun yang menguning.

Saat hujan menyapa pagi, di Purwokerto, aku masih jauh dari baik-baik saja. Padahal jumat, hujan pula, pagi yang syahdu, bukankah momen itu jarang? Tapi begitulah.. tidak berarti setiap orang bisa memaknainya dengan senyum tipis. Sebagian terdiam, terpaku, sibuk fokus pada hal yang tidak baik dalam hidup. Termasuk aku. 

***

Hari ini, hujan menyapa siang, saat aku tidak berada di rumah. Tanah yang disentuh bulir airnya menguapkan aroma khas. Aku menyengaja bolak balik di tempat yang tidak tertutup atap. Membiarkan bulir airnya mengetuk kepalaku pelan, kemudian meresap lembut ke bagian dalam kerudungku. Berikan sensasi sejuk yang cukup untuk mendinginkan kepalaku yang tadinya panas karena overthinking.

1 September, hari Sabtu, kubaca ajakan menulis tematik dari akun Sabtulis. Sebuah gerakan yang mengajak untuk produktif menulis setiap hari sabtu. Aku masih memikirkan, tulisan apa yang nantinya aku tulis di akardaunranting, ada beberapa idiom yang menggunakan kata rain, tapi belum menggelitik jemariku untuk mengurainya. 

***

Jika hujan menyapa pagimu, atau siangmu, atau soremu, atau bahkan malammu.... mau kah kamu menjawab sapaannya dengan senyum di bibir? Atau kamu lebih suka, mengabaikan sapaannya, dan sibuk mencari payung yang sudah beberapa bulan dianggurkan. 

Jika hujan menyapa hidupmu, menghalangimu untuk merasakan hangatnya sang surya.... maukah kamu menjawab sapaannya dengan menengadahkan tangan dan merasakan tiap bulirnya? Atau kamu lebih suka mengambil jaket dan segera berlari, agar tidak basah kuyup, agar tidak menggigil kedinginan. 

Hujan sudah menyapaku dua kali... kini aku ingin menyapanya, lewat tulisan sederhana di blog ini. Ia mungkin tidak bisa membaca, tapi akan kusapa ia dengan ramah tiap kali ia hadir. Lewat doa lirih atau mungkin dalam hati, doa-doa kecil yang kusimpan menunggu kedatangan hujan. Doa-doa untukku dan untuk orang-orang tercinta. Berharap Allah mendengarkan dan menjawabnya, karena saat hujan menyapa,.. adalah saat doa diijabah. 

Allahua'lam. 

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya