Follow Me

Friday, September 7, 2018

Compliment

Bismillah.
#fiksi

Aku tidak nyaman mendengar pujian orang. Kau tahu kenapa? Karena yang kudengar dan kulihat di refleksi cermin, justru kebalikannya. Saat mereka berkata aku baik, otomatis sebuah cermin seolah muncul di hadapanku, yang kulihat? Aku tidak sebaik yang mereka kira. Mereka berkata aku cerdas, cermin itu hadir lagi... Aku jauh dari cerdas, bagaimana mungkin orang cerdas tersesat dua kali, menuju tempat yang sering ia kunjungi? Apa lagi ya.. intinya, hampir selalu begitu. Setiap pujian, hanya akan menghadirkan cermin yang saat kulihat refleksi diriku di sana... aku tahu bahwa aku kebalikan dari pujian tersebut. 
"Ary...", yang kupanggil menoleh. Kemudian bertanya kenapa tanpa suara, haya bibirnya yang bergerak lipsing. 

"Coba baca ini deh," aku menyodorkan selembar kertas, yang baru kutulis diatasnya satu paragraf singkat. Ia membacanya, dengan suara, membuatku kaget dan menarik kertas tdi dari tangannya. Suara kertas yang sobek membuat kami bertatapan, kemudian sama-sama melihat kertas di tangan masing-masing. 

Ary mengambil kertas dari tanganku kemudian menyatukan kembali di atas meja. Bukan menyatukan, lebih tepatnya meletakkannya bersebelahan, cukup dekat untuk melanjutkan membacanya. Ary membaca cepat tanpa ekspresi dalam hitungan detik.

"Bagus..lanjutin", ucapnya kemudian meraih hp-nya. Ujung bibirku turun. Ary selalu begitu, ia terbiasa melemparkan feedback positif. Aku dalam hati membatin, apa dia benar membacanya? Kalimatnya, "bagus.. lanjutin" kuartikan sebaliknya, "ga bagus, ga usah dilanjutin". Aku meremas kertas yang terbagi dua tadi. Kemudian beranjak menuju tempat.

"Kenapa dibuang?" tanya Ary yang ternyata sedari tadi memperhatikanku. "Salin dulu sebelum dibuang, biar ga perlu mulai dari nol lagi nulisnya," ucapnya membuatku salah tingkah. Bingung apa harus mengambil lagi kertas yang kini sudah bercampur sampah lain. Kemasan seblak kering, botol teh, dan beberapa kertas lain.

Ary mendorongku pelan, kemudian berjongkok dan mengambilkan remasan kertas berisi paragraf buruk buatanku. Aku memandang Ary penuh pertanyaan, mengapa ia rela ambil kertas sobek yang sudah terlanjur masuk tempat sampah kecil berwarna abu itu.

Aku menerima kertas itu lagi. Kemudian kembali ke mejaku. Kubuka remasannya, kujejerkan sebelah kanan dan kirinya. Kubaca lagi, kuambil selembar kertas yang masih baru. Kusalin pelan sembari memutar ulang kejadian tadi. Dari awal saat kertas ini masih utuh, berpindah ke tangan Ary, sampai kertas ini penuh keriput dan robek. 
Tidak nyaman dan jujur menyebalkan saat kudengar pujian dari orang lain. Tapi terlepas dari perasaan tersebut, sebenarnya aku bisa memilih untuk tidak mendengarkan. Ibarat tutup telinga, meski tanpa penyumbat. Abaikan saja, jangan biarkan pujian itu masuk ke otak apalagi masuk ke hati. Sebagai manusia, aku bisa seperti itu. Istilahnya, muka tebal, atau keras kepala. Muka tebal, tidak peduli omongan orang, entah itu pujian atau cacian, tak menundukkan muka karena malu, juga tidak menaikkan dagu karena congkak. Keras kepala, abai pendapat orang lain, jika memang itu yang ingin kulakukan, maka aku lakukan. Tak peduli orang lain memujiku atau mencaciku.
Masih tidak nyaman memang, seperti saat seniorku berkata, "bagus, lanjutkan". Intonasi khasnya, ekspresi datarnya, entah kalimat itu hanya formalitas, atau benar keluar dari hati. Ketimbang bertanya-tanya dan kepalang pikir tentang itu, lebih baik meneruskan apa yang perlu dilakukan. Cermin itu.. masih terus hadir setiap pujian ditujukan padaku. Dan aku... masih selalu melihat kebalikan dari pujian mereka. Aku masih tidak nyaman. Tapi aku belajar untuk mengabaikannya.
Kuletakkan bolpoinku. Kubaca lagi tulisanku sekilas. Ada beberapa coretan, kesalahan ejaan. Jauh dari tulisan rapi yang mudah dibaca. Tapi juga tidak seburuk stereotipe tulisan dokter yang katanya hanya bisa dibaca apoteker.

"Sudah selesai?" suara Ary mengagetkanku. Aku refleks meletakkan kertas di meja. Lalu kami seolah berebut kertas, dan aku kalah cepat. 

"Cuma tiga paragraf," ucapku lirih. Kulirik ekspresi Ary yang kini sedang mencerna tulisanku. Masih ekspresi datar yang sama.

"Kamu boleh ga percaya, tapi yang tadi.. bukan formalitas," ia mengembalikan kertasku. Ia menjauh tapi kemudian berbalik dan menyampaikan satu kalimat lagi. Yang intinya bertanya padaku, bukankah aku minta dia membaca karena butuh feedback? Intonasi suaranya masih khas, tapi ia bertanya lebih cepat dari biasanya. Sepertinya ia tersinggung atas tulisanku.

***

Istirahat makan siang kusempatkan ke minimarket terdekat. Membali biskuit coklat kesukaan Ary. Sebelum kutaruh di saku jaketnya, kutempelkan post it bertuliskan satu kata, "maaf".


The End.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya