Follow Me

Thursday, April 21, 2011

Tak Akan Pernah

April 21, 2011 0 Comments
Aku menari
berkecipak di antara awan
senyumku mekar
laksana mentari yang menyeruak di pagi hari
mataku bening
seperti air tenang di samudra pasifik

Aku menari
di antara semilir angin yang menyerukan namaMu
tak bosan, tak pernah bosan

Friday, March 11, 2011

Horison Biru

March 11, 2011 0 Comments
Aku terbatuk, membiarkan keheningan ini pecah. Walau sejenak. Setidaknya ada suara yg terdengar. Setidaknya aku masih hidup, walau ruangan ini seperti mati. Jangankan suara manusia, dentang jam pun seolah lenyap ditelan kesunyian. Di hadapanku terbentang horison biru yang luas, yg menanti gerakku. Dan aku? Entah mengapa aku memilih tuk diam dan membatu, mengamati indahnya menari dan berlari dalam benakku. Ahh.. Aku pasti sudah gila.

Di belakangku awan hitam menggulung, memuramkan angin, membuatnya berputar tak tahu arah. Cepat. Cepat. Dan menyingkirkan segala. Belum lagi kerlap-kerlip yg sesekali memerangi langit di belakangku, dan suara menggelegar yg menciutkan hati. Tak berani kutolehkan wajahku ke belakang, tak jua berani berlari ke depan.

Semua ini seperti buah simalakama. Kau tahu? Buah yg wujudnya saja belum pernah kulihat. Paling tidak, aku tahu itu bisa menggambarkan keadaanku. Tak tik tak tik. Ah! Senyumku menyeruak, suara itu! Suara itu! Itu suara dentang jam tanganku, yg kukira sudah lelah berputar. Aku pasti belum gila, aku pasti belum gila! Dan entah dari mana gelora ini menyala, dan aku tak terbakar tapi merasakan hangatnya.

Tik tik tik. Ah! Suara itu! Senyumku kembali mengembang. Aku menghadapkan tubuhku ke belakang, dan dapat kulihat air surgawi berjatuhan dari langit. Basahi bumiku. Sejukkan hatiku. Aku mengedipkan mataku berkali-kali, lalu tertawa. Ini bukan mimpi, bukan mimpi! Dan aku mulai menari dalam riuh hujan, tak peduli deru angin dan kilat yg menyambar-nyambar. Dan aku mulai berlari, menuju horison biru yg terbentang luas di sana. Tak kupedulikan basah kuyupku, aku tahu sang mentari sedang menanti di sana. Tuk hangatkan aku. Tuk warnai langitku dgn pelangi.

31.01.11
Keep fighting! _love YOU so :)_

Friday, March 4, 2011

Stay Strong

March 04, 2011 0 Comments
Bismillah.

stay strong
Aku menulis ini, khusus untuk Eyangku tercinta. Untuk ia yang senyumnya begitu menyejukkan hati. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang Eyangku.

Kau adalah satu-satunya orang yang measih menganggapku seperti bayi. Dan anehnya, aku menikmati itu. Aku ingat, bagaimana kau memaksaku untuk makan, dan marah-marah hingga aku akhirnya mengambil piring untuk makan. 

Every word you say is an advice. Harus ini... Jangan itu... Harus itu.. Jangan ini... Dan aku yang mendengar hanya mengangguk sekenanya dan menimpali, "Iya, Mbah..." sekenanya pula. Sampai kau sadar, dan berkata, "Jangan iya-iya tok", haha :) dan aku, dengan nakalnya sekali lagi cuma berkata, "iya Mbah.."

I miss that moment, saat kau menciumku tiap kupamit pulang. A moment, saat kau memberiku puluhan nasihat yang cuma kutimpali dengan kata "ya". Saat aku menolak untuk makan dan membuatmu makin mengoceh. Dan saat kau kau mengusap lembut kepalaku sambil berkata, "Kau seharusnya jadi model shampo". Atau saat kau mencak-mencak melihat rambutku dipotong pendek... Som much sweet memories. Too much.

Dan aku sungguh tak tega melihatmu sekarang terbaring lemah di kasur. Sedih, melihatmu merintih kesakitan. I need to see your smile :) So stay strong! Allah sedang mengampuni dosa-dosamu, Stay strong!

Get wee soon.. cause I don't want to see you sick.

Allahua'lam. 

***

PS: Disalin ulang di sini pada tanggal 24 Oktober 2016. Saat ini Embah udah dipanggil menghadapnya, tepatnya pada tanggal 7 September 2015 lalu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, dan memberikannya tempat terbaik sembari menunggu hari penimbangan. Semoga kelak kami dipertemukan kembali di Jannah-Nya. Aamiin.

Just a Kid

March 04, 2011 0 Comments
Bismillah.

i'm just a kid

Ini adalah yang pertama kalinya kita berbeda pendapat, sejauh ini. Selama ini. Aku seolah kehilangan arah, diliputi ketakutan karena biasanya kau turut mendukungku. Aku sendiri, langkahku goyah. Dan hujan tak dapat lagi terbendungkan, saat kukira I have lost it.

Kau datang memberiku payung, dan bertanya mengapa hujan turun begitu deras sesiang ini. Aku cuma bisa terdiam. Enggan membahasnya. Entah angin apa yang membawamu kesini siang itu, saat aku jujur sedang tak mau seorang pun mendekat karena aku sedang dikepung hujan. Kau bacakan aku sebuah kata mutiara, dan aku... aku hanya terdiam dan terkaget dalam hati, karena kau seolah tahu apa yang membuat hujan itu turun sesesiang ini.
"Jangan pernah menghalangi diri sendiri"
Ah. Sungguh mengena. Tapi aku hanya diam dan masih tergugu. Sekali lagi kau mengejutanku saat tiba-tiba kau bacakan sajak Khalil Gibran kepadaku. Entah apa maksudmu, aku tahu kau ingin hujan siang itu mereda. You keep me questioning myself, cause poems is rare in your dictionary. But you read it for me.
Kita masih batu pada pendapat masing-masing. Hanya kau tak berusaha menampakkannya. Tak ada lagi obrolan seru kita, karena aku lebih suka menghindar darimu. Bukan apa-apa. I just don't want to be hurt that way.

Kau tahu? Aku baru menyadari... I will always agree with your opinion, I'll pick what you take, I'll choose what you point at. I'm just a kid, who always act like a kid. Do what you tell me not to do, and leave what you tell me to do.

***

PS: Diketik ulang, didigitalisasikan tanggal 24 Oktober 2016. Kata pengganti kedua, adalah untuk Ayahku, yang saat itu, aku dan dirinya sedang berbeda pendapat. Perbedaan pendapat tentang apa? Hehe, kamu akan ingat kalau membaca ini Bell. Dan bagimu pembaca selain diriku, izinkan aku membiarkan tulisan ini tetap abstrak, hehe *sokmisterius.

Saturday, January 8, 2011

What Writing Means for Me

January 08, 2011 0 Comments
Karena merangkai kata bagiku
adalah hiburan atas segala pilu
P3K atas segala luka
ekspresi atas segala ria

Maka biarkan aku tetap menulis
walau basah... kertas karena tangis
walau kotor... kertas karena tinta
walau penuh, sesak... kertas karena huruf.

Let's Go! Let's Ikhtiar!

January 08, 2011 0 Comments
Bismillah.

Aku... bukan lagi memandang serampang, tapi menelisik jeli. Talking about dream, our own dream, tak akan pernah ada habisnya. Kita bisa terbang, tertawa, menari dalam gemerlap mimpi kita. Tapi juga bisa jatuh, menangis, dan terseok dalam ketakutan-ketakutan akan mimpi tersebut.

Hari ini, aku banyak sekali membicarakan tentang mimpi. :) Tentang betapa ia tinggi, bersinar dan sangat menarik untuk kita raih. Tentang betapa untuk menujunya, ada banyak jalan.. yang bergerigi, yang datar lalu menanjak, yang... akan banyak hambatan. Tentang ia... yang tak akan menjauh saat Allah berfirman kun.. maka jadilah :)

Dari sekian banyak diskusi, air mata, canda tawa, gelora semangat. Sebuah kesimpulan ku ambil. Ku genggam erat dalam hati. :) Ah... Ya Rabb, Sungguh Indah Rahmat-Mu. :) Terima kasih, karena Engkau, aku belajar mengerti tuk meniti kehidupan ini. Ehem... back to the topic, and what is the conclusion?

Mimpi-mimpi indah menanti untuk kau raih. Kau mungkin tak tahu, apa kau dapat meraihnya atau tidak. Tapi at least.. you must try to catch it. To fight to hold it. Berjuang. Ikhtiar. Lewat doa dan usaha. Kau tahu? Semua kan indah pada saatnya. :) Bukankah kau percaya? Allah will always give you the best. You do know that...

Kau tak perlu prasangka-prasanga dan kekhawatiran-kekhawatiran ini. Aku tahu kau tak punya daya. Tapi kau tahu kemana kau harus mengadu dan meminta pertolongan. Karena sungguh Dia-lah sebaik-baik penolong. Come on! Let's go/1 Keep Fighting! Ikhtiar....!!! Aja, aja!

bellz^aha~

Allahua'lam.

***

PS: Disalin ulang pada tanggal 26 Oktober 2016, dibuat teringat, tentang mimpi yang tinggi, yang bisa membuat terbang, tertawa, namun sebaliknya juga bisa membuat.... Aku diingatkan lagi, bahwa prasangka-prasangka, dan kekhawatiran-kekhawatiran itu.. tidak diperlukan, tidak menjadi besar, kalau kita ingat kalau kita tahu, kalau kita mau melangkah, ke tempat seharusnya kita minta pertolongan.

Tentangmu*

January 08, 2011 0 Comments
*mdr

Bismillah.

It's like... I finally found what I've been looking for. :) I'm happy to have a friend like you^^.

Seneng banget rasanya. Berada di dekatmu, aku baru sadar. Ternyata sosok teman, sahabat, yang selama ini aku cari ada di kamu. Aku yang dulu ga percaya.. sulit banget tuk percaya kalau memang ada sosok teman; sahabat yang sempurna.

Okay, I tell you, what criteria of a good friend is for me. Aku ingin mempunyai teman yang dengannya kita bisa tertawa sekaligus menangis bersama. Yang bisa menasihati aku saat aku mulai nyeleneh. Yang menyemangati aku saat aku patah arang. Yang bisa jadi partner aku baik saat aku ingin bermain, belajar, maupun ngobrol ini itu.

Dan aku menemukan itu semua di kamu^^. Seseorang yang baik, alim, pinter, rajin. Yang.. ah.. :) Kau tahu? Aku senang sekali menyadari kau ada di sini. Menemani hariku. Walau mungkin memang tak sesering aku dan teman-temanku yang lain.

"Ya Allah... Segala Puji Hanya Pada-Mu. Engkau tahu, bagaimana aku bermasalah dengan ini. Bagaimana aku jatuh dan terseok-seok tentang ini. Engkau Maha Tahu Ya Allah. :) Terima kasih untuk semuanya. Untuk teman-temanku, sahabatku, dan semua" (especially for the only one)

Aku mungkin belum bisa terlalu terbuka tentang diriku padamu. Tapi aku percaya^^ kalau ada lebih banyak lagi waktu, aku pasti bisa bercerita banyak tentangku. Walau sedikit demi sedikit. Hei! Kamu yang mengobarkan semangat belajarku! Kapan kita belajar bareng lagi??

^^bellz-keep fight!

Allahua'lam

***

PS: Disalin tanggal 26 Oktober 2016. Aku menyalin ini sembari berpikir, mungkin suatu saat aku akan mengirimkan link ini ke dia, ukhti yang menginspirasiku menulis ini. Atau mungkin tidak. Entahlah. Allahua'lam.

Sunday, January 2, 2011

Just The Matter of Time

January 02, 2011 0 Comments
Terkadang, tidak semua mimpi kita bisa terwujud. Atau, bisa jadi... jalan kita menuju mimpi tersebut tak semulus dan datar seperti yg kita inginkan. Atau bisa juga, kita terpaksa membelokkan langkah kita menuju arah yg berbeda dari mimpi kita.


In case of this, aku cuma ingin meyakinkan diriku sendiri. Convincing myself. Ketika mimpimu sudah setinggi bintang di angkasa, ketika kau sudah bersiap tuk berlari menggapainya dgn suka cita, dgn bekal yg cukup, dgn kotak P3K karena boleh jadi kau terjatuh saat hendak meraihnya, memeluknya. Somehow, karena suatu hal yg tak bisa kau elak. Kau harus berbelok, menjauhi mimpimu, untuk meraih mimpi lain yg bukan mimpimu. Atau kalaupun itu mimpimu, ia tak secemerlang bintang di langit. Ia hanya bulan, yg tak bersinar namun memantulkan sinar. Yg belum bisa bangkitkan gairahmu tuk memeluknya. And you just can't deny it. No, you can't. Mau atau tidak mau, suka atau tidak, kau akan tetap berbelok dan mencoba meraihnya. Meraih bulan dan bukan bintang.

Bukan. Sungguh bukan berarti kau harus berhenti bermimpi tuk meraih bintang. Bukan. Sungguh bukan berarti kau lebih pantas mendapatkan bulan dari pada bintang-yang sinarnya membuat matamu berbinar-binar. Bukan itu. Hanya saja belum waktunya.. blm saatnya.

Aku... Aku memang mengalihkan pandanganku dari mimpi terbesarku. Tapi bukan berarti aku berhenti dan melupakannya. Hei! Aku akan tetap bermimpi. Mimpiku tetap tinggi dan menjulang. It just the matter of time. Coz I believe, I'm gonna take those stars and hug it, sooner or later. I'm just focusing on the moon first. But i'm still dreaming to touch the star, to hold it..

:) Bismillahirrahmannirrahim.
Hasbunallah wa nikmal wakil.
Karena seringkali ketidaksukaanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku.
^^keepfighting!Aja!

Saturday, January 1, 2011

Memaknai Tahun Baru

January 01, 2011 0 Comments
Bismillah.

Tahun baru, and everybody seems busy to celebrate it. Terompet.. kembang api.. konser musik.. having some fun to end the year we left. Dan sms-sms happy new year-pun berserakan. Dan asa, harapan, serta mimpi membumbung tinggi saat tahun baru hadir.

Aku mungkin salah satu dari mereka yang sibuk merayakan tahun baru, tapi yang jelas aku tak beli terompet, tak melihat warna-warni kembang api, tidak pula mengirim sms tahun baru. Mm... entah mengapa, aku enggan melakukannya. Aku ingat sekali, seorang teman, mm.. sahabat.. remind me about something I forgot. Malam itu aku mengirim sms happy new year pada semua temanku (almost all of them). Balasan mereka standar. Tapi sahabatku yang satu ini, ia berbeda. Kau tahu apa balasannya?

Tak ada suara terompet, tak juga gelegar kembang api. Hanya terdengar isakan tangis di sore sebelum 1 Muharram datang. Kau tahu apa yang mereka lakukan? Instead of having some fun to end the year, mereka instropeksi diri.. mencoba memaknai pergantian tahun. Sudah cukup baikkah kita di tahun kemarin? Atau masih banyak yang harus dibenahi? (kurang lebih isinya begitu)

Astaghfirullahal 'adzim.. aku.. aku.. speechless. Ya Allah. Ampuni hamba-Mu ini Ya Ghofur...! Since then.. aku mulai mengerti, realize, kalau sebuah momen pergantian tahun, bukan untuk kita rayakan, tapi lebih tepat untuk kita maknai. :) Wish I'm gonna be a better person in this year. Amin Ya Rabb..

Bellz^^fighting!

Allahua'alam.

***

PS: Disalin tanggal 26 Oktober 2016

Saturday, December 18, 2010

Agar Jauh Lebih Berwarna

December 18, 2010 0 Comments
Bismillah.

Sebuah masalah yang muncul, menyeruak karena perbedaan pendapat terkadang memang susah untuk diselesaikan. Gak ada metode khusus untuk menyelesaikannya. It depends on the situation. Kalau dalam pemilihan ketua (apapun.. kelas, OSIS, sampe presiden), sistem voting bisa diandalkan. Tapi untuk kasus-kasus tertentu, voting hanya semakin memperkeruh keadaan. Kaum minoritas yang memang dikalahkan pendapatnya, akan berontak. Atau sebutan kaum mayoritas, mementingkan ego mereka sendiri. Padahal... jika ditelisik lebih jeli, mereka yang menganggap kaum minoritas egois, sedang mempertahankan egonya. Intinya... kalau ini tentang ego, semua ikut terlibat dalam luapan ego yang tak terbendung.

Lalu? Kalau voting sudah tidak bisa diberlakukan, alternatif lainnya adalah musyawarah. Hm... sebenarnya biasanya musyawarah dilakukan sebelum voting. Itu untuk kondisi normal. Untuk kondisi yang luar biasa, musyawarah dengan banyak kepala dilakukan sebelum voting, lalu voting, lalu... karena masalah masih belum bisa reda, diadakan musyawarah season 2 dengan jumlah peserta yang lebih kecil. Siapa sajakah? Yaitu mereka yang dirasa bisa mengerti keadaan dan bisa mewakili pendapat, baik dari suara mayor maupun minor.

Lepas dari benar atau salah, tepat atau tidak tepat penjelasan saya ini. Setidaknya, inilah yang terjadi saat sebuah masalah -atas nama perbedaan pendapat- menyeruak di penghujung semester gasal. It happened, and now I'm just waiting to see what will happen next. After discuss season 2 is held this morning. Semoga saja dapat mengatasi permasalahan yang ada. Aku percaya, I do believe.. that differences exist, bukan untuk menimbulkan sebuah masalah. Tapi agar hidup jauh lebih berwarna dari sekedar warna yang bisa kita lihat.

^^Bellz~aja!
***

PS: Disalin ulang di sini pada tanggal 26 Oktober 2016.

Monday, November 8, 2010

Life and Choices

November 08, 2010 0 Comments
Choices.
Hidup adalah pilihan yg penuh dgn pilihan. Wkwk. Sounds weird.

Adalah hal yang wajar ketika suatu saat kita dihadapkan dgn situasi yg mengharuskan kita memilih pilihan yg ada. Yang jadi masalah, saat itu kita blm tau apakah pilihan yg kita ambil salah/benar.

Talking about choices, mengingatkanku pada pilihan yg kutetapkan tgl 27 september. Sebenarnya itu adalah kelanjutan pilihanku pada waktu sebelumnya. Well, i let that sentence become an abstract things. Coz i don't want to describe more about it.

Dari kejadian memilih waktu itu,aku baru sadar. Realize: kalo untuk berkomitmen pada satu pilihan, bukanlah hal yg mudah.

Aku memang masih kekeuh dgn pilihanku, masih memegang erat pilihanku walau ada yg mencoba menggoyahkanny. Tapi entah kenapa ada yg aneh di sini.

Tiba-tiba saja moodku berantakan. Bukan saja ttg pilihan tgl 27. Tapi juga pilihan-pilihan lain yg seenak bawang mereka cap-cip-cup. Seenaknya mereka gonta-ganti. Dan aku? Cuma bisa diam melihat mereka

ahh..Betapa pilihan bisa menyita waktumu, menguras energimu hanya untuk berkata ya atau tidak.