Follow Me

Showing posts with label keputusan. Show all posts
Showing posts with label keputusan. Show all posts

Friday, February 22, 2019

Ada Efeknya

February 22, 2019 0 Comments
Bismillah.

Ternyata ucapan orang lain berpengaruh, memberikan efek pada diri. Seberapapun kita mencoba mengelak, tetap saja, berefek, ada efeknya.

📷 from unsplash

Seperti pekan kemarin. Sebenarnya jumat atau sabtu aku sudah menetapkan akan memilih Z, memutuskan Z. Tapi orang-orang terdekat memintaku menundanya. Tunggu dulu, jangan buru-buru. Aku akhirnya menunda, meski sebenarnya keputusan dan pilihan itu sudah bulat. 

Ahad, keputusan makin bulat. Lagi, suara orang-orang terdekat simpang siur. Sebagian memang menyerahkan keputusan padaku, namun ada juga yang menyayangkan. Seolah jika aku memilih Z, aku kehilangan hal yang berarti.

Senin, aku hendak menyampaikan keputusanku. Lagi, ada yang memintaku mematangkannya lagi. Akhirnya aku menunda lagi. Bagiku sebenarnya sama saja. Tapi ucapan mereka ada efeknya, aku akhirnya memilih mengulur waktu. 

Senin itu juga, keadaan menunjukkan bahwa pilihanku terwujud, sebelum sempat kuungkapkan. Di satu sisi aku bersyukur, karena Allah seolah menjawab lintasan harapan yang kusimpan di hati. 

Satu, dua hari berikutnya. Suara-suara orang lain, berkomentar, mencandai kondisi akhirnya Z, dll. Suara orang lain, orang terdekat, tentu ada efeknya kan? Ya.. aku jadi lebih sering teringat, bagaimana proses aku hendak memilih, kemudian akhirnya kondisi yang memilihkan.

Beberapa kali membatin sendiri, 

"Ternyata ucapan orang lain ada efeknya,"

Serta sesekali bergumam sendiri, 

"Mungkin akan teringat terus, karena ini yang pertama"

***

Manusia, fakta bahwa aku seorang manusia. Wajar kalau ucapan orang lain ada efeknya. Bahkan ucapan yang sering kita ulang-ulang sendiri juga memberikan efek. 

Efek itu bukan masalah seharusnya. Selama kadar pengaruhnya tidak terlalu besar.

Allahua'lam.




Thursday, May 17, 2018

Aku Tidak Tahu, Semoga Ini yang Terbaik

May 17, 2018 0 Comments
Bismillah.


Sebelumnya ditulisan lari, kutuliskan bahwa lari dari 'masalah' menuju Allah itu menenangkan. Sungguh menenangkan. Kegiatan jadi lancar, sesekali kepikiran 'masalah' nya wajar, karena belum dihadapi.

Sampai akhirnya Allah seolah menjawabku. Pertanyaan kepastian itu datang lebih cepat dari yang saya kira. Seolah Allah menunjukkan padaku, sekarang, sekarang saatnya kamu berhenti berlari dan menemuinya. Pagi pertama di bulan Ramadhan, dalam hati kuucapkan basmallah, kemudian kukirimkan jawabanku. Qadarullah, bersamaan dengan pertanyaan, hadir pula informasi dari kakak tentang sebuah daurah. Saat itu, gatau kenapa hatiku berkata, apa ini jawaban dari Allah juga? Bahwa sekarang, kamu harus fokus ke sana, daftar, dan tunaikan janjimu pada dirimu sendiri. Bismillahirrahmanirrohim. Semakin mantap rasanya. Semoga ini yang terbaik, untukku, juga untuk orang lain.

***

Terakhir, ya.. aku tidak tahu. Sebenarnya aku tidak tahu, banyak tidak tahu. Aku bukan nabi, yang hatinya dituntun Allah untuk membuat sebuah keputusan. Aku cuma bisa berdoa, dan berusaha memilih keputusan yang terbaik. Sembari terus berprasangka baik pada Allah, semoga ini yang terbaik.

Aku tidak tahu. Allah Maha Mengetahui. Allah mampu membolak-balik hati manusia. Saat ini, semoga keputusan yang kuambil yang terbaik. In syaa Allah. 'Asaa ayyahdiyani li aqroba min hadza rosyada. Aamiin.

Tuesday, December 12, 2017

Gapapa Kok

December 12, 2017 0 Comments
Bismillah.

#fiksiku

Benar, bahwa keputusanku ada di tanganku. Orang lain tidak berhak untuk bertanya atau memaksa. Benar, bahwa tidak perlu ada penyesalan atas keputusan yang sudah dibuat. Seperti yang diucapkan seorang perempuan padaku, suatu pagi dalam barisan kalimat di sebuah chat.

"No, Bel. Kamu gak boleh ngerasa salah sama keputusanmu. Kamu sekarang harus gerak nyari solusi atau mikirin kedepannya mau ngapain"

"Yang boleh disesali hanya dosa kepada Allah dan manusia", tambahnya.

"Percaya deh, nyesel atau ngerasa bersalah itu justru membawa energi negatif kecuali nyesel atau ngerasa bersalah karena dosamu sama manusia dan Tuhan"

Aku saat itu membaca kalimat itu, dengan mata berkaca-kaca. Saat itu perempuan jelita tersebut sedang bergelut dengan ujiannya sendiri. Sakit yang mendera tubuhnya ternyata justru menguatkan kejernihan pikirannya. Kata-katanya sampai ke hatiku dengan lembut.

"Ini hidup kamu. Kamu yg nentuin. Aku yakin sama kamu :)"

Kalimat selanjutnya yang ia ketik membuatku tersenyum dan menjawab dalam hati, there's nothing friend like you J

"Kamu gausah risau kalo ada temen-temen kayak aku yang nanya-nanya. Gausah juga maksain diri cerita masalahmu ke orang lain yg belum tentu bisa ngasih solusi."

Kujawab ringan, "You're one of my unique friend. Gak ada duanya. Justru aku cerita, karena kamu yang tanya."

***

Kupandangi dua buah aplikasi chat. Tertera angka dua dan empat. Diaplikasi biru, ada empat pesan tak terbaca, yang tentunya tidak aku balas. Diaplikasi berwarna hijau pupus ada dua pesan tak terbaca. Keduanya, dari orang yang sama. Orang, yang sebenarnya aku tidak pernah mengenalnya secara personal.

Jika mengingat pernyataan perempuan tentang sesal yang hanya boleh atas dosa kita terhadap Allah dan manusia. Mungkin ini salah satu hal kecil, yang membuatku tidak berhenti menyesal. Nyatanya, faktanya, ada yang terluka atas keputusanku. Ada yang terzalimi, karena keputusanku. Mungkin orang itu, nama yang tertera di unread message itu, juga termasuk orang yang aku berhutang permintaan maaf padanya.

Siang itu, lewat sebuah pesan lain, yang mengingatkanku bahwa aku harus bergerak dari milestone satu ke milestone berikutnya. Aku akhirnya memutuskan untuk membuka, dan membaca pesan yang terabaikan lima bulan lamanya.

Kutulis kalimat singkat dan padat. Berisi permintaan maaf, dan sedikit penjelasan mengapa aku tidak bisa merespon pertanyaannya. Kusalin kalimat yang sama, kukirim pesan sama persis lewat dua aplikasi berbeda.

***


"gapapa kok"

":)"

Beban itu seolah terbang seiring responnya aku baca. Dua kata singkat, diiringi emoticon senyum. Bukan stiker, bukan emoticon bawaan aplikasi. Tapi emoticon yang tersusun dari dua tanda baca. Titik dua, kurung tutup.

***

Pelahan, mungkin tidak bisa cepat. Rasa sesal yang masih tertinggal ini, mungkin akan terhapus. Aku cuma perlu berusaha mendaki satu demi satu milestone. Dosa pada Allah, harus terus menerus ditaubati, diistighfari. Dosa pada manusia, selain taubat kepada Allah, juga harus meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Aku nyatanya, cuma manusia biasa yang punya banyak dosa. RahmatNya menutup rapat sehingga hanya aku dan orang tertentu yang diizinkanNya untuk tahu.


Aku.. cuma salah satu dari keturunan Adam. Yang belajar, dan akan terus belajar, bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab akan kesalahan yang diperbuat. Berharap kelak, mati dalam keadaan terbaik menghadapNya. Berharap kelak, diizinkan mencicipi Jannah-Nya, yang lebih luas dari langit dan bumi.

The End.

***

PS: Lama rasanya tidak menggunakan hashtag #fiksiku, lebih sering menggunakan hashtag #fiksi. Mau tahu bedanya apa? #fiksi hanya fiksi, mungkin inspirasinya dari kejadian nyata, tapi hanya fiksi. Fiksiku, lebih banyak dari kisah nyata, disajikan dalam tulisan ala fiksi. Tapi keduanya, sebenarnya cuma potongan saja, tidak pernah bisa menggambarkan kejadian asli yang menjadi inspirasi awalnya, atau tidak pernah bisa melukiskan detail kisah nyata nya.

PPS: Ga sesulit itu menulis panjang di aplikasi hp ternyata hehe. Tulisan ini, bukan by Isabella Kirei, tapi by The Magic of Rain ~

Saturday, March 11, 2017

Saturday, December 24, 2016

Keputusan Tepat dan Bijak

December 24, 2016 0 Comments
Bismillah.

from visualhunt
Tadi malam, aku dibuat tersenyum, rindu, terharu, dan perasaan positif lain yang ga bisa aku gambarkan.
"Owh geto, emang tiket blum dibatalin ikih yaa. Ok sipp. Pilihan yg sangat tepat buat masa depan. Skrng udah dikosan. Mama seneng dg keputusanmu yg tepat dan bijak."
- SMS Mamah, 23.12.2016 | 18:15:44
***

Wednesday, November 2, 2016

Tentang Pilihan Sikap

November 02, 2016 0 Comments
#blogwalking #opini

Bismillah.

Pilihan Sikap
Akhir-akhir ini ada perbedaan pendapat tentang pilihan sikap yang harus diambil terhadap peristiwa heboh di DKI Jakarta. Alkisah, salah satu calon PILKADA, mencaci isi Alquran. Berawal dari sana, kemudian muncul banyak reaksi, tuntutan, dan harapan tindak lanjut.

Aku jujur bukan orang yang paham persis ilmu, aku beberapa waktu yang lalu cuma menjadi pemirsa, yang membaca dari banyak sumber, namun tidak berani bersuara. Tapi rasanya, memilih sikap dalam hati saja, tanpa menyuarakannya, atau menuliskannya, atau dalam perilaku, aku rasanya begitu pengecut. Padahal aku yang dulu, selalu buka suara, tentang pilihan, prinsip, atau sejenisnya. Minimal lewat tulisan, meski hanya bs dilihat orang-orang tertentu, atau meski ga di share, nulis di sini aja.

Jadi kali ini, izinkan aku menulis di sini juga, tentang pilihan sikap yang aku ambil. Meski aku belum bisa ikut pergi ke sana, di hari itu.

***

Friday, October 23, 2015

Allah-centric

October 23, 2015 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

Allah centric, saat mendengar frase itu apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Centric dari kata central atau bahasa indonesianya pusat. Allah centric artinya memusatkan perhatian kita pada Allah. Gitu bukan? Atau, boleh dikatakan istilah "Allah centric" adalah istilah modern dari Allahu ghayatuna (Allah sebagai tujuan kita). Bener ga? Tolong koreksi ya kalau salah

***

"Average people are passion/desire centric, extra ordinary people are Allah centric." -islamicthinking [tumblr]

Allah centric, satu frase yang sederhana dibaca dan ditulis, namun prakteknya? Ya, Cuma orang-orang luar biasa yang bisa menjaga tiap detik, tiap langkah dalam hidupnya untuk terus berpusat pada Allah, titik patokannya Allah. Saat hendak melakukan sesuatu, yang dipikirkan adalah, "Apakah hal ini Allah sukai? Atau justru Allah benci?"

Sulit untuk menerapkan "Allah centric" di kehidupan sehari-hari, kenapa? Karena ada banyak faktor yang membuat kita akhirnya bimbang. Seperti di kutipan sebelumnya, rata-rata orang berpusat pada passion/desire mereka, mereka lebih sering melakukan apa yang mereka inginkan/sukai dan meninggalkan hal-hal yang mereka benci. Atau... Ada juga orang-orang yang "people centric", mereka ngikut kebanyakan orang, melakukan hal-hal yang disukai orang lain, dan meninggalkan hal-hal yang dibenci orang lain.

Friday, May 29, 2015

Single Fighter, Doa, dan Cedera Main Futsal

May 29, 2015 0 Comments
Bismillah.

Maaf judulnya pasti membuat pembaca bingung, karena memang ketiga frase tadi sekilas tidak berhubungan. Tapi di satu dua hari yang penuh hikmah, aku menemukan hubungannya.

sumber gambar
***

Menempuh jalan yang sunyi membuat diri seringkali berfikir bahwa saat ini masih sendiri. Masih jadi single fighter, di medan perjalanan yang menanjak dan berbatu. Dan pikiran itulah yang membuat diri sedih, dan mencari teman seperjalanan.

Tuesday, January 6, 2015

I'm Introvert in Someway

January 06, 2015 0 Comments

Bismillah..



48. dlm hal mendapatkan ‘energi’. #introvert : menyendiri melakukan hal yg ia senangi. #ekstrovert : berinteraksi dgn banyak org
49. dlm hal komunikasi. #introvert : berpikir sebelum berbicara. #ekstrovert : berbicara sambil berpikir
50. dlm hal interaksi. #introvert : lebih banyak mendengar. #ekstrovert : senang berbicara
51. dlm hal ‘menjawab panggilan keramaian’. #introvert : bth diberikan alasan trlebih dahulu. #ekstrovert : langsung meluncur tanpa pertimbangan

Tuesday, October 21, 2014

Menuju Satu Muharram 1436H : Buat, Tulis dan Laksanakan Komitmen

October 21, 2014 0 Comments

*image is taken from this


Bismillah..

Hitungannya tinggal beberapa hari lagi menuju Muharram, bulan pertama di tahun Hijriah. Dan di awal tahun ini... adakah komitmen yang ingin kita buat dan laksanakan?

***

Berawal dari obrolan di grup chat sebuah unit, sebut saja Aksara Salman ITB. Pengurus ditantang salah seorang alumni (Kang Firman), untuk membuat komitmen, mendeklarasikannya di dalam tulisan, dan tentu saja melaksanakannya.

Dan deadline penempelan komitmen di sekre Aksara Salman, Gedung kayu lt.2 adalah hari Jumat ini (31/10) sebelum magrib.

Sunday, October 12, 2014

Monday, June 2, 2014

Bisa Karena Terbiasa

June 02, 2014 0 Comments



-Muhasabah Diri-

Bismillah..

Sedikit nyambung dengan artikel Jangan Takut Berubah.

A : "Aku ga bisa B, sulit banget untuk menghindari itu."


A' : "Memang tidak mudah. Tapi perlahan jika sudah terbiasa, tentu tidak akan sesulit itu."

* ceritanya, A dan A' adalah satu orang, ada kecamuk dihatinya saat ia merasa berat terhadap sebuah perubahan yang ingin ia buat.

Perubahan apa? Apapun.
***

Wednesday, May 7, 2014

Jangan Takut Berubah

May 07, 2014 2 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah..

Seringkali, ketika kita memilih untuk berubah, ada hal-hal yang akan hilang. Dan perasaan kehilangan itu, membuat kita takut. Mungkin yang hilang adalah teman-teman kita, perhatian orang tua kita, pacar *eh, harta, dll.

Perubahan seringkali menuntut kita, "yakinkah kau mau berubah dengan segala konsekuensinya?"

Thursday, May 1, 2014

Wednesday, October 9, 2013

Keputusanku

October 09, 2013 1 Comments
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
-Robert Forst-


-muhasabah diri, opini-

Bismillah....

Berawal dari sebuah kepanitiaan, dan jobdesk selalu familiar untuk dijalankan. Berawal dari sana, Allah membuka mataku.

Ya, bisa jadi itu tidak terjadi. Peluangnya memang tidak besar, tapi tidak juga kecil.
Ya, bisa jadi... aku terdengar aneh dan terlalu berlebihan. But well this is me, suka atau tidak itu hakmu, hak kalian.

***

Hanya berteman dengan perempuan di jejaring sosial.

Jika ada yang bertanya "Mengapa?"

ijinkan aku menjawab : "Mengapa tidak?" hehe J.

Komunikasi yang "penting" antara perempuan dan laki-laki, toh tidak akan menjadi terhalangi karena belum friend. Sungguh. Ada banyak fasilitas yang bisa menjembatani komunikasi tersebut :

1. Group -- organisasi, kelompok tugas, kepanitiaan, apa lagi? Bisa kok di sini. Bahkan bisa summon orang yang belum jadi friend kita asalkan ia sudah berada di grup yang sama. Jadi? Mengapa tidak?

2.  Message -- Ada hal yang hal personal yang harus ditanyakan atau disampaikan? tapi ini penting *nasihat misal, atau tanya pelajaran, dkk. Bisa kok via message. Setahu saya, meski tidak "friend", masih bisa mengirim message ke orang tersebut. Jadi? Mengapa tidak?

See? Jadi, mengapa tidak?

***

Jika ada yang merasa tidak setuju. It's okay, let's just agree to disagree.

Maaf, jika keputusanku membuat kamu, kalian merasa tersinggung dan terluka. hehe.

Maaf, aku hanya ingin menjadi diriku. Mencoba belajar lebih banyak tentang menjaga hijab, iffah, izzah. Mencoba menjaga hati.

Terimakasih yang sudah mau mengerti.

ttd.
Isabella Kirei

***

Terimakasih Ya Allah. Segala Puji MilikMu. Alhamdulillah.. telah membuka mataku tentang ini.

*tentang graphsearch. awalnya sekedar tahu (*belum pernah make), sampai akhirnya speechless (*won't let any stranger use that "bad thing" to me).
“Wanita sholeha itu tidak suka mengenali dan dikenali,
Tidak suka memandang dan dipandang,
Di bibirnya tidak meniti nama-nama lelaki,
Dan di bibir lelaki tidak meniti namanya”
— quotes
Allahua'lam bishowab

Wednesday, July 17, 2013

Terawih Untuk Wanita

July 17, 2013 0 Comments
Bismillah...
:: SHALAT TARAWIH UNTUK WANITA LEBIH BAIK DI RUMAH DARIPADA DI MASJID

Shalat tarawih untuk wanita adalah lebih baik di rumahnya, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam:

"Aku telah mengetahui bahwa engkau senang sekali jika dapat shalat bersamaku. ... Shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku."

Namun, jika pergi ke masjid tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan sudah berhijab dengan sempurna, juga di masjid bisa dapat faedah lain selain shalat seperti dapat mendengar nasehat-nasehat dari orang yang berilmu, maka shalat tarawih di masjid diperbolehkan dengan memperhatikan syarat-syarat keluar rumah, di antaranya

1. Menggunakan hijab yang sempurna

2. Minta izin kepada suami atau mahrom terlebih dahulu dan hendaklah suami atau mahrom tidak melarangnya

3. Tidak menggunakan harum-haruman dan perhiasan yang menimbulkan godaan

4. Jangan sampai terjadi ikhtilath ketika masuk dan keluar masjid

(diringkas dari artikel muslim.or.id "Shalat Tarawih Bagi Wanita")
dapet dari sini.

Wednesday, June 19, 2013

Publish Online Saja

June 19, 2013 0 Comments
Bismillah...

"Jadi kita mau publish online aja," ucap seorang teteh kepada adik juniornya, staff media di organisasi tempat ia mengabdi.

Yang diberitahu, hanya diam. Terlihat ragu untuk mengutarakan pendapatnya. "Tapi teh," akhirnya ia bersuara. Dijelaskannya pada teteh tersebut tentang perbedaan sasaran syiar online dan offline. Si teteh mengangguk setuju. Namun kembali menegaskan kepada adik juniornya, bahwa saat ini... dana menjadi kendala utama mengapa media yang sedang mereka bangun tidak bisa di cetak.

Thursday, May 23, 2013

Ijinkan Aku Pergi

May 23, 2013 0 Comments

Bismillah..

Seorang akhawat bertanya dengan kesal. "Ini mau sampai jam berapa?"

"Rapatnya", tambahnya memperjelas.

Wajahnya kusut, ia mendengus kesal sembari menekan tuts keyboard hingga bersuara cukup keras. Yang ditanya (seorang ikhwan), dengan selow menjawab sekenanya. Ia tidak menangkap nada kekesalan dari pertanyaan si akhawat.
"sampai jam 9 aj
memang mau ad acra
?"