Follow Me

Sunday, June 21, 2020

Cerita Abstrak Ujian Ego dan Hikmahnya

Bismillah.

*warning* aku kasih judul cerita abstrak, karena ingin cerita, tapi hanya sebagian. Akan banyak perumpamaan, bukan cerita lugas, akan banyak ketidakjelasan. abstrak.

Alkisah, egoku diuji. Seseorang memberitahu bahwa aku bersalah, tanpa menyebutkan detailnya, pada bagian mana aku salah. Aku merasa egoku diusik, dikritik memang sudah menyakitkan, ini ditambah, aku tidak diberi penjelasan apapun. Alhasil aku cuma bisa mewek dan menulis di sini, tentang bagaimana kejadian itu membuatku meragu.

Suatu hari, aku diberi Allah kesempatan untuk konsultasi dengan 'guru lama'-ku. Curhat panjang via chat. Sang guru kirim vn, karena memang ada hal-hal yang sulit dituliskan, dan lebih mudah diucapkan. Karena menyampaikan nasihat lewat ucapan itu ada intonasi, ada suara lembut yang mengetuk pelan gendang telinga. Dari vn itu aku belajar, bahwa aku tidak beradab, atau kalau itu terbaca terlalu kasar, maksudku... ternyata aku masih perlu banyak belajar tentang adab. Ternyata, ada yang harus aku petik, dari ujian ego sebelumnya. Saat seseorang memilih untuk tidak menyebutkan menyebutkan salahku dimana saja, aku seharusnya bisa mencarinya sendiri, lewat cermin. Dan... aku seharusnya bisa lebih berprasangka baik akan alasan orang itu memberitahuku bahwa aku bersalah tanpa menyebutkan detailnya. Dang! Sampai di situ, aku mewek lagi. Karena ternyata yang aku pikir ujian ego, ternyata bukan hanya ujian ego. Tapi juga ujian zann, ujian yang sudah takterhitung berapa kali aku remidial.

Selanjutnya, aku bertanya-tanya pada diri. Hei Bell, kau kini sudah tahu kesalahanmu dimana. Sekarang, maukah kamu mengakui kesalahan tersebut, dan memperbaikinya? Maka dengan langkah malu-malu kuberitahu seseorang yang memberiku soal ujian ego. Bahwa aku mengakui akan kurangnya adabku. Selain itu, aku juga berusaha menata hati dan otakku agar segera lari jika ada prasangka buruk yang pdkt. Seseorang itu, tanpa ditanya bercerita bahwa ia kemarin sakit, dan baru membaik. Ia juga memberitahuku untuk mengulang dari 0, mari mengulang yang terlewat begitu mungkin maksudnya. Agar aku bisa tahu sendiri salahku dimana tanpa perlu bertanya padanya.

Di suatu hari yang berbeda, sejalan, sembari semua kejadian itu. Allah mempertemukanku dengan sebuah lingkaran cahaya yang baru. Yang akan menjawab semua gelisah, resah dan keraguanku. Yang bisa membantuku, mengeja, bagian mana dari "tulisan"-ku yang typo, salah ejaan, tidak baku, salah tanda baca, dan banyak kesalahan yang lain.

Allah memberiku hadiah, hanya karena aku mau mengerjakan ujian ego dan zann, dan tidak lari ke tempat yang salah. Seolah..., oke, kamu mungkin memang tidak sempurna mengerjakan ujian ego dan ujian zann kali ini. Tapi karena kamu berusaha mengerjakannya, salah menjawab dan malu-malu mengakui kesalahanmu. Dikenalkan aku dengan lingkaran cahaya yang akan menjagaku hari ke hari sampai dzulqa'dah kelak. Semoga sih lanjut mendaftar lagi terus di gelombang berikutnya.

Hikmah dari ujian ego itu, aku rasakan lagi malam ini. Aku ingat sekali keluhanku betapa mahal 3 menit waktu orang lain. Tapi malam ini, ada yang mau meluangkan waktu 7 menit 24 detiknya, untuk mengajarkanku tentang bagian mana dari soal-soal ujian yang aku salah mengerjakannya, serta mana jawaban yang lebih tepat.

***

Terakhir, alhamdulillah, alhamdulillah bini'matihi tatimusholihat..

Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya