Follow Me

Showing posts with label lupa. Show all posts
Showing posts with label lupa. Show all posts

Sunday, June 14, 2020

Apakah Lupa Sebuah Kesalahan?

June 14, 2020 1 Comments
Bismillah.




Pekan ini #1m1c temanya tentang lupa. Ada beberapa ide sebenarnya, seperti 3 hal yang tidak boleh dilupakan dalam hidup, tapi.. ternyata sulit milih tiga. Baru nemu dua, tapi rasanya salah hehe. Lalu aku memikirkan gagasan lain terkait lupa yang bisa ditulis, dan judul ini lah yang terlintas di kepalaku.

Apa lupa sebuah kesalahan? Bagaimana menurutmu apakah lupa sebuah kesalahan?

Tahun 2012, aku pernah menulis tentang lupa, bahwa lupa itu pilihan, takdir, dan kemampuan. Dan jawaban dari pertanyaan di judul menurutku ada kaitannya sama ini.

Baca juga: Melupakan

Sekilas, kita akan menjawab tidak, bagaimana mungkin lupa adalah kesalahan? Kan lupa adalah hal manusiawi?

Tapi coba bayangkan. Misal kamu dan temanmu janjian untuk olahraga bersama tiap hari Ahad. Suatu hari temanmu tidak datang, padahal sudah ditunggu-tunggu 2 jam lebih, kamu selesai lari, masih kamu tunggu. Mungkin temanmu lupa, begitu bathinmu kemudian menelpon atau chat temanmu, dan benar prediksimu. Ini satu kali, bisa dimaklumi. Ini bagian lupa adalah takdir, bahwa manusiawi kita bisa lupa. Mungkin kita terlalu sibuk dan banyak urusan, sehingga kita lupa pada janji yang pernah kita buat. Tapi bagaimana jika kesalahan ini diulang berkali-kali? Bukankah itu menjadi sebuah kesalahan? Mengapa? Karena melupakan bisa juga pilihan. Saat terjadi berulang terus menerus, artinya, ada yang salah. Mungkin hal tersebut tidak terlalu penting bagi kita sampai kita melupakannya. Iya memang, manusiawi, kita bisa lupa berkali-kali, tapi apakah masih bukan kesalahan jika kita pun tidak berusaha untuk mengingat? Padahal melupakan juga sebuah pilihan?

Sampai di sini, apakah jawabanmu berubah? Atau masih sama? Tentang melupakan sebagai sebuah kesalahan?


Dulu... aku mengira lupa adalah tabiat manusia, kalaupun lupa adalah kesalahan, itu kesalahan kecil. Tapi semenjak aku membaca sebuah tulisan, perspektifku jadi berubah.[1]

Tulisan itu menjelaskan tentang salah satu ayat di quran yang mengajarkan kita doa. Doa, agar kita tidak dihukum jika kita lupa. Mengapa Allah mengajarkan doa ini pada kita? Ternyata... tabiat manusia yang lupa ini, bisa menjadi kesalahan dan masalah besar untuk kita sendiri. Apalagi kalau yang kita lupakan adalah hal yang sangat penting, seperti melupakan jati diri kita sebagai seorang hamba, lupa kalau semua perbuatan kita saat hidup akan dipertanggung jawabkan.

“Laa tu-aakhidznaa in nasiinaa aw akh-tha’naa.” Jangan hukum kami jika kami lupa. 
Bagaimana orang bisa lupa? Kapan seorang anak muda bisa lupa salat? Kalo dia nonton film. Dia nonton, filmnya bagus, Maghrib datang, lalu Maghrib pergi. “Oh, aku belum salat Maghrib. Yaa, sudah Isya. Yaa, aku lupa.” 
Kamu lupa ketika kamu sibuk sama hal-hal yang kurang penting, dan kamu malah tinggalkan sesuatu yang lebih penting. 
Kamu harus berupaya di hidup kamu, untuk tidak membolehkan hal-hal penting di hidupmu menjadi terlupakan. Ini butuh perencanaan (planning), ini juga butuh upaya (effort). Tidak akan terjadi secara otomatis. 
Kita minta sama Allah, “Robbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiina aw akh-tha’naa.” Perhatikan kata-katanya. Jika menggunakan kata bentuk lampau (past tense), itu berarti, lupa dan melakukan kesalahan itu dilakukan cuma sekali, di waktu lampau, bukan terus-menerus lupa dan terus-menerus melakukan kesalahan. 
Doa ini mengandung sumpah atau janji, “Ya Allah aku akan mengupayakan yang terbaik supaya aku tidak lupa, dan aku akan mengupayakan yang terbaik supaya aku tidak bikin kesalahan.” Tapi akankah terjadi, lupa dan bikin kesalahan? Ya, itu akan terjadi. Tapi itu tidak terjadi dengan direncanakan. Itu tidak terjadi dengan disengaja.
- Heru Wibowo, dalam tulisan Ayat yang Dijemput di Singgasana-Nya
***

Jadi apakah lupa sebuah kesalahan? Jawabannya ya, jika yang kita lupakan adalah hal penting. Jawabannya ya, jika kita tidak berusaha sama sekali untuk mengingat hal penting tersebut. 

Dan jika lupa adalah kesalahan, seperti kesalahan yang lain, akan ada penyesalan yang kita rasakan, apalagi kalau kita tahu hal yang kita lupakan itu penting. Sebaliknya, jika kita merasa sesuatu itu tidak penting, maka saat melupakannya, kita tidak akan menyesal. Itulah mengapa kita harus tahu, hal-hal apa yang harus diingat dan tidak dilupakan dalam hidup.

Terakhir, yang ini bonus. Di awal aku bercerita niatan menulis tentang tiga hal yang tidak boleh dilupakan dalam hidup. Aku ingin menuliskannya di sini, untukmu yang sudah baca sampai akhir. Tiga hal ini, hanya tiga dari hal penting lain yang tidak boleh dilupakan. Bisa jadi juga aku tidak tepat memilih tiga. Jadi apa bel tiga hal itu?

1. Jati dirimu, siapa kita, bagaimana sifat dan karakter kita, keunikan kita. Termasuk bahwa kita seorang hamba, yang diberikan syakilah atau kemampuan unik untuk menjalankan misi kita di bumi, menjadi khalifah, eh, khilafah.

2. Bahwa hidup itu anugrah. Setiap nafas, setiap detik, adalah anugrah yang harus disyukuri. Seberat apapun beban yang kita pikul, segelap apapun hari yang kita lalui, ingatlah bahwa hidup adalah anugrah.

3. Bahwa kamu berharga dan dicintai. Bukan cuma oleh manusia lain, tapi yang terpenting oleh Rabb yang menciptakanmu. Yang terakhir ini bisa membuatmu bertahan dan tersenyum sembari menjalani hidup, hidup yang diisi dengan ujian silih berganti. Karena saat kita tahu bahwa kita berharga dan dicintai Allah, itu cukup untuk membuat hatimu tenang meski dirimu diliputi awan gelap yang mengundang resah, takut, dan perasaan negatif lain.

Sekian. Allahua'lam.

Terimakasih sudah membaca ~

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi minamal satu cerita dalam satu minggu.

Friday, May 24, 2019

Salah Baca? Atau Salah Ingat?

May 24, 2019 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking


Sekitar beberapa waktu yang lalu, aku blogwalking. Aku masih ingat isinya. Tentang pengalaman pemilik blog saat ada ibu tua yang menyapanya, dalam bahasa jepang. Awalnya ia mengira ibu tersebut hanya seorang ibu yang ramah dan suka menyapa. Namun ternyata bukan cuma sapaan, ibu tersebut melanjutkan sapaannya dengan berbagai pertanyaan. Pertanyaan terkait apa? Terkait hijab yang dipakai pemilik blog tersebut.

Aku ingat, ia menuliskan transliterasi sapaan ibu tersebut. Termasuk transliterasi pertanyaan awal ibu tersebut. Kemudian menuliskan, apa yang ibu tersebut tanyakan. Tentang hijab, apakah dipakai untuk menghangatkan saat musim dingin? Apa musim panas juga dipakai? Tentang apakah hal tersebut berkaitan dengan kepercayaan atau agama tertentu? Apakah harus warna tertentu, apakah tidak boleh yang bercorak, atau ada bunga-bunganya? Qadarullah saat itu pemilik blog menggunakan hijab polos (tanpa pola/corak) berwarna biru tua. Ia menjelaskan ditulisannya, ia mencoba menjelaskan dengan keterbatasan bahasanya.

Tulisan singkat itu sederhana, namun begitu mengena sehingga sampai saat ini aku masih mengingatnya. Aku saat itu berpikir tentang hidayah, yang bisa hadir bahkan kepada seorang tua, yang memiliki keterbatasan informasi. Ia mungkin hanya penasaran, karena beberapa kali melihat turis/pendatang mengenakan 'tudung kepala' yang berbeda-beda tapi tampak seragam. Ia mungkin pernah bertanya, namun tidak menemukan jawaban karena keterbatasan bahasanya, dan bahasa orang yang ia tanya.

Lewat tulisannya, aku jadi ikut merasakan manisnya, jika perjalanan kita di atas bumi-Nya, bukan cuma bentuk wisata, tapi juga jalan untuk mengenalkan orang lain tentang islam. Bahkan tanpa kita secara 'aktif' melakukannya. Beautiful, isn't it? Karena perempuan Allah perintahkan berhijab, salah satunya agar mudah dikenali. Kita mungkin "hanya" berjalan, tapi lewat itu Allah memperkenalkan orang lain tentang islam. Ada yang bertanya, ada juga yang googling karena kuriositasnya. Beberapa mungkin mengiyakan strereotipe yang ada, namun beberapa bertanya ulang akan hal tersebut karena 'pernah' berinteraksi dengan seorang muslim.

Tulisan itu... aku kira, aku mengingat dimana aku membacanya. Dan aku bertekad kelak menuliskannya dalam tulisan #blogwalking. Namun saat aku mencari di tempat aku kira aku membacanya, tidak ada. Aku jadi bertanya-tanya, apa aku salah baca? Atau memang tulisannya sudah dikembalikan ke draft? Ingin rasanya bertanya pada pemilik blog, tapi aku belum berani hehe. Bukan karena pemilik blognya menakutkan. From what I read in her blog*, I think she's kind, and beautiful, and younger than me. But I just... don't know how to start converstation. It felt weird to ask in the comment section, while it's not connected with the post she published. Or should I add/follow one of her social media, just to ask this 'weird' question?

***

Ada yang pernah baca tulisan blog dengan kisah mirip dengan itu? Atau ada yang mau bantu tanyain? Hehe. Atau... minimal bantu doain aku ya. Semoga diberikan keberanian untuk bertanya hehe. Harusnya sih biasa aja. Tapi.. aku terlalu sering menyimpan kuriositasku sendiri, karena terbiasa jadi silent reader  kalau blogwalking hehe. Lagian, aku takut salah baca, atau salah ingat.

Anyway... siapapun itu yang menulis itu. Terima kasih sudah menulisnya. ^^

Terakhir, semangat menulis, semangat blogging~ Have a barakah last 10th days of Ramadhan J

Allahua'lam.

Saturday, July 27, 2013

Buku Catatan

July 27, 2013 0 Comments

Bismillah..
Setiap melihat tulisan, quote, status, posting, gambar, atau apapun. Rasanya ingin memindahkannya ke sini.. kemudian menuliskan satu dua baris kata tentangnya.

Mungkin rasa itu, yang berhasil membuat blog ini tetap rame (di isi dan dikunjungi diri).

Bagiku, di sini seperti sebuah buku catatan. Dimana setiap hal menarik yang kulihat, kubaca, kudengar dan kutonton, ingin kucatat. Kuabadikan dalam rekam memori berupa gambar dan tulisan.
-ucap Isabella Kirei dalam benaknya

Wednesday, July 24, 2013

Cinta, Takut, dan Harap

July 24, 2013 0 Comments
-muhasabah diri-

Bismillah...

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: Barangsiapa menyembah Allah dengan cinta saja maka sungguh ia Zindiq. Barangsiapa menyembah Allah dengan harap saja maka ia adalah Murji'. Barangsiapa menyembah Allah dengan takut saja maka ia haruri. Mukmin bertauhid menyembah Allah dengan ketiganya: takut, harap, dan cinta. (Bukunya Salim A. Fillah, judul: saksikan bahwa aku seorang muslim, halaman 165)

Wednesday, June 20, 2012

Melupakan

June 20, 2012 0 Comments
Bismillah..

Jika melupakan masa lalu bisa membantumu mengatasi hari ini, maka lupakanlah^^

Jangan stuck dengan hari kemarin, walaupun benar adanya.. dari hari kemarinlah kita ambil pelajaran, agar tak terulang kesalahan, agar semakin baik hari demi hari. Tapi jika dengan mengingat hari kemarin, yang ada hanya penyesalan demi penyesalan. Atau harapan semu ingin kembali ke sana (baca: ke masa lalu). Lupakanlah! Lupakanlah!

 
***

Mudah sekali kiranya, kutulis kata demi kata di atas. Melupakan. Semudah itukah melupakan?

:)) Ya, i'm going to talk about forget-ing something (*rusaklah itu grammar, hehe peace :P)

Melupakan. Kata kerja transitif, benar tidak? Ya.. tanpa objek, maka kata 'melupakan' akan terdengar samar. Melupakan apa, siapa? Melupakan terkait dengan memori, otak dan juga hati. Kok bisa hati dibawa-bawa? :)

Pernah dengar atau baca qoutes ini?
"People will forget what you say.. People will forget how you look like.. But people, will not forget how you made them feel" -someone i forget-
Quotes di atas aku dapatkan waktu matrikulasi (*juli 2011 yang lalu). Membaca quotes tersebut, membuat kita sadar.. bahwa memori, bukan sekedar yang ada di otak, tapi juga yang di hati. Contoh real dari qoute di atas adalah pepatah lain yang bunyinya "first love never die". Cinta pertama, biasanya adalah yang paling diingat, susah dilupakan, dll. Kenapa? Bukan karena si dia yang cantik/tampan. Bukan itu, yang membuat kita ingat adalah.. karena itu pertama kalinya kita 'jatuh' cinta (*people will not forget how you made them fell).

***

Melupakan. Sebuah pilihan. Sebuah takdir. Sebuah kemampuan.

(*image taken from this)


Yang pertama (baca: melupakan sebagai pilihan), adalah hak kita. Ya, untuk melupakan atau tidak melupakan adalah pilihan kita. Jika ingin melupakan, maka buang jauh hal-hal yang bisa membuat kita ingat. Jika tidak ingin melupakan, maka rekam dan abadikan hal tersebut (bisa berupa foto, tulisan, video atau apapun).

Yang kedua (baca: melupakan sebagai takdir), adalah hak Allah. Ya, kita tak pernah benar-benar bisa mengendalikan apa yang ingin kita ingat dan ingin kita lupakan. Itu hak Allah. Allah bisa saja membuatmu lupa, padahal baru sedetik yang lalu ia dihadapanmu (*baca: kunci, buku, hp). Allah bisa saja membuatmu ingat, padahal itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. IA-lah yang menguasai hati dan pikiran kita. Jika IA berkehendak, maka IA hanya perlu mengatakan 'Kun' (baca: jadi), maka jadilah.

Yang ketiga (baca: melupakan sebagai kemampuan), adalah keunikan masing-masing pribadi. Everyone was unique. Maka akan kau temukan seseorang yang bisa mengingat nama dan wajahmu hanya dalam hitungan detik. Maka akan kau temukan seseorang yang masih sering lupa nama dan wajahmu, walau setahun kau mengenalnya. Maka akan kau temukan, ia yang mengingat detail kejadian, atau ia yang melupakan dengan mudah hal-hal besar di hidupnya.

Terakhir tentang melupakan:

Bagiku, jangan paksakan diri untuk melupakan jika kau benar-benar ingin melupakan. Karena pada akhirnya, kau justru akan mengingat.

Bagiku, jalan terbaik untuk melupakan adalah dengan menyibukkan diri, melakukan banyak hal sampai tak ada waktu bagi diri untuk sekedar me-replay memori.

Bagiku, masa lalu ada bukan untuk dilupakan, atau terlalu dikenang dan disebut-sebut. Ia adalah tempat kita berkaca dan belajar. Jangan lupakan masa lalu, sekalipun itu pahit atau berdarah-darah :P.. Berdamailah saja dengannya. :) Jika memang harus lupa, tak apa. Jika memang harus ingat, tak apa. :) Akan selalu ada manis, asam, asin, pedas, pahit tentangnya.


Wallahu'alam. :))