Follow Me

Wednesday, June 20, 2012

Melupakan

Bismillah..

Jika melupakan masa lalu bisa membantumu mengatasi hari ini, maka lupakanlah^^

Jangan stuck dengan hari kemarin, walaupun benar adanya.. dari hari kemarinlah kita ambil pelajaran, agar tak terulang kesalahan, agar semakin baik hari demi hari. Tapi jika dengan mengingat hari kemarin, yang ada hanya penyesalan demi penyesalan. Atau harapan semu ingin kembali ke sana (baca: ke masa lalu). Lupakanlah! Lupakanlah!

 
***

Mudah sekali kiranya, kutulis kata demi kata di atas. Melupakan. Semudah itukah melupakan?

:)) Ya, i'm going to talk about forget-ing something (*rusaklah itu grammar, hehe peace :P)

Melupakan. Kata kerja transitif, benar tidak? Ya.. tanpa objek, maka kata 'melupakan' akan terdengar samar. Melupakan apa, siapa? Melupakan terkait dengan memori, otak dan juga hati. Kok bisa hati dibawa-bawa? :)

Pernah dengar atau baca qoutes ini?
"People will forget what you say.. People will forget how you look like.. But people, will not forget how you made them feel" -someone i forget-
Quotes di atas aku dapatkan waktu matrikulasi (*juli 2011 yang lalu). Membaca quotes tersebut, membuat kita sadar.. bahwa memori, bukan sekedar yang ada di otak, tapi juga yang di hati. Contoh real dari qoute di atas adalah pepatah lain yang bunyinya "first love never die". Cinta pertama, biasanya adalah yang paling diingat, susah dilupakan, dll. Kenapa? Bukan karena si dia yang cantik/tampan. Bukan itu, yang membuat kita ingat adalah.. karena itu pertama kalinya kita 'jatuh' cinta (*people will not forget how you made them fell).

***

Melupakan. Sebuah pilihan. Sebuah takdir. Sebuah kemampuan.

(*image taken from this)


Yang pertama (baca: melupakan sebagai pilihan), adalah hak kita. Ya, untuk melupakan atau tidak melupakan adalah pilihan kita. Jika ingin melupakan, maka buang jauh hal-hal yang bisa membuat kita ingat. Jika tidak ingin melupakan, maka rekam dan abadikan hal tersebut (bisa berupa foto, tulisan, video atau apapun).

Yang kedua (baca: melupakan sebagai takdir), adalah hak Allah. Ya, kita tak pernah benar-benar bisa mengendalikan apa yang ingin kita ingat dan ingin kita lupakan. Itu hak Allah. Allah bisa saja membuatmu lupa, padahal baru sedetik yang lalu ia dihadapanmu (*baca: kunci, buku, hp). Allah bisa saja membuatmu ingat, padahal itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. IA-lah yang menguasai hati dan pikiran kita. Jika IA berkehendak, maka IA hanya perlu mengatakan 'Kun' (baca: jadi), maka jadilah.

Yang ketiga (baca: melupakan sebagai kemampuan), adalah keunikan masing-masing pribadi. Everyone was unique. Maka akan kau temukan seseorang yang bisa mengingat nama dan wajahmu hanya dalam hitungan detik. Maka akan kau temukan seseorang yang masih sering lupa nama dan wajahmu, walau setahun kau mengenalnya. Maka akan kau temukan, ia yang mengingat detail kejadian, atau ia yang melupakan dengan mudah hal-hal besar di hidupnya.

Terakhir tentang melupakan:

Bagiku, jangan paksakan diri untuk melupakan jika kau benar-benar ingin melupakan. Karena pada akhirnya, kau justru akan mengingat.

Bagiku, jalan terbaik untuk melupakan adalah dengan menyibukkan diri, melakukan banyak hal sampai tak ada waktu bagi diri untuk sekedar me-replay memori.

Bagiku, masa lalu ada bukan untuk dilupakan, atau terlalu dikenang dan disebut-sebut. Ia adalah tempat kita berkaca dan belajar. Jangan lupakan masa lalu, sekalipun itu pahit atau berdarah-darah :P.. Berdamailah saja dengannya. :) Jika memang harus lupa, tak apa. Jika memang harus ingat, tak apa. :) Akan selalu ada manis, asam, asin, pedas, pahit tentangnya.


Wallahu'alam. :))

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya