Follow Me

Monday, May 13, 2024

Pinned Post

May 13, 2024 0 Comments

Bismillah.

 

Beberapa waktu yang lalu, aku mampir ke profil Medium seseorang, di dalamnya ada sebuah Pinned Post, isinya sebuah tulisan yang ia buat untuk mengenang Ayahnya. Almarhum ayahnya yang sudah berpulang terlebih dahulu.

 

Tulisannya panjang, dan aku baru membaca bagian awalnya. Tapi bagian awalnya saja, sudah membuat mataku panas dan menangis. Tulisan yang sudah kubaca entah berapa hari itu, masih saja membekas dan menggerakkan jemariku. Jujur, ingin lanjut membacanya, tapi sayangnya.. aku tidak menyimpan link-nya, pun tidak mengingat nama penulisnya. TT


Sang Ayah meninggal karena kanker. Menjalar dari paru, hingga sampai ke otak. Begitu jarang mengeluh, sampai baru diketahui di hari-hari terakhir, saat sakitnya sudah benar-benar tidak tertahan.


Aku ingat bagaimana penulis, menulis awal tulisannya... ia menyapa ayahnya, bertanya bagaimana di sana, berprasangka baik sebagai bentuk doa, bahwa alam barzakh ayahnya terang dan luas, pun bertetangga dengan orang-orang shalih.


Aku tidak bisa menyelesaikan membaca, karena saat itu rangkaian perasaan negatif tiba-tiba kelabu. Ada ketakutan-ketakutan. Semoga rasa takut ini mengantarkan diri menjadi makin dekat pada Allah. Bukankah itu, salah satu tujuan Allah menciptakan kematian? Allahumma inna nas-aluka khusnul khatimah. Dan doa-doa lain melintas kala ketakutan akan kematian mencekam. Semoga Allah mewafatkan kita sebagai seorang muslim, tawaffana muslima. Semoga Allah wafat bersama orang-orang yang berbakti.


رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًۭا يُنَادِى لِلْإِيمَـٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. [Surat Ali-Imran (3) ayat 193]


Di akhir zaman seperti ini, mengingat kematian seharusnya melembutkan hati kita. Tapi jika kita tidak berhati-hati, masa-masa mengingat kematian ini hanya akan bertahan sebentar saja. Kemudian dalam hitungan menit, kita lupa lagi, kita tenggelam lagi dengan kesibukan memikirkan dunia, kita tenggelam lagi dalam arus gemerlap dunia yang melenakan.


***


Terakhir, izinkan kututup tulisan ini dengan ucapan terimakasih. Jazakumullah khairan, untuk yang menulis tulisan tersebut. Ia mungkin hanya menulisnya untuk Ayahnya, atau untuk dirinya. Tapi tulisan yang ia post di Medium tersebut, Allah antarkan untuk sampai padaku, dan dibaca, meski hanya sebagiannya, tidak sampai akhir. Terima kasih telah mengingatkanku tentang kematian.


Satu lagi, terimakasih juga kepada teteh-teteh Qaf.id. Saat menulis ini, dan kemudian mencari ayat "tawaffana ma'al abrar" di lafzi dan menyalin ayatnya ke sini, aku teringat masa-masa belajar bersama di kortim, melingkar dan berbagi insight dari ayat tersebut. Kalau bukan karena study group Qaf.id, aku mungkin tidak akan merasa begitu dekat dengan ayat-ayat di halaman akhir surat Ali Imran. Aku teringat bagaimana teteh-teteh gak cuma berusaha mengkaji ayatnya, tapi juga berusaha untuk menghafalnya. Miss you all.. *cuma bisa nulis di sini tapi, gak berani nyampaiin langsung. Semoga Allah memberkahi dan memudahkan semua teteh-teteh di Qaf.id. Jazakumullahu khairan.

Wednesday, May 1, 2024

Tidak Ada Perempuan yang Pendiam

May 01, 2024 0 Comments
Bismillah.

 

Judulnya kuambil dari sebuah kalimat paling ngena yang ingin kucatat dari sebuah podcast di youtube. Aku lupa, awalnya dari mana. But Allah somehow guide me to watch and listen to that podcast. Sebuah podcast wawancara, narasumbernya Ustadz Bendri Jaisyurrahman.

 


Ada banyak pelajaran yang bisa diambil, banyak reminder, banyak hikmah. Tentang parenting, tentang pentingnya peran ayah, tentang hikmah dan refleksi, barangkali salah satu alasan mengapa amanah itu belum diberikan, karena aku belum siap, harus lebih banyak belajar.

 

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil, banyak reminder, banyak hikmah. Tentang pentingnya akhlak. Bahwa ilmu kita, akan sia-sia, kalau kita nggak memperbaiki akhlak kita. Pengingat untuk menjadi terbaik kepada orang-orang terdekat kita, keluarga kita.

 

***

 

Balik ke judul. Di salah satu obrolan, muncul kalimat tersebut. "Tidak ada perempuan yang pendiam, yang ada perempuan yang terluka". Karena akhir-akhir ini lagi tertarik dengan psikologi. Kalimat itu membuatku bertekad untuk menuliskannya di sini. Ini pelajaran yang didapat dari observasi dan pengalaman. Bahwa fitrah perempuan itu cerewet, introvert atau extrovert, fitrahnya tetap cerewet. Bedanya kalau extrovert, dia bisa cerewet ke banyak orang. Sedangkan introvert, biasanya cuma cerewet ke orang-orang yang dia nyaman. Dan kalau ia tidak pernah cerewet sama sekali, begitu pendiam, berarti ada luka di hatinya. Luka yang membuat ia menutup diri dan memilih untuk tidak menggunakan fitrahnya yang suka bercerita, dan kebutuhannya mengeluarkan sekian ribu kata dalam sehari.

 

Kalimat sederhana itu membuatku banyak berpikir. Pertama tentang diri. Aku balik cek lagi, bagaimana dulu pas kecil aku pendiem. Trus SD ketemu temen yang cerewet, belajar jadi cerewet haha. Lalu SMP, masih suka cerewet tapi ke orang-orang tertentu aja. Lalu SMA, Kuliah, masa-masa berat. Lalu lebih nyaman banyak menulis saja. Atau kadang bercerita banyak pada orang asing yang tidak dekat. Lalu kembali ke rumah, belajar ulang lagi untuk ngobrol dengan mamah. Kadang lupa, terlalu banyak cerita sampai lupa mendengarkan. Kadang mendengarkan, tapi masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


Kalimat sederhana itu membuatku banyak berpikir. Kedua tentang orang lain. Beberapa perempuan yang menurutku seorang pendiam. Aku bertanya-tanya, apa sisi pendiam itu hanya padaku? Karena aku belum masuk circle orang-orang yang membuat ia nyaman bercerita panjang lebar. Atau memang ada luka di hatinya, yang masih ia simpan, tanpa ada yang tahu satu pun? Jika pun ada luka, semoga Allah menyembuhkannya. Allah, selalu tahu cara yang tepat, skenario yang tepat untuk itu. 


Terakhir, untukmu perempuan-perempuan pendiam. Mari menulis lebih banyak. Kau akan temukan, bahwa meski tetap menjadi pendiam, Allah titipkan penyembuhan lewat menulis. Allah Maha Tahu, bahwa menemukan orang yang mau mendengarkan dan nyaman untuk bercerita itu tidak mudah. Maka Allah ciptakan pena, sebagai salah satu nikmat dariNya untuk yang kesulitan 'menyanyikan' suara hati dalam nada intonasi lisan. Maka menulislah, apapun, abstrak maupun gamblang. Panjang maupun pendek. Jika itu masih kurang, jangan lupa bahwa Allah selalu siap mendengarkanmu. Lewat doa-doamu, dalam bisikan, atau hanya dalam hati. Lewat doa yang tak terucap, tapi coba kau sampaikan lewat lafal-lafal yang diajarkan Nabi dan RasulNya, atau doa yang terdapat di dalam Al-Qur'an. Allah Maha Mendengar, bahkan hembusan nafas pendek yang terasa begitu berat. Atau satu bulir air yang mengalir sunyi dari kelopak mata kananmu. Saat semua orang tidak mungkin mengerti dirimu, ada Allah, selalu ada Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, Yang Mengetahui Isi Hatimu.


Wallahua'lam bishowab.


***


Beberapa doa favorit:

- Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fuanna

- Ya Muqallibal qulub tsabbit qalbi 'ala dinik

- Laa ilaha illa anta subhanaka faqina 'adzabannar

- Rabbi inni massaniyadhurr wa anta arhamurrahimin

- Allahummaj'alni minattawwabina waj'alni min 'ibadika shalihin

- satu lagi, doa yang belum dihafal karena lumayan panjang. doa supaya dijadikan Al Quran sebagai musim semi, tapi yang lengkap dari pembukanya. Allahumma inna abiduk banu abidik....


*mohon koreksi jika ada yang salah.

Sunday, April 28, 2024

Iqab

April 28, 2024 0 Comments
Bismillah.
 
*warning* selftalk, curcol
 
Pertama kenal diksi 'iqab/iqob' mungkin saat kuliah tahun pertama, lewat unit Mata' (Majelis Ta'lim) Salman ITB. Sebagai seseorang yang dari TK-Kuliah di negri, jujur jarang menggunakan kosakata arab. Sedikit-sedikit mengenal istilah akhi-ukhti, mabit, dan beberapa kata familiar lain dari Rohis SMA. Tapi kata iqab? Hm, baru pernah tahu dari Mata' Salman.

Iqab/iqob artinya hukuman. Dulu kenal istilah iqab, pas dijelasin aturan, kalau telat apel AM Mata' tiap sabtu pagi, ada iqabnya. Aku udah lupa sih dulu iqabnya apa. Tapi aku ingat, karena aturan ini, aku jadi izin ke dosen olahragaku, biar latihan lari di saraga bisa lebih awal, biar gak telat ikut apel, biar gak kena iqab.

Singkat cerita, aku bertemu komunitas yang pendirinya AM Mata' juga. Sudah hampir 2 tahun tidak bergabung, dorongan ingin lebih produktif di bulan Ramadan membuatku akhirnya daftar, juga karena tidak mau di kick dari grup karena sudah terlalu lama gak ikutan programnya. Dan karena ketidakdisiplinanku, aku kena iqab. Iqabnya tadabbur dan share hasil tadabburnya di sosmed, status wa, atau story, atau post di feed ig.
 
Aku tunda terus hukuman itu, hingga hari ini. Alasannya? Gak ada, aku gak punya dalih. Yang aku tahu, aku kesulitan untuk menulis hasil tadabbur karena overthinkingku. Karena aku ingin tadabbur yang baik, yang bukan sekedar tulisan, tadabbur yang terlebih dahulu membekas di hati dan aku usahakan untuk mengamalkannya. Dan hasilnya? Menunda juga tidak memudahkanku untuk mempraktikannya. Aku rindu menulis tadabbur. Tapi sekedar 'iqab', tidak bisa memaksaku untuk melakukannya. Pun MFA kemarin. Padahal draftnya sudah ada. Tapi tetap saja...

I want to write about "How We Loose Our Iman, tadabbur from Al Hadid" for MFA.
 
I want to make a series tadabbur from Surah Luqman, just like what I did for Surah Yasin in ig @betterword_kirei. Aku ingin belajar ulang, membuka lagi google classroom, membaca RM, mengerjakan tugas sharing session. Apalagi saat aku membaca lagi dan lagi surat ini dan artinya, aku merasa ada begitu banyak mutiara hikmah yang harusnya diambil dan diamalkan. Right from the first page. Hmm.

Tapi ketakutanku, bahwa aku hanya sekedar menulis, kemudian meninggalkannya. Seolah selesai sudah proses tadabbur. I hate to think about it. Seharusnya bismillah saja, lalu kerjakan. Tapi mengapa memilih menunda, dan justru tenggelam dalam distraksi? Bukankah kau ingin syawal ini lebih baik dari bulan sebelum kau bertemu Ramadan?

Rasanya ingin lari saja, menghilang sekejap! Mengeja tadabbur di sini, tapi melupakan iqab yang seharusnya dikerjakan. hm.

Anyway, that's for today. Doakan aku, semoga bisa menulis tadabbur meski hanya sedikit. Sesederhana apapun. Kesampingkan dulu overthinkingnya bell. Stop thinking what will people think when you post it somewhere. Just focus to write on yourself. Jika memang sulit untuk membagikannya, kamu selalu bisa untuk menyembunyikannya di sini. You know, this blog is your safe zone. Sejak 2008 lalu. Bukankah kau merasa begitu nyaman di blog ini, sehingga kamu bahkan tidak perlu menyembunyikan tulisan alay jaman SMP dulu? Hehe

So please... jangan lari. jangan menenggelamkan diri. jangan terbawa arus. jangan kalah oleh overthinking. mudahkan, jangan dipersulit.

Wallahua'lam.

Sunday, April 21, 2024

Syawal 1445H

April 21, 2024 0 Comments

Bismillah.

 


Ramadan berlalu, rasa sedih dan rindu masih pekat. Malu, untuk mengeluh tentang Ramadan yang rasanya sama sekali tidak dioptimalkan. Kalau yang lain mungkin punya alasan satu dua, aku.. aku tidak punya dalih. *menggunakan aplikasi translasi google untuk mencari kosakata pengganti excuse karena tersindir tulisan di Medium tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik untuk tulisan. **facepalm emoticon


Tapi penyesalan, hanya akan memberatkan langkah, jika penyesalan itu tidak diikuti dengan pengetahuan tentang-Nya. Ya, penyesalan, hanya akan membuat kita terpenjara di masa lalu kalau tidak diikuti dengan prasangka baik. Bahwa jika detik ini, kita masih diizinkan bernafas, pun matahari masih belum terbit dari barat, artinya, masih ada kesempatan bagi kita untuk terus memperbaiki diri. Untuk belajar lagi dan lagi. Untuk mencoba lagi dan lagi. Dan tidak mengapa gagal lagi dan lagi. Asalkan kita tidak cepat menyerah.


Mari jalani syawal dengan perasaan bersyukur. Rasa syukur atas nikmat iman dan islam. Rasa syukur atas nikmat kesehatan; fisik dan mental[1].


Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk setiap urusan kita. Aamiin.


Wallahua'lam.


***


[1] Aku teringat saat beberapa waktu lalu menulis tentang psikologi sebagai salah satu bidang yang aku minati. Aku baru-baru ini membaca cerita seseorang di channel instagramnya, tentang sakitnya yang membuat ia beberapa kali harus dibawa ke ruang UGD. Aku mungkin tidak akan tahu bahwa perjuangan orang yang sakit mental, bisa sampai begitu.

Tuesday, April 2, 2024

A32: The World is Still Silent

April 02, 2024 0 Comments

Bismillah.

#menjadiarketipe #66haribacabuku


☑️ #DAY32-0090

 

📖 The Aqsa, Henk Kusumawardana

 

📑 Quote:

Palestinian state itself is almost invisible in the map, straddle up by Israel without shame, without feeling guilty and without any sense of humanity, shut their eyes and hearts. They even feel superior and doesn't regard the Palestinians as a human being who also has rights as human, and... the world is still silent.


💡 Insight:

It's depressing to see how cruel the world treat Palestinians, it's happening now, and we see the traces in photos, videos, sound recording. News are delivered, but why the world is still silent? Why we can only deliver the news, but nothing is done? Everyone is still busy living their life, and many people are even ignorant about what really happen.

It's easier to distract ourselves from the truth, choose to pretend as if we didn't know. As if we didn't contribute anything to whathever horrible things happen to Palestinian. But we do contribute, our silence will be questioned in the day of judgement. Can we at least pray? Like really pray? But how can we pray for them, if we even forget when we ever pray for ourselves.

I want to make more noise, using voice and write something for Palestinian. But I'm afraid I only talk but never take any further action. I'm afraid I speak loudly outside, but wrecked inside as I am weak and distracted. I don't want to be like many people, but I think I am. Let's just ask for His Help and His Guidance.

 

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِىٓ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَـٰفِرِينَ

 

Rabbanaghfirlana dzunubana wa israfana fi amrina wa tsabbit aqdamana wanshurna 'alal qaumil kafirin. Aamiin.


Wallahua'lam.

Saturday, March 30, 2024

Energi Sosial

March 30, 2024 1 Comments

Bismillah.

 

*disarankan skip prolognya hehe 

Aku masih sedang membaca buku "Muslim Produktif"-nya Mohammed Faris. Buku ini dulu pernah aku baca secara skimming di Gramedia Purwokerto. Lalu aku pinjam bukunya di iPusnas sejak Juli 2022. Sudah hampir 2 tahun, dan belum juga selesai di baca. Jujur setiap membaca buku semacam ini, aku terlalu sering dikelilingi overthinking dan perasaan takut. Takut kalau aku selesai baca, trus nggak ada yang berubah dari diri aku. Tiba-tiba keinget buku "paling menakutkan" yang sengaja nggak kubuka-buka lagi karena dari sedikit halaman awal aja, aku merasa jatuh bangun buat praktekin At Tibyan. TT yang ini di hide aja kali ya..

 

Tapi overthinking, kekhawatiran dan takut itu... sayangnya sering jadi jebakan setan, yang membuatku malah asik tenggelam dalam distraksi. Allahummaghfirli.. Ya Allah bantu hamba-Mu yang lemah ini..

 

***


 

Di buku Produktifitas Muslim karya Mohammed Faris disebutkan bahwa rumus produktif adalah kombinasi dari tujuan, manajemen waktu dan manajemen energi. Nah, dibagian energi dibagi lagi menjadi energi spiritual, energi fisik dan energi sosial. Energi spiritual mengingatkan pentingnya dzikir dan ibadah buat membantu kita makin produktif. Energi fisik banyak bahas tentang manajemen tidur trus pentingnya olahraga. Nah kali ini, energi sosial.


Apa itu Energi Sosial?

 

Energi sosial adalah energi yang kita dapatkan dari orang-orang di sekitar kita, dari lingkungan kita.


Saat membaca penjelasan tentang energi sosial, aku banyak mengangguk-angguk setuju, bahwa terkadang, kita membutuhkan energi penyemangat dari luar, terutama saat motivasi/energi dalam diri sedang turun. Bahkan seorang introvert pun, yang secara natural cara ia mendapatkan energi adalah dengan menyendiri, ternyata juga tetap membutuhkan energi sosial. Bahkan kalau di buku ini, biasanya butuh effort lebih banyak.


"Sangatlah penting bagi orang-orang introvert untuk bersikap lebih proaktif dan mencari energi sosial karena mereka kurang sensitif terhadap kebutuhan untuk mendapatkan energi seperti itu.

Energi sosial membantu meningkatkan produktivitas Anda dengan menyediakan lingkungan yang kondusif bagi Anda untuk mendiskusikan ide-ide Anda, bekerja, dan bersaing dengan orang-orang yang Anda kenal.

Namun, jika Anda tidak mengelola energi sosial Anda dengan baik, Anda mungkin akan terjebak dalam lingkungan yang menurunkan motivasi dengan orang-orang yang menjauhkan Anda dari proyek-proyek yang produktif."

- Mohammed Faris dalam buku "Produktifitas Muslim"

 

Kalau seseorang ekstrovert, ia akan secara natural pasti mencari energi sosial. Nah, kalau seorang introvert, harus bener-bener proaktif buat cari biar bisa dapetin ini. Caranya gimana?

 

Cara mendapatkan energi sosial yang tepat:

1. Kenali kebutuhan akan energi sosial

Kita harus tahu dulu kebutuhan energi sosial kita. Berapa banyak yang kita butuhkan. Kapan kita membutuhkannya.


2. Putuskan siapa yang ingin Anda ajak bergaul

Pilih orang-orang yang kita merasa nyaman dan cocok untuk mendapatkan energi sosial. Bisa jadi dari keluarga, teman, rekan kerja/rekan tim, penasihat/mentor.


3. Bangun sistem untuk mendapatkan energi sosial secara teratur

Nah ini bagian yang penting banget dilakuin kalau langkah satu dan dua udah selesai. Kita harus nentuin waktu buat dapet energi sosial dari orang yang kita pilih. Meet up, ngobrol, jadwalkan pertemuan, bisa jadi tiap bulan, tiap pekan, atau bahkan tiap hari misal ambil waktu makan siang sekaligus untuk dapetin energi sosial.


"Ingatlah bahwa Anda tidak bisa menerima energi sosial berdasarkan permintaan."

"Jika Anda tidak membangun sistem untuk mendapatkan energi sosial dalam kehidupan Anda, Anda akan merasa terkuras."

#daribuku Produktif Muslim - Mohammed Faris


Ini bener banget sih buatku. Buat yang merasa introvert juga.. jangan sampai kita terlalu lama sendiri, atau terjebak di interaksi-interaksi sosial yang bukannya nambahin energi, eh malah nguras energi. Harus pinter-pinter cari dan buat sistem yang bisa mendukung kita agar energi sosial terpenuhi.


Dan seperti judulnya, karena buku ini mengambil sudut pandang seorang muslim. Aku diingatkan lagi di buku ini tentang betapa islam mengatur tentang ini.


Islam mengatur kita untuk mendapatkan energi sosial secara teratur:

1. Rutin pergi ke masjid

2. Semangat untuk bersikap baik kepada tetangga

3. Anjuran ketika menerima undangan, mengunjungi orang sakit dan mengantarkan jenazah ke kubur

4. Anjuran tentang etika sosial dan menghindari perilaku dalam masyarakat (QS Al Hujurat 11-13)

5. Anjuran untuk makan bersama orang lain


Itu versi highlightnya doang ya, kalau mau baca penjelasan lengkapnya langsung baca bukunya yuk ^^


***


Terakhir, ini ada dua screenshoot tentang bahasan energi sosial, barangkali dengan ini kamu juga ikut teratrik untuk baca bukunya. Atau malah emang udah baca? Kalau udah baca, boleh banget dong, sharing aliran rasa atau bagian mana di buku ini yang paling berkesan buatmu.




Sekian. Bye~


Wallahua'lam.


***


Keterangan : Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Friday, March 29, 2024

A Non Reader Spouse

March 29, 2024 0 Comments

Bismillah.

 

I used to imagine to have a spouse that read this blog to know about me. That kind of what if someone read this blog, and still accept me, and come visit my house, that kind of thought when I was still single.


But here is it today. I found a non reader spouse instead. He read some of course, but he's a non reader type of person. He's an audio. *I mean, he prefer to watch information and often feel dizzy if he must read a long paragraph.


First, I learn again the gap between imagination and reality. And the second, I think Allah's plan is the best. If my spouse was a reader, I might expect him to read my blog instead of communicate. But because he's a non reader spouse, Allah wants me to learn to communicate my mind ^^ So let's learn to communicate nicely and open up slowly. It's 2024, almost 2 years since I marry my spouse.

 

***

 

I usually don't write about him here, cause I have my own space other than this blog to write about him. Anyway, I'm grateful that I have a non reader spouse~ Alhamdulillah.

Monday, March 25, 2024

Don't Read to Judge

March 25, 2024 0 Comments

Bismillah.

 

*Warning* Don't read. Just a ramble I need to write it out of my head.


***

 

Aku banyak menulis di sini keraguanku, rasa takutku, kekhawatiranku, perasaan-perasaan negatifku. But please don't read it if it's just to judge me. I have already judged by mi cloudy brain. I've been feeling so low trying to get up everytime I fall.


It hurts me more when you acknowledge and check all the bad thing I hope I am not, or all the negative I wish I clean up. It made me even more hard on myself.

 

So even if I don't immediately deny, or ask you to stop judging me... actually I am starting to question myself.

 

Am I really that bad? Do I really memorize just to memorize? Do I go to a good place just to be seen as a good people?

 

No... please. Don't judge me like that! Even if I am.. can you just please be kind and pray for me? Cause I.. I'm really afraid if that's the truth. I never want to be a part of people who wants to borrow light on the day of judgement. Neither do I want to be a liar whose good deed blown like a dust.


I also want to be a good person, I also want to be a tree with a sweet fruits. But as you can see, I am just a tree trying to survive the dry / cold season. I wish I could meet the spring, grow a new leaf, bloom flowers and give people a sweet fruit.


So, please don't read to judge. Can you be kind, and help me? Cause I'm struggling right now. 


Wallahua'lam.

Tuesday, March 19, 2024

Perubahan Prioritas

March 19, 2024 0 Comments

Bismillah.

 

Aku masih perlu banyak belajar, tentang prioritas yang berubah saat aku mengambil amanah baru.


***


I am standing here, feeling lost.

 

Founding myself guilty again. My ego keep finding the best excuse to make me the right one. But I know, I think I'm at fault.


It always hurt when you know you make a mistake, again. It always hurt when you think that you might fail again.


I never intend to hurt someone else, but if someone feel hurt because of me. It means there's something that I do that might be wrong. Perhaps I cary thorns all over my body, that's why a little touch will hurt others.


This life is a test, and this is the new test for me. I hope I will stay close to Allah, and never wandered and lost again like that time. I wish I could be a better person, even if I am as slow, or ever slower than anyone else. 


Let's make a lot of dua. This is the month of du'a, right?

Friday, March 15, 2024

Slowly & Podcast

March 15, 2024 0 Comments

Bismillah.

 

Hanya ingin menuliskan kabar baru tentang dua hal. Lebih ke catatan untuk diri sekaligus curcol hehe.

 

On Slowly

 

I stop writing letter on Slowly. Dulu, aku hanya mengira menulis surat di sana itu mudah. Aku berharap bisa banyak bertemu orang baru, bertukar pikiran, membahas minat yang mirip.

 

Aku tidak menyadari, bahwa bertukar surat di Slowly, artinya juga belajar untuk membuka diri dan menceritakan tentang diri.

 

Tapi bukannya bercerita pada orang asing, yang mungkin tidak pernah akan kau temui lebih mudah? Ya, bagiku memang lebih mudah. Semua mudah, sampai aku menemukan batu lain.


Aku menemukan diriku terlalu banyak mendeskripsikan gambaran ideal hidup yang aku inginkan, daripada cerita tentang realitas yang ada. Dan saat mengulang introduksi berkali-kali pada orang berbeda, kemudian bercermin. Disitulah kendalanya. Aku kini sadar, bahwa banyak yang kutulis di surat-surat slowly, tidak menggambarkan realita diriku, dan aku tidak ingin itu berulang.


Jadi sementara, aku berhenti menulis di Slowly. Terakhir balas surat 13 Januari. Masih ada 5 surat yang belum sempat kubalas juga.


Apa akun slowly-nya di deactivated? Nope. Akunnya masih aktif. This is my slowly ID N7Z2QX (barangkali ada yang mau add dan kirim surat, as if wkwk). Ada kemungkinan mulai dipakai lagi, meski entah kapan. Tapi intinya masih pengen bales 5 surat yang masuk itu. Kalau misal udah semua, dan gak ada balesan lagi, baru nanti dipikir lagi mau lanjut pakai slowly atau bener-bener harus di deactivated.

 

On Podcast

 

19 Februari kemarin aku baru upload audio baru. Masih amatir. Hehe. Gapapalah, namanya juga podcast percobaan. Aku biasa rekam pakai WaveEditor, kenal aplikasi ini dari daftar projek baca e-book yang berakhir sebagai wacana, tanpa baca satu pun halaman. Aku belum pernah ngulik WaveEditor. Sempet tanya-tanya ke temen yang punya pengalaman lebih di podcast, dia pakai aplikasi lain, tapi tiap rekam, sebelum di publish, biasanya yang dia edit itu volume suara, dibesarin. Buat aku ini masih PR yang entah mau dikerjain apa enggak. wkwkwk. Aku masih lebih suka fokus ke nulis dulu, karena kuantitas nulisku lagi meluncur ke bawah hehe.

 

Oh ya, aku masih suka berangan-angan, bakal ada orang lain yang berminat belajar dunia podcast dengan kolaborasi dan bantu aku bacain tulisan pilihan dari blog ini. Aku masih setengah-setengah untuk mempublish suaraku ke internet. Apalagi sekarang ada teknologi AI. Privasi menurutku lebih penting, pengennya cuma orang-orang yang bener-bener aku kenal dan temui, yang mendengar suaraku. Tapi di satu sisi, aku juga masih berminat membaca tulisan dari blog ini dan publish ke podcast. Berharap dengan begitu, pelajaran dari tulisan makin melekat di diri. Berharap, kalau ada yang nyasar dan lebih suka media audio nggak suka baca, bisa tetap dapat manfaat dari tulisanku. Ya, walaupun kalau sekarang sih percuma ya, karena untuk share tulisan dan promosi podcast aja aku jarang.


Oh ya, tentang podcast, aku beberapa waktu lalu agak sedih pas dapet email kalau google podcast nantinya bakal diberhentikan layanannya dan pindah ke youtube music. Padahal dibandingkan spotify, aku lebih suka google podcast. Kenapa? Karena bisa ngatur kecepatan audio. Kalau pas lagi ngecek rekaman podcast betterword aja aku biasa dicepetin jadi 1,2 atau 1,3. Jadi keinget memori saat dulu google+ tutup lapak. Ya, begitulah teknologi, cepat berganti.

 

***


Anyway, sekian update tentang slowly dan podcast. Bye~

Minat Lain / Other Passion (?)

March 15, 2024 0 Comments
Bismillah.

 

Sudah agak lama saat aku menyadari beberapa hal yang aku minati. Semacam beberapa fokus, yang ingin aku pelajari lebih banyak. Pertama Al Quran, kedua literasi. Dan ada satu lagi. Yang terakhir ini seringkali terlupakan, karena dua yang sebelumnya saja, aku merasa kepayahan untuk fokus. Minat lainku: tentang psikologi. Aku tertarik, mempelajari sisi emosi dan mental manusia. Tertarik bagaimana seseorang bisa menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. Penasaran, bagaimana caranya bertahan, saat tahu bahwa sisi tersebut ternyata sakit dan butuh pengobatan panjang yang tidak mudah.


Belum lama, ada beberapa hal yang membuatku memikirkan lagi minat lain ini. Dari perkenalan dengan orang baru, yang mengirim tulisan panjang, seperti format untuk meluaskan jaringan. Dari buku-buku fiksinya, ia menulis juga buku non fiksi berjudul "Memeluk Luka". Setelah beberapa kali bertukar tanya jawab, aku jadi tahu bahwa ia penyintas bipolar dan depresi. Mengingatkanku pada seorang blogger penyintas bipolar. Percakapannya sudah berakhir, tapi minatku pada hal ini membuatku masih terus menerus mengingatnya.


Belum lagi, saat salah satu member grup wa Baca Tiap Hari share kutipan dari buku Loving The Wounded Soul.

 

Depresi memberikan efek yang berbeda bagi seorang introver dan ekstrover. Bagi seorang ekstrover dengan depresi, biasanya mereka akan menyadari bahwa menjadi social butterfly seseorang yang sangat dinamis secara sosial, bisa menyapa semua orang, dan mudah berteman dengan siapa saja bukanlah standar kesuksesan. Apalagi ketika semakin dewasa, orang ekstrover akan memahami bahwa kita tidak bisa terus menerus menggenggam erat semua pertemanan. Lingkaran pertemanan semakin melebar dan tidak semua orang bisa diajak berdiskusi maupun membicarakan hal-hal personal. Ada juga yang hanya bisa kita sapa sekadarnya. Seorang ekstrover yang mengalami depresi akan mengembangkan sisi introvernya dan mulai mengenali dirinya sendiri. Ketika mengalami depresi, tidak ada pilihan lain bagi ekstrover atau introver, kecuali benar-benar menghadapi dirinya sendiri. (Hal.97)

Jika seorang introver mengalami depresi, kasusnya akan sedikit berbeda. Orang introver sudah terbiasa memikirkan sesuatu secara mendalam sehingga ketika mengalami depresi, ia akan belajar untuk lebih mencintai dirinya sendiri.

....Ketika mengalami depresi, introver akan belajar untuk menerima diri mereka sebagaimana adanya. (Hal.98)


Membaca kutipan itu membuatku bertanya-tanya. Benarkah begitu efeknya? Perbedaan antara ekstrover dan introver saat mengalami depresi? Ada begitu banyak pertanyaan, rasanya ingin mengobrol panjang lebar pada yang memiliki minat yang sama.


Belum lagi, aku teringat orang-orang disekitarku yang pernah dan mungkin masih mengalami depresi. Bagaimana caranya agar bisa menjadi support system yang baik untuk mereka? Bagaimana harus bersikap, bagaimana harus tetap dekat dan peduli tanpa menyakiti atau terkesan mengkasihani mereka. Aku teringat seorang teman yang berubah 180 derajat setelah mengalami depresi. Aku tidak pernah melihat langsung saat ia sedang kewalahan dengan rasa sakitnya, sampai ia berteriak begitu keras, di kamar, atau bahkan di tempat publik. Aku teringat juga saudara jauh, yang depresinya membuat ia membuat skenario sendiri dalam kepalanya, dan ia mempercayainya sebagai realita. Aku tidak pernah mendengar langsung ceritanya, tapi ibuku yang menceritakan padaku, bahwa cerita yang bukan realita itu, begitu tersusun rapi, sehingga ia bahkan tidak kesulitan saat ditanya detail tentangnya.

 

*** 


Jujur untuk minat yang satu ini, aku tidak punya banyak pengetahuan maupun minat. Komunitas? Dulu pernah gabung komunitas Love Yourself Community. Pernah juga aktif ngikutin ig healyourself juga, tapi udah gak. Sekarang paling yang masih agak sering dicek itu grup komunitasnya Qalboo. Tapi itupun lebih ke pasif. Pengen ada yang bisa diajak diskusi terkait ini (menulis ini membuat otakku melintaskan dua nama Teh Tristi dan Teh Ai, I haven't really discuss anything to them, but I love to read their thought and I think they both love to talk about psychology too..)


Tapi jika komunitas, atau temen ngobrol belum ada. Mungkin aku cuma perlu lebih banyak baca buku dan mencernanya dengan menulis. Itu lebih baik, ketimbang tenggelam dalam distraksi kan? Hmm.


Oh ya, aku tertarik dengan hal ini, juga karena aku penasaran dengan diriku sendiri. Apa kabar diri? Aku mungkin pernah bisa dimasukkan ke kategori depresi ringan, karena nggak sampai butuh penanganan obat. Cuma perlu konsultasi singkat, dan diarahkan untuk mencari akar masalah yang membuatku memilih "lari" dan "bersembunyi". Setelah itu, dengan banyak naik turun jatuh bangun, alhamdulillah aku merasa sudah lebih baik. Tapi perasaan untuk lebih mengetahui ilmu tentang ini jadi tertanam sejak itu. Aku penasaran, bagaimana pengalaman masa kecil seseorang bisa menguatkan seseorang, tapi bisa jadi menjadi luka bagi orang lain. Aku penasaran, hal-hal yang entah sejak kapan menjadi pemicu sensitif yang membuatku cepat menjadi emosional. Ada apa dibalik itu? Aku juga penasaran bagaimana islam menyikapi sakit yang bukan berada di fisik tersebut.


Oh ya, aku jadi teringat sebuah video dari channel Eternal Passenger:




Aku juga jadi teringat rapat dan "kelas pembinaan" panitia LMD dengan Bang Aad. Dari beliau aku mengenal dunia psikologi. Inspiratif! Melahirkan lagi dan lagi "aha time". ^^ Padahal aku hanya menjadi panitia aktif di LMD 167, lalu 168-169 lebih pasif, cuma bantu buat konsep acara, gak terjun langsung pas hari H. Tapi tetap saja, pengalaman jadi peserta setelah "drama dipaksa" sebagai perwakilan asrama di LMD 166, lalu menjadi panitia di 167, memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran. Salah satunya memercikan api penasaran dan minatku pada bidang psikologi.


***


Aku bertanya-tanya, mengapa Allah hadirkan tentang minat lain ini, saat aku masih kesulitan berusaha fokus ke dua minat pertamaku (Al Quran dan Literasi). Mungkin Allah ingin mengingatkanku, bahwa ada banyak waktuku yang terbuang sia-sia, padahal bisa digunakan untuk hal yang baik, minat lain, yang seringkali aku lupakan, hanya karena aku merasa kepayahan untuk bisa fokus di dua minat yang pertama. 


Aku bertanya-tanya... dan aku menuangkannya dalam tulisan ini. Berharap, tulisan ini menjadi jejak pengingat. Berharap, aku tidak lagi tenggelam dan meminum asinnya air laut. Mari memilih untuk menyelam ketimbang tenggelam. Dan jika terasa sesak, segeralah berenang ke permukaan, mengambil udara lagi, untuk menyelam kembali, berharap bisa mengambil butiran mutiara hikmah yang Allah simpan di dasar laut.

 

Wallahua'lam bishowab.