Follow Me

Monday, December 31, 2018

Tersambung

December 31, 2018 0 Comments
Bismillah.

from unsplash

Selalu takjub, saat Allah menuliskan skenario bagaimana kita bisa tersambung dengan orang baru dan orang lama. Saat tanpa sengaja aku sudah membaca pesan di sebuah grup yang beberapa detik kemudian dihapus oleh penulisnya. Kemudian Allah menggerakkan hatiku untuk japri dan bertanya. Padahal aku tidak mengenal sosoknya, hanya sebuah nama familiar di grup besar. Kemudian saat bertukar kalimat, jadi tahu sedikit demi sedikit kesamaan antara aku dan orang baru tersebut. Seolah Allah ingin menunjukkan padaku, kamu bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran jika tersambung dengan orang ini. Atau ketika kawan lama menyapa, awalnya basa-basi, kemudian berlanjut menjadi obrolan serius dan santai. Ia yang berkata, tidak punya banyak teman ngobrol terkait topik tertentu, dan aku.. yang merasa senang, ada teman diskusi.

Selalu takjub, bagaimana Allah menyambungkan yang tadinya jauh, meramaikan komunikasi yang tadinya hening. Mungkin Allah sedang mengabulkan doa salah satunya, yang sedang membutuhkan orang lain untuk bertukar pikiran. Atau mungkin meski tidak ada yang berdoa, Allah siapkan mereka untuk bersambung di waktu tertentu, yang itu bisa menjadi jalan mendekat padaNya, bentuk untuk tidak menjadi manusia yang merugi. Saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Selalu takjub. Ma syaa Allah. Sungguh rencanaNya, takdirNya, selalu untuk kebaikan hambaNya. Hanya saja kita, seringkali justru salah mengambil kesimpulan, karena terburu-buru dan mengiyakan prasangka buruk. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu dapat mengambil hikmah dari takdirNya, serta berprasangka baik pada rencanaNya. Aamiin.

Allahua'lam.

***

PS: Aku salah. Aku kira aku hari ini tidak bisa menulis di sini. Ternyata Allah berkehendak lain. Untuk yang tanpa sengaja baca ini, have a nice day~ Semoga harimu dipenuhi keberkahan. ^^

PSS: Ini tentang dua ukhti, CAW dan ANP, Just incase someone read it the wrong way.

Sunday, December 30, 2018

Kata-kata

December 30, 2018 0 Comments
Bismillah


2018 sudah bersiap-siap untuk pergi, 2019 sudah sedikit tampak dari kejauhan. Tapi kemungkinan untuk berpisah dengan 2018 atau bertemu dengan 2019 masih belum pasti. Ada kepastian kematian, yang hadir saja, tak peduli penghujung tahun atau awal tahun. Hitungan bulan menuju Bulan Ramadhan, tinggal menghitung jari di satu tangan. Meski kematian pasti, berdoa masih diperbolehkan. Semoga diberikan kesempatan bertemu lagi dengan Ramadhan. (': Aamiin.

Ada banyak hal yang didapatkan dan dipelajari, serta dialami di tahun ini. Manusia memang dalam kerugian, dapat jelas kulihat diriku merugi, jika kutengok ke belakang. Tapi ayat alfathihah yang sering kubaca, mengajarkanku untuk optimis, dan mengisi hari dengan memuji namaNya, akan nikmat iman dan islam yang masih ada di hati. Bersyukur atas begitu banyak capaian dan nikmat yang kukecap di tahun ini. Semangat untuk hidup dan mempersiapkan kematian terbaik harus dijaga. Perasaan putus asa, harus dihapus, diusir, dibuang jauh-jauh. Karena Allah telah menunjukkan bahwa ia memberikan kesempatan berkali-kali bahkan pada hambaNya yang tenggelam dalam dosa. Karena Allah membuka lebar pintu taubat, siang dan malam. Karena Allah mencintai kita, lebih.. lebih... dari cinta ibu kepada kita. 

***

Sengaja kutulis kata-kata ini, karena aku tidak yakin bisa menyapa lagi di hari besok. Mungkin lusa, saat sudah berganti bulan dan tahun. In syaa Allah. 

Terakhir, mungkin tahun ini kita belum bertemu, tapi tidak menutup kemungkinan kita akan bertemu tahun depan. (: Dan sekalipun kita tidak ditakdirkan bertemu, semoga tulisan ini menjadi jalan, untuk berkata-kata. Kamu juga boleh berkata-kata, menulislah, meskipun aku tidak membacanya, ada banyak orang lain yang ingin membaca kata-katamu.

See you.. 

Allahua'lam.

Pesan Untukku

December 30, 2018 0 Comments
Bismillah.


Hatimu hanya satu, jika ingin ia makin jernih dan bercahaya, maka isi dengan iman, bukan dengan hal lain. Setiap hal kecil akan menoreh jejak, membuat pola, maka sekecil apapun, jika itu buruk, jangan lakukan. Dan sekecil apapun, jika itu baik, jangan ragu, baca asmaNya dan laksanakan. 

Bohong namanya, jika di bibir kamu bilang ingin memperbaiki diri namun kakimu enggan melangkah maju. Awalnya mungkin perlu dipaksakan, karena memang tidak mudah. Tapi justru sulit itu, rasa berat itu, akan diganti oleh Allah dengan hal-hal yang jauh lebih menyenangkan dan menenangkan hati. 

Hatimu hanya satu, dan itu mempengaruhi seluruh tubuhmu. Maka jangan racuni, jangan sakiti. Jaga ia agar bersih dan jernih. Jikapun suatu saat nila terlanjur membekas, segera sucikan, banyak minta ampun dan maaf pada Allah. 

***

Semangat ^^

قَالَ رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى
Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, 

وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى
dan mudahkanlah untukku urusanku,

Aamiin. 

Allahua'lam. 

Tuesday, December 25, 2018

Mimpi yang Belum Menemukan Muaranya

December 25, 2018 0 Comments
Bismillah.
#blogwalking

Lama ga nulis blogwalking. Barusan baca postingan Yuning Ika R. isinya kumpulan kutipan buku berjudul PhD Parents Stories.
Mungkin ada kesombongan yang mendera, keangkuhan yang hadir menyapa, atau bahkan do’a yang belum sempurna. Sebab-sebab ini bisa menjadi alasan mengapa impian kita belum juga menemukan muaranya. Jangan khawatir, tak ada doa tanpa pahala dan tak ada ikhtiar yang berakhir sia-sia. Kamu sudah menjadi pemenang jika keduanya telah kau coba. –hal. 132
Baca selengkapnya di blog Yuning Ika R. 

***


Jleb gimana gitu bacanya. Keinget mimpi yang masih belum dieja langkah-langkah menuju ke sana.

Seneng juga, dapet ilmu dari buku yang ga aku baca. Sukaa kalau ada yang bahas buku di postingan blognya. Kadang baca resensi versi formal membosankan. Lebih suka baca resume atau review, atau tulisan terkait buku yang bahasanya nyantai, dikaitkan secara personal. Bagiku begitu lebih enjoy dibaca. Seolah sebuah buku ga cuma buku itu, tapi ada tambahan kisah pembacanya, ada tambahan sudut pandang pembacanya.

Oh ya, blog itu aku kenal lewat sabtulis, gerakan nulis tiap sabtu. Yang punya keinginan rutin nulis, bisa ikutan gerakan ini. Cek ig @sabtulis. Sistem gabungnya sederhana kok, ga perlu share info ini ke sekian grup wkwkwk. Tinggal menulis aja, lalu submit link blogmu di form gdocs bit.ly/kumpulsabtulis

Terakhir, semangat membaca dan menulis! Isi penghujung tahun dengan menulis dan membaca~ Bye^^

Allahua'lam.

Cara Mengusir dan Beranjak Pergi

December 25, 2018 0 Comments
Bismillah.


Zann (prasangka) itu sesuatu yang otomatis duduk di sebelah kita. Kalau bukan kita yang beranjak pergi, ia akan selalu ada.

Pernah aku membaca kutipan senada itu, dalam bahasa inggris di sebuah buku. Kemarin, kutemukan lagi kebenarannya. Saat prasangka hadir saja, meski tidak diundang.

***

Bagaimana mengusir prasangka yang ngikutin kita terus? Dengan keyakinan, ya.. keyakinan dan iman. Juga dengan doa. Bisa juga dengan menghadirkan prasangka, prasangka baik.

Misal saat kita khawatir, prasangka bahwa rezeki kita tidak sampai ke tangan kita. Cara mengusirnya adalah mengingatkan diri, afirmsi, self talk, kalau Allah tidak pernah menahan rezeki seorang hamba, bahwa Allah Maha Memberi, Innallaha huwarrazaqu dzul quwwatin matin.

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ
Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

Trus kita beranjak dan pergi menjauhi zann tersebut dengan berdoa, serta ikhtiar. Ikhtiarnya ya menjemput rezeki tersebut, usaha, kerja, juga banyak istighfar. Karena bisa jadi dosa-dosa kita menghambat jalurnya. Lalu hadirkan prasangka baik. Prasangka bahwa rezeki yang belum terlihat itu, sebenarnya sedang berjalan mendekat ke kita. Seperti nasi yang kita makan hari ini, kita tidak melihat keseluruhan perjalanannya sampai ke piring kita. Kita tidak melihat bagaimana petani menanamnya, merawatnya, menanennya. Kita tidak tahu, jika kita tidak mengajak otak kita berpikir. Bagaimana Allah mengirimkan angin, membawa hujan, lalu matahari, lalu tanaman padi itu bisa tumbuh dan berbiji hingga siap dipanen. Lalu dari proses itu, bagaimana penyimpanannya, penjualannya, sampai kita bertemu dan bisa menyantapnya. It's a long long way. Maybe more than three month. Kekhawatiran dan zann kita tidak akan membuatnya segera hadir di tangan kita. Justru saat-saat menanti, harus kita isi dengan ikhtiar dan doa agar rezekinya berkah. 

***

Jadi bahas tentang rezeki ya? Padahal bukan prasangka itu yang semalam mengangguku.

Aku lupa sebenarnya, dengan apa semalam prasangka itu kuusir. Atau bisa jadi aku belum mengusirnya. Yang kuingat, aku menyibukkan diri dengan hal lain, lalu aku tidur. Lalu qadarullah saat bangun, kutemukan jawabannya. Bahwa prasangka hanya prasangka. Sebaiknya diusir saja karena kebanyakan dari prasangka itu dosa. 

Kubaca satu persatu, kalimat yang menghancurkan prasangkaku kemarin malam. Seolah Allah mengingatkanku... setiap usaha akan terbayar, dan setiap doa akan diijabah atau diistijabah, dengan jawaban terbaik dariNya. 

Ada yang tahu bedanya ijabah dan istijabah? Yang pertama berarti langsung, segera. Yang kedua ada proses sebelum jawabannya hadir. Keduanya baik untuk kita yang berdoa. *bener ga? Mohon koreksi ya kalau salah, pernah denger ini pas pembahasan ayat ramadhan 2:186, kenapa pilihan katanya ujiibu, keistimewaan doa di bulan Ramadhan. 

***

Terakhir... gak mudah mengusir zann, bukan hal mudah segera beranjak dan pergi menjauhinya. Terutama jika otak kita sudah terbiasa overthinking dan negative thinking.. it's a war you have within yourself. Aku pernah dan masih, jatuh bangun di situ. Sedikit banyak tahu pahit asin asemnya. Jadi untuk siapapun yang juga berjuang di situ, semangat ^^ Banyak menulis, itu bisa membantu. Setiap zann tulis, lalu buat kalimat afirmasi positif, apa yang kamu tahu, dan keyakinan yang seharusnya menghilangkan zann tersebut. Tulis dan panjatkan juga doamu saat prasangka menghantuimu, mengepungmu sampai kau tidak tahu harus berbuat apa. Dan prasangka baik, ia tidak datang sendiri, ia harus terus dibuat, diundang, dihadirkan. Satu, dua, berkali-kali. Sampai otak kita terbiasa dan lebih familiar. Sampai mindset kita pelan-pelan bergeser dari negatif ke positif. Dan dalam perjalanannya, akan ada banyak tanjakan, kau mungkin akan berkali-kali jatuh bangun. Jangan menyerah pada diri. You're stronger than yourself. And if you're not that strong. If you're so weak. Remind yourself that Allah is stronger than anything. He can help you. Rendahkan diri dan mintalah bantuanNya. Ia bahkan selalu memberi yang tidak kita minta. Ia akan mendengar doamu, dan menjawabnya. 

Allahua'lam. 

***

PS: Reminder for Isabella,.. tugas KMO buruan dikerjain bell!!! 




Saturday, December 22, 2018

Mendengarkan dengan Empati

December 22, 2018 2 Comments
Bismillah.

Nukil buku 7 Habits for Effective People, Stephen R. Covey

***

Kebiasaan kelima, mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti. Seek first to understand than to be understood.


Dokter Mata


Bab ini dibuka dengan sebuah kisah tentang dokter mata. Seseorang sakit mata, lalu ke dokter. Sang dokter bukannya menjalankan tugasnya mendiagnosis, justru melepas kacamatanya dan memberikan kepada pasien tersebut.
"Pakailah kaca mata ini," katanya. "Saya sudah memakainya selama sepuluh tahun, dan kacamata ini benar-benar membantu saya."
Tahu apa yang terjadi? Meski sang pasien sudah mengenakan kacamata dari dokter  penglihatannya tidak membaik, justru semakin memburuk. Tapi saat mengeluh ke dokter tersebut, jawaban dokter itu.. 
"Kacamata itu berfungsi dengan sangat baik bagi saya. Berusahalah lebih keras."
Sang pasien lalu menjelaskan lagi, bahwa ia sudah berusaha, namun segalanya terlihat buram. Dan kau tahu respon dokter tersebut? Ia meminta sang pasien untuk berpikir positif. Bahkan merasa tersinggung karena pasien tersebut seolah tidak menghargai bantuannya.

Rasanya ikut dongkol saat aku membaca kisah itu. Tapi kisah ini merupakan gambaran, tentang orang yang mendengar dan terburu-buru memberikan nasihat, atau solusi. Terburu-buru dan tidak menempatkan diri di posisi yang berbicara. Seolah keluhannya sama dengan hal yang dulu pernah kita rasakan, jadi kita pikir "kacamata" kita bisa membuat "matanya tidak sakit lagi". 

***

Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum meminta untuk dimengerti, adalah kunci sukses hubungan antarpribadi yang efektif. Dan ini bisa diraih, jika kita tahu cara berkomunikasi yang baik. Bukan hanya cara menyampaikan apa yang ada di pikiran kita, tapi lebih penting lagi bagaimana mendengarkan dengan empati. 
Kita memiliki kecenderungan untuk terburu-buru, memperbaiki segala sesuatu dengan nasihat yang baik. Namun, kita seringkali gagal meluangkan waktu untuk mendiagnosis, untuk benar-benar mengerti masalahnya secara mendalam terlebih dahulu. - Stephen R. Covey
***

Tingkatan Mendengarkan


Saat orang lain berbicara, ada beberapa tingkatan "mendengarkan". Yang pertama, mengabaikan, sama sekali tidak benar-benar mendengarkan. Yang kedua, berpura-pura, membuat ekspresi dan gesture seolah kita mendengarkan padahal pikiran kita melayang entah kemana. Yang ketiga, mendengarkan secara selektif, hanya bagian tertentu yang didengarkan. Yang keempat, mendengarkan dengan penuh perhatian, fokus pada kata-kata yang diucapkan. Dan ada yang terakhir, mendengarkan secara empatik.


Mendengarkan secara empatik berbeda dengan mendengarkan secara reflektif. Mendengarkan secara reflektif membuat kita memikirkan diri kita, kisah autobiografi diri kita, dan seringkali maksudnya untuk menjawab. Mendengarkan secara empatik adalah berusaha untuk mengerti dan berada di sepatu pembicara. 
Mendengarkan secara empatik masuk ke dalam kerangka rujukan orang lain. Anda melihat dunia sesuai dengan cara mereka melihat dunia, Anda mengerti paradigma mereka, Anda mengerti bagaimana perasaan mereka.
Tapi mendengarkan secara empatik bukan selalu berarti kita setuju pada seseorang, melainkan kita berusaha sepenuhnya mengerti orang tersebut dari sisi emosional dan intelektual.
Saat Anda mendengarkan orang lain dengan empati, Anda memberi orang itu udara psikologis.
Ibarat saat kita tenggelam, kita secara refleks melakukan cara agar bisa bernafas. Selain udara secara fisik, kita juga membutuhkan udara psikologis. Kita membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi atau sok tahu. Seseorang yang mau berusaha mengerti. 

***

Autobiografi 


Satu kata ini sering diulang di bab ini. Awalnya aku tidak paham, namun setelah membaca lebih lama, aku mulai mengerti. Biografi adalah cerita hidup seseorang, autobiografi adalah cerita hidup yang ditulis sendiri.

Salah satu reaksi normal saat kita mendengarkan orang lain adalah kita mengingat autobiografi kita. Kita mendengarkan dengan kerangka pikiran kita, lalu menyelidiki apakah kita pernah mengalami hal serupa.

Dalam buku 7 Habits digambarkan percakapan seorang ayah dan anaknya. Bagaimana sang anak mengadukan bahwa ia merasa tidak suka pergi ke sekolah, dan bagaimana respon salah sang Ayah yang terburu-buru memberikan "resep" tanpa berusaha mendengarkan secara empatik terlebih dahulu. Bagaimana sang Ayah bercerita bahwa ia juga pernah mengalami masa-masa itu, masa saat ia membenci pergi ke sekolah. Setelah itu percakapan selesai, sang anak merasa kecewa karena merasa tidak dimengerti.
Kita tidak akan pernah sampai ke masalahnya jika kita begitu terjebak dalam kerangka autobiografi kita sendiri, paradigma kita sendiri, jika kita tidak melepas kacamata kita cukup lama untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain.
Ada satu hal yang menarik, ternyata saat seseorang mampu bercerita tentang keadaannya, masalahnya, justru dari situlah ia dapat memandang solusi lebih jelas. Bukan karena masukan dari orang lain.
Ada saat-saat ketika transformasi menuntut nasihat yang tidak berasal dari luar. Seringkali saat orang benar-benar diberi kesempatan untuk membuka diri, mereka mengungkapkan masalah mereka dan solusinya menjadi jelas bagi mereka dalam proses keterbukaan itu.
Tapi kesempatan untuk membuka diri itu memang sulit ditemukan. Karena sulit itu, kita seharusnya belajar untuk menjadi pendengar yang empatik. Mungkin kita tidak bisa memberikan solusi atau masukan, namun semoga dengan kita mendengarkan, orang tersebut bisa menemukan solusinya lewat proses keterbukaan tersebut. 

***

Saat Mendengarkan dengan Empati


Seorang pendengar empatik yang bijak bisa membaca apa yang terjadi jauh di dalam dengan cepat dan bisa menunjukkan penerimaan seperti pemahaman bahwa orang lain merasa aman untuk membuka lapis demi lapis sampai mereka mencapai inti dalam. yang lembut, tempat masalah yang sebenarnya berada.
Saat kita mendengarkan dengan empati, kita bisa mengetahui akar masalah sebenarnya. Karena saat kita mendengarkan dengan empati, orang akan merasakan aman. Ia tidak menutup diri karena takut dihakimi atau takut tidak bisa dipahami. Karena ia bisa melihat bahwa kita berusaha untuk mengerti.

Bagaimana kalau orang lain tidak juga membuka diri, meski kita sudah mendengarkan dengan empati?
Jangan mendesak; bersabarlah; hormatilah. Orang tidak harus membuka diri mereka secara lisan sebelum Anda bisa berempati. Anda bisa berempati setiap saat dengan perilaku mereka. Anda bisa bersikap cerdas, sensitif, dan sadar, serta bisa hidup di luar autobiografi Anda saat diperlukan. - Stephen R. Covey 
Orang itu mungkin masih memilih untuk diam dan belum bisa terbuka, itu pilihan mereka. Tapi kita juga punya pilihan, untuk tetap berempati dan berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti.

***


Terakhir, pesan untukku yang masih harus belajar menjadi pendengar...
Cobalah untuk mengerti lebih dulu. Sebelum masalah muncul, sebelum Anda berusaha mengevaluasi dan memberikan solusi, sebelum berusaha menyajikan ide-ide Anda sendiri - berusahalah mengerti.
Allahua'lam.

***

Keterangan:

Tulisan ini merupakan bagian dari #sabtulis. Apa itu sabtulis? Sabtulis adalah gerakan menulis di hari Sabtu bagi sobat yang ingin menjadikan malam minggunya lebih produktif, melatih kemampuan menyampaikan gagasan atau mengekspresikan diri melalui tulisan, serta membentuk kebiasaan baik dalam menulis. Mari ikutan!

Thursday, December 20, 2018

It's Just a Sign that I Miss You

December 20, 2018 2 Comments
Bismillah.

Pernah aku bertanya-tanya, apa tanda bahwa seseorang bisa move on dari 'masa lalu'nya? Ya, aku pernah bingung, karena aku sudah merasa bisa menerima dan melepaskan yang sudah berlalu. Tapi kadang masih suka tidur dan bermimpi tentang hal tersebut. 

Waktu itu, aku menuliskan di sini, masih di folder draft dan tidak jadi di publish. Di tulisan itu, aku membaca diriku saat itu, yang kesal karena merasa sudah bisa move on, tapi kok masih kebawa mimpi, seolah alam bawah sadarku belum bisa move on.

Saat ini, aku menulis ini karena menemukan jawabannya. Bukan berarti belum move on. Saat orang-orang tertentu, momen tertentu hadir menghias tidurku, bisa jadi itu tanda aku rindu. Ya, sesederhana itu.

***

Mimpinya tidak pernah sama, tapi selalu terkait dengan mereka, teman-teman ascii. Lama aku tidak menjalin komunikasi. Jadi mungkin benar, aku hanya rindu. Bukan berarti belum move on. Hanya sedang kangen. Mimpi terakhir tentang mereka masih samar kuingat. Saat itu kami melakukan perjalanan, mengobrol dan bertukar kabar.

Kemarin malam, sesaat setelah aku upload stories di ig, temanku, ANP, menyapaku, bertanya kabar, sayangnya aku baru buka ig lagi siang ini. Jadi balasanku terlambat. Semoga meski aku masih sama, suka lama respon pesan, tidak menjadi penghalang komunikasi. Aamiin. 

***

Terakhir, kutuliskan ini sebagai pengingat. Bahwa memimpikan orang-orang yang pernah mewarnai hidup kita di masa lalu bukan selalu berarti kita belum move on. Mungkin itu salah satu pertanda bahwa kita rindu. Maka jangan ragu untuk menyambung silaturahim. Meski mungkin sulit dan kikuk, karena jarak yang terbentang dan waktu yang sudah berlalu.

Untuk kawan-kawan ascii, semoga Allah memberkahi hari-hari kalian. aamiin.


Allahua'lam.

***

PS: Kusalin pranala tulisan ini, paste, kirim via dm ke ANP, tapi... *the link was detected as unsafe and was not send* hmm. yaudah.

Tentang Canva dan Starred Medium Post

December 20, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random

Cuma ingin berbagi di sini, hal baru yang kemarin kutemukan tentang satu aplikasi desain dan platform menulis yang saya gunakan.

Canva Punya Blog

Meski sudah install aplikasi canva di android lumayan lama, saya termasuk pengguna yang jarang update versi terbaru. Qadarullah kemarin-kemarin diupdate, namun tidak menyempatkan mengeksplor fasilitas barunya. Cuma merasakan lebih banyak layout, dan font. Lalu tanpa sengaja, mengklik ikon "learn". Ada dua judul saat itu, dan saya memilih tulisan tentang font yang sedang trend. Setelah baca, muncul tuh dibawahnya related articles. Dari situ, baru sadar, ternyata canva ada blognya.

yang mau baca lengkapnya bisa klik di sini.
Jadi, selain dipakai untuk desain, bisa juga baca artikel yang mungkin menambah wawasan tentang desain. Keren. (:

Tentang blog aplikasi, mengingatkanku akan medium. Di medium banyak blog milik aplikasi tertentu, misal gojek, apa lagi ya? Pokoknya banyak. Hehe. 

Starred Medium Post

Medium platform blog gratis, tapi ada versi berbayarnya juga. Misal untuk beli domain, juga untuk membaca tulisan-tulisan berbintang lebih dari tiga. Kalau yang gratisan dibatasi maksimal 3 tulisan per bulan. Tapi.. kayanya sistem ternyata bisa diakalin. Tanpa sengaja saya menemukan caranya. Sebenarnya ragu, apa boleh ditulis? Apa ini ngajarin yang tidak benar? Hehe.

Jadi tiap beberapa hari, saya dapat email dari medium daftar highlight post supaya saya membuka akun medium dan membacanya. Mayoritas tulisan highlight post biasanya tulisan berbintang. Beberapa judul yang menarik saya klik, dan otomatis dibuka menggunakan browser chrome di hp. Satu dua tiga, lama-lama saya mikir, perasaan sudah lebih dari tiga bulan Desember ini. Kenapa masih bisa baca? Ternyata karena chrome saya tidak login akun medium. Saya juga tidak menggunakan aplikasi medium di android. Biasanya buka medium menggunakan browser Firefox Lite.

Jadi, apa saya harus berhenti membaca? Hehe. Rasanya seperti salah. Karena jatah saya baca sudah habis, tapi karena 'jalan belakang' yang tanpa sengaja saya temukan, saya jadi bisa membaca lebih dari itu. 

***

Bahasan tentang canva dan starred medium post sudah selesai. Seharusnya sekarang saya menyelesaikan draft nukil buku yang menumpuk. Doakan ya semoga diringankan jemari dan otak saya untuk merangkai kata. J

See you. In syaa Allah. 

Allahua'lam.

Wednesday, December 19, 2018

Permanent Marker

December 19, 2018 0 Comments
Bismillah.

#random

Hampir dua bulan. Kini bukan lagi yang pernah, tapi yang baru. Dan jujur aku meragu. Apalagi kuingat Ramadhan lalu, saat seseorang memberitahukan bahwa seharusnya urutannya dijaga. Bahwa yang salah, harus diperbaiki dahulu, sebelum nanti naik level. Karena lebih sulit memperbaiki hal buruk yang sudah jadi kebiasaan dibandingkan melakukan dan membiasakan hal baik. Ragu. Tapi aku ingin terus melangkah. Semoga kelak, diizinkan bertemu seseorang yang bisa mengoreksi langsung. Tidak seperti ini, bukan dengan sistem ini. Atau.. semoga yang enggan menyimak, kini mau meluangkan waktu mendengarkan. Karena jujur, untuk hal ini memang tidak bisa sendiri.

Satu lagi. Masih terkait tapi beda alinea, beda pokok pemikiran. Jadwalnya perlu disesuaikan. Agar kebiasaan buruk terkikis sedikit demi sedikit. Kemudian yang lain diisi dengan kegiatan yang juga penting untuk mewarnai hari. Seperti menulis, yang seharusnya punya jadwal rutin setiap harinya.

Terakhir, semoga tulisan abstrak ini bisa jadi catatan untukmu Bell. Catatan,.. untuk kemudian dilaksanakan.

Allahua'lam.

***

PS: Judulnya serasa ga nyambung? Sebenarnya nyambung. Bayangkan sebuah papan tulis, lalu kau menulis sebuah kata dengan permanent marker. Ternyata, ejaannya salah. Tulisan ini sedikit banyak berbicara tentang sesuatu dengan analogi permanent marker.

Sunday, December 16, 2018

Membuka Jalan

December 16, 2018 0 Comments
Bismillah.

Akankah kubuka jalannya, agar makin ramai orang yang lalu lalang? Atau seharusnya kubiarkan saja seperti ini, sepi dan nyaman.

***

Ini tentang blog ini. Sudah lama aku "menutup jalan". Hanya mengizinkan masuk sedikit orang. Kadang ada yang tersesat dan lewat jalan ini. Tapi hanya begitu. 

Sejak tantangan KMO yang pertama jumat kemarin, rasanya.. banyak hal yang akan berubah. Aku, yang sudah buat ig khusus buat blog ini. Lalu tekadku, untuk setor tulisan sabtulis tidak hanya dari blog New Leaf, tapi juga dari sini. Supaya kewajiban terpenuhi, dengan atau tanpa mood nulis penjelasan fase bahasa inggris. 

***

Komunikasinya terbuka, karena tantangan KMO kemarin. Lama kayanya gak main sosmed, lalu postingan kemarin jadi ingat rasanya bertukar komentar, mendengar doa-doa baik dari orang lain. 

Blog ini masih akan sama, isinya mungkin campur aduk, ga jelas. Tapi akan kubuka sedikit jalannya. Semoga dalam perjalanannya hati bisa tetap terjaga.

from unsplash

Allahua'lam.

PS: Menulis ini, aku jadi ingin menulis juga tentang membuka hati. Sudahkah aku siap membuka hatiku? Menerima orang lain untuk ambil bagian dalam hidupku? Atau aku... masih disibukkan memikirkan diri sendiri? 

Friday, December 14, 2018

Mengapa Menulis?

December 14, 2018 0 Comments
Bismillah.

Tugas pertama KMO Club Batch 15.

***

dari unsplash

Pernah aku menulis sebait puisi tentang menulis dan P3K.

“Karena merangkai kata bagiku
adalah hiburan atas segala pilu
P3K atas segala luka
ekspresi atas segala suka”

Begitulah makna pertama merangkai kata bagiku. Menulis bukan lagi sebuah hobi bagiku, namun sudah menjadi kebutuhan untuk menghibur, mengobati serta mengekspresikan hati.

Dari menulis, keinginan untuk menyusun buku hadir. Tapi prosesnya tidak mudah. Berulangkali aku diingatkan harus ada strong why, yang akan menemani perjalanan menyusun buku, sampai buku tersebut lahir dan menjadi jejak karya kita.

Allah menakdirkanku hadir di banyak forum online tentang kepenulisan, menanam sedikit demi sedikit agar tekad menerbitkan buku makin kuat. Lalu lewat rencanaNya aku bertemu channel Telegram Indonesia Menulis, dari sana jadi tahu pendaftaran KMO Club Batch 15.

Materi pertama, seolah menggedor pintu hatiku. Tentang ikrar yang isinya mengizinkan diri menjadi penulis. Kalimat sederhana yang perlu diulang-ulang diucapkan dalam hati. Membuat mata tiba-tiba memanas, dan mengobarkan lagi api semangat menulis. 

Kang Tendi memaparkan alasannya mengapa beliau menulis. Betapa banyak buku yang “meracuni” otak manusia. Dan betapa mahalnya kebenaran, kebaikan serta perbaikan. 

“Kegundahan saya sekarang adalah betapa mahalnya sebuah kebenaran, betapa mahalnya sebuah kebaikan, dan betapa mahalnya sebuah perbaikan.Ini benar-benar bikin saya nggak bisa tidur.” - Tendi Murti

Saya jadi teringat lagi, bahwa menulis memang merupakan ekspresi hati, bagaimana rangkaian kata mampu mengeja rasa. Namun kata memiliki kekuatan untuk menggerakkan. Jika menulis kita niatkan untuk kebaikan, lalu Allah berkahi tulisan kita, maka tulisan tersebut dapat menggerakkan pembaca untuk melakukan hal baik, mendekat pada Allah, serta mengambil manfaat dari tulisan tersebut. 

Saya pun begitu. Saya ingin tulisan saya, bukan sekedar kata. Tapi kata yang mengubah, menginspirasi dan mengajak tuk menjadi lebih baik. Kata yang bisa bernilai amal shalih, yang pahalanya mengalir sampai ke akhirat. Kata yang menjadi wasilah, agar baik penulis maupun pembaca melangkah mendekat kepada Rabb Semesta, Allah azza wajall. 

Semoga tulisan ini, bisa menjadi bibit yang kelak akan tumbuh subur. Sehingga menulis, bukan lagi dinikmati diri sendiri, tapi juga membuahkan karya berupa buku, buku yang mengajak pada kebenaran, kebaikan dan perbaikan. 

Allahua'lam.

***

Tulisan ini diupload pertama kali di facebook : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213180135644850&id=1439117666

***

PS: Baru nyadar aku salah baca deadline-nya. Kirain teh malam ini jam 9, padahal batas akhirnya besok jam 9. Wkwkwk. Gapapa, bagus, jadi ngumpulin lebih awal hehe.