Follow Me

Showing posts with label random. Show all posts
Showing posts with label random. Show all posts

Saturday, May 20, 2023

Random Talks: Age Limitation, Imposter, Introver

May 20, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

Ingin menulis banyak hal di dalam satu postingan, berbagai topik yang tidak bersambung. Banyak curhat. Hehe. *early warning, barangkali ada yang mau menghindari baca tulisan gak penting hehe.

 

***

 

Age Limitation


Baru-baru ini, liat di instagram projek nulis gitu. Dari ig @yuk.iqro, temanya juga bagus banget, "Berani Patah untuk Merekah". Sayang aku gak masuk range age limitation yang ditetapkan panitia hehe. Jadi berasa tua hehe.

 

Oh ya, tentang batasan umur ini, aku udah gak kaget-kaget banget sih, karena bukan pertama kali, nemu projek yang ingin diikuti dan gak jadi daftar karena batasan umur tersebut. Kalau gak salah, pas batch 4 guidelight project indonesia juga pengen daftar jadi peserta. Tapi gak bisa, tapi qadarullah diberi kesempatan buat gabung di superteam, jadi tetep bisa merasakan semua programnya. Menciduk manisnya menghafal dan mempelajari bareng-bareng surat Luqman, pun di batch selanjutnya, surat Maryam.

 

Sebenernya... dulu, pas jadi superteam guidelight batch 4, ada juga pendaftar yang mungkin baca, atau gak baca, tapi daftar meski gak masuk batasan syarat. Dan sebenarnya, tergantung panitianya, ada saat-saat diberi pengecualian, asalkan ia mau komitmen untuk mengikuti projek. Tapi.. tapi aku bukan tipe orang yang seperti itu. Kalau aku melihat sebuah 'pagar', aku tipe yang memilih langsung mundur dan mengucapkan selamat tinggal. Aku bukan orang-orang yang mau mendekat dan mengetuk pintu, barangkali ada yang mau membukakan gerbang. I used to it. Bahkan kadang, kalau kata ayah, kadang bukan orang lain yang membuat 'pagar', tapi aku sendiri. I put limit to myself, sometimes, it's really not good for me. Karena aku, jadi membatasi diri atas hal-hal yang sebenarnya aku bisa saja 'melewatinya'.

 

Tentang age limitation ini, ada pilihan untuk bereaksi. Aku bisa saja sedih, atau kecewa. Bisa sinis juga. Penasaran, berapa banyak anak-anak muda, yang tahu rasanya patah untuk merekah. Padahal, mereka bisa jadi lebih banyak pengalaman dan lebih tahu rasanya patah, ketimbang orang-orang tua. Karena usia tidak menentukan pengalaman seseorang. The young one in Palestine, sure have been experiencing much more than the young one in Indonesia. hmm. it doesn't sound right too. Intinya, gak boleh generalisasi dan justifikasi.

 

Anyway, instead of feeling sad or upset because of the age limitation.. perasaanku untuk share lebih besar. I'm always excited to share and encourage people to write and read. Aku dulu juga gak tahu kalau aku kaya gitu, sampai ikutan matrikulasi, dan ada pembagian kelompok sifat, mirip-mirip koleris, sanguin, melankolis. Tapi ini DISC, aku gak terlalu inget kepanjangan S dan C, karena dari hasil 'tes kecil' tersebut, aku menemukan kalau aku Influencer dan Dominant. No i am not an influencer like artist, diksi influencer maknanya seperti itu di mata orang-orang ya. But I have that personality inside me. Aku suka ngajak dan mempengaruhi orang lain, hopefully in a good way. Kalau boleh milih hal-hal yang suka aku ajak ke orang lain, aku ingin 3 hal ini: menulis, membaca, dan quran. Literasi dan quran. That's why I love the concept of that ig @yuk.iqro.


Penutup topik ini, untuk siapapun yang masih muda, banyak-banyakin ikutan program yang sesuai passionmu. Sebelum nanti kaget akan age limitation, yang mungkin akan kau temui di tahun-tahun tertentu.


Imposter

 

Topik yang satu ini, gak pengen aku jabarin panjang sih. But sometimes, I feel that, being an imposter. Mungkin karena kondisi dan situasi khusus, sehingga ada momen saat aku merasa berada di tempat yang salah. I play and pretend to be the same, to be one of them. But actually I am not. So it's a strange feeling. I wish I never join/involve in that kind of setting anymore. I wish I disappear and no one would remember me or even recognize that I am there too among the other.

 

The Introvert Side of Him

 

Dari dulu, sebenarnya aku tahu, ia seorang introvert. He almost always keep silent and calm. Never raise his voice, observant and all the good quality of introvert. I've seen him from child till now. But I never know that he is "that introvert", until I somehow manage to be the "facilitator".

 

Rasanya aneh, 'berkenalan' dengan adikku dengan cara menjadi 'fasilitator'. Menyimak pertanyaan-pertanyaan dan jawaban. Terkadang seperti disindir, karena yang ia cari seolah-olah 180 derajat dari diriku. As if he's saying, he doesn't want someone like his sisters wkwkwk. Aku tahu sih, ini sisi sensitif dan baperku aja. He just have his own type of person he's looking for. Tapi entahlah, rasanya kaya kesindir aja, membaca jawaban-jawabannya.


Anyway. Balik ke subjudul, sisi introvert. Aku sebenarnya belum terlalu kenal dunia introvert, aku dulu mengaku seorang ekstrover, lalu mengaku ambiver, lalu menyadari kalau aku juga punya sisi introver yang butuh charging diri dengan menyendiri. Entah sejak kapan, aku merasa sangat butuh waktu untuk sendiri, meski orang lain mengira aku sudah kebanyakan waktu sendiri. I enjoy being alone in my room, with the door closed. As if I don't want anyone to disturb me. Sisi ini, yang kadang membuatku tidak bisa membayangkan, bagaimana nanti jika sudah punya anak. Mungkin aku perlu wawancara sama ibu-ibu introver hehe.


Sisi introver adikku. Aku kira aku tahu sedikit. Tapi saat ia memberikan alamat instagramnya, which I never follow or even knew it is existed. *what a broken grammar. Instagramnya kosong, tanpa postingan apapun. Ada beberapa highlight story. Setelah aku follow, aku buka dan baca satu-satu. It's interesting. Aku jarang-jarang kepo tentang adikku, tapi mengetahui sisi lain ini, aku penasaran.


Yang pertama, tentang istilah-istilah pecinta sesuatu. Dan slide terakhir, gombal wkwkwk. Who taught him about this hahaha. Rasanya ingin menertawakannya, he's really a man now. I always see him as a child.


2 Highlight selanjutnya yang membuat aku ingin menuliskan ini. Introvert problem 1 dan 2. Rasanya seperti baru tahu sisi introvert yang seperti itu. I never knew that side of the world. I never really dive into introver meme and amused by everything it says. Ternyata segitunya yaa.. hehe.


Beberapa yang ingin kusimpan disini.


juga ini, jadi tahu harus wa dulu mau telpon tentang apa kalau ke adik

 

and this one is hilarious ^^ 


this one.. I think I can relate this one, when I am on introvert mode. I'd love if I have some good excuse to say no for some event/meeting.



Membaca introvert problem di highlight ig adikku, membuatku sadar kalau aku bukan introver murni. Karena ada beberapa waktu aku benar-benar ingin keluar dan bertemu orang asing. I enjoy being alone in unfamiliar place, with strangers who doesn't talk to me. Aku tipe introver yang begitu. I enjoy being alone outside. And why I suddenly talk about myself more wkwkwk. Anyway, lesson learnednya.. jadi mengenal lagi adikku. Mengenal lagi sisi dunia introver yang ternyata belum terlalu aku kenali.

 

Btw, I don't know why [1], but when thinking about introver, I think about another ig account. Do you know @sendysaga? I enjoy his drawing, and I know he wrote a book about introver. I don't buy it, cause I feel like I don't really need it. Tapi gatau kenapa pengen bantu promosi di blog ini, meski kenal orangnya juga kagak, dan blog ini yang baca cuma satu dua. Just in case ada yang tertarik beli.


***


Terakhir, untukmu yang udah lama gak nulis di blog. Mari mulai menulis lagi. Coba gunakan otak kanan, menulis random topik. Seperti ini, tidak mengapa. Jangan banyak berpikir tentang urusan teknis menulis, atau buru-buru memakai sepatu pembaca. Just be yourself, and write what are you thinking, em.. what you are thinking. *you can see how messed up this post is, but I still write it. Mengedit itu, bisa dilakukan nanti. Saat ini, menulis dulu. Karena cuma dengan cara itu kamu memaksakan dirimu menulis lagi, setelah lama tidak menulis.

 

Ayo, nulis yuk. Aku sudah rindu ingin membaca tulisanmu. Ups, ini gombal. Tapi bener deh, kamu mungkin tidak tahu, tapi ada orang lain yang rindu ingin membaca tulisanmu. Mungkin bukan aku, tapi ada. Dan mungkin, justru orang itu adalah dirimu sendiri. Menulislah, nanti dirimu di masa depan akan bersyukur, karena kamu sudah menulis di masa ini. Karena menulis sekarang underated banget, buat menyimpan memori. Seolah memori hanya disimpan dalam foto dan video. Padahal kan bisa lewat tulisan juga.

 

So let's write. Sesederhana apa pun. Menulislah.

 

Wallahua'lam. 


***


PS:

[1] I think I know why. That account @sendysaga, I have some attachment to it. Lewat projek e-book Tak Hingga (cek di menu ebook blog ini). Aku bukan tipe yang mengetuk pintu dan meminta pagarnya dibuka. Tapi projek itu, meski sudah lewat batas deadlinenya, aku memilih untuk mengirim tulisanku, disertai permintaan maaf karena sudah lewat batas waktu pengumpulan. Bagiku saat itu, itu sebuah keberanian, keberanian untuk membuka diri, keberanian untuk mengakui sebuah kesalahan yang tidak kecil. That's why. I think that's why I remember about that account when I think of 'introver'. I wish I can help, even just to encourage people to read and buy his book.


Saturday, January 18, 2020

Not Addicted But Impulsive

January 18, 2020 0 Comments
Bismillah.

#random #gakpenting

*warning* selftalk, another random and abstract post.


Seperti yang tertulis di judul, sementara, itu kesimpulan yang aku temukan. What I'm not and what I am.

Yang pertama baik, harus dijaga.

Yang kedua buruk, harus dijaga juga. I mean... I need to keep myself from being impulsive.

That's it. Selamat mengenali diri Bel.. Selamat berjuang, selalu aware, waspada, juga ingat.

It's getting closer to Ramadhan, let's prepare yourself while praying that Allah will give you chance to meet him again.

Allahua'lam.

***

PS: 'him' refer to month Ramadhan. Agak aneh kalau kalimatnya "...while praying that Allah will give you chance to meet it again"

Btw, kalau bulan (month) di bahasa arab itu muannats atau mudzakkar? Kalau bulan-moon (qamar) kan muannast, bener ga?

*tanya ke siapa bell?
#tanya ke tembok hehe

Thursday, October 10, 2019

Menjadi Nyamuk

October 10, 2019 0 Comments
Bismillah.

#gakpenting

Sebuah curcol ga penting tentang kejadian unik saat blogwalking.

***

Aku masih sama, masih suka baca banyak blog orang lain diam-diam. Dari yang kenal, sampai yang sama sekali tidak kenal. Kadang aku sendiri lupa, kapan dan mengapa aku follow blog tersebut. Yang aku tahu, tulisan di blog tersebut masuk ke feed daftar bacaanku.

Ada sebuah blog yang Oktober ini rajin diisi, aku melihat postingannya berturut-turut di daftar bacaanku. Jarang-jarang ada blog personal yang sering diisi. Biasanya mayoritas satu pekan sekali, atau sebulan sekali, atau bahkan setahun sekali. Isi tulisannya oktober ini sedikit banyak menggambarkan perasaannya. It shows her negative vibes. Tapi bukan berarti benar-benar negatif, selalu ada sisi positif yang berusaha ia tulis. Seperti judul blognya "Back to live, to learn and be happy". URLnya singkatan namanya, serta dua buah angka, entah itu angka istimewa yang sengaja ia pilih, atau itu angka yang dibuat otomatis oleh blogger. Aku sendiri tidak tahu.

2 Oktober kemarin, ia posting sebuah tulisan berjudul "Kuatkan pundakku". Berbeda dengan tulisan lain yang biasanya berbahasa indonesia. Tulisan berjudul bahasa indonesia tersebut justru isinya full english. Seperti puisi tapi bukan puisi. Kalimat yang ia buat, isinya, membuat hatiku tergerak untuk menulis komentar.

Perempuan tersebut menuliskan,

"I hit rock bottom of self confidence,
I have nothing to tell me what I am, who I am and what I can do,
This feeling is spiraling down to nowhere
Yet, I have nobody to tell,
Nobody help and ask, nobody...."

Aku baru saja hendak menuliskan komentar pendek, sependek kata "semangat". Atau kalimat doa agar pundaknya kuat, dan langkahnya dimudahkan. Tapi aku terkejut membaca ternyata sudah ada yang berkomentar.

Aku seketika terdiam dan membaca komentar dan komunikasi antara pemilik blog dan pemberi komentar. Kemudian aku mengurungkan niatku untuk komentar. 'Sepertinya... aku akan merusak suasana kalau ikut komentar'.

***

Komentar yang sudah ada di sana isinya memang bukan kata-kata penyemangat. Hanya sebuah kunjungan balik. Penulis komentar bercerita, bahwa ia membaca tulisan lama di blognya dan menemukan perempuan pemilik blog itu berkomentar. Ia pikir, ia perlu untuk mampir dan terkejut ternyata masih ada yang begitu aktif menulis di blog.

Lalu percakapan mereka pun berlanjut. *dan aku seolah menjadi nyamuk yang diam-diam membaca.

Si pemilik blog juga lupa pernah komentar apa, kemudian ia memberikan alamat instagramnya.

Si komentator menjawab lagi, bahwa komentar si pemilik blog sudah lama. Hampir lima tahun yang lalu. Ia juga mengatakan sudah follow instagram pemilik blog.

Dan percakapan terhenti.

***

Yang namanya blogwalking itu, ketika kita baca satu blog, seringkali kita jadi berkunjung ke blog lain. Dan membaca komentar dua orang itu, aku kemudian mengunjungi blog si komentator.

Aku membaca sebagian tulisan di sana, sedikit mengerutkan dahi karena isinya agak berat dan terlalu 'gelap'. Aku memutuskan untuk tidak memfollow blog tersebut. Tapi ada satu hal yang aku syukuri karena Allah menuntunku ke blog tersebut. Ada satu tulisan di sana yang mengobati sedikit rinduku pada Bandung, pada Salman *bukan nama orang hahaha, nama Masjid ^^ just in case someone read it the wrong way.

Juni 2019 ternyata ia berkunjung ke Bandung, berhenti di Balubur *baltos, kemudian berjalan ke masjid Salman. Ia menuliskannya dengan baik. Aku bisa membayangkan berjalan kaki ke ITB dari Baltos. Melalui jalan ganesha, yang saat itu sepi karena H-1 lebaran. Katanya sih begitu, aku sendiri belum pernah jalan-jalan di sekitar ITB H-1 lebaran. Biasanya maksimal sepekan sebelum lebaran aku sudah pulang kampung.

Panjang kayanya, kalau aku harus menceritakan ulang yang dituliskannya. Anyway, tulisan itu rasanya seperti cahaya lampu kecil di malam hari. Blog itu mungkin tempatnya memaparkan pikiran-pikiran yang tidak bisa terus ia pendam di otaknya. Tapi meski sebagian besar isinya gelap, aku masih membaca banyak lampu-lampu kecil di sana. Salah satunya di tulisan tentang kunjungan ia ke masjid Salman, sehari sebelum lebaran tersebut.

Sama, seperti blog perempuan yang tulisannya hampir kuberi komentar. Di akhir tulisannya, aku bisa sedikit lebih tenang. Karena aku yakin, pundaknya sebenarnya sudah kuat. Hanya saja, ia manusia, sama sepertiku. Yang terkadang butuh menyalurkan negative vibes-nya dalam kata, bukan untuk sekedar mengeluh. Justru untuk menguatkan diri, serta mengepalkan tangan dan bersiap kembali berjuang.

Perempuan itu mengakhiri tulisannya dengan sebuah doa, yang kuaminkan dalam hati.
I know i am stronger than what i really think, i have made my life this far, without being fallen to disgrace or darkness,May God still guiding me to a better life, better mind and heart
***

Untuk siapapun, menulislah meski isinya curahan hati kenegativan di pikiran dan hatimu. Tapi... ada tapinya. Jangan menulis di 'jalan raya'. Agar tidak menebarkan virus. Tulis di tempat sepi, di blog anonim tanpa pengunjung tetap, atau di buku diary, atau di note hp.


Terakhir,
Channeling our negative emotions will release all the negativity and will result in positivity. - Medeline Djajasaputra
Semangat!!


***

PS: Yang mau tahu link blognya PM ya hehe. Kalau ditulis di sini, bisa ketahuan soalnya kalau ternyata nyamuk yang lewat di sana adalah aku. wkwkwk.

Sunday, July 7, 2019

Instagram, Forest, Dan Lainnya

July 07, 2019 0 Comments
Bismillah.

Draft beberapa hari yang lalu. Saat itu sedang "sesuatu", jadi untuk memotivasi nulis, aku buat tulisan random ini.

***

Instagram

Aku termasuk newbie di instagram, banyak gapteknya hehe. Baru buat instagram juga bulan-bulan terakhir di Bandung. Tepatnya tanggal berapa bulan apa, ga inget, dan males cari tahu hehe. Anyway, alamatnya agak alay banyak angka, susah diingat hehe. @kirei999193 jangan tanya angka itu angka apa ya hehe. Yang jelas bukan pin atm wkwkwk.

Waktu itu buat ig emang ga jelas tujuannya. Bukan untuk ngikutin tren, dan follow akun-akun keren. Ga niat bakal aktif diisi juga. Benar-benar random. Sampai sekarang aku juga suka mikir, kenapa aku private padahal isinya ga private, maksudnya dibaca semua orang juga gapapa. Tapi untuk saat ini aku masih nyaman begini. Private, dan aku batasi jumlah follow dan followingnya. 50-50. Dulu pernah batasnya dibawah itu, tapi lama-lama nyampe angka 50, gatau juga kalau suatu saat berubah pikiran.

Oh ya, selain akun itu, aku juga buat akun ig untuk blog ini. @betterword_kirei


Trus kemarin kepikiran buat akun lagi, buat newleaf sama mungkin tempat buat nyalin kutipan buku. Tapi sementara aku tahan dulu, karena takutnya cuma buat-buat aja tapi ga keurus hehe.

Forest

Tebak ini bicara tentang apa? Hutan? Nama orang? Hehe. Masih sejenis sama instagram, tapi bukan sosial media. Sama-sama aplikasi hp. Aplikasi yang bantu kita untuk fokus pada kegiatan dan menjauh sejenak dari hp.


Sistemnya, kita set waktu ingin fokus berapa lama. Dari 10-120 menit. Trus kalau udah di start, kita dibantu untuk ga main hp. Ada tulisan pengingat, 'stop phubbing', atau 'Don't look at me!', dll. Selain itu kalau kita buka aplikasi lain, ada tulisan harus 'membunuh' tanaman yang sedang ditanam.

Efektif apa ga? Tergantung orangnya. Kalau pakai forest biasanya justru jadi sering liat hp, pengen tahu waktunya tinggal berapa menit lagi hehe. Tapi masih aku pakai sih, meski jarang. Kalau untuk aku, lebih efektif cara lama, taruh hp di luar jangkauan tangan dan mata.

Oh ya, salah satu alasan masih pakai ini adalah sense of achievement, jadi ada catatan berbentuk hutan yang berisi pohon dan tanaman yang kita tumbuhkan saat memakai aplikasi forest. Selain itu, ada coin juga. Ada shop buat beli jenis tanaman/pohon. Koinku baru sedikit sih, tapi sayang kalau uninstall. Setengah jalan lagi, bisa buat beli pohon sakura hehe.

Lainnya

Masih tentang aplikasi. Jadi ada keinginan untuk ga install game. Sosmed dan youtube saja sudah menyita produktifitas, kalau ditambah game, bisa habis waktu untuk main-main. Tapi kadang keinginan untuk main game itu ada. Cari alternatifnya dengan install aplikasi belajar yang dibuat game. Entah itu belajar bahasa, kaya memrise, dan belajar grammar yang isinya soal-soal pilihan ganda, dll.


***

Kita sebagai makluk zaman now, wkwkwk. *aku paling ga bisa ngikutin trend frase kekinian hahaha.

Anyway, kita sebagai orang yang hidup dengan segala kemudahan yang dibawa oleh komputer, hp, dan teknologi lain, harus sepenuhnya sadar, ga cuma manfaat tapi juga mudharat yang dibawanya. Lalu kita berusaha memilah-milah, agar waktu kita tidak habis untuk meladeni sekian banyak fasilitas itu. Fokus pada tujuan kita, sesekali berhenti dan menjauh darinya, supaya tidak addicted, supaya kita membuat batas yang jelas, siapa yang berkuasa hehe. Bukan hp kita yang menarik tangan dan mata kita untuk selalu mengelus dan melihatnya. Kita bisa dengan mudah mengatakan, "bye dulu, ada banyak kerjaan lain". Ya, kita harus bisa begitu.

Semoga Allah memberkahi hari-hari kita~ Aamiin.

Allahua'lam.

Monday, February 25, 2019

I'm on the Extrovert Side (?)

February 25, 2019 0 Comments
Bismillah.

#random #curcol


I feel like I'm on the extrovert side.. Terutama saat aku memberanikan diri dm akun instagram tertentu untuk menanyakan sebuah projek menulis yang sudah lewat batas tanggal pengiriman. Padahal isi tulisannya bercerita tentang diri, sesuatu yang sebelumnya ingin kututup saja, kecuali memang diperlukan dibuka. I think I have moved on. Aamiin hehe. Meski belum lama aku masih mimpiin hal sama. Ketika keinginan di alam bawah sadar ga bisa berbohong hehe.

I feel like I'm on the extrovert side.. saat temen di Sabtulis share tentang #1m1c yang mirip sama sabtulis. Trus aku dengan ringan daftar aja jadi anggota. Bukan daftarin blog lain, tapi blog ini. Blog yang banyak berisi curhatan hehe. Padahal bisa saja aku daftar pakai blog New Leaf, atau tumblr, atau medium. Seolah aku sudah siap open house blog ini hehe

I'm sure, I'm on the extrovert side.. saat gabung grup FFB dan memperkenalkan diri, lalu iseng bertanya, dan biasa aja meski ga ada yang jawab hehe. Juga saat materi di kelas online whatsapp (23 Februari) dan aku bersuara, padahal biasanya cuma menyimak, jarang bertanya.

Tapi... untuk yang terakhir, aku jadi bertanya. Will I be on the extrovert side? Dan mengerjakan tugas dari kelas online tersebut dengan ringan? Atau aku abaikan saja tugasnya, lalu pilih left group? wkwkwk. Entahlah.

Tugasnya sebenarnya cuma buat tulisan kesan dan pesan kelas online malam tadi. Mudah in syaa Allah kalau cuma nulis, Tapi bagian ini...


Meminta orang untuk komentar hm.. dan itu orang yang sudah pernah nerbitin buku. Bisa sih.. minta ke kakak-kakak dan temen-temen di Aksara. Hehe. Tapi tapi.... apakah aku dalam fase seekstrovert itu? Sampai minta orang lain untuk komentar di blog ini? I doubt I am. So do I doubt I will.

Maybe I'm not on my extrovert side yet.. J

Allahua'lam.

Tuesday, February 5, 2019

Yang Hadir Lalu Pergi

February 05, 2019 0 Comments
Bismillah.

Pagi ini aku tak melihatnya. Entah kemana. Aku pikir ia sudah pergi, mungkin menemukan tempat lain untuk bermain. Sampai sore dan hujan, ia kembali. Tubuhnya basah. Bulunya penuh oli, entah tanpa sengaja terjatuh, atau ada orang yang jahat padanya. Kulihat wajahnya terluka. Ia berjalan gemetar mendekat padaku, kemudian masuk ke kolong meja di depanku. Aku bingung, apa yang harus kulakukan untuknya?

Kuambil kain lap kuletakkan di bawah kolong, ingin aku memberitahunya untuk mengeringkan tubuhnya dengan itu. Tapi aku tidak bisa bahasanya. Ia masih berderi kedinginan di lantai kolong meja, tidak menangkap maksudku mendekatkan kain berwarna biru. Aku tak tega melihat tubuhnya, bekas oli, luka di wajahnya, basah kuyup, jelas ia kedinginan. Aku memilih memandangi hujan di luar yang makin deras. Sembari sibuk memandangi layar.

from unsplash

Aku menengok kolong meja. Kucing kecil itu sudah duduk diatas kain biru, itu jauh lebih hangat, daripada berdiri di lantai keramik yang selalu dingin baik saat hujan maupun terik. Aku... masih hanya bisa diam, lalu sibuk dengan diriku sendiri. Selalu begitu, aku tidak bisa berbuat banyak untuknya. 

***

Aku seperti orang-orang yang suka bunga, tapi tidak tahu cara merawatnya, dari kecil, kuncup, mekar. Sama... aku juga seperti itu. Aku tidak tahu harus bagaimana sejak saat kucing kecil itu sering ke sini.

Aku bertanya-tanya, akankah kucing ini berakhir seperti kucing kecil saat itu? Yang hadir lalu pergi... membuatku bertanya, apa yang ingin Allah sampaikan lewat pertemuan yang cuma sebentar. 

Allahua'lam.

Thursday, December 20, 2018

Tentang Canva dan Starred Medium Post

December 20, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random

Cuma ingin berbagi di sini, hal baru yang kemarin kutemukan tentang satu aplikasi desain dan platform menulis yang saya gunakan.

Canva Punya Blog

Meski sudah install aplikasi canva di android lumayan lama, saya termasuk pengguna yang jarang update versi terbaru. Qadarullah kemarin-kemarin diupdate, namun tidak menyempatkan mengeksplor fasilitas barunya. Cuma merasakan lebih banyak layout, dan font. Lalu tanpa sengaja, mengklik ikon "learn". Ada dua judul saat itu, dan saya memilih tulisan tentang font yang sedang trend. Setelah baca, muncul tuh dibawahnya related articles. Dari situ, baru sadar, ternyata canva ada blognya.

yang mau baca lengkapnya bisa klik di sini.
Jadi, selain dipakai untuk desain, bisa juga baca artikel yang mungkin menambah wawasan tentang desain. Keren. (:

Tentang blog aplikasi, mengingatkanku akan medium. Di medium banyak blog milik aplikasi tertentu, misal gojek, apa lagi ya? Pokoknya banyak. Hehe. 

Starred Medium Post

Medium platform blog gratis, tapi ada versi berbayarnya juga. Misal untuk beli domain, juga untuk membaca tulisan-tulisan berbintang lebih dari tiga. Kalau yang gratisan dibatasi maksimal 3 tulisan per bulan. Tapi.. kayanya sistem ternyata bisa diakalin. Tanpa sengaja saya menemukan caranya. Sebenarnya ragu, apa boleh ditulis? Apa ini ngajarin yang tidak benar? Hehe.

Jadi tiap beberapa hari, saya dapat email dari medium daftar highlight post supaya saya membuka akun medium dan membacanya. Mayoritas tulisan highlight post biasanya tulisan berbintang. Beberapa judul yang menarik saya klik, dan otomatis dibuka menggunakan browser chrome di hp. Satu dua tiga, lama-lama saya mikir, perasaan sudah lebih dari tiga bulan Desember ini. Kenapa masih bisa baca? Ternyata karena chrome saya tidak login akun medium. Saya juga tidak menggunakan aplikasi medium di android. Biasanya buka medium menggunakan browser Firefox Lite.

Jadi, apa saya harus berhenti membaca? Hehe. Rasanya seperti salah. Karena jatah saya baca sudah habis, tapi karena 'jalan belakang' yang tanpa sengaja saya temukan, saya jadi bisa membaca lebih dari itu. 

***

Bahasan tentang canva dan starred medium post sudah selesai. Seharusnya sekarang saya menyelesaikan draft nukil buku yang menumpuk. Doakan ya semoga diringankan jemari dan otak saya untuk merangkai kata. J

See you. In syaa Allah. 

Allahua'lam.

Wednesday, August 29, 2018

Pelarian

August 29, 2018 0 Comments
Bismillah.

Jujur... aku takut, aku kembali lari, dan bukannya menghadapi. Lebih mudah untuk pura-pura lupa, padahal sebenarnya selalu ingat. Aku tahu padahal, begitulah kalau cara yang kita pilih adalah lari.

Kemana kamu berlari, apa bentuk pelarianmu? Menulis di sini? Bukan. Bagiku, di sini justru jalan tengah untuk mengingatkanku, agar keluar dari fase pelarian.

Pelarian, biasanya apa yang menjadi media pelarianmu? Makan? Ya.. ada yang memilih makan sebagai pelarian. Alih-alih mencoba menyelesaikan kerumitan, lebih baik pura-pura lupa dengan menyibukkan mulut, gigi dan lidah dengn berbagai makanan. Ada juga yang pelariannya tidur. Saat tidur, ia memang tidak memikirkan masalahnya. Namun ia lupa, ia tidak bisa tidur terus, suatu saat ia akan bangun, entah karena lapar, alasan lain. Ada juga yang pelariannya main, nonton, nge game, segala jenis hiburan yang bisa sejenak jadi sarana pura-pura lupa. Jika habis satu, pindah ke yang lain. Ada lagi yang lain.. banyak. Pelarian itu medianya banyak. 

***

Ah.. jadi inget salah satu nukil buku yang membahas tentang pelarian/berlari. Istilah bahasa arabnya apa, aku tidak inget...

Firar maknanya melarikan diri/pelarian. Ada dua jenis pelarian, yang menderita: lari dari Allah ke hal-hal lain, dan yang bahagia: lari dari hal-hal lain ke Allah.
Baca : Istilah Lain dari Kelapangan Hati
Kau tahu? Mengapa aku memilih tetap menulis, meski kondisinya sedang tidak baik. Dan tulisanku sangat amat mungkin bermuatan serba negatif? Karena tulisan membuatku berpikir, dan menyadari realitas. Termasuk kondisi saat aku ingin mencari pelarian saja. Menulis juga.. membantuku mengingat, otakku bekerja. 

Dan ingatan tentang nukil buku tersebut, sedikit mampu membuatku lebih tenang. Manusia pada dasarnya memang penakut, pengecut, atau aku salah? Anak kecil kan berani ya? Hehe. Hmm.. Maksudku.. aku teringat penjelasan tentang halu'a. 
Baca: Halu-a dan Halu'a
Random. Tapi alhamdulillah, alhamdulillah.

Aku kehabisan kata. Izinkan aku kopas beberapa link, kemudian aku akhiri tulisan random ini. 

Untukku... jangan berhenti menulis ya. Sampai Allah menentukan aku tidak bisa menulis. Selama itu tidak terjadi... mari produktif menulis. Lurukan niat. Ingatkan pada dirimu, tulisan - tulisan di blog ini, dan blogmu yang lainnya.. untuk dibaca dirimu sendiri. Baik saat kamu menuliskannya, juga nanti.. saat kamu membaca ulang tulisan lamamu. 

Semangat untukku 👊

Allahua'lam.

Monday, July 16, 2018

A Dreamer

July 16, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random
-Muhasabah Diri-

Pernah ikutan tes IMBT dapet hasil x, di lain waktu dapat hasil y. Mirip sih, cuma ganti E sama I (ekstrovert dan introvertnya). Baca penjelasannya, kekuatannya. Aku lupa penjelasan x atau y, tapi ingat pernah baca kata dreamer. Saat itu, sampai saat ini masih mikir, apa kekuatan seorang dreamer? Kalau cuma pandai bermimpi, membuat angan-angan, berimajinasi, itu buat apa? Hehe.

Menulis ini jadi teringat buku Madarijus Salikin, disebutkan di sana bahwa salah satu dari lima perkara yang merusak hati[1] adalah berangan-angan.

Aku salin beberapa kalimat dari bukunya ya, tentang angan-angan. 
Setiap orang menciptakan di dalam. jiwanya gambaran yang diinginkannya. Seakan-akan dia beruntung mendapatkannya. Tapi ketika dia tersadar, ternyata tangannya hampa dan hanya memegang bantal.
Tapi orang yang memiliki hasrat tinggi, maka angan-angannya berkisar pada ilmu dan iman serta amal yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah.
Pertanyaannya, adakah aku termasuk yang angan-angannya berkisar pada ilmu dan iman, serta diikuti dengan amal?

Menulis ini, tiba-tiba teringat buku favoritku, Jalan Cinta Para Pejuang, karya Salim A. Fillah. Aku ingat, bagaimana Ustadz Salim membuat puisi yang isinya jadi outline keseluruhan bukunya. Buku nonfiksi pertama yang aku nikmati karena bahasanya penuh sastra, banyak puisi dan kutipan puitis. Salah satunya tentang mimpi. Aku mungkin ga hafal bagaimana Ustadz Salim menuliskannya, tapi aku ingat pesan intinya. Menjadi dreamer, yang bukan bermimpi dalam tidur, tapi bangun untuk mewujudkan mimpi itu. Salah satu caranya, sedikit tidur dan mendirikan shalat malam. Menulis ini berat, apa kabar malammu? Lebih sering nyaman di atas kasur berselimut? TT

***

Dreamer, that word, what's the good thing about it? Hehe. *bagi yang protes, silahkan buat tulisan jawabannya hehe. 

Mungkin banyak, dan pastinya ada. Cuma saat ini, aku sedang tidak bisa melihatnya. Aku tahu sebenarnya kapan dan bagaimana agar angan-angan tidak melayang-layang bak layangan. Tinggal bagaimana pengetahuan itu aku aplikasikan, untuk memutuskan benangnya, atau mengaitkan layang-layangnya ke pohon atau layang-layang lain, biar putus senarnya hehe. 

Trus karena sudah memberi tag random, tiba-tiba otakku mengajak menulis yang lebih random lagi. Anak-anak kecil jaman sekarang, berapa yang kenal sama layangan? Dan berkesempatan memainkannya? Trus teringat juga, novel the kite runner. Hmm. Kita sudahi saja. Sudah malam, ikan bobo. *ini...  iklan jaman kapan hehe...

Kututup dengan doa tidur yang pernah dihafal dulu.. 

Bismika Allahumma ahya wa amut, dengan nama-Mu Ya Allah, aku hidup dan aku mati. Aamiin.


Allahua'lam. 

Keterangan :
[1] Adapun lima perkara yang merusak hati adalah: banyak bergaul/bercanda dengan manusia, mengumbar harapan, bergantung kepada selain Allah, kenyang dan banyak tidur. - Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam. buku Madarijus Salikin

Friday, July 13, 2018

Yes, Ya

July 13, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random #gakpenting

Ia hanya menjawab singkat kalimat-kalimat yang aku kirim berturut-turut padanya. Yes katanya, iya katanya. Kata singkat tersebut cukup untuk membuatku tersenyum. 

***

Kadang kita memang tidak perlu jawaban panjang lebar. Tidak perlu kalimat positif, kutipan inspiratif. Kita cuma perlu jawaban singkat, yang menunjukkan kalau orang lain mendengarkan kita, membaca kalimat-kalimat kita. 

Meski kadang juga, kita suka dibuat kesal pada mereka yang hemat kata. Yang hanya suka menjawab singkat dengan kata ya, tidak, anggukan, atau gelengan. Tapi sebenarnya, kalau dipikir-pikir itu lebih baik daripada tidak ditanggapi sama sekali. Ya lebih baik, setidaknya kamu tahu mereka hidup, mendengar dan membaca. 

***

Menulis ini, memoriku meluncur ke beberapa tahun lalu, saat aku ditempatkan di sebuah divisi yang banyak silent readernya. Saat itu aku banyak marah, banyak terbawa emosi. Sekarang, sudah tidak. Itu bahkan jadi lebih membekas, karena keunikannya. Aku ingat sekali, betapa sering aku seolah ngomong sendiri di forum tersebut. Tanya sendiri, jawab sendiri, brainstorming sendiri, diskusi dengan diri sendiri. Sampai suatu waktu, aku butuh bantuan orang lain. Maka di forum tersebut kusampaikan. Hadiah untuk pemenangnya aku letakkan di sekre, rak divisi kami, tolong serahkan ke pemenangnya ya. Aku pikir, akan sunyi, ga ada yang jawab. Ternyata, akhirnya ada yang muncul dan menjawab. Kalau ga salah ingat, satu kata, bisa, atau boleh. Pokoknya antara dua kata itu.

***

Balik lagi ke topik tulisan ini. Komunikasi itu penting. Kita memang bisa saja bekerja tanpa bersuara, kerja saja, tanpa bilang-bilang. Tapi kalau ini tentang urusan lebih dari satu orang, kadang perlu ada komunikasi. Agar jangan sampai pekerjaan sama dikerjakan lebih dari satu orang, hanya karena miss komunikasi. Jawab ya, yes. 

***

Tulisan ini, terinspirasi dari jawaban Pak Nass saat kukatakan bahwa aku ingin mulai lagi setor tulisan untuk draft buku.

Yes. Tiga huruf, satu kata. Tapi cukup untuk mengingatkanku, wah bapaknya sudah balas yes, masa aku ga memenuhi komitmenku sendiri.

Semangat menulis. Maaf random, gakpenting pula hehe. Curcol juga. 

Sekian.

Wednesday, July 11, 2018

Lomba Menulis Asian Games

July 11, 2018 0 Comments
Bismillah.

#random #selftalk

Aku dapat infonya dari grup EMC. Iseng, atau memang berminat ikut, entahlah, yang jelas, aku buka link yang tertera di posternya.


Aku baca keterangannya, udah sempet klik juga pendaftarannya, ada pelampiran cv pula hehe. Kaya mau melamar kerja aja hehe. Mungkin aku tertarik karena ada yang bisa aku ikuti, sebagai blogger. Mungkin tertarik, karena angka yang tertera sebagai total hadiahnya. Atau tertarik, karena ada pelatihan writingthon selama sepekan, artinya kesempatan bertemu banyak orang, belajar menulis, termasuk kesempatan menerbitkan buku. Batas waktunya sampai tanggal 15 Juli. Tinggal beberapa hari lagi. Terkait syarat-syarat, kayanya bisa dipenuhi. Bisa nih dicoba ikutan aja. Sudah lama sekali kayanya aku ga ikutan kompetisi menulis, sibuk dan mencukupkan diri menulis di blog sendiri. hehe.

Tapi kemudian, overthinking-ku kambuh hehe. Biasa lah, selftalk sendiri memikirkan banyak hal lain yang membuatku ragu, ikut, ga, ikut ga. Seperti pemikiran, ah paling ga menang. Lagian tahu apa aku tentang asiangames. Hehe. Trus keseluruhan isi blogku, dengan asian games, ga match, ga nyambung. aneh ga sih? hehe. Dan begitu diterusin terus aja dengan pertanyaan dan pernyataan lain, di otakku, gitu terus. Sebenarnya aku tahu, overthinking itu ga baik. Kalau mau ikut, ya ikut, kalau ga, juga gapapa. That's your choices. Tapi jangan terlalu banyak mikir dan buat excuse.

Kalau ga ikut, fokus ke misi lain hehe. Tentang draft. Hua... butuh mentor minta bantuan, uda ada mentornya, jangan bandel, kerjain, setiap hari edit, atau nulis. Jangan alasan kekurangan fasilitas, kamu tahu, kamu bisa nyaman-nyaman aja nulis dan ngedit di google docs meski di hp. Jadi? Bergerak bell.. jangan mau kalah sama diri sendiri. Kan kemarin baru nulis nukil buku tentang proaktif, gimana sih?? hehe.

Anyway, semangat! Untukku, dan untuk siapapun.

***

Yang mau ikutan lombanya, buruan buat konten, trus penuhi syarat-syarat, isi formulir pendaftaran di link. Berdoa jangan lupa. J

Semangat menulis ~

Tuesday, July 10, 2018

Kutipan/Quotes

July 10, 2018 0 Comments
Bismillah.

Tulisan ini tidak akan berisi kutipan atau quotes. Hanya sedikit pemikiran yang terlintas, saat kubaca pertanyaan orang tentang maksud dari sebuah kutipan. 

Kutipan/quotes biasanya tinggal lengkap, ia dipilih untuk menghighlight keseluruhan tulisan/percakapan. Jika baik pemilihannya, bisa jadi pintu untuk membaca tulisan/percakapan keseluruhannya. Jika salah pilih, bisa misleading, ambigu dan membingungkan. 

***

Another case. Masih tentang kutipan. It's interesting to find someone learning to write, just by making some simple design quotes. Jadi ia buat desain, lalu diberi satu dua kalimat darinya. Tapi karena masih belajar, wajar kalau kalimatnya masih ambigu, belum efektif. Gapapa, namanya juga belajar. Justru salut, ia berusaha belajar meski dari hal kecil. Bukan berangan-angan menerbitkan buku, tapi tidak menulis sama sekali. 

***

Terakhir, semangat membaca dan menulis~


Allahua'lam.

Saturday, July 7, 2018

Semakin Emosional, Semakin Sulit?

July 07, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random

Jadi sehari kemarin aku habiskan tanpa menulis. Dan hari ini, kukatakan pada diriku, aku harus menulis. Sembari blogwalking untuk cari topik yang menarik, kemudian brainstorming, sebuah pertanyaan kemudian muncul di otakku. 

Semakin emosional kita terikat pada suatu topik, apakah itu membuat kita semakin sulit menuliskannya? Atau justru semakin mudah? 

Pengalamanku.. sebagai orang yang hampir selalu bawa perasaan hehe, bisa keduanya. Bisa mudah, ya ngalir aja, kan lagi emosional, jadi rasanya kaya banjir ekspresi, banjir kata-kata yang memenuhi dada dan otak. Biasanya lebih mudah menulis topik saat aku reaktif dan sensi terhadapnya hehe. 

Tapi.. bisa jadi sebaliknya. Semakin emosional aku terikat pada topik tertentu, semakin sulit menuliskannya. Contohnya, ada sebuah khutbah, bahas tentang satu ayat perihal pertengkaran anak dan orangtua, surat al ahqaf. Itu sudah lama banget wacana untuk menuliskannya, draftnya sudah bolak balik diganti, bahkan dibuat yang baru, dengerin lagi khutbahnya, nyatet pake tulisan tangan, baru setengah jalan udah kebawa emosi lagi hehe. Topik tersebut terlalu terikat erat bagiku. Ya, posisiku sebagai anak, yang seolah ayat itu disajikan untuk menggambarkan tentangku. Rasanya berat gitu nulisnya hehe. Bagaimana bisa aku menuliskannya, kalau aku belum sepenuhnya merefleksikan isi khutbahnya di hidupku. Aku sudah berkaca, tapi kalau berhenti di situ, buat apa? Rasanya seperti.. apa ya, susah jelasinnya. Tapi intinya sulit, menulis topik yang terikat emosional bagi diri. 

***

Kalau sudah kaya gini.. sebenarnya solusinya adalah menenangkan emosinya, dan mengedepankan rasionalnya.

Harusnya sih hehe. Tapi menulis dengan otak saja, tanpa membawa hati rasanya bukan aku banget hehe. Padahal, mayoritas tulisan di sini bisa jadi cuma kata-kata kosong, tanpa bawa hati dan otak. Cuma permainan kata. 

Anyway, tulisan ini.. intinya masih sama, ingin bertanya, apa sebuah topik, yang kita terkait secara emosional membuatnya lebih mudah dituliskan? atau justru lebih sulit?

Allahua'lam.

Saturday, June 16, 2018

Saat Blog Penuh Iklan dan Promosi Tersembunyi

June 16, 2018 0 Comments
Bismillah.

Ada sebuah blog yang sudah lama saya ikuti, isinya bagus, lumayan aktif. Sampai suatu hari, aku mulai meniteni kalau isinya sekarang bermuatan promosi dan iklan. Misal judulnya mah hari fitri nan bersih, eh.. ada iklan sabun cuci muka di dalamnya. Tetap ada kontennya sih, ga murni iklan, tapi ya gitu.. saya jadi agak ga nyaman bacanya. Pengen unfollow juga gimana, kadang masih ada pelajaran yang di dapat dari blog tersebut. Jadi deh, setiap ada pemberitahuan, aku jadi harus jeli dan ga terlalu refleks buat klik, open in new tab.

***

Tentang blog yang menghasilkan uang, memang ada banyak caranya. Salah satunya itu, iklan tersembunyi dalam kemasan konten menarik. Aku lupa istilahnya apa.. oh ya, copywriting, bener ga? Bisa juga dengan nyediain space, biar pihak ketiga bisa pasang iklan.

Aku yang sudah lama, main blog, pernah juga kepikiran untuk itu. Tapi memang baru selintas ide saja. Ga ada sama sekali motivasi untuk merealisasikannya. Kadang aku bertanya-tanya sih, bagaimana kalau promosi tersembunyi, atau papan iklan, justru mengganggu pembaca? Jangan sampai konten yang ingin kita bagikan, justru ga sampai.

Pernah juga mikir, apa perlu buat blog baru? Dengan topik yang seragam? Secara kalau blog ini kan isinya campur aduk, banyak curhat, sering ga jelas, plus sebenarnya tidak ingin terlalu publik juga.

Kalau buat blog baru, topik apa yang akan dipilih? Aku mikirnya bahasa inggris, penjelasan sederhana, cem tulisan "are you ok", yang mayoritas dikunjungi pengguna android. Banyak yang search gitu, apa arti are you ok, jawabnya gimana. Nah kan.. bisa tuh, buat konten lain, semacam bedanya penggunaan must sama have to, atau apa lah hehe. Sekalian belajar, sambil nulis, sambil belajar hehe. 

Tapi... tapi.. ya gitu, baru selintas ide. Aku masih belum bisa proaktif, masih sering ragu dan membatasi diri sendiri. Perasaan minder itu ada, menulis itu, salah satu hambatannya ya perasaan minder. Ga cuma diri, aku yakin temen-temen lain juga banyak yang gitu. Pengalaman ngobrol sama beberapa temen dunia maya, satu grup menulis, aku tanya biasa nulis dimana, jawabannya di hp atau laptop sendiri, disimpan dan dibaca sendiri. Jangankan di share di blog, di sosial media seperti instagram pribadi juga enggak. Padahal keinginan untuk nulis itu sudah ada, bahkan tulisannya juga sudah ada. Tapi ya gitu, beda orang, beda level rasa nyaman untuk share tulisan.

Yang lucu itu ya.. kemarin Ramadhan kan aku target tiap hari nulis (cuma kecapai 23 tulisan, di akhir gugur hehe), aku share ke grup kecil yang isinya perempuan dengan umur beda-beda, ada yang senior, ada juga yang masih duduk di sekolah. Saat itu, ada yang komentar, bagus sih komentarnya, apresiasi gitu, pengen grup tersebut rame terus dengan sharing tulisan. Tapi dalam hati aku menggelengkan kepala, ga bisa gitu juga kali hehe. Aku juga ga bisa setiap hari share link tulisan, lebih banyak masa aku ingin menulis saja tanpa share, ketimbang waktu aku ekstrovert dan nyaman share tulis hehe. 

***

Udah ngelantur kemana-mana ya? Hehe. Intinya, ada tiga. Pertama bahwa punya blog menghasilkan itu baik, salut buat yang sudah bisa membuat konten menarik, dengan sisipan promosi/iklan tersembunyi. Kedua, untuk buat blog semacam itu butuh usaha, butuh niat juga, dan balik lagi ke prioritas, pinter-pinter aja ngatur, bagaimana blog bisa terbaca dan bermanfaat, menghasilkan tapi ga mengganggu kenyamanan pembaca. Ketiga, menulis itu berat hahahaha, jadi inget sebuah tulisan yang balik ke draft. Ralat, inti ketiga bukan itu. Menulis itu.. ada hambatan-hambatannya, tinggal kita mau ga berjuang melewati hambatan itu? Tetap semangat menulis~


Allahua'lam.

Tuesday, June 12, 2018

Kuadran Dua

June 12, 2018 0 Comments
Bismillah.

Tulisan ini.. akan jadi nukil buku tapi versi coretan. Nanti yang lebih tertata, dan ga acak-acakan lain waktu. Selama Ramadhan, ada dua buku yang aku baca, ya, dua buku yang belum beres-beres dibaca hehe. Madarijus Salikin sama 7 Habits. Madarijus Salikin udah ada beberapa nukil bukunya kan ya? Nah yang seven habit, ada beberapa yang ingin aku tulis di sini.

Aku baru baca sampai kebiasaan keempat. Kebiasaan pertama proaktif, di sini.. aku banyak banget belajar, bahwa selama ini aku banyak reaktif. Meski aku bilang pada diriku, aku ga menyalahkan orang lain, ga menyalahkan lingkungan. Tapi setelah baca penjelasan di buku ini, aku paham betapa aku pasif, dan efeknya, ya.. ga banyak berprogres. Seolah aku cuma menerima apa yang hadir di hidupku, tanpa aktif mecari peluang dan kesempatan, tanpa aktif mendayagunakan nikmat yang sudah ada.

Yang unik dari penjelasan proaktif, ada contoh kisah yang sudah aku kenal. Kisah nabi Yusuf. Trus sembari baca itu.. banyak hal aku pikirin. Tentang video How Du'a Works, yang jelasin juga tentang jalan hidup Nabi Yusuf 'alaihisalam. Juga video Essence of Parenting, bagaimana kita ga bisa bergantung pada lingkungan. Rasanya kaya ikut kuliah yang sama berkali-kali. Jadi, kemana aja selama ini? Cuma duduk dan isi presensi? Isi kuliahnya ga paham sama sekali? Gitu deh rasanya. Menengok lagi juga masa-masa waktu teh Risma baca buku ini, di selasar kortim, bulan Ramadhan tahun lalu kalau ga salah, aku waktu itu ga baca buku, kayanya sih buka laptop blogwalking atau nulis. Inget waktu teh Risma jelasin apa yang udah dibaca. Semuanya kaya nyambung. Saat itu aku terlalu banyak menunggu, menunggu kondisi ideal untuk bergerak. Aku bener-bener jauh dari proaktif. 

Baca proaktif ngingetin aku.. kalau kita harus bergerak di lingkar pengaruh kita. Lakukan saja dulu apa yang bisa kita lakukan. Jangan banyak bicara, mengeluh, apalagi mencerca. Jangan menyalahkan kondisi, orang lain, bahkan juga diri sendiri. Lebih baik sibuk melakukan apa yang kita bisa lakukan. Sedikit demi sedikit.

Jadi bell.. menulis ini, kamu sudah tahu kan? Kamu harus melakukan apa? J

Kebiasaan kedua, start from the end. Mulai dari akhir. Tentukan tujuan akhir, visualisasikan. Jangan terjebak sibuk naik tangga, tapi ternyata salah tangga. Di sini dibahas bedanya kepemimpinan sama manajerial. Pemimpin yang bisa ngasih tahu, kita berada di jalur yang benar atau salah. Manajer, fokusnya ke efisiensi kerja. Bener ga ya? Hehe.. Sama seperti sebelumnya, aku banyak inget teh Risma. Aku inget di perpus lantai empat, saat aku menyatakan bahwa aku sebenarnya sudah memutuskan X. Saat itu teh risma menjawab, lewat kutipan dari buku ini. Gapapa, kalau memang itu yang sesuai dengan tujuan akhirmu. Jangan sampai menaiki tangga yang bersandar pada dinding yang salah. 

Kebiasaan ketiga, dahulukan yang utama. Ini baru tentang manajerial. Tentang prioritas. Ini yang mendorongku untuk menulis. Jadi... dijelaskan di buku ini ada empat generasi, bagaimana manusia mengatur aktivitasnya. Dan tahu ga, aku kok masuk generasi pertama ya? hehe. Checklist, cuma daftar aktivitas, kl udah beres dicoret, ga ada letak prioritas. Jleb.. 

Trus juga, kan dijelasin nih tentang empat kuadran aktivitas dan waktu. Udah pada kenal kan? dibagi berdasarkan penting-tidak penting dan mendesak-tidak mendesak. Aku awal baca agak males, ah.. ini mah dar dulu juga udah tahu, ada pembagian ini. Tapi setelah dipaksa baca, ternyata. Selama ini aku cuma tahu pembagiannya, iya bagusnya kita sibuk di kuadran dua (penting dan tidak mendesak), tapi ya cuma tahu. 

Nah di buku 7 Habits dijelasin cara make nya. Ada tabelnya juga. Dan itu turunan dari kebiasaan dua. Jadi sebenernya, di kebiasaan dua disuruh buat semacam misi gitu, tujuan yang mau dicapai. Dibagi ke peran, trus prinsip yang perlu dilakukan. Misal peran anak, tujuan/misinya jadi qurotta a'yun bagi orangtua, nah trus dijabarkan gimana supaya bisa jadi qurotta a'yun. Nah di kebiasaan ketiga, dibuat jadwal per pekan. Misal mijetin ibu tiap hari apa.. ngepel kamar ortu tiap hari apa, ngafal quran, dll, dst. Setiap sepekan di evaluasi. Gimana tingkat komitmen kita, tingkat integritas kita akan jadwal yang kita buat sendiri.

***

Kuadran dua. Gimana supaya kita bisa prioritas ke kuadran dua. Gimana supaya ga sibuk ngerjain kuadran 1 atau 3. Gimana supaya kita ga lari ke kuadran 4. Setelah baca tentang pembagian kuadran, termasuk teknik penjadwalan sejujurnya aku belum mulai praktik. Masih teori aja. Padahal di buku ini di awal ditegaskan, bukan belajar namanya, kalau cuma tahu tapi ga dilaksanakan.

Ramadhan udah tinggal hitung jari, tapi masih kacau manajemen waktu TT

Salah satu kalimat yang masih membuatku bertahan, "jangan menyerah pada diri". Kalimat itu harus sering-sering diulang.


Selama masih diberi nikmat hidup, selama itu juga kita belajar, memperbaiki diri, jatuh dan bangkit lagi, salah dan belajar lagi, dosa dan bertaubat lagi, jauh dan mendekat lagi. Gitu terus, berdoa semoga saat mati, dalam keadaan terbaik.

Allahua'lam.

Monday, June 11, 2018

New from Your Network

June 11, 2018 0 Comments
Bismillah.

#random #blog

"Ngomongin" tentang medium lagi di sini hehe. Maklum lah, medium itu temen baru, dan di sini, teman lama, tempat paling nyaman. Btw, ada ga sih admin/pengurus medium di Indonesia. Kayanya aku bisa jadi pemberi feedback, sekalian pengen diskusi bareng tentang medium, keunikannya sebagai platform menulis, hal yang bisa diimprove dll. 

***

Jadi... sebelumnya, aku pernah memperlakukan medium seperti sosial media. I limit myself from following opposite gender, seperti sosmed lainnya (facebook, instagram, line, whatsapp). Tapi setelah pakai agak lama, aku baru sadar, Medium beda sama sosmed, Medium itu lebih mirip blog. Jadi? Jadi habis itu aku banyak follow akun pengguna lain, yang tulisannya pas di mataku. Mayan nambah daftar blogwalking, ujarku dalam hati. 

But then.. kok meski udah banyak follow, aku ga lihat tulisan mereka di dashboard aplikasi medium di hp ya? Jeng jeng... ternnyata oh ternyata. Entah sejak kapan, feature new from your network ga aku temukan fungsinya di aplikasi android medium. Tiap buka aplikasi, jadi baca tulisan bahasa inggris yang topiknya kadang ga sesuai selera. Ah bete sendiri, akhirnya uninstall. *jgn ditiru, harusnya mah kasih feedback aja ke appstore. hehe

Trus.. setelah kasus akun medium-ku suspend, aku jarang buka medium. Giliran hari ini buka medium, buka tab new from your network, feed-nya berhenti sampai 20 tulisan. Aku? Aku bete sendiri lagi hahaha. Why? Aku juga pengen baca tulisan lama orang-orang yang udah aku follow. 20 tulisan teratas dan terbaru masih belum memuaskanku baca. Masa aku harus buka satu-satu akun, trus aku cek ada tulisan baru apa ga? Ahh.. trus yaudah, balik ke blogger aja. Mending follow di blogger aja ya? hehe.

Kalau di blogger, daftar bacaannya, bisa ditelusuri terus sampai yang lama-lama. Jadi kalau misal aku sebulan ga buka daftar bacaan, aku tetep bisa baca tulisan sekian ratus blog yang update tulisan dalam sebulan. 

***

Aku tahu, ini ga nyelesaiin masalah, tapi mau ngasih feedback juga agak gimana. Aku cuma satu dari sekian banyak pengguna medium. Trus, sebenernya aku paham, alasan dari pembatasan jumlah tulisan di new from your network. Kalau aku bisa akses tulisan dari network dari bulan Mei awal, namanya bukan new, tapi udah old. 

Jadi? Jadi... ya.. ini tulisan keluhan aja. Solusinya, lebih baik follow medium di blogger aja hehe. Nanti in syaa Allah kalau bisa akses laptop, aku follow satu per sati akun yang lumayan aktif nulis di blogger.

Trus habis itu mau deactive medium? Ga dong hehe. Akun medium tetap harus ada, aku kan perlu kasih claps juga, mungkin perlu comment juga, dan banyak hal lain.

Oh ya, ngomongin medium tiba-tiba ingat sebuah LDW yang punya medium, keren ih. Al Hayaat, Bang Hayat. Qadarullah pas cek line, banyak nemu tulisan apik dari akun itu. Bahasanya cocok lah untuk anak muda, dan isinya juga bergizi. Cocok untuk lidahku hehe. Barakallahu fiik untuk pengurusnya. 

MSTEI akunnya juga bagus kok, hehe. Bukan lupa LDW sendiri. Tapi kadang, perlu juga apresiasi LDW lain. Berlomba dalam kebaikan. 

Ah.. masa rebutan kader antara wilayah dan pusat memang sudah lewat. Aku bukan anak wilayah doang, aku anak pusat juga. Aku paham, keduanya sama-sama kekurangan kader, secara begitulah fitrah jalan dakwah, hanya sedikit yang menitinya. Kangen.... 

Mari kita akhiri, sebelum loncat topik lagi. Sorry for the random talks.

Sekian.

Sunday, June 10, 2018

Beberapa Pengingat

June 10, 2018 0 Comments
Bismillah.

Kemarin, gatau kenapa banyak mikir, betapa pengingat dari Allah dibentangkan di hari-hariku, tapi kadang aku yang gagal mengenalinya. Atau kalau sudah sadarpun, sedihnya seringkali diabaikan.


Tentang prasangka, kecurigaan.

Setelah berulang kali sok tahu, mengikuti kecurigaan, ga nyaman sendiri, dan ternyata... salah terka. Berulangkali salah, harusnya sekarang paham, bahwa ga baik berdiam diri dikelilingi prasangka, ga baik mengikuti kecurigaan. Bahkan pernah juga baca sekilas di tumblr, bahwa seseorang yang dicuri hartanya, bisa lebih berdosa daripada yang mencuri, karena ia selalu curiga dan ujung-ujungnya berburuk sangka.

Pernah mikir, aku kan orangnya ga mudah percaya, tapi kenapa ditempatkan di posisi harus sering berinteraksi dengan orang yang ga bisa dipercaya? Waktu itu aku pernah menulis, bertanya-tanya, bagaimana bisa aku belajar untuk percaya, kalau orang yang aku temui, justru mereka yang berbohong dan aku lihat sendiri betapa ucapan dan tindakan bertolak belakang. Aku kira... bukankah itu akan justru membuatku semakin sulit percaya pada orang lain?

Tapi kini.. aku mikir lagi. Justru itu letak ujiannya, justru harus belajar percaya dari yang tidak mudah dipercaya. Percaya sama orang yang jujur itu mudah. Tapi belajar percaya sama seseorang yang sering berdusta itu beda level. Beneran butuh effort buat latihan percaya, latihan berbaik sangka. Bukan berarti menjadi bodoh dan menerima semuanya mentah-mentah. Tapi juga bukan berarti harus selalu curiga. Mungkin itu... hikmahnya aku ditempatkan di situasi ini, saat harus sering berinteraksi dengan orang yang mungkin lebih baik dariku, tapi keburukannya diperlihatkan di depan mataku. Sulit? Iya sulit. Namanya juga belajar, butuh usaha hehe.

Tentang rencana yang berubah


Ini agak bingung jelasinnya. Pakai perumpamaan aja ya, jadi rencana awalnya aku mau belajar naik sepeda, tapi ternyata sama sang guru justru diminta belajar naik motor. Selama belajar naik motor aku setengah ga ikhlas, bertanya-tanya, kenapa ga sepeda dulu yang lebih mudah? Lebih familiar juga, karena sebelum bertemu sang guru, sebenarnya aku sudah beberapa kali nyoba naik sepeda. Tapi setelah menjalani belajar naik motor, meski hasilnya jauh dari target, dan berhenti belajar di tengah-tengah, tetep aja... aku bisa mengambil hikmahnya. 

Seolah memang itu yang Allah takdirkan. Aku jadi belajar banyak hal, tentang urutan yang benar, tentang tidak ada jalan pintas. Tentang sulitnya mengubah sesuatu yang salah tapi sudah jadi habit, ketimbang membuat habit baru dari awal. Tentang kekuranganku, bahwa lewat belajar 'motor' aku jadi paham, aku harus sering-sering cek hatiku, matikah? sakit? atau sehat? Kalau sakit, ciri-cirinya apa. Kalau ga pengen sakit, obat apa yang harus diminum, harus berapa kali ke dokter, dll. 

Oh ya, ini perumpamaan aja ya. Jadi jangan heran kalau ga nyambung. Gimana hubungan belajar naik motor sama hati yang sakit? Ga ada hehe. 

Ramadhan kok ngerasa hampa? 


Pernah beberapa hari ngerasain itu. Hari-hari berlalu, trus aku baca tulisan tentang dzikir di buku Madarijus Salikin. Trus udah deh, akhirnya nemu jawabannya. Buat perempuan terutama, yang ga puasa karena ga boleh, trus hari-hari Ramadhan terasa hampa, mungkin kita perlu tengok apakah hari kita sudah diisi dengan dzikir kepadaNya? Bukan sekedar di lisan, tapi beneran mengingatNya. Coba berkaca, siapa/apa yang sering diingat? Jangan sampai sering kosong, tanpa dzikir, kebanyakan mikir dunia TT

Ciri-ciri Orang Bertakwa


Habis baca tentang dzikir, qadarullah digerakkan hatinya buat baca buku berwarna merah, judulnya Keep Calm and Read Quran, karya teh Lintang. Akhirnya aku baca dari tulisan pertama. Dan tahukah? Qadarullah yang pertama bahas tentang takwa. Membahas tiga ayat di surat Ali Imran ayat 133-135.

Pokoknya baca itu jadi jleb. Kamu ngapain aja bell? Diminta bersegera tuh.. kenapa bersegera? Karena itu hal penting.

Nanti, semoga aku sempat merangkum sedikit dari sana ya. Ga sekarang tapi. Bukunya lagi ga terjangkau tangan. Malem in syaa Allah. *doakan ya.. 

Dilema Nulis di Banyak Tempat


Mulai ngerasa ga bisa menuhin target menulis sehari sekali, di Facebook khusus Ramadhan. Udah bolong beberapa hari. Alasannya klise, kalau udah nulis di sini, rasanya kewajiban nulis udah gugur, trus ada tempat lain juga, udah nulis, jadi deh, yang di Facebook justru terbengkalai. Hmm.

Menulis setiap hari itu susah, ditambah menulis di banyak tempat. Jadi inget jaman dulu. Saat mayoritas amanah harus nulis, beda tulisan, trus gitu deh, ga pinter manajemennya. Mungkin benar kata seseorang, baiknya ambil satu amanah saja, fokus di sana, daripada kita menzalimi banyak pihak. *sekarang mengakui sarannya, dulu mah.. sensi aja hahaha. 

Sometimes I want to explain myself


Ini kok jadi tulisan random penuh curhatan tersirat dan tersurat ya? Yaudah sih, biarin, nulis dulu aja. Nanti bisa dihapus atau diedit.

Ada banyak situasi dimana aku ingin menjelaskan dan mengekspresikan tentang diri, perasaanku, apa yang sudah aku lakukan, dll. Tapi sebagian besar aku menahannya. Dan aku sendiri ga tahu, itu hal baik atau hal buruk. Di satu sisi, aku paham, ga penting banget jelasin tentang diri, sudut pandangku, perasaanku, buat apa?? Tapi di sisi lain, itu yang namanya komunikasi, biar ga ada salah paham. Tapi aku ga sukaaaa... menjelaskan diri itu rasanya seperti harus show off. Jelasin diri, rasanya seperti menghapus rasa ikhlas. Susah jelasinnya. Yang jelas, aku masih ga tahu, kapan aku harus berkomunikasi, dan kapan aku harus diam. Kapan aku harus menahan diri untuk menjelaskan diri, mengekspresikan sudut pandang, dan kapan aku harus berbicara supaya orang lain tidak salah paham dan tidak harus susah payah berbaik sangka kepadaku?

***

Ada lagi kah? Harusnya ada banyak sih.. pengingat untuk diri. Harusnya kalau melihatnya, langsung dicatat, agar tidak lupa. Kadang Allah menitipkan pengingat lewat banyak cara, lewat situasi, buku, tulisan, lewat interaksi dengan orang lain, lewat pemandangan yang diperlihatkan di mata kita, dan lewat banyak hal lainnya. Pertanyaannya, mau kah kita mengambil pelajaran? Peka kah kita sehingga kita bisa mengenali rupanya?

Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wa hablana min ladunka rahmah. Aamiin.

Allahua'lam.

Sunday, June 3, 2018

Teman Bacaku : GMIB dan Generasi Al Fihri

June 03, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random

Pertama, alhamdulillah Allah berikan tempat, komunitas untuk menemaniku membangun lagi kebiasaan membaca buku.


GMIB, Gerakan Membaca by RDK


25 halaman per hari idealnya. Setiap selesai baca buku, harusnya setor satu tulisan boleh resensi, review/ulasan, tulisan bentuk lain. I submit nukil buku, Revive Your Heart dan Life-changing Magic of Tidying Up. Masih hutang dua tulisan untuk dua buku lain. Hmm

Grupnya ga terlalu aktif, aku masuk grup akhawat 2. Yang rajin banget, baca dan lapor setiap hari ada satu orang. Seorang ibu, yang ingin anak-anaknya hobi baca, jadi meski repot ngurus bayi, selalu ngeluangin untuk baca buku.

Sebelum gabung GMIB aku memang sudah meragu, how to read 25 pages a day? Bahkan nawar juga ke adminnya hehe. Seperjalanan, sering bolos ga baca, bisa dihitung hari, saat bisa baca 25 halaman. Sisanya paling cuma baca sedikit banget. Sebenarnya ragu untuk bertahan di grup, malu lah, tapi mau gimana lagi, kalau ga ada grup itu, ga ada yang ngingetin aku untuk baca. At least, dengan ga left grup, setiap grup itu up, aku jadi inget, hari ini aku belum baca buku. 

Konsep yang aku suka dari GMIB, adalah bebas ganti buku. Jadi bisa lapor baca buku lebih dari satu. Aku yang tipenya bosenan, bisa sehari baca buku A, besoknya baca buku B.

Di grup ini dihitung akumulatif halaman yang dibaca. Kemarin, aku baru nyadar, meski cuma beberapa pekan (2 bulan ada ga ya?), karena GMIB kebiasaan membacaku beneran bisa dipupuk. Kalau mau ngaku sih ya.. sebenernya baca sehari 25 halaman itu ga berat. Baca sekali duduk juga ga berat, bisa pengantar tidur. Yang berat itu memulainya. Kalau udah memulai, paksain diri baca tiga-lima halaman, dapet flow-nya, bisa ngalir dan tanpa sadar, eh udah 20an halaman. Tapi kalau males sih ya, kata ibuku, yaudah wkwkwk. Balik lagi ke motivasi, kalau niatnya cuma mau laporan, baca 25 halaman itu sulit, baru baca beberapa lembar, udah berhitung halaman. Duh, payah. 

Generasi Al-Fihri by MPI Akhwat 


Awal ikutan generasi Al Fihri kerasa banget, ini downgrade namanya, bukan upgrade. Ya... secara GMIB itu standarnya minimal 25 halaman, Gen Al-Fihri standarnya minimal 3 halaman per hari. Jadilah konflik. Apa ga perlu keluar? Salah sih, gabung karena ingin coba-coba hehe. 

Tapi setelah jalanin agak lama, sekitar sebulan kurang beberapa hari. Aku inget banget lah, pertama ikutan pas tgl 4 Mei. Trus baru laporan sehari, habis itu bolos beberapa hari sekaligus. Salah sendiri sih, maksain ikutan padahal jelas-jelas lagi safar. Bukunya ga dibawa tiap kemana-mana.

Bedanya sama GMIB, di Gen Al Fihri ada sistem kartu kuning kartu merah. Setiap berhalangan/ga lapor jadi poin untuk bisa dapet kartu kuning, bahkan kartu merah. Aigo.. jadilah.. disiplinnya naik. Kalau di GMIB aku beneran bandel dan semood-nya aja baca dan lapor. Di Gen Al Fihri ga bisa kaya gitu hehe. 

Ada grup sharing juga, bisa ngobrol. Oh ya, ada jadwal nulis resume juga. Digilir tapi. Lima pekan sekali. Dan tahukah? Aku dapet giliran di pekan pertama, pas perjalanan pulang ke Purwokerto diingetin untuk kirim resume. Yaudah bolos. Ga kondusif banget harus buat resume, dengan sisa energi yang tersisa tgl 6 lalu. Tapi aku akhirnya buat tulisan buku kenangan sih hehe. 

Oh ya, lewat grup Al Fihri ini aku jadi bener-bener belajar numbuhin habit baca tiap hari. Tiga lembar itu sedikit kan? Cocok lah untuk diriku yang masih cupu urusan baca. Trus ya, aku baru nyadar perbedaan unit hitungan really matters. Kaya kamu disuruh lari 600 meter, jauh kan ya? Coba kalau disuruh lari 1/2 km? eh? Salah ya contohnya. Pokoknya, aku ngerasa tiga itu angka kecil, dibandingkan kalau unitnya diganti halaman (6 halaman) berasanya besar. Padahal itu kalau menurut orang lain sedikit banget ya? hehe. Yaudah sih, beda level. hehe. 

Ada PJ laporan juga, jadi kalau udah mepet batas waktu laporan, aku belum lapor nih. Ada yang japri dengan nada lembut khas ukhti-ukhti hehe, ngingetin untuk baca dan tulis laporan di grup. Saat giliranku, juga rasanya lebih dekat sama member lain karena jadi japri mereka untuk ngingetin.  Trus enaknya lagi... aku masuk grup dua, yang anggotanya baru 6 orang. jadi kan berasa ekslusif hehe. 

***

Punya temen membaca itu menyenangkan, terutama karena aku belum terbiasa membaca tiap hari. Minat bacaku juga masih naik turun. Beda jauh, aku yang dulu (jaman SMP-SMA) sama aku yang sekarang.

Apa perlu punya temen baca? Tergantung setiap orang. Ada yang bisa memulai kebiasaan membaca sendiri, mandiri, tanpa teman pun ga masalah. Karena mungkin komitmennya sudah tinggi. 

Ada side effectnya juga sebenernya gabung di grup yang fungsinya laporan kaya gini. Kamu jadi harus sering bertanya tentang niat dalam hati. Ketakutan kalau baca cuma karena laporan. Kesannya show off ga sih? Semacam itu. Apalagi aku gabung di dua grup, hehe. Berasanya, ih bacanya segitu doang, kok lapor ke dua grup, ga malu? Malu, tapi aku ngerasa masih butuh temen baca. Meski terkesan double-double untuk saat itu, aku masih ingin menetap di dua grup tersebut.

Oh ya, ada perbedaan sih sedikit. Gen Al Fihri wajib baca satu buku, diselesaiin dulu, baru boleh pindah buku. Selain itu, topiknya juga cuma buku islam. Aku paham sih kenapa, karena pencetusnya anak-anak MPI (Mahasiswa Pecinta Islam). Pendaftaran grup ini juga ga dibuka untuk umum. Qadarullah aku masih bergabung di grup MPI Bandung akhawat jadi bisa dapet info tentang Gen Al Fihri. Kalau GMIB sudah tahu kan ya? Bukunya bebas, fiksi-non fiksi, bahkan katanya buku mata pelajaran juga boleh hehe. Visinya juga lebih luas, untuk Indonesia yang Berilmu? Bener ga ya? Lupa. (yang benar, untuk Indonesia Berkeilmuan)

***

OOT. Ada satu grup lain, bukan komunitas membaca padahal, awalnya projek menulis Ramadhan gitu. Tapi tahun ini ga ada. Tapi... ada yang beberapa posting ulasan buku. Ini ghibah bukan ya? Hehe. Intinya suka aja, jadi inget aksara dan majelis bukunya. Jadi bisa baca ulasan buku, tahu isinya, bisa ambil sedikit ilmunya. 

***

Sudah itu saja. Maaf random. Sekian. 

Semangat membaca, semangat menulis~


Wednesday, May 23, 2018

Biarkan Angka Hanya Menjadi Angka

May 23, 2018 0 Comments
Bismillah.

#random #hikmah
-Muhasabah Diri-

Memangnya ada yang memaksa angka untuk berubah bentuk? Ada. Sebagian angka, menjelma menjadi bukan cuma angka.

***

Mungkin ada banyak yang ga tahu, kalau Mei ini saya sempat mengubah setting blog menjadi private.

Ternyata bersamaan dengan itu.. Allah titiipkan untukku hikmah yang ciamik, yang sayang kalau aku petik sendiri, jadi kuputuskan untuk menuliskannya di sini.

Selama setting-an private, otomatis yang bisa berkunjung ke blog cuma saya. Selama beberapa hari itu, saya rajin baca blog sendiri, boleh dibilang narsis, boleh dibilang bentuk menengok progres diri, boleh juga dibilang nostalgia album kenangan. Trus ada juga hari saya ga berkunjung ke blog, nulis aja, kalaupun butuh cari tulisan, di dashboard aja, bukan di alamat blognya.
gap
Tanggal berapa gitu, sesaat sebelum setting diubah publik lagi, saya menulis di sini, juga berkunjung ke salah satu tulisan. Lucunya, di statistik, tertulis, tiga tulisan yang dikunjungi. Why? Kok bisa? Sampai saat ini saya masih penasaran. Feeling saya, karena saya pakai button prev-next post. Jadi kebaca tiga sekaligus. Hmmm. 

Sejak itu, saya jadi sadar, kenapa setelah ganti theme, jumlah hit-nya makin tinggi. Selain karena banyak yang klik daftar tulisan di popular this week, juga karena keanehan perhitungan jika kita klik prev/next post

Saya perhatikan juga.. memang, seringkali kalau ada tiga tulisan yang diklik, itu adalah tulisan yang berurutan.

***

Pernah saya tulis di sini, tentang diri, yang manusia biasa, yang kadang terlalu sering cek statistik blog ibarat cek notification dari sosial media. 

Angka-angka itu.. semoga tidak membelokkan niat menulis. Jika ada yang aneh dari grafik angka-angka itu, anggap saja itu cuma kesalahan perhitungan. Hehe. 

Trus jadi inget juga, pernah baca di medium. Jadi kalau di medium kan ditulis, berapa view, berapa persen baca, fan/yang kasih claps berapa. Jadi berapa orang yang melihat itu sebenernya ga pengaruh sama sekali, termasuk ga menjamin tulisan kita layak dibaca hehe. Bisa aja soalnya cuma numpang lewat. 

Yang terhitung itu, kalau pembaca mau melakukan sebuah aksi setelah membaca. Seperti follow, atau subcribe, atau like fanpage kita. Claps matter kalau menurut penulis tersebut. Kalau menurut saya, ya itu karena medium termasuk blog, dimana orang indonesia jarang yang suka menunjukkan reaksinya, entah itu berupa claps atau komentar. Beda cerita kalau di sosial media seperti Facebook, like, atau komen, sama sekali ga pengaruh. Banyak yang asal like atau komen tanpa membaca, tanpa benar-benar baca sampai akhir. cuma hitungan detik aja, trus like aja, toh itu temen lama, atau komen aja, topiknya seru. Semacam itu.

Oh ya, saya sudah tahu.. cara mengakali agar tidak sering buka statistik blog ini. Simply, log in-nya pakai akun Magic of Rain aja. Karena Magic of Rain role-nya di blog ini cuma sebagai kontributor, bukan pemilik/manager. 

Sekian.

***

Katanya sekian bell? Hehe. Ada yang lupa.

Manusia.. mungkin karena kita manusia. Kita terkadang meletakkan angka bukan sekedar angka. Kadang salah ditempatkan di hati, padahal harusnya cuma ada di tangan.

Kalau lagi lupa, ingat-ingat lagi aib diri, betapa pembaca tidak tahu banyak. Kalau lagi lupa, ingat-ingat lagi, lebih banyak blog/web lain yang angkanya mungkin jauh lebih tinggi, dan manfaat yang disebarnya pun jauh banyak. Learn to stay low and humble, ingat-ingat dari mana kita diciptakan dan kemana kita akan kembali, dari tanah ke tanah. Angka itu.. biarkan mereka tetap menjadi angka. 

Terakhir, *beneran terakhir bell? hehe V peace

Kutipan dari Madarijus Salikin,
"Orang yang ikhlas tidak riya' dan orang yang shadiq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali dengan shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar." - Ibnu Qayyim Al Jauziyah 
Semangat belajar bersabar Bella. Bersabar pada diri, yang seringkali menyebalkan dan seolah minta dibenci.

Mohon doanya ya. 

Allahua'lam.