Follow Me

Wednesday, November 8, 2017

Meski Sudah Bukan Mahasiswa

Bismillah.
#buku 
-Muhasabah Diri-


Berusaha memaksa diri menulis sembari gamang, dan masih mempertanyakan niat. Niat sebuah amal, memang harus terus penerus diluruskan, iya kan? Berusaha memaksa diri, menulis yang lebih bermanfaat, yang kualitasnya lebih baik ketimbang beberapa tulisan terakhir. *abaikan prolognya hehe.

Judul buku yang akan kunukil hari ini adalah Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran, diterbitkan oleh Indonesia Quran Foundation. Aku beli buku ini saat masih mahasiswa, tapi ga dikirim ke Bandung, kirimnya ke Purwokerto *ga niat baca banget ya hehe. Saat itu mikirnya, buat di baca adik. Qadarullah, akhir-akhir ini disempatkan membaca. Mau sharing dan review beberapa tentang isinya.

***

Indonesian Quran Foundation itu semacam lembaga atau gerakan yang isinya mahasiswa yang kuliah sembari menghafal, ada di beberapa kota. Jadi ada asramanya gitu. Buku ini adalah karya mahasiswa penggerak IQF, isinya tulisan sharing pengalaman dan motivasi yang membuat mereka memilih menghafal sembari menjalani status mahasiswa. Isinya bukan teknis, bukan tentang tips dan cara agar bisa menghafal quran dengan segala kesibukan dan padatnya aktivitas mahasiswa. Isinya lebih ke sharing pengalaman, hikmah, cerita hidup awal mulai memutuskan untuk menghafal, perjalanannya, ada juga yang formatnya surat untuk orangtua, baik itu untuk bapak maupun ibu.

iqf.or.id
Sebuah sore bulan Oktober kalau ga salah, aku mengambil buku ini dari rak, kemudian membacanya. Tulisan pertama, yang menyapaku setelah kata pengantar dan daftar isi adalah tulisan bertajuk Kutemukan Quran, ditulis oleh alumnus FMIPA UI/Fisika/2008. Saat itu, entah kondisi hati sedang mellow, atau memang tulisannya memang pas untukku, aku terhenti dan mencukupkan diri membaca satu tajuk tulisan saja. Kenapa? Karena habis itu, aku berteman dengan air mata *dasar cengeng wkwkwk. *stop di sini aja ya curhatnya.

Penasaran ga sama isi tulisannya? Ini aku kasih kutipannya ya..
"Apa yang lebih penting dari itu bagiku adalah Allah telah menunjukkan kepadaku jalan yang harus aku tempuh. Bahwa aku harus segera memutuskan untuk menjalani hidupku ke depannya di bawah naungan firman-Nya, di bawah naungan Quran, yang dengannya aku bisa mengenal-Nya lebih dekat, menjalani dan mengambil pilihan hidup yang lebih bijak. Aku pun memutuskan. Aku berjanji akan mengerahkan segenap upayaku untuk senantiasa membacanya, menghafalkannya, belajar memahami maknanya, serta mengamalkannya. Sehingga Quran menjadi sahabat penyejuk hatiku, teman dalam sepiku, kekuatan pendorongku, juga benteng terakhirku."
- Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran, Tim Penulis IQF
Mungkin ada yang membaca kutipan dan merasa isinya klise. Kalau motong tulisan kadang memang gitu, esensinya ga kebawa semua. Apalagi tulisan-tulisan di buku ini mayoritas isinya kisah, jadi akan lebih ngena, kalau kita baca juga kisahnya, apa yang membuat ia sampai memutuskan untuk kembali menemukan quran dan berusaha untuk hidup dalam naungannya.

Aku memang baru baca bagian pertama dari buku ini, yang tentang kisah-kisah memulai perjalanan dengan Quran, mengapa mereka memilih jalan ini, jalan mahasiswa penghafal quran. Tapi dari sedikit kisah yang sudah aku baca, aku bisa mengambil pelajaran. Setiap orang punya episode pahit dalam hidupnya, namun pahit-nya, justru jadi titik balik ia kembali pada Allah, kembali ke Quran. Aku sebagai pembaca mungkin cuma bisa berempati, dan berusaha memahaminya lewat satu dua kalimat yang mereka tuliskan. Tapi aku tahu, sebenarnya ada lebih banyak tangis, luka, dan perasaan ga enak lainnya, atas kejadian titik balik mereka. Aku dibuat belajar, dan harus terus belajar, tentang keberanian mereka, untuk bangkit dari jatuh mereka. Keberanian mereka, untuk kembali ke Allah dan kembali ke Quran, dan bukan justru lari dan berusaha memeluk dunia.

Janji untuk berusaha terus membersamai Quran itu bukan janji yang mudah lho. Mungkin memang bukan janji yang kita ikrarkan ke orang lain, cuma dalam hati diucapkan. Tapi seperti janji lain, yang akan ditanyakan, apakah kita bisa menjaganya. Janji dengan Quran juga akan ditanyakan TT. Inget ayat saat Rasul mengadukan bahwa kaumnya mengabaikan Al Quran. Semoga kita bukan termasuk mereka yang mengabaikan Al Quran. Semoga kita tidak sekedar merasa cukup dengan menghafal dan membacanya, namun berjuang dan berusaha sungguh-sungguh hidup mengamalkan Quran.

***

Aku memang sudah bukan mahasiswa saat membacanya. Mungkin itu juga yang ada di benak orang-orang yang bukan mahasiswa saat memilih tidak membeli/tidak membaca buku ini. Tapi kenyataannya, meski judul buku ini ada kata mahasiswa, menurutku isinya tidak hanya untuk mahasiswa. Manfaatnya mengalir, meski yang membaca bukan mahasiswa.

Ada saat ketika semangat turun, membaca kisah di buku ini, bisa sedikit memekarkan lagi semangat yang layu. Kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah orang lain, tak terbatas dari statusnya. Entah itu hikmah dari mahasiswa penghafal quran, atau dari anak SD, atau dari siapapun.

Buku ini, di beberapa kisah menekankah, bahwa semua orang bisa memulai menghafal quran meski dengan berbagai aktivitasnya. Penekanan di buku ini memang untuk mahasiswa. Tapi kalau kita mau lebih luas lagi memandang, sebenarnya buku ini juga memotivasi siapapun untuk memulai perjalanan menghafal quran, karena status mahasiswa, ibu rumah tangga, anak sekolahan, itu cuma status aja, jangan dijadikan penghalang. Kalau ada azzam, Allah tunjukkan jalannya. Kuatkan tekad, berusaha dan bekerjalah.


***

Izinkan kututup tulisan kali ini dengan kutipan dari kisah Maharhanie Septi N, Fakultas Teknik UI/Arsitektur Interior/2011.

"Satu hal yang selalu kuingat, ketika kita banyak membaca Quran dan memahaminya itu berarti Allah sedang berbicara dengan kita. Sehingga setiap permasalahan atau kesenangan yang aku hadapi akan kutanyakan pada Allah pada saat shalat dan memohon kepada-Nya untuk menunjukkan jawaban-jawaban pertanyaan itu dalam Quran. Hasilnya? Hati yang tak terkira bahagianya. Seluruh beban, kegelisahan, kegundahan, telah kutemukan jawabannya pada Quran."
- Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran, Tim Penulis IQF
Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya