Follow Me

Tuesday, November 28, 2017

Room No.19

Bismillah.
#hikmah
Jujur ragu, apakah akhirnya tulisan ini akan dipublish atau tidak. Minimal ditulis dulu lah ya? Hehe. Kamar No. 19

Alkisah dalam sebuah keluarga, sang ibu merasa memerlukan ruangan pribadi, untuk ia menikmati waktu sendiri tanpa gangguan anak atau suaminya. Maka dibangunlah sebuah kamar di lantai dua, yang kemudian diberi nama kamar ibu. Namun setelah waktu berlalu, ruangan itu kini tidak lagi menjadi kamar khusus ibu tersebut menyendiri, anak-anaknya mulai memasuki kamar itu, begitu pula suaminya. Kebutuhan untuk memiliki waktu dan tempat khusus membuat ibu tersebut akhirnya menabung dan menyewa sebuah kamar di hotel yang murah. Kamar no.19. Sesekali, saat ia butuh waktu untuk menyendiri, ia pergi ke sana, tidak melakukan apa-apa, atau melakukan hal-hal kecil yang ia suka diluar rutinitasnya. Suatu saat, sang suami mengetahui kamar tersebut. Tapi.. Saat ditanya tentang kamar no.19 tersebut, sang istri memilih untuk berbohong, bahwa ia selingkuh.

Seseorang menjelaskan padaku, bahwa tokoh tersebut (sang istri) berbohong karena kamar tersebut tidak akan memiliki arti lagi kalau ia jujur. Ia juga menjelaskan padaku, kalau setiap orang terkadang memiliki "kamar no. 19" yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapapun, meskipun kepada orang-orang terdekatnya (suami, anak, ibu, ayah, keluarga).

***

Kalau mau ditengok dan mengambil hikmah dari kisah tersebut, ditarik dan melihat dari sudut pandang berbeda. Aku mendapat beberapa insight, entah ini benar atau salah.

Dimensi Waktu: Sepertiga Malam, 10 Hari Terakhir, dan di setiap shalat


Pertama tentang ruang dan waktu untuk menyendiri, tidak berurusan dengan manusia lain. Menurutku benar, manusia membutuhkannya. Ada saat-saat kita ingin bertafakkur sendirian, menikmati ruang dan waktu sendiri, tanpa ada distraksi dan gangguan dari orang lain. Seekstrovert apapun manusia, mereka tetap punya sisi introvert. Islam menawarkan solusinya juga. Tapi penawarannya bukan dimensi ruang, tapi di dimensi waktu.

Allah menyediakan dimensi waktu, bukan ruang. Allah menyediakan sepertiga malam untuk kita bertafakkur, menyendiri, atau sebenarnya berkhalwat dengan-Nya. Saat itu manusia-manusia pada umumnya terlelap. Kita bisa menggunakan waktu itu untuk shalat, atau baca quran, atau berdoa dan mengungkapkan segala yang menghimpit dada. Menangis mengakui dosa atau masa lalu yang ingin kita tutup dan tidak ada orang lain yang tahu. Mengakui kelemahan diri, betapa rapuh dan hina, namun RahmatNya tidak pernah berhenti mengalir. Sepertiga malam juga, bisa dipakai untuk menulis, untuk melakukan hal-hal lain sendiri. Mungkin di ruang yang sama, orang lain sedang tidur, kita mungkin tidak memiliki kamar sendiri, ruang untuk sendiri tidak ada. Tapi Allah menyediakan waktu sepertiga malam tersebut.

Allah menyediakan waktu Ramadhan, Allah menyediakan 10 hari terakhir: i'tikaf, kita sendiri meski di tempat ramai. Karena yang kita butuh sebenarnya bukan ruang, tapi dimensi waktu dimana orang sibuk dengan dirinya sendiri. Mungkin saat itu masjid ramai, tapi ramai sibuk dengan ibadah masing-masing. Ada yang tilawah, ada shalat, ada yang menghafal, ada yang berdoa, ada yang berdzikir. Dimensi waktu setahun sekali ini, saat silaturahim sebaiknya ditunda. Menyapa boleh, mengucapkan salam boleh, namun baiknya tidak berlarut dan jadi kojur (baca: terlanjur) mengobrol kesana-kemari. Karena waktu tersebut istimewa, kita fokus pada diri kita sendiri, mencoba meraih rahmat dan ampunan waktu istimewa tersebut.

Bahkan.. Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin sebenarnya bukan sekedar dimensi waktu, tapi juga aktivitas shalat itu tersendiri. Ya, Allah menyediakan shalat. Shalat itu membungkus dimensi waktu dan ruang. Saat shalat, kita berdiri, rukuk dan sujud. Berusaha fokus dan khusyu', ini latihan pertemuan antara kita dan Allah. Ini juga tempat dan ruang kita beristirahat dari lelah dan letih urusan dunia. Jadi ingat sabda Rasulullah 'alaihimushalawatu wasalam, "Ya Bilal, arihna bishsholat", yang aku baca di Jalan Cinta Para Pejuang-nya ustadz Salim A Fillah.


***

Sebenarnya, kalau bicara tentang dimensi waktu, ada juga istilah me-time. Meski aku tidak tahu apakah me-time bisa menggantikan peran kamar no.19 di kisah tersebut. Karena sebenarnya, me-time itu kalau diketahui banyak orang gapapa.

Beda dengan shalat, sepertiga malam, i'tikaf, yang menyediakan tempat untuk kita memberitahu Allah, mengaku dosa, memohon ampun, menceritakan kegelisahan yang tidak mau kita bagi ke manusia manapun. Jadi inget tulisan tak terungkap, dan jawaban tak terungkap.

*** 

Izinkan aku mengakhiri tulisan ini dengan doa:

Allahumaj'alna minal mushollin..
Robbij'alni muqiimasholatii wa min dzurriyatii..
Rabbana wataqabbal du'a. Aamiin

Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya