Follow Me

Showing posts with label NAK Indonesia. Show all posts
Showing posts with label NAK Indonesia. Show all posts

Friday, July 10, 2026

Siapa yang Menyetir Mobilnya

July 10, 2026 0 Comments

Bismillah.

 

-Muhasabah Diri- 

 

Ada yang tahu NAK Indonesia? Komunitasnya masih aktif kah? Kegiatannya apa? Jawabannya, komunitasnya masih aktif, cuma akunya aja yang pasif.

 

Kegiatannya ada yang masih nerjemahin video, ada yang masuk tim the 8 (penyelenggara Quran Day November 2026 besok), ada yang aktif buat konten di ig, ada juga yang rutin menghidupkan pertemuan online Story Morning tiap Ahad pagi.

 

***


 

Qadarullah aku menyempat hadir di Story Morning, setelah.. entah gak inget terakhir kapan ikut nyimak. Hari itu 24 Mei 2026 diisi dengan materi berjudul Tadabbur Surat At-Tahrim Wanita-Wanita Pilihan, kontributornya Mba Devi Nur T.

 

Judul yang kupilih untuk postingan ini adalah salah satu insight yang ingin kucatat. Insightnya dari sesi tanya jawab kalau gak salah. Sebuah perumpamaan yang mengingatkanku untuk lebih menguatkan iman dan tawakkal terhadap rencana Allah.

 

Sebelum ke insight yang kudapat, barangkali ada yang mau nyimak full Story Morning pagi itu, bisa cek di bawah ini:



 

***

 

Di salah satu jawaban sesi tanya jawab, yang aku lupa pertanyaannya. Sebuah perumpamaan diberikan. Ibarat dijemput naik mobil, jika kita tahu yang menjemput adalah orangtua atau saudara, maka kita akan tenang dan santai, tak peduli, apakah langsung ke rumah, atau mau diajak main dulu, makan dulu, muter-muter dulu. Seperti itu juga kita berserah pada takdir Allah. Karena kita tahu Allah yang membuat rencana, kita yakin bahwa apapun rencananya, melewati jalan berbatu dan berkelokpun, kita tahu, tujuannya adalah hal baik untuk kita.

 

Terlepas dari teori mindset passenger atau driver, yang kalau ini manusia, tentu lebih baik jika kita belajar untuk tidak sekedar "ngikut". Tapi karena perumpamaan ini adalah tentang keimanan kita pada Allah, prasangka baik kita atas apa yang Allah tulis di hidup kita, seharusnya... kita tidak perlu terlalu gelisah, takut atau khawatir. Nikmati saja perjalanannya, jalani peran kita sebaik mungkin. Even if right now, some question pop up in our head, have faith that we'll understand it later. Gali dan cari hikmahnya, pasti ada banyak yang bisa kita pelajari dari sajian jalan yang Allah tuliskan dalam hidup kita.

 

Wallahua'lam. 

Sunday, November 29, 2020

We Left It Way Behind

November 29, 2020 2 Comments

Bismillah.


-Muhasabah Diri-


Sabtu sore, Purwokerto seperti biasa hujan. Cause it's rainy days, hampir setiap sore Purwokerto dihias hujan. Alhamdulillah. Semoga hujan juga di hati yang beberapa hari ini terasa mengering karena ulahku sendiri.


Materi SSS pekan ini berat untuk ditulis, tapi meski berat, aku masih ingin menuliskannya untuk diriku terutama. Kebenaran itu seringkali pahit, tapi kebenaran itu baik untuk diri kita.


***



Tahun 2014 pertama nonton videonya. Beberapa kali diulang di tahun berikutnya. Sampai weekend ini, Allah ingin mengetuk lagi pintu hati kita, agar kita tergetar dan bertanya pada cermin,


"Apa kabarmu dengan Quran?"


Have we left it way behind? TT


Ustadz Nouman dalam menjelaskan, QS Al Furqan ayat 30 menggunakan kata "mahjuran" yang akar katanya sama dengan kata hijrah. Maknanya, kita bukan cuma lupa dikit, atau lalai dikit, atau ninggalin dikit. Tapi bener-bener mengabaikan quran, ninggalin jauuuh dari hidup kita TT


Itulah mengapa ayat ini tidak menggunakan kata taraka-matrukan, tapi hajara-mahjuran. The meaning is we left it way behind. Meninggalkan quran dengan tidak mengamalkannya, tidak memahami ayat-ayatnya, tidak menghafalnya, tidak membacanya, tidak mendengarkannya, bahkan kalau ada pengingat ayat quran yang qadarullah muncul di timeline sosmed kita, atau video kajian yang muncul di dashboard, kita mengabaikan dan meninggalkannya TT


Dan kalau nonton video versi full-nya --bisa akses di sini, disebuytkan ayat sebelumnya membahas tentang penyesalan seseorang karena berteman dengan orang yang salah, merasa nyaman berada di lingkungan yang terus menerus mengajak fokus ke distraksi dunia, dan mengabaikan Al Quran.


Dan ustadz Nouman berpesan agar kita serius cari temen dan lingkungan yang bisa membantu kita jadi lebih baik.


You and I have to make a solid effort to find people find the company of people that make us more respectable, they make our manners better, they make our speech better. They make us more courteous, they make us more patient. They make us (becoming a) better people. - Nouman Ali Khan


Yuk cari dan perbanyak teman/komunitas yang membantu kita untuk terus inget sama quran, yang akan menyemangati kita kalau kita lagi jauh dari quran. Yang, meski kita cuma silent reader, kita seolah sering diingetin untuk "Yuk, buka quran, baca meski cuma satu dua ayat". Yang mungkin mereka ga nyuruh terang-terangan, tapi berada diantara mereka membuat kita keinget untuk mentadabburi ayat quran dan mengamalkannya.


Trus ada lagi nih catetan tentang temen. Mungkin ada yang ngerasa, aku kan di rumah aja, jadi deh ga ada ceritanya berteman sama orang yang salah. Eits, tunggu dulu. Ternyata temen di sini bentuknya ga cuma manusia? Tapi bisa jadi setan.


لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَـٰنُ لِلْإِنسَـٰنِ خَذُولًۭا

Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. [Surat Al-Furqan (25) ayat 29]


Arti khodzula adalah temen yang pas kita lagi butuh dia, tapi dia malah gatau dimana. Kebalikan dari friends in need.


Di sini jleb banget sih, jadi notes buat diri sendiri. Ayo cek lagi, jangan-jangan dalam sepi dan sendiri, kamu berteman dengan setan. Jangan-jangan kita selalu ngikutin was-was setan, untuk lebih memilih melakukan hal-hal lain yang gak penting, padahal waktu tersebut bisa kita gunakan untuk berinteraksi dengan quran. Hiks TT Allahummaghfirlana dzunubana wa israfana fi amrina...


Terakhir, quotes video versi full. Untukku, untukku, untukku.


"If bad words are going into your ears, bad words are gonna come out of your tongue.

If you're seeing evil all the time, going in, then evil actions will come out. They will come out, they don't just stay in.

You can't just pretend that the things you watch, and the things you hear, and the places you go will not have an impact on your character. They will.

And we don't want to be of those people who regret having the wrong kinds of friends on Judgment Day."

-Nouman Ali Khan


Semoga Allah tidak menjadikan kita orang yang mengabaikan dan meninggalkan Quran. Semoga Allah menjadikan hati kita cinta kepada Quran, sehingga kita tidak pernah bosan membersamainya. Semoga Allah memudahkan dan menguatkan kita untuk mengamalkan ayat-ayatNya. Rabbi habli hukman wa alhiqni bisholihin. Aamiin.


Allahua'lam bishowab.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Saturday, November 14, 2020

Allah Selalu Memenuhi Kebutuhanmu

November 14, 2020 0 Comments

Bismillah.

#SSS #NAKIndonesia

Pagi semuanya~


Mau kasih kabar baik nih, in syaa Allah tiap pekan aku pengen aktif ikutan SSS di NAK Indonesia. Tiap sabtu, nonton video ustadz Nouman dan share hasil catetan atau insight dari video tersebut. Oh ya, mohon doanya ya, semoga bisa istiqomah.


Oh ya, karena ini hari sabtu, tiba-tiba jadi inget sabtulis. Apa kabar ya temen-temen sabtulis? Mungkin ini pengingat dari Allah supaya menjalin komunikasi dan silaturahim. 


***



Jadi Ustadz Nouman menjelaskan makna dari QS Ar Rahman ayat 29.


يَسْـَٔلُهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍۢ


Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. [Surat Ar-Rahman (55) ayat 29]


Dijelaskan bahwa dalam bahasa Arab ada dua makna dari sual (سُؤَال) -- akar kata dari yas-alu (يَسْـَٔلُ). Yang pertama meminta secara sadar, yang kedua adalah membutuhkan.


Itulah mengapa disebutkan dalam ayat tersebut semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada Allah. Karena setiap makhluk, bergantung dan membutuhkan Allah. Baik itu yang beriman maupun yang tidak beriman. Tidak ada yang tidak membutuhkannya.


Mata kita yang masih diizinkan untuk bangun pagi ini, oksigen yang masuk ke paru-paru kita, darah yang mengalir di dalam tubuh kita. Matahari yang terbit, atau hujan yang turun, semua itu terjadi atas izinNya.


Kita seringkali lupa, bahwa ada begitu banyak nikmat yang Allah beri. Allah Ar Rahman-lah yang terus menghujani kita dengan nikmatNya. Bahkan meski kita berkali-kali menjauh dariNya, bermaksiat kepadaNya, Allah tetap memberikan begitu banyak hal-hal yang kita butuhkan. Things we take for granted. Kita biasanya baru menyadarinya jika sedikit saja nikmat tersebut diambil. Kita baru menyadari betapa besar nikmat sehat, saat sakit menjangkit. Rasanya, hari-hari bersama covid yang sudah cukup lama ini, seharusnya mengajarkan kita, sedikit, tentang betapa kita membutuhkanNya. Betapa kita begitu lemah, ketika diuji dengan makluk yang begitu kecil. 


Ustadz Nouman juga menjelaskan, bahwa ayat ini sebenarnya bukan ayat peringatan. Tapi ayat yang menjelaskan Kebesaran-Nya, ayat yang menunjukkan sifat Ar-Rahman-Nya. Di akhir ayat, disebutkan ( كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍ), maknanya, begitu banyak makhluk yang membutuhkan dan meminta padaNya, dan Allah dapat mendengar dan memberikan kebutuhan mereka semua.


Berbeda dengan manusia yang memiliki dimensi waktu dan tempat yang terbatas. Meski telinga kita dua dan kita bisa multitasking, tetap saja kita tidak bisa menjawab permintaan banyak orang dalam satu waktu. Sehebat apapun dokter, ia hanya bisa menangani jumlah pasien yang terbatas. Jika seorang pengajar memiliki 50 murid, dan memberi mereka waktu 5 menit setiap orang untuk menjawab pertanyaan mereka. Ia perlu menghabiskan waktu 250 menit (4 jam lebih).


Ustadz Nouman menjelaskan, kata sya'an merupakan amr. Yang artinya hal itu tidak bisa diwakilkan. Hanya bisa dilakukan oleh Allah. Hanya Allah. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Allah.


Terakhir, izinkan aku mengutip paragraf penutup dari video tersebut.


This called (شَأْن). There are things that Allah does, that only Allah can do, nobody else can do it. Nobody else can do it.


And when you realized that is what Allah is doing for you all the time, you will forget one silly question, that shaitan brings into your heart, and brings into mine.


"Where was Allah when I needed Him?"

"Where was Allah when I was having this problem?"

"Why didn't He helped me at this?"


People ask this question, don't they? This question even comes in your head sometimes.


"Where was Allah?"


And Allah's answer is, "I've always been there."


"And I'm taking care of your tongue, as you get to say that."


How do you think the voice comes out of your voice box?

How's the air come out of your mouth so you question Allah?

He give you the strength to do that. This is (كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍۢ).


- Nouman Ali Khan


***


Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya bersyukur.


Semoga saat kita bertanya-tanya dimana Allah, kita teringat ayat ini, kemudian hati kita bergetar dan merasa tenang. Karena kita tahu, Allah selalu ada bersama kita. Karena kita tahu, Allah itu dekat. Kita saja yang terkadang menjauh. Maka saat mengingat itu, semoga Allah memberikan kita hidayah dan kekuatan untuk melangkah mendekat padaNya, mengambil wudhu dan shalat, atau membuka Quran dan membaca ayat-ayat cinta dariNya.


Allahua'lam bishowab.


***


PS: Menulis ini, dan berbicara tentang semua hal terjadi atas izin Allah. Ustadz Nouman menyebutkan ayat tentang tidak ada daun yang jatuh kecuali atas izinnya. Aku teringat ayat dan hadits lain yang juga tentang izin-Nya. Surat At taghabun, tentang semua musibah yang terjadi atas izinNya. Surat Al Kahfi, disunnahkan untuk mengucapkan in syaa Allah jika berencana melakukan sesuatu di waktu mendatang, serta bagaimana kalau misal lupa ga ngucapin. Doa yang diajarkanNya. Satu lagi hadits yang menjelaskan RahmatNya pada manusia, saat laut meminta izin menenggelamkan manusia, bumi meminta izin untuk menelan manusia, karena kerusakan dan maksiat yang manusia lakukan TT dan jawaban Allah TT

Sunday, September 13, 2020

Alergi pada Kritik

September 13, 2020 0 Comments

Bismillah.


Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang alergi terhadap kritik? Egonya begitu tinggi, sehingga setiap masukan, saran, dan tentu saja kritik membuat ia menyerang balik. Reaksi pertama yang muncul adalah amarah.

***

Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang alergi terhadap kritik?

Ada merasa pertanyaan di atas salah? Hehe. Pertanyaan itu membuat kita mencari-cari, siapa orang yang pernah kita temui, yang alergi terhadap kritik. Padahal dalam hidup, jika kita bicara tentang sebuah kesalahan, fenomena alergi kritik misal, yang pertama harus kita lakukan adalah melihat ke dalam dan bukan keluar.

Mari kita ubah pertanyaannya,

Pernahkah merasa alergi pada kritik?

Apa gejala yang kita rasakan? Pusing, panas dingin, gatal, dan ingin meledak?

Aku pernah bertanya-tanya, yang manakah sebenarnya reaksi normal kita terhadap kritik? Apakah normal untuk kita merasa benci pada kritik? Apakah normal kita merasa alergi dan memilih menghindari kritik?

Atau reaksi normal kita terhadap kritik adalah netral, kita bisa mendengarkan dengan tenang, asalkan kritik yang diberikan orang lain membangun dan benar. Bukan atas dasar kebencian dan emosi. Karena kalau kritik disampaikan dengan cara yang keras/kasar, serta ditempat umum, seolah untuk mempermalukan diri kita, wajar jika kita tidak suka dan jadi kebawa emosi. Bahkan cuma orang-orang tertentu saja yang bisa tetap tenang jika dihadapkan situasi sulit tersebut.

***

Pernahkah merasa alergi pada kritik?

Aku pernah, masih sering mungkin. Biasanya alergi terhadap kritik itu 'kambuh' saat aku mengedepankan ego, mengedepankan emosi dan tidak mengedepankan rasio. Karena kalau kita bisa menurunkan ego kita, penyakit alergi kritik tidak akan menyerang. Kenapa? Karena kita tahu, bahwa setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda, nilai dan prinsip yang kita pegang pun berbeda. Dari perbedaan itu, kritikan mungkin muncul. Kedua, saat kita lebih mengedepankan rasio, mau meletakkan emosi di belakang, kita akan bisa menerima kritikan sebagai bentuk kepedulian orang lain pada kita. Karena yang tidak peduli akan membiarkan saja.

Bagaimana dengan kritikan yang tak berlandaskan? Terutama sekarang zaman orang bersembunyi dibalik id, yang menebar kritik pedas hanya untuk melampiaskan energi negatif dalam dirinya pada orang lain. Masih sama sebenarnya, saat kita mengedepankan rasio, kita tidak akan alergi, karena kita bisa membedakan, mana kritikan yang perlu disimak dan dipikirkan, dan mana kritikan yang perlu diabaikan.

Jika merasa diri alergi pada kritik, obat apa yang harus diminum?

Karena alergi terhadap kritik ada kaitannya dengan ego, maka yang harus kita lakukan adalah mengelola ego kita. Bagaimana agar ego kita tidak tinggi menjulang dan justru menghalangi kita untuk bertumbuh. Orang yang merasa benar sendiri, tidak akan bisa melihat dengan jelas kelemahan/kesalahannya, sehingga ia tidak bisa bertumbuh. Maka kita harus belajar mengelola ego, merendahkannya. Caranya dengan belajar itu sendiri. Belajar dengan adab. Belajar yang disertai kerendahan hati. Saat kita belajar, wawasan kita akan terbuka, kita akan paham bahwa ilmu kita dibandingkan ilmu-Nya, adalah seumpama jari kita dicelupkan di samudra luas, kita angkat jari kita, air yang tersisa di jari tersebut adalah ilmu kita, sedangkan air yang mengisi samudra, bahkan lebih dari itu adalah ilmuNya.

Selain mengelola ego, kita juga harus mengelola emosi kita. Bagaimana agar tidak baper saat sebuah kritik diberikan pada kita. Entah kritik tersebut dikirim via pos, lewat lisan langsung, atau dengan cara melempar surat kaleng ke rumah kita. Bagaimana saat emosi hendak menguasai, kepala terasa panas, lisan rasanya ingin balas menyerang, jemari juga, tapi kita berusaha menahan diri, mengambil jarak dan waktu untuk mundur. Agar bisa menjadi tenang dan mendahulukan rasio. Agar tidak serta merta kita menangkis kritik, yang sebenarnya hadir untuk kebaikan diri.

***

Oh ya, tulisan ini terinspirasi dari diskusi pekanan di grup wa NAK Indonesia. Senin kemarin, Mba W menyajikan resume video iniSaat agenda diskusinya aku ga ikut nimbrung. Baru nonton ulang videonya beberapa hari kemarin. Meski video lama, pernah nulis beberapa insight juga di blog (tulisan ini dan itu). Tapi karena nonton lagi, ada aja insight baru yang bisa diambil. Kali ini tentang alergi terhadap kritik.

Setan salah satu asal katanya adalah syaatah, artinya ia berasal dari api, atau bisa diartikan terbakar. Dan salah satu tipu daya setan adalah kita mudah terbawa emosi. Kita menjustifikasi kesalahan kita dengan cara marah setiap kali seseorang mengoreksi/mengkritik kita.

One of the meaning of the word syaithan, syathoh, is halaka wahtaraq. Actually ihtaraq wa halak, which means, he got set on fire, literally, to be set on fire. It is used as a figurative speech in Arabic for loosing one's temper. So you justify your misbehavior by loosing your temper and storming out of the conversations, and you still do what you do.

...you hide, you justify your misbehavior by just acting all tough, so nobody can correct you. Anybody tries to give advice, you're always (get angry).

...this is syaitan. That's syaitan, when you're incapable of taking advice. Incapable of being corrected. Just.. you get flared up. You just get flared up 
- Nouman Ali Khan

 

Semoga kita bukan termasuk orang yang alergi terhadap kritik ya. Kalaupun sesekali kita mendapati diri kita alergi pada kritik, jangan ragu untuk memohon perlindungan kepadaNya, ucapkan a'udzubillahi minasy syaithanirrajim. Jangan lupa juga untuk 'meminum obatnya'.

Allahua'lam.


***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Saturday, June 6, 2020

Notice Me

June 06, 2020 1 Comments
Bismillah.



"Bug", sebuah suara membuat kita menoleh. Seperti suara pukulan, atau sesuatu yang terjatuh. Sesuatu yang membuat kita bangkit dari duduk dan menengok, darimana asal suara itu, ada apa?

***

Beberapa waktu yang lalu aku sempat bertanya-tanya sendiri, mengapa ayat-ayat terakhir di surat At Tahrim menggunakan kata dharaba sebelum memberikan permisalan. Soalnya setahuku dharaba itu artinya memukul. Aku inget soalnya, humornya ustadz Nouman waktu bilang, orang yang islamophobic bisa makin phobia kalau masuk kelas bahasa arab dan denger kalau yang kalimat yang diajarkan itu dharaba sama qatala.

Pertanyaan tentang penggunaan dharaba untuk permisalan itu mengendap saja, ga aku cari jawabannya. Sampai ada diskusi tentang perumpamaan dalam Quran di grup Whatsapp NAKID yang baru. Diskusinya tentang bagaimana Allah sering menggunakan perumpamaan, apa perumpamaan favorit di quran, juga tentang apa hikmah Allah ngasih banyak perumpamaan.

Dari situ, Pak Heru [1] jadi share tulisan dari buku Revive Your Heart yang aku sendiri bahkan ga inget, itu ada di bab berapa atau bahasan tentang ayat mana.

Perumpamaan dari Allah bukan sekedar perumpamaan. Di Revive Your Heart ❤️ dinyatakan: 
Not even saying: aʿṭihim mithāl—give them an example. Rather, He says: wa-ḍrib lahum mathalan. What does that mean? Ḍaraba in Arabic means ‘to strike’, and this figure of speech is used in Arabic when you say something that is going to have an impact 
Tidak sekadar contoh. Tapi contoh yang memengaruhi. Selanjutnya, ada yang menarik: Ustaz Nouman memberi perumpamaan tentang perumpamaan itu sendiri: 
You know when something hits something; it causes a noise, it creates a disruption and everybody’s attention goes that way. If you’re sitting in your office, quietly working and you hear a crash outside . You’re going to look out the window promptly because something hit something else and immediately the noise gets your attention. You’re going to sleep at home and you hear something fall in the kitchen; immediately you think what’s going on over there? Let me go and check what’s happening. The striking of something is actually a cause of attention— khudh al-intibāh minhum— take their attention; grab their attention when you give the example. 
- sharing dari Pak Heru dalam diskusi perumpamaan di quran 

Dari situ pertanyaan yang tadinya mengendap terjawab. Rasanya kaya ingin ber-Oh dan mengangguk-angguk pelan. It's all make sense now. Saat Allah menggunakan perumpamaan, artinya itu sesuatu yang akan memberi impact, perhatian kita jadi tersita. Ayat tersebut bukan cuma berkata "notice me", tapi lebih dari itu, kita diminta juga untuk memikirkan dan mentadabburinya.

Ceritanya ga sampai di sini. Beberapa minggu berlalu. Pada suatu hari jumat, aku pas baca Al Kahfi. Meski udah pernah baca terjemahnya, kadang tuh, kalau baca tetep aja ga bisa full fokus ke isi ayatnya. Apalagi ayat yang sering dibaca. Tapi... karena pengetahuan kata dharaba ini, pas aku baca ayat wadrib lahum matsalan.. aku jadi berhenti sejenak. As if I can feel it's impact. Habis baca ayatnya, aku baca sekilas tentang perumpamaan 2 pemilik kebun. Trus trus.. saat aku merasa udah selesai impactnya, ternyata Allah masih pengen aku berhenti dan memikirkan lagi, dengan perumpamaan lain setelah kisah 2 pemilik kebun, yang lagi, pakai kata dharaba.

وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَـٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًۭا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَـٰحُ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ مُّقْتَدِرًا

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Surat Al-Kahfi (18) ayat 45]
**terjemahan versi web Lafzi

Semoga kita termasuk orang-orang yang memahami perumpamaan kehidupan dunia, dan pemahaman itu tercermin dari keseharian kita, prioritas kita, pilihan-pilihan kita. Aamiin

TT Allahummaghfighri. Rabbana la tu-akidzna innasiina au akhtha'na.. 

***

Terakhir, lewat pengalaman ini, selain belajar tentang penggunaan dharaba sebelum perumpamaan, aku juga diingetin lagi tentang pentingnya belajar bahasa arab.

Kalau satu kosa kata saja, bisa membuat kita membaca dan mendengar suatu ayat dengan perspektif berbeda, apalagi kalau kita paham nahwu, sharaf, balaghah, dll. 

Jadi inget salah satu insight materi pertama matrikulasi batch #3 NAKID, bahwa kita ga bisa bahas arab itu ga dosa. Pertanyaannya: sekarang, setelah tahu pentingnya bahasa arab untuk memahami quran, apa kita mau belajar? Melangkah, meski sedikit demi sedikit? [2]

Mari ucapkan bismillah, lalu melangkah. In syaa Allah mudah. Allah sudah menjanjikannya, tinggal kita mau ga menjemput janji tersebut. 

Terakhir, Ramadhan memang sudah berlalu. Tapi semoga semangat untuk bermesraan dengan quran masih ada di hati. Semoga hari-hari kita selalu dibersamai Al Quran, bukan di waktu-waktu sisa, tapi kita meluangkan waktu untuk quran. Aamiin. 

Allahua'lam. 

***

Keterangan:

[1] Pak Heru adalah salah satu anggota Komunitas NAK Indonesia yang sering banget nulis insight dan penjelasan dari bayyinah tv, diolah dengan gaya bercerita dan khas kepenulisannya. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di web nakindonesia.com Jujur, aku sering mikir, gimana biar bisa nulis sebanyak itu tentang quran, seolah memang kajian tentang quran udah jadi konsumsi harian, jadi kaya ngalir aja nulisnya. Padahal ya, aku ga tahu behind the scene-nya, pasti butuh usaha, ngeluangin waktu. Sembari menulis keterangan ini ada satu tulisan dari beliau yang saya rekomendasikan, tentang ayat-ayat terakhir surat Al Mulk.

baca ya.. di https://nakindonesia.com/2019/05/20/neraka-yang-hilang-tadabbur-tiga-ayat-terakhir-al-mulk/

[2] Di channel Free Quran Education ada course "Understand Quran and Salah the Easy Way", aku br nonton bagian awal, belum smpai yg ke 10. Itu bisa jadi jalan kita belajar bahasa arab, nonton 1 video tiap hari.


Tuesday, May 26, 2020

Sudahkah Mencapai Tujuan Ramadhan?

May 26, 2020 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-


Berawal dari sebuah tanya, tentang bedanya tujuan puasa dan tujuan Ramadhan. Tujuan puasa adalah takwa. Sedangkan tujuan Ramadhan?

Sesi diskusi berjalan, ada beberapa yang menjawab pertanyaan tersebut. Dan qadarullah, aku menemukan video yang seolah menjawab pertanyaan tersebut.


***

Video tersebut di upload pertenghan Ramadhan 2019. Mengingatkan tentang pentingnya motivasi, agar bisa terus semangat ibadah di bulan Ramadhan.

Ustadz Nouman mengambil dua hal yang mungkin merupakan tujuan dari Ramadhan. Tujuan Ramadhan pertama, agar kita bersyukur, diambil dari akhir ayat 285 ayat Al Baqarah. Tujuan kedua adalah agar kita terhubung dalam komunikasi aktif Allah, lewat mendengarkan Quran sebagai bentuk kita mendengarkanNya, Allah berfirman lewat Quran, dan kita berbicara kepada Allah lewat doa. Tujuan kedua ini diambil dari ayat 286 Al Baqarah.

Bersyukur atas apa?

Saat kita berpisah dengan Ramadhan, kemudian merayakan hari idul fitri karena telah berhasil mengenapkan 30/29 hari puasa, kita seharusnya menjadi hamba yang lebih pandai bersyukur. Ga cuma bersyukur karena sekarang kita bisa makan setiap waktu. Tapi yang utama, bersyukur karena Allah menurunkan Al Quran di bulan ini. Al Quran yang seharusnya, saat membaca dan mendengarkannya, hati kita bergetar. Our heart moved. Kita menjadi tenang saat mendengarkan Al Quran, kita bergembira akan kabar gembira di dalamnya, serta takut akan peringatan di dalamnya, juga dipenuhi rasa harap dan tidak putus asa karena ayat-ayat di dalamnya.

Tapi agar hati kita bisa bergetar, kita harus belajar Al Quran, apa isinya, pesan apa yang ingin Allah berikan pada kita. Dan agar hati bisa merasa takjub, takut, harap, kita harus meningkatkan interaksi dengan quran, bukan cuma membaca, dan mendengarkan tapi juga tadabbur dan tafakkur. Bukan cuma informasi tentang asbabun nuzul, dan makna ayat. Tapi juga bagaimana ayat tersebut terkait dengan diri kita, apa refleksi yang kita dapatkan, apa doa yang bisa kita panjatkan dari ayat tersebut, dll.

Apa berdoa saja cukup?

Masih terkait pentingnya belajar dan memahami Al Quran. Di ayat 286, Allah memberitahu kita bahwa Allah dekat. Allah mendengarkan doa siapapun yang mau berdoa, pendosa maupun ahli ibadah. Allah mendengarkan doa kita kapanpun, di terik siang, maupun sunyi malam. Allah mendengarkan doa kita, tapi Allah juga meminta kita berusaha menunjukkan, bahwa kita juga ingin melangkah memenuhi perintahNya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [Surat Al-Baqarah (2) ayat 186]

Falyastajibuli wal yu'minubi. Allah meminta kita berusaha untuk memenuhi perintahnya, dan beriman, yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita, dengan caraNya.

Al Quran dan Air

Ustadz Nouman juga menyebutkan bahwa kebutuhan hati kita terhubung dengan Al Quran seperti kebutuhan tubuh kita terhadap air. Kita butuh lagi dan lagi dan lagi. Mau yang belum pernah belajar quran, atau yang udah punya ilmu banyak, sama aja, kebutuhannya tetap sama, harus sering-sering membaca, mendengarkan, belajar memahami, tadabbur dan juga berdoa pada Allah. Lagi dan lagi.

Water is a need that you need to restore in yourself over and over again. You need to drink it again, and drink it again, and drink it again. Because without it your body starts dying. The same way, the word of Allah is something you have to take it again, then again, then again. Even if you know it, you take it again, then you take it again, then you take it again. 
And every time, it restores something in you, it fixes something in you. It cleans something in you. It's a detox for you. It's a spiritual detox for you, for your mind, for your heart, for your thinking, for what you're feeling. 
Maybe there's something wrong that you're doing, and you don't have the strength to get out of it. The word of Allah will give you that strength. It'll empowered you to take the step that you've been not being able to take. Maybe you don't have that strength yourself. That strength can only comes from Allah when you nourish it. And that you haven't given Allah's word's that chance.
- Nouman Ali Khan, dalam khutbah I Can't Feel Anything
***

Pertanyaannya, sudahkah kita mencapai tujuan Ramadhan tersebut?

Kalau belum? Kalau belum artinya kita harus berusaha memenuhinya. Tingkatkan interaksi kita dengan Al Quran, baca dan juga pelajari pesan di dalamnya, lagi dan lagi. Seperti kita minum air 8 gelas perhari, jangan biarkan hati kita mengeras. Karena hati yang keras akan menjadi tempat bermain setan. Ingatlah, sesekarat apapun hati kita, separah apapun hati kita mati rasa, Allah bisa dengan mudah menghidupkannya kembali. Asalkan kita mau berdoa memohon pertolongannya, sembari melangkah mendekat padaNya. Step by step. Sedikit asal kontinyu. Lagi dan lagi. Sungguh saat kita berjalan pelan menujuNya, Allah "berlari" ke arah kita.

Terakhir, masa latihan (Ramadhan) memang sudah berakhir, tapi setiap nafas, artinya kita masih diberi kesempatan hidup untuk memperbaiki diri. Semoga Allah memudahkan dan menguatkan langkah kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang berdoa, 'asaa ayyahdiyani rabbi li aqraba min hadza rasyada. Aamiin.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

PS: Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

PPS: Pertanyaan di paragraf prolog dapet dari diskusi pekanan 2 grup nakindonesia yang baru. Dan qadarullah juga materi matrikulasi batch 3 yang pekan pertama dan kedua, adalah tentang pentingnya memahami quran, al hadid ayat 16 serta tentang doa. Pas banget bahwa dua hal itu yang harus diingatkan di bulan Ramadhan. Alhamdulillah atas izinNya, bisa ikut menyimak diskusi peserta matrikulasi batch 3. ^^

Wednesday, May 13, 2020

My Favorite Ayat 2020

May 13, 2020 0 Comments
Bismillah.

In case ada yang gak tahu, jadi NAK Indonesia punya proker tiap Ramadhan namanya My Favorite Quran. Dari tahun 2017, waktu itu aku cuma banyak promosi di blog ini, tapi ga bener-bener ikut kirim tulisan. Nulis sih, tapi di blog ini, ayat pertama surat Arrahman.

Baca juga: Ar Rahman 

Trus tahun 2018, setelah berhasil ngundang ustadz Nouman ngisi di Istiqlal, dengan tema reconnect with quran, MFA dilanjutkan dengan konsep yang sedikit berbeda. Kalau dulu ada 2 versi, tulisan sama video. Kali ini fokus di tulisan aja, tapi... selain pilihan ayat dan sedikit penjelasan tentang ayat, harus ada juga kisah personal kaitan mengapa ayat itu penting dalam hidup kita, atau refleksi personal kita terhadap ayat tersebut. Tahun 2019 juga kirim tulisan.

Baca juga:

Tahun 2020? Tadinya mau nulis tentang doa di al kahfi ayat 24. Ayat, yang aku awalnya ga tahu di situ ada doanya. Biasanya kan ya.. kalau doa di quran diawali dengan kata "Rabbana", "Ya Tuhanku". Tapi di sini nggak.

إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ وَٱذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰٓ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّى لِأَقْرَبَ مِنْ هَـٰذَا رَشَدًۭا

kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". [Surat Al-Kahfi (18) ayat 24]

'asaa ayyahdiyani rabbii li aqraba min haadzaa rasyadaa. Aku dulu nonton video penjelasannya, dari sharing di timeline line adik tingkat. kemungkinan akhir 2016 atau justru tahun 2017.



Saat itu, aku habis tersesat, hilang arah dan baru mau kembali lagi, mendekat lagi ke Allah. Tapi... proses mendekat ke Allah itu ga mudah, banyak momen aku merasa hampir putus asa, karena jatuh lagi dan lagi. Banyak momen aku membandingkan diriku dengan orang lain. Dan doa ini, serta penjelasan tentangnya, mengajarkan aku bahwa Allah tidak akan pernah membandingkan kita dengan orang lain. Juga bahwa yang terpenting kita terus menerus memperbaiki diri dan terus mendekat, gapapa kalau kita mati asalkan kita berada di jalan ini, dalam kondisi ikhtiar untuk bangkit dan mendekat ke Allah.
Don't compare yourself to anybody else. That's not what Allah wants. Allah is not going to put you next to someone else and compare. 

***


MFA2020, aku memang jadi kirim tulisan. Tapi jadinya bukan ayat tersebut. Ada beberapa alasan, seperti lupa link videonya, trus pas mau nulis stuck. Trus nemu ayat lain, yang juga ayat doa, dan juga ayat favorit. Akhirnya nulis tentang ayat itu. Ada yang penasaran? Pengen baca? Tunggu aja tanggal tayangnya hehe. Aku jg gatau bakal dipublish kapan di nakindonesia.com, bisa cek ig nakindonesia jg untuk tahu tulisan mfa siapa yang hari ini di post.

Oh ya, baca juga tulisan MFA yang lain. Banyak yang menginspirasi, setiap kisah di dalamnya unik. Ada beberapa yang pilih ayat yang sama, tapi karena ada refleksi personal dan cerita personal, ga akan merasa kaya "ini udah pernah baca".

Satu lagi yang unik tentang MFA 2018-2020, tiga tahun berturut-turut ada ayat yang selalu dipilih, doa nabi Musa saat duduk di bawah pohon. Tentang doa ini, aku juga merasa ingin menuliskannya, doain ya semoga aku bisa nulis tentang ini, someday.

Terakhir, ini bulan Ramadhan, untukku terutama, jangan lupa banyakin melangitkan doa. Boleh dari doa-doa di Quran. Boleh juga doa dalam bahasamu sendiri. Doa-doa dari hadits juga banyak banget. It's Ramadhan, it's the month of quran, but it's also the month of dua.

Allahua'lam.

***

PS: MFA2020 memang sudah gak nerima tulisan, tapi kalau kamu mau nulis tentang ayat favoritmu, kenapa ayat itu terasa begitu dekat dalam hidupmu, serta penjelasan tentang ayat itu, kamu bisa tetap menulisnya. Publish di blogmu, atau di facebook, atau di instagram story/post. Barangkali.. dengan kamu share tulisanmu, orang-orang juga akan ikut berpikir, apa ayat quran yang tahun ini terasa dekat di hatinya, mereka jadi membuka quran lagi, dan bersyukur akan turunnya Al Quran dan hadirnya Rasulullah yang menjadi manusia suri tauladan kita. Allah tidak menurunkan quran saja, tapi Allah juga memberikan contoh langsung, bagaimana kalau quran tersemat di hati manusia dan menjadi hidup dalam setiap langkah dan amalnya. Allahumma shalli 'ala Muhammad, wa ala ali Muhammad.

Tuesday, February 18, 2020

Perpecahan Ini

February 18, 2020 0 Comments
Bismillah.

#matrikulasi #nakindonesia


Materi matrikulasi nakindonesia yang terakhir, tentang perpecahan dalam islam. Ayatnya masih sama kaya kemarin, dari  Asy Syura ayat 14. Kalau kemarin kita melihat ayat tersebut tentang bagaimana Allah memotivasi Rasulullah untuk berdakwah. Kali ini, kita melihat ayat tersebut dan merefleksikannya dalam islam.

Ayat itu memang menceritakan bahwa ahli kitab (yahudi dan nasrani) yang mengalami perpecahan setelah mereka mendapatkan ilmu. Tapi ayat ini, juga mengingatkan kita agar tidak jatuh di kesalahan tersebut.

Bagaimana ilmu, yang seharusnya dapat memudahkan jalan kita mencari dunia dan akhirat bisa menjadi sumber perpecahan?

Allah menyebutkan dalam ayat tersebut dengan frase baghyam bainahum. Ilmu yang kita ketahui seharusnya ingin kita bagikan karena kita ingin memberi manfaat kepada orang lain. Tapi bagaimana jika ilmu digunakan untuk mendominasi/menguasai orang lain? Rasa arogan dan ego yang meliputi ilmu akan membuat perpecahan. Sedikit saja perbedaan lalu yang terjadi adalah saling menyalahkan, serta mempengaruhi banyak orang agar tidak mendengarkan/mengikuti pihak yang berbeda pendapat dengan kita.

Perbedaan yang hadir setelah datangnya ilmu harus disikapi dengan benar supaya tidak terjadi perpecahan. Seperti yang dicontohkan para ulama, diawali dengan mendoakan, mengucapkan rahimahullah, dibawakan dengan rasa hormat, dan diakhiri dengan Allahua'lam, bahwa Allah Maha Tahu.

Perbedaan jangan dijadikan bensin untuk berdebat dan memperolok satu sama lain hingga terjadi perpecahan. Majelis ilmu yang seharusnya membawa rasa sejuk di hati orang-orang yang datang, jangan sampai justru memicu kebencian antara sesama muslim.

Perpecahan ini... siapa yang akan mendapatkan dampaknya? Anak-anak muda. Masih di ayat yang sama Allah berfirman,

وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ...
....Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.


Para pemuda yang baru memulai belajar islam, kemudian berhadapan dengan realita perpecahan, pertengkaran, dan perbedaan. Semua itu membuat mereka ragu dan bimbang dalam melangkah. Akhirnya banyak yang mundur dan memilih aktivitas lain daripada mengaji dan mendalami ilmu agama. Mereka memilih bermain game, atau nongkrong bareng teman, atau menonton film. Karena setiap mereka ke masjid, yang mereka lihat orang-orang dewasa yang saling bertengkar dan saling menyalahkan orang lain. Jangan belajar dengan ustadz A, itu sesat. Jangan duduk bersama kelompok B, mereka kafir. dll.

Those who inherited book after them, Allah didn't say utul kitab "they were given the book", innal mu'minin ba'dahum, no, not the believer after them. Innalladzina uritsul kitaba mim ba'dihim, those who were given the book in inheritance after them. Meaning, they got it from their father, from their mother, they got the religion because they were born in muslim family. They were born in community which is engaged in disagreement. What happen to this kids, this next generation of muslim? 
Lafi syakkim minhu murib. First of all they have no confident in their faith. Lafi syak. Syak is a kind of doubt that takes the confidence away from you. You're not sure about something. And then murib is a kind of doubt that keeps you from going forward. So every time there's an issue of halal and haram, the right or wrong according to the dictate of the deen, they're not so sure if that's the thing they're supposed to do. The next generation is in doubt about the religion all together, because the generation before was too busy fighting. 
-Nouman Ali Khan
***

Mendengarkan materi kali ini mengingatkanku perjalanan awal belajar islam. Bagaimana aku sendiri bahkan pernah mengalami semacam 'islamofobia'. Ya, islam sih, tapi pernah jadi takut untuk belajar islam, karena perpecahan yang ada. Pertengkaran yang aku lihat, perbedaan dan sikap menyalahkan, seolah aku harus memilih salah satu dari sekian banyak 'kelompok islam'. Aku gak tahu yang mana yang benar, tapi perpecahan yang ada membuatku mundur dan takut. Kalau sebelumnya, aku baca apa pun buku selama itu masuk genre islam untuk belajar islam. Saat itu aku memilih ga baca, karena takut terpengaruh dengan pemikiran islam yang sesat.

Aku teringat saat suatu siang menangis dan bertanya pada teman, bagaimana bisa tahu kebenaran islam? Saat setiap kelompok berpecah dan meyakinkan bahwa mereka benar dan yang lain salah?

Kalau aku tidak berada di lingkungan yang baik, kalau aku tidak bertemu dengan orang-orang yang memiliki ilmu namun tidak tenggelam dalam perpecahan, mungkin aku termasuk yang disebutkan dalam ayat tersebut lafi syakkim minhu murib.

Alhamdulillah, setelah ketemu orang-orang yang baik, dan diberitahu mindset yang benar dalam belajar islam, langkah belajar islam jadi jauh lebih ringan. Karena fokusnya bukan lagi pada siapa yang salah. Tapi fokusnya belajar mencari kebenaran, jangan terbawa arus perpecahan, belajar dari mana saja sembari berdoa agar Allah menunjukkan pada kita jalan yang benar.

***

Terakhir, semoga Allah memberikan kita hidayahNya, agar kita membagi cahayaNya, ilmu tentang islam yang sedikit kita ketahui dengan cara yang benar, agar tidak terjadi perpecahan. Semoga al quran dan sunnah menjadi pemersatu umat islam sebagaimana tujuan aslinya, dan bukan menjadi sumber perpecahan karena terkontaminasi ego dan arogansi manusia.

Allahua'lam.



Monday, February 10, 2020

Falidzalika Fad'u

February 10, 2020 0 Comments
Bismillah.

#matrikulasinakid #nakindonesia

Bagian dari materi matrikulasi 6, when muslim work together. Tadinya mau buat resume seperti biasa, juga milih quotes dan buat desainnya di canva. Tapi masih belum mood. Jadi deh, nulis ini.

Ini bagian akhir dari lecture-nya. Oh ya, udah ada subtitle-nya, bisa langsung ditonton di sini.


Jadi ustadz Nouman ceritain tentang bagaimana Allah memotivasi Rasulullah untuk berdakwah. Diambil dari surat Asy-Syura ayat 13-15.

Kalau sekilas kalau kita baca, isi ayatnya, terkesan kaya demotivasi. Tapi ternyata... setelah denger penjelasannya, jadi paham, speechless, Allah's words choice, Allah's sentence is always the best.

Allah berfirman,

كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ...

Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Kita semua tahu bagaimana kalimat-kalimat demotivasi mempengaruhi kita. Kata-kata pematah semangat, pandangan rendah dan celaan pada diri kita, bagaimana itu semua bisa menghancurkan motivasi kita, memberatkan pundak kita hingga kita ragu untuk melanjutkan langkah.

Rasulullah sudah dikelilingi dengan hal tersebut dari berbagai pihak terkait dakwah yang dilakukan beliau shalallahu 'alaihi wasalam.

Tapi tentu berbeda, jika kalimat tersebut diberikan oleh Allah langsung. Allah yang mengatakannya. Bahwa akan sulit untuk orang-orang musyrik menerima islam, berat bagi musyrikin untuk menerima dakwah yang dilakukan Rasulullah.

Satu masalah besar di hadapan Rasulullah.

Lalu Rasulullah melihat objek dakwah lain selain musyrikin, yaitu ahli kitab, baik dari yahudi maupun nasrani. Tapi apa penjelasan lanjutan dari Allah, dalam surat Asy Syura ayat 14

...وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka.


Ahli kitab memang berilmu, seharusnya lebih mudah untuk menerima islam, karena mereka sudah tahu akan datang nabi terakhir. Tapi Allah menyajikan masalah besar kedua, bahwa justru ilmu tersebut yang membuat ahli kitab berpecah belah. Di ayat lain Allah menyebutkan bahwa bahwa orang-orang berilmu di kalangan ahli kitab menjual ayat-ayat Allah. Ilmu yang dimiliki segelintir orang dikomersialkan, masing-masing berpecah belah karena berebut 'pasar dakwah'.

Dua masalah sudah terkumpul. Bukankah dua fakta dan realita tersebut saja sudah cukup membuat kita pesimis? Tapi ingatkah kita, bagaimana Rasulullah setelah dakwahnya ke Thaif ditolak begitu keras? Jika mereka tidak menerima islam, barangkali anak keturunan mereka mau menerima islam.

Tapi lanjutan dari ayat 14.

وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ...

Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.


Masalah ketiga, yang seolah meruntuhkan motivasi untuk berdakwah. Bahkan keturunan mereka, dalam keraguan. Iman mereka juga goyah, dalam keraguan.

Tiga masalah berlapis, yang kalau kita berhenti membaca di ayat 14, kita mungkin bisa salah mengambil kesimpulan.

Mari baca lanjutan firman Allah, Asy Syura ayat 15, yang juga merupakan judul tulisan ini..


فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita)".


Apa yang Allah perintahkan pada Rasulullah? Falidzalika fad'u, maka karena itu serulah, undanglah, berdakwahlah.

Justru karena masalahnya begitu besar, tiga dan berlapis. Justru karena orang-orang musyrik berat merima islam, justru karena ahli kitab berpecah belah karena ilmu yang dimiliki, dan justru karena keturunan mereka dalam keraguan. Justru karena itu semua Allah memilih Rasulullah, insan terbaik untuk menyampaikan dan mengajak manusia kepada islam. Justru karena itu semua Allah memilih Rasulullah sebagai nabi terakhir, untuk umat manusia sampai akhir zaman nanti. Karena hanya Rasulullah yang dapat mengajarkan kita ayat-Nya, bukan cuma bacaannya, tapi juga pengamalannya dalam teladannya shalallahu 'alaihi wasalam. 

Allah knows exactly the right word, the right step to motivate Rasulullah. Falidzalika fad'u.

***

Bagaimana kaitan ayat tersebut dengan kita? Apakah kita bisa menggunakan ayat tersebut untuk menaikkan motivasi kita dalam berdakwah?

Aku salin penjelasan dari ustadz Nouman ya,
Allah says, yes, there are huge problems. But you, Allah decided you and I will be alive in 2012 around all of these problems, and every generation of muslim Allah raises, did every generation of muslim see a problem around them? Yes. And Allah raises the generation of muslim that He knows is qualified to solve those problems. Because of those problems, you and I are exist. Because those problems have to be solved, you and I have been given air to breath. That's why you here. Falidzalika fad'u. And stand firm, don't buckle cause you see problem. wastaqim kama umirt. Stand firm as you've been commanded-Nouman Ali Khan
Masih ada lanjutannya sih panjang, yang penasaran bisa klik di sini.

Intinya, bagi yang masih diberi umur di tahun 2020, dan diberi hidayah iman dan islam, meskipun kita sekarang punya banyak sekali masalah... ingat selalu bahwa Allah tahu bahwa sebenarnya kita mampu menyelesaikan masalah tersebut. Kita punya potensi untuk menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita.

Falidzalika fad'u. Jadi segera bangun dari tidur kita. Ayo naik tingkat, hidup kita ga cuma struggle to survive, let's struggle for something bigger. Cek bakat dan potensi diri kita, pikirkan dan pilih di bagian mana kita mau berjuang dalam iqomatuddin. Sekecil apapun kontribusi kita, dan meski hasilnya mungkin ga akan kita lihat saat kita hidup. Tapi Allah menghitungnya, setiap amal, bahkan yang sekecil atom-pun akan dibalas.

Terakhir, semangaat!!!

Allahua'lam.

***

Keterangan: teks ayat dan terjemahan diambil dari web tafsirq.com

Monday, February 3, 2020

'Ibadurrahman

February 03, 2020 0 Comments
Bismillah.

#matrikulasinakid #nakindonesia

Ada tiga surat, yang isinya memberitahu kita kualifikasi manusia yang baik. Ketiganya beda level. Dari yang standar, di surat Al Ma'arij. Lalu setingkat di atasnya, di surat Al Furqan. Dan yang tertinggi, di surat Al Mu'minun.

Nah, materi ke 5 ini membahas tentang 'ibadurrahman, yang ada di surat Al Furqan. Ada yang sudah pernah baca/denger? 


Untuk yang belum, cek video di atas ya, sudah ada subtitle indonesianya. Yang sudah pernah, let's refresh our memory again.


Frase 'Ibadurrahman


Sebelum bahas siapa saja yang termasuk kelompok 'ibadurrahman, ustadz Nouman membahas frase 'ibadurrahman yang istimewa.

Bahasa arabnya hamba adalah 'abd, bentuk jamaknya ada dua 'abid dan 'ibad. Bedanya apa?

'Abid diperuntukkan untuk seluruh hambaNya, baik yang beriman maupun yang tidak beriman. Seperti dalam surat Fushilat,


مَّنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَلِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّـٰمٍۢ لِّلْعَبِيدِ

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. [Surat Fusshilat (41) ayat 46]

Sedangkan 'ibad, itu untuk hamba-hambaNya yang spesial.

Spesial? Hm... aku bukan dong? Eits jangan depressed dulu, jangan pesimis dulu. Karena nanti ada penjelasannya juga. Meskipun spesial, tapi Allah tetap membuka banyak pintu yang lebar, agar kita bisa termasuk golongan 'ibadurrahman.

Lanjut bahas frase 'ibadurrahman. Allah menggunakan nama Ar rahman, meski ada banyak nama Allah yang lain.

Rahman artinya Yang Memberikan kasih sayang extremely dan immediately. Kasih sayang-Nya ekstrim, begitu besar dan banyak, serta.. segera diberikan.

Siapa yang tidak mau menjadi orang-orang yang diberikan rahmat besar dan segera oleh-Nya?

Incomplete Sentence


Sebelum masuk ke deskripsi siapa saja yang termasuk 'ibadurrahman. Ada satu hal yang perlu kita tahu. Jadi... kata ustadz Nouman kalau dilihat secara seluruhan, ternyata deskripsi-deskripsi yang disebutkan itu ibarat kalimat majemuk bagian subjeknya. Mubtada ceunah hehe. Jadi kaya kalimat yang belum sempurna, yang membuat kita penasaran dengan ending-nya.

Contohnya gini, ada pengumuman di sekolah:

"Kepada siswa-siswa kesayangan sekolah, yang ranking 5 besar di kelasnya, dan yang tidak pernah terlambat, dan yang kalau ketemu guru selalu salim, dan yang..."

Kebayang ga? Hehe. Pilihan grammar yang Allah gunakan, mubtada, selain membuat kita penasaran, trus siapa lagi? trus mereka kenapa? Selain itu, posisi grammar ini membuka pintu lebar. Jadi Allah tidak hanya sedang memberi tahu kita satu kelompok dengan 10 deskripsi. Tapi Allah memberi tahu kita 10 kelompok dengan 10 deskripsi.

Beda dengan Al Ashr. Penjelasan pengecualian orang-orang merugi itu bukan mubtada, tapi khabar. Jadi kata 'dan' maknanya mengharuskan keempat ciri tersebut harus semuanya ada di orang tersebut. Baru orang itu termasuk yang selamat dari kerugian.

*mohon koreksinya ya kalau saya salah ^^

Who Are They?



1. Orang-orang yang rendah hati


Humble, down to earth, gak arogan. Tahunya dari mana? Kan rendah hati itu bisa juga 'topeng'.

Allah kasih ujian tanda kelulusannya, yaitu yang kalau ketemu orang jahil dan orang tersebut ngajak debat, marah-marah, dan ngerendahin kita, maka kita dengan tenang menanggapinya.

Ada beberapa kata bahasa arab yang perlu dicatat, agar kita bisa memaknai ayatnya lebih tepat.

Pertama kata idza, artinya pasti terjadi. Akan ada saat kita akan diuji, apakah kita bisa termasuk deskripsi yang pertama ini.

Kedua kata jahil, jahil di sini kebalikan dari aql. Jadi jahil bukan cuma mencakup orang yang bodoh. Termasuk di dalamnya orang yang berkata tanpa dipikir. Kalau terlintas kata-kata buruk, cercaan, celaan bahkan sumpah serapah, mereka langsung mengatakannya tanpa mikir. Ustadz Nouman kasih contoh misal di jalan raya, trus terjadi sesuatu, ada yang turun marah-marah dan bahkan sampai ngomong kata kasar ke kita. Itu salah satu contoh wa idza khatabahumul jahilun

Ketiga kata salam, salam di sini, bukan cuma berarti kita mengucapkan salam, ketika berhadapan dengan orang jahil. Ini juga berarti berbicara dengan tenang, damai (peacefully), tidak menyakiti dan juga tidak membuat orang lain marah.

"You have to calm down when you deal with people. You'll meet all kind of people, all kinds of temperament."

Ciri pertama ini, seharusnya kelak menjadi pengingat diri kita. Saat kita dihadapkan dengan situasi berat yang mendesak kita untuk terbawa emosi. Tapi keinginan kita untuk termasuk dalam golongan 'ibadurrahman, membuat kita menenangkan diri sendiri dan memilih untuk "berkata salaman". Entah yang kita hadapi bos kita yang super galak, atau pasangan kita, anak kita, murid kita, atau bahkan orang asing yang tiba-tiba melampiaskan kenegatifan dalam dirinya pada kita.

2. Orang-orang yang mendirikan qiyamul lail

Mereka yang malamnya diisi dengan sujud dan berdiri.

Yang menarik, mengapa ciri ini disebutkan nomor dua? Padahal biasanya kalau kita menyebut seseorang sangat dekat dengan Allah, pasti orang tersebut rajin tahajud. Tapi ayat ini memberitahu kita bahwa hal pertama yang menunjukkan kedekatan seseorang dengan Allah, bukan tahajud, tapi seseorang yang rendah hati dan mampu mengendalikan emosinya.

3. Orang-orang yang memohon agar dilindungi dari api neraka

Ada orang-orang yang dicintai Allah hanya karena mereka selalu memohon agar dilindungi dari api neraka. Mereka paham bahwa hukuman masuk neraka tidak sangat berat.

Sebagai orang yang beriman, normal kalau kita tidak ingin masuk neraka. Tapi... ada saja orang-orang yang meremehkan neraka seperti yang dilakukan Bani Israil. Mereka mengira bisa mengatasi hukuman neraka, kalau itu sementara. "Toh, nanti masuk surga karena masih islam". Na'udzubillah. Semoga Allah melindungi kita dari mentalitas tersebut.

'Ibadurrahman tidak ingin berurusan dengan neraka, baik itu sementara, atau selamanya. Bahkan meski hanya satu detik. Karena mereka paham betapa lemah dirinya, dan betapa dahsyat siksa di neraka.

Allah mendeskripsikan dalam Surat Anbiya ayat 46, ada orang yang bahkan belum masuk neraka, ia baru mencicipi nafha, 'udara dingin' api neraka. Mereka bahkan tidak merasakan lafha, 'udara panas' api neraka.

وَلَئِن مَّسَّتْهُمْ نَفْحَةٌۭ مِّنْ عَذَابِ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ يَـٰوَيْلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَـٰلِمِينَ

Dan sesungguhnya, jika mereka ditimpa sedikit saja dari azab Tuhan-mu, pastilah mereka berkata: "Aduhai, celakalah kami, bahwasanya kami adalah orang yang menganiaya diri sendiri". [Surat Al-Anbiya (21) ayat 46]

"Nafha is used, you know when you close the door and some hot air comes in, as you close the door, the air that comes in or out, that's called nafha.
Allah said, those people will taste a nafha, air, not even inside Jahannam, where? Outside. They haven't even gone in yet. And they didn't taste fire, they taste lava, they didn't eat anything, they're just exposed to air, and not even hot air. Which kind of air? Cold air, nafha. And it touched them barely, massathum." -Nouman Ali Khan

Mereka berkata, "Ya wailana". Bahkan 'udara dingin' tersebut membuatnya merasa begitu celaka, seolah-olah ia merasa mendapatkan hukuman terberat di neraka.

Seorang muslim seharusnya paham itu, bahwa ia tidak menginginkan jahannam baik itu sebentar ataupun lama. Dan pemahaman tersebut yang mengantarkannya untuk selalu berdoa memohon perlindungan Allah, serta selalu hati-hati dalam setiap perilaku dan apa yang akan dikerjakannya.

4. Orang-orang yang membelanjakan uangnya dengan bijak 

Tidak boros dan tidak pelit. Mereka bertanggung jawab terhadap pengeluarannya. Tidak asal membeli sesuatu atau berhutang hanya karena tuntutan gaya hidup, atau supaya terlihat keren.

"Quran is teaching us, that when you spend money, don't spend money that's not in your pocket. Don't take a loan, don't be addicted to your credit card. Don't be like that. Spend within your means, spend within your budget." -Nouman Ali Khan
Saat kita memiliki uang berlebih, bukan berarti kita selalu menghabiskannya untuk diri kita. Kita bisa menggunakan uang itu untuk orang-orang yang lebih membutuhkan.
"Your money can do other good things, instead of just buying yourself things." -Nouman Ali Khan

5. Orang-orang yang tidak menyekutukan Allah, tidak membunuh dan tidak berzina

Penjelasan tentang ini sayang banget kalau ga denger langsung. Kalau mau denger langsung bisa cek di sini.

Ada situasi dimana orang akan merasa sulit untuk tidak melakukan ketiganya. Mungkin karena lingkungannya, keluarga dan tempat ia tinggal tidak ada yang menyembah Allah. Negara/daerah konflik dimana pembunuhan seolah menjadi 'hal yang wajar'. Juga pintu zina yang terbuka lebar, lebih mudah untuk mendekati zina dengan pacaran daripada jadi jomblo fi sabilillah. Tapi meski kondisi dan lingkungannya sangat sulit, mereka tetap mempertahankan imannya. Tidak menyekutukan Allah, tidak membunuh dan tidak berzina.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang masuk ke jurang dosa ketiganya? Mereka yang sudah sangat jauh dari Allah. Apa berarti hidup mereka 'selesai'? Ayat berikutnya Allah membuka pintu kembali untuk mereka.

Mereka yang berdosa melakukan ketiganya, kemudian bertaubat. Bukan cuma taubat, tapi beriman (lagi) dan sungguh-sungguh dalam mengerjakan amal shalih. Bukan cuma 'amilu shalihan. Ada penekanan dengan tambahan kata 'amalan'. Wa 'amilu 'amalan shalihan. 

Seorang muslim yang tahu bahwa menyekutukan Allah, membunuh dan berzina itu dosa tapi tetap melakukannya, akan diberi hukuman dua kali lipat. Tapi mereka yang mau bertaubat, Allah akan ubah dosa mereka menjadi kebaikan.

This is arrahman, Allah is telling us, the people who are furthest from Allah,...... the people furthest from Allah, the people who lost their iman, the people who do shirk, the people who killed another person -innocent person-, the people who commit zina. They are furthest from Allah. And Allah said, "Even if they are so far away from me, they turn back towards me, I will forget all of their crimes and I will convert their crime into good deeds for them on judgment day. Subhanallah"
"I will make them 'ibadurrahman to me, cause they come back. They were so far away and they still come back to me." That's what Allah wants. 

6. Orang-orang yang menghindari 'zuur'


Zuur means false testimony, it also means company that are useless, doesn't have benefit, it's bathil.

Dan mereka menghindarinya dengan cara yang terhormat. Saat dihadapkan pada situasi atau orang-orang yang melakukan hal buruk atau tidak bermanfaat, ia bisa pergi dengan cara yang pintar. Tidak dengan cara mempermalukan mereka.

Kenapa kita memilih menghindari 'zuur'? Karena kita tahu bahwa dosa besar berawal dari dosa kecil, dari langkah-langkah kecil. Maka saat kita dihadapkan dengan orang-orang yang melakukan hal buruk atau haram, kita dihadapkan pada kegiatan yang tidak bermanfaat, kita menghindarinya. Jika kita bisa, kita memang seharusnya mengajak orang lain untuk tidak melakukan hal buruk tersebut. Namun jika kita tidak bisa, kita menjauh, menjaga jarak untuk menjaga diri dan iman kita.

One thing you should do is trying to get them out of it, and if you can't, you should distance yourself. Save yourself. You're not going to go save them, you'll get messed up with them.

7. Orang-orang yang tidak berpaling, tidak menuli dan tidak membuta dari ayat-ayat Allah


Saat ada hal-hal yang mengingatkan kita kepada Allah, entah itu bentuknya kajian di masjid, atau video islam di youtube, tulisan tentang ayat quran di IG, mereka tidak mengabaikan pengingat tersebut. Tidak hanya mereka membaca/mendengarkannya, tapi mereka bertekad dan berusaha untuk mengamalkannya.

You listen to a podcast, you listen to an MP3, you listen to a youtube video, you listen to  a dars like this sitting over here, and when you walk out of it, you said, "I will not forget this lesson, these are lessons for my life. This isn't just a speech on a program, this is not just a program. This reminding myself of the ayat of my Rabb, what He told me to do, so I have to become one of this people."

8. Orang-orang yang berdoa "Rabbana hablana min azwajina....


وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍۢ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Surat Al-Furqan (25) ayat 74]

Doa meminta diberikan hadiah tak terduga, agar pasangan dan anak keturunan kita sebagai qurrota a'yun. Yang dengan melihat mereka, mata kita jadi menangis karena bahagia. Karena keimanan mereka, karena amal shalih yang mereka lakukan.

Doa ini menunjukkan bahwa mereka peduli pada keluarganya, mereka memikirkan keluarganya, dan doa ini, artinya mereka berusaha agar menjadikan keluarganya bukan cuma selamat dari api neraka, tapi juga agar dapat menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa.

The crisis of the ummah is not economic, is not politic, is not education, is not corruption, that is not the crisis of the ummah. The crisis of the ummah is that the family unit is being destroyed. People don't know how to raise kids anymore. People don't know what it means to be parent anymore. Husbands don't know what it means to be husband anymore. Wife doesn't know what it means to be wife anymore. Children don't know what it means to be children anymore. That is being destroyed by the modern context we live in. And when we learn this du'a, we learn that one of the thing that will protect us, will save us, save our ummah, is that we protect our family, we protect that unit. - Nouman Ali Khan

The Complete Sentence


Masih ingat kan, kalau penjelasan deskripsi orang-orang yang termasuk 'ibadurrahman itu cuma mubtada, belum ada khabar-nya. Masih incomplete sentence. Kalimat majemuknya, baru bagian subjeknya. Trus lanjutan apa? Predikat dan keterangannya apa?

Allah berfirman,

أُو۟لَـٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةًۭ وَسَلَـٰمًا

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, [Surat Al-Furqan (25) ayat 75]

خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّۭا وَمُقَامًۭا

mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. [Surat Al-Furqan (25) ayat 76]


Allah akan memberikan balasan berupa surga level atas, karena kesabaran mereka. Ustadz Nouman menjelaskan bahwa kesabaran di sini berarti, mereka menjadikan kualifikasi tersebut sebagai gaya hidup/habit, konsisten dijaga dalam kesehariannya. 

All of these qualities requires what? Sabr. What is sabr means, sabr does not just mean patients, it means constancy. - Nouman Ali Khan

Hasunat mustaqarraw wa muqama. Surga itu sebaik-baik tempat untuk menetap sementara dan selamanya. Kenapa disebutkan mustaqarra, padahal bisa saja hanya menggunakan kata muqama? Ustadz Nouman menjelaskan ini berarti ada kemungkinan orang-orang tersebut bisa naik level ke surga yang lebih tinggi.

This home you have in jannah, as awesome as it is, might be temporary cause Allah is about to upgrade you.
***

Terakhir, aku tutup resume kali ini dengan quotes dari ustadz Nouman.

I share this ayat because I want to encourage you and your family to be 'ibadurrahman. Allah did not tell us "you have to do all of this", He said, "at least do one of this, give me one of this so I have a reason to call you 'ibadurrahman". Give Allah a reason to be called 'ibadurrahman. Give Allah a reason.
He is so loving and kind, that instead of setting high requirement, He lowers the requirement. He keep, "Oh you can do that one? How about this one? How about this one?" Subhanallah. There's so many He gaves us.
May Allah azza wajall truly make us 'ibadurrahman.

Aamiin.

Allahua'lam. 

Sunday, January 26, 2020

Undangan Untukmu

January 26, 2020 0 Comments
Bismillah.

#matrikulasinakid #nakindonesia


Alhamdulillah, udah sampai ke materi ke 4 matrikulasi NAK Indonesia. It means I'm already half way. Semoga Allah berikan hidayah dan kekuatan untuk melanjutkan sampai akhir program. Aamiin.

Materi keempat temanya tentang ayat dakwah, QS An Nahl ayat 125.


Seperti biasa, ustadz Nouman membahas ayat kata per kata. Dari kata ud'u yang berarti undangan (invitation). Oh ya, ud'u itu satu akar kata sama dakwah, artinya inti dakwah itu bukan ceramah, dan tentu bukan juga debat. Inti utama dakwah adalah sebuah undangan.

Ada yang pernah kirim undangan? Biasanya kita kirim undangan ke siapa? Ke musuh? Tentu bukan ya. Undangan biasa dikirimkan untuk orang terdekat, teman kita, keluarga kita, dan orang-orang yang kita cintai. Selain itu, kita juga tidak mengundang orang saat kita marah. Ada sikap ramah dan senang hati saat kita mengundang seseorang, sikap bahwa kita mengharapkan kehadirannya. Begitu pula sikap yang harus kita miliki dalam berdakwah.


ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [Surat An-Nahl (16) ayat 125]

Kata/frase berikutnya, ila sabili rabbik, merupakan hal kedua yang harus kita perhatikan dalam dakwah. Dakwah itu bukan undangan biasa, melainkan undangan istimewa. Kenapa? Karena biasanya, kalau undangan itu, kita nyantumin lokasi tujuan, sedangkan dakwah, yang disebutkan bukan destinasi, tapi sabili rabbik, jalan Tuhanmu.

Bedanya apa sih? Pertama, kalau misal mengundang teman ke rumah kita, trus telat hadir, kita marah kan? Kenapa? Karena ia tidak sampai ke rumah kita. Tapi kalau undangannya ke jalan, dan jalan itu panjang, maka setiap yang berada di sana, baik itu yang baru selangkah, maupun yang udah ratusan kilometer, semuanya 'memenuhi undangan'. Kalau kata ustadz Nouman semuanya sukses.

Dan tahukah, bahwa Allah mendeskripsikan agama ini, islam, sebagai sebuah jalan?


Selain tentang setiap orang yang berada di jalan dianggap sukses, ada konsekuensi lain yang harus kita perhatikan atas undangan istimewa ini. Kalau kita ke jalan, akan banyak yang lewat, mulai dari mobil, sepeda, bis, sampai pejalan kaki. Kecepatan masing-masing berbeda kan? Artinya, Allah mengetahui dan memahami bahwa setiap manusia memiliki speed yang berbeda-beda. Dan Allah menghargai masing-masing orang yang berjalan mendekat pada-Nya, bahkan yang berjuang untuk bergerak satu demi satu senti setiap harinya.

Jika Allah begitu, maka bagaimana dengan kita? Kita juga seharusnya tidak memaksakan orang lain untuk berubah menjadi 'sempurna' dalam satu malam, hanya karena kita merasa sudah memberikan 'undangan' (baca: dakwah) pada mereka.

Yang perlu kita lakukan adalah bersabar, dan terus menerus mengingatkan serta tidak menyerah. Jika pun ada kata-kata yang masuk ke hati mereka, dan mereka berubah menjadi lebih baik, dan menyusuri jalan islam, kita perlu ingat. Bahwa bukan kata-kata kita yang mengubah mereka, tetapi Allah yang mengubah mereka.

Allah lah yang menanamkan 'biji', satu dari pengingat-pengingat yang pernah kita sampaikan, dalam hatinya. Dan Allah juga yang menentukan kapan biji tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi pohon iman, yang kelak akan berbuah amal.

Masalah Dakwah Kita


Ada beberapa hal yang harus kita ubah dalam dakwah kita. Karena seringkali hal-hal ini memutus harapan orang-orang. Banyak yang merasa tidak akan mungkin masuk surga karena cara dan sikap kita yang salah dalam berdakwah.

Pertama, sikap menghakimi, dan meminta proses perubahan yang kilat

Kedua, packaging dakwah bahwa untuk masuk surga dibutuhkan begitu banyak ilmu, fiqih, aqidah, bahasa arab, tafsir, baca kitab-kitab para ulama, hadir atau nonton kajian, mencatat, dan setelah itu semua, mungkin, mungkin kita bisa masuk surga.

Kita lupa, bahwa Al Quran memberitahu kita kisah pemuda al kahfi, yang sadar bahwa ada Rabb semesta. Mereka bahkan tidak tahu cara shalat, mereka hanya berdoa meminta petunjuk dan rahmat. Dan kisah pemuda tersebut dipelajari oleh ulama tafsir. Hal ini menunjukkan bahwa, sebenarnya yang memperumit islam adalah diri kita sendiri. Ekspektasi kita  terlalu banyak dan mengintimidasi, sehingga banyak yang memilih untuk menjauh pada islam.

Ketiga, persepsi yang salah, bahwa hanya orang-orang terbaik yang bisa masuk surga.

Padahal di surat Al Lail, Allah berfirman, la yashlaha illal ashqa. Tidak akan masuk neraka kecuali orang-orang yang terburuk.

Dengan ayat tersebut Allah seolah 'menutup' pintu neraka, karena hanya orang-orang yang sangat sangat terburuk yang masuk neraka. Dengan ayat itu juga, Allah membuka lebar harapan kita, bahwa mereka yang tidak termasuk golongan terburuk, Allah izinkan masuk surga. Subhanallah. Maha suci Allah. Kalimat undangan-Nya begitu indah. Namun kita yang salah sikap dan salah cara saat menyerahkan 'surat undangan' tersebut.

Keempat, terlalu mudah memberi label haram, padahal kaidah fiqih yang benar, sesuatu itu dihukumi halal, sampai terbukti keharamannya.

Hal ini harus diwaspadai, karena saat seseorang merasa sudah 'tenggelam' dalam hal-hal yang haram, ia kan mudah berputus asa dan akhirnya memilih untuk tetap dalam kegelapan, meski ia tahu bahwa iman itu cahaya.

Kelima, yang ini agak sulit nulisnya hehe. Jadi silahkan cek di sini ya penjelasannya. Tentang makna dari sincere / ketulusan / ikhlas.

Keenam, saat Allah marah pada hamba-Nya, bukan berarti kita berhak untuk ikut marah.

Ustadz Nouman mencontohkan tentang oranng tua dan anak-anaknya. Misalkan anak pertama melakukan kesalahan, kemudian ayahnya marah. Apa itu berarti adiknya, berhak untuk ikutan marah? Tidak kan? Ini juga berlaku kalau yang salah adalah sang adik. Saat Ibu marah pada adik karena kesalahannya, sang kakak tidak berhak ikutan marah-marah. Begitu pula kita menyikapi ayat-ayat yang menunjukkan kemarahan Allah.

***

Setiap muslim disarankan untuk berdakwah, mengundang orang lain kepada islam, menyampaikan meski hanya satu ayat. Tapi ada hal-hal yang harus kita perhatikan dalam berdakwah. Agar jangan sampai yang kita lakukan justru malah membuat orang-orang menjauh dari islam.

Semoga Allah memberikan kita kebijakan dalam berdakwah. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang tidak merugi, yang beriman, beramal shaleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran. Aamiin.

Allahua'lam.