Follow Me

Tuesday, January 29, 2019

Sikap Manusia Terhadap Kematian

Bismillah.

#buku
-Muhasabah Diri-

Tahun 2019, bulan Januari sudah di penghujung. Awal tahun biasanya orang-orang menulis resolusi membuat rencana apa yang akan dilakukan dalam setahun, apa yang ingin dicapai, apa yang ingin diperbaiki. Tapi sadarkah kita? Bahwa kematian lebih pasti daripada kehidupan? Siapa yang menjamin kita masih hidup sampai penghujung tahun? Banyak yang menolak untuk mengingat kematian, berusaha menafikan kepastian datangnya. Padahal mengingat kematian bisa memberikan manfaat bagi orang-orang yang beriman.

***


Ketahuilah, hati orang yang tenggelam dalam dunia dan tertipu olehnya serta jatuh cinta pada berbagai syahwatnya sudah pasti lalai dari mengingat kematian. Apabila seseorang mengingatkannya pada kematian, maka dia merasa tidak suka dan langsung lari menjauh darinya. Orang seperti itulah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS Al-Jumu’ah: 8)

Dalam hal ini, manusia terbagi tiga: orang yang tenggelam dalam dunia, orang yang bertobat, dan orang yang mengenal Allah.

Orang yang tenggelam dalam dunia tidak akan mengingat kematian. Jika dia teringat akan kematian, maka yang timbul dalam benaknya hanyalah rasa sayangnya akan kehilangan dunia, lalu dia mengecamnya. Mengingat kematian yang seperti itu hanya semakin menjauhkannya dari Allah.

Orang yang bertobat banyak mengingat kematian dalam rangka memupuk rasa takut dan cemas dalam hatinya. Dengan begitu, tobatnya akan sempurna. Ada kalanya, dia tidak menyukai kematian karena khawatir kematian sudah datang sebelum tobatnya sempurna, sebelum bekalnya cukup banyak. Hal ini bisa dimaklumkan. Maka dirinya tidak tergolong orang yang disebutkan dalam hadis, “Barangsiapa tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” Dia hanya khawatir luput dari pertemuan dengan Allah akibat kelalaian dan keteledorannya. Persis seperti orang yang takut terlambat bertemu dengan kekasihnya, sehingga dia senantiasa sibuk mempersiapkan diri untuk bertemu dengan sang kekasih dalam suasana penuh keridhaan. Dengan demikian, dia tidak bisa dianggap sebagai orang yang tidak suka bertemu dengan kekasihnya.

Ciri-ciri orang seperti ini adalah dia selalu sibuk bersiap-siap bertemu dengan Allah, tidak ada kesibukan selain itu. Jika ciri-ciri ini tidak terdapat pada diri seseorang, maka dia termasuk orang yang tenggelam dalam dunia.

Sedangkan orang yang mengenal Allah senantiasa mengingat kematian hanya karena kematian merupakan waktu yang ditentukan baginya untuk bertemu dengan Sang Kekasih. Seorang pecinta tidak akan melupakan waktu yang ditentukan untuk bertemu dengan kekasihnya. Biasanya, orang seperti ini menganggap datangnya kematian terlalu lambat. Dia menyukai datangnya kematian agar dapat segera hengkang dari negeri para pelaku maksiat dan pindah ke sisi Tuhan semesta alam. Sebagaimana ketika Hudzaifah radhiyallahu anhu menjelang wafat, dia berkata, “Kekasih yang dinanti-nanti tiba di saat genting. Tidaklah beruntung orang yang menyesal pada saat ini. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan jauh lebih aku sukai daripada kekayaan, dan waktu sakit jauh lebih aku sukai daripada waktu sehat, dan kematian jauh lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah kematian bagiku agar aku bertemu dengan-Mu”.

Allahua'lam.

***

Keterangan: Prolog tulisan saya, sisanya menyadur dari buku Bekal Menggapai Kematian yang Husnul Khatimah, Syaikh Majdi Muhammad asy-Syahawi, Qisthi Press, Hal. 18-19

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya