Follow Me

Wednesday, March 14, 2018

Karakter Fiksi

March 14, 2018 0 Comments
#fiksi

Banyak orang yang memilih fiksi sebagai cara ia mengungkapkan hidup yang ingin ia rasakan. Karakter utamanya dia, lalu keinginannya, diwujudkan di dunia fiksi.

Tapi... ada juga yang sebaliknya, ia justru membuat karakter fiksi, yang berkebalikan dengannya. Mungkin sang penulis ingin merasakan, bagaimana rasanya memiliki sifat/karakter yang bukan dia. Bagaimana rasanya punya kebiasaan yang jauh dari kebiasaan dirinya di dunia nyata.

Aku mengenal dua jenis penulis fiksi tersebut.


Yang pertama, namanya Finda. Ia punya mimpi untuk melanjutkan kuliah di Eropa, lebih tepatnya di Inggris. Realitanya, Finda mengalami kesulitan dan kemungkinan ia mewujudkan impiannya, tipis. Maka Finda memilih menulis sebuah fiksi, kisah bersambung tentang seorang gadis yang berjuang untuk kuliah di Inggris, serta petualangannya saat akhirnya karakter fiksi tersebut berhasil pergi ke Inggris, bukan sebagai mahasiswa, namun justru sebagai pengantar surat. Karakter fiksi yang Finda buat di kisah tersebut, sangat mirip Finda. Postur tubuhnya, sifatnya, kebiasaannya, bahkan gaya bahasanya saat berdialog dengan karakter fiksi lain.

Aku juga mengenal penulis fiksi jenis kedua. Namanya Tiwi, berbeda dengan Finda yang membuat kisah bersambung. Tiwi lebih sering membuat kisah pendek. Flash fiction. Namun kalau pembaca kenal Tiwi di dunia realita dan memperhatikan karakter fiksi yang menjadi peran utama kisah yang ditulisnya. Ada satu kesamaan dari sekian banyak karakter fiksi tersebut. Karakter fiksi tersebut selalu bertolak belakang dari Tiwi. Postur tubuhnya, sifat-sifatnya, dll. Contohnya, karakter fiksi buatan Tiwi selalu sesosok misterius, yang sangat sulit terbaca kondisi hatinya, apakah karakter fiksi tersebut sedih, atau senang, tidak terbaca oleh tokoh lain, kecuali yang diberitahukan oleh Tiwi kepada pembaca. Realitanya, Tiwi adalah seseorang yang sangat ekspresif. Saat ia senang, semua orang bisa melihatnya. Nada suaranya yang semakin nyaring dengan intonasi ceria. Derap langkahnya yang seperti anak kecil baru bisa berjalan dan memakai sepatu yang berbunyi. Begitu juga saat Tiwi marah atau sedih, sangat mudah terbaca. Saat Tiwi marah atau sedih, ia akan banyak menundukkan wajahnya, nada suaranya mendadak rendah, volume suaranya juga mengecil diiringi intonasi tegas dan serius. Tiwi saat marah, akan menjadi Tiwi yang sangat ceroboh, ia dengan mudah menjatuhkan kertas di meja kerjanya, tersandung tempat sampah, dan kecerobohan lain yang mengundang perhatian banyak orang. Tiwi saat sedih, ia seolah tidak berada dimana ia bertapak. Sunyi, bergerak sangat hati-hati, seolah ia ingin keberadaannya tidak diketahui siapapun.

***

Berbicara tentang menulis fiksi, aku juga menulis fiksi. Kamu tahu, aku termasuk golongan pertama atau yang kedua?

Apa aku lebih mirip gaya menulis Finda, atau lebih mirip Tiwi? Atau bukan keduanya?

The End.

Outline untuk Sabtulis Pekan Kemarin

March 14, 2018 0 Comments
Bismillah.


Mau share aja, bagaimana saya membuat outline tulisan. Saya jarang niat buat outline. Biasanya spontan saja menulis saat mood. Tapi sabtu kemarin, karena laptop sedang banyak dipakai adik yang sedang berjuang menyusun skripsi, saya membuat outline di note hp.

***

March 10, 2018 3:04 PM

Draft untuk #sabtulis. Buat note fb di Refleksi Ramadhan.

Prolog: siapa bilang penulis yang romantis itu di dunia nyata juga romantis? Bisa jadi ia hanya lihai menguntai kata dalam tulisan, karena kesulitannya mengungkap kata indah lewat lisan.

- Romantis/Pembohong?

Samakah keduanya? Penyair itu rawan untuk berbohong. Di satu waktu, ia berkata, kamu-lah satu-satunya. Beberapa abad kemudian, atau tahun, atau bulan, atau bahkan cuma beberapa hari kemudian, ternyata bukan cuma satu. Mungkin kata 'kamu' yang digunakannya mirip kata 'you' dalam bahasa inggris yang sifatnya bisa tunggal maupun jamak hehe.

- Hati diciptakan cinta pada yang berbuat baik

Tahukah kamu sosok romantis tapi bukan pembohong?

Kutipan dari buku Madarijus Salikin.
Hadits Ahmadnya.

Jadi, bagaimana? Masih mau terlena dengan romantisme maya dan sementara dari manusia? Atau mau menyelami dan mensyukuri romantisme dari Zat Yang Maha Sempurna?

- Dua pertanyaan dari sahabat

Siapa orang yang paling Allah cintai? Orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amalan apa yang paling Allah cintai? (1) membahagiakan muslim, (2) membantu orang lain, (3) menolong orang yang terlilit hutang (4) memberi makan orang yang kelaparan.

Sumber:
_buku Serial Cinta Anis Matta
_buku Madarijus Salikin Ibnu Qayyim Al Jauziyah
_poin catatan kajian bulughul maram oleh ustadz Zein @Masjid Jensud kemarin malam.

***

Cuma ingin membagikan outline-nya. Mungkin ga akan saya sempurnakan menjadi tulisan. Ada beberapa yang sebenarnya sudah saya tulis di blog ini soalnya. hehe. Yang tentang romantis/pembohong, bisa baca di sini. Kutipan dari Madarijus Salikin, nanti saya ketik di sini in syaa Allah. Hadits Ahmad, bisa dibaca di sini.

***
Sebab hati itu diciptakan untuk mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya. Lalu kebaikan macam apakah yang lebih besar daripada Dzat yang mengetahui kedurhakaan hamba, lalu justru memberinya nikmat, memperlakukannya dengan lemah lembut, menutupi aibnya, menjaganya dari serangan musuh yang selalu mengintainya, dan menjadi penghalang di antara keduanya? Semua ada dalam pengamatan dan penglihatan-Nya. Padahal langit sudah meminta izin untuk menindihnya, dan bumi sudah meminta izin untuk menelannya, dan laut sudah meminta izin untuk menenggelamkannya.
- Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, dalam buku Madarijus Salikin
***

Mungkin hanya outline, tapi semoga masih bisa bermanfaat. Terutama untuk yang berniat menulis, namun sering stuck untuk memulai. Cobalah untuk membuat outline dulu, membuat rangkanya, agar nanti.. memudahkanmu mengisi dagingnya. Kalau sudah ada rangka, minimal kita jadi tahu urutannya, atau bahkan bisa menulis acak tapi tidak mengubah rangka.

Ya, aku bisa menyempurnakan tulisan poin catatan kajian dulu, baru kemudian menulis tentang romantis/pembohong, baru kemudian menulis bagian tengah rangka tulisannya. Bisa seperti itu. J.

Atau, kalau yang memang tidak terbiasa membuat outline. Spontanitas aja juga gapapa. Aku juga seringnya gitu. Apalagi kalau cuma satu tulisan di blog. Beda kalau menyusun buku, harus ada outline-nya. Ehm.

Selamat berlatih menulis~ Bye bye^^

***

PS: Tentang sabtulis

Behind The Scene Perubahan Tampilan Blog

March 14, 2018 0 Comments
Bismillah.
#blog

Mau curhat bagaimana akhirnya blog-ku sampai di tampilan yang sekarang hehe. Alasan awalnya childish, childish banget hehe.

Jadi awalnya kan saya menggunakan tema Terkemuka, dengan warna tosca, tapi karena banyak menemukan blogger lain pakai tema yang sama, akhirnya saya ganti pake tema Soho kombinasi warna hitam pink.

Sampai di situ, masih ada yang ga pas di hati. Rasanya ada yang kurang. Ga bisa baca preview, kecuali pinned post. Trus ga ada prev-next post. Jadi deh.. akhirnya termotivasi untuk cari-cari cara edit html, buat ngedit yang udah ada. Sebelum ngedit, blog ini saya set private.

Percobaannya gagal, gatau kenapa ga berhasil aja, nambahin link prev-next post plus judulnya. Hehe. Maklum, baru pertama kali nyoba edit ginian. Pernah belajar html, tapi buat ngerjain tugas aja, ga pernah dipraktekan untuk blog sendiri hehe.

Trus, kepikiran buat download free theme aja. Hehe. Googling, nemu template ini, upload trus tinggal customize deh. Hal pertama yang saya edit, adalah header blog. Ternyata, bentuknya image. Saya jadi buka canva lagi, setelah sekian lama hehe. Cuma nulis "Better Word for Better Life" dengan background putih hehe. Ukurannya sebenarnya salah, tidak sesuai dengan template asli. Masih harus diubah kayanya, tapi harus belajar desain dan tanya-tanya ke Teh Risma atau orang lain kayanya. Baiknya gimana, biar header blog bisa bagus-nya sama, kaya contoh di default awal Tema Lucy.

Yang kedua, yang saya customize adalah serba serbi di kolom kanan. About me di kanan, saya hapus. Jujur malas, harus cari foto, atau bahkan ngedesain lagi. hehe. Lanjut mengisi link-link sosial media. Trus mengurutkan beberapa gadget lama. Searchnya dibalikin ke atas, lalu bismillah, lalu here i am, dst. Gadget label yang tadinya dikolom kanan juga saya pindah ke bawah hehe. Juga menambahkan gadget image, ambil kutipan dari fanpage Menulis Karena Allah.

Lanjut... saya mengutak-atik feeder instagram. Saya pikir, itu akan muncul kalau akun ig saya public. Setelah dilihat-lihat, sebenarnya isi instagram saya ga ada yang perlu di private. Akhirnya saya ubah setting jadi bisa dilihat siapa saja. Trus saya bingung, harus isi ig_id dan access token. Googling deh. Id gampang dapetnya. Untuk access token, lumayan step-stepnya. Tapi ga terlalu susah juga kok. Saya ngikutin tutorial dari web ini. Setelah sehari, saya coba private lagi ig-nya, ternyata feeder-nya tetep jalan hehe. Jadi akun instagram saya private lagi. Meski isinya ga private, tapi mungkin lebih nyaman seperti ini. Jangan terlalu banyak yang mem-follow dan jangan terlalu banyak nge-follow. Takutnya, saya jadi suka main di instagram lebih lama dari seharusnya hehe.

Lanjut.. saya mengedit widget di baris paling bawah. About me-nya saya isi, fotonya pakai PP twitter saya. Ah, bicara tentang twitter, saya kasihan sama twitter saya, hidup enggak, tapi kalau ditutup juga gimana hehe. List tulisan popular saya setting untuk pekan ini, karena yang di kolom kanan, saya setting all time. Bisa jadi, suatu saat saya ganti-ganti, per bulan, all time, per pekan. Karena ternyata link-link itu ngaruh ya. Hehe. Kerasa banget, betapa tampilan itu penting. Statistik berubah lumayan banyak sejak tampilannya berubah hehe.

Lanjut mengedit menu. Mudah ternyata, membuat menu yang beranak hehe.

editor gadget daftar link
***

Ada beberapa hal yang masih perlu saya lakukan, salah satunya buat desain header blog yang lebih ciamik. Trus, tiap kali nulis link, harus saya kasih underline secara manual. Karena tema ini tulisan hyperlink ga beda jauh sama tulisan biasa. Hm.. namanya juga gratisan pasti ada aja yang kurang hehe. Oh ya, ada kemungkinan saya akan ganti tampilan lagi hehe. Tapi mungkin ga dalam waktu dekat ini hehe. Perlu cari tema yang lebih clean, yang preview tiap tulisannya lebih panjang dari sekarang. Jadi pengennya di home cuma nunjukin 5 tulisan aja, tapi preview-nya lebih panjang, dua kali lipat lah dari yang sekarang.

Satu lagi, tentang related post, PR buat saya untuk memasukkan tiap tulisan ke label dengan baik. Mungkin karena hampir semua tulisan di blog ini, masuk ke label untukku, dan motivasiku, jadinya related postnya terus-menerus menampilkan tulisan terbaru hehe. Kecuali fiksi. Kalau aku buka tulisan fiksi di blog ini, related post-nya udah bener hehe. Beda sama wordpress kali ya. Kalau di blogger kan cuma ada label. Kalau di wordpress ada kategori, tag. Nah aku memperlakukan label itu seperti tag hehe. Ah, jadi kangen buka wordpress, dulu sering buka wordpress karena web tertentu yang harus saya urus kontennya. *maaf ngelantur
 
***

Terakhir, ada yang mau kasih kritik dan saran atas tampilan blog ini? Ada yang mau share tema gratis yang menurutmu cocok untuk blog ini? Atau bahkan mau beliin tema premium? Hehehe.

Bagi saya, selalu, konten itu nomer satu. Saya tahu optimisasi web (SEO,dkk), juga penampilan web itu penting. Tapi konten harus selalu nomer satu.

Jadi Bell? Mari semangat memperbaiki diri, banyak baca, belajar lagi untuk mengedit dan teknis menulis. Mari menulis konten yang baik dan bermanfaat, untuk diri, semoga juga bermanfaat untuk orang lain. Aamiin.

Wallahua'lam.

Tuesday, March 13, 2018

Formulir

March 13, 2018 0 Comments
Bismillah.
#fiksi


"Aku kayanya alergi deh sama formulir. Rasanya horror gitu kalau harus ngisi formulir kosong," ucap Zima padaku. Aku mendengus, kesal pada Zima yang terbiasa melebih-lebihkan hal yang biasa.

"Dasar Mister Hiperbol," jawabku pendek. Aku tahu, setelah ini Zima akan menceritakan lengkapnya. Mengapa ia sampai menggunakan istilah alergi, bagian mana yang horror dari mengisi formulir kosong. Ia selalu begitu, Zima yang aku kenal hampir selalu begitu. Ia hampir selalu memulai sesi diskusi kami dengan kalimat nyentrik yang menarik perhatianku.

"Kara, I'm a girl, not bapak-bapak. Jadi panggilan yang tepat itu, Miss Hiperbol, bukan mister". Kalimatnya kujawab mengerucutkan bibirku, yang seharusnya diartikan oleh Zima, bahwa sebenarnya aku tahu perbedaan penggunaan mister, atau miss.

***

Zima seorang perempuan yang percaya diri. Ia berbeda dengan teman-temanku yang lain. Saat yang lain sibuk melukis make up di wajahnya, mengoles lipstik di bibirnya, Zima memilih menjauhi itu. Ia tidak terlalu cantik, bukan masuk standar cantik zaman now, tapi ia percaya diri dan tidak minder dengan penampilannya. Entah terlalu cuek, atau memang ia merasa cukup puas dengan pakaian dan kerudung yang rapi. Kata Zima, ia sudah sering mendapat pujian cantik dari orang tua dan sanak saudaranya, itulah yang membuatnya percaya diri dan tidak perlu pujian orang lain.

Tapi Zima seorang perempuan biasa. Ada hal-hal yang menjadi titik kelemahannya, juga kekuatannya. Hal-hal yang sering kali diminta untuk dituliskan dalam formulir kosong.

"Disatu sisi, aku tahu.. maksudnya untuk pendataan. Dan pendataan itu baik. Tapi di sisi lain, aku merasa tidak perlu memberikan dataku pada siapapun jika aku merasa tidak nyaman," ucap Zima. Aku tahu sebenarnya, formulir apa yang membuat Zima mengungkapkan hal ini.

"Aku juga gitu kok Ma, kadang suka sulit dan ragu untuk mengisi formulir. Misal kolom tanggal lahir, buat apa coba mereka tahu tanggal lahirku? Kalau cuma ingin tahu angkatan, ya tinggal tanya tahun masuk kuliah, atau tahun lulus kuliah. Kalau cuma ingin tahu umur, kan tinggal tanya tahun lahir. It's not like they would celebrate my birthday, ngapain juga tanya tanggal lahir," ucapku, meyakinkan Zima, bahwa tidak hanya ia yang kadang merasa malas dan enggan mengisi formulir.

"Bukan di pertanyaan tanggal lahir Ra, ada pertanyaan lain yang membuatku malas mengisi formulir kosong. Gatau kenapa formulir kosong, selalu mengingatkanku,.." ucap Zima menggantung.

"Mengingatkanmu?" tanyaku, berharap kali ini Zima meneruskan kalimatnya.

Aku ingat beberapa diskusi yang Zima mulai namun tidak Zima akhiri. Ia terkadang terlalu sulit mengungkapkan opini, pikiran dan perasaannya. Ia lebih suka memendamnya sendiri. Sebenarnya itu tidak masalah, kalau ia tidak memberiku kalimat menggantung. Kan nyebelin, bikin penasaran karena aku tahu awal kalimatnya, namun ia tidak pernah menyelesaikan kalimatnya.

"Apa? Formulir kosong mengingatkan Zima tentang apa? siapa? Cinta pertama Zima?" ucapku ngasal, jujur geram karena Zima diam terlalu lama, entah berpikir keras atau hendak pergi dan membiarkan kalimatnya menggantung.

***

Aku menaikkan tanganku, menarik otot lengan agar tidak kaku. Tidak cukup, aku berdiri mengayunkan tanganku ke kanan dan kekiri, melemaskan otot pinggangku yang kaku. Tugasku sudah selesai, alhamdulillah.

Detik itu, sesaat setelah rasa syukur kepada Allah atas tugas yang selesai, pikiranku mengajakku mengingat sore ini, kalimat lanjutan dari Zima.

"Kara... jujur aku sendiri sudah ragu, apakah sebenarnya aku sudah belajar menerima yang seharusnya diterima dan melepas yang seharusnya dilepas. Dan formulir kosong itu, seolah mengingatkanku. Bahwa mungkin... aku hanya berpura-pura sudah menerima, berpura-pura sudah melepaskan. Buktinya... bukankah kalau sudah menerima, seharusnya mudah saja aku mengisi kolom kosong itu? Tapi mengapa aku merasa sulit? Ini perasaan apa? Antara aku dan formulir? Apa karena aku malas? Atau enggan? Atau... aku malu mengakui, malu pada fakta yang seharusnya kuisi di formulir tersebut. Malu, minder, dan ingin sembunyi saja."

Saat itu.. aku ingat, saat mengucapkannya, dengan banyak jeda, matanya berkaca. Mata Zima berkaca, namun air matanya tidak jatuh. Sebentar saja berkaca, kemudian lapisan kaca di matanya seolah menguap begitu saja.

"Ra... bolehkah aku tidak mengisi formulir itu?" tanya Zima padaku akhirnya. Saat itu aku menggeleng. Kukatakan pada Zima, jangan menghindar. Ia bahkan belum membuka formulirnya, aku tahu kertas itu pasti masih tertutup, yang Zima lihat hanya belakangnya, yang putih kosong. Kalau Zima mau memberanikan diri, membaca formulir itu, berusaha mengisinya, ia pasti tahu...

***

'kolom pertanyaan itu sudah hilang', ucap Zima dalam hati. Kemudian seulas senyumnya menghias wajah Zima.

Masih ragu, Zima memberanikan diri mengambil pena dan mulai mengisi formulir tersebut. Dari kolom pertama, nama lengkap, ia eja dengan benar namanya, Khazimatu Nur Aini.

The End.

Malu, Baru Nulis Saat Sensi

March 13, 2018 0 Comments
Bismillah.
#random #curhatsemua


Malu. Jujur malu, karena meski niatan dan bahkan brainstorming ide untuk menulis di sini sudah dilakukan. Tapi nyatanya prakteknya, bahkan membuat draft di blog ini baru satu, dan itu belum setengah jalan. Kemarin... kejadian kemarin seolah menyindirku, haruskah aku dibuat sensi dulu, biar nulis di sini? Hehe.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Tentang behind the scene, mengapa dan bagaimana proses blog saya ganti tema. Termasuk niat ikutan sabtulis, temanya tentang betapa Allah romantis, udah di buat poin-poin yang mau di sampaikan. Udah kepikiran, mau nulis di note facebook saja, kan Sabtulis bebas platform. Sampai di rumah? Ga dilaksanakan hehe, memilih ngutak-atik template blog hehe.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Tentang tulisan "Allah Maha Melihat", yang kutulis dan kuletakkan di sana. Awalnya ditujukan sebagai bentuk pengguguran kewajiban lisan, pada seseorang. Tapi setiap melihat tulisan itu, aku jadi sadar, bahwa nasihat itu, kalimat simple tapi mengena tentang Allah dan basyirah-Nya, sebenarnya lebih tepat untukku. Ya, untukku.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Nukil buku. Penjelasan dari Madarijus Salikin. Tentang pepatah 'mengenal diri mengenal tuhan', tiga jenis ta'wil/pemaknaan. Niatnya mengutip sebagian dari buku, lainnya dibahasakan ulang oleh diriku.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Tentang diri yang biasanya enggan dan super malas menyapa dulu pada siapapun yang jauh di sana. Tentang Allah yang bisa dengan mudah menggerakkan hatiku. Allah helps me to communicate better. Takjub aja, pada skenario-Nya, bagaimana lebih dari sekali, Allah ringankan jemariku, untuk mencari kontak seseorang, beberapa orang, kemudian menyapa mereka, bertanya kabar, bahkan sampai meminta bantuan pada mereka. Padahal, jujur saja, sampai sekarang, aku sering berpikir, bertanya kabar dan menjawab pertanyaan kabar itu annoying, terkesan basa basi. Tapi kalau itu diniatkan untuk silaturahim? Harusnya bisa ringan, menjawab jujur tanpa harus menutupi yang tidak harus ditutupi *nulis apa kamu bell? haha. Abstrak. Aku cuma ingin menuliskan.. terkadang, seringkali sulit untukku menjawab pertanyaan umum orang-orang, saat aku menyapa duluan. Ya, pertanyaan standar itu, menjawabnya sulit. Bukan tanya kapan, bukan pertanyaan itu. Ada lah, pertanyaan lain yang kata tanyanya, "apa", diletakkan di belakang, bukan di depan. *mau main tebak-tebakkan Bell? hehe. Maaf. Next.

Ada banyak yang mau ditulis padahal. Apa lagi ya? Yang hari ini kepikiran buat nulis juga ada. Tentang formulir, in syaa Allah nanti kutulis, fiksi. Juga tentang hari pertama GMIB dimulai, excited hehe~

***

Tulisan ini mungkin bentuk keluhan, mungkin juga bentuk brainstorming, supaya aku inget ide apa yang beberapa hari ini menumpuk dan belum direalisasikan. Tulisan ini, mungkin bentuk penyemangat untukku. Tuh, udah banyak ide yang ditulis. Tinggal praktek, mulai dari satu. Jangan dipikirkan banyaknya, atau jangan ngikut mood mulu. Mulai saja, satu, dari mengetik satu kata di judul, atau jika judul masih blank, bisa dimulai dengan bismillah. Mulai saja, seperti menulis curhatan ini. Mengalir saja, biarkan loncat-loncat. Biarkan banyak tambahan ga penting dan banyak selftalk. Seperti tulisan ini. Tidak mengapa.

Tulis dulu. J

Semangat menulis, untukku, dan untuk siapa pun di belahan bumi manapun.~


Semoga Allah memberikan kita kelurusan niat dan keberkahan dalam tulisan kita. Aamiin.

Allahua'lam.

Monday, March 12, 2018

SensiMe

March 12, 2018 0 Comments
Bismillah.
#SensiMe
"Kita yang salat buru-buru atau Allah yang enggan berlama-lama dengan kita?"
dari sebuah grup, nasihat yang nonjok ceunah.

***

Aku? Aku sensitif, sensi, sensiMe, bukan dengan orang, tapi dengan kalimat tersebut. Ingin rasanya "berteriak" dan mendebat kalimat tersebut, mencacahnya dan mengemukakan betapa tidak benarnya kalimat tersebut.

Yang buru-buru itu kita. Bukan Allah yang tak mau berlama-lama dengan kita.

Allah selalu ingin berlama-lama dengan kita, berduaan dengan kita. Ya, kita, bahkan aku, seorang hamba yang hina dina.

Allah membuka tangannya malam dan pagi, menanti taubat hamba-hambaNya. Allah menguji hambaNya dengan kesulitan, agar mereka mendekat padaNya. Allah mengambil orang-orang tersayang yang menjadi tandinganNya, agar hambaNya kembali sadar, bahwa cinta yang pertama, dan tidak boleh di duakan, adalah pada Allah, bukan manusia, bukan harta apalagi tahta.

Pernah suatu malam, tiba-tiba terbangun? Mungkin haus, mungkin perlu ke air. Tahu maksud di balik kejadian tidak biasa itu? Allah merindukan hamba-Nya berkhalwat, mendirikan dua rakaat, menengadahkan tangan dan berkeluh kesah padaNya.

Dan rasa bersalah, yang selalu menggayut tiap kali kita melakukan dosa? Itu tanda bahwa Allah ingin kita segera berlari dan memohon ampunanNya.

***

Kau tahu surat Nur? Deskripsi tentang orang yang dalam hatinya sudah tidak ada cahaya? gelap berlapis gelap? Apabila ia mengeluarkan tangannya, "hampir" tidak dapat melihatnya. Allah bisa saja mengatakan mereka yang berada dalam lapisan gelap tidak dapat lagi melihat. Namun Allah menggunakan kalimat yang maknanya hampir tidak dapat melihat.

Bahkan di situ, Allah masih memberikan harapan. Bahwa cahaya itu, bisa masuk dan menerangi hati hamba-hambaNya yang kini dalam kondisi diliputi gelap berlapis gelap.

***

Allah enggan mau berlama-lama dengan kita? Pikirkan lagi, bagian mana yang salah. Mungkin niatnya baik, dan efektif bagi sebagian orang. Tapi Allah tidak begitu. Bukan Allah yang enggan berlama-lama dengan kita, kita aku saja yang shalatnya terburu-buru.

Kau tahu apa yang Allah katakan pada laut, yang geram ingin menenggelamkan manusia? Kau tahu apa yang Allah katakan pada malaikat, yang ingin menangani manusia dan mematikannya?

"Tidak ada satu hari pun yang berlalu melainkan laut meminta izin kepada Rabbnya untuk menenggelamkan Bani Adam. Para malaikat juga meminta izin kepada-Nya untuk segera menangani dan mematikan mereka. Sementara Allah berfirman, 
'Biarkan hamba-Ku. Aku lebih tahu tentang dirinya ketika Aku menciptakannya dari tanah. Andaikan ia hamba kalian, maka urusannya terserah kalian. Karena ia hamba-Ku, maka ia berasal dari-Ku dan urusannya terserah kepada-Ku.
Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika hamba-Ku datang kepada-Ku pada malam hari, maka Aku menerimanya. Jika ia datang kepada-Ku pada siang hari, maka Aku menerimanya.
Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia berjalan kepada-Ku, maka Aku berlari-lari kecil kepadanya.

Jika ia meminta ampun kepada-Ku, maka Aku mengampuninya. Jika ia meminta maaf kepada-Ku maka Aku memaafkannya. Jika ia bertaubat kepada-Ku, maka Aku menerima taubatnya.

Siapakah yang lebih murah hati dan mulia dari-Ku, padahal Akulah yang paling murah hati dan mulia? Pada malam hari hamba-hamba-Ku menampakkan dosa-dosa besar kepada-Ku, padahal Akulah yang melindungi mereka di tempat tidurnya dan Akulah yang menjaga mereka di kasurnya.

Siapa yang menghadap kepada-Ku, maka Aku menyambutnya dari jauh. Siapa yang tidak beramal karena Aku, maka Aku memberinya lebih dari tambahan. Siapa yang berbuat dengan daya dan kekuatan-Ku, maka Aku melunakkan besi baginya. Siapa yang menginginkan seperti yang Ku-inginkan, maka Aku pun menginginkan seperti apa yang ia inginkan.

Orang-orang yang berdzikir kepada-Ku adalah mereka yang ada di dalam majlis-Ku. Orang-orang yang bersyukur kepada-Ku adalah mereka yang menginginkan tambahan dari-Ku. Orang-orang yang taat kepada-Ku adalah mereka yang mendapat kemuliaan-Ku.

Orang-orang yang durhaka kepada-Ku tidak Kubuat putus asa terhadap rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat kepada-Ku, maka Aku adalah kekasih mereka, dan jika mereka tidak mau bertaubat kepada-Ku, maka Aku adalah tabib mereka. Aku akan menguji mereka dengan musibah-musibah, agar Aku mensucikan mereka dari noda-noda'." (HR. Ahmad)
***

Coba ulangi lagi membaca kutipan yang membuatku sensi dan menulis ini.
"Kita yang salat buru-buru atau Allah yang enggan berlama-lama dengan kita?"
Kita yang buru-buru.. selesai. Allah selalu ingin berlama-lama dengan kita, kita yang buru-buru.

***

Aku tahu.. aku terlalu sensitif. Tulisan ini bentuk reaktifku terhadap kalimat tersebut. Aku... aku mungkin ga bisa buat satu kalimat, yang bisa menggerakkan hati banyak orang untuk shalat tidak buru-buru. Tapi.. aku.. izinkan aku bersensiMe, di sini. Mengemukakan kesensitifanku. Bahwa bukan Allah yang tidak ingin berlama-lama dengan kita. Sungguh... Maha Suci Allah atas prasangka kita, yang seringkali jauh nama dan sifat-sifat mulia Allah.

***

Terakhir..izinkan kuakhiri tulisan ini dengan doa kafaratul majlis. Pasti banyak salah. Maaf. Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wallahua'lam bishowab.

***

PS: Hadits disalin dari buku Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Madarijus Salikin. Maaf kalau ada typo atau kesalahan penyalinan.

Friday, March 9, 2018

Butuh Temen Baca?

March 09, 2018 0 Comments
Bismillah.

Kyaa~ itu yang saya rasakan saat baca pesan di line dari channel RDK (Ramadhan di Kampus), semacam channel line-nya P3R versi UGM hehe. Rasanya baru kemarin saya curcol di sini, tentang kebutuhan komunitas baca (meski tulisan curcolnya sudah balik ke draft). Allah baik banget, dijawab saja doa yang kutulis malam itu.



Namanya GMIB (Gerakan Membaca untuk Indonesia Berkeilmuan). Berat ya namanya? Hehe. Jadi ada yang berniat gabung karena butuh komunitas dan teman baca bisa daftar, nantinya ada grup gitu, setiap hari laporan sudah baca berapa lembar hehe. Minimal 25 lembar sih di ketentuan ehm. Sebenarnya, angka itu masih terlalu tinggi buatku hehe. Tapi gapapa, namanya juga gerakan, coba daftar dulu aja hehe.Yang tertarik daftar bisa kirim pesan melalui link berikut:  Putra : ugm.id/daftarGMIBputra | Putri : ugm.id/daftarGMIBputri 
 
Selain sebagai tempat untuk laporan progres membaca individu, ada juga diskusi, sharing buku, dan kajian keilmuaan. Oh ya, meski gerakan ini dicetuskan oleh RDK, yang panitianya mayoritas anak UGM, gerakan membaca ini terbuka untuk umum hehe. Ini info langsung dari panitia. Kemarin waktu saya mendaftar, saya agak ragu gimana gitu, hehe. Jadi tanya deh.. dan ternyata memang untuk umum. Selain itu saya juga tanya tentang jumlah halaman yang harus dibaca setiap harinya, bagaimana kalau belum bisa 25 halaman per hari? Jawabannya bikin tenang hehe. Gapapa ceunah, nanti pelan-pelan ditingkatin hehe. 
 
***
 
Jujur rasanya agak gimana gitu.. bagaimana Allah mengantarkan jawaban kegelisahanku *bahasanya lebay hehe. Ya, aku butuh komunitas baca, dan bingung, mau jadi inisiator, asa gimana. Ternyata.. Allah nitipin jawaban doaku, lewat akun line RDK (Ramadhan di Kampus UGM) yang sudah aku follow lumayan lama, beberapa tahun yang lalu. Ajaib ya? Hehe. Romantis gimana gitu, Allahuakbar (: Allah kan pasti tahu, bahwa suatu saat, aku bakal butuh komunitas baca, setelah aku berusaha menekuni lagi hobi yang pernah hilang. Allah juga pasti tahu, kalau RDK di tahun 2018 akan ngadain program GMIB. Jadi somehow, someway, Allah beberapa tahun yang lalu menggerakkan hatiku untuk follow akun line RDK. Meski saat itu, akun tersebut insignificant for me.
 
Kadang ketidaktahuan kita membuat kita khawatir. Tapi tak jarang, ketidaktahuan kita menjadi hal manis, saat Allah membuka sedikit demi sedikit rencanaNya untuk kita ((:
 
Kalau kata ustadz Salim A. Fillah, akan ada masa kita merasa hikmah dari sebuah peristiwa tidak bisa kita lihat dengan indera mata kita. Saat itu.. mari belajar seperti seorang buta, yang masih bisa mengetahui keberadaan matahari, meski tidak bisa melihat sinarnya, melainkan dengan merasakan kehangatannya. (:



Wallahua'lam.

Thursday, March 8, 2018

You're Beautiful

March 08, 2018 0 Comments
Bismillah.



Perempuan kali ya, perlu diyakinkan berkali-kali, kalau ia cantik, cantik cantik (:

Ada yang bilang, salah satu penyebab perempuan rela berada di ketidakjelasan illegitimate relationship, salah satunya, mungkin karena keinginan untuk dihargai, disayangi dan dipuji.

***

Nowadays, I actually felt strange when my mother ask me the 'same' questions, like is she beautiful? Or, is she getting too fat?

Aku tipe yang bisa dengan mudah nge gombal, tapi kadang terlalu cuek untuk mempedulikan pertanyaan seperti itu. hehe.

Jadilah terkadang aku cuma diam, atau menjawab singkat, cantik, ga gendut kok.

Atau kalau lagi mood nge gombal, jawabanku bikin geli sendiri dengernya hehe. Seperti suatu pagi, saat aku dan ibuku, memutuskan untuk ngejus jeruk oranye yang ternyata kurang manis. Aku saat itu berkata, yang intinya, warnanya cantik banget, oranye seger gitu. Jangan tanya rasanya, hehehe. *ups maaf kalau yang baca lagi shaum hehe.

Ibuku menimpali, "kaya mamah ya cantiknya?"

Aku saat itu jeda sebentar, mencoba memilih reaksi. Mau mengabaikan, mau jawab ya pendek, atau...?

Kujawab, "ga lah, masa sama cantik sama warna jeruk. Mamah jauh lebih cantik dari warna jus jeruk"

***

Ada yang pernah bilang, kalau perempuan seringnya gitu. Sering meragu, perlu sering-sering diyakinkan. Entah itu tentang ia yang cantik apa adanya. Atau tentang rasa sayang kita kepadanya.

Perempuan... atau mungkin general, manusia, memang mudah untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Seringkali hasil perbandingan tersebut membuat kita merasa kerdil, minder, dan perasaan negatif lainnya. Ga selalu sih, kalau kita tahu kemana harus membandingkan, harusnya perbandingan bisa membuat kita banyak bersyukur juga.

***

Aku juga perempuan. Jadi kadang, tanpa sadar, sering tersenyum dan moodnya jadi baik kalau misal ada yang memuji cantik, atau bahkan menyangka saya anak sekolah.

Tapi sebagai perempuan, muslimah.. harus tahu, kapan kalimat pujian tersebut kita terima dengan ringan. Kapan kalimat pujian tersebut harus kita tolak, karena bisa jadi menjadi racun bagi diri kita.

Harus sering mengingatkan diri lagi. We don't have to looked beautiful in the eyes of people. Fokusnya harus dibalikin lagi, bagaimana kita 'cantik' di mata Allah.

***

Untuk sesama muslimah, jangan ragu untuk memuji saudarimu, apalagi ibumu, kalau mereka cantik, mereka cantik apa adanya, bahkan tanpa make up, dan tanpa editan foto. hehe.

Semoga dengan pujian tulus kita, setiap muslimah jadi tidak mencari-cari kalimat tersebut dari orang yang salah.

Terakhir... mari bersyukur, pada Allah yang telah menciptakan kita dalam keadaan terbaik. ^^

خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ
Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu). (QS Ath Thaghabun ayat 3)

Wallahua'lam.

Saturday, March 3, 2018

Benarkah Membaca Memudahkan Kita dalam Menulis?

March 03, 2018 0 Comments
Bismillah.

Judulnya, termasuk pertanyaan retoratif kah? Bagi saya, ya, pertanyaan retoratif. Jawabannya satu. Ya.

Buktinya? Apa dasarnya? 


Pertama, membaca menambah pengetahuan. Menulis membutuhkan pengetahuan, selain pengalaman dan imajinasi.

Kedua, membaca membuahkan ide. Semacam pemantik, semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak ide yang bisa dipetik.

Ketiga, membaca menambah kosakata dan diksi yang kita miliki. Ga percaya? Hehe. Lihat saja, orang biologi yang tanpa sadar banyak menggunakan istilah biologi meski yang ditulisnya adalah pengalaman sehari-hari. Atau orang yang terjun di bisnis, akan banyak istilah bisnis yang keluar dari lisan dan tulisannya, meski ia tidak bermaksud ingin menggunakannya. Karena banyak baca, jadi tanpa sadar dipakai saja.

Keempat,... apa lagi ya? hehe.

***

Beberapa bulan terakhir, saya memaksa diri saya memulai lagi membaca. Meski saya termasuk yang sangat lambat, satu buku tipis baru selesai beberapa pekan,bahkan bisa lebih dari sebulan. Saya merasakan efeknya, dalam tulisan saya.

Setiap nulis apa gitu di sini, bawaannya pengen ngasih tahu kutipan dari buku yang saya baca.

Kalau saya sudah baca beberapa halaman dari sebuah buku, keinginan untuk menuangkan ke sini begitu besar. Hehe.

Pengennya sih, foto aja paragraf tertentu dan post di sini. Selesai. Tapi kan, ga bisa gitu aja. Ada tambahan yang ingin saya sampaikan juga. Tapi ga banyak sih.

***

Oh ya, selain buku, banyak baca tulisan yang bagus di blog/web juga banyak bantu untuk memudahkan kita menulis.

Saya rutin buka medium, follow beberapa channel bagus, baca dari daftar bacaan di blogger, juga catet blog orang yang melintas di sosmed (ig, wa, line, fb). Memang sih kesannya banyak informasi, tapi yang penting di taruh dulu linknya di tempat tertentu, jangan dibaca saat itu juga. Kalau memang Allah takdirkan kita baca, in syaa Allah dibaca. hehe.

Sulit memang produktif membaca infomasi yang berkualitas, di zaman sekarang, dimana hoax jadi viral, plus berita kehidupan privat orang-orang lain, yang sebenernya ga perlu dibaca berseliweran di timeline hehe.

Tapi in syaa Allah bisa kok. Harus banyak usaha, dan belajar scanning, jangan ragu unfollow, matikan notif dari grup tertentu, dll.

Tidak mudah, tapi bisa in syaa Allah. Semoga waktu kita tidak banyak dimakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Banyakin doa, banyakin usaha, lalu tawakkal.

Semangat membaca dan semangat menulis ~

Wallahua'lam.

Thursday, March 1, 2018

Dari Blog Magic of Rain

March 01, 2018 0 Comments

Bismillah. Membaca banyak tulisan di sana. Menyicip lagi ribuan perasaan yang pernah aku tumpahkan di sana. Hingga terhenti di kumpulan kata bak puisi tersebut. Tiba-tiba hatiku tergerak untuk memindahkannya di sini.

Saat itu. Entah apa yang membuatku berkaca kuadrat. Namun semoga, hatiku selalu peka, akan setiap nikmat dariNya. Semoga setiap hari, rasa syukur mekar di hati, kemudian berbuah dalam lisan dan perbuatan.

Allahumma a-inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik. Aamiin.

Wallahua'lam.

Suara Angin dan Terang Bulan

March 01, 2018 0 Comments
-Muhasabah Diri-
Bismillah.

SUARA ANGIN

It's really been a long time since I pay attention on the sound of the wind. 

Suatu hari, di sebuah tempat. Karena satu hal, aku selalu terkecoh, seolah angin yang melewati dedaunan pohon, menimbulkan suara gemiricik. Aku selalu mengira itu suara air yang mengalir. Setiap mendengarnya, aku dibuat bolak-balik untuk mengecek barangkali ada air yang mengalir, entah dari keran yang lupa di tutup, atau dari pipa ledeng yang pernah rusak. Dan selalu salah, bukan suara air.

Sampai suatu waktu, aku sadar.. bahwa itu suara sepoi angin lembut yang menyapa dedaunan. Ah, jadi ingat judul sebuah buku, tentang daun yang tidak menyalahkan angin. Juga teringat sebuah kutipan di buku berbeda, kalau bahasa langit pada bumi adalah hujan, maka bahasa daun kepada angin adalah pasrah[*].

TERANG BULAN


It's a long time I haven't look on the dazzling light of the moon. Especially since nowadays most of the night here filled with the rain drops.

Sampai suatu malam, aku duduk di belakang adikku. Adikku fokus mengemudi motor, aku asik memandangi langit malam yang berawan abu pekat, namun disela-selanya terlihat pancaran sinar bulan. Begitu terang, sampai kukira malam itu bulan penuh, masuk hari putih.

Aku berkata, pada adikku, sudah tgl 13 kah? Adikku menjawab, mungkin besok. Belum penuh bulannya. Aku refleks menengadahkan kepalaku, awan abu pekat sudah berjalan kesisi yang lain, kini aku melihat bentuk bangkok bulan dengan sinar yang terang tersebut.

***



Pemandangan sederhana memang. Suara yang sederhana memang. Tapi suara angin yang bergemerisik tersebut, yang mirip suara air mengalir tersebut, somehow, in someway, makes my heart feel content.

Pemandangan sederhana memang. Sinarnya pun tidak semenyilaukan matahari. Tapi bulan yang hampir penuh tersebut, membuatku tersenyum, mood-ku bahkan terus terbawa perasaan unik dari memandang cahaya bulan. Apalagi saat aku teringat. Bahwa setelah bulan ini, ada bulan Rajab, ada bulan Sya'ban, ada bulan apa??

Rindu itu makin mengufuk saja. Menjelma menjadi doa, semoga Allah mengizinkan kita bertemu lagi dengan 30 hari, perayaan turunnya mu'jizat sepanjang zaman, Al Quranul Karim. Bulan Ramadhan~

***

Aku tidak tahu orang lain, tapi aku tahu dan paham aku begitu senang menikmati dan memandangi alam. Seperti sebuah pohon kecil di dekat rel yang setiap hari aku lewati. Bunganya berwarna pink magenta, daunnya hanya beberapa helai, seolah seperti bunga sakura, yang setiap rantingnya bunga. Pohonnya kecil, pendek, seperti bonsai.

Aku tidak tahu orang lain, tapi aku tahu dan paham aku begitu senang menikmati dan memandangi alam. Seperti kebiasaan memandangi langit hampir setiap saat pergi dari dan pulang ke rumah. Betapa setiap hari bahkan mungkin setiap perubahan detik dan menit berubah, tidak pernah tidak, sebuah seni yang tidak bisa cukup ditangkap oleh foto, atau lukisan.

Traveling itu, perlu, ingin juga. Tapi kalau kita mau sedikit lebih peka. Sedikit lebih mau mendekat dan mengobservasi sekitar. Bahkan seuntai rumput yang menyeruak diantara paving block, bisa jadi pengingat yang indah bagi kita. Betapa ia tumbuh, dicabut, akan tumbuh lagi. Dan setiap yang tumbuh dari matinya, seharusnya mengingatkan kita akan hari kebangkitan. Sudahkah kita mempersiapkan diri?

Allahua'lam

***

Keterangan:

[*] dari buku Mahasiswa-Mahasiswa Penghafal Quran, tulisan M. Zainul Abidin. Kutipan lengkapnya:
"Dunia adalah kumpulan bahasa-bahasa. Bahasa langit pada bumi adalah hujan. Bahasa bunga pada semesta adalah wangi. Bahasa daun terhadap angin adalah pasrah. Begitu juga dengan kita sebagai hamba yang berbahasa dengan penciptanya melalui syukur, yaitu syukur dengan menghafal kalam suci-Nya."