Follow Me

Friday, April 24, 2020

Quran Jurnal

April 24, 2020 0 Comments
Bismillah.

#quranjurnal

Marhaban ya Ramadhan. Alhamdulillah, alhamdulillah, masih diberi kesempatan menyicip manisnya bulan Quran.

Seperti tahun kemarin, tahun ini saya juga akan repost tulisan ramadhan tahun lalu dari facebook khusus ramadhanku. Dan tulisan ini semacam prolognya.

Tahun lalu, aku pertama kenalan sama quran journal. Jadi quran jurnal ini semacam salah satu bentuk aktivitas agar membaca quran bukan cuma lafalnya saja, tapi ada belajar tafsir/maknanya, tadabbur atau ambil refleksi dari ayat tertentu, juga membuat doa dari ayat tertentu.




Dari 30 day challange, cuma bisa nyelesaiin 8, trus 2 lagi tambahan di bulan syawal dan rajab. Sempat ikutan QJ Challange yang Hajj juga, di blog ini.


Sebenarnya ini penting banget sih. Cuma harus telaten. Karena prosesnya bukan cuma nulis, tapi harus baca/nyimak penjelasan ayatnya dulu.

Rajab-Ramadhan ini ada QJ Challange juga sebenarnya, cuma aku ga ikutan. Ramadhan ini juga, ada rencana produktif nulis tapi bukan dengan ikutan challange QJ. Yang ini harusnya di hide aja ya hehe.

***

Selamat menjalani hari-hari di bulan Ramadhan. Semoga rencana dan target dapat terlaksana. Aamiin.


Wednesday, April 22, 2020

Bikin Animasi di Canva

April 22, 2020 0 Comments
Bismillah.

#curcol #gakpenting

Mau curcol aja hehe. Jadi karena tadi nyalin catetan kajian dari buku hijau kecil, jadi nyalin puisi yang kutulis di bagian belakang. Awalnya nyalin ke blog magicofrain. Done.


Trus gatau kenapa pengen post ke ig. Akhirnya buka canva, ada pilihan desain animated, untuk buat gif gitu. Pilih deh salah satu template, edit edit... Pilih foto rumah, karena niatnya puisi itu untuk yg ga mudik, atau yang nungguin anak/cucu mudik tapi ternyata batal.

Selesai, download, 18 detik, 3 slide, tapi yang terakhir sebentar banget. Pengen save as jpg/png. Tapi lagi "belum bisa" pegang laptop.

Mau upload di ig betterword_kirei, tapi. Kaya merusak tampilan keseluruhan, harus post 3 sekaligus kayanya. Akhirnya publish di ig pribadi.

Trus... Seasonal extrovertku belum puas. Jadi deh nulis di sini. Curhat ga penting hehe.

Upload di blog ini via browser chrome di hp, trus nyadar kl ada dua file. Dari canva sm ig. Warnanya berubah. Hmm..


Versi canva

Days Before Ramadhan

April 22, 2020 0 Comments
Bismillah.



Ahad, 6 Mei 2018 |@Acara ODOJ, Masjid Istiqlal | Ustadz Oemar Mita

***

Bulan Ramadhan adalah prime time untuk memohon ampun.

Waktu atau timing itu berpengaruh. Berbeda, orang yang istighfar jam 1 siang dan orang yang istighfar jam 1 malam.

Ramadhan, secara bahasa, saat matahari terik. Allah membakar kemaksiatan.

Bulan Ramadhan, pahala amalan dilipat gandakan.

Biasanya pahala suatu amal itu detail di luar bulan Ramadhan.

Tapi... saking besarnya pahala amal di bulan Ramadhan, Allah tidak mendetailkannya.

4 hal yang harus dipersiapkan sebelum Ramadhan:

❤️ Cek iman kita

Pastikan bebas dari kesyirikan dan kemunafikan.

Karena Ramadhan bukan hanya tentang fiqh, namun juga tentang tauhid dan akidah.

Semoga hati kita ga terjangkit kemunafikan TT

❤️ Memperbanyak istighfar dan taubat

❤️ Memperbanyak doa

❤️ Quran - perbanyak interaksi

***

Catatan kajian 2 tahun yang lalu, sebelum Ramadhan. Seadanya, banyak kurangnya.

Allahua'lam.

Jiwa yang Merindu

April 22, 2020 0 Comments
Bismillah.


Seseorang menuliskan, bahwa ia rindu, tapi tidak tahu pada siapa. Membaca kalimatnya membuatku teringat sebuah kutipan dari buku biografi Umar bin Abdul Aziz, di Bab Terakhir, dengan sub-heading bertajuk "Jiwa yang Merindu".

***

Ia (Umar bin Abdul Aziz) berkata,

"Sungguh, aku memiliki jiwa yang mencintai kerinduan. Tiap kali mencintai sesuatu, aku akan merindukan sesuatu yang di atasnya lagi, dan sungguh Allah subhanahu wata'ala telah Melihatku sedangkan aku di Madinah waktu itu sebagai seorang pemuda di antara para pemuda lain. Lalu jiwaku merindukan ilmu dunia Arab maka aku pun memenuhi keperluanku. Kemudian jiwaku merindukan Fathimah binti 'Abdul Malik maka aku memperistrinya. Selain itu, ketika aku merindukan kepemimpinan maka aku berhasil menguasai dunia dan merindukan kekhilafahan yang tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi daripadanya. Akhirnya, jiwaku pun merindukan apa yang di hadapan Allah di akhirat."

***

Kerinduan yang memenuhi jiwa Umar rahimahullah melahirkan amal, sehingga Allah memberikan padanya penawar rindu tersebut. Kemudian ia memenuhi jiwanya lagi dengan kerinduan lain yang lebih tinggi. Lagi, dan lagi. Sampai akhirnya ia menemukan kerinduan terakhir yang mengisi tiap relung jiwanya. Kerinduan akan akhirat, rindu pada apa yang di hadapan Allah di akhirat. Dan yang terakhir ini, juga terlahir dalam amal, kemudian Allah memberikan penawarnya, lagi. Sebuah kematian, penawar yang pahit, tapi ampuh. Karena kematian adalah gerbang menuju kehidupan yang hakiki.

Lalu aku bertanya-tanya. Bagaimana dengan kita? Kerinduan terhadap apa yang ada di jiwa kita? Bisa jadi kita juga merindukan kedekatan dengan Allah, jiwa kita terlahir dalam fitrah, merindukan Rabbnya. Adakah kita abai pada rasa rindu tersebut? Meletakkannya di laci paling bawah, tertutup dan terkubur oleh tumpukan-tumpukan rindu lain yang nilainya maya dan semu.

Lalu aku menulis ini, seolah ingin menjawab kalimatnya, namun bukan untuk dibaca orang lain. Kutulis ini, sebagai pengingat diri, agar tidak lupa, ada kerinduan yang harus kita pupuk, yang penawarnya akan pasti hadir. Lebih pasti dari kehidupan itu sendiri.

Aku menulis ini, untuk mengingatkan diri. Bahwa benar, kita boleh merindukan siapa pun, atau apapun, itu manusiawi. Seperti Umar yang rindu pada ilmu dunia Arab, juga fathimah binti Abdul Malik, juga kekhilafahan. Kamu pun boleh rindu. Tapi jadikan rindu itu merekah dalam amal dan doa, agar diberikan penawarnya oleh Allah, kemudian... Semoga di "akhir cerita" jiwa kita dipenuhi kerinduan padaNya, pada akhirat, pada apa yang di hadapan Allah di akhirat, dan kita menghadap padaNya dalam keadaan terbaik. Aamiin.

Allahua'lam.

Bertemu (Lagi)

April 22, 2020 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

Aku harap aku bertemu lagi, dengan Ramadhan.

Dua tahun yang lalu sebelum Ramadhan aku mencatat sebuah kajian, dijelaskan pentingnya timing. Bahwa istighfar pada jam 1 siang berbeda dengan istighfar jam 1 malam. Begitupun doa di bulan ini, berbeda dengan doa di bulan Ramadhan.

***

Aku mengatakan aku ingin bertemu lagi, dengan Ramadhan.

Aku ucapkan aku sedang mempersiapkan diri. Tapi apa yang penting bukan pada suara atau tulisan. Apa kabar amal dan laku diri? Sudahkah benar-benar bersiap untuk bertemu?

Kau tahu? Orang yang banyak menulis, dan melantunkan bait-bait sajak, rawan untuk jatuh di lembah dusta.

Kau? Bukan yang termasuk di dalamnya kan?

Saturday, April 11, 2020

Another Nukil Buku

April 11, 2020 0 Comments
Bismillah.

#nukilbuku #buku

Nukil Buku "Umar bin Abdul Aziz" - 'Abdul 'Aziz Sayyid Al-Ahli

***

dari bukalapak

Buku terbitan Samara bersampul biru ini kutemukan di lemari kaca, entah siapa yang beli, kemungkinan adik/kakak. Meski belum selesai dibaca, saya ingin berbagi beberapa kutipan dari buku ini.

Wasiat Sang Ayah

Saat hendak "pulang" menemui Rabbnya, 'Abdul 'Aziz mengumpulkan anak-anaknya (salah satunya Umar bin Abdul Aziz) untuk berwasiat.
"Betakwalah kamu kepada Allah, dan aturlah masalah keuanganmu dengan baik. Karena sesungguhnya tidak ada harta bagi orang yang tidak mengatur keuangannya dengan baik. Bergaullah dengan lemah lembut. Karena orang yang tidak lemar lembut pasti tidak akan bisa hidup. Perangilah hawa nafsu syahwatmu. Karena sesungguhnya orang yang tidak bisa mengalahkan hawa nafsunya adalah orang yang tidak berakal."
Kutipan pertama ini saya ambil karena story telling-nya kuat, membuatku membayangkan bagaimana perasaan pendengar, bagaimana saat mendengar ayah berwasiat. Pesan pertamanya, bertakwalah kepada Allah. Pesan yang paling penting. Mengingatkanku pada wasiat yang dicatat Allah dalam Al Quran. Bahwa wasiat itu... ga kaya di film/sinetron, bukan tentang pembagian harta, tapi yang penting dan harus disampaikan adalah tentang tauhid, perintah untuk tidak menyekutukan Allah, perintah takwa.

Padahal Prasangka...

Ini bukan perkataan Umar, atau orang yang hidup di sekitarnya. Ini tulisan penulis biografinya. Aku lupa persisnya dimana kalimat ini ditulis. Tapi topik prasangka dan isi kalimat ini mendorongku menyalinnya.

"Padahal prasangka itu lebih menyakitkan daripada tusukan, lebih jelek daripada semua akibat dan cacian yang paling keji."

Kalimat tersebut seolah merangkum perasaanku tentang prasangka. Betapa kita harus berhati-hati dalam berprasangka. Dan bagaimana prasangka orang lain bisa melukai kita, sama seperti prasangka kita bisa melukai orang lain. Keinget pesan cinta-Nya, agar menjauhi kebanyakan prasangka.

Khutbah Setelah Dibaiat Menjadi Khalifah

"...Aku berwasiat agar kalian bertakwa kepada Allah. Karena sesungguhnya takwa kepada Allah adalah ganti segala sesuatu, dan tidaklah ada keterbelakangan dari takwa kepada Allah. Beramallah kalian untuk akhiratnya, niscaya Allah akan mencukupkan urusan dunianya. Berbuat baiklah kalian dalam kesendirian, niscaya Allah Yang Mahamulia akan memperbaiki urusan terang-terangan kalian. Perbanyaklah mengingat mati. Persiapkanlah bekal untuknya sebelum kematian menghampiri kalian...."
Khutbah... ada yang kangen dengerin khutbah ga? Aku yang ga ikut jumatan aja, kangen.. apalagi yang tiap pekan bener-bener nyiapin diri untuk shalat jumat dan dengerin khutbah.

Kita mungkin sering banget denger khutbah yang mengingatkan kita untuk bertakwa. ittaqillah. Kadang disampaikan dalam bahasa arab, jadi ga selalu nyampe pesannya, terutama untuk aku yang masih belum bisa bahasa arab. Baca teks khutbah, kemungkinan pasti ga tahan... tapi feel-nya beda, kalau baca isi khutbah dalam sebuah cerita. Apalagi ini bukan khutbah biasa, tapi khutbah setelah Umar bin Abdul Aziz dibaiat menjadi khalifah. Betapa berat amanah itu... semua orang menunggu untuk menyimak. Aku, yang membaca pun, seolah ikut menunggu. Dan khutbah itu, pengingat takwa (lagi) dan lagi, menjadi terasa berbeda.

Kalau cuma baca dari blog ini, tentu beda rasanya. Disarankan baca langsung dari bukunya! ^^

***

Sekian nukil buku kali ini, semoga apa yang dibaca masuk ke hati dan diwujudkan dalam amal. Semoga membaca biografi orang-orang shalih bisa membuat kita sadar, kemana kita harus mengambil teladan, saat sekarang, ribuat informasi membuat kita kehilangan fokus karena terlalu banyak membaca stories orang-orang ketimbang stories orang-orang shalih terdahulu. Bukankah doa kita begitu? Ingin diberi petunjuk jalan yang lurus, seperti jalan orang-orang yang telah diberi nikmat?

Allahua'lam. 


empat kutipan pertama yang disalin dari buku Umar bin Abdul Aziz

Thursday, April 9, 2020

The Girl Across My Room

April 09, 2020 0 Comments
Bismillah.


Aku mengenalnya, saat pindah kamar ke lantai 1. Kamarnya berada tepat di sebrang kamarku. Hanya terpisah jalan kecil selebar pintu kosan, satu meter mungkin.

Aku tidak banyak mengingat identitasnya, yang aku tahu ia mahasiswi tingkat 3, jurusan atau fakultasnya aku lupa, namanya juga lupa. Meski banyak tidak ingat, aku ingin menuliskan tentangnya.

Ia tipe yang suka belanja online. Aku saat itu lebih sering di kamar kosan, dan letak kamarku yang di lantai satu, persis dekat pintu, membuatku sering bertemu pengantar paket. Satu pekan bisa sampai dua paket untuknya. Biasanya setelah memberikan tanda terima, paket tersebut aku letakkan di atas kulkas, di sana semacam kotak surat kosan kami.

Pernah suatu hari, aku hendak mengambil minuman di kulkas dan sebuah post card dengan tulisan asing menarik mataku. Aku tidak membaca keseluruhan isinya, tapi aku sempat melihat nama penerimanya, dan diperuntukkan untuk penghuni depan kamarku. Sepertinya dari temannya yang kuliah di luar negri, jepang kalau tidak salah lihat.

Hal pertama yang kuingat tentangnya sebenarnya bukan tentang paket. Tapi suara khas alarm shubuhnya. Suaranya begitu keras dan berulang, sampai tanpa sadar aku menghafalnya. Kami pernah bertukar canda tentang ini, saat sahur bersama di bulan Ramadhan. Ibu kosan sering berbaik hati memberi kami sahur gratis. Terutama saat pertengahan dan akhir ramadhan saat penghuni kosan banyak yang sudah pulang. Anak-anak di lantai 3 juga dipanggil agar turun dan ikut sahur di lantai 1.

Berbeda dengan kamarku, yang hampir selalu tertutup. Kalau ia di kosan, ia sering membuka pintu kamarnya. Mungkin agar sirkulasi udaranya lebih baik. Atau mungkin, itu menggambarkan kondisi kepribadiannya yang terbuka. Kamarnya rapi dan bersih. Pernah aku berkunjung dan duduk di kamarnya, satu atau dua jam saat mendengarkan wejangan dari bapak kos. Aku ingat, pekan itu pekan UTS, jam sudah makin malam, bapak kos terlihat masih bersemangat bicara tentang banyak hal. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menghentikan sesi ceramah malam itu. Aku memang sudah tidak ada UTS, tapi berbeda dengannya. Aku bisa membayangkan ia mungkin seharusnya sudah membaca beberapa ppt untuk UTS esok hari.

***

Saat hendak menulis tulisan seri tentang orang lain, aku memikirkan beberapa orang. Alasanku bercerita tentangnya, adalah karena ada satu percakapan dengannya yang membuatku menyadari hal penting. Tadinya momen tersebut hendak kujadikan tulisan fiksi.

Ia bertanya padaku, "Teteh S2? Atau...?" Semacam itu. Aku lupa redaksi persisnya. Saat itu kondisiku sudah membaik, aku bisa menjawab dengan tenang pertanyaan tersebut. Aku menggeleng dan memberitahukan status studiku. Ia hanya ber-oh ria.

Percakapan singkat yang membuatku sadar. Sebelumnya, aku pernah terjebak pada ketakutanku sendiri, akan pandangan orang lain. Karena saat itu aku belum lulus, padahal teman-teman seangkatanku sudah mulai kerja. Saat itu aku takut pada prasangka orang lain tentangku. Otakku terus mengundang ribuan prasangka buruk. Tapi kalimat itu, yang mengalir dari bibirnya yang tersenyum membuatku sadar. Bahwa Allah begitu mencintai hambaNya. Bahwa Allah menghias begitu indah rupa dan image-ku di mata orang-orang. Padahal aku hanya seorang hamba yang hina dan bersalah. 

Kalimatnya, membuatku menyadari, bahwa apa yang dilihat orang lain padaku, bisa jadi selalu lebih baik daripada kenyataan diriku. Karena mereka tidak tahu apa apa tentang sisi gelap bulan yang Allah tutupi dengan indah.

***

Mahasiswi itu... aku mungkin tidak mengenal banyak tentangnya. Tapi menuliskan ini membuatku ingin berdoa untuknya. Semoga hati dan pikirannya selalu dihiasi dengan prasangka baik pada orang lain, dan juga terutama pada Allah. Semoga ia tidak pernah terjebak dalam ruwetnya overthinking. Semoga ia tahu, bahwa setiap ia memiliki kesalahan, selalu ada jalan untuk memperbaikinya. Ia cuma perlu bertaubat, kembali padaNya, dan bertanya dalam doa-doa kecil, kemana ia harus melangkah agar bisa menjadi lebih baik. Semoga harinya selalu dinaungi keberkahan dariNya. Aamiin.

Allahua'lam.



Monday, April 6, 2020

Bercerita Tentang Orang Lain

April 06, 2020 0 Comments
Bismillah.

Tiga bulan pertama tahun 2020 blog ini ramping, cuma keisi beberapa tulisan. Jadi, rencananya april ini mau banyak diisi. Diisi apa ya? Yang paling mudah sebenarnya menulis tentang diri. Tentang kisah hari. Tapi kayanya bagian itu jatahnya diary.

Lalu aku kepikiran untuk bercerita tentang orang lain, orang-orang yang pernah/masih hadir dalam hidupku. Selain keluarga. Itu masih terkait diri, tapi ga semua tentang diri. Bagaimanapun saat kita menulis tentang orang lain, kita biasanya memakai sudut pandang yang subjektif, memori yang kita ingat tentangnya, mungkin berbeda dengan memori yang ia ingat tentang kita.

***

Aku akan memulainya lewat seseorang yang kukenali lewat tulisan. Blognya akhir-akhir ini sering diisi. Dan salah satu tulisan terakhirnya membuatku ingin bersuara.

Jadi, ia menuliskan tentang keinginannya menemukan teman hidup, tempat ia bercerita tentang hal-hal yang belum pernah ia kemukakan pada orang lain. Tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, aktivitas yang ia ingin lakukan, visi hidupnya, pandangan hidupnya, dan banyak hal-hal lain. Tapi ia khawatir....

Satu hal yang saya khawatirkan adalah bahwa saya tidak menemukan teman hidup berbagi, berbagi tentang apa yang selama ini tidak pernah saya bagi pada orang lain, tentang trauma masa lalu, dan tentang masa depan dan nilai hidup yang ingin saya bangun.

Membaca tulisannya membuatku ingin bersuara dan memberi saran. Bahwa kekhawatiran itu ada karena ia menunggu orang lain, yang nama, rupa dan keberadaannya tidak ia ketahui. Yang kapan dan dimana mereka akan bertemu juga tidak diketahui. Itu yang pertama.

Kedua, apakah ia nanti bisa benar-benar berbagi semuanya, seperti yang ia inginkan? Atau akan ada proses menunggu lagi, karena tidak mudah membuka diri dan bercerita tentang semua, pasti ada step-stepnya, waktu adaptasi, dll.

Ketimbang menunggu sesuatu yang tidak pasti, dan khawatir sendiri, aku ingin memberinya saran mulai bercerita saja. Lewat tulisan. Ia bisa membuat surat dan bercerita tentang hal tersebut. Nanti, jika ia menemukan teman hidupnya, ia bisa menyerahkan surat tersebut satu per satu.

Karena bagiku, menyimpan semuanya sendiri itu tidak baik. Manusia membutuhkan ruang untuk bercerita. Kalau ia tidak bisa, atau tidak mau bercerita pada sembarang orang, ia harus bisa bercerita pada lembaran kertas, dan file-file dokumen. Dengan begitu kepalanya tidak akan cepat berat, dan dadanya akan lebih lapang. Karena hal-hal yang disimpan sendiri, akan mengendap dan bisa menjadi 'penyakit'.

***

Tapi tahukah? Sebelum sempat aku menuliskan saranku, sebelum kuberanikan diriku untuk bersuara, ia menulis sebuah postingan lagi di blognya. Sebuah tulisan yang membuatku tersenyum lega. Tenyata ia tidak semata-mata bergantung pada datangnya teman hidup seperti kondisi ideal yang ia inginkan. Ia menuliskannya... tentang trauma masa lalunya, tentang perasaannya saat itu dan perasaannya sekarang.

Pasti tidak mudah. Tapi ia menuliskannya. Dan aku bersyukur bisa membacanya dalam diam.

Mendaftar 1m1c Lagi?

April 06, 2020 0 Comments
Bismillah.

Aku membacanya saat salah satu admin 1m1c mengumumkan akan meng-kick beberapa member sekaligus. Aku sempat bertanya-tanya, sudah berapa lama aku tidak submit tulisan di 1m1c? Sekilas saja, tidak benar-benar aku cek. Aku pikir, belum lama aku buka web 1minggu1cerita dan menulis tentang form setoran fiksi 1m1c x LINEToday.

Kemudian sebuah pesan masuk, dari admin 1m1c, kali ini bukan di grup. Sebuah pemberitahuan bahwa aku akan di kick. Hmm. Aku jawab, menyatakan penyesalanku karena tidak menyadari sudah 5 pekan tidak submit satu pun tulisan. Sang admin membalas, bahwa aku bisa mendaftar lagi.

***

Sekian hari berlalu, dan aku di sini, menulis tentang ini. Sebelum menulis di sini aku memikirkan banyak hal. Tentang sabtulis yang hiatus, otomatis aku bukan member sabtulis. Lalu 1m1c. Sekarang, aku tidak punya komunitas menulis yang 'mewajibkan'-ku menulis minimal 1 tulisan 1 pekan. Aku juga berpikir, apa harus kuhapus banner sabtulis dan 1m1c dari blog ini? Apa aku akan mendaftar lagi? Jika iya, apakah aku akan siap dengan konsekuensinya? Lalu aku teringat blog akardaunranting, yang sudah dipenuhi debu karena tidak pernah dibuka. Salahku sendiri, alasan buat blog itu untuk sabtulis, jadi saat alasannya hilang, semangat untuk mengisi juga hilang. Padahal beberapa tulisan dari blog itu yang aku repost di medium view-nya lumayan.

Aku mungkin akan mendaftar 1m1c lagi, dan masih berharap sabtulis bisa 'hidup' lagi. Tapi sekarang, aku ingin lebih banyak menulis dulu, di sini. Tentang apa pun. Aku harus membiasakan lagi menulis di sini. Sementara itu dulu.

Semoga Allah memudahkan. Aamiin. Allahua'lam.

Sunday, April 5, 2020

1 April

April 05, 2020 0 Comments
Bismillah.

Hari itu, Allah ingatkan aku pada memori di masa lalu. Bukan secara detail, lebih ke perasaan dan ingatan samar. Bahwa dulu... Sekitar 15 tahun yang lalu, aku pernah melakukan kesalahan. Niat awal ingin berbohong tapi yang terucap justru kebenaran yang tajam. Kebenaran opiniku tentangnya, kritikku tentangnya.

Aku tak sepenuhnya yakin ada memori tersebut, karena memang begitu samar. Tapi aku yakin, bahwa Allah menghadirkan perasaan dan ingatan tersebut bukan tanpa alasan.

Aku berusaha menguntai beberapa hikmah dari ingatan tersebut.

- mungkin, yang memulai melukai bukan ia, tapi justru aku

- bahwa bukan cuma aku yang kemudian berubah tapi juga ia. Sama seperti aku yang pernah kesulitan mengatasi luka lama, ia mungkin juga begitu.

- apa aku perlu meminta maaf? Jika iya, bagaimana menjelaskannya? Sedangkan aku tidak sepenuhnya ingat. Bagaimana jika ia sudah lupa, dan kata maafku justru melukainya?

- cara kerja memori, bagaimana kita memilih apa yang ingin kita ingat. Bagaimana jika kita hanya memilih memori yang membuat kita nyaman? Subjektif.

***

5 April. Aku ketik namanya di baris pencarian. Aku bahkan sudah lupa nama panjangnya. Belasan tahun memang sudah berlalu.

Detik ini pun, aku sebenarnya masih tidak tahu. Darimana berita bohong itu berasal, apakah dari nama tersebut, atau nama lain yang disebutkan temanku saat kami duduk berhadapan terpisah sebuah meja kaca. Yang aku ingat jelas, bagaimana "sebuah vas kepercayaan" pecah.

Entah hikmah apa yang ingin Allah berikan padaku, atas ingatan samar yang hadir 1 April kemarin. Aku mungkin belum bisa menemukan semuanya. Tapi setidaknya, aku ingin mencatat satu diantaranya: bahwa aku manusia pendosa, yang harus sering-sering beristighfar dan memohon ampunanNya. Yang harus berulang bertaubat dan berlari padaNya. Agar tidak menjauh jarakku denganNya. Agar tidak merasakan panasnya api neraka.

Agar...diberi kesempatan menyicip lagi manisnya berkah dan ampunan di bulan Ramadhan.

Allahua'lam.

Wednesday, April 1, 2020

Majelis Buku Aksara Online!

April 01, 2020 0 Comments
Bismillah.

Berawal dari satu orang share foto buku yang sedang dibaca, trus beberapa orang ikut share juga, trus dari situ jadi dijadwalkan majelis buku aksara online tiap sabtu pagi di grup wa Aksara. Pas baca rencana itu, kedua ujung bibirku otomatis naik. Apalagi kalau inget, betapa aku merindukan sesi diskusi tentang buku.

Kalau di tempat lain, rencana kadang cuma jadi rencana. Di Aksara beda hehe. Meski sudah berpencar jauh, masing-masing anggota, terutama para alumni yang pernah aku temui di sekre, atau di perpus salman, masih sama-sama suka berliterasi, membaca, menulis, berdiskusi.

Lalu muncul-lah jadwal, ada enam slot, dimulai pekan itu, 21 maret sampai 25 april.

***

Bismillahirrahmanirrahim
*MABUK ONLINE - Season 1* 
Sabtu, Jam 09.00 - 12.00 WIB

21/03 : Eko, World War Z - An Oral History of Zombie War by Max Brooks
28/03 : Fafa, Cara Berbahagia Tanpa Kepala by Triskaidekaman
04/04 : Tristi, buku Originals by Adam Grant. Insyaallah!✨
11/04 : Okky, The Last Window-giraffe by Peter Zilahy
18/04 : Zie, The Subtle Art of Not Giving a F*ck by Mark Manson. 
25/04 : Aikhalid, The Exhalations by Ted Chiang, insyaAllah

***

Oh ya, Majelis Buku sering disingkat jadi MABUK. Bacanya asa gimana ya? Aku juga dulu ngerasa gitu waktu pertama kali denger hehe. Selain MABUK, Aksara dulu juga punya MAFIA (Majelis Film Aksara). Hehe. Nama programnya kreatif dan menarik. 

Bicara tentang MAFIA, aku jadi teringat suatu siang, duduk di sekre aksara yang luas, dulu seluas itu dikuasai aksara hehe, sekarang udah jadi sekrenya Reklamasa kayanya. bener ga ya namanya? Kayaknya salah. Anyway, jadi waktu itu aku ikutan nonton film, judulnya ga inget, keseluruhan film-nya juga ga inget. Film indonesia. Ada anak kecil dan orangtua, di laut, naik kapal.

Oh ya, kalau kumpul Aksara pulangnya selalu kenyang. Seperti waktu awal jadi mahasiswa, duduk melingkar di lapangan rumput, makan pempek dari palembang asli hehe. Waktu itu karena masih baru, aku minta ditemenin Ida (Nur Faizatus Saidah).

Balik ke Majelis Buku Online. Udah kelaksana dua. Dua-duanya buku fiksi, dan dua-duanya menarik.

Yang pertama, tentang zombie, kaya pas banget gitu, bahasnya pas lagi suasana covid19. Dari penjelasan Kang Eko, yang bikin beda adalah.. ga ada tokoh utama. Jadi penyampaiannya semacam interview ke beberapa penyintas (survivor). Trus ada juga yang namanya Quisling, jadi ini cem psikomatis, ga ketularan jadi zombie, tapi perilakunya kaya zombie. Padahal sebenarnya masih manusia. Digambarin juga gimana perilaku orang-orang terhadap wabah, beneran pas banget sama kondisi sekarang.

Yang kedua, fiksi satire, tapi penyampaiannya kayak prosa, puitis gitu kata Syifa. Jadi manusia bisa hidup tanpa kepala, bisa dilepas pasang gitu. Tapi biayanya mahal. Kisahnya berawal dari tokoh utama (Sempati) yang liat brosur promosi melepas kepala, trus udah dilakukan, tapi kemudian kepalanya dicuri orang. Dari situ deh diceritain pencarian kepala Sempati. 

Oh ya, tadinya bukan buku ini yang pertama kali mau dibahas Syifa. Tapi karena liat list-nya, ternyata 5 buku lainnya dari luar semua, akhirnya Syifa ganti buku. Biar ada cita rasa Indonesia di Majelis Buku Online season 1 ini.

Penasaran ga gimana penjelasan dan diskusi buku-buku lainnya? Aku juga... hehe. Tapi majelis buku online sementara cuma buat internal anggota grup whatsapp Aksara aja. Ada rencana untuk bisa di share ke non-member lewat kemasan yang berbeda. Nanti kalau jadi aku tulis juga di blog. In syaa Allah.

Terakhir, semoga dengan adanya Majelis Buku Aksara Online aku jadi semangat buat baca buku.

***

Bicara tentang Aksara, aku selalu teringat dan terkesan dengan kekeluargaan di sana. Aku memang memilih untuk melihat dari jauh. Ga pernah ikutan foto bareng pakai jaket merah yang sudah kubeli. Dateng juga jarang. Aktif banget juga ga. Tapi kalau ke salman, rumah kayu terutama, isinya mayoritas memori bareng Aksara. Sering ke perpus juga awalnya karena Aksara. Lantai dua rumah kayu, sekre aksara dong. hehe. Secara kalau di sekre gamais atau mata' biasanya ada ikhwan. kalau di aksara, ada ikhwan juga, tapi ada teh Ai biasanya. Ruangannya juga luas. ada satu sekre lagi di sebelah barat, dulu sering kesana waktu ruangan itu jadi sekre akhwat P3R. Sekarang, mungkin dipakai buat sekre gamais s2, lupa namanya hehe.

Intinya, aku seneng pernah dan masih menjadi bagian dari Aksara. (: