Follow Me

Showing posts with label sholat. Show all posts
Showing posts with label sholat. Show all posts

Tuesday, March 3, 2020

Istirahat dengan Mendirikan Shalat

March 03, 2020 0 Comments
Bismillah.

Nukil Buku "33 Kiat Mencapai Kekhusyuan dalam Shalat" - Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajid

***



Orang yang khusyu' dalam shalatnya, ketika keluar darinya, ia mendapati jiwanya menjadi ringan tanpa beban. Ia merasakan adanya beban-beban berat yang terlepas darinya. Ia mendapat semangat baru, vitalitas, kenyamanan serta sportifitas. Sehingga ia berharap seakan tidak pernah keluar darinya. Sebab shalat adalah penyejuk pandangan matanya (qurratul 'ain), kenikmatan ruhiyahnya, syurga hatinya, serta tempat istirahatnya di dunia. Seakan hidup di dunia berada dalam penjara, dan kesempitan sehingga ketika memasuki shalat, ia merasa bisa istirahat di dalamnya bukan merasa istirahat darinya.
Orang-orang terkasih mengatakan: "Kita menunaikan shalat dan merasakan istirahat serta lega dengannya." Sebagaimana disabdakan oleh Imam, tauladan dan Nabi mereka Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam: "Hai Bilal, mari kita istirahat dengan menunaikan shalat." dan beliau tidak mengatakan: "Istirahatkanlah kami dari shalat."
Rasul shalallahu 'alaihi wasalam juga pernah bersabda: "Kesejukan pandangan mataku terletak pada shalat." Maka barangsiapa yang kesejukan pandangan matanya terletak pada shalatnya, bagaimana bisa kesejukan pandangan matanya digantikan dengan selainnya? Bagaimana ia mampu bersabar darinya (shalat)?" (Lihat Al-Waabilus Shayyib : hal.37)

***

Membaca buku ini membuatku bertanya pada diri, "Apa kabar shalatmu?"

Allahua'lam.

Tuesday, October 31, 2017

Halu-a

October 31, 2017 0 Comments
Bismillah.

-Muhasabah Diri-

 Mengapa tidak ditulis 'halua', mengapa harus ditulis 'halu-a'? Pertanyaan ini yang pertama melintas di otakku saat hendak menulis tentang ini. Aku menjawab pertanyaan diriku sendiri, mungkin lebih baik jika ditulis dalam aksara aslinya, dengan huruf arab-nya.

Prolognya aneh ya? Hehe. Peace V Abaikan saja prolognya.

***


Innal insana khuliqa halu-a

Manusia diciptakan untuk reaktif. Bicara dari segi fisik, ketika tubuh kita ada asupan energi, ada reaksi rasa lapar dari tubuh kita. Saat jari kita tergores tajamnya pisau, ada reaksi rasa perih, reaksi sel-sel yang memperbarui dan menutup lukanya. Dari segi spiritual dan psikologis, kita reaktif. Para ulama memaknai kata halu-a melalui contoh-contoh bentuknya, seperti rasa tamak (greed). Contoh-contoh reaktif lain adalah mudah marah, rasa takut/pengecut, mudah menyerah, pelit.

Sifat-sifat reaktif ini.. kita diciptakan seperti itu. Itu state normal kita. Innal insana khuliqa halu-a
Cara mudah melihatnya adalah dengan melihat anak kecil, atau melihat sifat-sifat childish kita. Seperti anak kecil yang tidak suka mainannya dipegang oleh temannya, kita reaktif, kita pelit. Seperti anak kecil yang mudah tantrum, menangis dan marah saat ia tidak mendapat yang ia inginkan. Seperti anak kecil, yang mudah merasa teragitasi. Kita reaktif, itu state normal kita.
 
Seiring kita tumbuh dan besar, menjadi manusia dewasa, kita belajar untuk tidak reaktif. Kita belajar. Seperti seorang petinju, yang berlatih ribuan jam, agar tidak mudah jatuh dan segera KO, belajar menahan rasa sakit berkali-kali dipukul, belajar untuk tidak reaktif. Kita juga perlu melatih psikologis dan spiritual kita untuk tidak reaktif. Caranya?

Illal mushollin, alladzinahum fii shalatihim daa-imun

Ketika kita shalat, kita melatih diri untuk berdiri dalam keadaan rendah hati di hadapan Allah, Ilah dan Rabb kita. Kita berlatih untuk tidak reaktif, karena kita sedang dalam urusan yang sangat penting, menghadap zat yang paling penting dan berkedudukan tinggi. 

Ayat berikutnya, juga cara untuk melatih kita agar tidak reaktif.

walladzinahum fii amwalihim haqqum ma'lum, lissaa-ili wal mahrum

Ketika kita belajar untuk bersedekah, menyediakan sebagian harta kita untuk yang tidak mampu. Kita berlatih untuk melihat ke bawah, melihat bahwa kita punya banyak sekali nikmat untuk disyukuri ketimbang jumlah masalah untuk dikeluhkan. Bahwa kita berlatih, belajar.. bahwa ada orang yang memiliki ujian yang jauh lebih berat dibanding yang Allah uji pada kita.

***

Sifat reaktif ini, mungkin memang state normal kita, tapi bukan berarti kita jadi membiarkannya saja. Kalau kita tidak mau berkali-kali jatuh dan reaktif terhadap kondisi yang tidak nyaman, kalau kita tidak mau berkali-kali bersikap salah hanya karena kereaktifan diri. Kita perlu memperbaiki shalat kita. Lalu berlatih lagi dan lagi agar tidak reaktif, agar tidak halu-a. Belajar lagi dan lagi.

Allahua'lam.

PS: Maaf kalau ada kesalahan transliterasi. Tulisan ini saya intisarikan dari video ustadz Nouman yang berjudul Divine Remedy.

Sunday, October 29, 2017

Pilar yang Tidak Seharusnya Bergeser

October 29, 2017 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-

Bukan pilar yang seharusnya bergeser, tapi kamu, yang seharusnya bergeser. Tentang shalat yang seharusnya menjadi pilar hari kita. Tidak mudah memang, menjadikan shalat sebagai pilar sebagaimana pilar bangunan. Kokoh, berdiri tegak di tempatnya. Bukan shalat yang menyesuaikan jadwal harian kita, tapi kita yang menyesuaikan jadwal shalat.

Berat rasanya menulis ini....

Deskripsi orang-orang yang shalat di surat Al Ma'arij yang pertama adalah alladzinahum fii shalatihim daa-imun. Konsisten di sini maknanya tidak hanya dilaksanakan lima waktu, namun juga konsisten waktunya, tidak bergeser.

Ibarat pilar, kita tidak bisa memaksakan maju terus kalau ada pilar di hadapan kita, kecuali kita memang mau merasakan sakitnya menabrak tiang hehe. Bukan pilarnya kita dorong, biar kita bisa maju terus pantang mundur. Tapi kita yang harus berputar, sedangkan pilar tersebut tetap tegak di tempatnya.

Apa yang akan terjadi, kalau pilarnya kita hancurkan, atau kita pindah-pindah seenaknya? Bangunannya akan rapuh, bahkan bisa roboh. Shalat adalah pilar iman kita. Ketika kita tidak menjadikannya konsisten (dilaksanakan 5 kali, dan di awal waktu shalat), maka iman kita akan rapuh, bahkan bisa hancur. Kalau iman kita rapuh atau hancur, efeknya apa ke hidup kita? TT Hidup kita juga pasti jadi berantakan. Kalaupun ga berantakan, bisa jadi bukan nikmat yang Allah beri, namun istidjraj. *maaf kalau salah istilah/penulisannya.

Terakhir.. kalau kita menyatakan diri peduli akan islam, ingin membantu dakwah islam. Maka yang harus kita perbaiki lebih dahulu adalah shalat kita, shalat wajib kita, lalu disusul shalat sunnah kita. Terutama shalat shubuh, shalat isya, dan juga shalat malam kita.

***
PS:

Ditulis untuk diri ~
Sebenarnya berat nulisnya, inginnya disimpan rapat-rapat saja untuk konsumsi diri. Tapi semoga dengan ditulis di sini bisa jadi manfaat untuk orang lain.

Oh ya, isi dari tulisan ini, sumbernya dari penjelasan ustadz Nouman, videonya lupa yang mana, yang jelas merupakan potongan dari video full Night of Inspiration. Kalau ada yang tahu versi pendeknya, yang isinya saya tulis di sini, bagi-bagi link ya. Biar bisa saya taruh di sini video-nya.

Tuesday, April 22, 2014

Kau Tahu Sendiri Jawabannya

April 22, 2014 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah..




[#TanyaHatimu]

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Dipahami, renungi, dan perbanyak ber-uzlah (menyendiri) lalu renungi tiap-tiap aktivitas kita hari ini.

Jum'at Mubarok!


***

This poster is so... 

Mari bertanya pada diri, biasanya.. jika kita terlambat bangun shubuh, bagaimana perasaan kita?

A : Nyesel banget. Nangis habis-habisan
B : Nyesel. Tapi habis itu biasa aja.
C : Biasa aja. Toh tiap hari emang telat.
D : Emang kenapa? Biasa nggak sholat shubuh

***

Dan jika pernah kita bertanya pada diri, "Mengapa sulit bangun shubuh?".

Ternyata jawabannya ada di diri, hanya saja kita tak peka.

Robbighfirli..

Sunday, February 2, 2014

Labtek V ITB : Karena Sholatku

February 02, 2014 0 Comments
*gambar dari grup ASCII, taken by Azalea Fisitania (IF'11)

-muhasabah diri-
Bismillah..

Percakapan di selasar basdat labtek V ITB
A : "Eh... nggak tahu sih, gue nggak pernah ngulang"
B : "zzzz" ucapan kasar.
A : "soalnya gue sholat. makanya, sholat ya!"
B : "Iya ya, gue, C, D nggak pernah sholat soalnya" menyebutkan nama teman yg non-is.
A : iya, gue hoki nih. Soalnya sholat.


B : Kita harus sholat C, D biar kaya A, nggak pernah ngulang.

Wednesday, July 18, 2012

Jangan Sholat Di Sini

July 18, 2012 0 Comments

Bismillah..

"Kenapa kita nggak sholat di sini aja?" tanya seseorang kepada temannya.

Saat itu, adzan sedang berkumandang. Tak heran tempat wudhu akhwat padat dan sesak. Suara-suara berbaur, membuat bising sekitar. Tapi percakapan dua orang teman tadi, menebal dan menguat frekuensinya di telinga. Dan aku tertarik untuk mengetahui jawaban temannya.

“Jangan di sini!”

“Kenapa?” tanya temannya heran. Pertanyaan sama yang berteriak dalam hati, hingga mengerutkan keningku.

“Lama”


“Oh iya.. lama. Jamaah sih.”

***

-muhasabah diri-

Sesungguhnya ingin hati, mendengus keras di hadapan si penjawab. Kesal bukan main mendengar jawabannya. Tapi basuhan air wudhu, membuatku sejenak ingin berkaca. Pada diri, yang bisa jadi lebih hina dina daripada orang di atas.

Lima kali sehari. Bukankah hanya itu sholat yang di wajibkan pada kita? Masihkah kita mau menawar? Tak lebih dari 15 menit, sungguh bahkan tak lebih dari 10 menit. Tapi 15 menit itu, tapi 10 menit itu.. kau anggap menyita hidupmu. Kau anggap menyita waktumu. Sok sibuk kali dirimu, hingga tak kau ikhlaskan 10 menit lima kali dalam sehari untuk bertemu Tuhanmu, Penciptamu, Allah subhanahu wata'ala.

Wahai diri! Sebenarnya siapa yang menciptakanmu? Siapa yang berkuasa atasmu? Hingga dirimu lebih suka mengurusi dunia, ketimbang bertemu, menyapa, ruku', sujud dan khusyuk dalam munajat padaNya.

Lupakah diri? Ataukah sengaja kau lupakan? Tujuan hidup yang telah terukir jelas di kitabNya?

***

Jika tujuan itu sudah kau ketahui.. Lalu apa masalahmu? Hingga dirimu misuh-misuh tak jelas, masih saja mengeluh dan berusaha mengurangi jatah waktu sholat?

Engkau tidak diciptakan di dunia untuk bersenda gurau, atau sekedar belajar dan bekerja lantas kaya dan mati. Engkau tidak diciptakan di dunia untuk tenggelam dalam kelakar tawa, bersenandung biru, bergalau ria,  atau berbaris, push up, lari dan mati.

Masihkah kau berpikir untuk menghindari sholat berjamaah? Hanya untuk segera pergi dan berlari, karena kewajiban sudah kau gugurkan? Serendah itukah kau tempatkan sholat di hidupmu?

Cobalah kembali baca ini, lalu biarkan benih-benih cinta itu tumbuh dan mengakar. Bukankah ia (baca: sholat) memang seharusnya dicintai? Karena di sanalah, seorang hamba dapat 'bertemu' dengan Rabbnya. Mengeluh, mengadu, bersyukur, meminta tolong, tersungkur dalam khusyuk sujud kepadaNya, kepada Allah , Robbal Alamin. :))

Wallahu'alam.

Friday, June 22, 2012

Sholat Dulu Ka!

June 22, 2012 2 Comments

-muhasabah diri-

Bismillah..

Dan ia dengan wajah innocent-nya tersenyum dan menjawab, “Sholat dulu Ka”. Dan aku yang sepintas saja mendengar kata-kata itu, jujur, tidak bisa tidak kagum pada keputusan yang ia buat di antara pilihan yang ada.

***

Ini tentang komitmen sholat di awal waktu. Tentang toleransi sholat tidak di awal waktu. Tentang, betapa panggilanNya jauh lebih mesra dan membuat kita seharusnya meninggalkan aktivitas apapun, dan segera menemuiNya, kala adzan.. mengetuk lembut gendang telinga.

Hari itu, kami istirahat 'dikawal'. Istirahat, namun masih berasa berada di dalam satu rangkaian acara. 'Dipaksa' untuk saling menunggu dan melakukan aktivitas istirahat (baca: sholat dan makan siang) bersama dengan kelompok masing-masing.

Dan di sinilah komitmen diuji. Ya, komitmen sholat di awal waktu.

Maka beruntunglah ia, yang bisa menggenggam erat komitmennya. Tanpa sungkan, memisahkan diri dari barisan yang berjalan tidak menuju ke masjid, padahal beberapa menit lagi adzan akan terdengar merdu.
Maka beruntunglah ia, yang insya Allah hatinya terjaga, langkahnya diridhoi, harinya diberkahi. Karena ia lebih memilih untuk menemuiNya, ketimbang sekedar mengikuti kebanyakan orang.

Maka beruntunglah si penulis, karena jika saja ia diharuskan memilih pada saat itu. Bisa jadi ia tak bisa menggenggam erat pilihannya. Bisa jadi, ia mengikuti kebanyakan dari mereka. :'( Padahal alibi 'tidak enak' menolak, tidak diterima jika ini berurusan dengan Allah.

Hei dirimu! Ya, dirimu! Yang sedang mengetik huruf demi huruf! Takutlah engkau kepada Allah! Sungguh IA Maha Besar! Maka tak pantas jika lebih kau pentingkan yang lain, padahal Allah JAUH LEBIH penting dari mereka. Dan Allah menegurmu lewat sosok di atas. Dan adakah dirimu mengambil pelajaran? Atau sekedar terkagum tanpa memetik hikmah?



Wallahu'alam.

Tuesday, April 10, 2012

Sudah Adzan! :)

April 10, 2012 0 Comments
Bismillahirrahmanirrahim



“Sudah adzan! Ayo ambil air wudhu!”


Membaca kalimat tersebut di beranda sebuah jejaring sosial, spontan aku langsung keluar dari browser handphoneku. Kemudian bergumam sendiri. Merutuki diri yang boleh jadi baru akan berwudhu setelah adzan selesai.


Allahu Akbar.. Allahu Akbar..


Suara merdu sang muadzin mengumandangkan panggilan ilahi, lima kali sehari kita dengar. Berapa kali kita mengabaikannya? Atau justru menutup telinga, saat selimut mendekap erat?


Allahu Akbar.. Allahu Akbar..


Allah Maha besar, begitu tafsir yang sering kita lihat-dengar-baca dari lafal Allahu Akbar. Tapi tahukah kawan, bahwa tafsir itu kurang tepat? Menurut ta’lim yang pernah aku ikuti (PP Mata’), tafsir Allahu Akbar seharusnya adalah Allah lebih besar dari ... (baca: titik-titik). Lebih besar dari apa? Nah, titik-titik di atas.. bisa kita isi sesuai situasi dan kondisi. Misal.. kamu lagi ngobrol sama temen, lalu terdengarlah adzan.. Allahu akbar.. Allahu akbar! Allah lebih besar, lebih agung dari pada aktifitas ngobrolmu. Berhentilah dan jawab panggilan dari Robbmu!


Ketika guru, dosen, atasan, presiden memanggilmu.. bukankah kamu akan segera menghadap kepada mereka? Apakah tidak malu rasanya, jika Allah azza wajalla.. Robbul alamin.. ia memanggilmu, tapi kau malah asik dengan kegiatanmu?


Allahu Akbar.. Allahu Akbar..


Sungguh.. Allah lebih besar dan lebih agung dari apapun di dunia ini. Maka saat adzan dikumandangkan, ingatlah selalu maknanya. Suka tidak suka.. hatimu akan mendorongmu untuk bergegas mengambil air wudhu dan menghadapNya.


Maka ketika Adzan terdengar, segera ambil air wudhu!


No more excuses.. Tak ada lagi penundaan! Segera J Bahkan kalau bisa, sebelum adzan terdengar.. bersiaplah terlebih dahulu. Karena engkau akan menemui Rabbmu.. Rabb semesta alam.



**NB: ada situasi dan kondisi yang masih bisa dimaklumi, kita mungkin tak bisa langsung menjawab panggilanNya.. Tapi, jagalah keinginan untuk segera menghadapNya, khusyuk dalam ruku’ dan sujud padaNya.

Wallahu'alam

Thursday, February 23, 2012

Maka Cintai Ia

February 23, 2012 2 Comments
Bismillah..

-muhasabah untuk diri-



Sholat.. rukun islam kedua. Lima kali kewajiban kita tiap harinya.

Sholat menjadi beban tersendiri bagi sebagian orang, mereka merasa seolah memikul beban berton-ton saat kumandang adzan mengetuk gendang telinga. Enggan rasanya melangkahkan kaki untuk mengambil air wudhu dan sholat. Menunda menjadi pilihan, ada saja alasan untuk tidak sholat di awal waktu. Lalu ketika tanpa sengaja terlewat, ia hanya membatin sejenak 'ya allah, aku belum sholat'. Dan jika berlanjut, dilakukan berulang kali.. maka meninggalkan sholat akan menjadi hal biasa. Telinga mereka menuli atas jeritan hati.

Sebagian yang lain hanya menjadikan sholat sebagai formalitas, penggugur kewajiban. Maka sholatnya hanya asal sholat. Lebih suka sholat sendiri ketimbang berjamaah, baginya.. berjamaah itu buang-buang waktu. Maka jangan tanya berapa detik ia bertahan dalam ruku' dan sujudnya. Baginya asalkan sudah sholat maka sudah cukup, toh sudah memenuhi kewajiban.

Sholat.. seperti apa ia bagimu? Jangan keburu kau jawab.. coba renungkan dulu sejenak. Coba ingat-ingat lagi.. Bukankah hakikatnya, sebenarnya kita yang butuh sholat? Bukankah Allah tidak membutuhkan sholat kita? Sekalipun Allah memang menciptakan kita untuk menyembahNya, tanpa sholat dan ibadah kitapun.. Allah akan tetap menjadi Tuhan Semesta Alam. Itu mutlak. Tak dipengaruhi oleh apapun. Lailahaillallah.. Tidak Ada Tuhan Kecuali Allah..

Tidakkah kita menyadarinya? Bahwa kita yang membutuhkan solat, membutuhkan bersujud kepada Allah untuk menumpahkan keluh kesah kita, untuk mensyukuri limpahan nikmat dariNya, untuk menyejukkan hati yang lelah.

Bukankah hati kita terasa tenang saat kita menghadapNya? Bukankah basuhan air wudhu, ruku' dan sujud kita seolah menyingkirkan beban-beban pelik di dunia yang sementara ini?

Shalat adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dengan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering.. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju realita alam raya. Ia adalah angin, embun, dan awan di siang hari bolong nan terik. Ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah. (Sayyid Quthb dalam Zhilal)

"Ia.. adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah". Maka cintai sholat, ia bukan beban yang membuat kita terbungkuk-bungkuk memikulnya, bukan pula sebuah peraturan formal yang tak memiliki arti lebih selain untuk dipatuhi. Maka cintai sholat, jangan hanya saat dunia terasa sempit dan menyesakkan dada.. tapi juga saat ia terlihat berkilauan indah. Maka ruku' dan sujudlah saat kau ingin meminta pertolongan, karena Allah lah sebaik-baik penolong. maka ruku' dan sujudlah saat kau ingin bersyukur, karena segala puji hanya milik Allah..

Wallahu 'alam..