Follow Me

Showing posts with label janji. Show all posts
Showing posts with label janji. Show all posts

Monday, June 2, 2014

Bisa Karena Terbiasa

June 02, 2014 0 Comments



-Muhasabah Diri-

Bismillah..

Sedikit nyambung dengan artikel Jangan Takut Berubah.

A : "Aku ga bisa B, sulit banget untuk menghindari itu."


A' : "Memang tidak mudah. Tapi perlahan jika sudah terbiasa, tentu tidak akan sesulit itu."

* ceritanya, A dan A' adalah satu orang, ada kecamuk dihatinya saat ia merasa berat terhadap sebuah perubahan yang ingin ia buat.

Perubahan apa? Apapun.
***

Saturday, November 30, 2013

Wacana!

November 30, 2013 0 Comments

-muhasabah diri-

Bismillah..

(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya* dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.
(QS Ali Imrah Ayat 76)

*Yakni janji yang telah dibuat seseorang baik terhadap sesama manusia maupun terhadap Allah.















***
Sedikit kata untuk diri. Bahwa wacana yang dibuat, rencana yang dirancang, hendak-nya tidak kemudian diabaikan begitu saja.

Dan jam yang sudah menunjukkan angka-angka, coba cocokkan lagi dengan "wacana" yang kau buat.

Manusia memang hanya membuat rencana, Allah yang menentukan. Namun bukan berarti itu menjadi alibi kita, untuk mengingkari janji pada diri.

Allahua'lam.

Monday, June 24, 2013

Akankah Hanya Rencana?

June 24, 2013 0 Comments
Bismillah....

Ijinkan tulisan ini menjadi pengingat diri. Bahwa sebuah rencana, akan tetap menjadi rencana, jika tidak ada langkah yang diambil, aksi yang dilakukan.

Ijinkan tulisan ini menjadi pengingat diri. Bahwa rencana dengan target bulan depan, seharusnya sudah mulai dikerjakan sedikit-sedikit mulai sekarang. Ayolah! Bisa!!!

Draft. Apa susahnya? Oke memang tidak bisa dikatakan mudah. Tapi bisa kan?

Hmm.. Allah, kuatkan aku!
Allahu Akbar!

Wallahua'lam bishowab.

Wednesday, May 15, 2013

Doa Yang Mustahil

May 15, 2013 0 Comments
Bismillah..

Sedikit tadabbur ayatNya pada Qur'an Surat Maryam. Di awal surat Maryam, Allah menceritakan tentang kisah nabi Zakariya. Digambarkan dengan begitu jelas, saat nabi Zakariya mengadu pada Allah dalam sebuah doa,
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku1 sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai."

Tuesday, July 31, 2012

Dilarang Berjanji dan Memutuskan

July 31, 2012 0 Comments

Seperti rencana awal, aku menjauh dan mundur teratur. Sejenak menjaga jarak dari mereka dan aroma rupa mereka.

***

Jangan memutuskan saat sedang marah, dan jangan berjanji saat sedang senang. Pernah mendengar kalimat tersebut? Nasihat bijak tersebut mungkin sekilas terdengar tidak masuk akal. Kenapa tidak? Membuat keputusan saat marah? Kenapa tidak? Berjanji saat senang?

keputusan dan amarah

Saat sedang marah, otomatis kepala dan hati panas. Tak bisa berpikir jernih. Yang dikedepankan tak lebih hanya emosi. Maka keputusan yang diambil pada waktu itu (baca: saat sedang marah), biasanya keputusan yang tidak tepat. Terlampau tergesa, hingga seringkali menimbulkan sesal di akhir.

janji dan gembira

Saat sedang gembira, dunia rasanya lebih indah. Segala hal terasa menyenangkan hati, fokus diri hanya pada rasa yang melambung di hati. Maka janji yang di ucapkan pada waktu itu (baca: saat sedang gembira), biasanya hanya sekedar imbas dari rasa gembira yang meluap. Sekedar berjanji, namun tak begitu memperdulikan isi dari janji tersebut. Terlampau tergesa mengiyakan janji, hingga seringkali menimbulkan sesal di akhir.



janji, keputusan dan perasaan kita

Perasaan merupakan salah satu hal yang mempengaruhi janji dan keputusan yang kita ucapkan. Terutama bagi seorang perempuan, perasaan seringkali lebih mendominasi ketimbang logika-logika. Khususnya lagi bagi diri, yang kata seseorang 'too sensitive', terutama diri yang 'too serious facing everything'.

Bukan hal yang salah, menggunakan perasaan dalam membuat janji atau keputusan. Boleh saja kok^^ tapi untuk dua situasi ini, jika bisa hindarilah! Daripada menyesal di kemudian hari, dari pada mengecewakan ia yang diputusi dan dijanjii (haha -.- rusak tuh tata kata dan kalimat).

Jika memang keputusan harus diambil padahal hati sedang diserbu amarah. Jika memang janji harus dibuat padahal hati sedang menari gembira. Ambilah jarak dan waktu, tak perlu terlalu lebar dan lama. Sejenak saja, sejengkal saja. Dan netralkan dulu perasaan di dada. Semoga keputusan dan janji yang dibuat, bukan dominasi dari perasaan amarah atau gembira.

***

Keputusan ini memang tercipta saat jiwa sedang diliputi amarah. Tapi keputusan tetaplah keputusan. Sejauh ini tak ada sesal, menjauh dan mundur teratur membuatku merasa nyaman.

Perasaan nyaman ini tak seharusnya dijadikan alasan untuk menuli, dari nasihat bijak yang sudah kuakui kebenarannya : "don't decide when you're angry, don't promise when you're happy"

Wallahu'alam