Follow Me

Showing posts with label maaf. Show all posts
Showing posts with label maaf. Show all posts

Thursday, May 14, 2020

QJ Ramadhan #7: Memaafkan dan Berlapang Dada

May 14, 2020 0 Comments
Bismillah.
#quranjurnal

وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينَ وَٱلْمُهَـٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, [Surat An-Nur (24) ayat 22]

***

Siapa yang tidak sakit hati, saat buah hatinya disakiti? Sebuah berita dusta tersebar tentang putrinya, dan salah satu yang ikut menyebarkan berita tersebut, adalah kerabat yang biasa ia beri sedekah. Saat itulah sumpah itu terucap.


Hadits ifki, berita dusta. Peristiwa itu banyak menyimpan hikmah untuk kita. Allah mungkin telah menyiapkan peristiwa tersebut, agar menjadi pelajaran, bukan hanya saat peristiwa itu terjadi bahkan sampai akhir zaman. Bahwa kita diminta untuk berbaik sangka dan menoak jika ada berita buruk tentang saudara sesama muslim.

 "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) mengatakan, “Ini adalah berita bohong yang nyata.” (QS An Nur ayat 12)

Allah juga mengingatkan kita untuk berhati-hati mengucapkan sebuah perkara. Agar tidak mudah menyebarkan sesuatu yang tidak kita ketahui. Allah Tahu, akan datang era milineal, dimana informasi dan 'ucapan' tersebar begitu cepat dan mudah, tanpa mempedulikan apakah isinya kebenaran atau justru dusta. Begitu ringan, tapi di mata Allah itu suatu yang berat.

 "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia di sisi Allâh adalah besar." (QS An Nur ayat 15)

***

Dengan ayat-ayatNya Allah mensucikan kembali Aisyah radhiyallahu anha dari berita dusta yang tersebar. Kemudian Allah juga menurunkan ayat 22, atas sikap Abu Bakar terhadap Mistah.

Allah memberitahu kita, bahwa dalam kondisi dan skenario seberat itu, Allah meminta kita memaafkan dan berlapang dada. Apalagi pada kesalahan yang lebih kecil dari itu. Kita diminta untuk tetap menyambung silaturahim pada saudara yang pernah bersalah. Jangankan silaturahim, bahkan sedekahpun, harus tetap diberikan jika saudara kita tersebuut orang yang membutuhkan.

Karena memaafkan dan berlapang dada bukan hal yang mudah, Allah juga menjanjikan balasan yang besar. 

{أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ}
Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? (An-Nur: 22)

Karena sesungguhnya setiap amal perbuatan itu mendapat balasan sesuai dengan jenis amal perbuatannya, sebagaimana engkau mengampuni dosa orang yang berdosa kepadamu, maka Allah mengampuni pula dosa-dosamu. Dan sebagaimana kamu memaaf, maka Allah pun memaafmu pula. [1]

Maka pada saat itu juga Abu Bakar berkata, "Benar, demi Allah, sesungguhnya kami suka bila Engkau memberikan ampunan kepada kami, wahai Tuhan kami." Kemudian Abu Bakar kembali memberikan nafkah bantuannya kepada Mistah seperti biasanya. Untuk itu Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku tidak akan mencabutnya selama-lamanya." Perkataannya kali ini untuk mengimbangi apa yang telah dikatakannya sebelum itu, yakni ucapannya," Demi Allah, aku tidak akan memberinya bantuan lagi barang sedikit pun, selamanya." Karena itulah maka sahabat Abu Bakar sesuai dengan nama julukannya, yaitu As-Siddiq; semoga Allah melimpahkan rida kepadanya, juga kepada putrinya. [1]

***

Allah berulangkali menyebutkan tentang memaafkan dalam ayat-ayat Quran. Jika sebelumnya pemberian maaf setelah didzalimi, meski kita berhak dan punya kekuatan untuk membalas dengan hal yang setimbang. Kali ini Allah mengajarkan kita untuk memaafkan, saudara, kerabat, yang pernah menyakiti buah hati atau anak kita. Allah tahu, bahwa kita akan menemui banyak skenario, kejadian yang membuat dada kita sempit, dan memaafkan terasa begitu berat. Namun Allah kembali mengingatkan, bahwa kecintaan kita, keinginan kita untuk diampuni Allah, seharusnya menjadi penuntun kita untuk membuka pintu maaf dan berlapang dada.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimudahkan untuk memaafkan dan berlapang dada. Orang-orang yang dengan memaaafkan, dimaafkan juga oleh Allah dosa dan kesalahannya. Semoga Allah lapangkan dada kita, dan mudahkan urusan kita. Aamiin.

Allahua'lam.

19 Mei 2019 | 14 Ramadhan 1440H

Keterangan: [1] http://www.ibnukatsironline.com/2015/07/tafsir-surat-nur-ayat-22.html

#refleksiramadhan #quranjournal #betterword

***

PS: Tulisan Ramadhan tahun lalu, dari facebook pribadi khusus Ramadhan.

Tuesday, December 12, 2017

Gapapa Kok

December 12, 2017 0 Comments
Bismillah.

#fiksiku

Benar, bahwa keputusanku ada di tanganku. Orang lain tidak berhak untuk bertanya atau memaksa. Benar, bahwa tidak perlu ada penyesalan atas keputusan yang sudah dibuat. Seperti yang diucapkan seorang perempuan padaku, suatu pagi dalam barisan kalimat di sebuah chat.

"No, Bel. Kamu gak boleh ngerasa salah sama keputusanmu. Kamu sekarang harus gerak nyari solusi atau mikirin kedepannya mau ngapain"

"Yang boleh disesali hanya dosa kepada Allah dan manusia", tambahnya.

"Percaya deh, nyesel atau ngerasa bersalah itu justru membawa energi negatif kecuali nyesel atau ngerasa bersalah karena dosamu sama manusia dan Tuhan"

Aku saat itu membaca kalimat itu, dengan mata berkaca-kaca. Saat itu perempuan jelita tersebut sedang bergelut dengan ujiannya sendiri. Sakit yang mendera tubuhnya ternyata justru menguatkan kejernihan pikirannya. Kata-katanya sampai ke hatiku dengan lembut.

"Ini hidup kamu. Kamu yg nentuin. Aku yakin sama kamu :)"

Kalimat selanjutnya yang ia ketik membuatku tersenyum dan menjawab dalam hati, there's nothing friend like you J

"Kamu gausah risau kalo ada temen-temen kayak aku yang nanya-nanya. Gausah juga maksain diri cerita masalahmu ke orang lain yg belum tentu bisa ngasih solusi."

Kujawab ringan, "You're one of my unique friend. Gak ada duanya. Justru aku cerita, karena kamu yang tanya."

***

Kupandangi dua buah aplikasi chat. Tertera angka dua dan empat. Diaplikasi biru, ada empat pesan tak terbaca, yang tentunya tidak aku balas. Diaplikasi berwarna hijau pupus ada dua pesan tak terbaca. Keduanya, dari orang yang sama. Orang, yang sebenarnya aku tidak pernah mengenalnya secara personal.

Jika mengingat pernyataan perempuan tentang sesal yang hanya boleh atas dosa kita terhadap Allah dan manusia. Mungkin ini salah satu hal kecil, yang membuatku tidak berhenti menyesal. Nyatanya, faktanya, ada yang terluka atas keputusanku. Ada yang terzalimi, karena keputusanku. Mungkin orang itu, nama yang tertera di unread message itu, juga termasuk orang yang aku berhutang permintaan maaf padanya.

Siang itu, lewat sebuah pesan lain, yang mengingatkanku bahwa aku harus bergerak dari milestone satu ke milestone berikutnya. Aku akhirnya memutuskan untuk membuka, dan membaca pesan yang terabaikan lima bulan lamanya.

Kutulis kalimat singkat dan padat. Berisi permintaan maaf, dan sedikit penjelasan mengapa aku tidak bisa merespon pertanyaannya. Kusalin kalimat yang sama, kukirim pesan sama persis lewat dua aplikasi berbeda.

***


"gapapa kok"

":)"

Beban itu seolah terbang seiring responnya aku baca. Dua kata singkat, diiringi emoticon senyum. Bukan stiker, bukan emoticon bawaan aplikasi. Tapi emoticon yang tersusun dari dua tanda baca. Titik dua, kurung tutup.

***

Pelahan, mungkin tidak bisa cepat. Rasa sesal yang masih tertinggal ini, mungkin akan terhapus. Aku cuma perlu berusaha mendaki satu demi satu milestone. Dosa pada Allah, harus terus menerus ditaubati, diistighfari. Dosa pada manusia, selain taubat kepada Allah, juga harus meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Aku nyatanya, cuma manusia biasa yang punya banyak dosa. RahmatNya menutup rapat sehingga hanya aku dan orang tertentu yang diizinkanNya untuk tahu.


Aku.. cuma salah satu dari keturunan Adam. Yang belajar, dan akan terus belajar, bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab akan kesalahan yang diperbuat. Berharap kelak, mati dalam keadaan terbaik menghadapNya. Berharap kelak, diizinkan mencicipi Jannah-Nya, yang lebih luas dari langit dan bumi.

The End.

***

PS: Lama rasanya tidak menggunakan hashtag #fiksiku, lebih sering menggunakan hashtag #fiksi. Mau tahu bedanya apa? #fiksi hanya fiksi, mungkin inspirasinya dari kejadian nyata, tapi hanya fiksi. Fiksiku, lebih banyak dari kisah nyata, disajikan dalam tulisan ala fiksi. Tapi keduanya, sebenarnya cuma potongan saja, tidak pernah bisa menggambarkan kejadian asli yang menjadi inspirasi awalnya, atau tidak pernah bisa melukiskan detail kisah nyata nya.

PPS: Ga sesulit itu menulis panjang di aplikasi hp ternyata hehe. Tulisan ini, bukan by Isabella Kirei, tapi by The Magic of Rain ~

Saturday, September 9, 2017

Penghapus Dosa

September 09, 2017 0 Comments
Bismillah.
#untukmuukhti

eraser


Kutulis sebuah surat dalam bentuk tulisan di sini. Untukmu, yang sedang berjuang berdamai dengan rasa sakit, rasa bosan, rasa lemah, dan rasa tidak nyaman lainnya. Semoga Allah menyembuhkanmu, serta menjadikan setiap rasa sakit yang kau rasakan sebagai penghapus doa.

Maaf, ya kata itu yang ingin sekali aku tekankan di sini. Maaf. Maaafkan aku yang belum bisa jadi teman yang baik. Padahal aku tahu, padahal aku baca satu dua tulisanmu di blogmu, Pyrostegia venusta, aku membacanya. Aku membaca bagaimana kau menuliskan demammu, perasaan 'sia-sia' karena kamu hanya bisa berdiam diri, perasaan bosanmu,hikmah yang kau ambil dari sakitmu, dua tiga rumah sakit yang pernah kau kunjungi.

Tapi bodohnya aku, betapa buruknya aku, berhenti cuma sampai di situ. Cuma membaca, dan memilih sekedar berdoa pendek dalam sebuah komentar. Aku salah, karena tidak segera berinisiatif menghubungimu. Aku salah, tidak melakukan hal lain. Sampai hari ini, kabarmu masih sakit dan berada di rumah sakit dikirimkan seorang ukhti yang lain. Saat itu rasanya begitu bersalah, ah... seburuk itukah aku dalam menjalin ukhuwah?

***

I wish I could visit you, see your face, listen to your voice, there beside you even if it's just a moment. But I know, the possibility is low. Aku mungkin tidak bisa berada di sana, maka aku cuma bisa menitipkan salamku pada ukhti shalihaat lain, yang lebih ramah, yang lebih hangat, yang akan mengunjungimu. Dan ini, ya, aku cuma bisa menulis ini.

Peluk jarak jauh, semoga doa kami yang peduli dan sayang padamu sampai padamu. Semoga Allah menguatkan hatimu, menghibur hatimu, membuatmu lebih dekat padaNya melalui sakit ini.

Sekali lagi maaf.

The one who was your roomate,
_kirei

Monday, September 5, 2016

Media MSTEI

September 05, 2016 0 Comments
#blogwalking 

Bismillah.

Berkunjung ke blog sahabat Ansharnya teh Zae lewat link tulisan "A Letter for My Future Daughter". Satu, dua, tiga paragraf. Baru pembuka tapi entah mengapa mata udah cape, akhirnya cuma scroll sampe kolom komen. Waah.. ternyata baca tulisan berbahasa inggris full itu... hehe.

Logo MSTEI, dari fb: mstei.itb
Sembari menenangkan otakku yang ingin menutup tab tulisan itu, aku buka tab baru dan membaca judul-judul tulisan di home-nya ukhti yang suaranya imut menurutku hehe. Dan dari sanalah, aku terkaget membaca salah satu tulisan. jeng jeng..

Bismillah
Sahabat MSTEI, ilmu teknik adalah salah satu ilmu yang banyak disukai oleh pemuda – pemuda Islam.
Lalu bagaimana hukum belajar ilmu teknik ?
Apakah berpahala ?

Atau ……. ?
- Hukum Belajar Ilmu Teknik
***

Dekat Itu Menjadikan "Ringan" atau "Berat"

September 05, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

close yet far
Masih dari blog ukhti di post sebelumnya, ukhti.. yang menurutku kami memiliki kesamaan postur tubuh, sama-sama tinggi dan kurus. "Tinggi" di sini jika dibandingkan dengan kebanyakan akhawat ITB, dan "kurus" juga sifatnya relatif, karena banyak yang bilang aku sekarang gemukan pipinya hehe. Kangen sama teh Zae, masihkah sekurus yang ada di memoriku?

Back to topic, maaf kalau judulnya agak aneh. Aku baru teringat ada sudut pandang berbeda tentang hubungan kata 'dekat', 'ringan', dan 'berat'. Ini tentang hubungan antarmanusia, bahwa kedekatan seringkali membuat kita meringankan hal-hal yang tidak seharusnya tidak ringan.

***
"Karena saya mengenal ia dengan baik… karena saya keluarganya… karena saya mengenalnya sejak lama…" Alasan-alasan itu seringkali membuat mereka lebih mudah menyakiti satu sama lain.

“Saya tidak akan berlaku demikian kalau kami tidak sedekat ini”. Ia bisa dengan mudah membentak, mengeluarkan keluh kesahnya tanpa berpikir panjang, bisa mengatakan apapun yang ia pikirkan tentang orang tersebut… karena mereka sudah cukup dekat. Sebaliknya mereka justru akan malu dan sungkan melakukan hal serupa dengan orang yang tidak mereka kenal baik.
- Teh Zainab dalam tulisannya "Dekat"
Ah.. makasih Teh, dengan tulisan singkat padat dan jelas Teteh, aku kembali diingatkan untuk mengoreksi lagi setiap perlakuanku pada mereka yang kuanggap dekat. Apakah kedekatan itu menjadikanku ringan menyakiti mereka, baik secara sengaja maupun tidak? Atau kedekatan itu menjadikanku berat untuk menyakiti mereka, karena tidak rela untuk merenggangkan ikatan ukhuwah kami.

Untuk pembaca, khususnya para akhawat, barangkali ada yang merasa aku seperti itu, entah masuk kategori yang ringan atau berat, baik saat jauh, atau saat dekat, mohon nasihatnya dan diingatkan ya. Lewat komentar boleh, anonim juga gapapa. Karena jujur... saya pribadi merasa ada banyak yang dekat maupun yang jauh yang mungkin pernah terluka atas ucapan, tulisan, atau mungkin sikap saya. Maaf, maaf, maaf.

***

Wednesday, August 17, 2016

Cerita Dong, Jangan Baca Doang!

August 17, 2016 0 Comments
#random

i'm sorry -.-
Bismillah.

Sembari menunggu final badminton ganda campuran Olimpiade Rio 2016, aku mengunjungi beberapa blog. Menurutku cara paling mudah untuk membuat jemariku bergerak dan menulis adalah blogwalking. Atau kalau kata Larry L. King, cara untuk jadi penulis cuma ada tiga: tulis, tulis ulang, kalau ga tulis ulang, baca.

Jadi di salah satu blog yang udah lama ga aku kunjungi, mulailah aku baca sepuluh postingan terakhir -ga baca semua sih, sebagian ada yang cuma skimming. Nah di akhir tulisan yang dipost bulan Mei lalu, si pemilik blog menulis kalimat ini, "Pernahkah kamu mengalami hal demikian? Cerita dong, jangan baca doang…"

Dari kalimat penutup tadilah jemari dan otakku mulai terpancing untuk menulis ini. Tentang silent reader, dan tentangku.

Tuesday, January 6, 2015

I'm Introvert in Someway

January 06, 2015 0 Comments

Bismillah..



48. dlm hal mendapatkan ‘energi’. #introvert : menyendiri melakukan hal yg ia senangi. #ekstrovert : berinteraksi dgn banyak org
49. dlm hal komunikasi. #introvert : berpikir sebelum berbicara. #ekstrovert : berbicara sambil berpikir
50. dlm hal interaksi. #introvert : lebih banyak mendengar. #ekstrovert : senang berbicara
51. dlm hal ‘menjawab panggilan keramaian’. #introvert : bth diberikan alasan trlebih dahulu. #ekstrovert : langsung meluncur tanpa pertimbangan

Tuesday, September 9, 2014

Uhibbukuma Fillah

September 09, 2014 0 Comments

 sumber: tumblr

Bismillah.

Untuk kedua orang tua ku yang berada di Purwokerto. Semoga Allah memberkahi umur kalian, mewafatkan kalian dalam keadaan terbaik (husnul khatimah), dan menempatkan kalian di Jannah-Nya.

***

The Same Hole

September 09, 2014 0 Comments
 sumber : tumblr

-Muhasabah diri-

Bismillah.

Itu lubang yang sama, tempat diri terjatuh saat kaki masih lemah menapak. Ya, lubang yang sama, saat kaki sudah lincah berlari, namun lagi terjembab di lubang yang sama.

***

Monday, September 1, 2014

H+2 OHU ITB 2014

September 01, 2014 2 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah..

Kata pertama yang ingin kuucapkan kepada seluruh pejuang di INS#2 Bangkit! adalah kata maaf. Maaf, karena diri termasuk penghalang tercapainya target kita untuk menyebar majalah ke 2 INSpira Magz.


Satu Bulan Lebih Vacum Blogging

September 01, 2014 0 Comments



 taken from here

Bismillah. Satu bulan lebih terhitung sejak tanggal 10 Juli 2014. Terhitung  lima puluh dua hari. Super sekali!


Vacum menulis adalah hal yang wajar ketika menulis sekedar mengisi waktu luang. Adalah hal yang wajar, ketika menulis belum menjadi kebutuhan kita. Namun saat hal itu sebaliknya, bagaimana rasanya vacum menulis bagi ia yang terbiasa setiap hari merangkai kata? Bagaimana rasanya, saat kebutuhan kita untuk menulis, tidak bisa kita penuhi. Haus seperti halnya kita tidak memenuhi kebutuhan air. Lemas seperti halnya kita tidak memenuhi kebutuhan makan diri kita.

Pertanyaan selanjutnya, yang manakah diri?

Wednesday, October 23, 2013

Surga Untukmu Yang Memaafkan

October 23, 2013 2 Comments

-muhasabah diri-

Bismillah...

Jika kata-kata ku, tak berarti apapun. Mari sejenak diam, sama-sama menyimak firman Allah dan sabda Rasulullah. Bukankah masing-masing kita, setiap hari berikrar beriman kepada Allah dan rasulnya -minimal dalam sholat kita-?
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syuura: 43)
***
......
Rasulullah saw.menjawab, ‘Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’.

Friday, May 24, 2013

Tentang Angkatan Kami

May 24, 2013 0 Comments
Bismillah..
[Mencoba Melihat Apa yang Tak Terlihat]
Rabu, 29 Mei 2013 akan diadakan kunjungan ke Panti Bayi Sehat di Jl.Purnawarman no.25.
Bagi anda yang ingin berpartisipasi, silahkan datang ke DingDong pukul 08.00 WIB.

Salam Pengmas.
***

Semua berawal dari hari-hari berat. Saat kami, dipaksa mengenal satu demi satu wajah sekaligus nama lengkap. Semua berawal dari hari-hari berat. Saat di masa liburan, kami dipaksa melangkahkan kaki ke kampus, mengenakan nametag dengan tali rafia berwarna hijau di dada. Semua berawal dari sana.. dari satu kata, SPARTA.

Sunday, May 19, 2013

Maksudku Adalah...

May 19, 2013 0 Comments

-muhasabah diri-

Bismillah
. sengaja aku solat ke mesjid, kalian bilang "wis hebat"
. Sengaja setiap subuh ku tutup pintu kamar dengan keras, kalian bilang "keren subuh uda bangun"
. Sengaja aku membeli 4 sejadah, kalian bilang "persiapannya lengkap"
. sengaja aku adzan tiap waktu, kalian bilang "suaranya merdu"
. sengaja aku mengaji di rumah dengan agak keras. "kalian bilang sholeh"
. sengaja di mading sekolah ku buat tulisa tentang menjauhi pacaran, kalian bilang "calon wartawan"

. padahal itu semua bukan MAKSUD KU!! aku ingin menangis ketika aku shala di mesjid hanya berdua, aku ingin menangis ketika aku bangun subuh sendirian, aku ingin menangis ketika aku adzan tak ada yang datang, aku ingin menangis ketika di di pojok sekolah banyak yg maksiat dan pacaran, dan aku telah menangis ketika aku gagal mengajak pada kebaikan . . .

dan hatiku hancur ketika aku berkata "Ayo kita . . ." kalian malah bilang "sok alim, sok pintar, gak ada kerjaan, dan . . . " bukan itu maksudku . . . :'(

Wednesday, April 24, 2013

Lagi, Tentang Fitrah

April 24, 2013 2 Comments
Bismillah...

Sebenarnya, aku sendiri tidak menjamin, bahwa semua orang setuju tentang pendapatku pada tulisan "fitrah" yang lalu. Tapi aku kembali tergerak untuk menulis tentang ini, karena kejadian kembali berulang.

***

Adalah menyenangkan, menjadi "anak" media. Mengapa? Karena menurutku, divisi/departement ini.. begitu menenangkan hati, sesuai fitrah seorang wanita utamanya muslimah.

Jika di bidang yang lain, masih ada banyak celah.. seseorang bisa mengenal seorang perempuan karena aktifitasnya di dunia nyata. Maka di bidang ini, kami bisa meminimalisir orang lain untuk mengenal kami. Untuk tahu nama asli kami, wajah kami, sifat kami, dll. Yang mereka lihat, adalah hasil kerja dan karya kami. Berupa buletin yang tersebar, sms jarkom, tulisan di web, publikasi di jejaring sosial, dll. Dan itu semua, bisa menyembunyikan kami dengan baik.. atas nama organisasi, atau nama pena.

Tapi belakangan ini aku mulai tidak nyaman. :'(