Follow Me

Showing posts with label kata sifat. Show all posts
Showing posts with label kata sifat. Show all posts

Sunday, October 11, 2020

Sibuk untuk Siapa?

October 11, 2020 0 Comments

Bismillah.

#blogwalking

-Muhasabah Diri-

 

Berhubung sudah lama tidak menulis, ijinkan kali ini aku menulis dengan gaya bahasa bercerita, dan banyak curhat. ^^ Tak apa, toh tidak untuk disetorkan ke 1m1c dan linknya tidak akan di share ke sosmed.

 


Aku sebenarnya merasakan kuantitasku menulis di laptop menurun. Sekalipun kesempatan berada di depan laptop lebih dari cukup, aku lebih sering memilih melakukan hal lain yang sifatnya konsumtif ketimbang produktif. Atau kalaupun akhirnya menulis, lebih sering menulis di dokumen word berjudul "my new blog". Oh ya, jangan tertipu dengan judulnya, karena isi dokumen tersebut bukan draft untuk blog ini, atau blog manapun. Dokumen tersebut hanya berisi tulisan yang ingin kusimpan sendiri, tanpa pernah ada niatan di publish.

 

15 September yang lalu, aku memiliki niatan untuk membiasakan lagi menulis postingan dengan tagar #blogwalking, agar blog ini tidak hanya diisi setiap setoran 1m1c, tapi juga diisi tulisan #blogwalking. Tulisan ini, adalah wujud langkahku, agar niatan itu ga berhenti di wacana. Cause I don't want to be a liar who only talks but never walks.

 

Ada sebuah tulisan di blog yang berjudul 37 Degree (I won't give the link though). Tulisan yang ingin kukutip ini isinya agak sensitif. Aku takut pemilik blognya tidak berkenan tulisannya disebar, tapi isi tulisannya, aku ingin mencatatnya di sini, untuk pengingat diri.

 

She wrote in her blog, September 12th,

Seorang teman lama mengirim pesam singkat melalui wa beberapa waktu lalu.

Saya sibuk, buat keluarga. Kalau kamu, sibuk buat siapa?

Kayaknya sih bercanda. Tapi lama sekali notif wa nya saya buka, menunggu sesak yg ada di hati mereda.

Saya sibuk teh buat siapa? Keluarga juga belum punya. Tidak seperti dia, yg sudah punya anak dan istri.

Kalau sibuk karena Allah? Siapa yg jamin kesibukan itu diterimaNya sebagai ibadah. Sadar diri lebih banyak khilafnya juga.

Lebih 2 pekan wa-nya baru saya buka, pas hari raya Idul Adha. Saya coba menerima apa yg DitetapkanNya untuk saya saat ini seperti sebelum-sebelumnya. Berusaha memaafkan.. tapi tidak mudah menghilangkan bekas luka. Setiap ada pesan dari si teman, saya masih malas membalas wa-nya. Pesan yg dulu juga, tidak saya balas sama sekali. Apakah ini sama saja dengan mendiamkan lebih dari 3 hari? Bukankah tidak boleh dalam Islam mendiamkan ‘saudara’ lebih dari itu? Saya hanya masih sibuk.. sibuk mendamaikan hati sendiri dengan keadaan. Semoga Allah yg Maha Mengetahui isi hati, berkenan Memakluminya.

 

***

 

Bagaimana perasaanmu saat membaca tulisan di atas? Apa yang ada di pikiranmu? Aku... sebagai orang yang sering diberi label 'sensitif', sejujurnya ingin ikut marah, pada sosok yang ia sebut teman. Friend? Isn't that question a form of gaslighting? Maksudnya apa coba? Bercanda...? Dengan merendahkan orang lain agar ia merasa 'tinggi'? Itu reaksi pertamaku.

 

Hal kedua, setelah emosi agak reda, aku bermain role play di kepalaku. Bagaimana jika kejadian itu terjadi padaku. Apa yang akan aku lakukan. Apakah mengabaikan pertanyaannya? Atau aku justru menyerang balik. Bertanya apa maksudnya, mengajak debat, dll. Tapi setelah itu, pikiran tersebut terhenti, terdistraksi kesibukan dan lain-lain.

 

Beberapa hari kemudian, saat luang, tulisan di atas muncul lagi dibenak. Sibuk untuk siapa?

 

Seperti yang dituliskan penulis, idealnya memang dijawab "Sibuk untuk Allah". Tapi jawaban itu akan menagih kejujuran kita, menuntut pembuktian dalam rutinitas hari-hari kita.

 

Aku bertanya-tanya, bolehkah kujawab, "sibuk untuk diri sendiri". Bukankah kebanyakan manusia egois? Kita sibuk untuk diri sendiri, untuk memperbaiki diri, agar tidak mati dalam keadaan "buruk rupa". Kita sibuk untuk diri sendiri, unyuk menyelamatkan diri agar tidak jatuh ke api neraka, yang siksaannya begitu mengerikan. Kita sibuk, bukan supaya dianggap sibuk oleh mata-mata manusia lain. Kita sibuk,bukan untuk dipuji sukses oleh kacamata netizen.

 

Kamu, sibuk untuk siapa?

 

Kali ini pertanyaan tersebut bermalam di otak tanpa kaitan dengan blog tersebut. Pertanyaan itu bukan lagi tentang pertanyaan yang seorang ajukan pada penulis blog 37 degree yang nama dan wajahnya tidak aku hafal. Kali ini pertanyaan itu berputar pada diriku.

 

"Bella, kamu sibuk untuk siapa?"

 

Hold on. Let me change the question. "Bella, are you even busy?" And I get speechless.

 

Aku sebenarnya bisa mengelak dan berdalih jika yang mengajukan pertanyaan itu orang lain. Aku punya list aktivitas untuk menunjukkan aku 'sibuk'. Tapi masalahnya, yang bertanya dan menjawab adalah diriku sendiri. Pertanyaan itu dariku, dan untukku. Dan karena itu, aku ingin jujur.

 

Sekarang ini, aku rasa, aku sedang diuji dengan nikmat waktu luang. Dan aku, jatuh bangun untuk bisa lulus dan naik tingkat di ujian tersebut. Hei, bukankah kamu baru menyelesaikan membaca buku "Menata Kala"? Sudahkah kamu merasakan manis manfaatnya dalam laku? Sudahkah bunganya mekar, dan berbuah amal? Atau kau, masih serupa keledai yang membawa tumpukan buku di punggungnya? Isn't it too harsh? Comparing yourself to a donkey? No, it's not. Cause it's me questioning myself. Tentu berbeda jika kalimat tersebut kudengar dari orang lain untukku, aku... kemungkinan akan melemparkan pedang sensiku kan?

 

***

 

Blogwalking kali ini mengajakku bertanya pada diri, "Bella, kamu sibuk untuk siapa?" Untuk Allah? Bisakah kamu menjawab seperti itu? Apakah bisa, jawaban ideal itu menjadi kejujuran dalam setiap waktu yang bergulir?

 

Bicara tentang waktu, kita seharusnya teringat satu surat kan? Surat cinta yang berisi kabar gembira dan peringatan dari-Nya. Kuakhiri tulisan ini dengan paragraf yang kubaca di grup TMT.

 

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan pengecualian yang tidak merugi. Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman, dan beramal shalih, dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling mengingatkan dalam kesabaran. Aamiin.

 

"Pertama, mengingatkan supaya tidak lupa mengunci pintu rumah. Kedua, supaya ditambahkan doa kafaratul majlis dan surah Al-'Ashr. Ustadz Nouman bilang baca Al-'Ashr itu sunnah yang terlupakan. Setiap para sahabat selesai bertemu dan hendak berpisah, selalu baca surat Al-'Ashr." - Heru Wibowo, Ketua NAK Indonesia

 

Allahua''lam.

Monday, May 21, 2018

The Sweetness of Iman

May 21, 2018 0 Comments
Bismillah.
#buku
-Muhasabah Diri-

Nukil buku, dari Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Cuma kumpulan quotes saja, ditulis sebagai pengingat diri.
"Jika sudah ada kedekatan hati dengan Allah, maka akan menghasilkan kesenangan dan kenikmatan, yang tidak bisa diserupakan dengan kesenangan di dunia dan tidak dapat dibandingkan... "
Iman itu memiliki rasa 'manis'.

"Karena iman itu mempunyai kemanisan. Siapa yang tidak dapat merasakan manisnya iman, hendaklah kembali untuk mencarinya, dengan mencari cahaya yang bisa mendatangkan manisnya iman."
Cari manisnya iman dimana? Ada dua, yang disebutkan Rasulullah shalawat serta salam untuknya.

Pertama.
Sabda beliau, "Yang dapat menikmati rasa iman adalah yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, kepada Islam sebagai agama dan kepada Muhammad sebagai rasul."
Kedua.
Beliau juga bersabda,"Tiga perkara, siapa yang tiga perkara ini ada pada dirinya, maka dia akan merasakan manisnya iman, yaitu: Siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, siapa yang mencintai seseorang, yang dia mencintainya hanya karena Allah, dan siapa yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu, sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke neraka."
Jika tidak ada rasa manisnya? Curigailah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jika engkau tidak mendapatkan kemanisan dan kesenangan dari suatu amal dalam hatimu, maka curigailah ia. Karena Allah adalah Maha Penerima syukur. Artinya, Allah pasti akan memberi pahala kepada seseorang di dunia karena amalnya, berupa kemanisan yang dirasakan di dalam hati, kesenangan dan kegembiraan. Jika dia tidak merasakannya, berarti amal itu disusupi setan."
***

Semoga kita dapat merasakan manisnya iman, bukan cuma di dunia, tapi juga di akhirat kelak. Aamiin.

Allahua'lam

***

PS: sebenernya blm puas sama desainnya. tapi udah kehilangan mood buat geser2 elemennya.

Friday, March 30, 2018

Menyergap Saja

March 30, 2018 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

Ketakutan itu menyergap saja datang tanpa peringatan.

***

Manusia... salah satu bentuk ujian yang disajikan oleh Allah pada manusia adalah perasaan takut.


Malam itu, ditambah satu hari berikutnya, perasaan takut menyergap saja diriku. Saya pernah menulisnya di sini, tentang ketakutan berlebihan jika merasa sakit. Pikiran buruk bermunculan saja, jemari tak bisa ditahan untuk bertanya ke internet, yang justru semakin membuat saya takut. Saya tahu, ini tidak baik, tidak rasional.

Maka hari itu, kuingat lagi makanan apa yang sebelumnya saya makan. Saya ingat lagi, dulu.. saat ketakutan berlebihan saya luruh, bahwa saya ternyata tidak sakit parah. Saya saja yang melebih-lebihkan rasa sakitnya.

Perlahan, pikiran buruk yang bermunculan mulai kalah oleh pikiran rasional. Perasaan pasrah pun membantu saya menenangkan diri, yang sempat disergap rasa takut. Jika ini bukan sakit parah, maka Allah sedang mengajarkanku untuk berbaik sangka. Jika ini memang sakit parah, maka itu hak Allah, ketentuan Allah, tinggal bagaimana aku nanti bereaksi, bisakah sabar? Bisakah rasa sakit menjadi penggugur dosa?

***

Hari ini, aku terbangun atas Rahmat-Nya. Menemukan bahwa semua ketakutan dua hari kemarin salah. Bahwa mungkin ketakutan itu, memang perlu hadir sejenak, agar aku merapat kepadaNya.

(:

***

Menulis ini sebenarnya seolah buka kartu, bahwa aku terkadang sering parno, ketakutan irasional itu sering hadir. Terutama tentang rasa sakit fisik. Mungkin karena Allah mengkaruniakanku badan yang sehat, maka sedikit rasa sakit, kemudian aku mulai berspekulasi yang terlalu lebay hehe.

***

Terakhir, sudah masuk pertengahan bulan Rajab (:
Ramadhan berapa hari lagi? ^^

Mari persiapkan diri dari sekarang~ Semoga Allah izinkan kita untuk bertemu lagi dengan Bulan Quran, Ramadhan.

Wednesday, September 6, 2017

Legaan atau Cemas?

September 06, 2017 0 Comments
Bismillah.

"Kabar kamu gimana? Suasana hatinya gimana? Legaan atau Cemas?"
Pertanyaan yang sama, namun diikuti dua kata deskripsi, mungkin maksudnya, agar aku tak bingung menjawab. Is it just me? Or I find your question interesting, always, sampai beberapa kali aku menuliskannya di sini. (Males cari link-nya, silahkan ditebak-tebak saja yang mana)

***

Dua perasaan itu, dua deskripsi itu. Mungkin ia berikan dua pilihan itu, karena sebelumnya aku pernah cerita padanya tentang rasa cemasku, khawatir A, B, C, dll. Aku jawab salah satunya. Lalu beberapa menit kemudian aku dibuat berpikir, kayanya aku ga bisa lepas dari salah satu pilihan saja. Maka kuralat jawabanku. Aku jawab Alhamdulillah udah lebih lega untuk masalah A, B, C, dan masih ada kecemasan di D, E, F.

It's a good question actually. Untukku, yang lebih sering jawab Alhamdulillah sehat untuk pertanyaan kabar. Juga lebih suka menjawab ambigu saat ditanya perasaannya gimana, ga gimana-gimana perasaannya, suasana hati juga gitu-gitu aja hehe. "Legaan atau cemas?" pertanyaan itu berhasil mengeluarkan sedikit cerita dari jemariku, yang mungkin ga aku ceritakan ke orang lain.

***

Jujur, setiap ia bertanya seperti itu. Aku selalu ingin bertanya balik, hal yang sama. Just in case, aku sedang tidak peka. Karena bisa jadi maksudnya bertanya, ingin ditanya balik. Maka aku bertanya padanya, lebih spesifik memang, tentang urusannya di X, apa sudah mulai diurus? Oktober kan tenggat waktunya? Namun sepertinya aku salah pertanyaan, aiih.. sungguh bodoh aku dalam masalah beginian. Harus belajar seni komunikasi, seni memilih kata tanya yang tepat.

Maka aku tuliskan tulisan ini sekedar ingin berterima kasih. Ya, terimakasih sudah bertanya. Lain kali mungkin aku harus meniru pertanyaanmu, jika ingin bertanya dengan jawaban yang spesifik. Jangan tanya hal spesifik, kalau itu justru seolah menginterogasi, atau itu hal yang sensitif di telinga orang lain.

Maka aku tuliskan tulisan ini, semoga kamu tidak sedang dalam naungan awan kecemasan, aku tahu rasanya, tidak nyaman dikelilingi rasa khawatir. You're smarter than me, stronger than me, and wiser than me. I believe, whatever problem you have now, whatever things that are hitting and kicking your head, I believe you'll go through it. Aku mungkin ga bisa lagi physically beside you, ga bisa juga physically listening to you and talk to you. Dan memang tidak akan semudah saat masih bisa bertemu muka dulu. Tapi setidaknya, kita masih bisa berkomunikasi lewat teknologi yang ada. Tidak mudah memang, mengingat aku yang tidak pandai memelihara LDR, baik dengan teman, keluarga maupun orangtua. Tapi aku selalu mengharapkan yang terbaik, mendoakan yang terbaik untukmu. Ah.. satu lagi, I wish you write more often in your 'place'. Jangan sekedar bagi link tulisan dari web lain. I miss reading how you write the hot topic nowadays, I miss reading how your perspective about any topics, I miss your review about books, kajian, or else. Ya? Aku tunggu ya tulisannya. Hhehe.

***

Semoga Allah izinkan aku ke Kendal, biar kita bisa bertemu dan bertukar pikiran lebih leluasa. Tidak seperti sekarang, saling kagok dan terdiam hanya karena berjauhan. Tapi sebenarnya, jarak kan bukan hal besar, iya kan? Selama kita masih saling mendoakan, saling mengingatkan dalam haq dan kesabaran, in syaa Allah.. ukhuwah ini akan terus erat.

Semoga kamu membaca ini, cause it feels weird for me to sent this post link to you. Hehe. Kalau misal kamu ga baca, gapapa juga sih. Nanti, mungkin nanti aku sendiri yang bisa dengan blak-blakan bilang padamu: kalau aku juga ingin tahu nuansa hatimu, legaan atau cemas? Nanti, mungkin nanti aku sendiri yang bisa dengan blak-blakan bilang padamu: kalau aku merindukan tulisanmu, jadi bisakah kamu menulis lebih sering lagi? 

***

moshi-moshi.. apa kabar? (from unsplash) 

Untuk pembaca, jika ada, hehe.. Kalau kalian gimana? Nuansa hatinya gimana? Legaan atau cemas?

Untuk pembaca, jika ada, hehe.. Kalau kalian gimana? Kapan nulis lagi? Bagi-bagi link blog/tumblr kalian dong, biar aku juga jadi pembaca blog kalian, seperti kalian yang baca blog ku. Hehe. #sokkenalbgt #maaf

Bye~

Wednesday, August 23, 2017

Better?

August 23, 2017 0 Comments
Bismillah.
-Muhasabah Diri-


Pernah aku menulis draft yang intinya, "I thought I was okay, but I'm not". Kalau ini, mirip-mirip lah. I thought it was better, but it isn't better,  just yet.

Positif, positif, positif, positif, pasti ngiranya hasilnya positif kan? Ternyata belum bisa positif. Karena ada banyak bilangan negatif sebelumnya. Memang belum lebih baik, atau kita awalnya ngira kita udah lebih baik, sedikit lebih baik, trus kemudian nyadar kalau belum, sadar kalau belum trus jadi negatif lagi.

Tapi kata 'belum' jauh lebih daripada kata 'tidak', karena kata 'belum' menyediakan ruang 'sudah'. Someday, you'll get better, it'll get better.

Pilihan kata memang penting untuk kita manusia. Jadi teringat Adam yang diajarkan langsung oleh Allah 'ism'. Juga inget, kenapa ayat Al Baqarah ayat 256 memakai kata 'idza' bukan 'in', 'when' bukan 'if'. Inget juga penjelasan tentang qurotta a'yun, permisalan orangtua yang anaknya pergi berperang. Kalimat orangtuanya "Ketika anakku pulang, aku akan masak A". Ketika bukan kalau. Karena 'if' memberikan ruang kemungkinan anaknya tidak pulang.

Unik ya, ada saat dimata kata yang rapat, jelas, dan tak memberi ruang, bisa jadi kata positif yang menghilangkan kenegatifan. Sedangkan ada saat dimana kata yang memberi ruang, bisa jadi kata positif, yang memberikan kepositifan. Kalimatnya asa aneh. Tapi ngerti kan ya.

Kalau kita bisa bilang "Yes it's better", itu pastinya lebih baik dari pada "It will get better". Tapi.. untuk kalimat "No It's not better", kalimat "It's just not yet better" jauh lebih baik. It depends on your situation, on level of your optimism, level of your positiveness. 

Contoh lain, datang lebih awal itu baik (in time), datang tepat waktu (on time) juga baik. Tapi ketika kamu negatif, lalu terlambat, kamu mungkin akan memilih tidak datang sama sekali, saat itu mungkin quote "better late than never" baik untukmu. Setidaknya, kamu memberikan motivasi untukmu bergerak dan tidak berhenti. Tentu saja terlambat itu tidak baik, apa lagi, kalau ada banyak orang yang menunggumu.

***

Terakhir, semangat memperbaiki diri. It may be not getting better as fast as you want, just keep making effort. I know, you know it's not better yet now. But it will, sure it will get better, it will be better. Semangat nulis juga ya, Bella! hehe J

Allahua'alam.

Monday, April 24, 2017

To Discover Our Strength (-20)

April 24, 2017 0 Comments
Bismillah.

#blogwalking
Keempat kisah di atas benar adanya. Bahkan mungkin, ada yang lebih berat ujiannya. Membuat kita berkaca, bahwa bisa jadi ujian kita tidak lebih berat dibanding mereka. Bahwa ternyata, ada orang-orang yang begitu kuat menjalani harinya, seberat apapun dirasa. Kemudian saya baru menyadari, mungkin setiap orang dapat menjadi kuat karena mereka punya alasan dibaliknya. Mereka bukan kuat karena diri mereka, tapi karena ada alasan kuat akan kekuatannya. 
- Dewi N Aisyah, We are Strong for A Reason
Kumpulan kisah, kemudian hikmah yang ia dapat dari kisah-kisah nyata tersebut.
Seorang nenek tua tengah memanggul karung beras yang mungkin beratnya lebih dari 25 kg. Dengan perlahan, ia menapaki jalanan berbukit di pedesaan dalam. Sembari menyapa saat bertatapan dengannya, “Mbah, iku abot, kulo bantu nggeh?” (artinya, mbah itu berat, saya bantu ya). Lalu si mbah dengan keriput yang terlihat jelas di wajahnya tersenyum dan berkata “Rapopo. Sampun sakbendino. Kuat insya Allah…” (Gapapa. Udah biasa setiap hari. Kuat insya Allah). Dan ternyata, nenek itu hidup bersama 2 orang cucunya, sedang anak dan menantunya merantau ke kota. Maka ia tetap bertani dan memanen untuk membesarkan cucu yang dititipkan kepadanya.
- kisah pertama, di tulisan We are Strong for A Reason
***

Ada banyak yang ingin aku tulis, sekedar untuk komentar yang isinya tidak penting kalau dibandingkan keseluruhan isi tulisan yang aku kutip. Namun betapa banyak kata itu, tertahan, ada banyak alasan yang membuatku memilih tidak menuliskannya.

Baca saja Bell... Belajar saja dari tulisan itu. Kutip sebagiannya, agar suatu saat kamu membaca lagi dan lagi. Strong, kata sifat itu memang terlihat begitu asing di dirimu. It's okay. Kamu cuma perlu belajar lagi dan lagi. Seperti yang biasa kau tulis, tidak apa mengakui betapa diri begitu lemah, weak. It's okay, asalkan kamu masih bersandar pada Yang Mahakuat. Bukankah begitu?

Kututup tulisan ini dengan quote sama yang menutup tulisan yang aku kutip di blogwalking kali ini.
“At times Allah tests us, it is not to reveal our weaknesses, but for us to discover our strengths…”
Allahua'lam.

Monday, April 17, 2017

Rahasia!

April 17, 2017 0 Comments
#hikmah

Bismillah.

Ada hikmah mengapa takdir, Allah rahasiakan dari pengetahuan manusia. Ada hikmah mengapa tidak ada teknologi mesin waktu selain di fiksi. Aku tidak akan membicarakan tentang itu. Ada rahasia lain. Rahasia hikmah sebuah kejadian.

Misalkan hari ini kamu kehilangan sebuah benda, sebutlah buku, itu ada hikmahnya kan? Nah... hikmah itu awalnya bersifat rahasia, kita tidak tahu, kalau ga cari tahu. Atau rahasia karena mungkin hikmahnya baru muncul setelah beberapa hari/bulan/tahun.

***

Aku teringat saat aku kehilangan buku biru, aku kira, aku meninggalkannya di mushola GKU Barat. Paginya, sebelum pulang ke purwokerto, aku sempatkan ba'da shubuh ke mushola itu, untuk akhirnya pulang dengan wajah masam karena yang dicari tidak ada di sana. Tapi qadarullah, beberapa waktu kemudian, aku menerima buku itu dari seorang teteh, yang kelak menjadi korwat departemen SPDK Gamais. Superb.

Aku teringat, dua pekan yang lalu, saat tiba-tiba ayahku kasih kabar kalau beliau mau berkunjung ke Bandung. Saat itu, saat dikasih kabar, dan saat seharian beraktifitas bersama ayah, aku belum tahu hikmah apa yang Allah titipkan bersama takdir 'mengejutkan' tersebut. Tapi hari ini.. aku bisa menyebut satu, dua hikmah yang aku rasakan ba'da kunjungan ayah ke Bandung.

Dua kejadian di atas, hikmahnya sebenarnya sifatnya personal. Mungkin saja bukan hikmah utama yang Allah ingin tunjukkan. Karena toh, hikmah suatu kejadian itu sifatnya rahasia. Seperti bawang merah? Berlapis-lapis? Mungkin kita bisa menebak satu dua hikmah, tapi bisa jadi.. ada hal lain yang ingin Allah tunjukkan pada kita. Kita saja yang belum tahu, karena hikmah tadi masih rahasia.

***

Sekarang.. aku cuma bisa mengeja hikmah. Hikmah mengapa sesuatu hilang. Hikmah mengapa seseorang menjadi temanku. Hikmah mengapa pertanyaan itu ditujukan untukku.

Sekarang... masih ada hikmah yang tidak bisa kuraih. Meski aku berjinjit untuk memetiknya, di ujung tangkai terendah. Masih belum bisa memetiknya, karena aku masih kecil.. masih seperti anak kecil, yang belum tahu banyak hal, yang mungkin belum bisa mengerti maksudnya, jika rahasia itu diberikan padaku.

Rahasia.. Rahasia dariNya. Apapun itu. Izinkan aku belajar, untuk menerimanya sebagai rahasia terindah, dengan menjaga prasangka baik kepada-Nya. (Dia) yang mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang disembunyikan dan yang diperlihatkan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Allahua'lam.

Tuesday, April 11, 2017

Resume Kajian WhatsApp

April 11, 2017 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

Sebelum baca kutipan tulisan blogwalking kali ini, ingin mengingatkan. Untuk yang sering baca tulisan berlabel blogwalking *yang kemarin sabtu ketemu*, ini cara sehat bacanya: baca quotes, lalu, klik link di bawah quotes, baca dari blog aslinya. Kalau di bawah quotes ada tulisan lain? Ga usah di baca lebih baik, biasanya isinya komentar ga penting nan ga sehat hehe. Coba langsung dipraktekkan ya? ^^

Blogwalking kali ini isinya sama-sama resume kajian WhatsApp dari dua blog berbeda, dan topiknya berbeda juga.

Rahasia Menulis Produktif
Kiprahnya dimulai 5 tahun lalu dari tahun 2012, ketika beliau masih duduk di bangku SMA kelas 12. Beliau bersama teman-temannya memikirkan kenangan terindah bisa mereka berikan saat momentum perpisahan, maka terbitlah sebuah buku antologi yang berjudul Admiral : Generasi, Perjuangan, dan KeajaibanTak sedikit yang meremehkan nilai sebuah buku antologi, “Apa istimewanya?”, namun respon kitalah yang akan membedakannya. Bagi beliau yang merasa masih sangat pemula dalam dunia kepenulisan, momen terbitnya buku pertama benar-benar sangat bermakna. Dari situ ia semakin ingin terus berkarya, dan tekadnya dibuktikan dengan terbitnya buku yang berjudul What Amazing You! Dan diterbitkan oleh penerbit skala nasional Elex Media Komputindo. Bayangkan, anak baru lulus SMA, sudah bisa menerbitkan buku skala nasional, Keren apa keren banget? Begitulah awalnya hingga saat ini beliau aktif terus menerbitkan karyanya satu persatu, termasuk buku ke 9 yang terbit di bulan Februari 2017 lalu yang berjudul “Jomblo, Mantan & Masa Depan”. Buku terbarunya yang ke 12 nya ini insyaallah akan terbit di bulan April, judulnya “Inilah Capres (Catatan Presiden) Pilihan”, Memaknai Momentum Sertijab Organisasi.
Kalau mau kita perhatikan, Mas Rezky berhasil menerbitkan 12 buku dalam 5 tahun (2012-2017). Artinya kalau kita pukul rata,  minimal dalam setahun berhasil menerbitkan 2 buku, ada pula yang 3 buku! Mungkin banyak dari kita yang punya hasrat untuk bisa sekali seumur hidup menerbitkan buku, tapi tak kunjung terbit karena tak kunjung memulai, ada? *cung* Kira-kira supaya bisa produktif gitu apa ya rahasianya?

Sebagian orang mengira bahwa dalam persoalan khilafiyyah (perbedaan pendapat, ed), seseorang boleh mengambil atau mengikuti pendapat mana saja yang ia kehendaki, atau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dalam semua persoalan, tanpa ada hajat terhadap hal tersebut. Ini adalah sebuah kekeliruan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Dari beberapa pendapat ulama yang berbeda (khilaf tadhad) dalam satu persoalan, ada pendapat yang benar, dan ada pendapat yang keliru.
Karena itu, ketika Imam Malik ditanya tentang ikhtilaf yang terjadi di antara shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, “Ada yang salah, ada yang benar.
Jadi, realita adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama, yang pendapat-pendapat tersebut saling meniadakan (khilaf tadhad), tentu ada pendapat yang benar, dan ada pendapat yang salah. Tidak kita katakan, semua pendapat itu benar, dan boleh kita ambil/pakai sesuka kita.
- baca selengkapnya di link blog NAK Indonesia ini
***
 
Sudah buka link kedua tulisan di atas? Bagus (: Sekarang tinggal ditutup tab tulisan ini hehe.

***

Pesan untuk diri, terkait menulis, buku, dan produktifitas. Pasti berasa gimana ya baca resume tersebut. Narasumbernya 23 tahun ceunah, udah nerbitin buku dari sebelum lulus, atau menjelang lulus. Kamu Bell? Hehe. Terkait produktif menulis, saya sedang berusaha memupuknya di blog ini. Meski pasti ada naik-turun semangat dan naik-turun kualitas tulisan. Terkait buku.. masih tertanam dalam-dalam kok mimpi itu, *beneran tertanam? bukan dikubur? hehehe. In syaa Allah ga dikubur. Mungkin suatu saat, aku akan serius pilih topik, memfilter tulisan-tulisan di sini, banyak membaca, buat outline dan melengkapi tulisan-tulisan yang kurang, sampai suatu saat jadi deh draft bukunya.

Pesan untuk diri, terkait menulis, buku, dan produktifitas. Buku pertama, itu yang entah mengapa membekas di ingatanku dari tulisan tersebut. Gapapa antologi, saya gatau kenapa dulu selalu ga tertarik ikutan projek antologi yang sering ada di sosmed-sosmed. Mungkin kapan-kapan boleh dicoba, buat sendiri aja antologinya, ajak temen-temen terdekat. Temanya? Nah.. itu perlu dipikirkan lagi lebih matang. Target buku pertama? Tahun berapa? Bulan? *jawab dalam hati.

Pesan untuk diri, terkait perbedaan pendapat, sikap kita. Aku ga berani komen banyak, intinya mah.. harus banyak belajar lagi. Jangan banyak komen dan sok tahu. Diam, sambil dipelajari perbedaannya. Semangat belajar. Trus jangan rusuh.. hehe. Jadi inget tulisan lama, Do not Fight!

Allahua'lam.

Tuesday, December 13, 2016

Beda: Bagiku, Baginya

December 13, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.
“Kak Nama beda”. Entah itu berkonotasi baik atau buruk. Bukan pula hal yang saya banggakan. Rasanya seperti anomali. Saya meredam diri untuk berpikir terlalu rumit, dan mencoba senormal mungkin. Walau kadang itu tidak berhasil. Dan saat saya tidak siap menunjukan itu, saya akan memilih diam.
-  seorang ukhti, dalam tulisannya tentang sebuah kata "beda"
Aku membaca tulisan lengkap di link di atas terdiam, dibuat makin terdiam. Tidak... aku tidak ikut mengatakan kalau sang penulis beda. Tapi aku dibuat tercekat, pada kata 'beda' yang somehow membuat hatinya resah dan menuliskan hal itu. Ia bersembunyi, meredam diri, mencoba senormal mungkin. Betapa kata "beda", dimaknai sangat berbeda dalam kamusku, dan kamusnya. 

***
it's okay to be different | every flowers different, but they're all beautiful | so are you
Mungkin karena ia introvert, jadi ia tidak ingin terlihat berbeda dalam kerumunan, inginnya terlihat sama dengan kerumunan, atau bahkan sampai tak terdeteksi keberadaannya. Lebih suka mengenakan warna merah, ketika hampir semua orang pakai merah, misalnya.

Mungkin karena nada pengucapan satu kata, bisa kita tangkap dengan sangat berbeda. Kita (perempuan) kadang bisa tahu, betapa kata bisa bermakna berbeda lewat intonasinya, yang satu bisa jadi pernyataan satu lagi pertanyaan, yang satu pujian, yang satu sindiran.

Monday, November 28, 2016

Kokoh Meski Banyak Distraksi

November 28, 2016 0 Comments
#blogwalking

Bismillah.

Berawal dari postingan blogwalking sebelumnya, masih dari blog yang sama tapi tulisan yang berbeda. Tentang kokoh, gunung, dan tahan dari distraksi. Usaha dalam memulai kebiasaan baru, meski banyak distraksi. Semoga bukan cuma dikutip, tapi dilaksanakan meski prakteknya tidak harus sama seperti yang dicontohkan si Teteh.
anggap saja hanya awan yang berseliweran
Saya suka sekali falsafah gunung. 
Pernah melihat suatu ilustrasi, jika ingin konsentrasi, bayangkan diri sendiri seperti gunung yang kokoh. Jika ada distraksi, anggaplah mereka hanyalah awan-awan yang berseliweran. Sedangkan dirimu tetap kokoh di tempat.
- Teh Tristi, dalam tulisannya 'rawaasiya'.
Membuat prinsip dan kebiasaan baru, kemudian melaksanakannya, pasti ada keraguan dan kekhawatiran yang meliputi, tapi....
Namun, saya belajar, dengan mengusahakan patok-patok diri untuk alasan yang baik, maka semuanya akan menyesuaikan.
- masih dari tulisan yang sama, barakallahu fik
Terakhir, izinkan aku menutup dengan kalimat penutup di tulisan yang sama: Mari, bangun pribadi kokoh dan berkekuatan~!

Allahua'lam.

Monday, October 17, 2016

Tentang PD (Percaya Diri)

October 17, 2016 0 Comments
Bismillah.


Confidence level is up! Like a child whom not learn the word 'fear' yet

PD, dua huruf itu tiba-tiba melintas memunculkan ide yang menggerakkan jemariku di atas keyboard. PD di sini maksudnya singkatan dari Percaya Diri. Confidence. Oh ya PD sama GR beda ya, bedanya apa? Kalau GR (Gede Rasa) lebih tentang prasangka atas sikap orang lain kepada kita. Kalau PD lebih ke kepercayaan kita pada diri, yakin kalau kita bisa. PD anonim dari minder.


Pernah ga sih kamu memberikan jempol karena melihat seseorang yang PD. Semacam rasa kagum ketika melihat teman sekelas yang presentasi dalam bahasa asing dengan lancar, dan tenang. Atau rasa ... rasa apa ya? Apresiasi, semacam mengapresiasi pada teman yang merasa PD dengan nilai ujiannya, karena itu didapat murni kerja kerasnya, bukan dari hasil mencontek. Atau PD dalam hal lain, termasuk dalam segi fisik. Seperti kakakku, perempuan yang tinggi badannya memang lebih pendek dari pada aku, namun ketika ada respon/komen dari orang lain, tanggapannya selalu positif. "Iya dong, kan aku lebih imut". Hehe. Dan aku yang berada disampingnya ikut tersenyum, merasa kagum atas ke-PDannya.

Ditulisan ini, aku sedang tidak hendak membahas tentang kekagumanku, dan pengalamanku bertemu mereka yang PD. Yang tidak merasa minder. Bukan. Ini tentang seseorang yang tidak bisa selalu PD. Seperti bulan, yang sebagian sisinya selalu ada sisi gelap, meski di mata kita, caya pantulannya lingkaran sempurna.

Tuesday, September 20, 2016

Stupid Thing I Did

September 20, 2016 0 Comments
#blogwalking
-Muhasabah Diri-

Bismillah.
sumber gambar
"Dulu kakaknya juga sempat mengalami masa seperti itu, merusak barang-barang, suka banting-banting pintu, meletusin balon yoga tantenya, dan lain-lain."
- Tulisan tentang kemarahan remaja di Dakwatuna
Membaca tulisan lengkap di link di atas membuatku mengingat memori stupid things I did. Memori kemarahan jaman SD atau TK. Betapa hal sepele membuatku marah besar dan mematahkan crayon warna-warni kesayangan. L

Thursday, August 18, 2016

Satu Kebaikan "Kecil"

August 18, 2016 0 Comments
#hikmah #muhasabah diri

Bismillah.

yang kecil mungil

Tadi siang menjelang sore aku pergi untuk memfotokopi selembar kertas. Aku tidak tahu mengapa, sang pemilik tempat fotokopian menolak uang yang kusodorkan untuk membayar.

"Ga usah gapapa," ujarnya
"Ini ada receh kok," jawabku mengganti selembar uang dua ribuan dengan sekoin uang lima ratusan di atas lemari kaca.
"Beneran, ga usah." ucapnya lagi sembari mendekatkan koin ke arahku.
"Gapapa?" tanyaku ragu. Ia mengangguk pelan. Akhirnya masih dengan ekspresi keheranan aku tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih.

***

Monday, August 24, 2015

My Heart Is Not That Strong

August 24, 2015 0 Comments
diambil dari sini
Bismillah.

"My heart is not that strong..." lirih suara berbisik pada diri.

***

Ya, seringkali untuk memotivasi diri kita sering berkata pada diri kalau kita quwwat, ya kita kuat. Namun tidak setiap waktu cara itu berhasil membuat kita menjalani hari-hari.

Terkadang, kita justru harus jujur pada diri bahwa kita tidak sekuat itu. Hati kita lemah, itulah mengapa dalam bahasa arab hati disebut 'qalb'. Qalb adalah sesuatu yang mudah terbolak-balik, seperti sebuah koin yang digantung. Begitu mudah berbalik meski hanya oleh angin sepoi.

My heart is not that strong...

Tuesday, January 6, 2015

I'm Introvert in Someway

January 06, 2015 0 Comments

Bismillah..



48. dlm hal mendapatkan ‘energi’. #introvert : menyendiri melakukan hal yg ia senangi. #ekstrovert : berinteraksi dgn banyak org
49. dlm hal komunikasi. #introvert : berpikir sebelum berbicara. #ekstrovert : berbicara sambil berpikir
50. dlm hal interaksi. #introvert : lebih banyak mendengar. #ekstrovert : senang berbicara
51. dlm hal ‘menjawab panggilan keramaian’. #introvert : bth diberikan alasan trlebih dahulu. #ekstrovert : langsung meluncur tanpa pertimbangan

Tuesday, November 4, 2014

This Video : Funny but Scary

November 04, 2014 0 Comments


-muhasabah diri-

Bismillah..

Video ini pertama kulihat di jejaring sosial tersebar luas. Kemudian beberapa saat kemudian aku mencarinya di YouTube untuk disimpan.

***

This video : Funny

Pertama kali nonton video ini, jujur aku tersenyum dan tertawa geli. Ditambah rasa takjub tentunya. Namun anak sekecil itu.. Dengan ekspresi lucunya saat membacakan ayat-ayat Al Quran, siapa yang tidak terhibur? Namun anak sekecil itu, ia begitu lancar bersama sang Ayah melafalkan ayat demi ayat, dan rasa takjub serta kagum hadir disini. Mungkin sebagian dari kita (*lebih tepatnya diri), sekedar kagum dan terhibur. Padahal seharusnya, video ini mengetuk hati kita. Padahal seharusnya, ada sebuah tanya yang muncul setelah menonton video ini.

Monday, June 2, 2014

Bisa Karena Terbiasa

June 02, 2014 0 Comments



-Muhasabah Diri-

Bismillah..

Sedikit nyambung dengan artikel Jangan Takut Berubah.

A : "Aku ga bisa B, sulit banget untuk menghindari itu."


A' : "Memang tidak mudah. Tapi perlahan jika sudah terbiasa, tentu tidak akan sesulit itu."

* ceritanya, A dan A' adalah satu orang, ada kecamuk dihatinya saat ia merasa berat terhadap sebuah perubahan yang ingin ia buat.

Perubahan apa? Apapun.
***