Follow Me

Showing posts with label kebenaran. Show all posts
Showing posts with label kebenaran. Show all posts

Tuesday, December 23, 2014

Do You See The Truth?

December 23, 2014 0 Comments


taken from nakindonesia.tumblr.com

Do You See The Truth?

If I was going with a bunch of young men and women on a bus. And we drove by a beautiful mansion. It’s 
just a gorgeous house on top of a hill, on the outside there is the ocean. Just an absolutely beautiful stunning house. And the drive way into the house, there’s a gorgeous car parked outside. And on the back of the house there’s this incredible back yard, and a swimming pool and all of it. O, i mean, whatever you can imagine is there. It’s like a piece of jannah on earth. And you see the guy walking into his house. We’re driving on this bus and we see this guy walking into his house. And I ask these young men and women,

"Do you think that guy successful?
Do you think he’s successful?”
Overwhelmingly, what is going to be the response?

Monday, June 2, 2014

Bisa Karena Terbiasa

June 02, 2014 0 Comments



-Muhasabah Diri-

Bismillah..

Sedikit nyambung dengan artikel Jangan Takut Berubah.

A : "Aku ga bisa B, sulit banget untuk menghindari itu."


A' : "Memang tidak mudah. Tapi perlahan jika sudah terbiasa, tentu tidak akan sesulit itu."

* ceritanya, A dan A' adalah satu orang, ada kecamuk dihatinya saat ia merasa berat terhadap sebuah perubahan yang ingin ia buat.

Perubahan apa? Apapun.
***

Wednesday, November 20, 2013

Belajar dan Berproses

November 20, 2013 2 Comments
 
-opini, muhasabah diri-

Bismillah...

Alkisah seorang perempuan sedang duduk, asik membaca sebuah buku ditangan kanannya. Seorang perempuan lain -temannya-, menghampirinnya. Disela-sela kalimatnya, ia sempat berkata.

B : "mendingan aku nggak usah baca tulisan itu"
A : "......."

***

Jadi ini tentang ilmu yang seharusnya diamalkan, dan ketidakmampuan kita (*lebih tepatnya diri).
"Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)." (an Nisaa: 66)
Pernahkah kita merasa menyesal mengetahui ilmu baru? Ya, menyesal.. karena merasa ketika kita mengetahui-nya, kita jadi memiliki kewajiban untuk melaksanakannya?

Wednesday, July 24, 2013

Cinta, Takut, dan Harap

July 24, 2013 0 Comments
-muhasabah diri-

Bismillah...

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: Barangsiapa menyembah Allah dengan cinta saja maka sungguh ia Zindiq. Barangsiapa menyembah Allah dengan harap saja maka ia adalah Murji'. Barangsiapa menyembah Allah dengan takut saja maka ia haruri. Mukmin bertauhid menyembah Allah dengan ketiganya: takut, harap, dan cinta. (Bukunya Salim A. Fillah, judul: saksikan bahwa aku seorang muslim, halaman 165)

Apakah Itu Keluarga?

July 24, 2013 0 Comments

Bismillah...
Apakah ini 'keluarga' yang coba ditumbuhkan dalam osjur?Saya tidak melihat ada keluarga, karena pada dasarnya himpunan itu bukan tempat berkeluarga, tetapi mencari kesempatan. Kita bisa lihat sendiri, divisi proyek itu lahan uang dan lahan koneksi. Pasti banyak orang yang tertarik masuk himpunan karena hal itu, bukan? Oh, mungkin juga ada yang ingin merasakan jadi ketua himpunan. Itu posisi yang cukup prestisius tentunya, bahkan bisa dibilang strategis dan penting. Itukah tujuannya? Ke mana keluarga?Jadi, apakah sebenarnya osjur itu menawarkan keluarga atau sebagai kesempatan untuk menjaring orang-orang?
ini dari note ke-2
apakah Anda yakin bahwa 'keluarga' yang dibangun itu akan seperti yang diperkirakan atau hanya akan sekedar teman untuk relasi?

Jadi, apa itu keluarga?
diambil dari sini, dan dari sini.

Tuesday, June 25, 2013

Kebenaran Berasal Dari Hati?

June 25, 2013 0 Comments
Bismillah..
pd dasarnya teologi/akidah itu berasal dr hati, sifatnya subyektif (kebenaran orang yg satu berbeda dg kebenaran orang lain), sementara muamallah itu berasal dr akal, sifatnya relatif obyektif karena bersifat empirik (diterima oleh panca indra), kebenaran yg diterima satu orang jg utk semua(contoh, hukum positif).
--kutipan komentar di jejaring sosial.
Rasanya, sembilu, perih, membaca komentar di atas. Kalau mau mengikuti keinginan hati, ingin sekali langsung saya sanggah kalimat itu. Namun pedebatan di sana, sudah cukup panas, untuk ditambahi komentar dari orang bodoh macam saya.

***

Kawan.. kebenaran itu, baik secara teologi maupun muamalah, sifatnya tidak relatif. Bukan ditentukan oleh hati. Bukan pula, ditentukan oleh kebenaran yang diterima semua orang/hukum positif.

Kebenaran itu cuma 1. Datangnya dari Allah. Dijelaskan kepada manusia, melalui Al Qur'an dan sunnah Rasul.

Hm.. ijinkan aku cukupkan tulisan ini. Mari berkaca, sudahkah benar pemahaman kita terhadap Islam. Sudah benarkah akidah kita?

Allah... Ya Muqalibal Qulub.. Tsabbit Qalbi 'aladdinik.