Follow Me

Tuesday, May 15, 2012

Mengulang Pertanyaan

May 15, 2012 0 Comments
Ijinkan aku mengulangi kembali pertanyaanku,



‘Apakah sebuah kesalahan lantas menjadi benar hanya karena banyak yang melakukannya?’
‘Apakah sebuah kesalahan lantas menjadi benar hanya karena ia begitu sering kita lihat?’
‘Apakah sebuah kesalahan lantas menjadi benar hanya karena ia begitu familiar?’
Dan pertanyaan-pertanyaan senada menghampiriku dalam riuh bising kelakar mereka.


“yang paling aku takutkan ialah keakraban hati dengan kemungkaran dan dosa. Jika suatu kedurhakaan berungkali dikerjakan, maka jiwa menjadi akrab dengannya, hingga ia tak lagi peka, mati rasa.” (Hasan Az Zayyat)

Kembali bertemu dengan kasus yang sama. Integritas. :( :(
Really want to ask everybody about this, “Apakah kau mendengar suaranya (baca: suara hati) saat memohon untuk tidak dikotori?”

Ya Allah.. jaga hatiku, agar ia peka, agar tak mati rasa.. Robbana la tuzighqulubana ba’da idzhadaitana, wahablana milladunkarohman.

Monday, May 14, 2012

Lantunan Ayat Suci Ini

May 14, 2012 0 Comments

#muhasabah diri



Ini tentang kuantitas dan kualitas yang dipertanyakan. Maka ada perasaan perih yang menggerogoti jiwa. Hmm. Ingin ikut menangis, mendengar dan melihat ia tergugu di tengah tilawahnya. Hatinya benar-benar tergetar membaca kalamNya.

Dan aku?
lantunan ayat suci ini, apakah hanya terhenti di bibir, tercekat di tenggorokan?
Ini tentang seberapa jauh kita memaknai bacaan al qur’an. Ini tentang iman.. yang ditandai dengan tergetarnya hati saat ayatNya dilantunkan. Sudahkah hati ini bergetar? Atau ia hanya membeku, tak bergeming. Batu.

Akan kah ku biarkan?
lantunan ayat suci ini, hanya terhenti di bibir, tercekat di tenggorokan?
Sungguh percuma. Jika mulut kita hanya berkomat-kamit. Lancar sekali kiranya lisan ini berucap. Padahal alqur’an ini adalah perkataan yang berat..
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (Qs Al Muzzammil [73]: 5)
Sungguh percuma, jika lantunan ayat suci ini tercekat di tenggorokan. Tak sampai ke hati, tak kita hayati, tak kita tadaburi.
Dan ........ Astaghfirullah..
Ya Ghoffur.. Ampuni hamba..

Hei kau! Sampai kapan? Lantunan ayat suci ini, hanya terhenti di bibir, tercekat di tenggorokan?

Tak Seindah BahasaNya

May 14, 2012 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah..
Dan biarlah ayat-ayat ini yang berbicara. Karena tak sanggup aku menulis seindah bahasaNya.


“Demi gunung (Sinai),
dan demi Kitab yang ditulis,
pada lembaran yang terbuka,

demi Baitul Ma'mur (ka’bah),
demi atap yang ditinggikan (langit),
demi lautan yang penuh gelombang,

Sungguh, azab Tuhanmu pasti terjadi,
tidak sesuatu pun yang dapat menolaknya,

Pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya,
dan gunung berjalan (berpindah-pindah).
Maka celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
Orang-orang yang bermain-main dalam kebathilan (perbuatan dosa),
pada hari (ketika) itu mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat- kuatnya.” (QS At-Thur [52] : 1-13)

Tergetarkah hatiku membaca barisan kata di atas? Ataukah ia hanya lewat saja, tanpa sempat mampir ke hati? Jika belum mampu ia getarkan hati, baca lagi! Baca lagi! Baca arabnya, ingat-ingat artinya saat kau baca surat di atas. Masih tidak tergetar kah??

Lelaki Tua Itu

May 14, 2012 2 Comments

Lelaki tua itu, menaiki angkot dengan susah payah. Tangannya meraba-raba udara. Saat ia temukan leher sopir angkot, segera ia serahkan uang ongkosnya. Ia ingin pergi ke stasiun, seorang Ibu di luar angkot berpesan agar sopir angkot mengantarnya sampai ke stasiun.

Lelaki tua itu. Kini ia duduk di sebelahku. Ya, tepat di sebelah kananku. Dan aku, aku tak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikannya. Rambutnya yang sudah berwarna putih keabuan, tongkatnya, topi yang diikatkan di kepalanya, dan badannya yang bungkuk, menimbulkan perasaan tak bernama di sini (baca: di hati). Iba kah? Miris kah?

Lelaki tua itu. Ia duduk merapat ke jok sopir angkot, seolah tak ingin orang lain terganggu akan keberadaannya. Nafasnya pelan dan halus, ia tenang sekali dalam duduknya. Dan aku pun bertanya pada diri, ‘Apakah yang sedang ia pikirkan?’. Bukankah dunia ini, selalu sama di matanya? Gelap.
Lelaki tua itu, mengingatkanku pada satu kutipan dari buku Salim A. Fillah, kurang lebih isinya begini:

“Jika seorang buta bertanya padamu, seperti apa matahari itu? Maka apa jawabmu? Matahari? Bukankah kita sama-sama merasakan kehangatannya..”

 
Lelaki tua yang matanya buta itu. Mengingatkanku.. tentang nikmat melihat yang sering kudustakan. Seperti kata temanku, “Tahukah? Saat tangan kita, atau gigi kita yang sakit.. Kita mungkin hanya tidak bisa melakukan beberapa hal saja. Tetapi, saat mata kita yang sakit? Bisa apa kita?”. Ya, saat mata ini sakit, hanya ada sedikit hal bisa kita lakukan.

Maka Maha Suci dan Maha Besar Allah.. J Ia telah memberi kita mata, yang memudahkan kita melihat. Sekalipun ia mengambil cahaya dari mata kita (baca: buta), maka Ia akan menajamkan indra kita yang lain. Seperti lelaki tua tadi. Bisa jadi matanya tak lagi dapat menangkap cahaya, tak dapat melihat. Tapi, ia pasti dapat mendengar lebih jelas suara-suara lirih yang kita tidak kita dengar. Tidak hanya syaraf di telinganya saja yang menajam, tapi juga syaraf peindra di hidung dan ujung-ujung jarinya.

Lelaki tua itu. Kembali aku melihatnya. Kali ini bukan di angkot, dan tak lagi duduk di sampingku. Aku melihatnya terjongkok di depan sebuah rumah di jalan yang biasa aku lalui. Sekilas aku melihatnya terhuyung ke depan dan hampir jatuh. Tidak, ia tidak jatuh. Terlihat ia membetulkan posisinya, masih terjongkok. Kiranya ia tadi mengantuk dan hampir jatuh tertidur. “Lelahkan ia?” tanyaku, lagi-lagi hanya dalam hati. “Ya, ia pasti lelah.. tapi tak ada dipan untuk tidur atau rumah untuk berteduh.”

Lelaki tua itu. Aku tak bisa tidak memperhatikannya. Rambutnya yang sudah berwarna putih keabuan, topi yang diikatkan di kepalanya, dan badannya yang bungkuk menimbulkan perasaan tak bernama di sini (baca: di hati). Iba kah? Miris kah?

Lelaki tua itu. Akankah aku bertemu denganmu, lagi?

Saturday, May 12, 2012

What My Heart Told Me To

May 12, 2012 0 Comments


“Ikut makrab kan?” todong seorang teman dengan pertanyaan yang ia anggap adalah pertanyaan retoris. Tapi ia salah. Salah besar! Karena saat pertanyaan itu ditujukan kepadaku.. maka ia tak lagi retoris. Well, dengan cengiran khas-ku.. aku menjawab tidak.

“Bella.. ikut makrab kan? Hayuuk”
“Ah.. gak asik nih!”
“Oh jadi gitu? Jadi gitu?” (nada bercanda)
Dan sejuta (baca: banyak) komentar lagi yang ditujukan padaku, saat mereka.. teman-temanku di STEI tahu perihal ketidakhadiranku di acara makrab STEI.

How can I tell them my reason?
I just followed what my heart said to. “Seperti feeling?” tanya seorang sahabat yang kaget karena baru tahu hal tersebut di atas (baca: ketidak hadiranku di makrab STEI). Aku menggeleng pelan. Bukan, bukan seperti itu.

How can I tell them my reason?
Biaya kah? Really? 50ribu memang bukan angka yang kecil, apalagi itu belum termasuk ongkos transport. Tapi naif banget, masa iya hanya sekedar masalah uang. Yang ibaratnya nih.. Kalau satu-satu anak STEI nyumbang 500 rupiah untuk aku, maka uang makrab nilainya jadi kecil (500*400 = 200rb).

How can I tell them my reason?
Jadi kenapa? Ada acara yang lebih penting? Atau tanpa alasan sama sekali? You just can tell them the reason, because you don’t have it at all. Ya kan?

Hahay.. kalimat-kalimat tanya di atas, seolah menuduhku sebagai makhluk ansos di STEI. Seolah aku hanya tak ingin bersosialisasi dengan massa STEI. Benarkah aku se-ansos itu? Well, yang berhak menjawab pertanyaan itu bukan aku. Tapi teman-temanku. Ask someone who know me well.. paling tidak, yang satu kelas denganku. Apakah Isabella seorang yang anti-sosial?

How can I tell them my reason?
Guys.. I just don’t want to left my heart behind. Tak ingin aku menuli atau pura-pura tak mendengar.
Maka aku lebih baik dicap ansos, lebih baik aku di anggap tak menuruti ayat “berangkatlah di saat ringan maupun berat”, lebih baik.. aku di benci dan di kucilkan anak-anak STEI. Sungguh, itu lebih baik.. ketimbang aku harus mendustakan kata hatiku. Lebih baik, ketimbang aku harus menuli dan melukai hatiku sendiri.

Because that’s my heart told me to
Orang-orang boleh jadi berkata.. jika kau bertanya pada hati, jawabannya itu relatif. Tapi aku, somehow lebih meyakini hadist di bawah ini :
“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya, dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meski orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkanmu.” (HR Muslim).
Wallahu’alam.



Aku memang tak berada di sana,
Tak ikut bersenandung dan bercengkrama dengan kalian
Aku memang tak berada di sana,
Tertawa dan bercanda, atau bahkan menangis haru bersama kalian.

I do not care what you’re thinking about my decision,
Dan keberadaanku di sini.. dan bukan di sana..
Ini tentang aku dan hatiku..
Tentang ketidakrelaanku, to left my heart behind

Tuesday, May 8, 2012

Tiga Jawaban

May 08, 2012 0 Comments





Allah always has 3 replies to our prayer..
Yes.
Yes, but not now.
I have a better plan for you.
-There’s never a NO-

“...sesungguhnya AKU dekat. AKU kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaku...” (Q.s. Al Baqarah [2] : 186).

Mungkin pernah kita meragukan janji Allah di atas. Mungkin pernah, kita berputus asa. Merasa doa dan pinta yang kita panjatkan kepadaNya tak kunjung dijawab olehNya.

Mungkin bukan lagi pernah, tapi sering.. sering.. kita merasa sudah berusaha dan berdoa. Tapi keinginan dan harapan yang kita pinta, tak kunjung terwujud. Dan bermunculanlah segala prasangka buruk kita pada Allah.

Astaghfirullah.. Ya Allah Ya Rabb.. Ampuni hamba..
Padahal tahu apa kita? -.- Bukankah yang kita ketahui hanya sebatas apa-apa yang sudah terjadi? Atau sekedar analisis sederhana yang dilakukan oleh otak yang terbatas ini.

"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Qs Al Baqarah [2] : 216)

:)) Percayalah.. Allah tak pernah mengingkari janjiNya. Jawaban atas doa-doa kita ada tiga,
_ya..
_ya tapi tidak sekarang. Jika tidak kita dapat di dunia, tidakkah kita rela mendapat jawaban doa kita di akhirat kelak?
_Allah memiliki rencana yang lebih baik untuk kita. Dan semua akan indah pada waktuNya.. :)

"Sungguh tiadalah Allah mengilhamkan pada seorang hamba untuk berdoa kepadaNya, melainkan Dia pasti menyiapkan pengabulannya" (@salimafillah)

Keep pray.. Teruslah berdoa. Allah Maha Mendengar. :)

Kembali padaMu

May 08, 2012 0 Comments
-muhasabah diri-

Bismillah..


“Tak perlu ragu untuk kembali padaNya, Allah selalu siap menerima kita. Sekalipun, diri ini hina dan berlumur noda” #taubat



“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 39 Az-Zumar : 53)

Selirik lagu dari opick:

Wahai Tuhan..
jauh sudah, lelah kaki melangkah
aku hilang, tanpa arah..
rindu hati sinarMu..

wahai Tuhan..
aku lemah, hina berlumur noda..
hapuskanlah..terangilah..
jiwa di hitam jalanku..

Ampunkanlah aku.. terimalah taubatku.
Sesungguhnya Engkau, Sang Maha Pengampun Dosa..

Ya Robbi..
ijinkanlah aku kembali padaMu,
Meski mungkin takkan sempurna,
aku sebagai hambaMu..

Ampunkanlah aku.. terimalah taubatku.
Sesungguhnya Engkau, Sang Maha Pengampun Dosa..
Berikanlah aku kesempatan waktu..
Aku ingin kembali.. kembali..

Dan meski tak layak sujud padaMu..
Dan sungguh tak layak aku..

Ampunkanlah aku.. terimalah taubatku.
Sesungguhnya Engkau, Sang Maha Pengampun Dosa..
Berikanlah aku kesempatan waktu..
Aku ingin kembali.. kembali kepadaMU..

Ampunkanlah aku.. terimalah taubatku.
Aku ingin kembali.. kembali kepadaMU..

Ampunkanlah aku..

“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs 16 An Nahl : 119)

“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs 7 Al-A’raaf : 153)

“Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat* daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya,” (Qs 30 Ar-Ruum : 33)
*Yang dimaksudkan dengan rahmat disini ialah lepas dari bahaya itu.

Sunday, May 6, 2012

Look Above

May 06, 2012 0 Comments

#muhasabahdiri



If what’s ahead scares you
and what’s behind hurts you
then, just look ABOVE
ALLAH never fails to help you


"Allah never fails to help you, sekalipun masa depan membuatmu ragu dan takut tuk melangkah.. sekalipun masa lalu menyakitkan dan tak ingin kita tengok walau sedetik. Sekalipun, kita merasa sudah tidak ada jalan keluar.

You just can’t go forward, nor you can step back. Seems like  you’re stuck and don’t know what to do. Jangan berputus asa.. take your time to pray, ask Allah for help. Allah never fails to help you. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannashir.

 
Look above, jangan hanya saat himpitan dunia mendesakmu. Tapi juga saat gelimang indahnya dunia menyapamu.

Ingatlah kisah seorang manusia..

Tuk. Sebuah koin emas jatuh mengenai kepalanya. Ia memang terkejut, dan senang sekali melihat yang mengenainya adalah koin emas. Segera ia pungut, dan menyimpannya. Tuk. Sekali lagi koin emas jatuh dan menimpanya, dan dengan ekspresi yang sama, ia memungut koin tersebut. Dan setiap kali koin emas jatuh mengenai kepalanya, ia hanya mengambilnya, tanpa menyempatkan diri melihat ke atas dan bertanya-tanya dari mana koin itu.

Duk. Kali ini, sebuah kerikil kecil mengenai kepala kita. Kita pun mengaduh, apalagi bukan koin emas yang mengenai kepala kita. Melainkan kerikil kecil. Dan segera kita menengadahkan kepala, “Siapa sih?”



Look above.. ketika yang menjatuhi kepala kita adalah sebuah koin emas (baca: kenikmatan). Kita seringkali hanya terfokus pada apa yang jatuh, tapi lupa pada yang di ‘atas’. Lupa, bahwa yang memberi kenikmatan tersebut adalah Allah. Kita hanya senang dan gembira, menggunakan dan menghabiskan nikmat yang Allah beri, tanpa bersyukur padanya. Maka jangan salahkan Allah, kalau ia akhirnya menyapamu lewat kerikil kecil yang barangkali membuatmu mengaduh kesakitan. Karena seringkali, kita baru menengadahkan wajah, jika ujian datang menghadang, jika kesulitan menghimpit langkah.

Astaghfirullah.. Ampuni hamba Ya Ghoffur.. yang seringkali lupa padaMu, yang sering kali mendustakan nikmatMu, yang hanya mendekat saat ujian dan musibah menyapa.